30 April 2026

Hari: 13 Juli 2024

Hadapi Tantangan Pertanian, Polbangtan Kementan Siap Kendalikan Hama Penyakit Tanaman

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Krisis akibat perubahan iklim ekstrim berdampak sangat luas, tidak kecuali pada bidang pertanian. Salah satu dampak yang dirasakan adalah penurunan produktivitas akibat kekeringan dan merebaknya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).

Menyikapi hal tersebut, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang menggelar Webinar Millenial Agriculture Forum (MAF) dengan mengangkat tema Menghadapi Tantangan Pangan Masa Depan "Optimalisasi Produksi dan Pengendalian Hama Penyakit Padi".

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, pertanian adalah sektor penting yang harus mendapatkan perhatian bersama. Untuk itu, Mentan mengajak semua pihak untuk sama-sama menjaga serta memajukan pertanian.

Hal senada disampaikan Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

"Pertanian itu tidak boleh bersoal, dalam kondisi apa pun pertanian tidak boleh bermasalah. Karena pertanian itu menyangkut kebutuhan pangan orang banyak. Oleh karenanya, kota harus memastikan pertanian terus berproduksi," ujarnya.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang, Bambang Sudarmanto, saat menyampaikan opening speech mengatakan bahwa tema yang diangkat adalah hal yang sedang trending atau hangat diperbincangkan.

"Kondisi pertanian tidak sedang baik-baik saja, kita sedang menghadapi iklim ekstrim el nino. Hal ini perlu diantisipasi. Saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) sedang menggalakkan program pompanisasi untuk menjaga pasokan air irigasi guna mempertahankan produktivitas standing crop yang ada. Selain itu juga dilakukan upaya Perluasan Area Tanam (PAT) dengan varietas padi gogo,” terangnya.

Bambang menambahkan, bahwa iklim ekstrim juga berdampak terhadap merebaknya banyak hama dan penyakit.

“Wereng Batang Coklat (WBC) saat ini sedang merebak, begitu juga penggerek batang padi dan blas yang rentan menyerang padi gogo. Mengingat kita sekarang sedang menggalakkan penanaman padi gogo, hal ini harus segera dicegah dan ditangani. Melalui MAF ini dihadirkan narasumber yang harapannya dapat memberikan pencerahan untuk bapak ibu sekalian,” ujar Bambang.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa dalam upaya pencegahan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman, peran Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) sangatlah penting.

“POPT sangatlah vital, mereka memegang peranan penting dalam mendeteksi sedini mungkin adanya ancaman hama atau penyakit untuk menghindari terjadinya kegagalan produksi dikemudian hari sehingga mandat Presiden untuk mewujudkan swasembada beras dapat kita capai,” kata Santi.

Selain itu, Santi juga berpesan kepada mahasiswa Polbangtan seluruh Indonesia yang sedang bertugas mendampingi Program PAT dan Upaya Khusus (UPSUS) seyogyanya juga dapat mendukung upaya pengendalian OPT di lapangan.

“Selama kegiatan pendampingan, mungkin nanti teman-teman mahasiswa akan menemui beberapa kasus mengenai OPT, oleh karena itu kami harap para mahasiswa dapat membantu memecahkan masalah tersebut,” pesan Santi.

Baca juga: 

Kementan dan Universitas Sebelas Maret Berkolaborasi untuk Regenerasi Petani

Webinar yang diikuti 1000 peserta dari seluruh Indonesia itu, mendatangkan dua narasumber yang kompeten di bidangnya yaitu Busyairi Latiful Asyar, dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan, dan Dedi Mulyadi, Direktur Agrospora Bumi Indonesia.

Dalam materinya, Busyairi menyampaikan bahwa tugas seorang POPT dalam memberikan angka ramalan sebagai peringatan dini.

“Tugas utama POPT adalah memberikan angka ramalan dengan menjalankan Prosedur P3OPT sebagai komponen utama PHT (pengendalian hama tumbuhan). Langkah pertama POPT harus melakukan pengamatan OPT dengan dasar informasi dan pengetahuan yang ada," katanya.

"Kemudian melakukan peramalan sebagai sarana pengambilan keputusan jangka pendek dan jangka panjang yang muaranya adalah tindakan pengendalian OPT dengan teknologi pengendalian yang kompatibel atau sesuai dengan kondisi yang ada. P3OPT ini harus dikuasi oleh semua insan pertanian, baik petani, peneliti, praktisi, akademisi,” kata Busyairi lagi.

Ia menambahkan bahwa OPT harus dikendalikan, namun dengan batas yang tidak merugikan secara ekonomi.

“Jika di bawah ambang batas, tidak boleh dilakukan pengendalian karena akan mempengaruhi jaring-jaring makanan. Yang perlu diingat adalah satu keputusan pengendalian akan mempengaruhi faktor lainnya, sehingga harus dilakukan dengan tepat,” pesannya.

Busyairi juga mengingatkan bahwa faktor penyebab ledakan hama saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.

“Faktor penyebab ledakan yaitu kemampuan adaptasi OPT yang cepat, pola tanam dengan varietas sama dan serempak, faktor lingkungan seperti iklim ekstrim, sehingga prinsip pengendalian OPT yaitu mencari fase OPT paling lemah dengan jumlah yang sedikit agar peluang pengendalian tinggi,” jelas Busyairi.

Pemateri kedua yaitu Dedi Mulyadi lebih fokus pada materi peningkatan produksi padi secara organik. Ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi dapat dilakukan dengan cara melakukan pemupukan secara organik.

“Pemupukan yang dilakukan baiknya dilakukan dengan ramah lingkungan, maka pemupukan dapat digunakan pupuk organik. Pemberian pupuk juga didasarkan pada tingkat kesuburan tanah yang dicek terlebih dahulu sebelumnya, untuk disesuaikan dengan kebutuhan lokasi,” jelasnya.

Dedi juga menyarankan untuk mengendalikan OPT tanpa menggunakan bahan kimia. Ia mencontohkan bagaimana mengubah hama keong mas di lahan sawah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

“Keong mas sering dianggap sebagai hama yang mengganggu tanaman padi. Padahal pada fase telur, keong mas kaya akan asam amino yang bermanfaat bagi tanaman. Bonusnya, karena telurnya diambil terus untuk memproduksi asam amino, maka keong mas ini tidak punya waktu untuk berkembang menjadi hama. Inilah bagaimana kita melihat keong mas dengan sudut pandang yang berbeda,” ucap Dedi.

Materi MAF kali ini mampu menarik atensi peserta, terbukti dari banyaknya peserta yang turut dalam diskusi dengan memberikan pertanyaan pada para narasumber.(***)

Kementan dan Universitas Sebelas Maret Berkolaborasi untuk Regenerasi Petani

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan berbagai stakeholder untuk melakukan regenerasi petani. Salah satunya melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang yang bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Kerja sama dilakukan saat pihak Universitas Sebelas Maret berkunjung ke BBPP Lembang, Rabu (10/7/2024). Rombongan terdiri dari anggota senat akademik, kepala program studi S1 dan S2, dan wakil dekan.

Kunjungan dilakukan sebagai penjajakan kerja sama peningkatan kapasitas SDM mahasiswa, baik melalui kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL), Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), penelitian dan kegiatan kunjungan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pertanian adalah sektor menjanjikan yang dapat memberikan keuntungan jika digarap dengan benar. Oleh sebab itu, dalam berbagai kesempatan Mentan selalu mengajak anak-anak muda menggarap sektor ini bersama.

Hal senada disampaikan Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

Baca juga: 

Kementan Bekali Keterampilan Pertanian untuk Calon Purnabhakti TNI-AD

“Jika banyak generasi muda yang tergugah hatinya untuk pengembangan usaha pertanian, hal itu akan menimbulkan dampak yang positif karena itu akan menjadi bekal bagi mereka ke depannya dalam rangka menopang perekonomian Indonesia mewujudkan swasembada pangan," tutur Dedi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyatakan kesiapan bekerja sama dengan UNS untuk meningkatkan kompetensi generasi muda Indonesia melalui berbagai kegiatan yaitu magang, penelitian, dan kunjungan.

Untuk mengenal pemanfaatan teknologi pertanian di lahan praktik Inkubator Agribisnis BBPP Lembang, rombongan menuju green house otomatis yang sedang membudidayakan tomat beef sistem irigasi tetes.

Setelah itu, rombongan meninjau screen house yang berbasis smart farming untuk penyiraman tanaman secara otomatis, kerja sama BBPP Lembang dan Politeknik Negeri Jakarta.

Wakil Dekan SDM Keuangan Universitas Sebelas Maret, Mujiyo, mengungkapkan apresiasinya setelah melihat sarana prasarana yang dikelola BBPP Lembang untuk meningkatkan kapasitas SDM pertanian.

“Menjadi peluang kerja sama yang baik antara BBPP Lembang dan UNS sebagai upaya regenerasi petani muda kita,” tandas Mulyo.(***)