2 Mei 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

Percepat Pemulihan Pascabencana, Aceh Gelar Tanam Padi Serempak

TANIINDONESIA.COM, Bireuen — Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan langkah strategis dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan melalui Gerakan Tanam (Gertam) Serempak seluas 50.000 hektare di 25 provinsi pada Kamis (30/4/2026).

Kegiatan tanam serempak di provinci Aceh dilaksanakan di Desa Pulo Lawang, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, pada lahan optimalisasi seluas 30 hektare. Kegiatan ini menjadi upaya konkret dalam meningkatkan produksi padi sekaligus mempercepat pemulihan lahan pertanian terdampak bencana.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa sinergi antara penyuluh dan petani menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat di lapangan. Penyuluh bersama petani berperan penting untuk memastikan lahan yang siap dapat segera ditanami dan menghasilkan secara optimal,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) perlu terus dioptimalkan guna meningkatkan efisiensi kerja.

“Penggunaan alsintan seperti rice transplanter, drone pertanian, dan teknologi lainnya mampu mempercepat proses tanam serta membantu mengatasi keterbatasan tenaga kerja,” jelasnya.

Secara nasional, kegiatan ini dipusatkan di Nagari Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, dan dilaksanakan serentak di berbagai wilayah pada lahan optimalisasi (Oplah), Cetak Sawah Rakyat (CSR), serta lahan terdampak bencana.

Idha menyebutkan bahwa gerakan ini mencakup Oplah Tahun 2024 seluas 20.000 hektare, Oplah 2025 seluas 23.000 hektare, CSR 2025 seluas 5.000 hektare, serta rehabilitasi lahan terdampak bencana seluas 2.026 hektare.

Baca Juga: Perkuat Produksi Nasional, Brigade Pangan Cilacap Lakukan Tanam Serempak

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang hadir secara daring, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.

“Terima kasih kepada gubernur, bupati, petani, penyuluh, dan seluruh pihak. Ini adalah bentuk komitmen bersama dalam memperkuat swasembada pangan. Kita terus dorong tanam serempak di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa pengembangan areal tanam melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan akan terus diperluas guna meningkatkan produksi nasional.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, menekankan bahwa percepatan tanam menjadi langkah utama dalam menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau 2026.

“Mitigasi telah disiapkan, mulai dari pemantauan iklim, pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan tanam, pompanisasi, hingga penguatan infrastruktur air,” jelasnya.

Strategi lain yang didorong meliputi percepatan tanam di akhir musim hujan untuk memaksimalkan ketersediaan air, pompanisasi secara masif, serta optimalisasi lahan rawa guna menjaga produktivitas saat terjadi kekeringan di lahan tadah hujan.

Selain itu, penggunaan benih tahan kekeringan dan pembangunan infrastruktur air seperti embung, long storage, serta sumur bor juga menjadi bagian dari upaya penguatan ketahanan air di sektor pertanian.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma), R. Hermawan, selaku penanggung jawab Brigade Pangan Provinsi Aceh, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

“Tanam serempak, termasuk di Kabupaten Bireuen ini, merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendukung peningkatan swasembada pangan nasional,” ungkapnya.

Dengan sinergi dan komitmen bersama, gerakan tanam serempak ini diharapkan mampu meningkatkan produksi padi secara signifikan serta mendukung terwujudnya kemandirian pangan nasional.(*)

Perkuat Produksi Nasional, Brigade Pangan Cilacap Lakukan Tanam Serempak

TANIINDONESIA.COM, Cilacap – Dalam upaya menjaga dan meningkatkan produksi pangan nasional, Kementerian Pertanian (Kementan) melaksanakan gerakan tanam serentak seluas 50 ribu hektar di 25 provinsi pada Kamis (30/4/2026).

Salah satu titik kegiatan berada di Desa Ujunggagak, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Di lokasi ini, Brigade Pangan Muda Berkarya Cilacap mengelola total 190 hektare lahan optimalisasi (oplah), dengan 5 hektare berhasil ditanami pada hari pelaksanaan.

Gerakan ini mencakup lahan optimalisasi, cetak sawah rakyat (CSR), serta lahan terdampak bencana, dengan titik utama nasional dipusatkan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Kegiatan tanam serempak menjadi langkah strategis Kementan dalam mengantisipasi musim kemarau sekaligus mempercepat pemulihan lahan terdampak bencana.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menjelaskan bahwa gerakan ini mencakup 20.000 hektare oplah tahun 2024, 23.000 hektare oplah tahun 2025, 5.000 hektare CSR tahun 2025, serta 2.026 hektare lahan rehabilitasi bencana.

“Percepatan tanam harus terus dikawal secara optimal di lapangan. Peran penyuluh bersama petani menjadi kunci agar lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan menghasilkan secara maksimal,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) dalam mendukung percepatan tanam.

“Penggunaan alsintan seperti rice transplanter dan drone pertanian mampu meningkatkan efisiensi serta membantu mengatasi keterbatasan tenaga kerja,” tambahnya.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang mengikuti kegiatan secara daring, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.

Baca Juga: Panen Perdana Metode Ankansas, Polbangtan Kementan Catat Produktivitas

“Terima kasih kepada gubernur, bupati, petani, penyuluh, hingga jajaran aparat. Ini adalah komitmen bersama dalam memperkuat swasembada pangan,” ucapnya.

Ia menegaskan, pengembangan areal tanam melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan akan terus diperluas sebagai strategi peningkatan produksi nasional.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, menyebut percepatan tanam sebagai langkah utama menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau 2026.

“Mitigasi telah disiapkan, mulai dari pemantauan iklim, pemetaan wilayah rawan kekeringan, percepatan tanam, pompanisasi, hingga penguatan infrastruktur air,” jelasnya.

Di lokasi terpisah, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma), R. Hermawan, selaku penanggung jawab swasembada pangan wilayah Jawa Tengah, optimistis target tanam dapat tercapai.

“Kami optimis seluruh 190 hektare akan tertanam sepenuhnya dalam waktu dekat,” tegasnya.

Ia menambahkan, di Kabupaten Cilacap telah terbentuk 22 Brigade Pangan yang masing-masing mengelola minimal 150 hektare lahan optimalisasi.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, Kementan optimistis gerakan tanam serempak ini mampu meningkatkan produksi, menjaga ketersediaan pangan, serta memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim.(*)

Langkah Besar Politeknik Enjiniring Pertanian! AWG Singapura Jajaki Kerja Sama Tridharma Pertanian

TANIINDONESIA.COM, Tanggerang – Agribusiness Working Group (AWG) dari Singapura melakukan kunjungan ke Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) pada Senin (27/04/2026). Kunjungan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kerja sama internasional di sektor pertanian, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pengembangan inovasi teknologi pertanian.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas berbagai peluang kolaborasi, mulai dari penguatan pendidikan, riset terapan, hingga pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari implementasi tridharma perguruan tinggi.

Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai arahannya menegaskan bahwa pendidikan vokasi menjadi kunci dalam mencetak generasi muda pertanian yang unggul dan berdaya saing.

“Melalui pendidikan vokasi, Kementerian Pertanian melahirkan SDM yang kompetitif sebagai tenaga kerja pertanian andal sekaligus pengusaha pertanian milenial yang kreatif, inovatif, dan mampu membuka lapangan kerja,” ujarnya.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam memajukan sektor pertanian nasional.

“Pertanian ke depan harus dikelola oleh generasi milenial yang mengedepankan kreativitas dan inovasi. Tidak hanya memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga berorientasi ekspor,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Mohammad Amin, menegaskan, penguatan pendidikan vokasi harus selaras dengan kebutuhan industri pertanian modern.

Baca Juga: Di Tengah Ancaman Global, Cadangan Beras RI 5 Juta Ton, DPR Angkat Topi

Ia menekankan pentingnya kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk digitalisasi dan mekanisasi pertanian, serta pembentukan karakter, kedisiplinan, dan jiwa kewirausahaan mahasiswa.

“Kolaborasi dengan mitra, baik dalam maupun luar negeri, menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, riset terapan, serta pertukaran pengetahuan,” ujarnya.

Direktur PEPI, Harmanto, menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen menjadikan PEPI sebagai institusi pendidikan vokasi unggulan yang mampu mencetak SDM pertanian siap menghadapi tantangan global.

Menurutnya, penguatan kurikulum berbasis praktik, pemanfaatan teknologi pertanian modern, serta kerja sama dengan mitra strategis menjadi fokus utama dalam meningkatkan kualitas lulusan.

“Kami mendorong mahasiswa tidak hanya menjadi job seeker, tetapi juga job creator yang mampu menciptakan inovasi dan membuka peluang usaha di sektor pertanian,” ungkapnya.

Harmanto juga menambahkan bahwa kunjungan AWG Singapura ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi internasional, khususnya dalam transfer teknologi, inovasi, dan praktik terbaik di bidang agribisnis modern.

Melalui kerja sama ini, PEPI diharapkan mampu melahirkan generasi muda pertanian yang adaptif, kreatif, dan berdaya saing global, sekaligus berkontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan nasional.(*)

Di Tengah Ancaman Global, Cadangan Beras RI 5 Juta Ton, DPR Angkat Topi

TANIINDONESIA.COM, – Di tengah tekanan global dan potensi gangguan pasokan pangan dunia, Indonesia justru menunjukkan penguatan signifikan dengan cadangan beras pemerintah yang telah mencapai 5 juta ton. Capaian ini menjadi indikator kuat ketahanan pangan nasional sekaligus mendapat apresiasi dari DPR RI atas kinerja Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

Anggota Komisi IV DPR RI, Rajiv, menilai capaian tersebut mencerminkan hasil konkret kinerja sektor pertanian, khususnya dalam percepatan target swasembada beras.

“Presiden Prabowo, ngasih target 4 tahun tahun swasembada beras, tapi menteri Amran hanya membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk mewujudkannya. Ini luar biasa,” kata Rajiv, Senin (27/4/2026).

Rajiv menyebut, peningkatan produksi beras nasional menjadi faktor utama yang mendorong penguatan cadangan pangan. Produksi beras nasional dilaporkan melonjak sebesar 13,29 persen pada tahun lalu, dengan capaian saat ini mencapai sekitar 5,7 juta ton per bulan.

“Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian dan ancaman gangguan pangan, kita justru aman karena memiliki cadangan pangan yang berlimpah hingga 324 hari kedepan. Bahkan setiap bulan produksi beras kita mencapai 5,7 juta ton,” ungkapnya.

Ia juga menilai berbagai program strategis Kementan berjalan efektif dan mulai menunjukkan hasil konkret di lapangan, mulai dari perluasan areal tanam, optimalisasi lahan, penyediaan benih unggul, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), subsidi pupuk, hingga hilirisasi sektor pertanian dan peternakan.

Di bawah kepemimpinan Mentan Amran, Kementan terus memperkuat langkah strategis dalam membangun ketahanan pangan nasional. Melalui serangkaian kebijakan terukur dan terintegrasi, Kementan berhasil mempercepat target swasembada pangan dari empat tahun menjadi hanya sekitar satu tahun, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto di tengah dinamika global yang kian menantang.

Transformasi tersebut dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pembenahan hulu hingga hilir. Pada awal pemerintahan, sektor pertanian dihadapkan pada berbagai persoalan mendasar, seperti keterbatasan pupuk, kerusakan jaringan irigasi, hingga lemahnya distribusi sarana produksi.

Baca Juga: Kunjungi BRMP Padi, Mahasiswa Politeknik Enjiniring Kementan Perdalam Teknologi dan Mekanisasi Pertanian

Menjawab tantangan tersebut, Kementan melakukan deregulasi besar-besaran dengan menyederhanakan ratusan aturan, sekaligus menerbitkan puluhan regulasi strategis untuk mempercepat produksi pangan. Reformasi juga difokuskan pada sektor pupuk dengan mengembalikan alokasi subsidi menjadi 9,55 juta ton, menurunkan harga pupuk hingga 20 persen, serta membuka akses lebih luas bagi petani.

Di sisi produksi, intervensi dilakukan secara masif melalui optimalisasi lahan, penggunaan benih unggul di jutaan hektare, pompanisasi lahan tadah hujan, hingga pencetakan sawah baru. Modernisasi pertanian juga didorong melalui pemanfaatan alat dan mesin pertanian serta teknologi berbasis precision farming.

Langkah-langkah tersebut kini menunjukkan hasil nyata. Cadangan beras pemerintah dilaporkan meningkat signifikan dan telah mencapai 5 juta ton, sekaligus menjadi penguatan penting di tengah tekanan global.

Sementara itu dalam beberapa kesempatan, Mentan Amran menegaskan bahwa capaian ini merupakan hasil dari keberanian melakukan perubahan sistem secara menyeluruh, tidak hanya menjalankan program rutin.

“Empat tahun rencana awal swasembada, begitu Bapak Presiden melihat ada geopolitik yang memanas, ‘Pak Mentan, apapun caranya, satu tahun’. Jadi, ini luar biasa satu tahun swasembada. Dan, stok cadangan beras kita insya Allah bulan ini lima juta ton,” ujar Mentan Amran.

Mentan juga menekankan bahwa seluruh kebijakan yang diambil berbasis data dan diarahkan langsung untuk menjawab persoalan di lapangan, mulai dari distribusi pupuk, perbaikan irigasi, hingga peningkatan produktivitas petani.

“Bapak Presiden Prabowo tugaskan kepada kita agar swasembada pangan secepat-cepatnya. Kita siapkan lompatan bersama yang kita buat bersama agar itu terwujud, petani sejahtera, masyarakat tersenyum,” tambahnya.

Menurutnya, penguatan produksi dilakukan melalui berbagai intervensi konkret seperti pompanisasi, penggunaan benih unggul, serta mekanisasi pertanian yang mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil hingga dua kali lipat.

Di sisi hilir, kebijakan penyerapan gabah oleh Perum Bulog dengan skema harga Rp6.500 per kilogram juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat cadangan beras pemerintah yang kini telah menembus angka 5 juta ton.(*)

Gaungkan Persatuan, Ade Jona Prasetyo Peroleh Nomor Urut 2 di Kontestasi Ketum BPP HIPMI 2026–2029

TANIINDONESIA.COM, Jakarta - Momentum penting dalam kontestasi Ketua Umum BPP HIPMI periode 2026–2029 resmi berlangsung melalui proses pengundian nomor urut. Dalam momen tersebut, Ade Jona Prasetyo mendapatkan nomor urut 2, yang langsung disambut antusias oleh para pendukung dari berbagai Badan Pengurus Daerah (BPD) di HIPMI seluruh Indonesia.

Angka 2 dalam momentum ini tidak hanya menjadi identitas dalam kontestasi, tetapi juga dimaknai sebagai simbol kebersamaan, keseimbangan, dan persatuan dan nilai yang selama ini konsisten dibawa oleh Ade Jona dalam setiap langkahnya.

Suasana penuh semangat terlihat jelas di arena kegiatan. Ratusan kader HIPMI dari berbagai daerah hadir memberikan dukungan, menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh solidaritas. Sorakan dukungan, gesture kebersamaan, hingga kekompakan lintas wilayah menunjukkan bahwa dukungan terhadap Ade Jona tumbuh secara organik dan kuat dari daerah.

Di tengah energi besar tersebut, Ade Jona tetap tampil dengan karakter kepemimpinan yang tenang, rendah hati, dan merangkul.

Dalam sambutannya usai menerima nomor urut 2, Ade Jona menyampaikan pesan yang menekankan pentingnya kebersamaan dalam membangun HIPMI ke depan.

“Nomor 2 ini bukan sekadar angka. Ini adalah simbol bahwa kita berjalan beriringan. JONA untuk Semua. Mari bersatu, dengan energi baru untuk HIPMI selamanya Kita maju bersama,” ujar Ade Jona.

Ia juga menegaskan bahwa kontestasi ini bukan soal kompetisi pribadi, melainkan momentum untuk memperkuat fondasi organisasi secara nasional.

“HIPMI adalah rumah besar kita semua. Dari Sabang sampai Merauke, setiap BPD punya peran penting. Saya ingin memastikan bahwa semua daerah merasa memiliki, merasa didengar, dan menjadi bagian dari perjalanan besar ini,” lanjutnya.

Pendekatan kepemimpinan yang inklusif dan berbasis daerah ini menjadi salah satu kekuatan utama Ade Jona. Ia tidak hanya mengedepankan visi nasional, tetapi juga membangun kedekatan dengan akar organisasi di tingkat daerah.

Sejumlah pengurus BPD yang hadir menyampaikan bahwa sosok Ade Jona dinilai mampu menjadi jembatan antara pusat dan daerah, serta menghadirkan kepemimpinan yang kolaboratif, bukan eksklusif.

Momentum pengundian nomor urut ini sekaligus menjadi titik penguatan posisi Ade Jona sebagai salah satu kandidat dengan dukungan luas dan solid. Kombinasi antara energi pendukung, pendekatan komunikasi yang merangkul, serta simbolisme nomor urut 2 semakin mempertegas positioning-nya sebagai figur pemersatu dalam tubuh HIPMI.

Dengan semangat Persahabatan dan persahabatan untuk selamanya” yang terus digaungkan, Ade Jona Prasetyo dinilai siap membawa HIPMI menuju fase baru yang lebih inklusif, solid, dan berdampak bagi pengusaha muda Indonesia secara nasional.(*)

Panen Perdana Metode Ankansas, Polbangtan Kementan Catat Produktivitas

TANIINDONESIA.COM, Bantul – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan Yoma) melaksanakan panen perdana padi menggunakan metode Ankansas di Teaching Factory (Tefa) Perbenihan Kebun Banyakan, Kecamatan Piyungan, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Panen ini merupakan bagian dari penerapan inovasi budidaya padi metode Ankansas pada lahan seluas 1.000 meter persegi dengan varietas unggul Inpari 32. Hasilnya menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi, mencapai 6,4 ton per hektare.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan pentingnya inovasi budidaya dalam meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

“Peningkatan produksi pangan harus didukung oleh teknologi yang tepat serta SDM pertanian yang unggul. Langkah Polbangtan Yoma ini merupakan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa penguatan pendidikan vokasi berbasis praktik menjadi kunci dalam meningkatkan produksi pangan nasional.

“Kami mendorong seluruh unit pendidikan untuk terus mengembangkan inovasi dan memperkuat Teaching Factory guna menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja,” tegasnya.

Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan, menjelaskan bahwa metode Ankansas menjadi salah satu pendekatan inovatif untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi.

Baca Juga: Penguatan Pembelajaran Terintegrasi, Polbangtan Kementan Gelar Kunjungan Akademik

“Panen perdana ini membuktikan bahwa penerapan teknologi dan metode budidaya yang tepat mampu meningkatkan hasil produksi sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa,” ujarnya.

Kepala Pusat Pendidikan BPPSDMP Kementerian Pertanian, Muhammad Amin, turut mengapresiasi implementasi Teaching Factory yang dilakukan Polbangtan Yoma. Menurutnya, model pembelajaran ini efektif dalam mengintegrasikan teori dan praktik secara langsung di lapangan.

“Kegiatan ini penting dalam mencetak SDM pertanian yang adaptif terhadap inovasi dan siap menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan,” ungkapnya.

Panen perdana ini diharapkan menjadi contoh bagi pengembangan budidaya padi di berbagai daerah, sekaligus memperkuat sinergi antara pendidikan vokasi dan penerapan teknologi pertanian di lapangan.(*)

Kunjungi BRMP Padi, Mahasiswa Politeknik Enjiniring Kementan Perdalam Teknologi dan Mekanisasi Pertanian

TANIINDONESIA.COM, Tangerang — Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) melaksanakan kunjungan pembelajaran ke Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi) Selasa (21/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan wawasan praktis mahasiswa di bidang pertanian modern.

Kunjungan ini bertujuan memberikan pemahaman langsung terkait penerapan teknologi mekanisasi pertanian serta pemanfaatan sarana dan prasarana yang terus berkembang. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik di lapangan.

Rombongan PEPI terdiri dari 39 mahasiswa yang didampingi oleh 7 dosen, 4 Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP), serta 2 tenaga kependidikan. Selama kunjungan, peserta berkesempatan melihat secara langsung berbagai inovasi dan teknologi yang diterapkan di BRMP Padi.

Pihak BRMP Padi menyambut baik kunjungan tersebut. Kegiatan berlangsung dengan antusias, ditandai dengan diskusi aktif antara mahasiswa dan pihak balai terkait mekanisasi pertanian, mulai dari proses perakitan alat hingga modernisasi sistem budidaya padi.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Generasi muda pertanian diharapkan mampu menguasai mekanisasi dan inovasi guna meningkatkan produktivitas serta efisiensi sektor pertanian nasional.

Baca Juga: Gelar Bimtek Traktor Roda Empat, Kementan Cetak Petani Adaptif Teknologi Modern

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas mahasiswa melalui pembelajaran lapangan menjadi kunci dalam mencetak SDM pertanian yang profesional, kompeten, dan siap menghadapi tantangan pertanian modern.

Hal serupa disampaikan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Mohammad Amin, yang menegaskan bahwa pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dan siap terjun ke dunia kerja.

Direktur PEPI, Harmanto, menambahkan bahwa kunjungan ini merupakan bagian penting dari pembelajaran berbasis praktik. Ia berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam pemahaman teknologi mekanisasi pertanian serta meningkatkan kompetensi sebagai calon tenaga profesional.

Para dosen pendamping juga berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi kunjungan, tetapi mampu memberikan pengalaman belajar yang mendalam. Mahasiswa diharapkan dapat menyerap ilmu secara maksimal, meningkatkan keterampilan teknis, serta menumbuhkan sikap inovatif dalam pengembangan teknologi pertanian.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa PEPI diharapkan memiliki wawasan yang lebih luas serta kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi tantangan sektor pertanian modern, khususnya dalam pengembangan teknologi mekanisasi pertanian di Indonesia.(*)

Penguatan Pembelajaran Terintegrasi, Polbangtan Kementan Gelar Kunjungan Akademik

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta — Sebanyak 149 mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang melakukan kunjungan akademik ke Polbangtan Yogyakarta-Magelang (Yoma), Selasa (21/4/2026), guna memperkuat pembelajaran berbasis praktik di sektor pertanian.

Kunjungan ini merupakan bagian dari pembelajaran terintegrasi Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 bagi mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan tingkat I dan II.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa peran generasi muda sangat menentukan percepatan pembangunan sektor pertanian nasional.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyebut pendidikan vokasi menjadi ujung tombak dalam mencetak SDM pertanian yang adaptif dan siap kerja.

“Kolaborasi antarkampus vokasi akan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sekaligus memperkuat kesiapan mereka menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan,” ujarnya.

Dalam kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam diskusi dan pengamatan praktik pembelajaran di lingkungan kampus.

Baca Juga: Perkuat Mutu Pendidikan Vokasi, Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Kementan Jalani Asesmen BAN-PT

Materi yang dipelajari mencakup kelembagaan petani, komunikasi penyuluhan, hingga teknologi produksi dan agribisnis berkelanjutan. Selain itu, mahasiswa juga mendalami aspek manajemen SDM, evaluasi penyuluhan, serta teknologi pemupukan ramah lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Kampus Polbangtan Yoma Yogyakarta ini dibuka oleh Wakil Direktur I, Dr. Endah Puspitojati, dan dihadiri perwakilan Polbangtan Malang, Dr. Budi Sawitri.

Salah satu agenda utama adalah pemaparan program Juru Tani yang menjadi inovasi dalam penguatan pendidikan vokasi pertanian. Mahasiswa juga mengikuti diskusi interaktif terkait pengembangan laboratorium dan Teaching Factory (TEFA).

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata, kunjungan ke fasilitas kampus, serta observasi langsung ke area praktik.

Melalui kegiatan ini, sinergi antar Polbangtan diharapkan semakin kuat dalam mencetak generasi muda pertanian yang kompeten, adaptif, dan siap mendorong kemajuan sektor pertanian nasional.(*)

Gelar Bimtek Traktor Roda Empat, Kementan Cetak Petani Adaptif Teknologi Modern

TANIINDONESIA.COM, Tangerang — Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) Traktor Roda Empat. Kegiatan ini diikuti oleh tujuh petani muda dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Bogor dan berlangsung selama lima hari, 20–24 April 2026.

Bimtek ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam mendorong modernisasi pertanian melalui peningkatan kapasitas teknis generasi muda. Peserta memperoleh pembekalan komprehensif, mulai dari pengenalan komponen traktor roda empat, prosedur pengoperasian yang aman dan tepat, teknik perawatan berkala, hingga penanganan gangguan (troubleshooting) di lapangan.

Tidak hanya teori, pelatihan ini juga dilengkapi dengan praktik langsung. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta memahami penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara aplikatif, sekaligus meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri dalam mengoperasikannya secara mandiri dan efisien.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa penguatan kapasitas petani, khususnya generasi muda menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pertanian modern. Penguasaan teknologi dan mekanisasi dinilai sebagai faktor utama untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Baca Juga: Tingkatkan Kapasitas, Kelompok Tani Bogor Studi Lapang di Politeknik Enjiniring Kementan

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti. Ia menekankan pentingnya pelatihan yang berkelanjutan dan terarah sebagai sarana mencetak petani yang terampil sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Mohammad Amin, menyoroti pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan dan pemerintah daerah dalam mempercepat transfer teknologi kepada petani. Menurutnya, pelatihan seperti ini mampu membentuk pola pikir petani yang lebih inovatif dan berorientasi pada kemajuan.

Direktur PEPI, Harmanto, berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga melahirkan petani muda yang menjadi motor penggerak modernisasi pertanian di daerah. Ia menegaskan bahwa peserta diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh serta menjadi agen perubahan dalam mendorong pertanian yang maju, efisien, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan alsintan untuk meningkatkan produktivitas usaha tani. Lebih jauh, bimtek ini diharapkan turut memperkuat regenerasi petani serta meningkatkan kesejahteraan petani, khususnya di Kabupaten Bogor dan sekitarnya.(*)

Perkuat Mutu Pendidikan Vokasi, Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Kementan Jalani Asesmen BAN-PT

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan YOMA) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi pertanian melalui pelaksanaan asesmen lapangan akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Senin (20/4/2026).

Kegiatan asesmen ini difokuskan pada Program Studi Agribisnis Hortikultura Program Diploma IV sebagai bagian dari proses penjaminan mutu pendidikan tinggi yang berkelanjutan dan berbasis outcome.

Hadir sebagai tim asesor, Prof. Dr. Ir. Reny Herawati, M.P. dari Universitas Bengkulu dan Dr. Yulmira Yanti, S.Si., M.P. dari Universitas Andalas. Keduanya melakukan penilaian menyeluruh melalui verifikasi dokumen, wawancara dengan sivitas akademika, serta observasi langsung terhadap sarana prasarana dan proses pembelajaran.

Direktur Polbangtan YOMA, R. Hermawan, menyampaikan bahwa asesmen lapangan merupakan momentum strategis untuk mengukur capaian kinerja program studi sekaligus memperkuat langkah perbaikan berkelanjutan.

“Proses ini menjadi refleksi bagi kami dalam memastikan kualitas penyelenggaraan pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Kami juga terus mendorong penguatan kurikulum berbasis kompetensi, peningkatan kapasitas SDM, serta perluasan jejaring kemitraan,” ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa akreditasi bukan sekadar pemenuhan standar administratif, tetapi bagian dari transformasi pendidikan vokasi agar mampu mencetak SDM pertanian yang adaptif dan berdaya saing global.

“BPPSDMP berkomitmen mendorong kelembagaan pendidikan vokasi pertanian agar semakin responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan sektor pertanian modern,” jelasnya.

Dukungan juga disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menekankan pentingnya peran strategis perguruan tinggi vokasi dalam mencetak generasi muda pertanian yang unggul dan inovatif.

Baca Juga: Gelar Sharing Session, Kementan Buka Strategi Publikasi Bereputasi dan Riset Strategis

“Pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan serta mampu menjawab tantangan global,” tegasnya.

Pada sesi penutupan, tim asesor menyampaikan sejumlah catatan dan rekomendasi strategis. Secara umum, visi, misi, tujuan, dan sasaran (VMTS) program studi dinilai telah selaras dengan arah pengembangan institusi. Namun, penguatan perlu difokuskan pada pencapaian berbasis outcome dengan implementasi siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) yang lebih terukur.

Selain itu, asesor mendorong peningkatan kualitas kerja sama melalui riset kolaboratif, penguatan sistem monitoring dan evaluasi berbasis digital, serta pengembangan jejaring internasional guna meningkatkan kompetensi global mahasiswa.

Peningkatan kualitas SDM dosen juga menjadi perhatian, khususnya dalam mendorong kenaikan jabatan akademik hingga Lektor Kepala yang didukung publikasi ilmiah bereputasi. Di sisi lain, optimalisasi teaching factory berbasis digital serta penguatan kolaborasi riset dengan berbagai pihak, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dinilai penting untuk mendukung inovasi berkelanjutan.

Asesor juga menekankan penguatan tracer study berbasis digital serta peningkatan jumlah lulusan yang berwirausaha, khususnya di bidang perbenihan dan biofarmaka.

Melalui asesmen ini, Polbangtan YOMA diharapkan mampu memperkuat sistem penjaminan mutu internal serta meningkatkan daya saing Program Studi Agribisnis Hortikultura dalam mencetak SDM pertanian yang profesional, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.(*)