17 April 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

PENAS Padang Sukses Besar, Delegasi Indonesia di Temu ASEAN : Terima Kasih Kementan

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Penas XVI yang diselenggarakan di Lanud Sutan Syahrir, Kota Padang Sumatera Barat, 10-15 Juni 2023 menjadi tonggak geliat petani-petani muda baru atau dikenal sebagai petani milenial terjun di sektor pertanian.

Salah satu agenda dalam Penas XVI Padang adalah Temu Petani Muda ASEAN dimana, para delegasi bertukar pengalaman dan melihat praktik pertanian yang ada di Indonesia. Harapannya setelah kembali ke negaranya, para peserta dapat mengambil hal baik dalam pengelolaan pertanian khususnya oleh generasi muda.

Janu Muhammad salah satu delegasi asal Indonesia pada Temu Petani Muda ASEAN yang hadir, dalam keterangan tertulisnya mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada kementerian Pertanian yang menunjuknya sebagai salah satu dari 12 Petani Muda mewakili Indonesia untuk hadir pada Dialog Petani Muda ASEAN di PENAS Padang, yang menghadirkan tidak hanya petani asal Indonesia namun juga ASEAN dan Negara Mitra.

PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2023 Jaya, Penyuluh Pertanian Apresiasi Mentan SYL

“Terima kasih kepada Kementerian Pertanian atas kesempatan yang diberikan, Saya, sebagai salah satu delegasi Petani Muda Indonesia dalam Temu Petani se-ASEAN mendapatkan beberapa pengalaman berharga di event ini” kata Janu.

Pertama, begitu besar dukungan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian dalam meregenerasi petani muda Indonesia melalui program Petani Milenial, YESS, dan adanya Young Ambassador Agriculture. Aging Farmers menjadi isu semua negara di ASEAN maupun Jepang, namun kita patut optimis bahwa kolaborasi pemerintah dan generasi muda untuk regenerasi petani kita adalah upaya konkrit yang mulai terlihat hasilnya. Negara-negara lainnya ingin belajar dari Indonesia.

Kedua, melalui kegiatan ini kami juga dapat mendapat pengalaman tentang pentingnya kolaborasi dalam menciptakan ketahanan pangan tidak hanya di negeri kita, namun sampai ke ASEAN. Jaringan petani muda yang terbentuk di kegiatan ini akan terus kami kawal, dengan Indonesia sebagai garda terdepan yang memimpin. Hal yang tidak kalah penting adalah kesempatan untuk mempraktikkan bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional di sektor pertanian. Petani Milenial Indonesia harus mampu menggunakan bahasa Inggris dalam proses diskusi, negosiasi, bahkan kerjasama agar mendapat hasil optimal.

PENAS Padang Sukses Besar, Petani Milenial Malaysia Apresiasi Penyelenggara

“Harapan kami ke depan,adanya ASEAN Young Farmers Forum (AYFF) agar dapat direalisasikan dengan dukungan Kementan maupun kementerian terkait seperti Kemenlu, Kemenkopukm, maupun seluruh pihak dengan adanya pertemuan lanjutan, kerjasama bisnis, serta potensi kolaborasi lainnya. Kami, 12 delegasi Indonesia insyaAllah siap menjadi bagian dari forum tersebut". tandas Janu.

Temu Petani ASEAN Asean Dialogue Patners Exchange Farmer Visit 2023 adalah bagian dari kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVI di Padang, Sumatera Barat. Pesertanya adalah petani Milenial dari negara anggota ASEAN dan negara mitra (Jepang dan Amerika).

Kegiatan ini diikuti 26 peserta asal negara-negara ASEAN. Yaitu Indonesia 12 peserta, Malaysia 2 peserta, Thailand 4 peserta, dan Filipina 2 peserta.
Selain itu, ada juga Jepang sebagai negara mitra dengan 4 peserta, dan perwakilan Kedutaan Amerika dengan 2 peserta.(***)

PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2023 Jaya, Penyuluh Pertanian Apresiasi Mentan SYL

JAKARTA - Rangkaian kegiatan PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2023 yang dilaksanakan di Lanud Sutan Syahrir, Kota Padang Sumatera Barat, 10-15 Juni 2023 usah sudah. Namun, ancaman El Nino serta krisis pangan global yang semakin terlihat, membuat Kementerian Pertanian (Kementan) mengajak para penyuluh untuk mempersiapkan diri dan melakukan langkah antisipasi guna mewujudkan Indonesia sebagai Negara Eksportir Pangan.

PENAS Petani Nelayan merupakan ajang pertemuan akbar petani, nelayan, petani hutan, penyuluh pertanian dan stakeholder pertanian yang kehadirannya selalu dinantikan. Selain sebagai momentum konsolidasi nasional untuk menghasilkan konsepsi pertanian yang lebih baik lagi dari seluruh Indonesia, transaksi-transaksi juga berjalan di PENAS Petani Nelayan. Karena momentum PENAS memperbaiki konsensi dan memperbaiki kerja seluruh tim.

Selain sebagai momentum konsolidasi nasional untuk menghasilkan konsepsi pertanian yang lebih baik lagi dari seluruh Indonesia, transaksi-transaksi juga berjalan di PENAS Petani Nelayan. Karena momentum PENAS memperbaiki konsensi dan memperbaiki kerja seluruh tim.

PENAS Padang Sukses Besar, Petani Milenial Malaysia Apresiasi Penyelenggara

Menurut Ketua Umum DPP PERHIPTANI sekaligus Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, pada saat Kongres Perhiptani di Padang beberapa waktu yang lalu mengatakan penyuluh harus mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global dan bersinergi untuk menjalankan program antisipasi El Nino dan krisis pangan global.

Peran penyuluh pertanian dalam pembangunan pertanian sangat penting dalam mendukung program pemerintah, sehingga sinergi dan koordinasi yang baik mutlak dibutuhkan. “Karena penyuluh adalah garda terdepan yang akan mengawal pertanian”, ujarnya.

Secara terpisah menurut Ketua Harian DPP PERHIPTANI, Fathan A. Rasyid mengatakan PENAS Petani Nelayan XVI merupakan momentum yang sangat tepat dan strategis buat petani nelayan dalam menyatukan visi dan misi pembangunan pertanian untuk petani lebih maju, modern, mandiri dan sejahtera untuk mewujudkan NKRI sebagai negara pengekspor pangan dunia melalui sinergitas semua stakeholder atau pemangku kepentingan.

Fathan menambahkan bahwa pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2023 lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini dapat dilihat fari kreativitas peserta dan semangat peserta yang sangat tinggi untuk mengikuti rangkaian kegiatan PENAS, khususnya pada saat mengikuti Kongres PERHIPTANI. Selain itu perhatian masyarakat Sumatera Barat yang sangat luar biasa terhadap PENAS Petani Nelayan XVI, ucapnya lagi.

Penyuluh Pertanian Teladan Nasional, Evrina Budiastuti menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada Mentan SYL dan jajarannya karena telah diberi kesempatan sehingga menjadi Penyuluh Pertanian Teladan Nasional.

PENAS Padang Sukses Besar, Ketua Umum DPA/DPM : Terima Kasih Pak Mentan

Menurutnya, seorang penyuluh pertanian memiliki tugas untuk menyampaikan informasi dan teknologi khususnya kepada pelaku utama dan pelaku usaha. Tidak hanya itu, para penyuluh juga sebisa mungkin dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat umum termasuk untuk kalangan penyuluh sendiri.

Evrina juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Bapak Mentan SYL beserta jajarannya yang telah sukses menyelenggarakan PENAS XVI selama 6 hari full.

Sungguh pengalaman berharga karena PENAS menghadirkan cakrawala informasi dan teknologi tentang pertanian dan menjadi ajang bagi para peserta untuk sharing kegiatan pertanian dari daerahnya masing-masing, beber Evrina.

Apalagi dengan hadirnya gelar percontohan dan gelar produk serta aneka temu, saya semakin yakin bahwa pertanian Indonesia itu maju dan tak kalah saing dengan negara lain. (NF)

PENAS Padang Sukses Besar, Petani Milenial Malaysia Apresiasi Penyelenggara

TANIINDONESIA.COM//Jakarta - Penas XVI yang diselenggarakan di Lanud Sutan Syahrir, Kota Padang Sumatera Barat, 10-15 Juni 2023 menjadi tonggak geliat petani-petani muda baru atau dikenal sebagai petani milenial terjun di sektor pertanian.

Salah satu agenda dalam Penas XVI Padang adalah Temu Petani Muda ASEAN dimana, para delegasi bertukar pengalaman dan melihat praktik pertanian yang ada di Indonesia. Harapannya setelah kembali ke negaranya, para peserta dapat mengambil hal baik dalam pengelolaan pertanian khususnya oleh generasi muda.

PENAS Padang Sukses Besar, Ketua Umum DPA/DPM : Terima Kasih Pak Mentan

Sarah, salah satu petani milenial asal Malaysia yang hadir, mengapresiasi pertemuan PENAS yang menghadirkan tidak hanya petani asal Indonesia namun juga ASEAN dan Negara Mitra.

“Bersama sama dengan, kita ada negara asean lain yang turut bergabung di perhelatan PENAS di Indonesia, bagi kita seorang agropreneur melalui penas kita mendapatkan informasi baru dan berbagi pengetahuan serta berbagi pendapat dari berbagi negara dari sisi teknologi, teknik pengolahan dan isu isu perubahan iklim dan langkah langkah apa untuk mengantisipasinya”. papar Sarah.

Melalui Penas kami dapat menimba ilmu terutama ilmu pertanian yang memiliki teknologi tinggi namun berbiaya rendah.
"Kami berterima kasih dapat ikut serta di penas ini" ujar Sarah.

Temu Petani ASEAN Asean Dialogue Patners Exchange Farmer Visit 2023 adalah bagian dari kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVI di Padang, Sumatera Barat. Pesertanya adalah petani Milenial dari negara anggota ASEAN dan negara mitra (Jepang dan Amerika).

Kegiatan ini diikuti 26 peserta asal negara-negara ASEAN. Yaitu Indonesia 12 peserta, Malaysia 2 peserta, Thailand 4 peserta, dan Filipina 2 peserta. Selain itu, ada juga Jepang sebagai negara mitra dengan 4 peserta, dan perwakilan Kedutaan Amerika dengan 2 peserta.

PENAS Padang Sukses Besar, Ketua Umum DPA/DPM : Terima Kasih Pak Mentan

TANIINDONESIA.COM//Jakarta - Penas XVI yang diselenggarakan di Lanud Sutan Syahrir, Kota Padang Sumatera Barat, 10-15 Juni 2023 menjadi tonggak geliat petani-petani muda baru atau dikenal sebagai petani milenial terjun di sektor pertanian.

Banyak teknologi pertanian dan cara-cara budidaya baru yang menarik perhatian salah satunya adalah pertanian presisi, dengan penggunaan teknologi smart farming.

Salah satu petani milenial yang hadir, yang juga sebagai ketua umum Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan (DPM/DPA) asal Jawa Barat, Sandi Octa dalam keterangan tertulisnya mengungkapkan bahwa dapat hadir pada perhelatan akbar ini, sebagai petani milenial sangat membanggakan.

Pastikan Program Utama Kementan Berjalan, BPPSDMP Lakukan Konsolidasi

“Kami sangat bangga, terharu, para milenial diturunkan untuk berdiplomasi dan bercerita tentang keunggulan keunggulan program usahanya maupun sharing bagaimana upaya pemerintah Indonesia berupaya meregenerasi petani ditengah negara lain yang sedang mengalami loss generation, tidak tanggung tanggung para milenial indonesia ini mendominasi dibandingkan negara asean lainnya. jelas Sandi.

Hal ini berkat keseriusan Kementerian Pertanian RI yang di Nahkodai Bapak Syahrul Yasin Limpo dalam upaya regenerasi petani, utamanya dalam program Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan semenjak 2019, 4 tahun silam.

Resmi Ditutup, Kementan Sebut Petani Milenial Curi Perhatian di PENAS XVI

Sandi menambahkan, perhelatan penas kali ini, sangat sukses, selain dari kesiapan tuan rumah Sumatera Barat sebagai tempat dilaksanakannya event besar ini, juga Penas kali ini menampilkan tema yang baru, yaitu hadirnya para milenial dan andalan yang mendominasi kegiatan di Penas, para milenial terlibat dalam Gelar Teknologi, Temu Profesi Duta Petani Milenial dan Duta Petani Andalan Kementerian Pertanian RI, berbagai kegiatan perlombaan, juga Milenial dipercaya untuk tampil di temu wicara Asean dan Mitra Asean.

“Terima kasih Pak Mentan, kami diberi kesempatan menjadi bagian dari perhelatan akbar Penas XVI Padang, mendukung program pemerintah dalam meregenerasi petani”.

Sandi berharap, peran petani muda dalam perhelatan penas selanjutnya dapat lebih dioptimalkan.
“Penas selanjutnya, milenial pun siap untuk berkontribusi kembali” tandas Sandi.

Pastikan Program Utama Kementan Berjalan, BPPSDMP Lakukan Konsolidasi

TANIINDONESIA.COM//GARUT - Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian melakukan konsolidasi internal untuk memperkuat program utama Kementan.

Konsolidasi tersebut dilaksanakan di Hotel Harmoni Garut, Jawa Barat, 16-18 Juni 2023. Kegiatan beragendakan Motivasi dari Tim ESQ dan Percepatan realisasi program hibah luar negeri, serta Rencana Tindak Lanjut.

Memasuki semester kedua pelaksanaan program kegiatan tahun anggaran 2023, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan konsolidasi internal untuk memperkuat pelaksanaan program.

Resmi Ditutup, Kementan Sebut Petani Milenial Curi Perhatian di PENAS XVI

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, program utama Kementan harus di-support maksimal.

"Program kegiatan utama kementan di semester kedua berfokus pada antisipasi perubahan iklim dan mitigasi dampak El Nino sekaligus ancaman krisis pangan global. Oleh sebab itu, harus mendapat dukungan dari semua pihak agar pangan kita tetap terjaga," kata Syahrul.

Sementara Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, mengatakan pihaknya selalu memberikan support untuk mendukung program utama Kementan.

"Support tersebut di antaranya adalah menyiapkan SDM berkualitas, khususnya SDM penyuluh dan petani," ujar Dedi.

Selain itu, tutur Dedi, BPPSDMP juga melakukan sinergitas program kegiatan Pinjaman Hibah Luar Negeri (PHLN) dalam mendukun program utama Kementan.

“Fokus kita tetap membangun kapasitas SDM Pertanian, yang profesional, mandiri, berdaya saing dan berjiwa wirausaha. Kita harus dorong proses hilirisasi pertanian oleh para petani yang akan menambah pendapatan dan meningkatkan kesejahteraan petani. kata Dedi.

Tangguh Hadapi El Nino, Pertanian Cerdas Iklim Kementan Beri Nilai Tambah untuk Petani Subang

Ia menambahkan, kita dorong generasi petani muda yang mandiri yang tidak tergantung subsidi, dan mengelola usaha pertaniannya dengan orientasi agribisnis.

Sementara Sekretaris BPPSDMP, Siti Munifah, menyampaikan jika agenda rapim meliputi konsolidasi lingkup BPPSDMP terkait program Kementan antisipasi perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global.

"Kemudian mempercepat realisasi program pinjaman atau hibah luar negeri lingkup Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian," ujarnya.

Setelah itu disampaikan juga Motivasi oleh Tim ESQ. Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Pusat Penyuluhan, Kepala Pusat Pelatihan, Kepala Pusat Pendidikan dan Kepala UPT lingkup BPPSDMP.

Resmi Ditutup, Kementan Sebut Petani Milenial Curi Perhatian di PENAS XVI

TANIINDONESIA.COM//Padang - Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVI resmi ditutup. Pada penyelenggaraan PENAS kali ini, para petani milenial disebut mencuri perhatian. Bila pada penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya, petani milenial lebih banyak menjadi penonton. Tapi kali ini, petani milenial mengambil peran besar.

“Ada kekhasan pada PENAS XVI dibanding tahun-tahun sebelumnya, yaitu hadir dan tampilnya para petani milenial kita. Di sini mereka memeragakan teknologi dan inovasi, serta produk mereka,” ungkap Kepala Badan Penyuluhan dan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi saat mewakili Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memberikan sambutan pada kegiatan Penutupan PENAS Petani Nelayan XVI, di Lanud Sutan Syahrir, Padang, Sumatera Barat, pada Kamis (15/06/2023).

Tangguh Hadapi El Nino, Pertanian Cerdas Iklim Kementan Beri Nilai Tambah untuk Petani Subang

Selain itu, melalui temu agribisnis yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan PENAS XVI, para petani milenial berhasil menyusun kesepakatan-kesepakatan yang bermanfaat bagi pengembangan bisnis mereka.

“Pada PENAS XVI ini juga diadakan temu petani milenial. Yang hadir tidak hanya tingkat nasional, tapi juga lingkup ASEAN. Bahkan petani dari Jepang turut hadir,” ungkap Dedi.

Selain petani milenial, Dedi menyebutkan keberhasilan PENAS XVI tidak bisa dilepaskan dari kontribusi banyak pihak, termasuk Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat, jajaran Kementerian Pertanian (Kementan), dan para petani dan nelayan yang telah aktif berpartisipasi. Menurut Dedi, semua pihak yang terlibat telah berkolaborasi sehingga PENAS XVII bisa sukses besar.

Lawan Perubahan Iklim dan Krisis Pangan Global, Kementan Dorong Pertanian Cerdas Iklim

“Dari PENAS kali ini, saya yakin petani dan nelayan bisa mencapai tujuan pembangunan pertanian, yaitu menyediakan pangan bagi 273 juta rakyat Indonesia dan meningkatkan kesejahteraan petani,” sebut Dedi.

Dedi pun turut menyoroti gelar teknologi yang bisa memeragakan smart farming. Menurutnya, dengan mempraktikkan smart farming, petani bisa meningkatkan produktivitas pangan nasional.

“(Dengan smart farming.red), kita juga bisa menekan ongkos produksi. Saya yakin melalui implementasi smart farming, pangan lokal bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” terang Dedi.

Menutup resmi PENAS XVI, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menyebutkan kegiatan PENAS menjadi bentuk perhatian pemerintah kepada petani dan sekaligus menjadi upaya Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan.

“Semua kegiatan PENAS menjadi bekal dalam meningkatkan kemandirian pangan. Demi upaya kita mencapai tujuan bagi Indonesia menjadi lumbung pangan pada tahun 2045,” imbuh Mahyeldi.

Selain itu, Ia menyebut PENAS XVI banyak memberikan manfaat bagi masyarakat Sumatera Barat, terutama Padang. Lahan Lanud Sutan Syahrir sebelumnya terlantar dan tidak dimanfaatkan. Tapi dengan menjadi proyek percontohan bagi berbagai gelar teknologi, lahannya sekarang produktif dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.

“Saya harapkan semua fasilitas yang ada di sini, seperti embung, bisa terus dijaga dan dimanfaatkan dengan baik,” ujar Mahyeldi.

PENAS XVI dihadiri oleh sekitar 28.000 orang petani dan nelayan dari seluruh pelosok tanah air dan dari negara ASEAN serta mitra ASEAN, para pejabat tinggi mulai dari anggota DPR RI, para Gubernur, dan para Bupati/Walikota dari seluruh Indonesia.

Sementara untuk penyelenggaraan PENAS XVII Tahun 2026, hasil Rembug KTNA yang diselenggarakan pada tanggal 9 Juni 2023 telah menetapkan tuan rumah penyelenggara Penas XVII tahun 2026 adalah Provinsi Gorontalo.

Tangguh Hadapi El Nino, Pertanian Cerdas Iklim Kementan Beri Nilai Tambah untuk Petani Subang

TANIINDONESIA.COM//SUBANG - Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim yang diinisiasi oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) melalui program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP), rupanya menjadi andalan bagi petani di Kabupaten Subang dalam mengantisipasi perubahan iklim, dalam hal ini ancaman El Nino yang sudah di depan mata.

Hal itu terungkap dalam pertemuan 'Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan SIMURP Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2023' yang diselenggarakan Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan di BPP Pagaden, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (13/6/2023).

Selain tangguh dalam menghadapi El Nino, pertanian cerdas iklim rupanya juga membawa dampak positif bagi petani di Kabupaten Subang. Berkat pertanian cerdas iklim, petani di Subang mendapatkan nilai tambah dari produk olahan pertanian yang mereka garap.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan, selain masa depan Indonesia, pertanian juga harus diupayakan sedapat mungkin agar memberikan nilai tambah untuk petani. Sebab, segala upaya yang dilakukan pemerintah dalam kerangka pembangunan pertanian nasional, orientasi utamanya adalah kesejahteraan petani.

"Kementan terus berupaya agar pembangunan pertanian nasional memberikan nilai tambah produk pertanian, sekaligus meningkatkan efisiensi sehingga perbaikan ekonomi dan peningkatan produksi dan produktivitas pertanian bisa diwujudkan," kata Mentan SYL.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menambahkan, Kementerian Pertanian telah menyiapkan langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global. Salah satu langkah strategis yang disiapkan yakni program pertanian cerdas iklim.

"Pertanian cerdas iklim ini mengombinasikan rencana, ilmu pengetahuan, keterampilan dan aksi nyata, baik oleh petani maupun penyuluh, bagaimana mereka membaca situasi iklim yang tengah terjadi agar tak berdampak pada pertanian mereka," terang Dedi.

Dikatakan Dedi, pertanian cerdas iklim diharapkan menjadi konsep baru bagi petani dalam menunjang program ketahanan pangan nasional. "Dengan pertanian cerdas iklim kita berharap produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan, tak terpengaruh oleh situasi iklim yang tengah terjadi, karena kita tahu dan telah memiliki rencana apa yang akan dilakukan," ujar Dedi.

Petani penerima manfaat pun terbantu dengan program SIMURP yang diinisiasi BPPSDMP Kementan. Maryuni dari KWT Karya Mandiri Kecamatan Pagaden Barat merasakan betul manfaat program. Penjualan produk kelompoknya berupa aneka macam kue, kripik singkong, rengginang, opak dan lainnya telah berkembang pesat. "Bahkan pemesanan hingga ke luar negeri, tepatnya Taiwan. Kami bersyukur sekali mendapat program SIMURP ini," kata Maryuni.

Pun halnya dengan Hasan Basri dari Kelompok Tani Cinta Tani Jaya di Kecamatan Binong. Produksi olahan beras ketannya terus meningkat semenjak tersentuh program ini. "Produksi kami sudah mencapai 100 kilogram per bulan. Kalau ada pesanan, kami genjot lagi produksinya. Kami juga difasilitasi perizinan. Sekarang kita tinggal menunggu perizinan keluar saja," ujar Hasan Basri.

Dalam 'Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan SIMURP Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2023', ada beberapa langkah dukungan penerapan teknologi CSA. Di antaranya adalah demplot CSA di Kelompok Tani (Poktan), Penerapan teknologi CSA Scalling Up, rembug tani, pengawalan dan pendampingan kegiatan SIMURP, Uji emisi GPK, penguatan BPP dan penumbuhkembangan produk dan jejaring pasar (market linked) KEP.

Adapun materi CSA demplot atau genta organik meliputi teknologi irigasi intermitten/AWD/macak-macak, enggunaan varietas unggul, penentuan waktu tanam (KATAM), teknologi jajar legowo, pembuatan dan penggunaan pupuk organik, penggunaan pupuk berimbang dan pengendalian OPT.

Adapun pada tahun ini, anggaran SIMURP untuk Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 3,125 miliar. Jumlah itu bertambah sebesar Rp13,258 miliar setelah dilakukan top up.

Secara keseluruhan, ada 10 provinsi yang mendapatkan program SIMURP. Untuk di Jawa Barat diimplementasikan di Kabupaten Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. Program SIMURP sendiri diimplementasikan di 24 kabupaten, 22 daerah irigasi, 121 dari 117 BPP dan 117 desa dengan melibatkan sebanyak 4.623 kelompok tani.(*)

Lawan Perubahan Iklim dan Krisis Pangan Global, Kementan Dorong Pertanian Cerdas Iklim

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya meningkatkan produktivitas pertanian nasional. Hal itu dilakukan dalam rangka menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis pangan global. Salah satu upaya yang dilakukan Kementan yang diinisiasi oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) adalah dengan menerapkan program Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim. Sebagaimana diketahui, pertanian cerdas iklim merupakan salah satu tujuan dari program Stategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta kepada jajarannya untuk terus meningkatkan kerja sama dan kolaborasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Apalagi, di tengah situasi ancaman perubahan iklim dan krisis pangan global, program penyediaan pangan untuk seluruh rakyat tak boleh terganggu.

"Harus kita ingat bahwa tujuan pembangunan pertanian kita di antaranya peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas, meningkatkan Intensitas Pertanaman (IP), serta budidaya ramah lingkungan dengan tujuan akhir menyejahterakan petani dan meningkatkan pendapatannya", papar Mentan Syahrul.

Menurut Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi program SIMURP memberikan banyak manfaat untuk petani dan penyuluh. "SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani, khususnya bagaimana melakukan pertanian cerdas dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana cara mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman.

Dikatakan Dedi, kunci keberhasilan SIMURP adalah kerja sama dan sinergitas dari seluruh pemangku kepentingan dan insan pertanian. Dedi berharap program SIMURP tetap fokus pada kegiatan pertanian ramah lingkungan dengan memaksimalkan kegiatan penyuluhan pertanian.

"Petani dan penyuluh harus menjadi pemenang di daerahnya masing-masing. Petani dan penyuluh harus menjadi agen perubahan guna peningkatan produktivitas, membangun kelembagaan ekonomi, memanfaatkan fasilitas, memaksimalkan jaringan irigasi untuk pertanian yang semuanya bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian", ulas Dedi.

Menurutnya, krisis pangan global menuntut perubahan model pertanian yang berkelanjutan. Kendati begitu, tak ditampiknya ada beberapa problematika dalam menghadapi krisis pangan global. "Perubahan iklim, isu ekonomi global dan mata rantai pasokan itu beberapa di antara kendala yang dihadapi.

Salah satu penerima manfaat SIMURP adalah petani dan penyuluh di Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu menerima kunjungan dari Tim World Bank yang diwakili oleh Konsultan Konsultan Program Pertanian dan Pangan World Bank (WB), Heru Prama Yuda, perwakilan FAO, Kundan Singh dan Tim NPIU BPPSDMP, yang diwakili oleh Penyuluh Pertanian Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan).

Kundan Singh menjelaskan, kedatangan Tim WB untuk melihat lebih dekat implementasi program SIMURP di lapangan.

Selain itu juga, pihaknya ingin tahu tantangan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan, baik untuk mitra di daerah, BPP, penyuluh, petani, Poktan, Gapoktan dan lain sebagainya. Juga, apa saja kendalanya dan apa aspek yang perlu kita tingkatkan ke depannya.

Heru tak menampik jika pola tanam dan produktivitas akan terkena imbas perubahan iklim yang terjadi saat ini. Oleh karenanya, pertanian cerdas iklim merupakan solusi untuk menghadapi hal tersebut.

Menurutnya, pertanian cerdas iklim tidak akan sukses jika petaninya tidak cerdas iklim. Maka, kuncinya ada di petani. Maksudnya adalah bagaimana petani bisa mengelola, memitigasi dan mengurangi dampak negatif perubahan iklim.

Pun halnya dengan ketahanan pangan nasional yang menjadi program Kementan, menurut Heru hal tersebut bergantung sepenuhnya kepada petani. Lumbung pangan tergantung kepada petani memutuskan apa yang akan dilakukan di lahan pertaniannya. Keputusan petani akan berdampak kepada level makro. Maka, upaya kolektif untuk meningkatkan produktivitas pertanian kita penting untuk dilakukan.

Kuncinya adalah meningkatkan produktivitas dan menjaga lingkungan. Oleh karenanya, petani harus tangguh, cerdas iklim dan ramah lingkungan. Beruntung, Kementan memiliki jaringan yang solid di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Subang, terkhusus di Kecamatan Pamanukan. Sehingga program yang dijalankan dapat terserap dengan baik hingga tingkat lapisan paling bawah.

Menurut Tim NPIU SIMURP BPPSDMP yang diwakili oleh Penyuluh Pertanian Pusat Siti Nurjanah mengatakan, ada beberapa yang perlu menjadi fokus bersama agar ketahanan pangan nasional dapat terjaga dengan baik. Kita berharap ada luas baku lahan abadi. Ke depan juga perlu dimanage bagaimana menghadapi peningkatan serangan hama. Perbaikan jaringan irigasi rusak dan terbatas, kesuburan tanah akibat ketergantungan penggunaan pupuk kimia menyebabkan lahan kita sakit dan sejumlah hal lainnya.

Harus ada pendekatan komprehensif untuk menjawab tantangan terhadap pangan. Salah satu kuncinya adalah meningkatkan produksi dan produktivitas, baik padi maupun non padi, melalui intensitas pertanaman. Kita harus mampu mengatur pola tanam atau pertanian cerdas iklim. Kita juga harus mampu meningkatkan pendapatan petani menuju ketahanan pangan berkelanjutan, tuturnya.

Forum P4S dan IKAMAJA Wujudkan Komitmen Perangi Krisis Pangan Dengan Smart Farming

TANIINDONESIA.COM//PADANG - Perubahan iklim yang dapat mengganggu pertanian menjadi pembahasan dalam Temu Profesi FK P4S dan Temu Profesi IKAMAJA, yang menjadi bagian dari Penas XVI Padang 2023, Senin (12/6/2023), di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat.

Kegiatan ini menghadirkan Narasumber Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi, Sekretaris BPPSDMP Siti Munifah, Kapuslatan, Presiden IKAMAJA Ferdi Saifullah, Sekjen FK P4S Nasional Heri Kurniawan.

Kegiatan ini diikuti 150 orang untuk kegiatan P4S dan Ikamaja 200.

NYATA!!! Antisipasi Perubahan Iklim Kementan Terapkan Pertanian Modern Smart Farming

Dalam kegiatan yang juga beragendakan Rapat Kerja Teknis FK P4S Nasional, Kementerian Pertanian mengajak para alumni program magang Jepang untuk bersama-sama mengantisipasi perubahan iklim.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, petani harus selalu memperbarui pengetahuan.

"Pertanian dituntut untuk menghadirkan inovasi yang dapat membantu menjaga dan meningkatkan produktivitas hasil pertanian," katanya.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan IKAMAJA dan P4S merupakan bagian dari Kementan, dalam hal ini BPPSDMP.

"Banyak alumni program magang Jepang yang sekembalinya dari magang kemudian memutuskan membentuk P4S dengan semangat berbagi ilmu dan pengalaman kepada sesama petani," jelasnya.

Satukan Tekad Antisipasi El Nino, Penyuluh Siap Jadi Garda Terdepan Jaga Ketahanan Pangan

Untuk itu, Dedi berharap sinergi IKAMAJA dan P4S perlu terus ditingkatkan, utamanya untuk mengantisipasi perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global.

"Karena kalian merupakan pelaku usaha pertanian yang membantu menyokong perekonomian di masa pandemi. Kalau pertanian mau bangkit, satu-satunya jalan kita harus genjot produksi pertanian, memperbaiki kualitas produk pertanian," katanya.

Dedi menambahkan,"Pertanian perlu dilakukan dengan cerdas, melalui smart farming. Karena, smart farming mampu menekan ongkos produksi pertanian, smart farming dapat meningkatkan produksi," ujarnya.

Selain itu untuk menekan biaya produksi, Dedi mengajak petani menggunakan pupuk organik serta menggunakan alsintan.

Dedi menambahkan, pertanian tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sendiri, tetapi harus menghasilkan uang. Untuk itu, harus dibangun agribisnis.

"Manfaatkan KUR untuk bangun agribisnis. Dan P4S telah melakukan hal-hal ini. Yang harus diingat, petani harus berkolaborasi bukan berkompetisi, kerjasama dengan petani dan pihak pelaku usaha," katanya.

Presiden IKAMAJA, Ferdi Saifullah, mengatakan P4S telah melaksanakan program permagangan reguler maupun permagangan Special Skilled Worker Oleh swasta.

NYATA!!! Antisipasi Perubahan Iklim Kementan Terapkan Pertanian Modern Smart Farming

TANIINDONESIA.COM//PADANG - Salah satu upaya Kementerian Pertanian untuk mengantisipasi perubahan iklim adalah memaksimalkan pertanian modern, Smart Farming.

Hal ini diungkapkan dalam Bertani On Cloud (BOC) Volume 227, Edisi Penas XVI, yang dilaksanakan dari area Gelar Teknologi di Mobil Unit Ngobras.

Tampil sebagai narasumber Kepala Balai Pelatihan Pertanian (Bapeltan) Lampung Roni Angkat dan Ketua P4S Swen Inovasi Mandiri Jawa Barat Sri Wahyuni.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, perubahan iklim tidak bisa ditangani dengan cara yang biasa-biasa saja.

Satukan Tekad Antisipasi El Nino, Penyuluh Siap Jadi Garda Terdepan Jaga Ketahanan Pangan

"Karena, perubahan iklim bisa mengancam hasil pertanian. Oleh karena itu, dibutuhkan inovasi serta terobosan untuk menghadapinya. Salah satunya melalui Smart Farming," jelasnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP),
Dedi Nursyamsi, mengatakan Kementan telah memiliki program untuk menanggulangi ancaman krisis pangan global, perubahan iklim dan dampak el nino dalam produksi dan penyediaan pangan.

"Salah satunya dengan menerapkan smart farming, dengan efisiensi sumber daya seperti pemakaian air untuk lahan pertanian dan pemakaian pupuk organik yang ramah lingkungan," katanya.

Dedi menambahkan, dengan smart farming harapannya dampak perubahan iklim dan el nino dapat diminimalisir. "Selain itu produksi pangan terjaga efisiensi meningkat dan ramah lingkungan," katanya.

Ia menambahkan, Penas XVI Padang menjadi ajang menyebarkan informasi inovasi teknologi terkait mengenai varietas unggul baru, alat mesin teknologi pertanian dan sistem pertanian modern seperti smart farming.

Hadirkan Berbagai Inovasi, Stand BPPSDMP di PENAS XVI 2023 di Banjiri Pengunjung

"Dua narasumber kita ini juga sudah mempraktekan smart farming, satu dari UPT Badan SDM dengan Roni angkat sebagai pengerak nya dan P4S sebagai pusat pembelajaran dari, oleh dan untuk petani Sri Wahyuni," katanya.

“Smart Farming itu mudah, dan tidak mahal, itu yang mau kita tunjukan disini. tambahnya.

Smart Farming adalah Solusi Pertanian Modern dalam mengantisipasi Perubahan Iklim dan Ancaman Krisis Pangan Global.

Kepala Bapeltan Lampung Roni Angkat menjelaskan, tujuan menampilkan smart farming pada Penas teknologi untuk memperkenalkan kepada petani dan masyarakat Indonesia bahwa pertanian modern itu tidak harus mahal dan sulit sehingga membutuhkan keterampilan khusus.

Menurutnya, Modern Smart Farming, Low Cost Precision, merupakan metode pengembangan pertanian cerdas dimana teknologi Ini menggunakan Internet of Thing (IoT), yang dapat mendukung kegiatan pertanian.

"Kami sebagai UPT BPPSDMP mengembangkan Teknologi Low Cost Smartfarming di Balai Pelatihan Pertanian Lampung. Harapannya petani, penyuluh dan masyarakat yang hadir pada penas dapat mengetahui manfaat metode smart farming dan menerapkan," katanya.

Ketua P4S Swen Inovasi Mandiri, Jawa Barat Sri Wahyuni, menjelaskan jika P4S merupakan lembaga pelatihan pertanian dan pedesaan yang didirikan, dimiliki, dikelola oleh petani secara swadaya baik perorangan maupun berkelompok.

P4S diharapkan dapat secara langsung berperan aktif dalam pembangunan pertanian melalui pengembangan sumber daya manusia pertanian dalam bentuk pelatihan/permagangan bagi petani dan masyarakat di wilayahnya.

"P4S Swen Inovasi Mandiri telah mengembangkan smart farming mengembangkan usaha dengan konsep Small Scale Integrated Farming System dengan Zerowaste yaitu pertanian terpadu tanpa meninggalkan sisa atau sampah," ujarnya.

“Pertanian terintegrasi, pertanian yang konsepnya kembali ke Alam, sangat natural dan ramah lingkungan. Bagaimana mengolah kotoran ternak menjadi bahan pupuk organik, yang kemudian dimanfaatkan untuk memupuk tanaman, itu konsep kembali kealam dari kita ujarnya lagi.

"Semua dapat termanfaatkan dan mempunyai nilai tambah ekonomi bagi petani, dengan kepemilikan lahan yang tidak terlalu luas menjadi satu rangkaian value chain untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat," imbuhnya.

Ia menambahkan, P4S Swen Inovasi Mandiri hadir di Penas untuk memperlihatkan model smart farming merupakan metode bertani yang efektif, dan ramah lingkungan.