4 Juni 2026

Bulan: Juni 2026

Dialog di UNM, Mentan Amran Respons Cepat Suara Mahasiswa dan Dosen

TANIINDONESIA.COM, Makassar — Kuliah umum Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (3/6/2026), tidak hanya menjadi ruang berbagi gagasan tentang peran perguruan tinggi dalam menjaga swasembada pangan nasional yang berkelanjutan. Forum tersebut juga menjadi wadah bagi mahasiswa dan dosen untuk menyampaikan berbagai aspirasi masyarakat dan persoalan yang masih dihadapi petani di lapangan.

Dalam sesi dialog yang berlangsung terbuka dan interaktif, sejumlah mahasiswa dan dosen menyampaikan beragam persoalan, mulai dari distribusi pupuk subsidi, akses petani terhadap sarana produksi, hingga tantangan yang dihadapi masyarakat pertanian di daerah.

Seorang mahasiswi asal Bone menyampaikan keluhan warga terkait harga pupuk subsidi yang dinilai tidak sesuai ketentuan serta keterlambatan ketersediaan pupuk di wilayahnya. Persoalan pupuk juga dikeluhkan mahasiswa dari Enrekang yang orang tuanya petani. Ia mengungkapkan harga pupuk yang mahal untuk bawang merah.

“Di desa saya, pupuk subsidi Rp115 ribu per sak dengan tambahan transportasi. Kesediaan pupuk juga sering terlambat,” curhat mahasiswa bernama Ika asal Bone.

Menanggapi hal itu, Mentan Amran menegaskan tidak boleh ada pihak yang mengambil keuntungan dari hak petani. Ia langsung menginstruksikan Pupuk Indonesia untuk segera melakukan peninjauan dan tindakan tegas.

“Kasih namanya pengecernya. Pupuk Indonesia turun ke sana, begitu benar terbukti melanggar, langsung cabut izinnya. Kita tindak tegas. Hak petani harus kita jaga,” tegas Mentan Amran.

Selain itu, seorang mahasiswa asal Mamasa, Sulawesi Barat menceritakan perjuangan usaha singkongnya yang masih menghadapi kerugian. Perjuangan juga diceritakan seorang dosen UNM yang membagikan pengalamannya pernah mengalami kerugian lebih dari Rp100 juta akibat gagal dalam usaha budidaya bawang merah.

Alih-alih menyarankan untuk berhenti, Mentan Amran justru mendorong agar pengalaman tersebut dijadikan pelajaran untuk bangkit dan mencoba kembali. Menurutnya, keberhasilan sering kali lahir dari proses panjang yang tidak lepas dari kegagalan.

“Kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Banyak orang berhasil karena mau bangkit setelah jatuh. Yang penting terus belajar dan memperbaiki cara,” ungkapnya.

Baca Juga: Presiden Prabowo: Indonesia Sudah Swasembada Pangan, Siap Hadapi Tantangan Global

Sebagai bentuk dukungan, Mentan Amran memberikan tips berwirausaha bagi mahasiswa dan bahkan langsung menghubungi jajaran Direktorat Jenderal Hortikultura untuk membantu dan mengawal pengembangan budidaya bawang merah yang akan kembali dilakukan dosen tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, seorang dosen lainnya juga menyampaikan keluhan masyarakat terkait kualitas beras bantuan yang diterima warga. Mendengar hal itu, Mentan Amran meminta persoalan tersebut segera ditelusuri agar masyarakat mendapatkan bantuan pangan yang layak.

Bagi Mentan Amran, dialog seperti ini penting karena memberikan gambaran langsung mengenai kondisi yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah. Ia menegaskan bahwa keberhasilan menjaga swasembada pangan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah, tetapi juga oleh keterlibatan perguruan tinggi, mahasiswa, dan masyarakat dalam mengawal pelaksanaannya di lapangan.

Karena itu, ia mengajak kampus untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah melalui riset, inovasi, dan pengabdian yang mampu menjawab persoalan nyata di sektor pertanian.

“Perguruan tinggi memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan. Inovasi yang lahir dari kampus harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan petani,” katanya.

Dalam kuliah umum tersebut, Mentan Amran juga memaparkan berbagai capaian sektor pertanian nasional yang menjadi fondasi swasembada pangan berkelanjutan. Di antaranya stok beras nasional yang mencapai lebih dari 5,3 juta ton, peningkatan kesejahteraan petani, kemudahan akses pupuk bersubsidi, hingga peningkatan ekspor komoditas pertanian bernilai tambah.

Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa. Karena itu, swasembada pangan yang telah diraih harus terus dijaga dan diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, perguruan tinggi, dan masyarakat.

“Ini adalah kerja bersama. Swasembada pangan yang kita capai hari ini harus dijaga agar terus berkelanjutan dan memberi manfaat bagi generasi mendatang,” tutupnya.(*)

Presiden Prabowo: Indonesia Sudah Swasembada Pangan, Siap Hadapi Tantangan Global

TANIINDONESIA.COM, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada pangan dan memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai tantangan global dibandingkan banyak negara lain. Pernyataan tersebut disampaikan saat memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Gedung Pancasila, Jakarta Pusat, Senin (1/6/2026).

“Dan sekarang kita sudah swasembada pangan. Di mana banyak negara menghadapi kesulitan, kita sudah lebih siap,” ujar Presiden Prabowo.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa dan menjadi salah satu produsen berbagai komoditas strategis yang dibutuhkan dunia. Menurutnya, kekuatan tersebut harus menjadi modal untuk menghadirkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Kita memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Kita sudah mengerti kekayaan kita luar biasa. Kita adalah salah satu produsen terbesar komoditas-komoditas penting yang dibutuhkan dunia modern yang dibutuhkan oleh teknologi tinggi. Kita salah satu produsen terbesar mineral-mineral penting, tembaga, timah, emas, logam tanah jarang. Kita produsen kelapa sawit, batu bara, nikel, komoditas-komoditas pertanian lainnya yang sangat penting,” kata Presiden.

Meski demikian, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa kekayaan yang dimiliki Indonesia harus terus dioptimalkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat. Pembangunan ekonomi, menurut Presiden Prabowo, harus berjalan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan berpihak pada kepentingan rakyat.

“Kita harus mengakui bahwa terlalu lama kekayaan kita tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. Terlalu lama sebagian nilai tambah atas sumber daya kita dinikmati di luar negeri. Terlalu lama rakyat kita hanya menjadi penonton di atas kekayaan bangsanya sendiri,” ujarnya.

Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa pembangunan ekonomi harus mampu menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat, termasuk bagi petani yang menjadi ujung tombak dalam menjaga produksi dan pasokan pangan nasional.

“Petani kita harus memperoleh pupuk yang tepat waktu dan harga yang benar,” tegas Presiden.

Baca Juga: Stok Beras RI Tembus 28 Juta Ton, Wamentan Sudaryono Kebut Tanam 750 Hektar Padi di Lamongan Hadapi El Nino

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa penguatan ketahanan pangan nasional menjadi bagian penting dari strategi transformasi bangsa yang saat ini dijalankan pemerintah. Upaya tersebut dilakukan sejalan dengan penguatan hilirisasi sumber daya alam, koperasi, dan pembangunan ekonomi desa.

“Kita sedang dan akan menjalankan terus strategi transformasi bangsa. Strategi kita sejatinya adalah transformasi menjadi haluan yang sejalan dengan Pancasila. Kita memperkuat hilirisasi sumber daya alam. Kita membangun ketahanan pangan nasional. Kita memperkuat koperasi dan ekonomi desa,” kata Presiden.

Menurut Presiden Prabowo, pembangunan harus memastikan rakyat menjadi pelaku utama dan penerima manfaat dari kemajuan ekonomi nasional. Karena itu, penguatan sektor-sektor produktif, termasuk pertanian, menjadi bagian penting dalam mewujudkan pemerataan kesejahteraan dan kemandirian bangsa.

“Tidak ada negara yang merdeka tanpa kemakmuran. Kita tidak mau jadi bangsa yang tergantung oleh bangsa lain,” tegas Presiden Prabowo.

Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo, Kementerian Pertanian di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terus memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Melalui peningkatan produksi, optimalisasi lahan, modernisasi pertanian, serta penguatan kesejahteraan petani, Indonesia diharapkan mampu menjaga keberlanjutan swasembada pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.(*)