8 Juni 2026

Bulan: Agustus 2023

Peringati Dies Natalis, Polbangtan Kementan Dorong Sinergitas dengan Mitra

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Puncak Peringatan Dies Natalis ke-5 Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) berlangsung sangat meriah. Berlokasi di Kampus Pertanian Yogyakarta, rangkaian peringatan Dies Natalis ditutup dengan berbagai acara yang melibatkan berbagai pihak diantaranya mitra lembaga, DUDIKA, dan masyarakat luas.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berharap peringatan Dies Natalis ini dapat menjadi momen bagi Polbangtan YOMA untuk terus berinovasi.

"Pertanian tidak bisa digarap dengan cara yang begitu-begitu saja. Harus ada inovasi. Pertanian pun harus digarap dengan cara-cara modern sehingga produktivitas bisa ditingkatkan dan ketahanan pangan dapat terus terjaga," sebut Syahrul.

Baca juga: Siapkan Lahan 100 Ribu Hektare, Mentan SYL Andalkan Kalsel Antisipasi El Nino

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengatakan tantangan yang harus dijawab Polbangtan YOMA adalah menghadirkan SDM-SDM berkualitas.

"Faktor terpenting dalam pertanian adalah SDM. Oleh karena itu, kita harus terus menghasilkan SDM berkualitas. SDM yang ada pun terus kita tingkatkan kapasitas dan kemampuannya," tutur Dedi.

Ia menambahkan, dunia pendidikan seperti Polbangtan YOMA harus menjadi yang terdepan untuk menghasilkan SDM pertanian yang unggul.

"Tidak hanya unggul, SDM pertanian juga harus siap bersaing di dunia industri. Pertanian harus memiliki SDM terbaik untuk sektor ini dari hulu hingga ke hilir," katanya.

Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto, mengatakan bahwa melalui momentum perayaan ini merupakan salah satu upaya Polbangtan YOMA untuk mempererat sinergitas dan kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama mitra Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA).

Baca juga: Bantu Kekeringan di Indramayu, Kementan Gerak Cepat Bantu Optimalisasi Pasokan Air

“Keterlibatan dunia usaha dunia industri dan dunia kerja (DUDIKA) dalam mendukung kegiatan akademik di Polbangtan Yoma sangat luar biasa. Pelaksanaan magang, PKL yang dikemas melalui Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Pelaksanaan Tugas Akhir, Penyediaan tenaga pengajar dan praktisi bahkan sampai pada kontribuasi pada public hearing peninjauan kurikulum dan rekrutmen,” ucap Bambang.

Oleh karena itu, ia mengucapkan terimakasih dan berharap sinergitas ini bisa terjaling dengan lebih erat lagi antara Polbangtan Yoma dengan DUDIKA.

Mengusung tema Unity in Diversity From Polbangtan for Indonesia, kegiatan Closing Ceromony sekaligus dirangkai dengan kegiatan bazaar kewirausahaan dan launching Café Tamtani besutan Laboratorium Agribisnis Polbangtan YOMA.

“Pada kesempatan kali ini sekaligus kami jadikan mimbar ekspresi bagi civitas akademika Polbangtan YOMA. Selain penampilan seni budaya yang sifatnya rekreatif juga ada bazar kewirausahaan dan opening Café Tamtani sebagai ajang unjuk gigi produk-produk kewirausahaan mahasiswa dan juga sarana edukasi ke masyarakat luas,” pungkas Bambang.(***)

Siapkan Lahan 100 Ribu Hektare, Mentan SYL Andalkan Kalsel Antisipasi El Nino

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus memacu pemerintah daerah untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim ekstrim kekeringan (El Nino) agar tidak berdampak terhadap penurunan produksi pangan.

Provinsi Kalimantan Selatan sebagai salah satu lumbung pangan nasional menjadi perhatian serius Kementerian Pertanian (Kementan) RI untuk dilakukan pengawalan dan didorong menerapkan berbagai program terobosan yang operasional.

Hal ini disampaikan Mentan SYL pada rapat koordinasi antisipasi dampak iklim El Nino di Provinsi Kalimantan Selatan, Jumat (11/8/2023).

Baca juga: Bantu Kekeringan di Indramayu, Kementan Gerak Cepat Bantu Optimalisasi Pasokan Air

Rakor dihadiri Gubernur Kalsel H Sahbirin Noor beserta jajaran terkait lingkup Pemprov, Ketua DPRD Kalsel Supian HK, forum pimpinan daerah, dan seluruh kepala dinas pertanian di 13 kabupaten/kota se Kalsel, serta pihak terkait lainnya.

Mentan SYL menuturkan produksi pangan di Provinsi Kalsel sebenarnya tidak memiliki persoalan.

Kalsel adalah lumbung pangan nasional, khususnya sebagai penyangga pangan Pulau Kalimantan harus meningkatkan lagi pengalaman dan praktik-praktik yang sudah berjalan dengan baik dalam menanggulangi perubahan iklim ekstrem kekeringan.

“Provinsi Kalsel adalah salah satu daerah penopang pangan nasional, selain enam daerah lainnya. Saya minta Kalsel menyiapkan lahan untuk hadapi El Nino ini 100 ribu hektare, kita booster untuk menghasilkan pangan. Kita terapkan Tatik Laju yaitu tanam, petik, olah, jual. Kita susun agenda aksinya sampai dengan marketnya. Jangan hanya tanam saja. Hasilnya kita simpan di pergudangan yang ada untuk suplai kebutuhan masyarakat hingga Papua,” tuturnya.

Pertemuan terkait antisipasi iklim El Nino ini sangat relevan dan penting sekali, karena kalau tidak diantisipasi dengan baik, El Nino mempunyai dampak yang signifikan terhadap penurunan produksi minyak pangan.

Baca juga: Tingkatkan Produksi Bawang Merah, Polbangtan Kementan Panen Hasil Penelitian

Mentan juga menyebutkan Kementan memiliki beberapa upaya dalam mengantisipasi dan adaptasi dampak El Nino, yakni identifikasi dan mapping lokasi terdampak kekeringan, serta mengelompokkan menjadi daerah merah, kuning dan hijau.

Selanjutnya, percepatan tanam untuk mengejar sisa hujan dan peningkatan ketersediaan alsintan untuk percepatan tanam. Kemudian peningkatan ketersediaan air dengan membangun, memperbaiki embung, dam parit, sumur dalam, sumur resapan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier dan pompanisasi.

“Kita melawan El Nino ini juga dengan penyediaan benih tahan kekeringan dan hama penyakit, program 1.000 hektare adaptasi iklim, pengembangan pupuk organik, dukungan pembiayaan KUR dan asuransi pertanian, dan penyiapan lumbung pangan sampai level desa,” terangnya.

Bantu Kekeringan di Indramayu, Kementan Gerak Cepat Bantu Optimalisasi Pasokan Air

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat mengatasi kekeringan yang terjadi di Kabupaten Indramayu dengan mengoptimalisasi pasokan air yang ada. Kekeringan di Indramayu merupakan dampak dari fenomena El Nino yang melanda Indonesia.

Kondisi ini menyebabkan menyebabkan pasokan air irigasi menurun, sehingga menyulitkan petani mengelola tanaman padi. Bahkan, sejumlah lahan yang sudah siap untuk ditanami tidak kebagian air dan sengaja ditinggalkan oleh petani.

Direktur Irigasi Pertanian, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Rahmanto menjelaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait serta dengan petani.

"Nanti kita kawal agar PJT (Perum Jasa Tirta) II bisa menambah pasokan air irigasinya dan para petani lebih hemat dalam menggunakan irigasi supaya kondisi debit air yang sedikit ini bisa mencukupi Agar tanaman tidak ada yang mengalami puso. Harapan kita untuk mengawal pembagian air secara giliran supaya nanti ditaati. Prinsipnya adalah petani harus taat terhadap jadwal giliran air yang telah ditentukan oleh PJT II ," terang Rahmanto.

Baca juga: Tingkatkan Produksi Bawang Merah, Polbangtan Kementan Panen Hasil Penelitian

Rahmanto menjelaskan, pihaknya siap membantu menyediakan infrastruktur yang diperlukan bagi daerah-daerah terdampak kekeringan dengan menyediakan paket bantuan kepada petani.

Pertama adalah pompanisasi dan pipanisasi. Bantuan tersebut digunakan untuk menarik air dari sumber-sumber yang ada, baik dari sungai, air tanah maupun mata air, ujarnya.

Dia juga menyebut, petani serta Dinas Pertanian setempat harus bersinergi mengantisipasi kekeringan ini. Salah satu upaya nya adalah pengawalan gilir giring, penanganan illegal pumping, dan sosialisasi dalam mematuhi jadwal tanam.

Intinya, jika daerah-daerah yang terancam kekeringan memiliki sumber air, maka akan dibantu dengan pompa dan pipa.

Ini bisa menyelamatkan lahan sawah yang terancam gagal panen. Bila ada daerah lain juga membutuhkan, silakan ajukan permintaannya, katanya.

Rahmanto turun langsung meninjau keadaan lapangan bersama Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) beserta jajaran PUPR, jajaran BBWS Cimancis, Camat Losarang, dan para pengamat pengairan di areal lahan Pertanian Desa Ranjeng.

"Kita bersama-sama dengan seluruh stakeholder melihat kekeringan yang ada di Desa Ranjeng, Kecamatan Losarang. Kebetulan kunjungan kita juga dihadiri oleh Dirjen PSP dari Kementerian pertanian," kata Sugeng Heryanto.

"Kegiatan ini sesuai perintah dari ibu Bupati Indramayu Hj. Nina Agustina, SH. MH. CRA untuk memonitor adanya persoalan kekeringan sawah. Dan tadi memang kita lihat ada banyak sawah yang kondisinya terkena kekeringan di Desa Ranjeng ini," lanjutnya.

Menurut Sugeng, adanya kekurangan pasokan air yang ada di Desa Ranjeng ini salah satu diantaranya karena debit air yang berasal dari DI Rentang. Juga kendala lainnya adalah menghadapi anomali iklim, el nino, kemudian ada diantaranya sedimentasi yang sudah tinggi.

Baca juga: Rehabilitasi Lahan dan Ketahanan Pangan, Polbangtan Kementan Bagikan Ratusan Bibit Tanaman

"Saya sekarang sedang ada di pintu BT 19 untuk melihat dan menyusuri sampai dimana keadaan pasokan air untuk pertanian. Hari ini Desa Ranjeng dapat giliran. Mudah-mudahan dengan ini, kita akan coba upaya semampu kita. Dan harapannya semua stakeholder bergerak, masyarakatnya bergerak membantu merawat irigasi, tidak membuang sampah sembarangan, dan kami akan semaksimal mungkin berkontribusi bagaimana sawah ini selamat kabeh (semua)" tuturnya.

Sugeng mengaku sudah intens berkoordinasi dengan PJT II dan BBWS dalam mencukupi kebutuhan air lahan pertanian.

"Kita koordinasi dengan PJT II dan BBWS. Kita pun juga selalumengevaluasi dengan teman-teman UPTD, PPL terkaitperkembangan tanaman? mana yang kurang airnya? Mana yang sudah cukup? Termasuk juga edukasi kepada masyarakat yang kurang tertib," katanya.

Dia menilai banyak masyarakat yang memasang pompa sendiri untuk kebutuhan masing-masing. Hal ini dianggap mengganggu penyaluran air yang sudah dijadwalkan.

"Ini pun juga kita terus berikan binaan kepada mereka agar pada saat mengambil air sesuai dengan jadwal hilirnya. Kami selalu berkomunikasi dengan petani-petani. Sekarang juga kita memberikan edukasi kepada masyarakat melalui para kepala desa takutnya agar tadi itu yang memang prinsip pembagian air ini menjadi ranah di bawah Desa masuk ke irigasi tersier," jelasnya.(***)

Tingkatkan Produksi Bawang Merah, Polbangtan Kementan Panen Hasil Penelitian

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kementerian Pertanian melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA), melakukan panen bawang merah hasil penelitian strategis Dosen di wilayah Sleman, DI Yogyakarta.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memberikan apresiasi atas hal itu.
"Pertanian tidak boleh dilakukan dengan cara yang begitu-begitu saja. Harus ada inovasi agar produksi meningkat serta kualitas bertambah baik," katanya.

Untuk itu, Syahrul Yasin Limpo berharap penelitian terus dilakukan dosen-dosen Polbangtan lainnya.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP).

Baca juga: Rehabilitasi Lahan dan Ketahanan Pangan, Polbangtan Kementan Bagikan Ratusan Bibit Tanaman

"Suksesnya penelitian ini membuktikan jika peran SDM dalam pertanian sangat penting. SDM ada faktor pengungkit utama dalam peningkatan produktivitas pertanian," katanya.

Dengan alasan itu, sambung Dedi, BPPSDM selalu berupaya meningkatkan kualitas SDM.

"Baik itu melalui bimtek atau kegiatan yang lain yang bisa diikuti secara online maupun offline," kata Dedi.

Penelitian yang digawangi oleh Rajiman, salah satu Dosen Polbangtan YOMA, mengambil judul Pengaruh Pembenahan Tanah Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Bawang Merah serta Ketersedian Hara Tanah.

“Kesuburan tanah akan menjadi salah satu penentu produksi bawang merah. Sementara saat ini banyak lahan yang mengalami kerusakan akibat penggunaan input produksi pertanian maupun pencemaran lingkungan,” jelas Rajiman.

Lebih lanjut Rajiman mengatakan, upaya peningkatan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan pembenahan tanah dengan menambahkan pupuk kandang, arang sekam, maupun asam humat.

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang dituju, Rajiman bersama Tim telah merancang dan melaksanakan 7 perlakuan berbeda terhadap tanaman bawang yang dibudidayakan.

“Bedengan pertama sebagai kontrol, bedengan ke dua hanya diberikan perlakuan pupuk kandang, bedengan ke tiga hanya ditambah arang sekam, bedengan ke empat hanya asam humat, sementara bedengan ke lima sampai ke delapan merupakan kombinasi antara pupuk kandang dengan asam humat saja atau dengan arang sekam saja, dan kombinasi ketiganya,” rinci Rajiman.

Rajiman juga menekankan bahwa upaya pemilihan atau kombinasi penggunaan bahan pembenahan tanah perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi bawang merah.

Baca juga: Dorong Peremajaan Sawit Rakyat, Mentan: Nilai Sawit Kedepan Akan Semakin Tinggi

“Dari hasil panen hari ini nanti selanjutnya akan kami amati hasil dari masing-masing perlakuan, sehingga dapat diperoleh bahan pembenah tanah yang efektif dan efisien,” katanya.

Kegiatan Penelitian sebagai salah satu kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, merupakan salah satu pilar yang mendesak untuk dilakukan seiring dengan makin kompleksnya permasalahan pertanian di lapangan.

Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto, yang hadir langsung saat kegiatan panen mengatakan bahwa untuk menghadapi permasalahan pertanian ditengah-tengah kondisi yang seperti sekarang ini kita tidak boleh asal berspekulasi.

“ditengah-tengah kondisi global dan persaingan industry yang ketat ini, kita sebagai kademisi di bidang pertanian tidak boleh menghadapi permasalahan hanya dengan berbekal spekulasi, harus berdasar keilmuan, itulah mengapa penelitian dan pengembangan pertanian harus menjadi perhatian serius untuk kita,” tandas Bambang.(***)

Rehabilitasi Lahan dan Ketahanan Pangan, Polbangtan Kementan Bagikan Ratusan Bibit Tanaman

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kementerian Pertanian, melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA), memasifkan rehabilitasi lahan dan ketahanan pangan dengan membagikan bibit cabai dan jambu air ke sejumlah warga dan Kelompok Wanita Tani (KWT).

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Dies Natalis ke-5 Polbangtan YOMA.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyambut baik hal ini. Menurutnya, ketahanan pangan adalah isu yang serius.

"Ancaman akan ketahanan pangan tidak main-main. Perang, cuaca ekstrim dan lainnya bisa membuat pangan jadi terganggu. Oleh karena itu, kita mengajak semua insan pertanian melakukan antisipasi. Salah satunya dengan pembagian bibit ini," ujar Syahrul.

Pernyataan serupa disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi. Dijelaskannya, ketahanan pangan masih menjadi isu serius tahun 2024.

"Kita melihat ancaman yang bisa mengganggu pangan masih akan berlanjut tahun depan. Oleh sebab itu, kita mengajak insan pertanian, termasuk petani milenial untuk mengambil peran dalam menjaga ketahanan pangan," kata Dedi.

Baca juga: Dorong Peremajaan Sawit Rakyat, Mentan: Nilai Sawit Kedepan Akan Semakin Tinggi

Dedi berharap langkah yang dilakukan Polbangtan YOMA bisa menjadi inspirasi untuk kampus lainnya

"Atau bahkan lebih dikembangkan lagi agar pangan kita benar-benar tidak bermasalah," katanya lagi.

Sementara dalam kegiatan Polbangtan YOMA yang mengusung tema “Pohon untuk Kehidupan”, mahasiswa yang terdiri dari perwakilan BPM, BEM, dan Panitia Dies Natalis telah menyalurkan sejumlah 50 bibit tanaman jambu air kepada KWT Asoka dan Kelompok Tani Sumber Rejeki di wilayah Kemantren Gondokusuman.

“Tujuan diselenggarakan kegiatan ini yaitu untuk mendukung program penghijauan lingkungan dan meningkatkan keberhasilan rehabilitasi lahan serta perekonomian masyarakat,” ujar Alif Ibnu Sina, salah seorang panitia.

Selain bibit tanaman jambu, panitia juga membagikan sebanyak 870 bibit cabai dengan sasaran penyaluran yaitu warga RW 2 Kelurahan Tahunan.

Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto, berharap kegiatan ini tidak hanya sebagai media mengenalkan Polbangtan YOMA ke masyarakat luas.

"Tetapi juga dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pangannya dari pekarangan," tandas Bambang.

Dorong Peremajaan Sawit Rakyat, Mentan: Nilai Sawit Kedepan Akan Semakin Tinggi

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong peremajaan sawit rakyat. Ia menilai nilai sawit akan semakin tinggi ke depannya. Peremajaan sawit rakyat ini salah satunya dilakukan di Kabupaten Serdang Begadai, Sumatera Utara.

"Akselerasi peremajaan sawit rakyat terus kita galakkan, termasuk di Kab. Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Di sini juga kita dorong model tumpang sari dengan jagung sebagai tanaman sela," kata Syahrul dikutip dari akun Instagramnya, Minggu (6/8/2023).

Dia menyebut, nilai sawit akan semakin tinggi ke depan. Dia bilang, komoditas ini dibutuhkan dunia. Indonesia, kata dia, juga memanfaatkan sawit untuk bahan bakar dan lain-lain.

Baca juga: Kembangkan Smart Farming, Kementan Gandeng EPIS Korea

"Kita sadari nilai sawit akan semakin tinggi ke depannya. Sebab komoditas ini dibutuhkan dunia, dan negara kita juga memanfaatkannya untuk bahan bakar biodiesel dan kebutuhan lain. Makanya program ini harus benar-benar optimal," ujarnya.

"Saya berharap pengembangan sawit di Sumatera Utara ini dapat menjadi percontohan nasional guna mempersiapkan sawit yang lebih baik," sambungnya.

Di sisi lain, Indonesia juga tengah menyiapkan bursa CPO. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Didid Noordiatmoko menegaskan pembentukan bursa CPO agar Indonesia memiliki harga acuan sendiri. Ia mengatakan pembentukan itu bukan untuk menjatuhkan bursa CPO Malaysia.

"Kita tidak dalam posisi ingin menjatuhkan bursa Malaysia, tidak. Kita ingin punya harga acuan tersendiri, itu saja. Jadi, sekali lagi, tujuan utama CPO masuk bursa adalah supaya kita memiliki harga acuan kita tersendiri. Bahwa nanti harga acuan itu bisa mempengaruhi harga internasional," kata Didid dalam konferensi pers di Double Tree by Hilton Jakarta Pusat, Kamis (3/8).

Baca juga: Kementan Mulai Persiapkan Pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII

Didid mengatakan Indonesia dengan Malaysia sendiri tidak ada persaingan terkait CPO. Malah saat ini kedua negara tengah bekerjasama untuk memperjuangkan nasib CPO yang dijegal akibat kebijakan Uni Eropa yakni UU Anti-deforestasi.

"Itu, bahwa dengan Malaysia, ya kan, teman-teman kemarin waktu acara hari Selasa kemarin, itu CPO terkait dengan undang-undang deforestasi Uni Eropa, ya kan, Indonesia dengan Malaysia ini sekarang sedang sama-sama untuk memperjuangkan CPO di Uni Eropa. Sehingga, posisinya kita tidak bertentangan dengan bursa Malaysia," jelasnya.

"Tapi justru kita sama-sama memperjuangkan CPO. Kita sama-sama bersinergi memperjuangkan CPO. Jadi, seolah-olah kemarin ditulis bursa CPO nggak jadi-jadi karena saya takut dengan bursa Malaysia," tambah dia.

Hadirnya bursa CPO juga bertujuan agar CPO Indonesia lebih bisa bersaing di global. Apa lagi 50% produksi CPO global berasal dari Indonesia.

"Supaya CPO kita bisa diterima di sana. Nah, dan kita tambah satu lagi, kita ingin punya harga referensi, kan gitu. Nah, jadi, kami tentu akan berkolaborasi dengan bursa-bursa yang ada," terangnya.(***)

Kembangkan Smart Farming, Kementan Gandeng EPIS Korea

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian semakin serius melakukan pengembangan Smart Farming. Untuk mendukung hal itu, Kementan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menjalin kerjasama dengan pemerintah Korea Selatan.

Tanda tangan perjanjian kerjasama telah dilakukan Agustus 2021, antara BPPSDMP dengan Korea Agency of Education, Promotion and Information Service in Food, Agriculture, Forestry and Fisheries (EPIS KOREA).

MoU itu meliputi Project on Enhancing Millenial Farmer’s Income by Adopting K-Smart Farm technologies in Indonesia.

Proyek ini sangat penting. Karena, menjadikan petani milenial sebagai sasaran dalam penerapan teknologi Smart Farming yang di Korea dikenal sebagai K-SMART FARM Technology.

Baca juga: Kementan Mulai Persiapkan Pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII

Lokasi project berada di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Jawa Timur dan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor Jawa Barat.

Kerjasama ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan pertanian konvensional namun harus menggunakan smart farming dan digitalisasi.

"Guna menerapkan semua itu, maka peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian yang profesional, mandiri dan berdaya saing mutlak dibutuhkan untuk mewujudkan pertanian Indonesia yang maju, mandiri dan modern di masa depan," sebut Menteri Syahrul.

Salah bentuk kerjasama antara BPPSDMP dengan EPIS Korea adalah pelaksanaan Training K-Smart Farm di Korea. Training akan dilaksanakan pada 6-12 Agustus 2023. sebagai undangan dari Enhancing Milenial Farmers Income by Adopting K-Smary Farm Technologies in Indonesia.

Para peserta berasal dari pengelola proyek, dosen, widyaiswara dan pengusaha pertanian milenial dari Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan peserta serta untuk mempelajari pembangunan pertanian negara Korea yang telah mengaplikasikan teknologi tinggi dalam berusaha tani.

Saat pembekalan peserta pelatihan K Smart Farm Korea Selatan, di Hotel Ibis Style Jakarta, Sabtu (5/7/2023), hadir Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, didampingi Sekretaris Badan, Siti Munifah.

Hadir pada saat yang sama perwakilan dari Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pertanian, dan perwakilan dari EPIS Korea, Mr Han.

Kepada peserta training yang akan berangkat, Dedi mengatakan memasuki era industri 4,0, insan pertanian harus mulai memahami arti penting sistem digitalisasi serta teknologi dan inovasi.

"Persaingan yang ketat di tingkat global harus diimbangi dengan pola-pola pergerakan usaha baik itu usaha tani dan bisnis lainnya secara lebih efisien, lincah, dan produktif," katanya.

Ia menambahkan, teknologi dan inovasi sebagai modal utama dalam menarik generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian, baik secara keilmuan ataupun praktek langsung di lapang.

"Peran generasi milenial dalam pembangunan pertanian di era digital sangat penting sebagai kekuatan bagi ketahanan pangan. Untuk itu, Regenerasi Petani dan Petani Milenial masuk dalam Program Aksi BPPSDMP Tahun 2020-2024, melalui pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, penyuluhan, pemberdayaan P4S, Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), dan Youth Entrepreneur and Employment Support Services (YESS)," terangnya.

"Saya sudah sering sampaikan, Petani Milenial akan menjadi pelaku pembangunan pertanian, 10 tahun lagi tanggung jawab pembangunan pertanian ada di pundak kalian," tutur Dedi.

Ia menambahkan, masa depan pembangunan pertanian ada di Agribisnis. Sehingga, pengelolaan pembangunan pertanian tidak boleh lagi memakai cara cara yang konvensional tapi harus dikelola secara modern.

"Caranya bagaimana? Ada tiga cara, pertama Smart Farming, karena efisien dan terbukti mendongkrak produktifitas. Kedua permodalan, untuk mengembangkan usaha perlu didukung oleh permodalan dalam hal ini KUR," ujarnya.

"Yang ketiga adalah kolaborasi, kalian harus membuka jejaring usaha dengan sesama petani milenial diseluruh Indonesia. Saya yakin Smart Farming adalah masa depan pertanian untuk itu tugas kalian training di sana adalah mendalami smart farming," katanya.

Dedi meminta para petani Milenial mempelajari dan mencermati, varietas unggul di Korea, nutrisi, formulasi nutrisi, sistem nutrisi, media tanam, pupuk dan pemupukan dan terakhir pengendalian hama dan penyakit.

Baca juga: Mentan: Warga yang Meninggal di Papua Bukan Kelaparan Melainkan Diare

"Mungkin tidak semua yang kalian lihat di Korea dapat diterapkan di sini, namun pelajari esensinya, pelajari sistemnya, bagaimana membangun sistem, bila selama ini kalian sudah menerapkannya, bagaimana meningkatkan kualitas sekembalinya dari sana," katanya.

"Terapkan pengetahuan smart farming yang kalian dapat di sana, dan sesuaikan dengan kondisi di lapangan," ujar Dedi lagi.

Selama 7 hari training peserta akan mendapatkan materi mengenai perkembangan pengembangan pertanian di Korea Selatan, Smart Farming dan Pemasaran, Sukses Story Start Up Smart Farming dan petani korea, pengembangan pendidikan pertanian, sharing session dengan praktisi, akademisi dan petani dan pelaku bisnis pertanian.

Selain itu Peserta akan diajak mengunjungi antara lain Perkebunan Strawberry Pocheon, Hanaro Mart di Yangjae-dong salah satu distributor untuk produk pertanian, Perkebunan Green Monster dengan komoditas Ketimun, Korea National University of Agricultural and Fisheries, Gimje Smart Farm Innovation Valley (Venture Incubation Center),Gyulkkane Farm dengan komoditas Citrus dan Cultilabs dengan komoditas Tomat.

Kementan Mulai Persiapkan Pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai langkah persiapan pelaksanaan PENAS Petani Nelayan. Sesuai dengan hasil Rembug Utama PENAS Petani Nelayan XVI Padang Sumatera Barat, disepakati bahwa pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII Tahun 2026 adalah Provinsi Gorontalo.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SY) mengatakan bahwa PENAS Petani Nelayan memiliki peranan yang sangat strategis dan harus menjadi bagian dari upaya konsolidasi bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional ditengah ancaman krisis pangan dan fenomena El Nino.

Mentan Syahrul menambahkan, PENAS Petani Nelayan adalah bagian-bagian untuk mengkonsolidasi, kekuatan dan potensi pertanian. Khususnya untuk menjaga ketahanan pangan nasional kita.

“PENAS Petani Nelayan harus menjadi puncak komunikasi emosional kita dan menjadi sangat penting untuk menyatukan visi dan pandangan kita dalam menghadapi berbagai tantangan”, tegas Mentan Syahrul.

Baca juga: Mentan: Warga yang Meninggal di Papua Bukan Kelaparan Melainkan Diare

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa PENAS Petani Nelayan diharapkan menjadi komitmen bersama untuk mempercepat pembangunan pertanian dalam berbagai program dan kebijakan disetiap daerah untuk mengantisipasi krisis pangan global serta menjaga kemandirian serta kedaulatan pangan nasional.

Selain itu, berbagai inovasi dan teknologi yang ditampilkan PENAS Petani Nelayan dapat didiseminasikan dan diimplementasikan di daerah asal masing-masing.

Kabadan Dedi mengajak seluruh petani, nelayan hingga pelaku usaha tani untuk mulai menentukan rencana tindak lanjut dalam mengembangkan usaha agribisnis, perikanan guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta kemandirian dan daya saing petani serta nelayan.

Harapannya agar dapat menggerakkan perekonomian pedesaan serta menciptakan lumbung pangan berbasis komoditas lokal di daerah masing-masing

Sebagai langkah awal pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Kapusluhtan), bersama-sama dengan Ketua Umum KTNA Nasional, Ketua KTNA Provinsi Gorontalo dan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo melakukan audiensi dengan PJ Gubernur Gorontalo pada Kamis (03/08/2023) di Rumah Jabatan Kantor Gubernur Gorontalo.

Pejabat Gubernur Gorontalo, Ismail Pakaya menyampaikan bahwa prinsipnya provinsi Gorontalo siap untuk meniadi tuan rumah PENAS Petani Nelayan XVII tahun 2026. Kita akan segera menyiapkan segala sesuatunya terkait pelaksanan PENAS Petani Nelayan nanti. Kami akan segera membagi tugas untuk menyiapkan PENAS Petani Nelayan.

Calon lokasi PENAS XVII selaku tuan rumah sudah kami sampaikan kepada Ketua KTNA dan Kementerian Pertanian, yaitu Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango, tinggal menunggu hasil evaluasi dan keputusannya.

Dari sisi penganggaran persiapan pelaksanaan kegiatan kami akan mulai dari tahun 2024 hingga 2026. Tentunya kami juga memahami bahwa pada 2024, kita akan melaksanakan pesta demokrasi sehingga mungkin perlu juga jadi perhatian saat penyusunan anggaran, ujar Ismail.

“Mudah-mudahan pada tahun 2025 Gubernur Gorontalo definitif bisa melanjutkan persiapan pelaksanaan PENAS Petani Nelayan, karena ini menyangkut nama daerah yaitu Provinsi Gorontalo. Apalagi PENAS Petani Nelayan adalah hajat nasional petani Indonesia”, ungkapnya.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Bustanul Arifin Caya menyampaikan bahwa audiensi dilakukan dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII Tahun 2026. Sesuai dengan hasil kesepakatan Rembug Utama di Kota Padang Sumatera Barat, bahwa pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII adalah Provinsi Gorontalo. Pada prinsipnya yang menjadi hal-hal persyaratan pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII dapat dipenuhi oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Koordinasi harus sering dilakukan, termasuk dukungan anggaran dan Gubernur sangat siap dan berkomitmen untuk melaksanakan serta mensukseskan PENAS Petani Nelayan XVII, ujar Bustanul.

Baca juga: Antisipasi Dampak El Nino, Mentan Minta Pemprov Lampung Ikut Berkontribusi Penuhi Kebutuhan Pangan

Hari ini kami telah melakukan kunjungan ke calon lokasi tempat pelaksanaan PENAS Petani Nelayan dan nantinya lokasi-lokasi tersebut akan dievaluasi secara bersama-sama untuk dapat ditentukan lokasi mana yang sesuai dan memenuhi kriteria.

Bustanul berharap dengan dilaksanakannya PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memberikan keuntungan bagi masyarakat Gorontalo sekaligus mempromosikan Gorontalo. Karena nantinya akan dikunjungi oleh petani nelayan dari seluruh Indonesia.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Umum KTNA Nasional, M. Yadi Sofyan Noor yang sangat yakin bahwa Pemerintah Gorontalo siap dan mampu melaksanakan PENAS Petani Nelayan XVII.

“Petani selalu siap dan sudah berjuang secara organisasi. Saat ini hanya tinggal menunggu arahan dari Pemerintah saja”, ujarnya.

Sofyan sangat berharap agar semua masyarakat Indonesia mengenal PENAS Petani Nelayan secara keseluruhan. Dimana didalam PENAS Petani Nelayan itu ada transaksi-transaksi secara besar-besaran antara petani nelayan di seluruh Indonesia dengan stakeholder atau pengusaha pertanian, pameran hasil pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan, temu-temu usaha dan agribisnis serta gelaran teknologi dan lain sebagainya. Jadi bukan hanya sekedar hura-hura saja, tutup Sofyan.(***)

Mentan: Warga yang Meninggal di Papua Bukan Kelaparan Melainkan Diare

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengungkap penyebab enam warga meninggal di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Syahrul mengatakan, menurut laporan, keenam warga itu meninggal akibat diare.

"Saya habis dua-tiga hari, dua hari terakhir ini ngecek banget apa itu kelaparan membuat dia meninggal. Kok kalau meninggal kelaparan kok cuma satu keluarga? Jadi kelaparan itu bersifat masif. Oleh karena itu, yang ada menurut laporan dari sekwilda dan kadis setempat bukan kelaparan. Diare," kata Syahrul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (2/8/2023).

Syahrul menuturkan keenam warga itu mulanya mengalami muntah, kemudian mereka mengalami diare dan dehidrasi.

"Hari pertama dia muntah. Siangnya 20 kali; 10-20 Kali. Malamnya dia diare. Dehidrasi. Itu yang saya tahu," ujarnya.

Kementan pun sudah melakukan langkah darurat untuk mengatasi kelaparan di dua distrik di Kabupaten Puncak. Syahrul mengatakan pihaknya juga akan memberikan bantuan kepada warga.

"Bahwa ada langkah kita ke sana iya. Langkah darurat untuk mem-backup mereka selama 3 bulan. Kan jumlah orangnya juga nggak banyak. Yang kedua temporary agenda saya akan mobilisasi kurang lebih 10 ribu polybag. Tanaman polybag di sekitar halaman rumah. Karena di sana 6 distrik. Satu distrik yang bersoal," tutur Syahrul.

Baca juga: Antisipasi Dampak El Nino, Mentan Minta Pemprov Lampung Ikut Berkontribusi Penuhi Kebutuhan Pangan

"Dan kita juga tidak boleh gegabah kan karena ini di Puncak sana dan ada masalah sedikit di sana. Saya punya konsentrasi di Timika sekarang untuk bisa mensuplai. Agenda ketiga, permanen agenda saya akan buat lahan penyangga di sana," imbuh dia.

Syahrul melanjutkan, warga di Puncak juga sudah terbiasa dengan cuaca ekstrem di sana. Karena itu, diyakini bahwa tewasnya enam warga itu akibat muntaber. Kendati demikian, dia memastikan akan melakukan pemantauan di wilayah tersebut.

"Dan saya kira kalau di Puncak itu masalah hujan es dan lain-lain setiap tahun seperti itu. Jadi ini menurut saya, tapi mari temen-temen mengecek, bukan karena kelaparan, tapi karena muntaber," kata Syahrul.

Sebelumnya, diberitakan bahwa bencana kelaparan melanda dua distrik di Puncak, Papua Tengah. Enam orang pun dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan tersebut.

Syahrul melanjutkan, warga di Puncak juga sudah terbiasa dengan cuaca ekstrem di sana. Karena itu, diyakini bahwa tewasnya enam warga itu akibat muntaber. Kendati demikian, dia memastikan akan melakukan pemantauan di wilayah tersebut.

"Dan saya kira kalau di Puncak itu masalah hujan es dan lain-lain setiap tahun seperti itu. Jadi ini menurut saya, tapi mari temen-temen mengecek, bukan karena kelaparan, tapi karena muntaber," kata Syahrul.

Sebelumnya, diberitakan bahwa bencana kelaparan melanda dua distrik di Puncak, Papua Tengah. Enam orang pun dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan tersebut.(***)

Antisipasi Dampak El Nino, Mentan Minta Pemprov Lampung Ikut Berkontribusi Penuhi Kebutuhan Pangan

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta Provinsi Lampung ikut serta berkontribusi memenuhi kebutuhan pangan nasional dalam menghadapi ancaman dampak fenomena El Nino.

"Kehadiran saya di Lampung ini dalam rangka melakukan gerakan nasional menghadapi El Nino sesuai perintah Presiden ada enam provinsi utama dan empat yang menjadi penyangga pangan saat El Nino," ujar Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri rapat koordinasi antisipasi dampak El Nino Provinsi Lampung di Lampung Tengah, Rabu.

Ia mengatakan Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah yang ditunjuk sebagai penyangga pangan dalam menghadapi El Nino bersama dengan Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.

Baca juga: Penarikan Mahasiswa Magang, Polbangtan Kementan Ramaikan Pasar Aksata Boyolali

"Dalam menghadapi El Nino, kita membutuhkan konsentrasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Lampung sebagai daerah penyangga pangan langsung ke Pulau Jawa kata kunci utamanya adalah harus ikut serta berkontribusi untuk menunjang kepentingan nasional," katanya.

Dia menjelaskan dipilihnya Lampung dan beberapa daerah sebagai penyangga pangan itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya penurunan produksi secara nasional dari berbagai daerah, sebagai dampak fenomena El Nino.

"Kami mempersiapkan berbagai hal terkait dampak El Nino, dan provinsi ini dipilih karena 'buffer stock' beras dan tren produktivitasnya bagus. Lampung ini harus ikut mendukung secara nasional sebab kalau untuk lokal sendiri dalam menghadapi El Nino pasti selesai tapi kami butuh bantuan secara nasional," ucapnya.

Menurut dia, pihaknya menawarkan beberapa skema kepada Pemerintah Provinsi Lampung dan kabupaten untuk melakukan intensifikasi lahan pertanian dalam menghadapi El Nino.

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Jagung Hibrida, Kementan dan PT Bayer Indonesia Jalin Kerjasama

"Di Provinsi Lampung ini kami menawarkan intensifikasi lahan pertanian bisa 30 ribu hektare, 50 ribu hektare atau 100 ribu hektare. Kalau gubernur atau bupati mau boleh, bila bisa beberapa kabupaten saja agar lebih fokus dikerjakan. Bagi kami intensifikasi lahan pertanian seluas 30 ribu hektare saja sudah cukup," ujar dia.

Ia berharap jika lahan pertanian minimal seluas 100 hektare dapat diintensifikasi dengan baik maka dapat berkontribusi kepada rakyat dengan perputaran ekonomi yang mencapai Rp30 miliar.

"Karena itu dalam menghadapi El Nino ini Lampung harus menjadi daerah terbaik dalam peningkatan produksi dan kelihatannya pemerintah daerah sangat serius serta antusias membantu kepentingan nasional dalam mencegah adanya kekurangan pangan di masa kekeringan," tambahnya.(***)