20 Juli 2024

Dorong Peremajaan Sawit Rakyat, Mentan: Nilai Sawit Kedepan Akan Semakin Tinggi

0

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA – Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong peremajaan sawit rakyat. Ia menilai nilai sawit akan semakin tinggi ke depannya. Peremajaan sawit rakyat ini salah satunya dilakukan di Kabupaten Serdang Begadai, Sumatera Utara.

“Akselerasi peremajaan sawit rakyat terus kita galakkan, termasuk di Kab. Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Di sini juga kita dorong model tumpang sari dengan jagung sebagai tanaman sela,” kata Syahrul dikutip dari akun Instagramnya, Minggu (6/8/2023).

Dia menyebut, nilai sawit akan semakin tinggi ke depan. Dia bilang, komoditas ini dibutuhkan dunia. Indonesia, kata dia, juga memanfaatkan sawit untuk bahan bakar dan lain-lain.

Baca juga: Kembangkan Smart Farming, Kementan Gandeng EPIS Korea

“Kita sadari nilai sawit akan semakin tinggi ke depannya. Sebab komoditas ini dibutuhkan dunia, dan negara kita juga memanfaatkannya untuk bahan bakar biodiesel dan kebutuhan lain. Makanya program ini harus benar-benar optimal,” ujarnya.

“Saya berharap pengembangan sawit di Sumatera Utara ini dapat menjadi percontohan nasional guna mempersiapkan sawit yang lebih baik,” sambungnya.

Di sisi lain, Indonesia juga tengah menyiapkan bursa CPO. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Didid Noordiatmoko menegaskan pembentukan bursa CPO agar Indonesia memiliki harga acuan sendiri. Ia mengatakan pembentukan itu bukan untuk menjatuhkan bursa CPO Malaysia.

“Kita tidak dalam posisi ingin menjatuhkan bursa Malaysia, tidak. Kita ingin punya harga acuan tersendiri, itu saja. Jadi, sekali lagi, tujuan utama CPO masuk bursa adalah supaya kita memiliki harga acuan kita tersendiri. Bahwa nanti harga acuan itu bisa mempengaruhi harga internasional,” kata Didid dalam konferensi pers di Double Tree by Hilton Jakarta Pusat, Kamis (3/8).

Baca juga: Kementan Mulai Persiapkan Pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII

Didid mengatakan Indonesia dengan Malaysia sendiri tidak ada persaingan terkait CPO. Malah saat ini kedua negara tengah bekerjasama untuk memperjuangkan nasib CPO yang dijegal akibat kebijakan Uni Eropa yakni UU Anti-deforestasi.

“Itu, bahwa dengan Malaysia, ya kan, teman-teman kemarin waktu acara hari Selasa kemarin, itu CPO terkait dengan undang-undang deforestasi Uni Eropa, ya kan, Indonesia dengan Malaysia ini sekarang sedang sama-sama untuk memperjuangkan CPO di Uni Eropa. Sehingga, posisinya kita tidak bertentangan dengan bursa Malaysia,” jelasnya.

“Tapi justru kita sama-sama memperjuangkan CPO. Kita sama-sama bersinergi memperjuangkan CPO. Jadi, seolah-olah kemarin ditulis bursa CPO nggak jadi-jadi karena saya takut dengan bursa Malaysia,” tambah dia.

Hadirnya bursa CPO juga bertujuan agar CPO Indonesia lebih bisa bersaing di global. Apa lagi 50% produksi CPO global berasal dari Indonesia.

“Supaya CPO kita bisa diterima di sana. Nah, dan kita tambah satu lagi, kita ingin punya harga referensi, kan gitu. Nah, jadi, kami tentu akan berkolaborasi dengan bursa-bursa yang ada,” terangnya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *