17 Mei 2026

Hari: 18 Juli 2024

Sertifikasi Kompetensi, Penyuluh Karawang Siap Dampingi Petani Tingkatkan Produksi Pertanian

TANIINDONESIA.COM//KARAWANG - Kementerian Pertanian, melalui Tempat Uji Kompetensi (TUK) Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Karawang, menggelar Sertifikasi kompetensi dan Perpanjangan Sertifikasi Kompetensi Level Supervisor dan Fasilitator.

Kegiatan diikuti 93 orang penyuluh pertanian Kabupaten Karawang, dilaksanakan 15 – 17 Juli 2024 di One Front Akshaya Hotel Karawang.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan penyuluh adalah ujung tombak pembangunan pertanian.

“Penyuluh adalah pahlawan pangan dan garda terdepan swasembada pangan. Penyuluh jangan pernah mengeluh dan harus merubah mindset serta keluar dari zona nyaman kalau ingin berhasil," sebutnya.

Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan jika penyuluh pertanian kunci keberhasilan program pembangunan pertanian melalui peningkatan produksi untuk mencapai swasembada.

Pada kegiatan sertifikasi kompetensi bagi penyuluh pertanian Kabupaten Karawang, asesor kompetensi merupakan Widyaiswara BBPP Lembang, Dosen Polbangtan Bogor, Penyuluh Utama dari Pusat Penyuluhan Pertanian. Metode sertifikasi yaitu pengecekan dokumen-dokumen penyuluhan, wawancara dan praktik penyuluhan.

Penutupan kegiatan pada Rabu (17/7/2024) oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Karawang, Rohman. Turut hadir Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, dan seluruh asesor kompetensi dan pihak Lembaga Sertifikasi Profesi Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian. Seluruh asesi dinyatakan kompeten.

Baca juga:

Kementan dan Universitas Sebelas Maret Berkolaborasi untuk Regenerasi Petani

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Karawang, Rohman menyampaikan rasa bangganya penyuluh pertanian di Kabupaten Karawang dinyatakan kompeten.

“Untuk melaksanakan tugas sehari hari diperlukan kompetensi diri. Saya berharap dengan sertifikasi ini penyuluh pertanian lebih profesional, memahami dan menguasai ilmu teknis pertanian," katanya.

“Sertifikasi kompetensi ini bisa membuktikan bahwa kualitas SDM Penyuluh Pertanian di Kabupaten Karawang dapat dipertanggungjawabkan. Penyuluh pertanian diharapkan kompeten untuk membina petani dalam rangka membangun sektor pertanian di Kabupaten Karawang,” tambah Rohman.

Sementara Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika, mengatakan setiap insan pertanian termasuk penyuluh pertanian harus terus belajar meningkatkan kompetensi baik teknis, manajerial, dan sosiokultural.

“Ini penting untuk peningkatan kapasitas diri dalam rangka menunjang kinerja pribadi dan instansi,” tutur Ajat.

Di penghujung kegiatan, salah seorang peserta Ilman Nursyamsudin mengatakan kesan nya mengikuti sertifikasi kompetensi di level supervisor.

"Alhamdulillah kami semua dinyatakan kompeten. Ini menjadi tanggung jawab besar bagi kami untuk menjalankan tugas lebih baik dan memberi manfaat yang luas bagi petani binaan kami,” ujarnya.(***)

Jaring Bibit Unggul, Polbangtan Kementan Lakukan Wawancara PMB

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Untuk menjaring generasi pertanian yang unggul dan berkualitas, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang, salah satu UPT di Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, melaksanakan Seleksi Wawancara bagi Calon Mahasiswa Baru Gelombang 2. Kegiatan tersebut dilakukan secara virtual, Selasa (16/7).

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pertanian membutuhkan SDM-SDM berkualitas untuk dapat terus berkembang. Untuk itu, Mentan berharap regenerasi petani dapat dilakukan dengan sebaik mungkin.

Pernyataan serupa disampaikan Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

Menurut Dedi, Polbangtan adalah kawah candradimuka bagi petani muda.

"Polbangtan membekali petani muda dengan berbagai pengetahuan dan kemajuan teknologi. Sehingga, pertanian Indonesia tidak tertinggal dari negara lain," ujarnya.

Sebelum kegiatan berlangsung, seluruh Tim Pewawancara dan Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) terlebih dahulu diberikan pengarahan singkat dan melakukan penandatanganan Pakta Integritas.

“Kita harus berkomitmen untuk melaksanakan wawancara dengan objektif, transparan, dan akuntabel. Jangan sampai ada calon mahasiswa yang dirugikan dalam proses ini,” imbau Direktur Polbangtan Yogyakarta, Bambang Sudarmanto, saat memberikan arahan sehari sebelum pelaksanaan kegiatan.

Pelaksanaan wawancara dibagi menjadi 2 sesi dalam satu hari dengan melibatkan seluruh dosen jurusan pertanian dan jurusan peternakan.

Baca juga:

Hadapi Tantangan Pertanian, Polbangtan Kementan Siap Kendalikan Hama Penyakit Tanaman 

Endra Prasetyanta, Ketua Kelompok Substansi Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni, menjelaskan bahwa pada tahap tes wawancara gelombang 2 tersebut ada 138 peserta yang akan diwawancara.

“Seleksi diawali dengan seleksi administrasi dan berhasil menjaring 138 orang yang terdiri dari 100 orang pendaftar Jurusan Pertanian dan 38 orang pendaftar jurusan peternakan,” rinci Endra.

Sebelum melaksanakan tes wawancara, disebutkan oleh Endra bahwa semua calon mahasiswa baru harus mengikuti psikotes terlebih dahulu.

“Dari hasil psikotes sudah terlihat mana calon mahasiswa yang berpotensi menjadi job creator mana yang menjadi job seeker. Fungsi tes wawancara ini adalah bertujuan memperdalam hasil psikotes yang sudah ada,” katanya

Demi mendapatkan calon mahasiswa yang terkualifikasi dengan baik, Endra memastikan tahap wawancara di Polbangtan Yogyakarta benar-benar berjalan secara transparan.

“Kami pastikan jalannya tes wawancara di Polbangtan Yogyakarta ini clean and clear, karena kami memang membidik calon-calon yang berkualitas,” tandasnya.(***)

CropLife Indonesia-PRISMA Dorong Pemasaran Pertanian yang Edukatif dan Inklusif Bagi Petani

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - CropLife Indonesia, PRISMA dan DFAT berkolaborasi menyelenggarakan seminar dan talkshow bertajuk Navigating Business Growth: Customer Education and Women's Sales Excellence di Jakarta (17/7).

Acara yang dihadiri produsen produk perlindungan tanaman (perusahaan agrokimia), komisi pestisida, asosiasi pertanian, pengamat dan pakar pemasaran ini diisi dengan presentasi hasil riset dan talkshow.

Acara ini diharapkan menjadi wadah berbagi pengetahuan hasil riset praktis maupun pengalaman antarpemangku kepentingan sektor swasta dan meningkatkan pemahaman tentang peluang dan tantangan dalam edukasi konsumen dan model bisnis inklusif dalam bisnis perlindungan tanaman.

CEO PRISMA Mohasin Kabir memaparkan hasil studi PRISMA pada 2024 yang menunjukkan bahwa perusahaan yang condong ke arah strategi pemasaran berbasis edukasi memiliki brand awareness 56 persen lebih kuat dibandingkan perusahaan yang strategi pemasarannya masih menitikberatkan hard selling.

Ia menambahkan bahwa agen lapangan perempuan dapat mendongkrak pertumbuhan bisnis perusahaan agrokimia karena lebih efektif untuk menjangkau segmen petani perempuan dan petani usia lanjut.

Masih rendahnya partisipasi petani perempuan dalam upaya-upaya perlindungan tanaman, khususnya dalam mengatasi penyakit tanaman dan hama, menjadikan perusahaan belum bisa menjangkau lebih banyak konsumen di segmen ini.

"Adapun hasil studi kami memperlihatkan potensi bisnis untuk menjangkau segmen petani perempuan dengan memperkerjakan agen lapangan perempuan,” ujar Mohasin.

Baca juga: 

Kementan Tarik Minat Generasi Muda di Bidang Pertanian melalui Field Trip

Ketua Tim Teknis Komisi Pengawas Pestisida Prof. Dadang Hermana yang ikut membuka acara menyatakan bahwa profil petani Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung masih sama.

Seperti pendidikan dan penguasaan teknologi yang rendah, sehingga edukasi terhadap petani masih menjadi poin penting.

“Peningkatan pengetahuan pengguna, peningkatan cara aplikasi, peningkatan mutu pestisida, peningkatan pengawasan pestisida dan penguatan regulasi adalah kolaborasi yang harus dilakukan stakeholder agar penggunaan pestisida di Indonesia semakin baik serta kesejahteraan petani ikut meningkat,” ungkap Dadang.

Studi yang dilakukan PRISMA pada 2024 dengan topik “Pemasaran Berbasis Edukasi: Potensi dan Rekomendasi” merekomendasikan 1. Perusahaan perlu memperbanyak kegiatan edukasi petani, 2. Perusahaan perlu memperluas cakupan topik edukasi, 3. Perusahaan perlu melakukan evaluasi kegiatan edukasi secara reguler.

Dalam kesempatan ini, Direktur Eksekutif CropLife Indonesia Agung Kurniawan membahas pentingnya edukasi konsumen dalam membangun keberlanjutan penggunaan produk-produk prolintan (perlindungan tanaman).

”Perusahaan agrokimia harus menyadari bahwa masih banyak petani kita yang tidak memiliki pengetahuan memadai mengenai praktik pertanian yang baik, khususnya bagaimana mengoptimalkan penggunaan produk-produk prolintan agar produktivitas pertanian bisa meningkat,” ungkap Agung.

”Insight dari studi yang dilakukan PRISMA penting untuk memperkaya diskusi seminar hari ini sehingga kami bisa semakin meyakinkan perusahaan agro kimia dalam mengadopsi strategi pemasaran dan penjualan yang edukatif serta inklusif,” tambahnya.

Seminar ”Navigating Business Growth” menghadirkan sesi diskusi panel yang mengundang perwakilan pelaku industri prolintan, asosiasi pertanian dan pengamat pasar untuk berbagi pengalaman serta pandangan terhadap topik-topik yang dibahas seputar customer education dan women sales agents.

Di antaranya MarkPlus Institute, Syngenta, FMC Indonesia, Sumitomo Chemical Asia, CropCare, PRISMA, dan CropLife Indonesia.(***)