23 April 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

Panen Perdana Metode Ankansas, Polbangtan Kementan Catat Produktivitas

TANIINDONESIA.COM, Bantul – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan Yoma) melaksanakan panen perdana padi menggunakan metode Ankansas di Teaching Factory (Tefa) Perbenihan Kebun Banyakan, Kecamatan Piyungan, Bantul, Selasa (21/4/2026).

Panen ini merupakan bagian dari penerapan inovasi budidaya padi metode Ankansas pada lahan seluas 1.000 meter persegi dengan varietas unggul Inpari 32. Hasilnya menunjukkan produktivitas yang cukup tinggi, mencapai 6,4 ton per hektare.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan pentingnya inovasi budidaya dalam meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

“Peningkatan produksi pangan harus didukung oleh teknologi yang tepat serta SDM pertanian yang unggul. Langkah Polbangtan Yoma ini merupakan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa penguatan pendidikan vokasi berbasis praktik menjadi kunci dalam meningkatkan produksi pangan nasional.

“Kami mendorong seluruh unit pendidikan untuk terus mengembangkan inovasi dan memperkuat Teaching Factory guna menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap kerja,” tegasnya.

Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan, menjelaskan bahwa metode Ankansas menjadi salah satu pendekatan inovatif untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi.

Baca Juga: Penguatan Pembelajaran Terintegrasi, Polbangtan Kementan Gelar Kunjungan Akademik

“Panen perdana ini membuktikan bahwa penerapan teknologi dan metode budidaya yang tepat mampu meningkatkan hasil produksi sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa,” ujarnya.

Kepala Pusat Pendidikan BPPSDMP Kementerian Pertanian, Muhammad Amin, turut mengapresiasi implementasi Teaching Factory yang dilakukan Polbangtan Yoma. Menurutnya, model pembelajaran ini efektif dalam mengintegrasikan teori dan praktik secara langsung di lapangan.

“Kegiatan ini penting dalam mencetak SDM pertanian yang adaptif terhadap inovasi dan siap menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan,” ungkapnya.

Panen perdana ini diharapkan menjadi contoh bagi pengembangan budidaya padi di berbagai daerah, sekaligus memperkuat sinergi antara pendidikan vokasi dan penerapan teknologi pertanian di lapangan.(*)

Kunjungi BRMP Padi, Mahasiswa Politeknik Enjiniring Kementan Perdalam Teknologi dan Mekanisasi Pertanian

TANIINDONESIA.COM, Tangerang — Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) melaksanakan kunjungan pembelajaran ke Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi (BRMP Padi) Selasa (21/04/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan wawasan praktis mahasiswa di bidang pertanian modern.

Kunjungan ini bertujuan memberikan pemahaman langsung terkait penerapan teknologi mekanisasi pertanian serta pemanfaatan sarana dan prasarana yang terus berkembang. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik di lapangan.

Rombongan PEPI terdiri dari 39 mahasiswa yang didampingi oleh 7 dosen, 4 Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP), serta 2 tenaga kependidikan. Selama kunjungan, peserta berkesempatan melihat secara langsung berbagai inovasi dan teknologi yang diterapkan di BRMP Padi.

Pihak BRMP Padi menyambut baik kunjungan tersebut. Kegiatan berlangsung dengan antusias, ditandai dengan diskusi aktif antara mahasiswa dan pihak balai terkait mekanisasi pertanian, mulai dari proses perakitan alat hingga modernisasi sistem budidaya padi.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Generasi muda pertanian diharapkan mampu menguasai mekanisasi dan inovasi guna meningkatkan produktivitas serta efisiensi sektor pertanian nasional.

Baca Juga: Gelar Bimtek Traktor Roda Empat, Kementan Cetak Petani Adaptif Teknologi Modern

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas mahasiswa melalui pembelajaran lapangan menjadi kunci dalam mencetak SDM pertanian yang profesional, kompeten, dan siap menghadapi tantangan pertanian modern.

Hal serupa disampaikan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Mohammad Amin, yang menegaskan bahwa pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis dan siap terjun ke dunia kerja.

Direktur PEPI, Harmanto, menambahkan bahwa kunjungan ini merupakan bagian penting dari pembelajaran berbasis praktik. Ia berharap mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam pemahaman teknologi mekanisasi pertanian serta meningkatkan kompetensi sebagai calon tenaga profesional.

Para dosen pendamping juga berharap kegiatan ini tidak sekadar menjadi kunjungan, tetapi mampu memberikan pengalaman belajar yang mendalam. Mahasiswa diharapkan dapat menyerap ilmu secara maksimal, meningkatkan keterampilan teknis, serta menumbuhkan sikap inovatif dalam pengembangan teknologi pertanian.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa PEPI diharapkan memiliki wawasan yang lebih luas serta kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi tantangan sektor pertanian modern, khususnya dalam pengembangan teknologi mekanisasi pertanian di Indonesia.(*)

Penguatan Pembelajaran Terintegrasi, Polbangtan Kementan Gelar Kunjungan Akademik

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta — Sebanyak 149 mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang melakukan kunjungan akademik ke Polbangtan Yogyakarta-Magelang (Yoma), Selasa (21/4/2026), guna memperkuat pembelajaran berbasis praktik di sektor pertanian.

Kunjungan ini merupakan bagian dari pembelajaran terintegrasi Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 bagi mahasiswa Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan tingkat I dan II.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa peran generasi muda sangat menentukan percepatan pembangunan sektor pertanian nasional.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyebut pendidikan vokasi menjadi ujung tombak dalam mencetak SDM pertanian yang adaptif dan siap kerja.

“Kolaborasi antarkampus vokasi akan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa, sekaligus memperkuat kesiapan mereka menghadapi tantangan sektor pertanian ke depan,” ujarnya.

Dalam kunjungan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi di dalam kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam diskusi dan pengamatan praktik pembelajaran di lingkungan kampus.

Baca Juga: Perkuat Mutu Pendidikan Vokasi, Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Kementan Jalani Asesmen BAN-PT

Materi yang dipelajari mencakup kelembagaan petani, komunikasi penyuluhan, hingga teknologi produksi dan agribisnis berkelanjutan. Selain itu, mahasiswa juga mendalami aspek manajemen SDM, evaluasi penyuluhan, serta teknologi pemupukan ramah lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung di Kampus Polbangtan Yoma Yogyakarta ini dibuka oleh Wakil Direktur I, Dr. Endah Puspitojati, dan dihadiri perwakilan Polbangtan Malang, Dr. Budi Sawitri.

Salah satu agenda utama adalah pemaparan program Juru Tani yang menjadi inovasi dalam penguatan pendidikan vokasi pertanian. Mahasiswa juga mengikuti diskusi interaktif terkait pengembangan laboratorium dan Teaching Factory (TEFA).

Kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata, kunjungan ke fasilitas kampus, serta observasi langsung ke area praktik.

Melalui kegiatan ini, sinergi antar Polbangtan diharapkan semakin kuat dalam mencetak generasi muda pertanian yang kompeten, adaptif, dan siap mendorong kemajuan sektor pertanian nasional.(*)

Gelar Bimtek Traktor Roda Empat, Kementan Cetak Petani Adaptif Teknologi Modern

TANIINDONESIA.COM, Tangerang — Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sumber daya manusia (SDM) sektor pertanian melalui penyelenggaraan Bimbingan Teknis (Bimtek) Traktor Roda Empat. Kegiatan ini diikuti oleh tujuh petani muda dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Bogor dan berlangsung selama lima hari, 20–24 April 2026.

Bimtek ini menjadi bagian dari upaya strategis dalam mendorong modernisasi pertanian melalui peningkatan kapasitas teknis generasi muda. Peserta memperoleh pembekalan komprehensif, mulai dari pengenalan komponen traktor roda empat, prosedur pengoperasian yang aman dan tepat, teknik perawatan berkala, hingga penanganan gangguan (troubleshooting) di lapangan.

Tidak hanya teori, pelatihan ini juga dilengkapi dengan praktik langsung. Pendekatan tersebut memungkinkan peserta memahami penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) secara aplikatif, sekaligus meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri dalam mengoperasikannya secara mandiri dan efisien.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa penguatan kapasitas petani, khususnya generasi muda menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pertanian modern. Penguasaan teknologi dan mekanisasi dinilai sebagai faktor utama untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Baca Juga: Tingkatkan Kapasitas, Kelompok Tani Bogor Studi Lapang di Politeknik Enjiniring Kementan

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti. Ia menekankan pentingnya pelatihan yang berkelanjutan dan terarah sebagai sarana mencetak petani yang terampil sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Mohammad Amin, menyoroti pentingnya sinergi antara lembaga pendidikan dan pemerintah daerah dalam mempercepat transfer teknologi kepada petani. Menurutnya, pelatihan seperti ini mampu membentuk pola pikir petani yang lebih inovatif dan berorientasi pada kemajuan.

Direktur PEPI, Harmanto, berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga melahirkan petani muda yang menjadi motor penggerak modernisasi pertanian di daerah. Ia menegaskan bahwa peserta diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh serta menjadi agen perubahan dalam mendorong pertanian yang maju, efisien, dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan alsintan untuk meningkatkan produktivitas usaha tani. Lebih jauh, bimtek ini diharapkan turut memperkuat regenerasi petani serta meningkatkan kesejahteraan petani, khususnya di Kabupaten Bogor dan sekitarnya.(*)

Perkuat Mutu Pendidikan Vokasi, Prodi Agribisnis Hortikultura Polbangtan Kementan Jalani Asesmen BAN-PT

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta – Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan YOMA) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi pertanian melalui pelaksanaan asesmen lapangan akreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Senin (20/4/2026).

Kegiatan asesmen ini difokuskan pada Program Studi Agribisnis Hortikultura Program Diploma IV sebagai bagian dari proses penjaminan mutu pendidikan tinggi yang berkelanjutan dan berbasis outcome.

Hadir sebagai tim asesor, Prof. Dr. Ir. Reny Herawati, M.P. dari Universitas Bengkulu dan Dr. Yulmira Yanti, S.Si., M.P. dari Universitas Andalas. Keduanya melakukan penilaian menyeluruh melalui verifikasi dokumen, wawancara dengan sivitas akademika, serta observasi langsung terhadap sarana prasarana dan proses pembelajaran.

Direktur Polbangtan YOMA, R. Hermawan, menyampaikan bahwa asesmen lapangan merupakan momentum strategis untuk mengukur capaian kinerja program studi sekaligus memperkuat langkah perbaikan berkelanjutan.

“Proses ini menjadi refleksi bagi kami dalam memastikan kualitas penyelenggaraan pendidikan tetap relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Kami juga terus mendorong penguatan kurikulum berbasis kompetensi, peningkatan kapasitas SDM, serta perluasan jejaring kemitraan,” ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa akreditasi bukan sekadar pemenuhan standar administratif, tetapi bagian dari transformasi pendidikan vokasi agar mampu mencetak SDM pertanian yang adaptif dan berdaya saing global.

“BPPSDMP berkomitmen mendorong kelembagaan pendidikan vokasi pertanian agar semakin responsif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan sektor pertanian modern,” jelasnya.

Dukungan juga disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menekankan pentingnya peran strategis perguruan tinggi vokasi dalam mencetak generasi muda pertanian yang unggul dan inovatif.

Baca Juga: Gelar Sharing Session, Kementan Buka Strategi Publikasi Bereputasi dan Riset Strategis

“Pendidikan vokasi harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki jiwa kewirausahaan serta mampu menjawab tantangan global,” tegasnya.

Pada sesi penutupan, tim asesor menyampaikan sejumlah catatan dan rekomendasi strategis. Secara umum, visi, misi, tujuan, dan sasaran (VMTS) program studi dinilai telah selaras dengan arah pengembangan institusi. Namun, penguatan perlu difokuskan pada pencapaian berbasis outcome dengan implementasi siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) yang lebih terukur.

Selain itu, asesor mendorong peningkatan kualitas kerja sama melalui riset kolaboratif, penguatan sistem monitoring dan evaluasi berbasis digital, serta pengembangan jejaring internasional guna meningkatkan kompetensi global mahasiswa.

Peningkatan kualitas SDM dosen juga menjadi perhatian, khususnya dalam mendorong kenaikan jabatan akademik hingga Lektor Kepala yang didukung publikasi ilmiah bereputasi. Di sisi lain, optimalisasi teaching factory berbasis digital serta penguatan kolaborasi riset dengan berbagai pihak, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dinilai penting untuk mendukung inovasi berkelanjutan.

Asesor juga menekankan penguatan tracer study berbasis digital serta peningkatan jumlah lulusan yang berwirausaha, khususnya di bidang perbenihan dan biofarmaka.

Melalui asesmen ini, Polbangtan YOMA diharapkan mampu memperkuat sistem penjaminan mutu internal serta meningkatkan daya saing Program Studi Agribisnis Hortikultura dalam mencetak SDM pertanian yang profesional, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.(*)

Tingkatkan Kapasitas, Kelompok Tani Bogor Studi Lapang di Politeknik Enjiniring Kementan

TANIINDONESIA.COM, Tangerang – Dalam upaya mempercepat transformasi sektor pertanian menuju era modern, Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) menggelar kuliah lapang bagi kelompok tani dari Kabupaten Bogor, Rabu (15/04/2026).

Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatif strategis untuk meningkatkan kapasitas petani melalui pendidikan vokasi berbasis praktik yang terintegrasi dengan teknologi pertanian terbaru.

Program ini tidak hanya memperkenalkan teknologi baru, tetapi juga memberi pemahaman penerapannya dalam usaha tani sehari-hari. Peserta memperoleh gambaran lebih komprehensif tentang mekanisasi pertanian modern, mulai dari penggunaan alat mesin pertanian yang efisien hingga metode pengolahan lahan yang ramah lingkungan dan produktif.

Pelaksanaan diawali dengan sesi penyuluhan oleh dosen dan tenaga pengajar PEPI terkait inovasi teknologi pertanian, termasuk penggunaan alat dan mesin modern. Salah satu topik utama adalah sistem irigasi otomatis untuk efisiensi air, serta pemanfaatan drone untuk pemantauan dan pemetaan lahan. Peserta juga mengikuti praktik langsung agar dapat merasakan manfaat teknologi tersebut.

Di lapangan, petani diberi kesempatan mengoperasikan mesin pertanian modern seperti traktor dan alat panen otomatis yang belum banyak digunakan di daerah mereka. Pengalaman ini diharapkan mempermudah adopsi teknologi, sehingga mampu meningkatkan hasil panen dan menekan biaya operasional.

Kegiatan ini sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menekankan pentingnya pendidikan dalam mendorong transformasi pertanian melalui modernisasi.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa penguatan pendidikan vokasi berbasis praktik menjadi kunci mencetak SDM pertanian yang kompeten dan adaptif terhadap teknologi.

Baca Juga: Akademisi dan Mahasiswa: Swasembada Pangan Bukan Isapan Jempol Belaka

“Pendidikan vokasi berbasis praktik memberikan keterampilan nyata yang bisa langsung diterapkan di lapangan. Kami berharap petani tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menggunakan teknologi secara efisien,” ujar Idha.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Mohammad Amin, menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan dan petani dalam meningkatkan produktivitas.

“Kolaborasi yang erat menjadi kunci percepatan adopsi teknologi untuk efisiensi dan keberlanjutan usaha tani,” katanya.

Direktur PEPI, Harmanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen PEPI dalam memperkuat kapasitas petani menghadapi tantangan pertanian yang semakin kompleks.

“Kami menghadirkan pelatihan berbasis praktik agar teknologi yang dikembangkan di kampus bisa langsung dimanfaatkan di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan kelompok tani penting dalam percepatan modernisasi. Kelompok tani diharapkan tidak hanya menjadi wadah kerja sama, tetapi juga pusat inovasi yang mendorong adopsi teknologi.

“Kelompok tani yang solid akan menjadi motor penggerak perubahan dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di lapangan. Program ini tidak hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendorong pertanian yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Peserta juga akan dilibatkan dalam pemantauan hasil penerapan teknologi, dengan fokus pada efisiensi biaya, peningkatan kualitas hasil, dan keberlanjutan lingkungan. Diharapkan, mereka dapat menjadi agen perubahan di daerah masing-masing serta mendorong peningkatan kesejahteraan petani.(*)

Akademisi dan Mahasiswa: Swasembada Pangan Bukan Isapan Jempol Belaka

TANIINDONESIA.COM, Sidoarjo -- Upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan nasional mendapat apresiasi luas dari kalangan akademisi hingga mahasiswa. Hal ini mencuat setelah kunjungan langsung ke gudang Perum Bulog Sidoarjo bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman yang memperlihatkan kondisi stok beras nasional yang melimpah serta aktivitas penyerapan gabah petani yang berjalan masif.

Ketua Pusat Studi SDGs Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Nuning Roadiah, menyampaikan bahwa temuan di lapangan memperkuat optimisme terhadap keberhasilan program swasembada pangan yang tengah dijalankan pemerintah, khususnya oleh Kementerian Pertanian bersama Bulog.

“Berdasarkan pengamatan kami, setelah kami diajak masuk ke gudang Bulog. Kami sangat mengapresiasi kinerja Kementerian Pertanian dan juga Bulog, yang ternyata, kami tahu persis di gudang Bulog sekarang penuh dan optimisme kami sebagai masyarakat dan sebagai akademisi, bahwa program swasembada pangan ini benar-benar terwujud,” ujarnya, Minggu (19/4/2026).

Ia menuturkan, dinamika di gudang Bulog menunjukkan sistem logistik pangan yang hidup dan bergerak aktif. Aktivitas antrean truk pengangkut beras menjadi bukti nyata tingginya intensitas penyerapan hasil panen petani.

“Kami sudah melihat bagaimana gudang Bulog itu sekarang, terus hidup, terus bergerak. Banyak sekali tadi yang kami lihat antrean-antrean truk, yang kemudian akan memasukkan beras ke gudang Bulog,” tambahnya.

Lebih lanjut, Nuning menilai bahwa dampak dari program swasembada pangan tidak hanya terlihat pada ketersediaan stok, tetapi juga pada kesejahteraan petani yang mengalami peningkatan melalui harga gabah yang lebih baik.

“Dampak swasembada pangan ini tentunya, program-program yang lain, yang bersinergi dengan bagaimana menyerap gabah petani dan lain sebagainya, ini menjadi dampak yang positif bagi masyarakat. Kenapa? Khususnya petani, hari ini mendapat harga gabah yang jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya,” jelasnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi atas peran pemerintah dalam memberikan rasa aman dan jaminan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

“Kami atas nama akademisi dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, Kementerian Pertanian dan Bulog, yang telah memberikan semacam kenyamanan, semacam garansi, bagi masyarakat bahwa kita benar-benar swasembada pangan,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, Muhammad Siril Aufa, menilai swasembada pangan bukan sekadar program, melainkan sebuah nilai perjuangan kolektif bangsa.

“Swasembada pangan ini merupakan sebuah indikator pencapaian yang menggambarkan bahwa negara Indonesia bisa mencapai sebuah kedaulatan pangan mandiri. Swasembada pangan merupakan sebuah nilai juang. Bukan cuma sebuah program atau sebuah capaian, tapi sebuah nilai juang. Tidak hanya bagi petani, tapi bagi kami mahasiswa, agar bisa ikut mendedikasikan diri kami agar tercapainya swasembada pangan,” ujarnya.

Baca Juga: Mentan Amran Bersama Mahasiswa, Guru Besar, dan Pakar Pertanian Tinjau Gudang Bulog Jawa Timur: Hasilnya Luar Biasa!

Menurutnya, capaian stok beras nasional yang tinggi menjadi bukti konkret keberhasilan kerja keras Kementerian Pertanian bersama para petani.

“Ternyata kalau melihat capaian dari seorang Menteri, bahasanya stoknya sangat memuaskan sekali. Itu merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa dari Kementerian Pertanian. Melihat stok yang sebanyak ini bisa dilihat juga oleh seluruh teman-teman mahasiswa tadi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja kolektif yang harus terus dijaga melalui kolaborasi lintas sektor.

“Ini merupakan capaian dari Kementerian Pertanian, serta seluruh petani tanaman pangan yang ada di Indonesia. Kolaborasi dan sinergi ini harus kita tetap jaga, sehingga swasembada pangan tidak hanya berhenti di tahun ini, tapi juga berkelanjutan,” tegasnya.

Sementara itu, mahasiswa Polbangtan Malang, Danang Pramudya, menekankan peran aktif generasi muda dalam mendukung program swasembada pangan melalui keterlibatan langsung di lapangan sebagai bagian dari brigade pangan.

“Alhamdulillah kami mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian se-Indonesia telah ditugaskan ke beberapa titik swasembada pangan, yaitu sebagai brigade pangan atau petani milenial, di mana mahasiswa ini menjadi pendamping petani dalam swasembada pangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa telah diterjunkan ke berbagai wilayah strategis, termasuk Sumatera dan Kalimantan Tengah, untuk memperkuat implementasi program di lapangan.

“Contohnya kemarin sudah di Sumatera Selatan, dan juga yang saat ini insya Allah akan diberangkatkan ke Kalimantan Tengah untuk membantu program swasembada pangan,” jelasnya.

Danang berharap keterlibatan mahasiswa dapat menjadi bagian penting dalam keberlanjutan program swasembada pangan nasional.

“Harapannya semoga kami sebagai mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian yang dinaungi langsung oleh Kementerian Pertanian ini dapat turut serta sebagai generasi muda yang tentunya mensukseskan program swasembada pangan dari Kementerian Pertanian,” tutupnya.

Kunjungan ini semakin mempertegas bahwa sinergi antara pemerintah, akademisi, dan generasi muda menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan pangan nasional secara berkelanjutan.(*)

Mentan Amran Bersama Mahasiswa, Guru Besar, dan Pakar Pertanian Tinjau Gudang Bulog Jawa Timur: Hasilnya Luar Biasa!

TANIINDONESIA.COM, Sidoarjo -- Cadangan beras pemerintah (CBP) nasional saat ini tercatat mencapai 4,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur menjadi salah satu kontributor terbesar dengan stok sekitar 1,2 juta ton. Di gudang Bulog wilayah Sidoarjo, kapasitas penyimpanan bahkan terlihat penuh hingga harus ditopang dengan penambahan gudang sewaan.

Sehari sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang Bulog di Magelang, Jawa Tengah, untuk memastikan langsung ketersediaan stok beras nasional. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi riil di lapangan.

Dalam peninjauan Presiden, rombongan melihat langsung gudang dengan kapasitas 7.000 ton yang terisi penuh. Temuan tersebut memperkuat keyakinan pemerintah bahwa stok beras nasional dalam kondisi aman

Capaian ini ditopang oleh kinerja produksi yang meningkat signifikan. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen. Dengan total kekuatan stok beras nasional kini termasuk yang berada di masyarakat dan potensi panen, diperkirakan mencapai sekitar 28 juta ton, setara dengan ketahanan pangan hingga 11 bulan ke depan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak para mahasiswa, guru besar, dan pakar pertanian di Jawa Timur untuk mengecek langsung gudang Bulog di Sidoarjo, Minggu (19/4/2026). Ia menegaskan bahwa stok beras yang melimpah saat ini merupakan capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mentan ingin seluruh elemen masyarakat dapat langsung melihat dan memastikan bahwa stok beras kita melimpah dan aman.

Di sela peninjauan, Koordinator Umum Aliansi BEM Delta Sidoarjo, Sultan Saladin Batubara, mengapresiasi capaian tersebut sekaligus menyampaikan pandangan dari sisi mahasiswa.

“Perhari ini kita tahu secara nasional, ini ada 4,9 juta ton, di bawah kepemimpinan Mentan. Dan menurut saya pribadi, ketika Jawa Timur 1,2 juta ton, ini berarti penyumbang beras terbanyak,” kata Sultan.

Kepada mahasiswa yang ikut mengecek gudang Bulog, Mentan Amran meminta mahasiswa melihat langsung kondisi riil di lapangan.

“Banyak enggak beras ini? Selama Republik Indonesia merdeka, baru sekarang begini ya? Tidak pernah terjadi kan?” ujar Mentan Amran.

Mahasiswa pun menjawab serempak, “tidak pernah terjadi.”

Mentan Amran menegaskan capaian tersebut terjadi di pemerintahan saat ini, sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pengawasan distribusi.

Baca Juga: Drone Ambil Alih Penyemprotan! Mahasiswa Politeknik Enjinering Kementan Ikut Terjun di Lahan CSR

“Nah, sekarang distribusi tolong bantu kolaborasi. Yang penting dulu Anda lihat, cek seluruh gudang Indonesia dimanapun berada, silahkan mahasiswa, LSM, silahkan cek. Jangan kita beropini yang tidak benar,” katanya.

Menanggapi tawaran Mentan Amran, Sultan bersama mahasiswa lainnya menyatakan siap untuk ikut terjun dalam proses distribusi.

“kami sebagai mahasiswa siap menjadi mitra, pemerintah untuk mengawal pendistribusiannya langsung di lapangan.”

Mentan Amran juga menyinggung adanya pihak yang tidak menginginkan Indonesia berdaulat pangan.

“Tahu enggak? Memang ada orang tertentu tidak bahagia swasembada. Aku tanya mahasiswa, kira-kira siapa yang tidak bahagia kalau berdaulat pangan?”

Mahasiswa spontan menjawab, “Mafia, mafia beras, importir.”

Mentan Amran pun mengajak mahasiswa untuk bersikap tegas terhadap praktik tersebut.

“Jadi kita harus lawan ya? Iya dong mahasiswa, kita lawan mafia. Iya gitu, tantang, pokoknya tantang,” tegasnya.

Lebih lanjut, mentan Amran menekankan capaian swasembada beras didukung oleh data lembaga kredibel.

“Data ini bukan kementerian menyampaikan ini, bukan Bulog. Tapi boleh diverifikasi ke Bulog. Yang menyampaikan swasembada beras, yang pertama BPS, kemudian FAO. Kemudian USDA,” jelasnya.

Mentan Amran juga mengungkap kondisi gudang yang telah melampaui kapasitas hingga harus menyewa tambahan.

“Fakta ini kita lihat, penuh gudang, sewa gudang berapa tadi? 205 unit. Kapasitasnya? 615 ribu. Kita sewa karena gudang sudah penuh semua. Sekarang yang sudah diisi 250 ribu ton. Itu antre di luar,” ungkapnya.

Di akhir dialog, Amran kembali menegaskan pentingnya keberpihakan pada petani dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.

“Kalau ada yang mengatakan tidak swasembada beras, berarti mau impor kan? Kalau mau impor, berarti dia pro pada petani negara lain. Berarti dia mengkhianati petani Indonesia yang 100 juta. Benar enggak?” pungkasnya.(*)

Gelar Sharing Session, Kementan Buka Strategi Publikasi Bereputasi dan Riset Strategis

TANIONDONESIA.COM, Yogyakarta — Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta–Magelang (Polbangtan Yoma) menggelar sharing session bertajuk “Strategi Publikasi Bereputasi dan Riset Strategis Kementerian Pertanian” Jumat (17/4/2026).

Kegiatan ini diikuti oleh dosen serta pejabat fungsional sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas publikasi ilmiah dan memperkuat arah riset institusi.

Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Polbangtan Yoma R. Hermawan yang dalam sambutannya menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi yang mampu mendukung pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus menjawab tantangan sektor pertanian.

R. Hermawan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi ilmiah di lingkungan kampus.

“Kami berharap melalui sharing session ini, para dosen semakin termotivasi untuk menghasilkan karya ilmiah yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional,” ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, turut memberikan dukungan terhadap kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa peningkatan kapasitas dosen dalam publikasi ilmiah menjadi bagian penting dalam memperkuat peran pendidikan vokasi pertanian.

“SDM pertanian yang unggul harus didukung oleh riset yang kuat dan publikasi bereputasi, sehingga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian,” ungkapnya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya sinergi antara riset dan kebijakan.

 

Baca Juga: Pompanisasi Sukses Tingkatkan Produktivitas Padi di Magelang

“Riset yang dihasilkan oleh institusi pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan lapangan dan mendukung program strategis Kementerian Pertanian, khususnya dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, narasumber utama Dr. Ir. Widodo memaparkan strategi publikasi di Jurnal AGRARIS yang telah terindeks Scopus. Ia menjelaskan pentingnya memahami ruang lingkup jurnal, menjaga kualitas metodologi penelitian, serta konsistensi dalam penulisan artikel ilmiah sesuai standar internasional.

Narasumber lainnya, Prof. Ir. Muhammad Arsyad, membahas critical points dalam publikasi bereputasi. Menurutnya, kualitas substansi penelitian, kebaruan (novelty), serta ketepatan dalam memilih jurnal menjadi faktor kunci untuk menembus jurnal internasional bereputasi.

Sementara itu, Abd. Haris Bahrun menyampaikan arah riset strategis nasional di lingkungan Kementerian Pertanian. Ia menegaskan bahwa penelitian di perguruan tinggi vokasi harus selaras dengan program strategis Kementan, terutama dalam mendukung ketahanan pangan, modernisasi pertanian, dan peningkatan kesejahteraan petani.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi aktif antara narasumber dan peserta. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali lebih dalam terkait strategi publikasi dan arah riset yang relevan dengan kebutuhan sektor pertanian saat ini.

Melalui kegiatan ini, diharapkan dosen dan pejabat fungsional Polbangtan Yoma semakin termotivasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi ilmiah bereputasi, serta menghasilkan riset yang berdampak nyata bagi pembangunan pertanian nasional.(*)

Pompanisasi Sukses Tingkatkan Produktivitas Padi di Magelang

TANIONDONESIA.COM, Magelang – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Magelang atas keberhasilannya meningkatkan produktivitas padi melalui program pompanisasi.

“Luar biasa Bupati Magelang. Pompanisasi sudah berjalan, yang sebelumnya hanya panen sekali kini bisa menjadi tiga kali dalam setahun. Ini karena pompa air sudah terpasang,” ujar Mentan Amran saat kunjungan kerja di Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (16/4/2026).

Ia menyoroti inisiatif pemerintah daerah dalam memanfaatkan sumber air sungai yang berada di bawah lahan sawah. Melalui pompanisasi, lahan pertanian kini dapat terairi sepanjang tahun tanpa bergantung pada hujan.

“Kalau tidak ada pompa, air hujan akan langsung mengalir ke sungai dan kembali ke laut. Seharusnya air itu kita manfaatkan untuk produksi pangan,” tegasnya.

Mentan Amran berharap program pompanisasi dapat diperluas ke berbagai daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan, sehingga frekuensi tanam bisa meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

“Kami telah menganggarkan Rp4–5 triliun untuk pompanisasi. Jika bisa menjangkau 1 juta hektare, maka potensi tambahan produksi mencapai 6 juta ton gabah,” jelasnya.

Ia optimistis strategi ini mampu meningkatkan produksi pertanian secara signifikan, sejalan dengan program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan rawa.

“Produksi bisa naik tajam hingga 13 persen melalui peningkatan luas tambah tanam,” tambahnya.

Menurutnya, konsep luas tambah tanam berarti lahan yang sama dimanfaatkan lebih intensif.

Baca Juga: Polbangtan Kementan dan UGM Sepakati Kolaborasi Strategis 3 Tahun, Fokus SDM dan Inovasi Pertanian

“Jika luas tanam bertambah 2 juta hektare dan setiap hektare menghasilkan 6 ton, maka akan ada tambahan 12 juta ton gabah atau sekitar 6 juta ton beras,” paparnya.

Program ini juga mendapat dukungan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa keberhasilan pompanisasi tidak lepas dari peran aktif penyuluh pertanian dalam mendampingi petani di lapangan.

“Penyuluh menjadi kunci dalam memastikan program pompanisasi berjalan optimal. Mereka tidak hanya membantu dalam aspek teknis penggunaan pompa, tetapi juga mendorong petani untuk meningkatkan indeks pertanaman dan mengelola air secara efisien,” ujarnya.

Ia menambahkan, BPPSDMP akan terus memperkuat kapasitas penyuluh agar mampu menjawab tantangan di lapangan, khususnya di wilayah tadah hujan dan daerah yang rentan terhadap perubahan iklim.

“Dengan pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, kami optimistis program pompanisasi dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sidodadi, Sarju, mengaku merasakan langsung manfaat program tersebut.

“Sebelumnya kami hanya mengandalkan tadah hujan dan airnya tidak mencukupi. Sekarang, sekitar 18–20 hektare dari total 24 hektare lahan sudah bisa terairi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pompanisasi turut meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi di wilayahnya.

“Dulu hanya bisa tanam sekali, sekarang sudah bisa sampai tiga kali dalam setahun,” katanya.(*)