17 Mei 2026

KEMENTERIAN PERTANIAN

Dunia Krisis Pangan, Indonesia Justru Surplus Berkat Kerja Mentan Amran dan Tim Pertanian

TANIINDONESIA.COM, Tuban — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pangan merupakan fondasi utama ketahanan dan keberlangsungan sebuah negara. Di tengah dunia yang menghadapi krisis pangan dan energi, Indonesia justru menunjukkan capaian positif dengan meningkatnya produksi pangan nasional dan menguatnya swasembada.

“Tidak mungkin suatu negara bertahan tanpa produksi pangan yang lancar, aman, dan berkesinambungan. Bukan sekali panen bagus, besok tidak bagus,” kata Presiden Prabowo saat menghadiri Panen Raya Jagung Serentak dan Groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri di Tuban, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang terlibat dalam penguatan sektor pangan nasional, khususnya tim pertanian yang dipimpin Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono.

“Saya terima kasih tim pertanian, tim pangan saya sangat baik, sangat kuat dipimpin Menteri Pertanian, Wakil Menteri Pertanian, Kepala Badan, Bulog, Agrinas, semuanya, dan didukung Panglima TNI serta Kapolri dan jajarannya,” ucapnya.

Presiden Prabowo bahkan secara khusus memuji percepatan capaian swasembada pangan nasional yang dinilainya melampaui target pemerintah. “Di sini saya kira adalah karena leadership kepemimpinan. Kalau bagus, kita akui bagus. Kalau baik kita akui baik. Dan dalam organisasi, kalau organisasi baik berarti pemimpinnya baik. Menteri Pertanian saya kasih target 4 tahun (swasembada pangan), ternyata satu tahun bisa,” ujar Presiden disambut tepuk tangan peserta.

Menurut Presiden Prabowo, keberhasilan sektor pangan menjadi sangat strategis di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Ia menyebut banyak negara kini menghadapi tekanan akibat krisis energi, gangguan rantai pasok, hingga ancaman pangan dunia. Oleh karena itu, Indonesia harus memperkuat kedaulatan pangan melalui peningkatan produksi, inovasi, dan hilirisasi pertanian.

Selain itu, Presiden Prabowo menilai keberhasilan menjaga pangan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen bangsa mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, BUMN, penyuluh, hingga petani dan kelompok tani di lapangan.

“Masalah swasembada pangan ini tidak mungkin kita capai tanpa dukungan semua pihak. Dari para gubernur, para bupati, camat, kepala desa, para gapoktan, dari Perum BUMN yang mendukung, Pupuk Indonesia, yang menghasilkan benih, juga semua BUMN yang mendukung, dan akhirnya TNI dan Polri di tingkat lapangan,” ungkapnya.

Baca Juga: Brigade Pangan Bangka “Naik Kelas”, Politeknik Enjiniring Kementan Gembleng SDM Pertanian Modern

Presiden Prabowo juga menceritakan kedekatan emosionalnya dengan petani sejak masih aktif di militer. Menurutnya, pengalaman di lapangan membuat dirinya memahami bahwa pangan adalah penentu utama keberhasilan sebuah negara.

“Para petani dan nelayan adalah produsen makan untuk seluruh bangsa dan negara. Karena itu siapa pun yang ingin negara ini kuat harus fokus pada pangan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, di bawah kepemimpinan Mentan Amran, sektor pertanian nasional dalam setahun terakhir mencatat lonjakan produksi di sejumlah komoditas strategis. Produksi beras nasional meningkat signifikan sebesar 34,69 juta ton di tahun 2025, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menembus level tertinggi hingga 5,3 juta ton, sementara produksi jagung terus diperkuat untuk mendukung ketahanan pangan dan pakan nasional. Kondisi tersebut membuat Indonesia berada pada posisi yang lebih kuat di tengah banyak negara yang masih menghadapi tekanan pangan global.

Pemerintah juga terus mempercepat berbagai langkah strategis mulai dari optimalisasi lahan, percepatan tanam, modernisasi pertanian, distribusi pupuk, penguatan benih unggul, hingga hilirisasi komoditas pangan. Upaya tersebut diperkuat dengan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan TNI-Polri, pemerintah daerah, BUMN pangan, penyuluh, dan petani di seluruh Indonesia.

Di tengah ketidakpastian global, Indonesia kini tidak hanya mampu menjaga ketersediaan pangan dalam negeri, tetapi juga mulai menunjukkan diri sebagai kekuatan pangan baru dunia. Presiden Prabowo menegaskan, keberhasilan tersebut harus terus dijaga dengan kerja keras, inovasi, dan keberpihakan penuh kepada petani sebagai garda terdepan ketahanan nasional.(*)

Kementan, TNI AL, dan Pemkab Nganjuk Kolaborasi Pacu Swasembada Kedelai Nasional

TANIINDONESIA.COM, Nganjuk — Kementerian Pertanian (Kementan), TNI Angkatan Laut (TNI AL), dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat swasembada kedelai nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor yang hingga kini masih mendominasi kebutuhan dalam negeri. Langkah tersebut diperkuat melalui dukungan benih unggul, alat mesin pertanian, jaminan pasar, hingga skema perlindungan harga petani.

Komitmen tersebut ditunjukkan melalui panen kedelai bersama Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Heudiati Soeharto, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Kabupaten Nganjuk, Kamis (15/5/2026). Panen tersebut menjadi simbol penguatan kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat swasembada kedelai nasional.

Mentan Amran menegaskan kedelai merupakan komoditas strategis nasional karena menjadi bahan baku utama tahu, tempe, hingga berbagai produk olahan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. Menurutnya, Indonesia harus segera keluar dari ketergantungan impor dan mulai membangun kemandirian produksi dalam negeri.

“Beras sudah swasembada, cabai swasembada, jagung, daging ayam kita ekspor, telur kita ekspor. Kalau kedelai selesai, disinilah kedaulatan pangan Republik tercapai,” kata Mentan Amran

Menurut Mentan Amran, kebutuhan kedelai nasional saat ini masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri.

“Kalau kedelai, itu belum. Jauh. Ini kita impor 2,4 juta. Dari kebutuhan 2,6 sampai 2,7 juta nah ini yang paling jauh,” ujarnya.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan kebutuhan kedelai nasional tahun 2026 diproyeksikan mencapai 2,7 juta ton. Namun sekitar 95 persen atau 2,6 juta ton masih dipenuhi dari impor. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang besar untuk meningkatkan produksi dalam negeri.

Rata-rata produksi kedelai nasional dalam lima tahun terakhir mencapai sekitar 227 ribu ton per tahun dengan luas tanam 136 ribu hektare dan produktivitas rata-rata 1,6 ton per hektare. Hingga April 2026, produksi nasional mencapai 4.982 ton dari luas tanam 7.018 hektare.

“Selama ini kita terlalu bergantung pada impor. Padahal lahan kita luas, petani kita mampu, dan teknologinya tersedia. Karena itu kita ingin kebangkitan kedelai nasional dimulai dari daerah-daerah produktif seperti Nganjuk,” kata Mentan Amran.

Mentan Amran menilai Jawa Timur menjadi salah satu wilayah paling potensial dalam mendukung peningkatan produksi kedelai nasional. Dalam dua tahun terakhir, produksi kedelai Jawa Timur rata-rata mencapai 54 ribu ton dengan luas tanam sekitar 28.100 hektare dan produktivitas 1,7 ton per hektare.

Kabupaten Nganjuk menjadi salah satu sentra penting dengan produksi rata-rata 8 ribu ton dari luas tanam 3.249 hektare dan produktivitas mencapai 2,2 ton per hektare. Produksi tersebut telah memenuhi sekitar 72 persen kebutuhan kedelai daerah setempat.

Kerja sama pengembangan kedelai antara Kementan, TNI AL, dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk telah dimulai sejak awal tahun melalui penanaman seluas 2.000 hektare di Kecamatan Rejoso, Wilangan, dan Bagor. Sementara Panglima TNI menyebut total pengembangan kawasan mencapai 2.300 hektare dengan estimasi hasil panen sekitar 3.400 ton.

Untuk mendukung program tersebut, Kementan menyalurkan bantuan benih bersertifikat varietas Grobogan sebanyak 50 kilogram per hektare atau total 100 ton serta bantuan 20 unit traktor roda dua dan bajak singkal guna mempercepat pengolahan lahan.

Selain itu, dukungan pasar diperkuat melalui kerja sama dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo). Melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada 5 Maret 2026, Gakoptindo memberikan jaminan pembelian hasil panen petani.

Mentan Amran mengakui salah satu tantangan utama pengembangan kedelai adalah harga di tingkat petani yang masih rendah, yakni berkisar Rp8.000–Rp9.000 per kilogram. Kondisi tersebut membuat minat petani menanam kedelai belum optimal.

Baca Juga: Mentan Amran Pastikan Stok Beras Nasional Aman, Gudang Bulog Penuh, Stok 5,3 Juta Ton

“Tidak boleh kedelai dibeli di bawah Rp10.000 per kilo. Insyaallah, kami akan keluarkan keputusan dalam waktu singkat,” tegas Amran.

Karena itu, pemerintah mendorong penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) kedelai di kisaran Rp13.500 per kilogram agar petani mendapatkan keuntungan yang layak seperti halnya komoditas gabah dan jagung.

“Petani harus untung. Kalau harga bagus dan pasar terjamin, petani pasti semangat menanam kedelai. Negara harus hadir memastikan itu,” ujar Mentan Amran.

Selain jaminan harga, pemerintah juga memastikan hasil produksi benih yang dikembangkan bersama jajaran TNI akan dibeli dan dibagikan kembali kepada petani.

“Yang Bapak produksi, aku beli, baru dibagikan ke petani kembali,” kata Mentan Amran.

Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan bantuan benih kedelai untuk kebutuhan tanam seluas 2.000 hektare yang nantinya akan dibagikan gratis kepada petani di Nganjuk.

“Nanti, Pak, ini kedelai kita, Pak Aster, kami bayar nilainya 2.000 hektare, terus 2.000 itu diberikan kembali gratis pada petani Nganjuk,” ujar Mentan Amran.

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mengatakan produktivitas kedelai di Nganjuk melampaui rata-rata nasional.

“Biasanya di nasional produksi per hektare itu 1,7 sampai 2 ton per hektare. Ini di sini bisa di atas 2 ton per hektare. Jadi bagus sekali,” katanya.

Titiek menegaskan percepatan swasembada kedelai penting dilakukan karena Indonesia merupakan konsumen besar tahu dan tempe tetapi masih bergantung pada impor.

“Indonesia bangsa yang makan tahu tempe setiap hari, tapi kedelainya harus impor. Kebutuhannya 2,6 juta ton per tahun tapi produksinya cuma 270 ribu ton,” ujarnya.

Sementara itu, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengatakan program pengembangan kedelai di Nganjuk harus menjadi model gerakan nyata yang dapat direplikasi secara nasional.

“Kegiatan penanaman kedelai di Nganjuk ini menggunakan varietas Grobogan, merupakan varietas unggul lokal asal Jawa Tengah yang memiliki produktivitas tinggi,” kata Agus.

“Saya berharap kegiatan penanaman kedelai ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tetapi menjadi model gerakan nyata yang dapat direplikasikan di berbagai wilayah di Indonesia,” ujarnya.

Ketua Poktan Rukun Tani Desa Mudikan, Suwito, mengaku bantuan benih dan dukungan pemerintah membuat petani kembali semangat menanam kedelai.

“Harga kedelai sekarang antara 9 sampai 10 ribu. Termasuk harga yang stabil, harga yang lumayan bagi petani. Karena kemarin kan di bawah 9 ribu. Tapi untuk saat ini karena ada program pemerintah seperti ini, harga kedelai bisa terangkat lagi,” ujarnya.

Melalui kolaborasi Kementan, TNI AL, DPR RI, pemerintah daerah, dan petani, pemerintah optimistis pengembangan kedelai nasional dapat dipercepat untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.(*)

Mentan Amran Pastikan Stok Beras Nasional Aman, Gudang Bulog Penuh, Stok 5,3 Juta Ton

TANIINDONESIA.COM, Surabaya, -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan stok beras nasional saat ini berada dalam kondisi aman dan melimpah. Hal tersebut disampaikan Mentan Amran saat menghadiri kegiatan Dialog Swasembada Pangan di Gudang Bulog Romokalisari, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/5/2026).

Di hadapan awak media, jajaran Bulog, akademisi, dan para pelaku pangan, Mentan Amran menekankan bahwa berbagai kebijakan penyederhanaan regulasi yang dilakukan pemerintah telah memberikan dampak nyata bagi petani Indonesia, khususnya dalam distribusi pupuk subsidi.

“Kebijakan pupuk, dari Menteri Pertanian ke produsen pupuk Indonesia, langsung ke petani. Itu hanya tiga langkah, dulu 145 regulasi yang mengatur. Nah ini satu saja, itu membahagiakan petani seluruh Indonesia,” kata Mentan Amran.

Menurut Mentan, keberpihakan pemerintah kepada petani memang tidak selalu menyenangkan semua pihak. Namun ia menegaskan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah sepenuhnya untuk kepentingan rakyat dan ketahanan pangan nasional.

“Yang tidak bahagia aku ngerti, kan pasti ada yang tidak senang. Saat Republik ini merdeka, ada yang berpihak pada Belanda, benar nggak? Mafia itu,” ujarnya.

Mentan Amran juga menyoroti berbagai keraguan terhadap data stok pangan nasional. Ia memastikan bahwa kondisi gudang Bulog yang penuh menjadi bukti nyata keberhasilan peningkatan produksi dan serapan gabah petani.

Baca Juga: Pulihkan Dampak Banjir Sultra, Mentan Amran Salurkan Bantuan Rp10 Miliar

“Kalau ada yang mengatakan ini diragukan stok yang ada sekarang, ini sewa gudang nih sekarang nih. Ini gudang yang kita lihat ini disewa, kenapa? Sudah full,” katanya.

Mentan menjelaskan kapasitas gudang Bulog lebih dari 3 juta ton, sementara stok nasional telah mencapai sekitar 5 juta ton sehingga pemerintah harus menyewa tambahan gudang hingga 2 juta ton.

“Kapasitas gudang lebih dari 3 juta ton, sekarang 5,3 juta ton, sudah sewa 2 juta ton. Kalau ini data tidak benar, Kepala gudang itu dipenjara tuh, langsung masuk,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mentan Amran mengungkapkan bahwa kondisi pangan Indonesia kini justru menarik perhatian negara lain. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menggandeng secara langsung perwakilan dari negara tetangga Malaysia yang menegaskan adanya permintaan beras dari Malaysia kepada Indonesia.

“Nah, ini ada saudara kita dari Malaysia. Ini minta beras 500 ribu ton.” ujar Mentan Amran.

Menurutnya, beberapa tahun lalu Indonesia masih melakukan impor sejumlah komoditas pangan. Namun kini kondisi mulai berbalik seiring peningkatan produksi nasional.

“Kebetulan tadi mau ketemu, saya bilang (ke dia) ke Surabaya. Ini orangnya dulu impor beras dari Indonesia. Sekarang saudara kita minta 500 ribu ton,” katanya.

Mentan Amran mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja keras pemerintah dalam memperbaiki tata kelola pangan nasional, mempercepat distribusi pupuk, memperkuat irigasi, serta meningkatkan serapan hasil panen petani.

Mentan juga menyoroti kondisi harga pangan dunia yang saat ini mengalami penurunan di banyak negara. Namun di tengah situasi tersebut, pemerintah Indonesia tetap berupaya menjaga kesejahteraan petani dengan memastikan harga gabah tetap menguntungkan.

“Dan menariknya, harga pangan dunia turun. Ada 33 negara yang konsumsi beras, itu harganya turun,” ujarnya.

Kegiatan dialog di Gudang Bulog Romokalisari tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat komitmen keberlanjutan swasembada pangan nasional sekaligus memastikan stok pangan nasional tetap aman di tengah dinamika global.(*)

Pulihkan Dampak Banjir Sultra, Mentan Amran Salurkan Bantuan Rp10 Miliar

TANIINDONESIA.COM, Kendari – Menteri Pertanian (Mentan) yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman menyalurkan bantuan senilai kurang lebih Rp10 miliar untuk mempercepat pemulihan warga dan sektor pertanian terdampak banjir di Sulawesi Tenggara (Sultra). Bantuan tersebut mencakup benih padi gratis untuk 2.000 hektare lahan, alat dan mesin pertanian, fasilitas pengering gabah (dryer), bantuan pangan, minyak goreng, hingga bantuan tunai bagi masyarakat terdampak banjir.

Mentan Amran turun langsung meninjau lokasi terdampak banjir di Kota Kendari bersama jajaran pemerintah daerah. Ia mengunjungi dua titik utama, yakni kawasan persawahan Amohalo di Kelurahan Baruga yang terendam banjir serta kawasan permukiman bantaran Kali Wanggu yang masih dipenuhi lumpur dan genangan air.

“Kami tahu laporan sejak subuh. Subuh kami telepon Ibu Wali Kota, kemudian Pak Gubernur dan Pak Wakil Gubernur bersama kami datang langsung ke lokasi. Masalah-masalah lapangan sudah kita putuskan semua, mulai pertaniannya, kemudian irigasi kami koordinasi dengan Menteri PU,” ujar Mentan Amran di Kota Kendari, Selasa (12/05/26).

Lahan pertanian yang terdampak banjir di Sultra sebanyak , 337 hektare lahan berada di kawasan Amohalo, dimana sekitar 151 hektare terendam akibat jebolnya tanggul irigasi.
Mengatasi jebolnya tanggul irigasi tersebut Pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) menargetkan perbaikan saluran irigasi dapat selesai dalam satu minggu agar petani segera kembali berproduksi.

Baca Juga: Politeknik Enjinering Kementan Percepat Tanam Serempak, Bangka Selatan Siap Panen Raya

Sebagai bentuk percepatan pemulihan, pemerintah pusat menyalurkan berbagai bantuan, antara lain benih padi gratis untuk lahan seluas 2.000 hektare di tiga kabupaten/kota terdampak, bantuan alat dan mesin pertanian berupa 20 unit hand traktor dan 5 unit combine harvester, serta bantuan dryer dari Perum Bulog untuk menyelamatkan hasil panen petani.

Selain bantuan sektor pertanian, pemerintah juga menyalurkan bantuan sosial berupa 30 ton bahan pangan pokok dan 1.500 liter minyak goreng untuk masyarakat terdampak banjir. Pemerintah juga turut memberikan bantuan tunai sebesar Rp500 juta bagi warga terdampak langsung di kawasan Wanggu dan sekitarnya.

“Kami kirim beras, minyak goreng, dan bantuan lainnya. Alat mesin pertanian, benih bibit untuk 2 ribu hektare. Mungkin kurang lebih Rp10 miliar bantuannya. Bantuan dryer juga kami siapkan,” jelas Mentan Amran.

Mentan Amran juga menyampaikan bahwa ia memiliki kedekatan emosionalnya dengan masyarakat Sulawesi Tenggara. Ia mengaku memahami kondisi warga karena pernah merasakan situasi bencana dan memiliki ikatan dengan daerah tersebut.

“Karena saya pernah merasakan bencana. Ada Rp500 juta seadanya, karena ini adalah kampung halaman saya. Kami tahu daerah ini, kami sering naik motor di sini,” tuturnya.

Lebih lanjut pemerintah memastikan penanganan pascabanjir dilakukan secara terpadu agar aktivitas masyarakat dan produksi pertanian di Sulawesi Tenggara dapat segera pulih kembali.(*)

Mentan Amran Rangkul dan Siapkan Mahasiswa Jadi Penerus Arah Pertanian Nasional

TANIINDONESIA.COM, Jakarta — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa mahasiswa merupakan kunci dalam menentukan arah masa depan bangsa, termasuk dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian nasional.

“Karena ini nanti memimpin menggantikan kita. Pemimpin masa depan. Kita harus isi mereka dengan hal-hal positif,” kata Mentan Amran dalam diskusi bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari seluruh Indonesia pada Rabu (6/52026).

Dalam forum yang dihadiri sekitar 100 perwakilan mahasiswa tersebut, Mentan Amran menekankan pentingnya membangun kolaborasi lintas generasi sejak dini. Ia menyebut pembangunan tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah tanpa melibatkan generasi muda.

“Ini tidak bisa kita bangun jalan sendirian, tapi butuh kolaborasi. Mahasiswa kita libatkan, kita beritahu apa program-program unggulan pemerintah, apa tujuannya, dan apa yang sudah dicapai hari ini,” ungkapnya.

Ia juga mendorong anak muda untuk menguatkan nasionalisme dan menjadi penerus dari program pembangunan pertanian. Oleh karena itu, generasi muda harus dipersiapkan sejak sekarang untuk melanjutkan pembangunan nasional secara berkelanjutan.

“Anak-anakku, kalian harus percaya diri, kalian hebat. Cita-cita digantung setinggi-tingginya, dikejar jangan diam. Anda yang menentukan nasib anda. Anda nanti yang melanjutkan perjuangan kita melawan mafia dan pihak yang merugikan bangsa,” tegasnya.

Baca Juga: Langkah Besar Politeknik Enjiniring Pertanian! AWG Singapura Jajaki Kerja Sama Tridharma Pertanian

Mentan Amran menambahkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting untuk mengawasi berbagai program pemerintah. Kata Mentan Amran, kritik dari berbagai pihak termasuk mahasiswa dibutuhkan, asal kritik tersebut bersifat membangun dengan berbasis informasi dan data yang aktual.

“Kalau ada yang keliru, ayo kita sempurnakan. Kami ingin menyampaikan fakta data. Negara butuh kritik konstruktif. Dulu aku janji 4 tahun swasembada, berubah 1 tahun, dan tahun ini kita sudah swasembada,” ungkapnya.

Oleh karena itu, dalam diskusi tersebut, Mentan Amran juga menegaskan bahwa berbagai program strategis pemerintah disiapkan tidak hanya untuk menjawab kebutuhan saat ini, tetapi juga sebagai fondasi bagi generasi mendatang. Salah satunya pengembangan hilirisasi pertanian. Mentan Amran mengungkapkan bahwa potensi hilirisasi sektor pertanian, termasuk komoditas strategis seperti sawit, akan menjadi ruang besar yang kelak dikelola oleh generasi muda.

“Ini sawit untuk generasi muda nanti. 3 juta kita sewa, kita olah, kita hilirisasi, itu nilai tambahnya luar biasa. Nilainya kurang lebih hampir kurang lebih 1.000 triliun nilainya. Dan itu untuk negara, untuk mereka nanti,” katanya.

Mentan Amran menutup dengan penekanan bahwa masa depan Indonesia berada di tangan mahasiswa hari ini. “Siapa yang mau lanjutkan, kalau bukan mahasiswa,” tutupnya.(*)

Mentan Amran Bersama Mahasiswa, Guru Besar, dan Pakar Pertanian Tinjau Gudang Bulog Jawa Timur: Hasilnya Luar Biasa!

TANIINDONESIA.COM, Sidoarjo -- Cadangan beras pemerintah (CBP) nasional saat ini tercatat mencapai 4,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, Jawa Timur menjadi salah satu kontributor terbesar dengan stok sekitar 1,2 juta ton. Di gudang Bulog wilayah Sidoarjo, kapasitas penyimpanan bahkan terlihat penuh hingga harus ditopang dengan penambahan gudang sewaan.

Sehari sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang Bulog di Magelang, Jawa Tengah, untuk memastikan langsung ketersediaan stok beras nasional. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi riil di lapangan.

Dalam peninjauan Presiden, rombongan melihat langsung gudang dengan kapasitas 7.000 ton yang terisi penuh. Temuan tersebut memperkuat keyakinan pemerintah bahwa stok beras nasional dalam kondisi aman

Capaian ini ditopang oleh kinerja produksi yang meningkat signifikan. Produksi beras nasional pada 2025 tercatat naik 4,07 juta ton atau 13,29 persen. Dengan total kekuatan stok beras nasional kini termasuk yang berada di masyarakat dan potensi panen, diperkirakan mencapai sekitar 28 juta ton, setara dengan ketahanan pangan hingga 11 bulan ke depan.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak para mahasiswa, guru besar, dan pakar pertanian di Jawa Timur untuk mengecek langsung gudang Bulog di Sidoarjo, Minggu (19/4/2026). Ia menegaskan bahwa stok beras yang melimpah saat ini merupakan capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mentan ingin seluruh elemen masyarakat dapat langsung melihat dan memastikan bahwa stok beras kita melimpah dan aman.

Di sela peninjauan, Koordinator Umum Aliansi BEM Delta Sidoarjo, Sultan Saladin Batubara, mengapresiasi capaian tersebut sekaligus menyampaikan pandangan dari sisi mahasiswa.

“Perhari ini kita tahu secara nasional, ini ada 4,9 juta ton, di bawah kepemimpinan Mentan. Dan menurut saya pribadi, ketika Jawa Timur 1,2 juta ton, ini berarti penyumbang beras terbanyak,” kata Sultan.

Kepada mahasiswa yang ikut mengecek gudang Bulog, Mentan Amran meminta mahasiswa melihat langsung kondisi riil di lapangan.

“Banyak enggak beras ini? Selama Republik Indonesia merdeka, baru sekarang begini ya? Tidak pernah terjadi kan?” ujar Mentan Amran.

Mahasiswa pun menjawab serempak, “tidak pernah terjadi.”

Mentan Amran menegaskan capaian tersebut terjadi di pemerintahan saat ini, sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam pengawasan distribusi.

Baca Juga: Drone Ambil Alih Penyemprotan! Mahasiswa Politeknik Enjinering Kementan Ikut Terjun di Lahan CSR

“Nah, sekarang distribusi tolong bantu kolaborasi. Yang penting dulu Anda lihat, cek seluruh gudang Indonesia dimanapun berada, silahkan mahasiswa, LSM, silahkan cek. Jangan kita beropini yang tidak benar,” katanya.

Menanggapi tawaran Mentan Amran, Sultan bersama mahasiswa lainnya menyatakan siap untuk ikut terjun dalam proses distribusi.

“kami sebagai mahasiswa siap menjadi mitra, pemerintah untuk mengawal pendistribusiannya langsung di lapangan.”

Mentan Amran juga menyinggung adanya pihak yang tidak menginginkan Indonesia berdaulat pangan.

“Tahu enggak? Memang ada orang tertentu tidak bahagia swasembada. Aku tanya mahasiswa, kira-kira siapa yang tidak bahagia kalau berdaulat pangan?”

Mahasiswa spontan menjawab, “Mafia, mafia beras, importir.”

Mentan Amran pun mengajak mahasiswa untuk bersikap tegas terhadap praktik tersebut.

“Jadi kita harus lawan ya? Iya dong mahasiswa, kita lawan mafia. Iya gitu, tantang, pokoknya tantang,” tegasnya.

Lebih lanjut, mentan Amran menekankan capaian swasembada beras didukung oleh data lembaga kredibel.

“Data ini bukan kementerian menyampaikan ini, bukan Bulog. Tapi boleh diverifikasi ke Bulog. Yang menyampaikan swasembada beras, yang pertama BPS, kemudian FAO. Kemudian USDA,” jelasnya.

Mentan Amran juga mengungkap kondisi gudang yang telah melampaui kapasitas hingga harus menyewa tambahan.

“Fakta ini kita lihat, penuh gudang, sewa gudang berapa tadi? 205 unit. Kapasitasnya? 615 ribu. Kita sewa karena gudang sudah penuh semua. Sekarang yang sudah diisi 250 ribu ton. Itu antre di luar,” ungkapnya.

Di akhir dialog, Amran kembali menegaskan pentingnya keberpihakan pada petani dalam menjaga kedaulatan pangan nasional.

“Kalau ada yang mengatakan tidak swasembada beras, berarti mau impor kan? Kalau mau impor, berarti dia pro pada petani negara lain. Berarti dia mengkhianati petani Indonesia yang 100 juta. Benar enggak?” pungkasnya.(*)

Pompanisasi Sukses Tingkatkan Produktivitas Padi di Magelang

TANIONDONESIA.COM, Magelang – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Magelang atas keberhasilannya meningkatkan produktivitas padi melalui program pompanisasi.

“Luar biasa Bupati Magelang. Pompanisasi sudah berjalan, yang sebelumnya hanya panen sekali kini bisa menjadi tiga kali dalam setahun. Ini karena pompa air sudah terpasang,” ujar Mentan Amran saat kunjungan kerja di Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (16/4/2026).

Ia menyoroti inisiatif pemerintah daerah dalam memanfaatkan sumber air sungai yang berada di bawah lahan sawah. Melalui pompanisasi, lahan pertanian kini dapat terairi sepanjang tahun tanpa bergantung pada hujan.

“Kalau tidak ada pompa, air hujan akan langsung mengalir ke sungai dan kembali ke laut. Seharusnya air itu kita manfaatkan untuk produksi pangan,” tegasnya.

Mentan Amran berharap program pompanisasi dapat diperluas ke berbagai daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan, sehingga frekuensi tanam bisa meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

“Kami telah menganggarkan Rp4–5 triliun untuk pompanisasi. Jika bisa menjangkau 1 juta hektare, maka potensi tambahan produksi mencapai 6 juta ton gabah,” jelasnya.

Ia optimistis strategi ini mampu meningkatkan produksi pertanian secara signifikan, sejalan dengan program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan rawa.

“Produksi bisa naik tajam hingga 13 persen melalui peningkatan luas tambah tanam,” tambahnya.

Menurutnya, konsep luas tambah tanam berarti lahan yang sama dimanfaatkan lebih intensif.

Baca Juga: Polbangtan Kementan dan UGM Sepakati Kolaborasi Strategis 3 Tahun, Fokus SDM dan Inovasi Pertanian

“Jika luas tanam bertambah 2 juta hektare dan setiap hektare menghasilkan 6 ton, maka akan ada tambahan 12 juta ton gabah atau sekitar 6 juta ton beras,” paparnya.

Program ini juga mendapat dukungan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa keberhasilan pompanisasi tidak lepas dari peran aktif penyuluh pertanian dalam mendampingi petani di lapangan.

“Penyuluh menjadi kunci dalam memastikan program pompanisasi berjalan optimal. Mereka tidak hanya membantu dalam aspek teknis penggunaan pompa, tetapi juga mendorong petani untuk meningkatkan indeks pertanaman dan mengelola air secara efisien,” ujarnya.

Ia menambahkan, BPPSDMP akan terus memperkuat kapasitas penyuluh agar mampu menjawab tantangan di lapangan, khususnya di wilayah tadah hujan dan daerah yang rentan terhadap perubahan iklim.

“Dengan pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, kami optimistis program pompanisasi dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sidodadi, Sarju, mengaku merasakan langsung manfaat program tersebut.

“Sebelumnya kami hanya mengandalkan tadah hujan dan airnya tidak mencukupi. Sekarang, sekitar 18–20 hektare dari total 24 hektare lahan sudah bisa terairi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pompanisasi turut meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi di wilayahnya.

“Dulu hanya bisa tanam sekali, sekarang sudah bisa sampai tiga kali dalam setahun,” katanya.(*)

Di Hadapan Saudagar Bugis Makassar, Mentan Amran Tegaskan Hilirisasi Kunci Indonesia Jadi Negara Kuat

TANIINDONESIA.COM, Makassar, -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi sebagai kunci utama untuk memperkuat ekonomi nasional, kemandirian energi, serta ketahanan pangan di tengah dinamika global. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI Tahun 2026 di Hotel Claro Makassar, Kamis (26/3/2026).

Di hadapan para pengusaha dan saudagar Bugis Makassar dari berbagai daerah dan negara itu, Mentan Amran menekankan bahwa Indonesia tidak boleh lagi hanya mengekspor bahan mentah, tetapi harus masuk pada tahap hilirisasi agar nilai tambah dinikmati di dalam negeri.

Menurutnya, sejumlah komoditas unggulan seperti kelapa, kelapa sawit (CPO), dan gambir memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi. Produk turunan seperti minyak olahan, santan, coconut water, hingga produk turunan industri lainnya dinilai mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan dibandingkan produk mentah.

“Kelapa kita kuasai dunia, nomor satu dunia. Masalahnya adalah kelapa dikirim bulat-bulat. Kalau ini diolah menjadi virgin coconut oil, coconut milk, coconut water, nilainya bisa puluhan sampai ratusan kali lipat. Air kelapa saja sekarang dijual mahal di luar negeri hanya karena packaging, padahal bahan bakunya dari Indonesia.” kata Mentan.

Selain kelapa, Indonesia juga menguasai sekitar 80 persen pasar gambir dunia, namun masih diekspor dalam bentuk setengah jadi sehingga nilai tambah dinikmati negara lain.

“Gambir itu 80% kita suplai dunia. Tapi yang dikirim setengah jadi. Kalau kita hilirisasi, nilainya ribuan triliun. Nilai tambah tertinggi itu ada di hilir, bukan di hulu.” ungkap Mentan Amran.

Mentan Amran juga menyinggung potensi besar hilirisasi kelapa sawit (CPO) yang menurutnya dapat mengubah peta ekonomi dunia karena Indonesia menguasai lebih dari 60 persen produksi CPO dunia.

“Kalau CPO kita olah semua menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60% pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan.” sebut Mentan Amran.

Mentan Amran menegaskan bahwa hilirisasi tidak hanya akan memperkuat ekonomi nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani, membuka lapangan kerja, serta memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional.

Baca Juga: Kopi Gayo Jadi Sorotan Kuliah Umum, Politeknik Enjiniring Pertanian Generasi Muda Didorong Terjun ke Pertanian

Ia juga menyampaikan bahwa perjuangan menuju swasembada dan hilirisasi tidak selalu mudah karena ada pihak-pihak yang tidak senang ketika Indonesia berhenti impor dan mulai mandiri. Namun demikian, ia memastikan bahwa pemerintah akan terus melanjutkan program hilirisasi, swasembada pangan, dan kemandirian energi sesuai arahan Presiden.

“Tidak semua orang senang kalau kita swasembada. Tapi kita akan lanjutkan perjuangan ini. Kita akan jadikan Indonesia besar melalui pangan, energi, dan hilirisasi. Di situlah masa depan ekonomi Indonesia.” ujar Mentan.

Keberhasilan Indonesia dalam memperkuat sektor pangan bahkan telah memberikan dampak terhadap harga pangan dunia karena Indonesia berhasil mengurangi impor beras secara signifikan.

“Dulu harga pangan dunia itu $660 per ton, turun menjadi $340, terakhir datanya $368, 44%. Artinya apa? Indonesia berkontribusi pada dunia itu menurunkan harga pangan, karena Indonesia tidak impor beras, sebanyak 7 juta ton kita impor berturut-turut, kurang lebih 100 triliun, dan ini menjadi 0, sehingga harga beras dunia turun 44%. Dan itu adalah kerja keras kita semua. Bukan saya, kami adalah bagian kecil dari republik ini.” Imbuh Mentan.

Keberhasilan Indonesia di sektor pangan tersebut juga mendapatkan pengakuan internasional melalui penghargaan ketahanan pangan dunia.

“Kemudian, alhamdulillah dapat penghargaan dari penghargaan tertinggi dunia, FAO. Itu dua kali berturut-turut, 2024-2025, dari penghargaan tertinggi dalam bidang ketahanan pangan dan penghargaan kontribusi terbaik dalam memperkuat sistem pangan global,” ujarnya

Seiring dengan pengakuan tersebut, minat negara lain untuk menjalin kerja sama di sektor pangan juga terus meningkat.

“Negara-negara lain berdatangan belajar. Jepang datang. Tidak pernah kunjungan ke Indonesia selama republik ini berdiri. Jepang, Kanada, Chile, Belarus, ini tidak pernah datang ke Indonesia, karena dia teknologinya hebat. Begitu datang, mereka datang belajar karena ada bukti yang kita tunjukkan.” sebut Mentan Amran

Mentan Amran menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan hal yang sangat strategis karena krisis pangan dapat berdampak pada krisis politik dan sosial.

“Kalau krisis ekonomi, Indonesia mampu bertahan. Kalau krisis kesehatan, COVID-19, Indonesia mampu bertahan. Tapi begitu krisis pangan akan melompat krisis politik dan konflik sosial bisa terjadi. Negara bisa runtuh kalau krisis pangan. Makanya Presiden kita sangat visioner, dari awal sudah bicara swasembada pangan dan swasembada energi.” papar Mentan Amran.(*)

Mentan Amran Rapat Hari Minggu Antisipasi Kekeringan dan Ketegangan Geopolitik

TANIINDONESIA.COM, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menggelar rapat pada hari Minggu untuk memastikan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan serta dinamika ketegangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi sektor pangan. Dalam rapat tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah terus memantau kondisi produksi dan stok pangan nasional secara intensif agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Berdasarkan data terbaru per Maret 2026, kondisi pangan nasional khususnya beras berada dalam keadaan aman. Produksi beras nasional tercatat berkisar antara 2,6 hingga 5,7 juta ton per bulan, lebih tinggi dari rata-rata konsumsi nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan. Total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai 27,99 juta ton, yang terdiri dari stok Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton.

“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Produksi kita tetap terjaga, bahkan dalam beberapa bulan bisa mencapai 5,7 juta ton, sehingga pasokan domestik sangat kuat,” ujar Mentan Amran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta.

Baca Juga: Wamentan Apresiasi Kinerja Penyuluh Sukseskan Swasembada Pangan

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan. Salah satunya melalui program pompanisasi yang telah menjangkau 1,2 juta hektare lahan pada tahun sebelumnya dan akan ditambah 1 juta hektare lagi pada tahun ini. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tambahan irigasi perpompaan (irpom) untuk 1 juta hektare lahan guna memastikan ketersediaan air bagi tanaman padi saat musim kering.

“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga. Kita juga tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi geopolitik global maupun potensi El Niño. Produksi kita kuat, stok kita aman,” tegasnya.

Menurut Mentan Amran, stok beras pemerintah juga terus meningkat dan diperkirakan dalam dua bulan ke depan dapat mencapai 5 juta ton seiring masuknya hasil panen raya di berbagai daerah. Selain itu, komoditas pangan lain seperti ayam dan telur juga berada dalam kondisi surplus, sementara ketersediaan pupuk dipastikan aman dengan harga yang bahkan turun sekitar 20 persen.

“Pupuk cukup dan bahkan harganya turun sekitar 20 persen. Ini menjadi motivasi besar bagi petani untuk terus menanam. Insya Allah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” pungkas Mentan Amran.(*)

Politeknik Enjiniring Kementan Turut Mengawal Program Ketahanan Pangan dalam Diskusi Strategis Nasional

TANIINDONESIA.COM, Bangka Selatan — Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) ikut hadir dalam Seminar Nasional Ketahanan Pangan yang diselenggarakan di Ballroom Gale-Gale Restaurant, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Kamis (5/3/2026). Seminar yang mengangkat tema “Mengawal Mandat Pangan: Harmonisasi Langkah Legislatif dan Petani dalam Program Ketahanan Pangan Era Presiden Prabowo” tersebut menjadi wadah diskusi strategis dalam memperkuat kolaborasi pembangunan sektor pertanian.

Kegiatan tersebut dihadiri kurang lebih 500 orang dari berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian, serta para penyuluh pertanian, petani, dan perwakilan lembaga pendidikan pertanian dari berbagai wilayah di Bangka Belitung, termasuk Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI).

Kehadiran PEPI dalam kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan perguruan tinggi vokasi Kementerian Pertanian dalam memperkuat pengembangan sumber daya manusia pertanian serta mendorong penerapan teknologi dan mekanisasi pertanian di lapangan. Melalui keterlibatan tersebut, PEPI turut berkontribusi dalam memperkuat kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah, penyuluh, dan petani dalam mendukung program ketahanan pangan nasional.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, seluruh elemen pembangunan pertanian didorong untuk bekerja lebih cepat, terukur, dan kolaboratif dalam mewujudkan ketahanan serta kedaulatan pangan nasional. Menteri Pertanian menegaskan bahwa peningkatan produksi pangan harus didukung oleh penguatan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, yang turut hadir dalam kegiatan ini menekankan bahwa penyuluh pertanian merupakan garda terdepan dalam mendukung program swasembada pangan berkelanjutan. Menurutnya, penyuluh memiliki peran strategis dalam melakukan pendampingan teknologi kepada petani, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pertanian, serta memperkuat kelembagaan petani di daerah.

Baca Juga: Dukung Swasembada Pangan, Politeknik Enjiniring Kementan Jadi Motor Percepatan LTT di Bangka Belitung

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia pertanian dalam mendukung program ketahanan pangan nasional. Menurutnya, lembaga pendidikan vokasi pertanian memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang kompeten, inovatif, dan siap terjun langsung dalam pembangunan sektor pertanian.

Direktur PEPI, Harmanto, mengatakan bahwa program Brigade Pangan memberikan dampak positif dalam menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Di Bangka Belitung, banyak anak muda yang sebelumnya bekerja di sektor pertambangan kini mulai tertarik menjalankan usaha di bidang pertanian karena dinilai memiliki potensi keuntungan yang menjanjikan.

Menurutnya, penyuluh pertanian diharapkan dapat mengawal Brigade Pangan agar berhasil dalam menjalankan usaha tani, termasuk membantu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi di lapangan. Fokus pendampingan diarahkan pada peningkatan indeks pertanaman dan produktivitas sehingga memberikan dampak yang signifikan bagi peningkatan kesejahteraan petani, khususnya generasi muda.

Penyuluh juga diharapkan terus bersemangat dalam mendampingi berbagai program utama Kementerian Pertanian dan mampu membuktikan bahwa kebijakan penarikan penyuluh ke Kementerian Pertanian memberikan dampak nyata bagi pembangunan sektor pertanian. Hal tersebut mencakup upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan, penguatan hilirisasi produk pertanian, serta pengembangan berbagai program strategis lainnya, ujar Harmanto.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa terbitnya Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2026 memberikan mandat kepada pemerintah daerah dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian. Pemerintah pusat bertugas menyusun Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK), sedangkan pemerintah daerah bertanggung jawab menjaga keberadaan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) serta tidak mengalihfungsikan BPP.

Sebagai bentuk motivasi, penyuluh yang mampu mencapai target kinerja akan diberikan penghargaan (reward). Hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kinerja penyuluh dalam mendampingi petani dan mengawal berbagai program pembangunan pertanian di lapangan.

Peran penyuluh dinilai sangat vital dalam mengawal berbagai program pembangunan pertanian, mulai dari pengawalan Luas Tambah Tanam (LTT), penyaluran dan pemanfaatan bantuan pemerintah, pendampingan petani, pengembangan hilirisasi, hingga pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi. Khusus untuk pupuk subsidi, proses verifikasi dan validasi penebusan harus melibatkan tim yang terdiri dari dinas terkait bersama penyuluh pertanian agar penyaluran tepat sasaran.

Seminar ini menjadi wadah diskusi strategis antara pemerintah, legislatif, penyuluh, lembaga pendidikan, serta pemangku kepentingan sektor pertanian lainnya dalam memperkuat sinergi guna mendukung program ketahanan pangan nasional. Kehadiran PEPI bersama BRMP Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan komitmen kuat dalam mendorong modernisasi pertanian serta kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan produksi pangan dan kesejahteraan petani di wilayah Bangka Belitung. (*)