21 April 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

Penas XVI di Padang, Presiden Jokowi dan Mentan Mendapat Apresiasi dari Petani

TANIINDONESIA.COM//Padang - Sejumlah petani yang hadir pada Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan Indonesia ke-XVI yang dihelat di Padang, Sumatera Barat menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah, khususnya Presiden Joko Widodo dan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Pasalnya, meski di masa pandemi sektor pertanian masih bisa berproduksi maksimal dan diandalkan menopang perekonomian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menyatakan apresiasi nya kepada para petani yang telah menjadikan sektor pertanian sebagai bantalan ekonomi di masa pandemi.

"Kita harus berterimakasih kepada petani, karena pertanian menjadi bantalan ekonomi dalam menghadapi pandemi," ujar Syahrul.

Ke depan, Syahrul melanjutkan, dunia akan dihadapkan pada ancaman krisis pangan global, di mana 30 persen produktivitas pertanian diprediksi akan terus menurun.

Kementan Dukung PENAS XVI 2023 Padang Lewat Rembug Utama

“Kita harus siap mengantisipasi perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global” ujar Syahrul.

Untuk itu manfaatkan Momentum Penas XVI sebagai ajang konsolidasi emosional para petani dari sabang sampai merauke agar semakin siap dalam menghadapi tantangan dunia pertanian.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menjelaskan jika program utama Kementan adalah juga untuk mengantisipasi El Nino dan antisipasi krisis pangan global sebagai dampak pandemi, perubahan iklim, perang Rusia-Ukrania.

"Untuk itu saya mengajak semua untuk menyamakan langkah dalam antisipasi masalah ini," sebut Dedi.

Apresiasi terhadap kinerja pemerintah disampaikan oleh petani yang hadir pada acara pembukaan Penas XVI, Sabtu pagi (10/6), Fauzi, petani berusia 58 tahun yang berasal dari Desa Galis Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Provinsi Jawa Timur mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi dan Mentan SYL menurutnya telah berupaya semaksimal mungkin dalam rangka mengangkat harkat dan martabat para petani.

"Dalam artian beliau berdua berupaya untuk kemajuan para petani dan meningkatkan hasil daripada petani," katanya, Sabtu, 10 Juni 2023 di acara pembukaan Penas, di Lanud Sutan Syahrir, Kota Padang.

40 Ribuan Petani dan Nelayan Bakal Hadiri Penas Petani Nelayan XVI 2023 di Sumbar

Fauzi berharap dengan pelaksanaan kegiatan Penas ini sebagai ajang nasional, peserta yang sebagian besar petani bisa menggali dan menyampaikan segala teknologi dan informasi.

"Atas nama petani kami sampaikan terima kasih Pak Mentan dan Pak Jokowi," imbuh Fauzi yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Sinta 2.

Hal senada disampaikan Suwarno, petani dari Desa Neranti, Kecamatan Renah Pamenang Kabupaten Merangin Provinsi Jambi.

Di mata Suwarno, Mentan SYL telah menggalakkan pertanian di desa-desa atau di provinsi-provinsi.

"Program pertanian terasa di desa-desa. Kami yakin itu gunanya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat," ujar Suwarno yang saat ini bersama anggota kelompok petani lainnya menggarap kelapa sawit.

Kementan Dukung PENAS XVI 2023 Padang Lewat Rembug Utama

TANIINDONESIA.COM//PADANG - Sebagai rangkaian Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan Indonesia ke-XVI di Padang, Sumatera Barat, Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) mengadakan Rembug Utama KTNA, Jumat (9/6/2023), di Auditorium Universitas Padang. Kegiatan

dibuka oleh Gubernur Sumatera Barat.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menilai PENAS memiliki peran yang sangat strategis.

"PENAS Petani Nelayan XVI harus menjadi bagian strategis dari upaya konsolidasi bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional ditengah ancaman krisis pangan," katanya.

Mentan menambahkan, kegiatan ini adalah bagian-bagian untuk mengkonsolidasi, kekuatan dan potensi pertanian.

"Khususnya untuk menjaga ketahanan pangan nasional kita,” ungkap Mentan lagi.

Mentan Syahrul juga berharap PENAS menjadi bagian untuk menghadapi tantangan sektor pangan.

“Acara PENAS harus menjadi puncak komunikasi emosional kita. Besok ada El Nino, besok ada warning terhadap krisis pangan dunia, karena cuaca ekstrim, serangan hama dimana mana. Oleh karena itu PENAS ini sangat penting untuk menyatukan visi dan pandangan kita dalam menghadapi berbagai tantangan,” tegas Mentan Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menjelaskan jika program utama Kementan adalah juga untuk mengantisipasi El Nino dan antisipasi krisis pangan global sebagai dampak pandemi, perubahan iklim, perang Rusia-Ukrania.

"Untuk itu saya mengajak semua untuk menyamakan langkah dalam antisipasi masalah ini," katanya.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, mengatakan seperempat pendapatan pemerintah daerah Sumbar berasal dari pertanian.

"57% pendapatan bergerak di sektor pertanian. Menyingkapi hal tersebut,
10% anggaran daerah dialokasikan pada pertanian dengan program prioritas di bidang pertanian," katanya.

Untuk itu, Mahyeldi berharap KTNA sebagai wadah petani dan nelayan mempunyai dampak dalam pembangunan pertanian.

"Pelaksanaan PENAS XVI harus menjadi ajang konsolidasi nasional bagi petani dan nelayan, sehingga dapat saling menginspirasi, memotivasi dan memanfaatkan jaringan yang dipunya untuk mensejahterakan petani dan nelayan," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua KTNA, M Yadi Sofyan Noor, mengatakan PENAS seharusnya dilaksanakan pada 2020, setelah sebelumnya 2017 di Aceh.

"Hari ini (Rembug Utama) adalah hari penting untuk menetapkan tuan rumah penas berikutnya," katanya.

Ia menambahkan, sebagai bagian dari rembug utama, diadakan workshop bersama eselon satu terkait Kementan dan KTNA yang hasilnya akan menjadi nota kesepahaman antara KTNA dengan Kementerian Pertanian.

Pada kesempatan tersebut KTNA memberikan penghargaan untuk para tokoh yang berdedikasi dan berpengaruh pada bidang pertanian Adibakti Petani Nelayan, sebanyak 15 orang yang diantaranya diberikan kepada Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru.

Kegiatan ini juga dihadiri Komisi IV DPR, Sumatera Barat, Sekretaris Daerah, Pengurus KTNA dan peserta rembug utama.

40 Ribuan Petani dan Nelayan Bakal Hadiri Penas Petani Nelayan XVI 2023 di Sumbar

TANIINDONESIA.COM//PADANG - Gelaran Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVI Tahun 2023 sudah di depan mata. Berbagai persiapan pun telah dirampungkan untuk menyambut event penting yang akan berlangsung di Kawasan Lanud Sutan Sjahrir, Padang, Sumatera Barat (Sumbar), pada 10-15 Juni 2023 mendatang.

Seperti diketahui, PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2023 menjadi bagian strategis dari upaya konsolidasi bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis pangan. Seperti dampak fenomena iklim El Nino yang berpotensi memberi ancaman kekeringan yang cukup parah terhadap pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan bahwa PENAS Petani Nelayan XVI harus menjadi bagian strategis dari upaya konsolidasi bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional ditengah ancaman krisis pangan.

“Ini adalah bagian-bagian untuk mengkonsolidasi, kekuatan dan potensi pertanian, didalam menjaga ketahanan pangan nasional kita”, ungkap Mentan Syahrul.

Dampak fenomena iklim El Nino berpotensi memberi ancaman kekeringan yang cukup parah terhadap pertanian, Mentan SYL menambahkan, selain iklim yang cukup ekstrim, ketegangan politik yang terjadi diberbagai belahan dunia turut memberi tantangan yang cukup besar terhadap pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan negara.

“Acara PENAS nanti ini harus menjadi puncak komunikasi emosional kita, bukan hanya konsepsi atau idealisme saja, besok ada El Nino, besok ada warning terhadap krisis pangan dunia, karena cuaca ekstrim, serangan hama dimana mana,oleh karena itu Penas ini sangat penting untuk menyatukan visi dan pandangan kita dalam menghadapi berbagai tantangan kedepan”, tegas Mentan Syahrul.

Selain iklim yang cukup ekstrim, ketegangan politik diberbagai belahan dunia juga turut memberi tantangan yang besar terhadap pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan negara.

Karenanya, gelaran PENAS Tani Nelayan 2023 ini diharapkan bisa menjawab berbagai tantangan yang tengah dihadapi oleh sektor pangan Indonesia. Momentum PENAS Petani Nelayan sangat penting untuk menyatukan visi dan pandangan seluruh masyarakat dan pemangku kebijakan dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa PENAS Petani Nelayan XVI merupakan ajang silaturahmi akbar pertani dan nelayan seluruh Indonesia dan juga forum unjuk gigi inovasi dan teknologi pertanian.

“Pada PENAS Petani Nelayan XVI akan ada berbagai macam acara para petani nelayan untuk unjuk gigi menampilkan berbagai macam inovasi teknologi. Disini petani tidak hanya akan menampilkan teknologi inovasinya, akan tetapi juga ada produk-produk pertaniannya, baik yang dalam bentuk natural maupun olahan. Bahkan “Smart Farming” sudah muncul di PENAS Petani Nelayan XVI, ujar Kabadan Dedi.

Kabadan Dedi menambahkan, PENAS Petani Nelayan XVI Tahun 2023 juga ada Rembug Madya yang akan mendiskusikan tentang pembangunan pertanian dan membicarakan apa yang akan diperbuat oleh KTNA untuk tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Selain itu akan juga ada dipertemukannya para petani yang di off farm dan on farm dari hulu sampai hilir di Temu Bisnis dan ini akan mempertemukan petani dengan para off taker, dan output dari Temu Bisnis adalah Kontrak Farming, yang istilahnya petani sudah mendapatkan “order”.

Selain itu, salah satu kegiatan yang akan ada adalah Pameran Pembangunan Pertanian. Kementan akan berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan menyajikan berbagai program dengan tema besar, yakni “Mitigasi, Adaptasi dan Dampak Perubahan Iklim”.

Pameran akan diisi dengan menampilkan langkah-langkah Kementan dalam menghadapi perubahan iklim yang ekstrim serta display berbagai macam komoditas pertanian yang dikemas secara epik, pemutaran video program dan capaian, hingga coffee corner lengkap dengan barista juga unjuk rasa untuk berbagai komoditas sampai dengan permainan atau games dengan alat mesin pertanian yang disajikan secara 3D.

Penas Petani Nelayan 2023 akan dihadiri petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, termasuk Gubernur, Bupati dan Walikota. Diperkirakan kehadiran peserta mencapai 40.000 an orang. PENAS Petani Nelayan merupakan forum pertemuan yang telah berlangsung sejak 1971, dan menjadi bagian yang strategis dalam upaya membangun kesepahaman diantara berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian maupun perikanan. (NF)

Pastikan Kesiapan PENAS XVI di Sumbar, Mentan SYL Minta Konsolidasi Ancaman Krisis Pangan

TANIINDONESIA.COM//SUMATERA BARAT - Pekan Nasional (Penas) XVI Petani dan Nelayan akan berlangsung di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), pada 10-15 Juni 2023. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, saat meninjau kesiapan lokasi di Lanud Sutan Syahrir Padang, menyebut bahwa Penas tahun ini harus menjadi bagian strategis dari upaya konsolidasi bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional ditengah ancaman krisis pangan.

“Ini adalah bagian - bagian untuk mengkonsolidasi, kekuatan dan potensi pertanian, didalam menjaga ketahanan pangan nasional kita” ungkap Syahrul usai meninjau lokasi bersama Gubernur Sumatera Barat, Walikota Padang dan Ketua KTNA.

Dampak fenomena iklim El Nino berpotensi memberi ancaman kekeringan yang cukup parah terhadap pertanian, Mentan SYL menambahkan, selain iklim yang cukup ekstrim, ketegangan politik yang terjadi diberbagai belahan dunia turut memberi tantangan yang cukup besar terhadap pembangunan sektor pertanian dan ketahanan pangan negara.

“Acara Penas nanti ini harus menjadi puncak komunikasi emosional kita, bukan hanya konsepsi atau idealisme saja, besok ada El Nino, besok ada warning terhadap krisis pangan dunia, karena cuaca ekstrim, serangan hama dimana mana,oleh karena itu Penas ini sangat penting untuk menyatukan visi dan pandangan kita dalam menghadapi berbagai tantangan ke depan” tegas Mentan SYL.

Sebagai tuan rumah perhelatan Penas untuk pertama kalinya, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, menyampaikan pandangan senada dengan Mentan. Ia menyebut Penas kali ini harus mampu menghadirkan hal - hal berbeda, dan menjadi momentum pembangunan pertanian yang adaptif, inovatif dan akseleratif.

“Seperti yang disampaikan Bapak Menteri tadi, Penas ini diharapkan dapat menghadirkan hal - hal yang berbeda, dan menjadi momen bagi kita dan kaum milenial untuk pertanian, makanya tadi kita menghadirkan smart farming dan beberapa teknologi baru dari berbagai Provinsi di Indonesia Termasuk di Sumatera Barat” terangnya.

Sebagai informasi, Penas Tani Nelayan 2023 akan dihadiri petani dan nelayan dari seluruh Indonesia termasuk gubernur, bupati dan wali kota. Diperkirakan kehadiran peserta mencapai mencapai 20.000 hingga 40.000 orang. Penas Tani Nelayan merupakan forum pertemuan yang telah berlangsung sejak 1971, dan menjadi bagian yang strategis dalam upaya membangun kesepahaman diantara berbagai pemangku kepentingan sektor pertanian maupun perikanan.(***)

Format Pertanian Masa Depan, Kementan Ajak Mahasiswa Polbangtan Terapkan Low Cost Presision Farming

TANIINDONESIA.COM//Yogyakarta - Ratusan Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) berkesempatan mendapatkan kuliah umum dengan materi "Pengembangan Smart Farming Berbasis Low Cost Precision Farming" dari Kepala Balai Pelatihan Pertanian (BPP) Lampung, Abdul Roni Angkat yang juga merupakan praktisi dan peneliti di bidang tersebut.

Terbaru, Kementerian Pertanian memang sedang gencar mendorong penerapan teknologi dalam meningkatkan produksi, terutama dalam masa menghadapi ancaman perubahan iklim dan El Nino. Salah satunya yaitu dengan memassifkan penerapan smart farming.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, smart farming adalah solusi pasti bagi peningkatan nilai tambah produk pertanian sekaligus meningkatkan efisiensi, sehingga perbaikan ekonomi dan peningkatan produksi bisa diwujudkan.

Menurut Syahrul, percepatan menuju pertanian modern dapat diwujudkan secara cepat apabila program tersebut dapat dikembangkan secara baik. Yang pasti, kata dia, efisiensi tenaga, waktu dan biaya produksi harus bisa diturunkan hingga 30 persen.

"Dengan efisiensi, marginnya bisa kita naikkan. Saya kira semua bisa kita wujudkan dengan kebersamaan. Dan ingat, pertanian itu memberi keuntungan dan memberi kebaikan," ujar Syahrul.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menjelaskan, salah satu implementasi smart farming yang sedang gencar dikembangkan yaitu low cost precision farming.

"Lebih khusus kita membangun terus precision farming, low cost precision farming yang sudah terbukti mendongkrak produktivitas pertanian, memperbaiki kualitas produk pertanian dan menjamin kontinuitas pertanian, sehingga tidak hanya kuantitasnya saja," tutur Dedi.

Low cost precision farming menurut penjelasan Abdul Roni merupakan sebuah konsep manajemen pertanian menggunakan teknologi modern untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian.

“Salah satu upaya dalam pemanfaatan teknologi saat ini yaitu dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT) untuk membantu proses pemantauan dan pengontrolan peralatan jarak jauh, namun juga dengan biaya yang murah, sehingga tidak membebani cost production,” jabarnya.

Oleh karena itu, Abdul Roni menekankan perlunya menciptakan sistem pertanian yang presisi untuk mewujudkan pertanian dengan biaya produksi yang terjangkau. “Konsep pertanian presisi adalah konsep pertanian dengan pendekatan sistem. Bagaimana kita dapat mengoptimalkan sumber daya dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. Semua harus diperhitungkan dengan baik. Data-data dikumpulkan dengan cermat, untuk kemudian diformulasikan ke dalam sistem teknologi yang dapat kita kendalikan dari jarak jauh,” ujarnya.

Sinergi Pembangunan Pertanian Nasional, Kementan Jajaki Kerjasama dengan Baznas

Lebih lanjut Roni menyontohkan, salah satu penerapan low cost precision farming yang sudah diciptakan dan dikembangkannya yaitu teknologi smart irrigation. Teknologi smart irrigation dibangun dengan menggabungkan teknologi pemindaian tanah, lingkungan, manajemen data, serta teknologi IoT dengan biaya yang relatif murah. Selain itu, sistem yang dikembangkan dapat memonitor besaran tegangan, arus dan besaran daya listrik.

“Komponen smart irrigation terdiri dari mikrokontroler, power supply, converter DC, modul relay, sensor kelembapan tanah dan sensor suhu dengan estimasi biaya pemasangan kurang dari Rp10 juta untuk lahan seluas 2.500 meter persegi. Setelahnya hanya perlu biaya maintenance saja,” terang Roni.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto, mengaku antusias untuk menerapkan low cost precision farming ini sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa.

“Kami berencana untuk menerapkan ini di salah satu green house yang ada di teaching factory kami. Ini penting sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa Polbangtan YOMA,” tandas Bambang.

Buka Wawasan di Dunia Pertanian, Ratusan Siswa SMK Kunjungi Polbangtan Kementan

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Dalam rangka mendukung upaya Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kesadaran dan minat generasi muda terhadap pertanian, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) Kementerian Pertanian menerima kunjungan ratusan siswa-siswi dari SMKN 1 Ngablak Magelang.

Terbukanya Polbangtan YOMA terhadap kunjungan semua lapisan masyarakat, termasuk kepada SMKN 1 Ngablak yang ingin belajar tentang pertanian, sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Menurut Mentan Syahrul, ada empat faktor penentu keberhasilan pendidikan vokasi.

Pertama adalah karakter yang tidak mudah menyerah dan memiliki jiwa yang tangguh. Faktor kedua adalah kompetensi.

"Oleh karenanya, Polbangtan dan SMKPP harus menciptakan generasi milenial yang mampu bekerjasama dengan pihak lain," kata Mentan Syahrul.

Ketiga, memiliki sifat kritis baik pada dirinya, dengan lingkungan dan semua masalah yang dihadapi, namun tetap sejalan dengan jiwa kebangsaan.

"Keempat adalah berpikir kreatif untuk berinovasi dengan meningkatkan literasi tentang sektor pertanian, manajemen keuangan, orientasi pasar dan sarana prasarana melalui dunia digital,” jelas Mentan Syahrul.

Terpisah, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menjelaskan, pendidikan vokasi menjadi salah satu upaya untuk mencetak dan menghasilkan petani milenial yang berkualitas dan berkompeten untuk mendukung upaya regenerasi petani Indonesia.

“Program regenerasi pertanian menjadi program prioritas dan strategis Kementan. kita cetak 2,5 juta petani milenial, kita tingkatkan kompetensi 2,5 juta petani milenial, kita tingkatkan kemampuan wirausahanya, budidaya dan kemampuan membaca strategi pemasaran,” kata Dedi.

Sinergi Pembangunan Pertanian Nasional, Kementan Jajaki Kerjasama dengan Baznas

Wakil Direktur I Polbangtan YOMA, Sujono, saat menyambut rombongan mengatakan bahwa peluang kerja sama selalu terbuka lebar dengan semua stakeholder, termasuk SMKN 1 Ngablak.

“Saya berharap kunjungan ini menjadi bermakna, agar kemudian terjalin komunikasi dan kerja sama yang baik di masa mendatang," harap Sujono.

Sujono juga menerangkan bahwa Polbangtan YOMA merupakan institusi pendidikan vokasi yang mengedepankan praktik dengan didukung Teaching Factory (TEFA) dan laboratorium pendidikan yang mumpuni.

“Polbangtan YOMA merupakan pendidikan vokasi di bawah Kementerian Pertanian yang menitikberatkan lulusannya agar dapat menjadi quality job seeker dan quality job creator. Sistem pembelajarannya lebih banyak praktik lapangan, baik terjun langsung ke lahan praktik, magang dan PKL ke DUDIKER (Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja),” terangnya.

Pada kesempatan itu Kepala Sekolah SMKN 1 Ngablak, Fahmi menuturkan bahwa kunjungan 275 siswanya ke Polbangtan YOMA merupakan salah satu dari rangkaian kunjungan industri dalam rangka memberikan wawasan dan gambaran mengenai kegiatan pembelajaran dan prospek pendidikan vokasi.

“Kami ingin membuka wawasan para siswa bahwa pertanian itu menjanjikan. Kami mohon supaya dapat diberikan wawasan supaya anak-anak kami termotivasi untuk melanjutkan di bidang pertanian,” jelas Fahmi.(*)

Sinergi Pembangunan Pertanian Nasional, Kementan Jajaki Kerjasama dengan Baznas

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menjalin sinergi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Dalam audensi yang berlangsung di Kantor Pusat Baznas, (23/5), ada tiga program yang disepakati dan akan ditindaklanjuti dengan Memorandum of Understanding (MoU).

Ketiga program itu adalah permodalan usaha berbasiskan syariah, sinergi program pendampingan usaha penerima manfaat dan peluang pasar dan offtaker usaha pertanian.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, sinergi program antara Kementan dengan Baznas dijalin dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan nasional. Menurut Mentan Syahrul, Baznas memiliki peluang yang cukup besar sebagai sumber alternatif permodalan usaha pertanian selain dari lembaga keuangan dan perbankan.

"Untuk mewujudkan pembangunan pertanian nasional yang maju, mandiri dan modern, maka diperlukan sinergi lintas sektoral. Kami senang, Baznas dapat terlibat secara aktif sebagai mitra Kementerian Pertanian untuk mendukung petani dalam mengembangkan usaha pertaniannya," kata Mentan Syahrul.

Dikatakannya, pertanian Indonesia kini menjelma menjadi sektor usaha yang menjanjikan. Adaptasi dengan teknologi dan pengelolaan yang dilakukan secara modern membuat sektor pertanian nasional berkembang pesat.

"Pertanian kini telah menjelma menjadi bisnis yang menjanjikan. Apalagi saat ini pertanian kita ditopang oleh generasi milenial yang mampu menyulap pertanian menjadi bisnis yang berkelanjutan," ujar Mentan Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menambahkan, nantinya Baznas diproyeksikan untuk menunjang penyediaan modal untuk petani, khususnya petani milenial.

"Kabar bahagia ini perlu kami sampaikan, bahwa Kementan melalui BPPSDMP bersama dengan Baznas akan menjalin MoU terkait permodalan usaha berbasis syariah untuk petani milenial program YESS, pendampingan usaha dan memperluas pasar usaha pertanian," terang Dedi.

Pelatihan Petani ke 13 juta, Mentan SYL Minta Semua Bersiap Hadapi El Nino

Sebagaimana diketahui, program YESS atau Youth Entrepreneur and Employment Support Services merupakan program kerja sama antara Kementerian Pertanian dengan International Fund For Agricultural Development (IFAD).

Program YESS dirancang untuk menghasilkan wirausahawan muda pedesaan serta menghasilkan tenaga kerja yang kompeten di bidang pertanian. "Melalui Program YESS ini, Kementerian Pertanian menciptakan wirausaha milenial yang tangguh dan berkualitas," tutur Dedi.

Dedi melanjutkan, program ini ditujukan bagi para pemuda, khususnya di wilayah pedesaan untuk mengembangkan perekonomian melalui kewirausahaan dan menambah peluang kerja.

"Dalam kurun waktu 2019-2025, pelaksanaan Program YESS menyasar 320.000 generasi muda di pedesaan. Tentu ini adalah peluang yang sangat besar untuk dapat dimaksimalkan. Nah, dalam kerangka itulah Baznas hadir bekerjasama dengan Kementan, dalam hal ini BPPSDMP," terang Dedi.

Kegiatan audiensi tersebut dihadiri Plt Direktur Pendistribusian Dan Pendayagunaan Layanan UPZ dan CSR Baznas Eka Budhi Sulistyo Sedangkan dari BPPSDMP diwakili Koord Komponen 3 Program YESS, Rizky Permana. Turut hadir diacara tersebut Bagian Kerjasama dan Tim Divisi Kemanusiaan Baznas.(*)

Pelatihan Petani ke 13 juta, Mentan SYL Minta Semua Bersiap Hadapi El Nino

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) membuka pelatihan petani dan PPL di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP Lembang). Sampai hari ini, sudah 13 juta penyuluh dan petani mengikuti pelatihan sebagai upaya pemerintah dalam memastikan ketersedian pangan utamanya menghadapi cuaca ekstrem el nino yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2023 mendatang.

Diketahui, pelatihan ini merupakan pelatihan yang sudah dilakukan sejak empat tahun lalu melalui program sejuta petani milenial BPPSDMP Kementan. Dalam arahannya, SYL meminta pelatihan tersebut dapat dilakukan serentak di seluruh Indonesia serta membentuk gugus tugas el nino dan melakukan mitigasi adaptasi.

"Pelatihan-pelatihan petani dan PPL ini harus terorganisir dengan baik sehingga seluruh insan pertanian memiliki kemampuan mengantisipasi berbagai tantangan yang muncul akibat el nino," ujar SYL, Selasa, 23 Mei 2023.

Kementan Siapkan Langkah Mitigasi dan Adaptasi El Nino di Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Volume 6

SYL mengatakan, pelatihan adalah langkah yang tepat dalam memberikan pemahaman el nino secara konkrit dan menyeluruh. Dengan begitu, petani dan penyuluh dapat menumbuhkan kepekaan serta sense of crisis dalam menghadapi semua persoalan.

"Saya juga minta agar jajaran SDM (BPPSDMP) mampu memanfaatkan jaringan Kostratani di berbagai level untuk mengaktualisasikan penerapan hasil pelatihan ini," katanya.

Sebagai informasi, cuaca ekstrem yang melanda dunia saat ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama adalah el nino atau fase hangat dan kedua el nina atau fase dingin. Saat ini, sekitar 10 persen dari wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau yang berlangsung di sejumlah sentra pertanian.

"Fenomena el nino merupakan ancaman serius terhadap produksi pangan, baik di subsektor tanaman pangan, peternakan dan perkebunan. Oleh karena itu, sekali lagi diperlukan langkah antisipasi dan adaptasi dengan pelatihan petani dan penyuluh," katanya.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa pelatihan ini secara khusus mengundang para mentor yang konsen di bidang perubahan cuaca seperti BMKG dan juga lembaga lainya. Dia berharap, pelatihan ini dapat membawa dampak baik terhadap kemajuan sektor pertanian Indonesia melalui pelatihan mitigasi dan adaptasi.

"Yang pertama saya menyampaikan terimakasih karena saat ini sudah mencapai 13 juta peserta. Kedua pelatihan kali ini dibuat khusus untuk menghadapi el nino. Kami undang juga BMKG dalam memastikan prediksi dan kondisi yang ada saat ini," jelasnya.

Kementan Siapkan Langkah Mitigasi dan Adaptasi El Nino di Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Volume 6

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menggelar pelatihan sejuta penyuluh dan petani sebagai langkah mitigasi ancaman El Nino yang akan terjadi di Indonesia.

Pelatihan itu akan diselenggarakan di BPPP Lembang pada tangga 23-25 Mei 2013. Pelatihan ini penting agar sektor pertanian tak terpengaruh meski El Nino mulai melanda Indonesia akhir Mei ini hingga puncaknya pada September-Agustus mendatang. Demikian yang disampaikan dalam konferensi pers yang dilakukan secara daring, Jumat (19/5/2023).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengaku telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk mempersiapkan mitigasi menghadapi musim kemarau ekstrem atau El Nino yang diperkirakan akan mencapai puncaknya Agustus mendatang.

"Saya meminta kepada jajaran untuk menyiapkan langkah mitigasinya. Dan saya kira, langkah-langkah tersebut telah disiapkan dengan baik. Kita berharap dampak yang ditimbulkannya tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional," kata Mentan Syahrul.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menjelaskan, masa musim kemarau ekstrem mulai melanda Indonesia pada akhir Mei hingga awal Juni. Hanya saja, skalanya masih rendah.

"Fenomena ini akan semakin menguat, hingga puncaknya terjadi pada Agustus-September. Oleh karenanya, seluruh stakeholder pertanian harus mengerti dan paham apa itu El Nino," terang Dedi.

Melalui pelatihan sejuta petani dan penyuluh ini Dedi berharap langkah mitigasi dan adaptasi yang telah disiapkan Kementan dapat diimplementasikan dengan baik di lapangan. Sebab, air merupakan faktor produksi penting dalam pertanian.

"40 persen faktor peningkatan produktivitas pertanian itu berasal dari pengairan atau irigasi. Maka keberadaannya sangat vital. Oleh karenanya El Nino ini harus diantisipasi dengan baik, karena sebagian besar sistem pengairan pertanian kita mengandalkan curah hujan," terang Dedi.

Jika air hujan berkurang, maka pertanian akan mengalami penurunan yang signifikan. Secara otomatis, produktivitas pertanian akan terancam.

Launching PT. Petani Milenial Sleman, Kementan Jadikan Bisnis Pertanian Ladang Cuan

Itu sebabnya, Dedi berharap melalui pelatihan ini petani, penyuluh dan insan pertanian paham dalam mengantisipasi serta melakukan tindakan mitigasi dan adaptasi terhadap El Nino, sehingga kita dapat meminimalisir dampaknya.

"Kalau kita paham mengantisipasinya, maka penurunan produktivitas tidak akan terjadi. Tapi kalau kita tidak paham, maka produktivitas pertanian kita akan turun signifikan," tutur Dedi.

Dikatakannya, El Nino membuat curah hujan berkurang signifikan. Maka salah satu upayanya adalah mencari sumber pengairan alternatif, di antaranya adalah pemanfaatan ground water atau air tanah dan air permukaan seperti danau, kolam, sungai dan lain sebagainya.

"Yang harus diingat juga, pemanfaatan air itu harus efisien dan hemat. Sawah itu tak harus tergenang terus. Berarti penggunaan air di lahan pertanian kita harus efisien. Kadang digenangi, kadang dikeringkan. Oksidatif dan reduktif harus seimbang," terang Dedi.

Di sisi lain, tanah yang berada di dekat akar harus relatif dalam kondisi lembab. Tujuannya agar pertanaman kita tetap segar. Oleh karenanya, harus dilakukan konservasi di wilayah tersebut.

"Bagaimana cara konservasinya? Bisa dengan menambahkan arang. 1 ton per hektare dia bisa memegang air 6 kubik. Di saat musim hujan dia dapat memegang air. Di saat musim kemarau air dilepaskan sedikit demi sedikit," tutur Dedi.

Selanjutnya, untuk wilayah kering Dedi menyarankan agar menggunakan irigasi tetes. Sedangkan untuk sayur-mayur menggunakan irigasi springkle. Sedangkan untuk bibit, Dedi mengajak petani untuk menggunakan varietas unggul yang tahan terhadap kondisi kekeringan.

"Maka penting bagi penyuluh agar pahan efisiensi penggunaan air dan ini harus disampaikan kepada petani. Inilah strategisnya pelatihan sejuta petani dan penyuluh ini. Agar kita semua waspada. Jangan sampai kita kekurangan pangan. Kita harus siap dengan tindakan mitigasi dan adaptasi," tandas Dedi.(*)

Launching PT. Petani Milenial Sleman, Kementan Jadikan Bisnis Pertanian Ladang Cuan

[caption id="attachment_410" align="alignnone" width="300"]Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi[/caption]

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Jaringan Petani Milenial Sleman gelar launching Badan Usaha dengan branding PT Petani Milenial di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.

Launching dihadiri langsung Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi.

Pembentukan Badan Usaha ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga konsistensi usaha petani milenial di wilayah Sleman. Pasalnya hingga saat ini jumlah petani milenial di Sleman sudah mencapai 800 orang lebih dan memerlukan wadah kolaborasi yang mumpuni.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyadari peran generasi muda dalam pembangunan pertanian sangatlah penting, untuk meningkatkan pertanian di Indonesia. Oleh karena itu, Kementan terus mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Pemuda sebagai generasi milenial harus memiliki motivasi dalam bidang pertanian untuk menggerakkan pertanian di Indonesia. Hadirnya petani serta wirausahawan pertanian milenial berperan penting dalam mendorong pengembangan jejaring usaha di wilayahnya. ujar Syahrul.

Menteri Pertanian menambahkan, transformasi mau tidak mau akan mengubah cara kita menjalani manajemen usaha pertanian, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. "Saya yakin di tangan generasi milenial pembangunan pertanian akan lebih mudah dicapai,” tutur Syahrul.

Pembentukan Badan Usaha ini selaras dengan arahan Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi. Dedi mengatakan setidaknya ada 3 amunisi utama untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

Pacu Semangat Usaha, Kementan Tinjau Young Ambassador Agriculture DIY

"Kita semua harus berupaya menjadikan pertanian itu menguntungkan, menghasilkan duit yang banyak. Setidaknya ada tiga amunisinya. Pertama yaitu petani milenial harus terapkan smart farming, karena dengan smart farming produktivitas akan meningkat, kualitas produk juga meningkat dan ongkos produksi bisa ditekan," jelas Dedi.

Amuni kedua, lanjut Dedi, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diibaratkannya sebagai bensin, "KUR itu bahan bakar usaha, kerjasama permodalan dapat memperbesar skala usaha."

Amunisi yang ketiga, yaitu kolaborasi. Dedi berharap jumlah petani milenial yang semakin bertambah dapat diimbangi dengan semangat kolaborasi yang tinggi.

"Saling belajar, yang sudah sukses diternak silahkan berbagi ilmu ke teman yang sedang merintis usaha ternak. Yang masih kesulitan dibudidaya sayur, belajar dengan yang sudah mahir. Kolaborasi, seperti yang saat ini kalian lakukan dengan membentuk badan usaha ini," ujarnya.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo yang berkesempatan hadir langsung juga berkomitmen mendukung pengembangan petani milenial di wilayahnya.

"Melalui wadah Badan Usaha ini tentu menjadi modal atau pegangan bagi anak-anakku petani milenial, untuk mengembangkan usahanya, berjejaring, dan mengakses permodalan", jelasnya.

Kustini juga mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Pertanian yang senantiasa aktif mendampingi kegiatan pembangunan di wilayah Sleman melalui Unit Kerja di Wilayah DIY, salah satunya melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA), "Kami harap kerjasama ini terus berlanjut dan berjalan apik", harap Kustini.

Pada kesempatan yang sama Taufik Mawadani, selaku Ketua Jaringan Petani Milenial Sleman turut mengatakan bahwa pembentukan PT Petani Milenial Sleman ini juga merupakan salah satu cara menjaga marwah dan amanah yang sudah diberikan untuk memastikan eksistensi petani milenial Sleman.

PT Petani Milenial Sleman yang terbentuk sejak Februari 2023 ini memiliki misi utama untuk memberi ruang bagi petani milenial dalam mengembangkan jejaring usaha.

"Fokus kami di pemasaran dan pelatihan. Kami berusaha menyambungkan petani milenial dengan off taker dan dipayungi secara legal oleh PT Petani Milenial. Kami juga konsen meningkatkan kemampuan anggota dengan mengadakan pelatihan, baik pelatihan teknis maupun manajerial," tandas Dani.

Kedepan Ia juga berharap PT. Petani Milenial Sleman terus berkembang pesat namun tidak meninggalkan cita-cita utamanya sebagai agrosociopreneur, "Tidak melulu berorientasi bisnis, tapi diimbangi dengan sosial." tandas Dani.