17 Mei 2026

BALAI BESAR PELATIHAN PERTANIAN

Siap Go Nasional! Polbangtan Kementan Lindungi Inovasi Pertanian Lewat Kerja Sama dengan Kemenkum

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) menjalin kerja sama dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum Daerah Istimewa Yogyakarta (Kanwil Kemenkum DIY) dalam bidang perlindungan kekayaan intelektual. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) berlangsung di Hotel Grand Rohan Yogyakarta, Selasa (12/5/2026).

Kerja sama tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat perlindungan hasil riset dan inovasi sivitas akademika Polbangtan YOMA, sekaligus mendorong peningkatan pengelolaan kekayaan intelektual di lingkungan perguruan tinggi vokasi pertanian.

Penandatanganan PKS dilakukan bersama sejumlah perguruan tinggi di DIY dan difasilitasi oleh Kanwil Kemenkum DIY sebagai upaya memperkuat sinergi pelayanan kekayaan intelektual di lingkungan pendidikan tinggi.

Direktur Polbangtan YOMA, R Hermawan mengatakan, kerja sama ini menjadi momentum penting dalam membangun budaya inovasi dan perlindungan karya intelektual di kampus vokasi pertanian.

Menurutnya, saat ini Polbangtan YOMA tengah mengajukan 18 paten dan paten sederhana yang masih dalam proses.

“Kerja sama ini merupakan bentuk komitmen Polbangtan YOMA dalam mendorong hilirisasi inovasi sekaligus melindungi hasil karya sivitas akademika. Saat ini terdapat 18 paten dan paten sederhana yang sedang berproses dan diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi pembangunan pertanian,” ujarnya.

Baca Juga: Jogja Benih 2026 Satukan Akademisi dan Praktisi, Perkuat Sistem Perbenihan Nasional

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa inovasi dan perlindungan kekayaan intelektual menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi pertanian modern dan peningkatan daya saing sumber daya manusia pertanian.

“Kampus vokasi pertanian harus menjadi pusat lahirnya inovasi yang aplikatif dan berdampak langsung bagi petani. Perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi langkah penting agar inovasi anak bangsa memiliki nilai tambah dan keberlanjutan,” ujar Menteri Pertanian.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menyampaikan, penguatan ekosistem riset dan inovasi di lingkungan pendidikan vokasi Kementerian Pertanian terus didorong melalui kolaborasi lintas sektor.

“Polbangtan sebagai institusi pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan teknologi tepat guna yang terlindungi secara hukum sehingga dapat dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat dan dunia usaha,” katanya.

Melalui kerja sama ini, Polbangtan YOMA diharapkan semakin aktif mengembangkan riset terapan, inovasi teknologi pertanian, serta perlindungan kekayaan intelektual guna mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia.(*)

Jogja Benih 2026 Satukan Akademisi dan Praktisi, Perkuat Sistem Perbenihan Nasional

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta — Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YO-MA) bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Forum Perbenihan Jogja Benih 2026 pada Kamis (7/5/2026) di Ruang Seminar Polbangtan YO-MA, Yogyakarta.

Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi pemerintah, akademisi, pelaku usaha benih, peneliti, dan praktisi pertanian dalam memperkuat sistem perbenihan nasional menuju pertanian modern dan berdaya saing.

Forum dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, perguruan tinggi, lembaga riset, perusahaan benih, hingga komunitas perbenihan di DIY dan sekitarnya.

Direktur Polbangtan YO-MA, R. Hermawan, mengatakan pengembangan sumber daya manusia pertanian, khususnya di bidang perbenihan, harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan industri pertanian modern.

“Perbenihan menjadi sektor strategis dalam mendukung swasembada pangan nasional. Karena itu, Polbangtan YO-MA terus berupaya mencetak SDM pertanian yang profesional, adaptif terhadap teknologi, dan memiliki jiwa agripreneur,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, menegaskan pentingnya sinergi antar lembaga untuk menjaga kualitas dan distribusi benih kepada petani. Menurutnya, dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam memastikan ketersediaan benih unggul guna mendukung swasembada pangan nasional.

Baca Juga: Kementan Optimalkan Produktivitas Brigade Pangan Aceh Timur dengan Alsintan

Forum juga menghadirkan sejumlah pembicara yang membahas transformasi kebijakan perbenihan nasional di era digitalisasi, pemanfaatan teknologi digital dalam agribisnis benih, hingga strategi branding dan pengembangan pasar benih lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, mengatakan penguatan sektor perbenihan harus diiringi peningkatan kapasitas SDM pertanian yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Polbangtan sebagai institusi pendidikan vokasi Kementerian Pertanian memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda pertanian yang inovatif dan mampu menjadi motor penggerak pembangunan pertanian modern, termasuk di sektor perbenihan,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian menegaskan benih unggul merupakan kunci utama peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan nasional. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan dunia usaha dinilai penting untuk memperkuat kemandirian benih nasional.

“Kementerian Pertanian terus mendorong transformasi pertanian modern berbasis inovasi dan teknologi. Penguatan sistem perbenihan nasional harus menjadi prioritas untuk mendukung swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia,” tegasnya.

Dalam sesi diskusi interaktif, peserta menyampaikan berbagai masukan terkait penguatan industri benih nasional, inovasi teknologi, hingga strategi pengembangan pasar benih lokal.

Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun kolaborasi yang semakin kuat antara dunia pendidikan, pemerintah, peneliti, dan pelaku usaha dalam menciptakan ekosistem perbenihan yang maju, mandiri, dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan pangan Indonesia.(*)

Kementan Optimalkan Produktivitas Brigade Pangan Aceh Timur dengan Alsintan.

TANIINDONESIA.COM, Aceh Timur – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mengakselerasi luas tambah tanam guna meningkatkan produksi padi nasional. Penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) diyakini mampu mempercepat terwujudnya swasembada pangan.

Terutama pada lahan yang terdampak banjir beberapa waktu lalu. Sebagai bentuk komitmen, Kementan menyalurkan bantuan alsintan kepada 10 Brigade Pangan Kabupaten Aceh Timur yang dibentuk pada 2025. Bantuan tersebut meliputi traktor roda 2, traktor roda 4, rotavator, rice transplanter, dan drone.

Bantuan diserahkan pada Kamis (30/4/2026) di BPP Peureulak Barat, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh.

Menteri Pertanian (Mentan) RI, Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah terus mendorong mekanisasi pertanian untuk meningkatkan produktivitas padi.

Menurutnya, mekanisasi mampu meningkatkan efisiensi tenaga kerja, menekan biaya produksi, meningkatkan indeks pertanaman, serta mengoptimalkan hasil panen.

“Upaya ini sebagai bentuk perbaikan di sektor pertanian dan sudah mendapat dukungan penuh dari presiden,” kata Mentan Amran.

Selaras dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mendorong pemanfaatan alsintan dalam budidaya padi yang dikelola Brigade Pangan.

“Brigade Pangan diharapkan menjadi motor penggerak modernisasi pertanian di wilayahnya. Mereka tidak hanya mampu mengoperasikan alsintan, tetapi juga mengelola pemanfaatannya secara profesional, terencana, dan berkelanjutan,” jelas Santi.

Baca Juga: Bangkit dari Banjir! Brigade Pangan Aceh Timur Kembali Tanam 150 Hektare Padi

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al. Farlaky berharap bantuan alsintan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Brigade Pangan.

“Kami berharap bantuan alsintan ini mampu mendongkrak produksi padi di Kabupaten Aceh Timur. Dari yang selama ini berada di posisi kedua, bisa menjadi nomor satu di Provinsi Aceh,” ujarnya.

Ia menambahkan, bantuan tersebut juga diharapkan menjadi penyemangat bagi anggota Brigade Pangan yang beberapa bulan lalu terdampak banjir di lahan pertanian mereka.

“Ini menjadi bukti bahwa pemerintah pusat tidak abai terhadap bencana yang terjadi di Provinsi Aceh,” tuturnya.

Al-Farlaky juga mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke sektor pertanian sebagai petani milenial. Menurutnya, pertanian memiliki prospek menjanjikan jika dikelola secara serius dan profesional.

“Jangan melihat petani sebagai profesi yang tidak bergengsi. Jika dimanfaatkan dengan benar, pertanian bisa menghasilkan pendapatan yang besar,” katanya.

Mewakili Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma), LO Brigade Pangan Kabupaten Aceh Timur, Ferdian Ahmad optimistis Brigade Pangan mampu beradaptasi dengan teknologi pertanian modern.

“Kami percaya anggota Brigade Pangan yang didominasi petani milenial mampu merawat dan menggunakan alsintan berteknologi tinggi dengan baik,” sebutnya.

Menurutnya, hal tersebut dapat meningkatkan pendapatan anggota Brigade Pangan, baik dari budidaya padi maupun jasa sewa alsintan.

Sementara itu, Manajer Brigade Pangan Julok Jaya, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur, Munawar menyambut baik bantuan tersebut.

“Kami akan menggunakan alsintan ini untuk pengolahan lahan, tanam, hingga penyemprotan pestisida di lahan Brigade Pangan kami. Targetnya bisa tanam sekitar 35–150 hektare,” terangnya.

Melalui bantuan alsintan ini, Kementan berharap mekanisasi pertanian di daerah semakin meningkat sehingga mampu mendongkrak produksi pangan nasional.(*)

Bangkit dari Banjir! Brigade Pangan Aceh Timur Kembali Tanam 150 Hektare Padi

TANIINDONESIA.COM, Aceh Timur – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) terus mendorong percepatan pemulihan sektor pertanian di daerah terdampak bencana melalui gerakan tanam padi.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan tanam padi yang dilaksanakan Brigade Pangan Semangat Muda pada Jumat (1/5/2026) di Desa Tanjung Tualang, Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, pada lahan yang sebelumnya terdampak banjir.

Kegiatan ini difokuskan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian yang sempat terganggu, sekaligus menjaga stabilitas pasokan beras. Dengan penerapan pola tanam serentak, diharapkan produktivitas dapat kembali optimal.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, menegaskan bahwa percepatan tanam di wilayah terdampak bencana menjadi langkah penting untuk menjaga produksi pangan nasional sekaligus memastikan petani tetap dapat berproduksi.

“Jangan biarkan lahan tidur setelah bencana. Kita harus bergerak cepat melakukan percepatan tanam agar produksi tetap terjaga dan kesejahteraan petani tidak terganggu,” tegas Mentan Amran.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa gerakan ini menjadi langkah strategis dalam membangkitkan kembali aktivitas pertanian pascabencana.

Baca Juga: Percepat Pemulihan Pascabencana, Aceh Gelar Tanam Padi Serempak

“Melalui gerakan tanam ini, kami berharap Brigade Pangan Semangat Muda dapat segera bangkit dan mengoptimalkan kembali lahan pertanian seluas kurang lebih 150 hektare yang terdampak banjir,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang, R. Hermawan, selaku penanggung jawab Brigade Pangan Provinsi Aceh, menegaskan pentingnya kegiatan ini dalam mendukung peningkatan produksi padi daerah.

Ia menyebut Kabupaten Aceh Timur sebagai salah satu sentra produksi padi utama di Provinsi Aceh dengan capaian produktivitas rata-rata 6,5 ton per hektare.

“Kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam mendorong peningkatan produksi sekaligus memperkuat kontribusi Aceh terhadap pencapaian swasembada pangan nasional,” jelasnya.

Melalui percepatan tanam di lahan terdampak bencana, diharapkan sektor pertanian di Aceh Timur dapat segera pulih dan kembali menjadi penopang utama ketahanan pangan daerah maupun nasional.(*)

Percepat Pemulihan Pascabencana, Aceh Gelar Tanam Padi Serempak

TANIINDONESIA.COM, Bireuen — Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan langkah strategis dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan melalui Gerakan Tanam (Gertam) Serempak seluas 50.000 hektare di 25 provinsi pada Kamis (30/4/2026).

Kegiatan tanam serempak di provinci Aceh dilaksanakan di Desa Pulo Lawang, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, pada lahan optimalisasi seluas 30 hektare. Kegiatan ini menjadi upaya konkret dalam meningkatkan produksi padi sekaligus mempercepat pemulihan lahan pertanian terdampak bencana.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa sinergi antara penyuluh dan petani menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat di lapangan. Penyuluh bersama petani berperan penting untuk memastikan lahan yang siap dapat segera ditanami dan menghasilkan secara optimal,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) perlu terus dioptimalkan guna meningkatkan efisiensi kerja.

“Penggunaan alsintan seperti rice transplanter, drone pertanian, dan teknologi lainnya mampu mempercepat proses tanam serta membantu mengatasi keterbatasan tenaga kerja,” jelasnya.

Secara nasional, kegiatan ini dipusatkan di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, dan dilaksanakan serentak di berbagai wilayah pada lahan optimalisasi (Oplah), Cetak Sawah Rakyat (CSR), serta lahan terdampak bencana.

Idha menyebutkan bahwa gerakan ini mencakup Oplah Tahun 2024 seluas 20.000 hektare, Oplah 2025 seluas 23.000 hektare, CSR 2025 seluas 5.000 hektare, serta rehabilitasi lahan terdampak bencana seluas 2.026 hektare.

Baca Juga: Perkuat Produksi Nasional, Brigade Pangan Cilacap Lakukan Tanam Serempak

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang hadir secara daring, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.

“Terima kasih kepada gubernur, bupati, petani, penyuluh, dan seluruh pihak. Ini adalah bentuk komitmen bersama dalam memperkuat swasembada pangan. Kita terus dorong tanam serempak di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa pengembangan areal tanam melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan akan terus diperluas guna meningkatkan produksi nasional.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, menekankan bahwa percepatan tanam menjadi langkah utama dalam menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau 2026.

“Mitigasi telah disiapkan, mulai dari pemantauan iklim, pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan tanam, pompanisasi, hingga penguatan infrastruktur air,” jelasnya.

Strategi lain yang didorong meliputi percepatan tanam di akhir musim hujan untuk memaksimalkan ketersediaan air, pompanisasi secara masif, serta optimalisasi lahan rawa guna menjaga produktivitas saat terjadi kekeringan di lahan tadah hujan.

Selain itu, penggunaan benih tahan kekeringan dan pembangunan infrastruktur air seperti embung, long storage, serta sumur bor juga menjadi bagian dari upaya penguatan ketahanan air di sektor pertanian.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma), R. Hermawan, selaku penanggung jawab Brigade Pangan Provinsi Aceh, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Tanam serempak, termasuk di Kabupaten Bireuen ini, merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendukung peningkatan swasembada pangan nasional,” ungkapnya.

Dengan sinergi dan komitmen bersama, gerakan tanam serempak ini diharapkan mampu meningkatkan produksi padi secara signifikan serta mendukung terwujudnya kemandirian pangan nasional.(*)

Perkuat Produksi Nasional, Brigade Pangan Cilacap Lakukan Tanam Serempak

TANIINDONESIA.COM, Cilacap – Dalam upaya menjaga dan meningkatkan produksi pangan nasional, Kementerian Pertanian (Kementan) melaksanakan gerakan tanam serentak seluas 50 ribu hektar di 25 provinsi pada Kamis (30/4/2026).

Salah satu titik kegiatan berada di Desa Ujunggagak, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Di lokasi ini, Brigade Pangan Muda Berkarya Cilacap mengelola total 190 hektare lahan optimalisasi (oplah), dengan 5 hektare berhasil ditanami pada hari pelaksanaan.

Gerakan ini mencakup lahan optimalisasi, cetak sawah rakyat (CSR), serta lahan terdampak bencana, dengan titik utama nasional dipusatkan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Kegiatan tanam serempak menjadi langkah strategis Kementan dalam mengantisipasi musim kemarau sekaligus mempercepat pemulihan lahan terdampak bencana.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menjelaskan bahwa gerakan ini mencakup 20.000 hektare oplah tahun 2024, 23.000 hektare oplah tahun 2025, 5.000 hektare CSR tahun 2025, serta 2.026 hektare lahan rehabilitasi bencana.

“Percepatan tanam harus terus dikawal secara optimal di lapangan. Peran penyuluh bersama petani menjadi kunci agar lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan secara maksimal,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) dalam mendukung percepatan tanam.

“Penggunaan alsintan seperti rice transplanter dan drone pertanian mampu meningkatkan efisiensi serta membantu mengatasi keterbatasan tenaga kerja,” tambahnya.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang mengikuti kegiatan secara daring, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.

Baca Juga: Panen Perdana Metode Ankansas, Polbangtan Kementan Catat Produktivitas

“Terima kasih kepada gubernur, bupati, petani, penyuluh, hingga jajaran aparat. Ini adalah komitmen bersama dalam memperkuat swasembada pangan,” ucapnya.

Ia menegaskan, pengembangan areal tanam melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan akan terus diperluas sebagai strategi peningkatan produksi nasional.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, menyebut percepatan tanam sebagai langkah utama menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau 2026.

“Mitigasi telah disiapkan, mulai dari pemantauan iklim, pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan tanam, pompanisasi, hingga penguatan infrastruktur air,” jelasnya.

Di lokasi terpisah, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma), R. Hermawan, selaku penanggung jawab swasembada pangan wilayah Jawa Tengah, optimistis target tanam dapat tercapai.

“Kami optimis seluruh 190 hektare akan tertanam sepenuhnya dalam waktu dekat,” tegasnya.

Ia menambahkan, di Kabupaten Cilacap telah terbentuk 22 Brigade Pangan yang masing-masing mengelola minimal 150 hektare lahan optimalisasi.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, Kementan optimistis gerakan tanam serempak ini mampu meningkatkan produksi, menjaga ketersediaan pangan, serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.(*)

Panen Perdana Metode Ankansas, Polbangtan Kementan Catat Produktivitas

TANIINDONESIA.COM, Bantul – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan Yoma) melaksanakan panen perdana padi menggunakan metode Ankansas di Teaching Factory (Tefa) Perbenihan Kebun Banyakan, Kecamatan Piyungan, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Panen ini merupakan bagian dari penerapan inovasi budidaya padi metode Ankansas pada lahan seluas 1.000 meter persegi dengan varietas unggul Inpari 32. Hasilnya menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi, mencapai 6,4 ton per hektare.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan pentingnya inovasi budidaya dalam meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

“Peningkatan produksi pangan harus didukung oleh teknologi yang tepat serta SDM pertanian yang unggul. Langkah Polbangtan Yoma ini merupakan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa penguatan pendidikan vokasi berbasis praktik menjadi kunci dalam meningkatkan produksi pangan nasional.

“Kami mendorong seluruh unit pendidikan untuk terus mengembangkan inovasi dan memperkuat Teaching Factory guna menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja,” tegasnya.

Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan, menjelaskan bahwa metode Ankansas menjadi salah satu pendekatan inovatif untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi.

Baca Juga: Penguatan Pembelajaran Terintegrasi, Polbangtan Kementan Gelar Kunjungan Akademik

“Panen perdana ini membuktikan bahwa penerapan teknologi dan metode budidaya yang tepat mampu meningkatkan hasil produksi sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa,” ujarnya.

Kepala Pusat Pendidikan BPPSDMP Kementerian Pertanian, Muhammad Amin, turut mengapresiasi implementasi Teaching Factory yang dilakukan Polbangtan Yoma. Menurutnya, model pembelajaran ini efektif dalam mengintegrasikan teori dan praktik secara langsung di lapangan.

“Kegiatan ini penting dalam mencetak SDM pertanian yang adaptif terhadap inovasi dan siap menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan,” ungkapnya.

Panen perdana ini diharapkan menjadi contoh bagi pengembangan budidaya padi di berbagai daerah, sekaligus memperkuat sinergi antara pendidikan vokasi dan penerapan teknologi pertanian di lapangan.(*)

Penguatan Pembelajaran Terintegrasi, Polbangtan Kementan Gelar Kunjungan Akademik

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta — Sebanyak 149 mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang melakukan kunjungan akademik ke Polbangtan Yogyakarta-Magelang (Yoma), Selasa (21/4/2026), guna memperkuat pembelajaran berbasis praktik di sektor pertanian.

Kunjungan ini merupakan bagian dari pembelajaran terintegrasi Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 bagi mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan tingkat I dan II.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa peran generasi muda sangat menentukan percepatan pembangunan sektor pertanian nasional.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyebut pendidikan vokasi menjadi ujung tombak dalam mencetak SDM pertanian yang adaptif dan siap kerja.

“Kolaborasi antarkampus vokasi akan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sekaligus memperkuat kesiapan mereka menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan,” ujarnya.

Dalam kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam diskusi dan pengamatan praktik pembelajaran di lingkungan kampus.

Baca Juga: Perkuat Mutu Pendidikan Vokasi, Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Kementan Jalani Asesmen BAN-PT

Materi yang dipelajari mencakup kelembagaan petani, komunikasi penyuluhan, hingga teknologi produksi dan agribisnis berkelanjutan. Selain itu, mahasiswa juga mendalami aspek manajemen SDM, evaluasi penyuluhan, serta teknologi pemupukan ramah lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Kampus Polbangtan Yoma Yogyakarta ini dibuka oleh Wakil Direktur I, Dr. Endah Puspitojati, dan dihadiri perwakilan Polbangtan Malang, Dr. Budi Sawitri.

Salah satu agenda utama adalah pemaparan program Juru Tani yang menjadi inovasi dalam penguatan pendidikan vokasi pertanian. Mahasiswa juga mengikuti diskusi interaktif terkait pengembangan laboratorium dan Teaching Factory (TEFA).

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata, kunjungan ke fasilitas kampus, serta observasi langsung ke area praktik.

Melalui kegiatan ini, sinergi antar Polbangtan diharapkan semakin kuat dalam mencetak generasi muda pertanian yang kompeten, adaptif, dan siap mendorong kemajuan sektor pertanian nasional.(*)

Perkuat Mutu Pendidikan Vokasi, Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Kementan Jalani Asesmen BAN-PT

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan YOMA) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi pertanian melalui pelaksanaan asesmen lapangan akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Senin (20/4/2026).

Kegiatan asesmen ini difokuskan pada Program Studi Agribisnis Hortikultura Program Diploma IV sebagai bagian dari proses penjaminan mutu pendidikan tinggi yang berkelanjutan dan berbasis outcome.

Hadir sebagai tim asesor, Prof. Dr. Ir. Reny Herawati, M.P. dari Universitas Bengkulu dan Dr. Yulmira Yanti, S.Si., M.P. dari Universitas Andalas. Keduanya melakukan penilaian menyeluruh melalui verifikasi dokumen, wawancara dengan sivitas akademika, serta observasi langsung terhadap sarana prasarana dan proses pembelajaran.

Direktur Polbangtan YOMA, R. Hermawan, menyampaikan bahwa asesmen lapangan merupakan momentum strategis untuk mengukur capaian kinerja program studi sekaligus memperkuat langkah perbaikan berkelanjutan.

“Proses ini menjadi refleksi bagi kami dalam memastikan kualitas penyelenggaraan pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Kami juga terus mendorong penguatan kurikulum berbasis kompetensi, peningkatan kapasitas SDM, serta perluasan jejaring kemitraan,” ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa akreditasi bukan sekadar pemenuhan standar administratif, tetapi bagian dari transformasi pendidikan vokasi agar mampu mencetak SDM pertanian yang adaptif dan berdaya saing global.

“BPPSDMP berkomitmen mendorong kelembagaan pendidikan vokasi pertanian agar semakin responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan sektor pertanian modern,” jelasnya.

Dukungan juga disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menekankan pentingnya peran strategis perguruan tinggi vokasi dalam mencetak generasi muda pertanian yang unggul dan inovatif.

Baca Juga: Gelar Sharing Session, Kementan Buka Strategi Publikasi Bereputasi dan Riset Strategis

“Pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan serta mampu menjawab tantangan global,” tegasnya.

Pada sesi penutupan, tim asesor menyampaikan sejumlah catatan dan rekomendasi strategis. Secara umum, visi, misi, tujuan, dan sasaran (VMTS) program studi dinilai telah selaras dengan arah pengembangan institusi. Namun, penguatan perlu difokuskan pada pencapaian berbasis outcome dengan implementasi siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) yang lebih terukur.

Selain itu, asesor mendorong peningkatan kualitas kerja sama melalui riset kolaboratif, penguatan sistem monitoring dan evaluasi berbasis digital, serta pengembangan jejaring internasional guna meningkatkan kompetensi global mahasiswa.

Peningkatan kualitas SDM dosen juga menjadi perhatian, khususnya dalam mendorong kenaikan jabatan akademik hingga Lektor Kepala yang didukung publikasi ilmiah bereputasi. Di sisi lain, optimalisasi teaching factory berbasis digital serta penguatan kolaborasi riset dengan berbagai pihak, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dinilai penting untuk mendukung inovasi berkelanjutan.

Asesor juga menekankan penguatan tracer study berbasis digital serta peningkatan jumlah lulusan yang berwirausaha, khususnya di bidang perbenihan dan biofarmaka.

Melalui asesmen ini, Polbangtan YOMA diharapkan mampu memperkuat sistem penjaminan mutu internal serta meningkatkan daya saing Program Studi Agribisnis Hortikultura dalam mencetak SDM pertanian yang profesional, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.(*)

Gelar Sharing Session, Kementan Buka Strategi Publikasi Bereputasi dan Riset Strategis

TANIONDONESIA.COM, Yogyakarta — Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan Yoma) menggelar sharing session bertajuk “Strategi Publikasi Bereputasi dan Riset Strategis Kementerian Pertanian” Jumat (17/4/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh dosen serta pejabat fungsional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dan memperkuat arah riset institusi.

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Polbangtan Yoma R. Hermawan yang dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi yang mampu mendukung pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjawab tantangan sektor pertanian.

R. Hermawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah di lingkungan kampus.

“Kami berharap melalui sharing session ini, para dosen semakin termotivasi untuk menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, turut memberikan dukungan terhadap kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas dosen dalam publikasi ilmiah menjadi bagian penting dalam memperkuat peran pendidikan vokasi pertanian.

“SDM pertanian yang unggul harus didukung oleh riset yang kuat dan publikasi bereputasi, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya sinergi antara riset dan kebijakan.

 

Baca Juga: Pompanisasi Sukses Tingkatkan Produktivitas Padi di Magelang

“Riset yang dihasilkan oleh institusi pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan lapangan dan mendukung program strategis Kementerian Pertanian, khususnya dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, narasumber utama Dr. Ir. Widodo memaparkan strategi publikasi di Jurnal AGRARIS yang telah terindeks Scopus. Ia menjelaskan pentingnya memahami ruang lingkup jurnal, menjaga kualitas metodologi penelitian, serta konsistensi dalam penulisan artikel ilmiah sesuai standar internasional.

Narasumber lainnya, Prof. Ir. Muhammad Arsyad, membahas critical points dalam publikasi bereputasi. Menurutnya, kualitas substansi penelitian, kebaruan (novelty), serta ketepatan dalam memilih jurnal menjadi faktor kunci untuk menembus jurnal internasional bereputasi.

Sementara itu, Abd. Haris Bahrun menyampaikan arah riset strategis nasional di lingkungan Kementerian Pertanian. Ia menegaskan bahwa penelitian di perguruan tinggi vokasi harus selaras dengan program strategis Kementan, terutama dalam mendukung ketahanan pangan, modernisasi pertanian, dan peningkatan kesejahteraan petani.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi aktif antara narasumber dan peserta. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali lebih dalam terkait strategi publikasi dan arah riset yang relevan dengan kebutuhan sektor pertanian saat ini.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dosen dan pejabat fungsional Polbangtan Yoma semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah bereputasi, serta menghasilkan riset yang berdampak nyata bagi pembangunan pertanian nasional.(*)