21 April 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

Mentan: Warga yang Meninggal di Papua Bukan Kelaparan Melainkan Diare

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengungkap penyebab enam warga meninggal di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Syahrul mengatakan, menurut laporan, keenam warga itu meninggal akibat diare.

"Saya habis dua-tiga hari, dua hari terakhir ini ngecek banget apa itu kelaparan membuat dia meninggal. Kok kalau meninggal kelaparan kok cuma satu keluarga? Jadi kelaparan itu bersifat masif. Oleh karena itu, yang ada menurut laporan dari sekwilda dan kadis setempat bukan kelaparan. Diare," kata Syahrul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (2/8/2023).

Syahrul menuturkan keenam warga itu mulanya mengalami muntah, kemudian mereka mengalami diare dan dehidrasi.

"Hari pertama dia muntah. Siangnya 20 kali; 10-20 Kali. Malamnya dia diare. Dehidrasi. Itu yang saya tahu," ujarnya.

Kementan pun sudah melakukan langkah darurat untuk mengatasi kelaparan di dua distrik di Kabupaten Puncak. Syahrul mengatakan pihaknya juga akan memberikan bantuan kepada warga.

"Bahwa ada langkah kita ke sana iya. Langkah darurat untuk mem-backup mereka selama 3 bulan. Kan jumlah orangnya juga nggak banyak. Yang kedua temporary agenda saya akan mobilisasi kurang lebih 10 ribu polybag. Tanaman polybag di sekitar halaman rumah. Karena di sana 6 distrik. Satu distrik yang bersoal," tutur Syahrul.

Baca juga: Antisipasi Dampak El Nino, Mentan Minta Pemprov Lampung Ikut Berkontribusi Penuhi Kebutuhan Pangan

"Dan kita juga tidak boleh gegabah kan karena ini di Puncak sana dan ada masalah sedikit di sana. Saya punya konsentrasi di Timika sekarang untuk bisa mensuplai. Agenda ketiga, permanen agenda saya akan buat lahan penyangga di sana," imbuh dia.

Syahrul melanjutkan, warga di Puncak juga sudah terbiasa dengan cuaca ekstrem di sana. Karena itu, diyakini bahwa tewasnya enam warga itu akibat muntaber. Kendati demikian, dia memastikan akan melakukan pemantauan di wilayah tersebut.

"Dan saya kira kalau di Puncak itu masalah hujan es dan lain-lain setiap tahun seperti itu. Jadi ini menurut saya, tapi mari temen-temen mengecek, bukan karena kelaparan, tapi karena muntaber," kata Syahrul.

Sebelumnya, diberitakan bahwa bencana kelaparan melanda dua distrik di Puncak, Papua Tengah. Enam orang pun dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan tersebut.

Syahrul melanjutkan, warga di Puncak juga sudah terbiasa dengan cuaca ekstrem di sana. Karena itu, diyakini bahwa tewasnya enam warga itu akibat muntaber. Kendati demikian, dia memastikan akan melakukan pemantauan di wilayah tersebut.

"Dan saya kira kalau di Puncak itu masalah hujan es dan lain-lain setiap tahun seperti itu. Jadi ini menurut saya, tapi mari temen-temen mengecek, bukan karena kelaparan, tapi karena muntaber," kata Syahrul.

Sebelumnya, diberitakan bahwa bencana kelaparan melanda dua distrik di Puncak, Papua Tengah. Enam orang pun dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan tersebut.(***)

Antisipasi Dampak El Nino, Mentan Minta Pemprov Lampung Ikut Berkontribusi Penuhi Kebutuhan Pangan

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta Provinsi Lampung ikut serta berkontribusi memenuhi kebutuhan pangan nasional dalam menghadapi ancaman dampak fenomena El Nino.

"Kehadiran saya di Lampung ini dalam rangka melakukan gerakan nasional menghadapi El Nino sesuai perintah Presiden ada enam provinsi utama dan empat yang menjadi penyangga pangan saat El Nino," ujar Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri rapat koordinasi antisipasi dampak El Nino Provinsi Lampung di Lampung Tengah, Rabu.

Ia mengatakan Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah yang ditunjuk sebagai penyangga pangan dalam menghadapi El Nino bersama dengan Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.

Baca juga: Penarikan Mahasiswa Magang, Polbangtan Kementan Ramaikan Pasar Aksata Boyolali

"Dalam menghadapi El Nino, kita membutuhkan konsentrasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Lampung sebagai daerah penyangga pangan langsung ke Pulau Jawa kata kunci utamanya adalah harus ikut serta berkontribusi untuk menunjang kepentingan nasional," katanya.

Dia menjelaskan dipilihnya Lampung dan beberapa daerah sebagai penyangga pangan itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya penurunan produksi secara nasional dari berbagai daerah, sebagai dampak fenomena El Nino.

"Kami mempersiapkan berbagai hal terkait dampak El Nino, dan provinsi ini dipilih karena 'buffer stock' beras dan tren produktivitasnya bagus. Lampung ini harus ikut mendukung secara nasional sebab kalau untuk lokal sendiri dalam menghadapi El Nino pasti selesai tapi kami butuh bantuan secara nasional," ucapnya.

Menurut dia, pihaknya menawarkan beberapa skema kepada Pemerintah Provinsi Lampung dan kabupaten untuk melakukan intensifikasi lahan pertanian dalam menghadapi El Nino.

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Jagung Hibrida, Kementan dan PT Bayer Indonesia Jalin Kerjasama

"Di Provinsi Lampung ini kami menawarkan intensifikasi lahan pertanian bisa 30 ribu hektare, 50 ribu hektare atau 100 ribu hektare. Kalau gubernur atau bupati mau boleh, bila bisa beberapa kabupaten saja agar lebih fokus dikerjakan. Bagi kami intensifikasi lahan pertanian seluas 30 ribu hektare saja sudah cukup," ujar dia.

Ia berharap jika lahan pertanian minimal seluas 100 hektare dapat diintensifikasi dengan baik maka dapat berkontribusi kepada rakyat dengan perputaran ekonomi yang mencapai Rp30 miliar.

"Karena itu dalam menghadapi El Nino ini Lampung harus menjadi daerah terbaik dalam peningkatan produksi dan kelihatannya pemerintah daerah sangat serius serta antusias membantu kepentingan nasional dalam mencegah adanya kekurangan pangan di masa kekeringan," tambahnya.(***)

Penarikan Mahasiswa Magang, Polbangtan Kementan Ramaikan Pasar Aksata Boyolali

TANIINDONESIA.COM//BOYOLALI - Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan YOMA) Kementerian Pertanian ikut meramaikan kegiatan Pasar Aksata (Aksi Bersama Pertanian) Kabupaten Boyolali dalam rangka penarikan mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) 2023.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Senin (31/7/2023) di Kompleks Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali itu dihadiri sejumlah petinggi, baik dari Polbangtan YOMA maupun Pemkab Boyolali.

Partisipasi Polbangtan YOMA pada acara tersebut untuk memperkuat pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Boyolali. Pelibatan generasi muda pada sektor pertanian penting untuk dilajukan sedini mungkin sebagai bagian dari upaya regenerasi pertanian di masa mendatang.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menuturkan, regenerasi pertanian sudah harus dilakukan sedini mungkin. Sebab, kata Syahrul, sebanyak 71 persen petani di Indonesia sudah masuk kategori usia tua.

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Jagung Hibrida, Kementan dan PT Bayer Indonesia Jalin Kerjasama

"Ke depan, secara perlahan orientasi 20 persen lebih besar lagi diisi petani muda. Meskipun tidak mudah, tapi usaha bersama pemerintah dan elemen lainnya yang terlibat akan percepat lahirnya petani muda karena petani tidak pernah ingkar janji," kata Menteri Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menambahkan, pihaknya terus berupaya mengubah wajah sektor pertanian. Salah satunya melalui regenerasi petani.

Dikatakan Dedi, Kementan telah menyiapkan banyak strategi agar pertanian menjadi idola bagi anak muda. Mulai dari pendidikan dan pelatihan vokasi, penumbuhan wirausaha muda pertanian (PWMP), duta petani milenial dan duta petani andalan (DPM/DPA) dan sejumlah program lainnya.

"Tentu regenerasi petani menjadi suatu keniscayaan yang turut berkontribusi untuk kemajuan pertanian Indonesia,” ujar Dedi.

Dikatakannya, tantangan zaman yang semakin berkembang tentulah tepat bila dijawab oleh para milenial yang masih energik, berjiwa kritis sebagai petani modern yang muaranya untuk mencapai kedaulatan pangan.

"Kementan berkomitmen pada pembangunan pertanian yang maju, mandiri dan modern. Maka dari itu, adaptasi pertanian pada sektor teknologi yang terus berkembang harus ditopang oleh generasi milenial yang memang merupakan ranahnya saat ini," tutur Dedi.

Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto menjelaskan, aksi bersama pertanian dengan petani binaan MBKM mahasiswa dimaksudkan untuk memperkuat pemasaran dan kemajuan potensi usaha petani.

"Dengan adanya petani milenial dan kegiatan ini, tentu kami berharap dapat memotivasi pemuda dan generasi milenial untuk dapat mewujudkan suatu pertanian keberlanjutan," terang Bambang.

Baca juga: Perkuat Produksi, Mentan Tanam Bawang Merah di Bangli

Dikatakan Bambang, Polbangtan YOMA amat concern terhadap pembangunan pertanian Indonesia. "Polbangtan peduli dengan regenerasi petani untuk menjadi petani modern berbasis teknologi," ujar Bambang.

Bupati Boyolali, Mohammad Said Hidayat menegaskan perlunya aksi bersama dari semua pihak untuk meningkatkan usaha pertanian di Boyolali. "Boyolali ini mempunyai potensi pertanian yang sangat besar, sehingga perlu adanya banyak kerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya Polbangtan YOMA, termasuk keberlanjutan pertanian dari sisi SDM pertanian," kata Said.

Sebagaimana diketahui, ada tiga acara yang diselenggarakan yakni penarikan mahasiswa MBKM di Kabupaten Boyolali, pembukaan Pasar Aksata dan talk show yang diisi oleh tiga orang narasumber berkompeten.

Hadir di antaranya Direktur Polbangtan dan Kaprodi PBB, Bupati Boyolali, Wakil Bupati Boyolali, Ketua DPRD Boyolali, Sekda Pemkab Boyolali, Asisten Perekonomian Pemkab Boyolali, Kadis Pertanian Boyolali, Kadis DKP Boyolali, Kadis Peternakan Boyolali, Kadis Kominfo Boyolali, Kadis LH Boyolali, Camat dan Kades se-Boyolali, Gapoktan dan KWT Wilayah Selo, Cepogo, Mojosongo, Nogosari dan Simo dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Penuhi Kebutuhan Jagung Hibrida, Kementan dan PT Bayer Indonesia Jalin Kerjasama

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian berusaha memenuhi kebutuhan bibit jagung hibrida yang mengalami peningkatan. Kementerian Pertanian bekerjasama dengan PT Bayer Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jagung hibrida.

Koordinator Kelompok Substansi Penilaian dan Penyebaran Varietas, Direktorat Perbenihan Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Andi M. Saleh mengatakan, dunia pertanian pada era perubahan cepat dan banyak ketidakpastian, pemanasan global, ancaman perubahan iklim, kekeringan, dan kesuburan tanah berimbas pada penyediaan pangan. Selain itu kendala pertumbuhan penduduk yang semakin naik namun tidak didukung dengan lahan areal dan kualitas lahan pertanian, berimbas pada ancaman kelaparan gizi buruk dan stunting.

“Salah satu solusi yang ditawarkan adalah melalui bioteknologi, seperti PT Bayer Indonesia salah satu industri benih multinasional menghasilkan varietas jagung hibrida,” ujar Andi kepada Liputan6.com, Rabu (26/7/2023).

Baca juga: Perkuat Produksi, Mentan Tanam Bawang Merah di Bangli

Andi menjelaskan, PT Bayer Indonesia pada 2022 telah melepas varietas jagung hibrida PRG DK95-NK603, dengan keunggulan ketahanan terhadap herbisida glifosat. Kementerian Pertanian meminta PT Bayer Indonesia, selaku pemilik izin peredaran benih jagung hibrida PRG varietas DK95-NK603 untuk “Kami meminta PT Bayer Indonesia melakukan mekanisme pengawasan dan pengendalian varietas tanaman produksi rekayasa genetika sebagaimana amanah yang termaktub dalam Permentan nomor 50 tahun 2020,” jelas Andi.

Pemerintah mendukung pengembangan varietas baru baik melalui teknologi hibrida maupun bioteknologi. Saat ini telah dilepas untuk varietas jagung hibrida sebanyak 317 varietas dan jagung hibrida PRG sebanyak delapan varietas. Varietas tersebut merupakan hasil rekayasa teknologi tinggi dengan menggunakan sarana prasarana yang relatif membutuhkan biaya yang cukup besar.

“Maka pemerintah terus mendorong swasta untuk mengembangkan varietas tersebut, salah satunya dengan PT Bayer Indonesia,” ucap Andi.

Andi mengungkapkan, PT Bayer Indonesia merupakan pelopor komersialisasi benih jagung bioteknologi. PT Bayer Indonesia akan memberikan dampak nyata upaya penyediaan benih khususnya untuk benih jagung dan peningkatan produksi jagung nasional secara nyata.

“Potensi produksi jagung lokal hanya berkisar tiga sampai empat ton per hektar dan jagung komposit berkisar lima sampai tujuh ton per hektar,” ungkap Andi.

Baca juga: Produksi Surplus, Mentan: Pemerintah Bakal Ekspor Bawang Merah Mulai Agustus 2023

Industri benih memiliki peranan yang cukup penting dalam penyediaan dan penyaluran benih varietas unggul. 10 tahun lalu industri benih jagung hibrida sebanyak 15 unit dengan kapasitas produksi benih jagung hibrida sebanyak 45.000 ton per tahun. Saat ini telah berkembang menjadi 54 unit industri benih jagung hibrida dengan kapasitas produksi benih jagung hibrida sebesar 110.000 ton per tahun.

“Atas hal tersebut permintaan benih jagung hibrida sekitar 62.500 ton per tahun telah dapat dipenuhi industri benih dalam negeri,” tegas Andi.

Berdasarkan data luas tanam yang tercantum pada sistem informasi pengumpulan data pangan strategis atau PDPS, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Data Provitas BPS 2022 produksi jagung (KA 27%), mencapai 25,18 juta ton pipilan kering, mengalami pertumbuhan 9,29% dibandingkan produksi 2021 sebesar 23,04 juta ton pipilan kering.

“Adapun realisasi penggunaan benih jagung bersertifikat pada 2022 sebesar 73,59 persen mengalami pertumbuhan 1,96 persen dibanding tahun 2021 sebesar 72,17 persen,” kata Andi.(***)

Perkuat Produksi, Mentan Tanam Bawang Merah di Bangli

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melakukan penanaman bawang merah di Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Kegiatan ini merupakan rangkaian kerja pemerintah dalam memperkuat produksi bawang merah dan menyasar pasar ekspor serta memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Di Bangli ini posisi bawang merah harus diperkuat karena memiliki potensi ekspor dan pemenuhan dalam negeri. Bangli masih punya 1000 hektare lebih untuk penanaman. Karena itu posisi ini harus diperkuat," kata Syahrul, Jumat, 28 Juli 2023.

Secara Nasional, Syahrul melanjutkan, produksi bawang merah hingga saat ini masih surplus, meskipun Indonesia dan juga negara di dunia lainya tengah dilanda cuaca ekstrem el nino yang diperkirakan berlangsung hingga September. Karena itu, untuk menghadapi el nino ini semua pihak termasuk pemerintah daerah wajib turun langsung dan memperkuat produksi yang ada.

"Saya berharap dengan potensi yang ada ini kita coba kembangkan tidak hanya di Bangli saja, tetapi juga bisa mengisi daerah daerah yang sorted lainnya. Kita bersyukur karena kita masih punya kelebihan di atas 300 ribu ton," ujarnya.

Terkait ekspor, Syahrul mengatakan pada Agustus nanti Indonesia mulai mengekspor bawang merah yang didapat dari berbagai sentra. Karena itu, pemerintah juga terus mengawal petani milenial agar terlibat aktif dan membangun pertanian Indonesia yang jauh lebih maju.

Baca juga: Produksi Surplus, Mentan: Pemerintah Bakal Ekspor Bawang Merah Mulai Agustus 2023

"Kita awal Agustus ini sudah mulai ekspor dan kita akan kembangkan terus produksinya di berbagai Provinsi lain. Selain itu kita mengawal pelatihan petani milenial agar membangun pertanian secara bersama-sama," kata Syahrul.

Asisten Daerah II Kabupaten Bangli, I Ketut Riang mengatakan siap melaksanakan semua arahan Mentan dalam mengembangkan berbagai produk pertanian di Bali. Termasuk komoditas bawang merah yang saat ini memiliki potensi besar dalam memenuhi pasar ekspor dan kebutuhan dalam negeri.

"Walau begitu, Pak Menteri beserta jajaran kementan besar harapan kami agar pemerintah pusat memberikan dukungan untuk kemajuan pembangunan pertanian di Kabupaten Bangli khususnya dalam mendukung ketersediaan sarana dan prasarana pertanian seperti saprodi jalan pertanian dan pengelolaan sumber sumber air," kata dia.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan, upaya Kementan dalam memenuhi produksi bawang merah terus dilakukan melalui penyediaan benih unggul, alsintan hingga akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian.

"Semua bantuan dan pendampingan ini kami terus lakukan di berbagai daerah. Kita bersyukur karena produksi kita dari tahun ke tahun terus meningkat," ujarnya. (***)

Produksi Surplus, Mentan: Pemerintah Bakal Ekspor Bawang Merah Mulai Agustus 2023

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian berencana akan mulai melakukan ekspor bawang merah pada Agustus 2023 mendatang. Adapun negara tujuan ekspor komoditas ini adalah Vietnam Thailand dan Singapura.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengatakan bahwa produksi bawang merah di dalam negeri saat ini dalam kondisi surplus.

"Kita awal Agustus ini sudah mulai ekspor dan kita akan kembangkan terus produksinya di berbagai Provinsi lain. Kita masih punya lebihan (produksi) di atas 300 ribu ton," jelas Mentan SYL dalam keterangannya, Sabtu (29/7).

Baca juga: Tingkatkan Produksi Pertanian, Wamentan Minta Seluruh Stakeholder Saling Sinergi dan Kolaborasi

SYL menilai Indonesia masih berpeluang untuk memperluas produksi bawang merah. Untuk itu pemerintah berencana untuk memperluas lahan produksi ke berbagai daerah untuk memastikan stok dan juga untuk mengantisipasi dampak el-nino.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan bahwa upaya pemerintah dalam memenuhi produksi bawang merah terus dilakukan melalui penyediaan benih unggul, alsintan hingga akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian.

"Semua bantuan dan pendampingan ini kami terus lakukan di berbagai daerah. Kita bersyukur karena produksi kita dari tahun ke tahun terus meningkat," jelasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) produksi bawah merah di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 1.9 juta ton. Angka tersebut turun dibandingkan dengan produksi pada 2021 yang mencapai 2,01 juta ton.(***)

Tingkatkan Produksi Pertanian, Wamentan Minta Seluruh Stakeholder Saling Sinergi dan Kolaborasi

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Sinergi dan kolaborasi antar seluruh stakeholder pertanian dan peternakan di Indonesia dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian sangat penting. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi ketika membuka Indo Livestock 2023 Expo & Forum di Grand City Convex Surabaya, Rabu 26 Juli 2023.

“Kita harus bekerja sama dan optimis di situasi yang tidak menentu ini, baik dari segi iklim dan juga traffic perdagangan yang sempat terhenti karena pandemic Covid-19,” kata Harvick.

Menurut dia, struktur yang ada di Kementerian Pertanian, termasuk peran pemerintah daerah dan peran para pelaku usaha seharusnya dapat meningkatkan sektor pertanian agar bisa jadi sandaran pangan, sandaran hidup bagi masyarakat.

“Kita harus fokus ke peningkatan produksi untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di Indonesia, jika melimpah, maka dapat diekspor dan untuk pemasarannya bisa kita cari caranya,” kata Harvick.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pencapaian nilai ekspor subsektor peternakan tahun 2022 mencapai Rp. 17,7 T mengalami peningkatan sebesar 13,5 persen dibandingkan tahun 2021.

Baca juga: Kementan Jadikan Sembalun Sentra Penyediaan Bawang Putih Nasional

Salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan dalam proses pembangunan kata Harvick adalah perkembangan teknologi dan inovasi untuk mencapai produktivitas dan efisiensi produksi. Oleh karena itu, Ia menilai, untuk terus meningkatkan peluang akses pasar ekspor, maka perlu adanya dukungan dari seluruh stakeholder terkait, terutama dalam penerapan standar-standar internasional mulai dari hulu ke hilir untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing.

“Saya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah daerah yang telah berinisiatif membuat kegiatan pameran ini,” ujar Harvick. Melalui event ini, dia berharap pelaku usaha di Indonesia dan dunia internasional dapat saling berinteraksi dan terjadi transfer teknologi yang bermanfaat bagi pengembangan peternakan di Indonesia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Iwan, mewakili Gubernur Jawa Timur mengatakan, Jawa Timur adalah pintu gerbang perdagangan ke Indonesia Timur. “Untuk itu saya sampaikan kepada para pelaku usaha bidang pertanian maupun peternakan, bahwa berinvestasi di Jawa Timur akan sangat menguntungkan karena potensi pasar sangat luas,” kata Iwan.

Iwan mengatakan, Jawa Timur masih menghadapi berbagai tantangan dalam perdagangan. Meskipun demikian, Ia tetap optimis karena pemerintah Jawa Timur telah melakukan berbagai langkah seperti penguatan produksi, optimalisasi kelancaran distribusi didukung penguatan data dan digital, optimalisasi hulu hilir peningkatan produktifitas, dan suplay manajemen aktifasi jalur perdagangan.

Indo Livestock merupakan perhelatan internasional industri peternakan, pertanian, pakan ternak, pengolahan susu, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan dan akuakultur. Pameran ini diikuti oleh total 370 perusahaan/peserta pameran dari 42 negara termasuk di dalamnya ada 7 paviliun negara yaitu Australia, China, Eropa, Indonesia, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand.(***)

Kementan Jadikan Sembalun Sentra Penyediaan Bawang Putih Nasional

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus mengawal ketersediaan benih bawang putih.

Tahun ini, Direktorat Perbenihan Hortikultura kembali menginisiasi kerja sama swakelola dalam penyediaan benih hortikultura, khususnya penyediaan benih bawang putih.

Direktur Perbenihan Hortikultura Inti Pertiwi Nashwari menyampaikan program swakelola benih bawang putih tahun ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan.

Swakelola ini dilakukan guna pemenuhan kebutuhan benih pada program pengembangan kampung bawang putih di 2024 mendatang.

"Kegiatan kerja sama swakelola ini menjadi langkah antisipasi agar tidak terjadi lagi kegagalan pemenuhan target kampung bawang putih, seperti pada tahun 2022," kata Inti Pertiwi dalam acara panen raya bawang putih program swakelola musim 2023 di Sembalun, Lombok Timur, Selasa (25/7).

Baca juga: Komitmen Perbaiki Kualitas Lingkungan, Kementan Gelar Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan

Panen ini bersama perwakilan dari Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Wakil Bupati Lombok Timur Rumaksi, Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Dinas Pertanian Kab Lombok Timur, Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih NTB, beserta jajaran Forkopimda di lahan milik Kelompok Tani Pusuk Pujata.

Inti menjelaskan hasil panen raya bawang putih ini dipergunakan sebagai calon benih Kampung Bawang Putih.

Pasalnya, kebutuhan benih bawang putih pada 2024 sebanyak 600 ton, sehingga diharapkan kebutuhan benih dapat dipenuhi sebagian dari hasil panen program swakelola ini.

"Saya merasa bangga dan yakin terhadap hasil swakelola penyediaan benih bawang putih di Sembalun akan berhasil, melihat pertanaman, hasil panen dan komitmen dari Kelompok Tani Pusuk Pujata untuk memenuhi target swakelola," ungkapnya.

Menurut Inti Pertiwi, hasil panen bawang putih di Sembalun umbinya cukup besar.

"Hampir sama dengan bawang putih impor," jelasnya.

Karena itu, Inti Pertiwi menegaskan pihaknya siap melakukan pendampingan dalam hal teknis dan dukungan permodalan untuk pengembangan bawang putih di Sembalun.

Swakelola penyediaan benih bawang putih ini dilaksanakan di daerah Sembalun, Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, yakni wilayah yang telah dikenal sebagai sentra produksi bawang putih sejak 1980-an.

Sampai 1990-an, Sembalun mengalami masa kejayaan sebagai produsen bawang putih lokal yang memasok kebutuhan hampir seluruh Indonesia.

Namun setelah masuknya bawang putih impor, kejayaan bawang putih impor, kejayaan bawang putih dari Sembalun perlahan mulai menurun.

Wakil Bupati Lombok Timur Rumaksi menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan bawang putih di Sembalun.

Menurut Wabup Rumaksi, ini mengingat kejayaan bawang putih Sembalun di masa lampau yang memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi petani di daerah tersebut.

“Kami sangat berharap pemerintah pusat semakin memberikan perhatian dan fasilitasi khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pupuk agar produksi dan produktifitas bawang putih di Sembalun terjaga," harap Wabup Rumaksi.

Ketua Kelompok Tani Pusuk Pujata Egi Frisma menambahkan dirinya bersama anggota Kelompok taninya berkomitmen menyediakan benih bawang putih sebanyak 72 ton setara dengan luas pertanaman 18 hektare, dengan varietas Lumbu Putih dan Sangga Sembalun.

Dia menilai swakelola ini dapat memberikan dampak yang baik bagi petani.

Di samping itu, kebutuhan pupuk saprodi melalui swakelola ini dapat dipenuhi secara optimal sehingga hasilnya juga optimal.

"Program seperti ini sangat baik dalam pengembangan bawang putih. Melihat hasil panen bawang putih hari ini telah memberikan gambaran dan bukti bahwa bawang putih lokal dapat menghasilkan umbi bawang yang besar, hampir sama dengan umbi bawang putih impor," ujar Egi Frisma.

Terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan panen ini menjadi awal menentukan untuk proses penyediaan benih berikutnya.

Harapannya, hasil panen ini dapat memenuhi persyaratan standar benih yang dibutuhkan.

Baca juga: Kementan Apresiasi Penerapan Smart Farming oleh Petani Milenial Pasuruan

Dia menyarankan kelompok tani Pusuk Pujata perlu terus memperhatikan penanganan pascapanen dari hasil panen benih bawang putihnya.

"Berbagai hal yang dapat menimbulkan kerusakan benih dan penyusutan selama penyimpanan di gudang perlu dikendalikan," pesannya.

Dirjen Prihasto menjelaskan muara dari arahan yang disampaikannya tiada lain adalah agar benih bawang putih yang disediakan dari program swakelola ini benar-benar memenuhi standar tinggi sebagai benih bermutu.

Sebagai informasi, bersamaan dengan acara panen tersebut juga dilaksanakan ubinan untuk mengetahui taksiran produksi bawang putih dari program swakelola ini.

Ubinan dilaksanakan oleh penyuluh pertanian di Kecamatan Sembalun.

Sesuai hasil ubinan panen dihasilkan potensi produksi bawang putih sebesar 34,5 ton (berat panen basah).

Angka ini jauh melebihi jumlah panen yang biasa diperoleh oleh petani di sembalun yang rata-rata sebanyak 24 ton basah.(***)

Komitmen Perbaiki Kualitas Lingkungan, Kementan Gelar Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan

TANIINDONESIA.COM//Malang – Saat ini dunia menghadapi tantangan yang luar biasa dampaknya. Seluruh masyarakat dunia baru saja bisa dikatakan lolos dari Pandemi Covid-19.

Namun dampak utamanya terkait kecukupan pangan masih harus diatasi. Dalam satu dekade terakhir ini, masalah perubahan iklim, pemanasan global dan penurunan kualitas lingkungan hidup juga menjadi isu yang sering diperbincangkan.

Penurunan kualitas lingkungan ini berpotensi mengganggu keberlangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Hal ini seperti dikatakan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat membuka pelatihan sejuta petani dan penyuluh volume 7 dengan tema pertanian ramah lingkungan secara virtual.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan produktivitas tinggi dengan memperhatikan pasokan hara dari penggunaan bahan organik, minimalisasi ketergantungan pada pupuk anorganik, perbaikan biota tanah, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) berdasarkan kondisi ekologi, dan diversifikasi tanaman,”kata Mentan.

Baca juga: Kementan Apresiasi Penerapan Smart Farming oleh Petani Milenial Pasuruan

Pemahaman tentang pertanian ramah lingkungan akan diharapkan dapat menumbuhkan “sense of crisis” yang memotivasi untuk merapatkan barisan menghadapi tantangan pertanian saat ini.

“Smart farming dan pengembangan Smart Green House (SGH) berbasis pemanfaatan Internet of Thing (IoT) adalah salah satu solusi yang berperan penting dalam membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Hal ini seperti yang tengah dikembangkan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian bekerjasama dengan Pemerintah Korea Selatan,”lanjut SYL.

Menteri Pertanian, SYL, sangat mengapresiasi upaya kerjasama dari Pemerintah Korea dan BPPSDMP, yang memberikan hibah pengembangan smart farming dalam proyek “Enhanching Millenials Farmers Income by Adopting K-Smart Farm in Indonesia”.

Melalui Program tersebut pertanian tidak lagi dilakukan di lahan dengan skala kecil dan sulit dikontrol. Oleh karena itu, agenda intelektual Saudara harus meningkat dalam mengadopsi dan meniru teknologi modern tersebut sehingga akan berdampak pada meningkatnya minat petani millenial di dunia pertanian yang bermuara pada peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani,”tegas Mentan.

Sementara itu, dalam sambutan Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, mengatakan, Kelestarian sumberdaya lahan pertanian dan mutu lingkungan serta keberlanjutan sistem produksi merupakan hal yang kritikal bagi usaha pertanian di negara tropis, termasuk Indonesia.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian yang mengelola seluruh sumber daya pertanian dan input usaha tani secara bijak, berbasis inovasi teknologi untuk mencapai produktivitas berkelanjutan dan secara ekonomi menguntungkan dan berisiko rendah,”kata Dedi.

Pembangunan pertanian diarahkan   pada pencapaian ketahanan pangan sekaligus juga memperhatikan keamanan pangan. Konsep pertanian ramah  lingkungan  tersebut bermuara pada kualitas  tanah yang mempengaruhi: produktivitas tanah   untuk meningkatkan produktivitas   tanaman dan aspek hayati lainnya; memperbaiki kualitas lingkungan dalam menetralisasi kontaminan-kontaminan  dalam  tanah  dan produk pertanian dan kesehatan manusia yang  mengkonsumsi produk pertanian.

Baca juga: Kenaikan Harga Diprediksi Melambung Tinggi Akibat El Nino, Mentan Minta Pemda Perluas Lahan Komoditas Kedelai

Dedi menjelaskan, petani seringkali menggunakan pestisida maupun  pupuk kimiawi yang ugal-ugalan, sehingga berakibat buruk pada pertanian dan lingkungan. Pestisida bukan hanya mematikan hama serta penyakit tanaman, tetapi juga sekaligus mematikan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Dan akibat penggunaan yang diambang batas bisa menghancurkan lingkungan.

"Pengelolaan pertanian secara berlebihan dan ugal ugalan menyebabkan tanah kita hancur, udara hancur, air hancur dan lingkungan kita hancur, " tegas Dedi.

Pelatihan ini dilaksanakan secara serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di seluruh Indonesia ataupun lokasi titik kumpul lainnya selama 3 hari sejak tanggal 26 – 28 Juli 2023 secara online dan diikuti oleh 1.837.371 orang dari target 1.800.000 peserta dengan persentase mencapai 102,08% yang terdiri dari petani, penyuluh, dan insan pertanian lainnya.

Narasumber Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh berasal dari BPPSDMP, BSIP; Yayasan Inisiatif Indonesia Biru Lestari (WAIBI) didukung praktisi berkompeten dibidangnya.(***)

Kementan Apresiasi Penerapan Smart Farming oleh Petani Milenial Pasuruan

TANIINDONESIA.COM//PASURUAN - Upaya Kementerian Pertanian (Kementan) menggerakkan regenerasi petani mulai terlihat hasilnya. Sebab, banyak generasi milenial yang berkecimpung di sektor pertanian mulai dari sisi hulu hingga hilir.

Salah satu petani milenial yang sukses menggeluti sektor pertanian adalah Mashuda petani milenial yang menjadi Duta Petani Andalan (DPA) Kementan.

Mashuda adalah petani komoditas cabai binaan Kementan yang didukung Program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services Programme (YESS).

Pada Maslahat Award Inovasi dan Teknologi yang digelar oleh Kabupaten Pasuruan, Mashuda meraih juara ketiga lewat inovasi Budi Cakep (Budi Daya Cabai Petani Kabupaten Pasuruan).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, generasi milenial dapat segera mengambil peranan dalam pembangunan pertanian. Terbukti dengan banyaknya pemuda dan pemudi yang menjadi pelopor dalam usaha pertanian.

Baca juga: Kenaikan Harga Diprediksi Melambung Tinggi Akibat El Nino, Mentan Minta Pemda Perluas Lahan Komoditas Kedelai

“Itu adalah contoh nyata bahwa pertanian tidak identik dengan kotor dan kemiskinan, setelah ditunjang mekanisasi dan inovasi pertanian yang menjadikan pertanian menjadi lebih modern dan menjanjikan,” ujar Mentan Syahrul.

Menteri meyakini generasi milenial yang inovatif dan memiliki gagasan kreatif mampu mengawal pembangunan pertanian maju, mandiri, serta modern.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi,
mengunjungi langsung Kebun Cabai Wonosari Farm, yang dikelola Mashuda, petani milenial DPA Kementan di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Rabu (26/7).

"Saya hari ini mengunjungi Mashuda, Petani Milenial dengan komoditas cabai dan sudah menerapkan smart farming dengan rumah kaca yang sederhana, beratap plastik dan bertiang bambu, betul betul sederhana tapi memiliki manfaat maksimal," katanya.

Untuk 1 rumah kaca luas 1000m persegi dengan 3000 populasi tanaman, satu pohon dalam satu tahun dapat menghasilkan 5,23 Kg atau total estimasi produksi 15 Ton, dengan harga cabai yang bervariasi misal 25.000 perkilo didapat hampir 400 juta rupiah omset satu unit rumah kaca ini. Kalau satu hektare ya dikali 10 yaitu kurang lebih 4 M pertahun.

"Yang saya perhatikan, pertama varietas yang dipilih memang varietas yang tinggi nilai jualnya, dan yang tahan terhadap penyakit, kedua untuk nutrisi dengan menggunakan irigasi tetes (drip irrigation), dan menggunakan tanah yang sebelumnya disuburkan dahulu dengan pupuk kandang, dengan tambahan dolomit. Dengan nutrisi yang optimal maka hasil yang didapat akan maksimal," katanya.

Dedi menambahkan, yang perlu dibangun adalah pertama rumah kaca.
"Kenapa? Karena dengan rumah kaca micro climate (suhu, cahaya, kelembaban) dapat dikendalikan, kedua pengendalian hama penyakit, dengan menggunakan rumah kaca hama penyakit tidak dapat masuk," ujarnya.

Baca juga: Di Malam Puncak Sarasehan Petani Milenial, Mentan: Kolaborasi Jadi Kunci Bisnis Pertanian

Dedi menambahkan, Mashuda sudah memberikan inspirasi yang luar biasa, dengan membangun smart farming, melalui rumah kaca sederhana, dikombinasikan dengan pemilihan varietas yang tepat, pengendalian hama yang bagus, hasil nya Luar Biasa.

"Intinya Smart farming adalah pertanian cerdas, dilakukan oleh orang yang cerdas, cara yang cerdas dengan mengadopsi teknologi. Dan yang paling penting Petani harus menguasai pasar," ujarnya.

Sementara Mashuda sangat berterimakasih atas kunjungan Kepala BPPSDMP. Ia pun menjelaskan kesehariannya sebagai petani.

"Seperti yang dapat dilihat inilah keseharian kami sebagai petani, yang penting kami dapat rutin kirim tiap minggu sesuai target yang diberikan pada kami. Perkara harga yang fluktuatif kami sudah mengalaminya, yang penting kami melihat hasil dari satu tahun," ujarnya.

"Alhamdulilah kami sudah berdiri 12 tahun, dengan dana yang seadanya, untuk modal membuat rumah kaca satu unit menghabiskan Rp150 juta/1000 meter dengan masa pakai 5 tahun, biaya operasional untuk nutrisi sekitar 70.000 perhari," sambungnya.

Mashuda menambahkan berapapun harga dipasaran, ia tidak rugi. "Dan untuk pasar berapapun yang kami produksi akan diserap oleh Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas)," tandasnya.