17 Mei 2026

admin

Kementan Ajak Petani Muda Berpartisipasi di YAA Lahan Rawa 2024

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA – Kementerian Pertanian, melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) dan Program Youth Entrepreneur and Employment Support Services (YESS), akan menyelenggarakan Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA) Tahun 2024 dan YAA Lahan Rawa Tahun 2024, untuk memilih 50 duta petani muda Program YESS. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers yang dilangsungkan, Senin (12/2/2024), di Jakarta.

Menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, salah satu fokus Kementerian Pertanian adalah pemenuhan kebutuhan pangan dan mencapai kembali swasembada pangan yang pernah diraih pada 2017, 2019 dan 2020.

“Salah satu program untuk mencapai hal tersebut melalui optimalisasi pemanfaatan lahan rawa dalam peningkatan produksi pangan. Program tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, penyuluh dan petani khususnya petani muda,” tuturnya.

Sementara Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, menyatakan mensupport penuh upaya peningkatan produksi pangan melalui optimalisasi lahan rawa.

“Young Ambassador Agriculture merupakan kegiatan pemilihan dan pelatihan petani atau pengusaha muda sektor pertanian dari seluruh Indonesia, untuk dapat menjadi duta Program YESS. Tujuannya mempromosikan dan mengajak kaum muda di wilayah Program YESS untuk terlibat secara aktif di sektor pertanian,” tutur Dedi.

Ia juga menjelaskan jika Youth Entrepreneur and Employment Support Services (YESS) adalah program kerjasama antara Kementerian Pertanian (Kementan) dengan International Fund For Agricultural Development (IFAD).

“Partisipasi aktif sasaran program yaitu petani muda terus didorong dalam rangka mencapai target tersebut,” lanjutnya.

Sementara Kepala Pusat Pendidikan Pertanian dan Direktur Program YESS, Idha Widi Arsanti menjelaskan secara detail tema dan mekanisme pemilihan.

Baca juga: Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta Tekuni Kultur Jaringan dan Budidaya Kopi di BBPP Kementan

Dijelaskannya, Young Ambassador Agriculture merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) dari Pusdiktan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian.

“Kegiatan pemilihan YAA YESS rutin dilakukan sebagai upaya menggaungkan peran generasi muda, dalam pembangunan pertanian. Sekaligus upaya mempromosikan modernisasi dan peran generasi muda di sektor pertanian,” terang Santi.

Menurutnya, tema Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA) Lahan Rawa tahun ini adalah Masa Depan Pertanian yang Berkelanjutan.

“Kegiatan ini akan memberikan kesempatan bagi petani muda yang memiliki visi dan komitmen untuk mengubah lanskap pertanian, terutama di daerah rawa, untuk mendaftar dan mempresentasikan ide-ide mereka. Para peserta akan dinilai berdasarkan kriteria-kriteria seperti inovasi, keberlanjutan, dampak sosial, dan keberlanjutan lingkungan,” katanya.

Santi menambahkan, tujuan penyelenggaraan pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA) Tahun 2024 untuk petani muda lahan rawa untuk menyoroti peran penting para petani muda dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan di masa depan.

Ia menjelaskan, petani muda memiliki peran krusial dalam menjaga ketahanan pangan global, khususnya di tengah tantangan perubahan iklim dan penurunan produktivitas lahan pertanian.

“Melalui pemilihan ini, kami berharap untuk mengidentifikasi, menghargai, dan mendukung para petani muda yang berdedikasi dalam mengelola lahan rawa dengan cara yang inovatif dan berkelanjutan,” kata Santi lagi.

“Kami mengundang seluruh petani muda yang bersemangat dan memiliki bakat dalam mengelola lahan rawa untuk berpartisipasi dalam pemilihan ini. Bersama-sama, mari kita bangun masa depan pertanian yang lebih baik dan lebih berkelanjutan,” imbuhnya.

Selain untuk merubah persepsi kaum muda atas sektor pertanian menjadi lebih baik, menurut Santi, kegiatan ini juga memberikan motivasi bagi mereka untuk terjun ke sektor pertanian dan maju di usia muda.

“Calon Young Ambassador Agriculture (YAA) akan mengikuti pembekalan (bootcamp) selama 5 (lima) hari yang dilaksanakan oleh Tim Instruktur. Materi pembekalan meliputi: Wawasan Bisnis, Kemampuan Berkomunikasi di depan Publik, Pemahaman Media dan Kepemimpinan,” katanya.

50 Young Ambassador Agriculture (YAA) akan terpilih setelah melalui beberapa tahapan seperti seleksi administrasi, seleksi potensi, bootcamp, dan tahap penjurian.

Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA) Tahun 2024 ini diharapkan dapat menularkan dan meresonansi semangat berwirausaha di bidang pertanian bagi generasi muda lainnya.(***)

Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta Tekuni Kultur Jaringan dan Budidaya Kopi di BBPP Kementan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Tiga mahasiswa asal Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta berhasil menyelesaikan masa Pengalaman Kerja Lapangan (PKL) mereka di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang. PKL ditutup dengan seminar hasil yang diselenggarakan pada Selasa (6/2/24). Bertempat di ruang kelas krisan V BBPP Lembang, ketiga mahasiswa mempresentasikan hasil belajar mereka selama satu bulan belajar di Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelatihan ini, khususnya di Inkubator Agribisnis (IA).

Sesi presentasi dibuka oleh Qinthara Alyana Hikkari dengan judul "Kultur Jaringan Kentang Varietas Granola dan Atlantik di BBPP Lembang". Selama PKL, Qinthara Alyana Hikkari, yang ditempatkan di laboratorium kultur jaringan. Ia berhasil melakukan perbanyakan kentang varietas Granola dan Atlantik dengan kultur jaringan. Menurut hasil pengamatannya, persentase hidup varietas Granola mencapai 57,14%, sementara varietas Atlantik mencapai 100%. Qinthara kemudian menjelaskan perbedaan persentase ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti kontaminasi bakteri atau kesalahan teknis saat melakukan tahapan perbanyakan kultur jaringan.

Rifka Putri Afrika melanjutkan dengan presentasinya yang berjudul "Teknik Pemangkasan Kopi Arabika di BBPP Lembang". Melalui pengamatannya, Rifka melakukan uji t terhadap 15 sampel tanaman kopi Arabika di lahan IA BBPP Lembang. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman kopi Arabika dengan pemangkasan lebih baik daripada tanpa pemangkasan. Hal ini disebabkan oleh jumlah cabang tidak produktif yang lebih sedikit pada tanaman yang mendapat perlakuan pemangkasan.

Terakhir, Riska Ariyani menyampaikan hasil PKLnya dengan judul "Agribisnis Kopi di BBPP Lembang". Ia melakukan pengamatan budidaya kopi dari hulu hingga hilir, dengan menekankan tahapan full wash sebagai salah satu faktor penentu kualitas kopi.

   Baca juga: Antusiasme Ratusan Siswa MTs Sirojul Athfal Praktik Pengolahan Hasil Pertanian di BBPP Kementan

Sesi seminar dilanjutkan dengan tanya jawab antara peserta seminar, widyaiswara, dan mahasiswa. Widyaiswara pembimbing memberikan pertanyaan dan saran kepada masing-masing presenter, sementara widyaiswara pembimbing memberikan apresiasi dan masukan bagi masing-masing mahasiswa bimbingannya.

Ditemui setelah seminar, Qinthara mengemukakan kesannya. Menurutnya, PKL di BBPP Lembang menjadi kesempatan bagi ia dan kedua rekannya untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Rifka dan Riska juga mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap widyaiswara dan seluruh petugas lapang yang telah mendampingi selama masa PKL.

Meskipun masa PKL bagi ketiga mahasiswa ini telah berakhir, diharapkan kontribusi mereka dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan pertanian di Indonesia.

Seperti yang disampaikan Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, bahwa program PKL menjadi salah satu bentuk komitmen BBPP Lembang dalam mempersiapkan regenerasi petani.

Ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang menyatakan bahwa “peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam sektor pertanian masa kini”. Ditambahkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, bahwa “misi penumbuhan petani milenial harus didukung dengan teknologi yang semakin mumpuni, seperti penerapan smart farming dengan memanfaatkan internet of things (IoT)”. (DRY/YKO)

Antusiasme Ratusan Siswa MTs Sirojul Athfal Praktik Pengolahan Hasil Pertanian di BBPP Kementan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Sebanyak 159 siswa kelas VIII MTs Sirojul Athfal memperkaya pengetahuan mereka melalui kunjungan ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang. Rombongan siswa disambut hangat oleh Ketua Kelompok Kerja Penyelenggaraan Pelatihan, Ridwan Wardiana, dan Ketua Tim Program dan Kerja Sama, Yanissa Nuraeni Kuswandi, di Aula Catur Gatra.

Muhammad Yusuf, Kepala Madrasah, menjelaskan bahwa kunjungan ini telah menjadi agenda rutin, mengakui bahwa pembelajaran langsung di BBPP Lembang melalui kunjungan lapangan dan praktik pengolahan hasil mampu menarik minat serta memudahkan pemahaman para siswa.

Ridwan Wardiana kemudian menegaskan bahwa BBPP Lembang senantiasa antusias menyambut para siswa yang ingin memperdalam pengetahuan di bidang pertanian.

Ini sejalan dengan misi Kementerian Pertanian dalam mencetak generasi penerus di sektor pertanian.

“Kami ingin memunculkan cara bertani modern, smart farming, kepada anak muda pelaku pertanian dan pemahaman pertanian yang semakin luas bagi anak muda," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, berharap program tersebut bisa menghapus citra petani yang dianggap tidak keren di kalangan anak muda.

   Baca juga: Generasi Alpha Purwakarta Dalami Pertanian di BBPP Lembang

Karenanya, Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyatakan komitmennya dalam mendorong percepatan regenerasi petani melalui berbagai pelatihan di BBPP Lembang.

Peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mendapat materi pengolahan hasil dari Widyaiswara, Estu Hariyani. Kelompok kedua memperkaya pengetahuan mereka dengan mengamati koleksi kaktus dan sukulen di screen house tanaman hias. Sementara itu, kelompok ketiga praktik langsung membuat es krim jagung.

Tak hanya itu, kedua kelompok lainnya juga berkesempatan praktik membuat selai wortel nanas dan sistik kentang. Produk-produk ini merupakan inovasi BBPP Lembang dalam memanfaatkan komoditas lokal serta meningkatkan nilai jual.

Kunjungan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang berharga dalam bidang pertanian, memperluas wawasan mereka dalam rangka mengembangkan potensi di masa depan.

Seperti yang dikemukakan Reni, salah satu peserta kunjungan. Menurutnya, rangkaian kegiatan kunjungan ke BBPP Lembang kali ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman berharga. “Tadi saya mencoba praktik membuat sistik sayuran. Cara membuatnya mudah dan menjadi ilmu yang baru bagi saya”, ungkapnya. (DRY/YKO)

Generasi Alpha Purwakarta Dalami Pertanian di BBPP Lembang

TANIINDONESIA.COM//Lembang – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) terus berkomitmen dalam mencetak generasi penerus pertanian. Melalui Pelatihan dan Pendidikan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dinaunginya, semua kalangan dapat mempelajari ilmu-ilmu pertanian dan mendalaminya. Salah satu UPT tersebut adalah Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang yang terletak di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Para peserta didik dari SMKN 1 Bojong, Purwakarta, mengunjungi BBPP Lembang dalam rangka study tour. Sejumlah 70 orang peserta didik dan guru pendamping berkumpul di Aula Catur Gatra dan disambut oleh Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika sebelum dilepas untuk berkeliling dan belajar pertanian di Inkubator Agribisnis.

Para peserta didik tergabung di bawah jurusan Usaha Pertanian Terpadu sehingga kunjungan bersifat kunjungan industri untuk melihat cara BBPP Lembang mengelola screen house dan lahan terbuka serta pembuatan pupuk kompos di Rumah Kompos.

Peserta didik SMKN 1 Bojong Purwakarta selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok dan mulai berkeliling. Para murid menjelajahi fasilitas pelatihan di BBPP Lembang diantaranya pada screen house tanaman hias. Tanaman hias yang dapat dipelajari di dalam screen house ini diantaranya adalah kaktus dan sukulen. Para murid kemudian mulai bertanya mengenai proses perbanyakan kaktus melalui metode okulasi atau penyambungan kaktus. Didampingi petugas lapang, para murid terlihat antusias bertanya mengenai kaktus mulai dari pembudidayaan hingga bisnis tanaman hias yang kian menguntungkan.

   Baca juga: Olah Sampah Jadi Bisnis, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara Kompetisi Kewirausahaan

Sementara grup pertama mendatangi screen house tanaman hias dan Rumah Pangan Lestari, grup kedua mendapatkan materi mengenai pembuatan pupuk kompos di Rumah Kompos. Rumah Kompos BBPP Lembang memiliki beberapa ekor sapi yang dipelihara dengan baik untuk diambil kotorannya. Selanjutnya kotoran sapi tersebut diolah menjadi berbagai jenis pupuk kompos termasuk Kommix Hayati. Selain menjadi pupuk kompos, gas metana yang dihasilkan oleh kotoran sapi juga ditampung di dalam reaktor gas metana yang dapat menjadi sumber energi.

Fasilitas terakhir yang dipelajari oleh para peserta didik adalah instalasi aeroponik kentang. Kentang aeroponik ditanam di dalam kotak fiber dengan pengairan dari embun air. Hasil yang diberikan oleh metode ini adalah kentang generasi nol yang kemudian dibibitkan lagi. Untuk membudidayakan kentang dengan metode ini dibutuhkan planlet yang dihasilkan dengan metode kultur jaringan. Para murid terlihat antusias juga di sini karena kesempatan dalam pasar kentang generasi nol masih terbuka.

Mengakhiri kunjungan, Angga Maulana selaku Kepala Prodi Usaha Pertanian Terpadu SMKN 1 Bojong Purwakarta menghaturkan terima kasihnya. Angga yang pernah menjalani pelatihan di BBPP Lembang juga meninggalkan kesan-kesannya. “Semoga para murid dapat menerapkan ilmu yang dipelajari di BBPP Lembang di kemudian hari,” paparnya ketika dimintai keterangan.

Kementerian Pertanian berkomitmen untuk mencetak generasi petani selanjutnya. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan bahwa pengembangan teknologi pertanian dapat menarik minat generasi muda.

Pernyataan ini didukung oleh Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi. “yang menjamin pembangunan Indonesia kedepan adalah petani muda, para pelaku agribisnis yang digabungkan menjadi petani milenial yang beragribisnis. Salah satu caranya adalah dengan pemanfaatan smart farming yang mempermudah dalam Bertani,” tegas Dedi.

Sementara itu, Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika menaruh harapan besar bagi generasi petani selanjutnya. Dalam sambutannya Ajat menekankan bahwa pembangunan pertanian harus diisi oleh aktor-aktor atau pelaku utama yang berkualitas unggul. “Insan pertanian generasi muda harus lebih baik daripada generasi pendahulunya,” Ajat menekankan. (YKO/AFR)

Olah Sampah Jadi Bisnis, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara Kompetisi Kewirausahaan

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang yang tergabung dalam Tim Great and Green berhasil menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Student Enterpreneurship (SEC) 2024 Rumah BUMN Gunung Kidul dan Ozorta Campaign yang diselenggarakan oleh Sayur Sleman.

Tim yang terdiri dari enam mahasiswa, yaitu Dicky Mustofa, Ahmad Ma’ruf, Adiyansa Nur Fadhilah, Agus Wiji Prasojo, Ahmad Fahrizki Gustaman, dan Putra Arafah Subani, berhasil menyabet Juara 2 SEC 2024 dan Peserta Terbaik Ozorta Campaign.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan ilmu pengetahuan dan inovasi dibutuhkan dalam mendukung bidang pertanian.

"Ilmu pengetahuan terus berkembang, termasuk juga pada sektor pertanian. Jika tidak ingin tertinggal, kita harus menemukan inovasi-inovasi baru yang dapat mendukung peningkatan produksi pertanian," tuturnya.

Oleh sebab itu, Dedi mengajak para insan pertanian untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kemampuan.

SEC sendiri merupakan kompetisi kewirausahaan yang ditujukkan untuk membangun rasa percaya diri bagi para pengusaha dan calon pengusaha untuk menciptakan suatu produk yang kreatif dan inovatif yang diiringi dengan kecanggihan teknologi di era serba digital ini.

Baca juga: Perluas Wawasan, Petani Muda Belajar Konsep Low Cost Smart Farming di Polbangtan Kementan

Tema utama SEC tahun 2024 ini adalah mengenai sustainability. Lomba berfokus pada ide bisnis yang berkontribusi pada keberlanjutan (sustainability) dalam aspek lingkungan.

Sehingga, seluruh ide bisnis dan video yang dikumpulkan harus menekankan bagaimana produk atau jasa akan memiliki efek pada kelestarian lingkungan di sekitar mereka dan kompetisi ini terbuka untuk mahasiswa aktif yang berada di jenjang Diploma-Sarjana dan siswa SMA /SMK sederajat se-DI Yogyakarta.

Untuk mencapai prestasi ini, Tim Great and Green harus melalui beberapa tahapan seleksi.

“Ajang SEC dimulai dari pengiriman proposal ide, kemudian pengumpulan video ide bisnis dan inkubasi. Selanjutnya bagi peserta terpilih, diseleksi lagi dengan presentasi final yang kemudian dipilih menjadi juara," terang Dicky Mustofa.

"Sedangkan pada even Instagram reel competition yang diselenggarakan Sayur Sleman, yang dinilaikan adalah unggahan reels instagram,” sambungnya.

Mengangkat tema aksi pengolahan sampah organik rumah tangga, Great and Green bersama dengan warga sekitar Ruang Terbuka Hijau Publik (RTPH) Warungboto memiliki program unggulan yaitu pemanfaatan limbah rumah tangga organik untuk pupuk dan budidaya maggot.

“Kami memiliki dua program unggulan yaitu Pengelolaan sampah organik melalui pemanfaatan limbah rumahtangga dan Budidaya maggot bersama dengan warga sekitar RTPH. Jika dikelola dengan baik, sebenarnya sampah rumahtangga memiliki potensi ekonomi yang tinggi,” ujar Dicky Mustofa.

Siti Nurlaela, selaku Dosen Pembimbing, berharap ajang ini menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa untuk berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Capaian ini tentunya sangat membanggakan sekaligus sebagai pemantik untuk mereka agar lebih semangat mengembangkan komunitas bisnis bersama masyarakat,” harap Laela.(***)

Perluas Wawasan, Petani Muda Belajar Konsep Low Cost Smart Farming di Polbangtan Kementan

PETANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Sektor pertanian akan menjadi masa depan dunia, yang sudah seharusnya menjadi peluang bisnis generasi muda. Kementerian Pertanian konsisten mendukung dan menfasilitasi para agropreneur muda untuk bergerak diberbagai bidang pertanian dari hulu hingga ke hilir.

Kementerian Pertanian mengajak puluhan Petani Muda dan Pemerintah Daerah penerima dan calon penerima Program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) dari seluruh Indonesia untuk mempelajari konsep Low Cost Smart Farming di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan studi banding dalam rangka membuka wawasan dan mengembangkan Program YESS yang dilaksanakan 31 Januari hingga 3 Februari 2024.

Peserta yang terdiri dari 100 orang tersebut diperkenalkan dengan konsep smart farming yang diterapkan di Polbangtan Yogyakarta Magelang.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman berharap konsep Low Cost Smart Farming bisa dipahami dengan baik oleh seluruh peserta. Serta, bisa diterapkan dalam lahan masing-masing.

Pernyataan tidak jauh berbeda disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

"Masa depan pertanian tanah air berada di tangan BBM petani muda. Oleh sebab itu, kita mengajak para petani untuk terus menambah pengetahuan dan kemampuan serta memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka," tuturnya.

Kepala Teaching Factory (TEFA) Polbangtan Yogyakarta Magelang, Geraldo A. Rimartin, yang menyambut peserta studi banding, menjelaskan bahwa konsep Low Cost Smart Farming yang diterapkan di Polbangtan Yogyakarta Magelang khususnya fokus pada smart irrigation.

Baca juga: Inspiratif, P4S Sarongge Olah Sampah Jadi Berkah

“TEFA kami tersebar di beberapa wilayah, salah satunya di Celeban ini. Karena letak Celeban yang di tengah kota, salah satu masalah yang kami hadapi adalah masalah irigasi. Ini yang melatarbelakangi kami menerapkan smart irrigation untuk efisiensi penggunaan air,” terangnya.

Menurutnya, cara kerja Smart Irrigation ini memanfaatkan Internet of Things untuk menjalankannya. Hal ini berdampak efisiensi sumber daya seperti penghematan tenaga kerja, air, dan pupuk.

“Smart irrigation cukup dikendalikan dengan menggunakan handphone dan bisa diatur dari mana saja yang terpenting aplikasi terkoneksi dengan internet. Selain hemat tenaga kerja, penggunaan smart irrigation ini juga menjadikan penggunaan air dan pupuk lebih efisien karena benar-benar terukur dan terporgram langsung ke sasaran,” jelas Geraldo.

Para peserta studi banding turut diperlihatkan panel smart irrigation dan mencoba menjalankan aplikasinya langsung bersama dengan petugas TEFA yang mendampingi.

“Selain mengontrol volume air dan pupuk, serta waktu penyiraman, melalui aplikasi juga dapat dilihat suhu udara, suhu tanah, kelembaban udara, dan kelembaban tanah,” lanjut Geraldo.

Investasi perangkat smart irrigation ini diakui Geraldo juga cukup terjangkau. Untuk green house ukuran 8 kali 16 meter dengan populasi 99 tanaman membutuhkan investasi awal sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta.

“Yang diperlukan yaitu panel atau mesin smart farming, selang PE, mesin pompa atau tandon, valve, dan instalasi tambahan lainnya,” jelasnya.

Ucu, salah satu petani muda asal Sukabumi yang mengikuti studi banding, mengaku terkesan dan mendapat wawasan baru dari kunjungannya kali ini.

“Ternyata penerapan smart farming ini bisa juga dilakukan dengan harga terjangkau dan sederhana. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar dan menerapkannya,” ujar Ucu.

Panitia kegiatan berharap, sepulangnya peserta dari kegiatan studi banding ini dapat membawa ilmu baru dan menerapkannya di daerahnya masing-masing.(***)

Inspiratif, P4S Sarongge Olah Sampah Jadi Berkah

TANIINDONESIA.COM//CIREBON - Pertanian memiliki banyak sektor yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang. Hal ini dibuktikan P4S Sarongge yang berada Desa Ciawigajah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cirebon.

Lembaga yang meraih Sertifikasi Klasifikasi P4S sebagai P4S Kelas Pratama ini sukses mengolah sampah menjadi berkah.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pertanian adalah sektor yang sangat menjanjikan jika ditekuni dengan serius.

Mentan Amran menambahkan, baik dari hulu sampai hilir, pertanian menyajikan banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Oleh sebab itu, ia berharap anak-anak juga terjun memanfaatkan peluang tersebut.

P4S merupakan salah satu lembaga masyarakat yang dimiliki dan dikelola petani langsung baik secara perorangan maupun kelompok dalam meningkatkan peran aktif pembangunan pertanian melalui pengembangan sumber daya manusia pertanian seperti pelatihan, penyuluhan, dan pendidikan.

Keberadaan P4S dalam suatu wilayah pertanian sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia petani ke depannya. Sehingga peran serta kelembagaan pertanian ini sangat dirasa positif oleh masyarakat khususnya petani.

Peran P4S sangat strategis dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia petani dalam mewujudkan kader-kader petani yang dapat bersaing di masa depan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyebut P4S Sarongge sebagai contoh pengolahan sampah rumah tangga, secara profesional sehingga menghasilkan.

Baca juga: Bangun Ekosistem Kewirausahaan Pertanian, Kementan Ajak Petani Muda dan Pemda Belajar ke Pacitan

Dalam satu bulan, dari satu desa ciawigajah limbah sampah yang dihasilkan 400 ton, dari sampah tersebut komposisi nya 40% dan 60% organik.

"Saya melihat proses mesinnya yang semua produksi dalam negeri, yang sampah organik setelah dikeringkan dan diproses fermentasi kemudian dicampur dengan pupuk kandang menghasilkan pupuk kompos/organik. Pupuk yang dihasilkan dapat meningkatkan produksi mulai dari 40-90%," kata Dedi.

40% sampah non organik 5% sampah kaleng, 15% botol minuman mineral dan 20% plastik diproses, dengan mesin pencacah.

"Ada yang dipadatkan dan menjadi sumber energi ada juga yang didaur ulang sehingga dapat dimanfaatkan. Apa yang dilakukan P4S ini sangat bermanfaat karena selain menghasilkan juga ramah lingkungan," ujar Dedi lagi.

"Saya berharap apa yang dilakukan P4S Sarongge ini dapat menjadi contoh dan ditiru oleh P4S lain dan proses pemanfaatan sampah terus berjalan," imbuhnya.

P4S Sarongge sendiri bergerak dalam ketahanan pangan khususnya dalam produksi pupuk organik yang berasal dari limbah/sampah rumah tangga warga desa sekitar.

Selain pengolahan sampah, P4S Sarongge mengelola lokasi Agrowisata seluas 5 HA dengan komoditas tanaman pangan, hortikultura dan peternakan.

Hal ini dijelaskan Nunung Nurhadi, Pembina P4S Sarongge, Desa Ciawigajah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cirebon.

"Lembaga kami bergerak dalam ketahanan pangan khususnya dalam produksi pupuk organik yang berasal dari limbah/sampah rumah tangga warga desa sekitar. Istilahnya kami mengolah sampah, menjadi berkah karena menghasilkan," katanya.

Ia menambahkan, di sini sudah ada mesin pengolahan sampah, yang proses awal mulai dari memisahkan sampah organik dan non organik.

"Dimana untuk non organik seperti botol air kemasan dan kaleng, dimasukan mesin pencacah dan hasilnya sudah ada yang menampung dari pihak ketiga. Untuk sampah organik, diolah menjadi pupuk kompos/organik," jelasnya.(***)

Bangun Ekosistem Kewirausahaan Pertanian, Kementan Ajak Petani Muda dan Pemda Belajar ke Pacitan

TANIINDONESIA.COM//PACITAN - Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produktifitas usaha tani, salah satu program kementan adalah mencetak banyak petani muda. Kementan berkeyakinan masih banyak anak muda yang mau terjun dibidang pertanian agar mempunyai kehidupan dan ekonomi yang lebih baik.

Untuk itu Kementan menerjunkan program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) dan dirancang untuk menghasilkan wirausahawan muda pedesaan serta menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dibidang pertanian

Dalam rangka membuka wawasan dan mengembangkan program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) , Kementerian Pertanian mengajak puluhan Petani Muda dan Pemerintah Daerah dari berbagai wilayah untuk melakukan studi banding pelaksanaan program YESS ke Pacitan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, kemajuan pertanian disuatu daerah sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah daerah.

Oleh sebab itu, Mentan berharap pemerintah daerah memiliki komitmen yang sama untuk memajukan pertanian di wilayah masing-masing.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menegaskan jika masa depan pertanian berada di pundak generasi muda saat ini.

"Kementerian Pertanian selalu mengimbau para SDM pertanian, khususnya petani muda, untuk terus menambah pengetahuan dan kemampuan. Salah satunya melalui program YESS," tutur Dedi.

Sementara Project Manager National Program Management Unit (NPMU) YESS program, Inneke Kusumawati, menjelaskan, Pacitan dipilih sebagai wilayah studi banding karena dinilai menjadi salah satu wilayah pelaksana program YESS yang berhasil

"Pacitan merupakan salah satu wilayah existing program YESS yang saat evaluasi dinilai menjadi wilayah yang berhasil, karena mampu menumbuh kembangkan koperasi petani milenial," ujarnya.

Dalam pelaksanaan programnya, Inneke juga memuji bagaimana sinergi multistakeholder yang terbentuk di dalamnya. Sehingga memberikan kepercayaan kepada para anak muda untuk mereka berkelompok dan melembaga hingga terbentuk iklim kewirausahaan.

Baca juga: Lakukan Audiensi dengan Bupati Sleman, Kementan dan IFAD Masifkan Regenerasi Petani

"Kita bisa melihat bagaimana kerjasama apik yang terbangun antara Kementerian Pertanian, dan jajaran Pemerintah daerah Kabupaten Pacitan seperti Bappeda, Dinas terkait, hingga para petani milenial. Ini yang kami harapkan dapat diadopsi oleh wilayah YESS dan calon wilayah YESS-Scalling Up Intervention (SI) lainnya," tegasnya.

Ia menambahkan, sinergi multistakeholder ini penting dibangun, karena setelah intervensi program YESS ini selesai diharapkan dampaknya masih terus dapat dirasakan dan bahkan berkembang menjadi lebih baik.

"Di penghujung Juni 2025, kita akan closing Program, dan kami tidak ingin ini (Program YESS) menjadi proyek mangkrak, sehingga komitmen pemerintah daerah memang sangat diperlukan untuk mendorong tumbuhnya lembaga yang menaungi para penerima manfaat agar tidak tercerai berai dan dikuatkan dengan legalitas seperti Peraturan Gubernur atau SK Gubernur," kata Inneke.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan, Heru Wiwoho, yang mewakili Bupati untuk menerima kunjungan studi banding, mengakui jika Program YESS merupakan program strategis yang dapat menekan angka pengangguran dan kemiskinan.

"Tercatat sebanyak 34% penduduk Pacitan terdiri dari pemuda yang berusia 17-39 tahun, sehingga di level ini sangat strategis untuk dilakukan intervensi program dengan harapan di masa depan pemuda Pacitan akan menjadi wirausahawan yang mampu menjadi pelopor perubahan dan tentunya dapat bersama-sama untuk menurunkan angka kemiskinan dan tentunya meningkatkan perekonomian," jabarnya.

Selama pelaksanaan program YESS, diakui juga oleh Heru terjadi penurunan angka kemiskinan.

"Program YESS turut berkontribusi menurunkan angka kemiskinan sebesar 1.46% yaitu dari 15.11% di tahun 2021di menjadi 13.65% di tahun 2023 dan tentunya juga berkontribusi menurunkan tingkat pengangguran di Pacitan," rinci Heru.

Heru berharap capaian tersebut dapat direplikasi oleh wilayah program YESS lainnya. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan keberhasilan Program YESS Wilayah Pacitan oleh perwakilan Bappeda, Dinas pertanian, dan Pengurus Koperasi Petani Milenial, serta diskusi dengan peserta.

Hermawan, Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Polbangtan Yogyakarta Magelang sekaligus koordinator rombongan peserta, mengatakan peserta yang turut dalam kegiatan ini sebanyak 100 orang yang terdiri dari para Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), Manajer dan Calon Manajer PPIU (Provincial Project Implementation Unit), Koordinator dan Calon Koordinator DIT (Distric Implementation Team), serta Young Ambassador penerima dan calon Penerima Program YESS.

"Hadir juga Kepala Dinas Pertanian Gunung Kidul, Kabid Penyuluhan Distan Kabupaten Banyumas, Kabid Penyuluhan Distan Kabupaten Sleman, Kabid Penyuluhan Distan Kota Semarang, dan beberapa Petani Milenial Jawa Tengah dan DIY yang nantinya diproyeksikan menjadi wilayah YESS-SI di bawah koordinasi Polbangtan Yogyakarta Magelang dan juga calon wilayah YESS-SI lainnya," imbuhnya.(***)

Lakukan Audiensi dengan Bupati Sleman, Kementan dan IFAD Masifkan Regenerasi Petani

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Dalam rangka perluasan Youth Entrepreneur and Employment Support Services Scaling Up Intervetion (YESSI), Kementerian Pertanian (Kementan) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) melakukan audiensi dengan Bupati Kabupaten Sleman (22/1/2024).

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pentingnya peran kepala daerah dalam mendukung kemajuan sektor pertanian. “Dukungan dari kepala daerah sangat dibutuhkan karena hal tersebut berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah”, tutur Amran.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menambahkan jika kolaborasi sangat dibutuhkan dalam pertanian.

"Kolaborasi itu bisa dilakukan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah. Kenapa hal ini penting, karena hal ini terkait kebijakan sebuah daerah untuk memajukan pertanian. Kita membutuhkan komitmen bersama," terangnya.

Saat berdialog dengan Bupati Sleman, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Idha Widi Arsanti mengatakan pentingnya dukungan Kepala Daerah untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program YESS di wilayahnya.

"Komitmen Kepala Daerah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program YESS, karena nanti dalam proses pelaksanaannya akan melibatkan peran UPTD di wilayahnya, dan setelah program pendamlingan selesai maka sepenuhnya menjadi hak pemerintah daerah untuk mengambil alih keberlanjutannya," ujar Idha.

Baca juga: Upgrade Jiwa Kewirausahaan, Polbangtan Kementan Gelar Kuliah Umum

Terkait komitmen tersebut langsung dijawab oleh Kustini, bahwa pihaknya akan berkomitmen penuh dalam mendukung pelaksanaan program tersebut.

"Kami sangat konsen terhadap pengembangan pertanian dan utamanya regenerasi petani muda. Sleman sendiri sangat aktif menjaring dan mengukuhkan petani milenial di setiap wilayah BP4. Sehingga jika program YESS ini dilaksanakan di wilayah kami merupakan suatu pilihan yang sangat tepat," ujarnya.

Kustini menambahkan, bahwa Sleman merupakan salah satu lumbung pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga pembangunan pertanian tentu akan selalu menjadi prioritas utama.

"Potensi pertanian di Sleman sangat besar, baik dari sumberdaya alamnya dan didukung dengan kapasitas SDM. Namun menghadapi tantangan era sekarang tentunya upskilling atau peningkatan kualitas SDM harus terus diupayakan melalui program pendampingan, fasilitasi, dan permodalan," paparnya.

Diketahui bahwa Kabupaten Sleman merupakan kabupaten dengan jumlah petani milenial terbanyak di DIY yaitu mencapai 1000 petani milenial yang aktif dikukuhkan oleh bupati.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (YoMa) beserta perwakilan tim IFAD dan manajement progam YESS.

Shazreh Hussain, selaku Targetin gender and youth Consultant IFAD mengapresiasi komitmen dan upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman.

Shazreh sendiri sudah berkesempatan berkeliling ke beberapa titik petani milenial yang cukup sukses di Kabupaten Sleman seperti Ardana Garden, Merapi Farm, dan Gubug Milenial Margorejo.

"Sangat menginspirasi apa yang sudah dilakukan Kabupaten Sleman, kami juga sudah melihat langsung bagaimana kesuksesan petani milenial di wilayah Kabupaten Sleman. Kami berharap melalui program YESS ini akan lebih berkembang lagi dan tentunya mengedepankan program yang responsif gender," ujarnya.(***)

Upgrade Jiwa Kewirausahaan, Polbangtan Kementan Gelar Kuliah Umum

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Guna membuka wawasan kewirausahaan bagi mahasiswa, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang menggelar Kuliah Umum, Jumat (19/01/2024).

Kuliah umum yang bertema Kemitraan Agribisnis ini diikuti oleh mahasiswa tingkat 2 Polbangtan YOMA secara langsung di gedung serbaguna Jurusan Pertanian.

Hadir sebagai narasumber Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Idha Widi Arsanti.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan sangat penting bagi generasi muda pertanian untuk memperluas pengetahuan.

Sebab, menurut Mentan, ilmu dan pengetahuan seputar pertanian terus berkembang.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

"Dunia pertanian terus mengalami perkembangan. Sektor pertanian mempunyai banyak hal yang bisa dikembangkan generasi muda dan sangat menjanjikan," katanya.

Dedi menegaskan jika pertanian bisa digarap dari hulu sampai hilir.

"Banyak peluang untuk digarap, makanya kita mengajak anak-anak muda untuk terjun ke dunia pertanian," tegasnya.

Sementara Kapusdiktan, Idha Widi Arsanti, membuka kuliah umum dengan memaparkan tantangan pertanian Indonesia saat ini yang perlu diantisipasi oleh seluruh masyarakat pertanian.

"Tantangan yang saat ini kita hadapi antara lain yaitu kondisi alam pertanian yang sudah mulai mengalami degradasi, perubahan iklim, dan regenerasi petani," rincinya.

Menurutnya, Pusdiktan sebagai salah satu bagian dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), salah satu tugas dan fungsi utamanya yaitu memastikan keberlanjutan kuantitas dan kualitas SDM Pertanian Indonesia.

Baca juga: Terima Kunjungan BPSIP Pati, Polbangtan Kementan Berbagi Kiat Sukses Pelayanan Informasi Publik

"Saat ini kita ada pada era bonus demografi. Hampir 50% komposisi penduduk Indonesia didominasi gen Z dan gen Y yang saat ini ada pada usia kuliah seperti adik-adik sekalian. Inilah yang kami sasar nantinya sebagai generasi penerus pertanian Indonesia," ujar Santi.

Menjadi tugas Kementerian Pertanian untuk mengubah mindset generasi uda bahwa Pertanian itu hal yang menjanjikan dan up to date. Salah satunya dengan melakukan link and match dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA).

"Salah satu upaya agar lulusan Polbangtan ini nantinya dapat mudah diserap oleh industri yaitu dengan melakukan kerjasama dan penyesuaian kurikulum sesuai kebutuhan DUDIKA," ujarnya.

Selain menyiapkan Alumni Polbangtan untuk menjadi qualified job seeker, Santi juga mendorong lulusan untuk menjadi qualified job creator.

"Saudara sekalian juga kami siapkan untuk menjadi qulified job creator, sebagai wirausaha pertanian dengan berbagai program seperti PWMP (Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian) dan YESS (Youth Enterpreneurship And Employment Support Services). Program ini kami tujukan sebagai inkubator bisnis bagi saudara yang ingin mengembangkan usaha di bidang pertanian," katanya.

Santi juga memberikan kiat-kiat membangun ekosistem kewirausahaan dengan melakukan hilirisasi kluster pertanian.

"Yang utama yaitu memetakan pasar agar produk yang dihasilkan dapat terjual. Kemudian lakukan identifikasi produk yang diminati oleh pasar, dan terpenting yaitu bangun kelembagaan. Jangan membangun usaha secara mandiri namun usahakan berjejaring dan dilegalkan secara hukum agar mudah menjangkau pasar korporasi," tandasnya.

Mewakili Direktur, Wakil Direktur I Sujono berharap mahasiswa dapat menyerap pengetahuan yang disampaikan oleh Kapusdiktan.

"Materi yang dipaparkan sangat menarik dan sesuai dengan kondisi yang kita hadapi saat ini. Oleh karena itu, saya harap mahasiswa menyimak dengan baik dan yang terpenting juga mengaplikasikannya," pesan Sujono.(***)