17 Mei 2026

admin

Dorong Peremajaan Sawit Rakyat, Mentan: Nilai Sawit Kedepan Akan Semakin Tinggi

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong peremajaan sawit rakyat. Ia menilai nilai sawit akan semakin tinggi ke depannya. Peremajaan sawit rakyat ini salah satunya dilakukan di Kabupaten Serdang Begadai, Sumatera Utara.

"Akselerasi peremajaan sawit rakyat terus kita galakkan, termasuk di Kab. Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Di sini juga kita dorong model tumpang sari dengan jagung sebagai tanaman sela," kata Syahrul dikutip dari akun Instagramnya, Minggu (6/8/2023).

Dia menyebut, nilai sawit akan semakin tinggi ke depan. Dia bilang, komoditas ini dibutuhkan dunia. Indonesia, kata dia, juga memanfaatkan sawit untuk bahan bakar dan lain-lain.

Baca juga: Kembangkan Smart Farming, Kementan Gandeng EPIS Korea

"Kita sadari nilai sawit akan semakin tinggi ke depannya. Sebab komoditas ini dibutuhkan dunia, dan negara kita juga memanfaatkannya untuk bahan bakar biodiesel dan kebutuhan lain. Makanya program ini harus benar-benar optimal," ujarnya.

"Saya berharap pengembangan sawit di Sumatera Utara ini dapat menjadi percontohan nasional guna mempersiapkan sawit yang lebih baik," sambungnya.

Di sisi lain, Indonesia juga tengah menyiapkan bursa CPO. Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan, Didid Noordiatmoko menegaskan pembentukan bursa CPO agar Indonesia memiliki harga acuan sendiri. Ia mengatakan pembentukan itu bukan untuk menjatuhkan bursa CPO Malaysia.

"Kita tidak dalam posisi ingin menjatuhkan bursa Malaysia, tidak. Kita ingin punya harga acuan tersendiri, itu saja. Jadi, sekali lagi, tujuan utama CPO masuk bursa adalah supaya kita memiliki harga acuan kita tersendiri. Bahwa nanti harga acuan itu bisa mempengaruhi harga internasional," kata Didid dalam konferensi pers di Double Tree by Hilton Jakarta Pusat, Kamis (3/8).

Baca juga: Kementan Mulai Persiapkan Pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII

Didid mengatakan Indonesia dengan Malaysia sendiri tidak ada persaingan terkait CPO. Malah saat ini kedua negara tengah bekerjasama untuk memperjuangkan nasib CPO yang dijegal akibat kebijakan Uni Eropa yakni UU Anti-deforestasi.

"Itu, bahwa dengan Malaysia, ya kan, teman-teman kemarin waktu acara hari Selasa kemarin, itu CPO terkait dengan undang-undang deforestasi Uni Eropa, ya kan, Indonesia dengan Malaysia ini sekarang sedang sama-sama untuk memperjuangkan CPO di Uni Eropa. Sehingga, posisinya kita tidak bertentangan dengan bursa Malaysia," jelasnya.

"Tapi justru kita sama-sama memperjuangkan CPO. Kita sama-sama bersinergi memperjuangkan CPO. Jadi, seolah-olah kemarin ditulis bursa CPO nggak jadi-jadi karena saya takut dengan bursa Malaysia," tambah dia.

Hadirnya bursa CPO juga bertujuan agar CPO Indonesia lebih bisa bersaing di global. Apa lagi 50% produksi CPO global berasal dari Indonesia.

"Supaya CPO kita bisa diterima di sana. Nah, dan kita tambah satu lagi, kita ingin punya harga referensi, kan gitu. Nah, jadi, kami tentu akan berkolaborasi dengan bursa-bursa yang ada," terangnya.(***)

Kembangkan Smart Farming, Kementan Gandeng EPIS Korea

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian semakin serius melakukan pengembangan Smart Farming. Untuk mendukung hal itu, Kementan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menjalin kerjasama dengan pemerintah Korea Selatan.

Tanda tangan perjanjian kerjasama telah dilakukan Agustus 2021, antara BPPSDMP dengan Korea Agency of Education, Promotion and Information Service in Food, Agriculture, Forestry and Fisheries (EPIS KOREA).

MoU itu meliputi Project on Enhancing Millenial Farmer’s Income by Adopting K-Smart Farm technologies in Indonesia.

Proyek ini sangat penting. Karena, menjadikan petani milenial sebagai sasaran dalam penerapan teknologi Smart Farming yang di Korea dikenal sebagai K-SMART FARM Technology.

Baca juga: Kementan Mulai Persiapkan Pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII

Lokasi project berada di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan Jawa Timur dan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor Jawa Barat.

Kerjasama ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan pertanian konvensional namun harus menggunakan smart farming dan digitalisasi.

"Guna menerapkan semua itu, maka peningkatan kapasitas sumber daya manusia pertanian yang profesional, mandiri dan berdaya saing mutlak dibutuhkan untuk mewujudkan pertanian Indonesia yang maju, mandiri dan modern di masa depan," sebut Menteri Syahrul.

Salah bentuk kerjasama antara BPPSDMP dengan EPIS Korea adalah pelaksanaan Training K-Smart Farm di Korea. Training akan dilaksanakan pada 6-12 Agustus 2023. sebagai undangan dari Enhancing Milenial Farmers Income by Adopting K-Smary Farm Technologies in Indonesia.

Para peserta berasal dari pengelola proyek, dosen, widyaiswara dan pengusaha pertanian milenial dari Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan peserta serta untuk mempelajari pembangunan pertanian negara Korea yang telah mengaplikasikan teknologi tinggi dalam berusaha tani.

Saat pembekalan peserta pelatihan K Smart Farm Korea Selatan, di Hotel Ibis Style Jakarta, Sabtu (5/7/2023), hadir Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, didampingi Sekretaris Badan, Siti Munifah.

Hadir pada saat yang sama perwakilan dari Biro Kerjasama Luar Negeri Kementerian Pertanian, dan perwakilan dari EPIS Korea, Mr Han.

Kepada peserta training yang akan berangkat, Dedi mengatakan memasuki era industri 4,0, insan pertanian harus mulai memahami arti penting sistem digitalisasi serta teknologi dan inovasi.

"Persaingan yang ketat di tingkat global harus diimbangi dengan pola-pola pergerakan usaha baik itu usaha tani dan bisnis lainnya secara lebih efisien, lincah, dan produktif," katanya.

Ia menambahkan, teknologi dan inovasi sebagai modal utama dalam menarik generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian, baik secara keilmuan ataupun praktek langsung di lapang.

"Peran generasi milenial dalam pembangunan pertanian di era digital sangat penting sebagai kekuatan bagi ketahanan pangan. Untuk itu, Regenerasi Petani dan Petani Milenial masuk dalam Program Aksi BPPSDMP Tahun 2020-2024, melalui pendidikan vokasi, pelatihan vokasi, penyuluhan, pemberdayaan P4S, Program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP), dan Youth Entrepreneur and Employment Support Services (YESS)," terangnya.

"Saya sudah sering sampaikan, Petani Milenial akan menjadi pelaku pembangunan pertanian, 10 tahun lagi tanggung jawab pembangunan pertanian ada di pundak kalian," tutur Dedi.

Ia menambahkan, masa depan pembangunan pertanian ada di Agribisnis. Sehingga, pengelolaan pembangunan pertanian tidak boleh lagi memakai cara cara yang konvensional tapi harus dikelola secara modern.

"Caranya bagaimana? Ada tiga cara, pertama Smart Farming, karena efisien dan terbukti mendongkrak produktifitas. Kedua permodalan, untuk mengembangkan usaha perlu didukung oleh permodalan dalam hal ini KUR," ujarnya.

"Yang ketiga adalah kolaborasi, kalian harus membuka jejaring usaha dengan sesama petani milenial diseluruh Indonesia. Saya yakin Smart Farming adalah masa depan pertanian untuk itu tugas kalian training di sana adalah mendalami smart farming," katanya.

Dedi meminta para petani Milenial mempelajari dan mencermati, varietas unggul di Korea, nutrisi, formulasi nutrisi, sistem nutrisi, media tanam, pupuk dan pemupukan dan terakhir pengendalian hama dan penyakit.

Baca juga: Mentan: Warga yang Meninggal di Papua Bukan Kelaparan Melainkan Diare

"Mungkin tidak semua yang kalian lihat di Korea dapat diterapkan di sini, namun pelajari esensinya, pelajari sistemnya, bagaimana membangun sistem, bila selama ini kalian sudah menerapkannya, bagaimana meningkatkan kualitas sekembalinya dari sana," katanya.

"Terapkan pengetahuan smart farming yang kalian dapat di sana, dan sesuaikan dengan kondisi di lapangan," ujar Dedi lagi.

Selama 7 hari training peserta akan mendapatkan materi mengenai perkembangan pengembangan pertanian di Korea Selatan, Smart Farming dan Pemasaran, Sukses Story Start Up Smart Farming dan petani korea, pengembangan pendidikan pertanian, sharing session dengan praktisi, akademisi dan petani dan pelaku bisnis pertanian.

Selain itu Peserta akan diajak mengunjungi antara lain Perkebunan Strawberry Pocheon, Hanaro Mart di Yangjae-dong salah satu distributor untuk produk pertanian, Perkebunan Green Monster dengan komoditas Ketimun, Korea National University of Agricultural and Fisheries, Gimje Smart Farm Innovation Valley (Venture Incubation Center),Gyulkkane Farm dengan komoditas Citrus dan Cultilabs dengan komoditas Tomat.

Kementan Mulai Persiapkan Pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan berbagai langkah persiapan pelaksanaan PENAS Petani Nelayan. Sesuai dengan hasil Rembug Utama PENAS Petani Nelayan XVI Padang Sumatera Barat, disepakati bahwa pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII Tahun 2026 adalah Provinsi Gorontalo.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SY) mengatakan bahwa PENAS Petani Nelayan memiliki peranan yang sangat strategis dan harus menjadi bagian dari upaya konsolidasi bersama dalam menjaga ketahanan pangan nasional ditengah ancaman krisis pangan dan fenomena El Nino.

Mentan Syahrul menambahkan, PENAS Petani Nelayan adalah bagian-bagian untuk mengkonsolidasi, kekuatan dan potensi pertanian. Khususnya untuk menjaga ketahanan pangan nasional kita.

“PENAS Petani Nelayan harus menjadi puncak komunikasi emosional kita dan menjadi sangat penting untuk menyatukan visi dan pandangan kita dalam menghadapi berbagai tantangan”, tegas Mentan Syahrul.

Baca juga: Mentan: Warga yang Meninggal di Papua Bukan Kelaparan Melainkan Diare

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa PENAS Petani Nelayan diharapkan menjadi komitmen bersama untuk mempercepat pembangunan pertanian dalam berbagai program dan kebijakan disetiap daerah untuk mengantisipasi krisis pangan global serta menjaga kemandirian serta kedaulatan pangan nasional.

Selain itu, berbagai inovasi dan teknologi yang ditampilkan PENAS Petani Nelayan dapat didiseminasikan dan diimplementasikan di daerah asal masing-masing.

Kabadan Dedi mengajak seluruh petani, nelayan hingga pelaku usaha tani untuk mulai menentukan rencana tindak lanjut dalam mengembangkan usaha agribisnis, perikanan guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan serta kemandirian dan daya saing petani serta nelayan.

Harapannya agar dapat menggerakkan perekonomian pedesaan serta menciptakan lumbung pangan berbasis komoditas lokal di daerah masing-masing

Sebagai langkah awal pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Kapusluhtan), bersama-sama dengan Ketua Umum KTNA Nasional, Ketua KTNA Provinsi Gorontalo dan Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo melakukan audiensi dengan PJ Gubernur Gorontalo pada Kamis (03/08/2023) di Rumah Jabatan Kantor Gubernur Gorontalo.

Pejabat Gubernur Gorontalo, Ismail Pakaya menyampaikan bahwa prinsipnya provinsi Gorontalo siap untuk meniadi tuan rumah PENAS Petani Nelayan XVII tahun 2026. Kita akan segera menyiapkan segala sesuatunya terkait pelaksanan PENAS Petani Nelayan nanti. Kami akan segera membagi tugas untuk menyiapkan PENAS Petani Nelayan.

Calon lokasi PENAS XVII selaku tuan rumah sudah kami sampaikan kepada Ketua KTNA dan Kementerian Pertanian, yaitu Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango, tinggal menunggu hasil evaluasi dan keputusannya.

Dari sisi penganggaran persiapan pelaksanaan kegiatan kami akan mulai dari tahun 2024 hingga 2026. Tentunya kami juga memahami bahwa pada 2024, kita akan melaksanakan pesta demokrasi sehingga mungkin perlu juga jadi perhatian saat penyusunan anggaran, ujar Ismail.

“Mudah-mudahan pada tahun 2025 Gubernur Gorontalo definitif bisa melanjutkan persiapan pelaksanaan PENAS Petani Nelayan, karena ini menyangkut nama daerah yaitu Provinsi Gorontalo. Apalagi PENAS Petani Nelayan adalah hajat nasional petani Indonesia”, ungkapnya.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Bustanul Arifin Caya menyampaikan bahwa audiensi dilakukan dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII Tahun 2026. Sesuai dengan hasil kesepakatan Rembug Utama di Kota Padang Sumatera Barat, bahwa pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII adalah Provinsi Gorontalo. Pada prinsipnya yang menjadi hal-hal persyaratan pelaksanaan PENAS Petani Nelayan XVII dapat dipenuhi oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo.

Koordinasi harus sering dilakukan, termasuk dukungan anggaran dan Gubernur sangat siap dan berkomitmen untuk melaksanakan serta mensukseskan PENAS Petani Nelayan XVII, ujar Bustanul.

Baca juga: Antisipasi Dampak El Nino, Mentan Minta Pemprov Lampung Ikut Berkontribusi Penuhi Kebutuhan Pangan

Hari ini kami telah melakukan kunjungan ke calon lokasi tempat pelaksanaan PENAS Petani Nelayan dan nantinya lokasi-lokasi tersebut akan dievaluasi secara bersama-sama untuk dapat ditentukan lokasi mana yang sesuai dan memenuhi kriteria.

Bustanul berharap dengan dilaksanakannya PENAS Petani Nelayan XVII di Gorontalo dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memberikan keuntungan bagi masyarakat Gorontalo sekaligus mempromosikan Gorontalo. Karena nantinya akan dikunjungi oleh petani nelayan dari seluruh Indonesia.

Hal yang sama juga disampaikan Ketua Umum KTNA Nasional, M. Yadi Sofyan Noor yang sangat yakin bahwa Pemerintah Gorontalo siap dan mampu melaksanakan PENAS Petani Nelayan XVII.

“Petani selalu siap dan sudah berjuang secara organisasi. Saat ini hanya tinggal menunggu arahan dari Pemerintah saja”, ujarnya.

Sofyan sangat berharap agar semua masyarakat Indonesia mengenal PENAS Petani Nelayan secara keseluruhan. Dimana didalam PENAS Petani Nelayan itu ada transaksi-transaksi secara besar-besaran antara petani nelayan di seluruh Indonesia dengan stakeholder atau pengusaha pertanian, pameran hasil pembangunan pertanian, perikanan dan kehutanan, temu-temu usaha dan agribisnis serta gelaran teknologi dan lain sebagainya. Jadi bukan hanya sekedar hura-hura saja, tutup Sofyan.(***)

Mentan: Warga yang Meninggal di Papua Bukan Kelaparan Melainkan Diare

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengungkap penyebab enam warga meninggal di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Syahrul mengatakan, menurut laporan, keenam warga itu meninggal akibat diare.

"Saya habis dua-tiga hari, dua hari terakhir ini ngecek banget apa itu kelaparan membuat dia meninggal. Kok kalau meninggal kelaparan kok cuma satu keluarga? Jadi kelaparan itu bersifat masif. Oleh karena itu, yang ada menurut laporan dari sekwilda dan kadis setempat bukan kelaparan. Diare," kata Syahrul di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (2/8/2023).

Syahrul menuturkan keenam warga itu mulanya mengalami muntah, kemudian mereka mengalami diare dan dehidrasi.

"Hari pertama dia muntah. Siangnya 20 kali; 10-20 Kali. Malamnya dia diare. Dehidrasi. Itu yang saya tahu," ujarnya.

Kementan pun sudah melakukan langkah darurat untuk mengatasi kelaparan di dua distrik di Kabupaten Puncak. Syahrul mengatakan pihaknya juga akan memberikan bantuan kepada warga.

"Bahwa ada langkah kita ke sana iya. Langkah darurat untuk mem-backup mereka selama 3 bulan. Kan jumlah orangnya juga nggak banyak. Yang kedua temporary agenda saya akan mobilisasi kurang lebih 10 ribu polybag. Tanaman polybag di sekitar halaman rumah. Karena di sana 6 distrik. Satu distrik yang bersoal," tutur Syahrul.

Baca juga: Antisipasi Dampak El Nino, Mentan Minta Pemprov Lampung Ikut Berkontribusi Penuhi Kebutuhan Pangan

"Dan kita juga tidak boleh gegabah kan karena ini di Puncak sana dan ada masalah sedikit di sana. Saya punya konsentrasi di Timika sekarang untuk bisa mensuplai. Agenda ketiga, permanen agenda saya akan buat lahan penyangga di sana," imbuh dia.

Syahrul melanjutkan, warga di Puncak juga sudah terbiasa dengan cuaca ekstrem di sana. Karena itu, diyakini bahwa tewasnya enam warga itu akibat muntaber. Kendati demikian, dia memastikan akan melakukan pemantauan di wilayah tersebut.

"Dan saya kira kalau di Puncak itu masalah hujan es dan lain-lain setiap tahun seperti itu. Jadi ini menurut saya, tapi mari temen-temen mengecek, bukan karena kelaparan, tapi karena muntaber," kata Syahrul.

Sebelumnya, diberitakan bahwa bencana kelaparan melanda dua distrik di Puncak, Papua Tengah. Enam orang pun dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan tersebut.

Syahrul melanjutkan, warga di Puncak juga sudah terbiasa dengan cuaca ekstrem di sana. Karena itu, diyakini bahwa tewasnya enam warga itu akibat muntaber. Kendati demikian, dia memastikan akan melakukan pemantauan di wilayah tersebut.

"Dan saya kira kalau di Puncak itu masalah hujan es dan lain-lain setiap tahun seperti itu. Jadi ini menurut saya, tapi mari temen-temen mengecek, bukan karena kelaparan, tapi karena muntaber," kata Syahrul.

Sebelumnya, diberitakan bahwa bencana kelaparan melanda dua distrik di Puncak, Papua Tengah. Enam orang pun dilaporkan meninggal dunia akibat kelaparan tersebut.(***)

Antisipasi Dampak El Nino, Mentan Minta Pemprov Lampung Ikut Berkontribusi Penuhi Kebutuhan Pangan

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meminta Provinsi Lampung ikut serta berkontribusi memenuhi kebutuhan pangan nasional dalam menghadapi ancaman dampak fenomena El Nino.

"Kehadiran saya di Lampung ini dalam rangka melakukan gerakan nasional menghadapi El Nino sesuai perintah Presiden ada enam provinsi utama dan empat yang menjadi penyangga pangan saat El Nino," ujar Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri rapat koordinasi antisipasi dampak El Nino Provinsi Lampung di Lampung Tengah, Rabu.

Ia mengatakan Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah yang ditunjuk sebagai penyangga pangan dalam menghadapi El Nino bersama dengan Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.

Baca juga: Penarikan Mahasiswa Magang, Polbangtan Kementan Ramaikan Pasar Aksata Boyolali

"Dalam menghadapi El Nino, kita membutuhkan konsentrasi dan kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Lampung sebagai daerah penyangga pangan langsung ke Pulau Jawa kata kunci utamanya adalah harus ikut serta berkontribusi untuk menunjang kepentingan nasional," katanya.

Dia menjelaskan dipilihnya Lampung dan beberapa daerah sebagai penyangga pangan itu dilakukan untuk mengantisipasi adanya penurunan produksi secara nasional dari berbagai daerah, sebagai dampak fenomena El Nino.

"Kami mempersiapkan berbagai hal terkait dampak El Nino, dan provinsi ini dipilih karena 'buffer stock' beras dan tren produktivitasnya bagus. Lampung ini harus ikut mendukung secara nasional sebab kalau untuk lokal sendiri dalam menghadapi El Nino pasti selesai tapi kami butuh bantuan secara nasional," ucapnya.

Menurut dia, pihaknya menawarkan beberapa skema kepada Pemerintah Provinsi Lampung dan kabupaten untuk melakukan intensifikasi lahan pertanian dalam menghadapi El Nino.

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Jagung Hibrida, Kementan dan PT Bayer Indonesia Jalin Kerjasama

"Di Provinsi Lampung ini kami menawarkan intensifikasi lahan pertanian bisa 30 ribu hektare, 50 ribu hektare atau 100 ribu hektare. Kalau gubernur atau bupati mau boleh, bila bisa beberapa kabupaten saja agar lebih fokus dikerjakan. Bagi kami intensifikasi lahan pertanian seluas 30 ribu hektare saja sudah cukup," ujar dia.

Ia berharap jika lahan pertanian minimal seluas 100 hektare dapat diintensifikasi dengan baik maka dapat berkontribusi kepada rakyat dengan perputaran ekonomi yang mencapai Rp30 miliar.

"Karena itu dalam menghadapi El Nino ini Lampung harus menjadi daerah terbaik dalam peningkatan produksi dan kelihatannya pemerintah daerah sangat serius serta antusias membantu kepentingan nasional dalam mencegah adanya kekurangan pangan di masa kekeringan," tambahnya.(***)

Penarikan Mahasiswa Magang, Polbangtan Kementan Ramaikan Pasar Aksata Boyolali

TANIINDONESIA.COM//BOYOLALI - Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan YOMA) Kementerian Pertanian ikut meramaikan kegiatan Pasar Aksata (Aksi Bersama Pertanian) Kabupaten Boyolali dalam rangka penarikan mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) 2023.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Senin (31/7/2023) di Kompleks Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali itu dihadiri sejumlah petinggi, baik dari Polbangtan YOMA maupun Pemkab Boyolali.

Partisipasi Polbangtan YOMA pada acara tersebut untuk memperkuat pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Boyolali. Pelibatan generasi muda pada sektor pertanian penting untuk dilajukan sedini mungkin sebagai bagian dari upaya regenerasi pertanian di masa mendatang.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menuturkan, regenerasi pertanian sudah harus dilakukan sedini mungkin. Sebab, kata Syahrul, sebanyak 71 persen petani di Indonesia sudah masuk kategori usia tua.

Baca juga: Penuhi Kebutuhan Jagung Hibrida, Kementan dan PT Bayer Indonesia Jalin Kerjasama

"Ke depan, secara perlahan orientasi 20 persen lebih besar lagi diisi petani muda. Meskipun tidak mudah, tapi usaha bersama pemerintah dan elemen lainnya yang terlibat akan percepat lahirnya petani muda karena petani tidak pernah ingkar janji," kata Menteri Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menambahkan, pihaknya terus berupaya mengubah wajah sektor pertanian. Salah satunya melalui regenerasi petani.

Dikatakan Dedi, Kementan telah menyiapkan banyak strategi agar pertanian menjadi idola bagi anak muda. Mulai dari pendidikan dan pelatihan vokasi, penumbuhan wirausaha muda pertanian (PWMP), duta petani milenial dan duta petani andalan (DPM/DPA) dan sejumlah program lainnya.

"Tentu regenerasi petani menjadi suatu keniscayaan yang turut berkontribusi untuk kemajuan pertanian Indonesia,” ujar Dedi.

Dikatakannya, tantangan zaman yang semakin berkembang tentulah tepat bila dijawab oleh para milenial yang masih energik, berjiwa kritis sebagai petani modern yang muaranya untuk mencapai kedaulatan pangan.

"Kementan berkomitmen pada pembangunan pertanian yang maju, mandiri dan modern. Maka dari itu, adaptasi pertanian pada sektor teknologi yang terus berkembang harus ditopang oleh generasi milenial yang memang merupakan ranahnya saat ini," tutur Dedi.

Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto menjelaskan, aksi bersama pertanian dengan petani binaan MBKM mahasiswa dimaksudkan untuk memperkuat pemasaran dan kemajuan potensi usaha petani.

"Dengan adanya petani milenial dan kegiatan ini, tentu kami berharap dapat memotivasi pemuda dan generasi milenial untuk dapat mewujudkan suatu pertanian keberlanjutan," terang Bambang.

Baca juga: Perkuat Produksi, Mentan Tanam Bawang Merah di Bangli

Dikatakan Bambang, Polbangtan YOMA amat concern terhadap pembangunan pertanian Indonesia. "Polbangtan peduli dengan regenerasi petani untuk menjadi petani modern berbasis teknologi," ujar Bambang.

Bupati Boyolali, Mohammad Said Hidayat menegaskan perlunya aksi bersama dari semua pihak untuk meningkatkan usaha pertanian di Boyolali. "Boyolali ini mempunyai potensi pertanian yang sangat besar, sehingga perlu adanya banyak kerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya Polbangtan YOMA, termasuk keberlanjutan pertanian dari sisi SDM pertanian," kata Said.

Sebagaimana diketahui, ada tiga acara yang diselenggarakan yakni penarikan mahasiswa MBKM di Kabupaten Boyolali, pembukaan Pasar Aksata dan talk show yang diisi oleh tiga orang narasumber berkompeten.

Hadir di antaranya Direktur Polbangtan dan Kaprodi PBB, Bupati Boyolali, Wakil Bupati Boyolali, Ketua DPRD Boyolali, Sekda Pemkab Boyolali, Asisten Perekonomian Pemkab Boyolali, Kadis Pertanian Boyolali, Kadis DKP Boyolali, Kadis Peternakan Boyolali, Kadis Kominfo Boyolali, Kadis LH Boyolali, Camat dan Kades se-Boyolali, Gapoktan dan KWT Wilayah Selo, Cepogo, Mojosongo, Nogosari dan Simo dan sejumlah tamu undangan lainnya.

Penuhi Kebutuhan Jagung Hibrida, Kementan dan PT Bayer Indonesia Jalin Kerjasama

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian berusaha memenuhi kebutuhan bibit jagung hibrida yang mengalami peningkatan. Kementerian Pertanian bekerjasama dengan PT Bayer Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jagung hibrida.

Koordinator Kelompok Substansi Penilaian dan Penyebaran Varietas, Direktorat Perbenihan Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Andi M. Saleh mengatakan, dunia pertanian pada era perubahan cepat dan banyak ketidakpastian, pemanasan global, ancaman perubahan iklim, kekeringan, dan kesuburan tanah berimbas pada penyediaan pangan. Selain itu kendala pertumbuhan penduduk yang semakin naik namun tidak didukung dengan lahan areal dan kualitas lahan pertanian, berimbas pada ancaman kelaparan gizi buruk dan stunting.

“Salah satu solusi yang ditawarkan adalah melalui bioteknologi, seperti PT Bayer Indonesia salah satu industri benih multinasional menghasilkan varietas jagung hibrida,” ujar Andi kepada Liputan6.com, Rabu (26/7/2023).

Baca juga: Perkuat Produksi, Mentan Tanam Bawang Merah di Bangli

Andi menjelaskan, PT Bayer Indonesia pada 2022 telah melepas varietas jagung hibrida PRG DK95-NK603, dengan keunggulan ketahanan terhadap herbisida glifosat. Kementerian Pertanian meminta PT Bayer Indonesia, selaku pemilik izin peredaran benih jagung hibrida PRG varietas DK95-NK603 untuk “Kami meminta PT Bayer Indonesia melakukan mekanisme pengawasan dan pengendalian varietas tanaman produksi rekayasa genetika sebagaimana amanah yang termaktub dalam Permentan nomor 50 tahun 2020,” jelas Andi.

Pemerintah mendukung pengembangan varietas baru baik melalui teknologi hibrida maupun bioteknologi. Saat ini telah dilepas untuk varietas jagung hibrida sebanyak 317 varietas dan jagung hibrida PRG sebanyak delapan varietas. Varietas tersebut merupakan hasil rekayasa teknologi tinggi dengan menggunakan sarana prasarana yang relatif membutuhkan biaya yang cukup besar.

“Maka pemerintah terus mendorong swasta untuk mengembangkan varietas tersebut, salah satunya dengan PT Bayer Indonesia,” ucap Andi.

Andi mengungkapkan, PT Bayer Indonesia merupakan pelopor komersialisasi benih jagung bioteknologi. PT Bayer Indonesia akan memberikan dampak nyata upaya penyediaan benih khususnya untuk benih jagung dan peningkatan produksi jagung nasional secara nyata.

“Potensi produksi jagung lokal hanya berkisar tiga sampai empat ton per hektar dan jagung komposit berkisar lima sampai tujuh ton per hektar,” ungkap Andi.

Baca juga: Produksi Surplus, Mentan: Pemerintah Bakal Ekspor Bawang Merah Mulai Agustus 2023

Industri benih memiliki peranan yang cukup penting dalam penyediaan dan penyaluran benih varietas unggul. 10 tahun lalu industri benih jagung hibrida sebanyak 15 unit dengan kapasitas produksi benih jagung hibrida sebanyak 45.000 ton per tahun. Saat ini telah berkembang menjadi 54 unit industri benih jagung hibrida dengan kapasitas produksi benih jagung hibrida sebesar 110.000 ton per tahun.

“Atas hal tersebut permintaan benih jagung hibrida sekitar 62.500 ton per tahun telah dapat dipenuhi industri benih dalam negeri,” tegas Andi.

Berdasarkan data luas tanam yang tercantum pada sistem informasi pengumpulan data pangan strategis atau PDPS, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Data Provitas BPS 2022 produksi jagung (KA 27%), mencapai 25,18 juta ton pipilan kering, mengalami pertumbuhan 9,29% dibandingkan produksi 2021 sebesar 23,04 juta ton pipilan kering.

“Adapun realisasi penggunaan benih jagung bersertifikat pada 2022 sebesar 73,59 persen mengalami pertumbuhan 1,96 persen dibanding tahun 2021 sebesar 72,17 persen,” kata Andi.(***)

Perkuat Produksi, Mentan Tanam Bawang Merah di Bangli

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melakukan penanaman bawang merah di Desa Kedisan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali. Kegiatan ini merupakan rangkaian kerja pemerintah dalam memperkuat produksi bawang merah dan menyasar pasar ekspor serta memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Di Bangli ini posisi bawang merah harus diperkuat karena memiliki potensi ekspor dan pemenuhan dalam negeri. Bangli masih punya 1000 hektare lebih untuk penanaman. Karena itu posisi ini harus diperkuat," kata Syahrul, Jumat, 28 Juli 2023.

Secara Nasional, Syahrul melanjutkan, produksi bawang merah hingga saat ini masih surplus, meskipun Indonesia dan juga negara di dunia lainya tengah dilanda cuaca ekstrem el nino yang diperkirakan berlangsung hingga September. Karena itu, untuk menghadapi el nino ini semua pihak termasuk pemerintah daerah wajib turun langsung dan memperkuat produksi yang ada.

"Saya berharap dengan potensi yang ada ini kita coba kembangkan tidak hanya di Bangli saja, tetapi juga bisa mengisi daerah daerah yang sorted lainnya. Kita bersyukur karena kita masih punya kelebihan di atas 300 ribu ton," ujarnya.

Terkait ekspor, Syahrul mengatakan pada Agustus nanti Indonesia mulai mengekspor bawang merah yang didapat dari berbagai sentra. Karena itu, pemerintah juga terus mengawal petani milenial agar terlibat aktif dan membangun pertanian Indonesia yang jauh lebih maju.

Baca juga: Produksi Surplus, Mentan: Pemerintah Bakal Ekspor Bawang Merah Mulai Agustus 2023

"Kita awal Agustus ini sudah mulai ekspor dan kita akan kembangkan terus produksinya di berbagai Provinsi lain. Selain itu kita mengawal pelatihan petani milenial agar membangun pertanian secara bersama-sama," kata Syahrul.

Asisten Daerah II Kabupaten Bangli, I Ketut Riang mengatakan siap melaksanakan semua arahan Mentan dalam mengembangkan berbagai produk pertanian di Bali. Termasuk komoditas bawang merah yang saat ini memiliki potensi besar dalam memenuhi pasar ekspor dan kebutuhan dalam negeri.

"Walau begitu, Pak Menteri beserta jajaran kementan besar harapan kami agar pemerintah pusat memberikan dukungan untuk kemajuan pembangunan pertanian di Kabupaten Bangli khususnya dalam mendukung ketersediaan sarana dan prasarana pertanian seperti saprodi jalan pertanian dan pengelolaan sumber sumber air," kata dia.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan, upaya Kementan dalam memenuhi produksi bawang merah terus dilakukan melalui penyediaan benih unggul, alsintan hingga akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian.

"Semua bantuan dan pendampingan ini kami terus lakukan di berbagai daerah. Kita bersyukur karena produksi kita dari tahun ke tahun terus meningkat," ujarnya. (***)

Produksi Surplus, Mentan: Pemerintah Bakal Ekspor Bawang Merah Mulai Agustus 2023

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian berencana akan mulai melakukan ekspor bawang merah pada Agustus 2023 mendatang. Adapun negara tujuan ekspor komoditas ini adalah Vietnam Thailand dan Singapura.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) mengatakan bahwa produksi bawang merah di dalam negeri saat ini dalam kondisi surplus.

"Kita awal Agustus ini sudah mulai ekspor dan kita akan kembangkan terus produksinya di berbagai Provinsi lain. Kita masih punya lebihan (produksi) di atas 300 ribu ton," jelas Mentan SYL dalam keterangannya, Sabtu (29/7).

Baca juga: Tingkatkan Produksi Pertanian, Wamentan Minta Seluruh Stakeholder Saling Sinergi dan Kolaborasi

SYL menilai Indonesia masih berpeluang untuk memperluas produksi bawang merah. Untuk itu pemerintah berencana untuk memperluas lahan produksi ke berbagai daerah untuk memastikan stok dan juga untuk mengantisipasi dampak el-nino.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto mengatakan bahwa upaya pemerintah dalam memenuhi produksi bawang merah terus dilakukan melalui penyediaan benih unggul, alsintan hingga akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) pertanian.

"Semua bantuan dan pendampingan ini kami terus lakukan di berbagai daerah. Kita bersyukur karena produksi kita dari tahun ke tahun terus meningkat," jelasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) produksi bawah merah di Indonesia pada tahun 2022 mencapai 1.9 juta ton. Angka tersebut turun dibandingkan dengan produksi pada 2021 yang mencapai 2,01 juta ton.(***)

Tingkatkan Produksi Pertanian, Wamentan Minta Seluruh Stakeholder Saling Sinergi dan Kolaborasi

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Sinergi dan kolaborasi antar seluruh stakeholder pertanian dan peternakan di Indonesia dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian sangat penting. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi ketika membuka Indo Livestock 2023 Expo & Forum di Grand City Convex Surabaya, Rabu 26 Juli 2023.

“Kita harus bekerja sama dan optimis di situasi yang tidak menentu ini, baik dari segi iklim dan juga traffic perdagangan yang sempat terhenti karena pandemic Covid-19,” kata Harvick.

Menurut dia, struktur yang ada di Kementerian Pertanian, termasuk peran pemerintah daerah dan peran para pelaku usaha seharusnya dapat meningkatkan sektor pertanian agar bisa jadi sandaran pangan, sandaran hidup bagi masyarakat.

“Kita harus fokus ke peningkatan produksi untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di Indonesia, jika melimpah, maka dapat diekspor dan untuk pemasarannya bisa kita cari caranya,” kata Harvick.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pencapaian nilai ekspor subsektor peternakan tahun 2022 mencapai Rp. 17,7 T mengalami peningkatan sebesar 13,5 persen dibandingkan tahun 2021.

Baca juga: Kementan Jadikan Sembalun Sentra Penyediaan Bawang Putih Nasional

Salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan dalam proses pembangunan kata Harvick adalah perkembangan teknologi dan inovasi untuk mencapai produktivitas dan efisiensi produksi. Oleh karena itu, Ia menilai, untuk terus meningkatkan peluang akses pasar ekspor, maka perlu adanya dukungan dari seluruh stakeholder terkait, terutama dalam penerapan standar-standar internasional mulai dari hulu ke hilir untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing.

“Saya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah daerah yang telah berinisiatif membuat kegiatan pameran ini,” ujar Harvick. Melalui event ini, dia berharap pelaku usaha di Indonesia dan dunia internasional dapat saling berinteraksi dan terjadi transfer teknologi yang bermanfaat bagi pengembangan peternakan di Indonesia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Iwan, mewakili Gubernur Jawa Timur mengatakan, Jawa Timur adalah pintu gerbang perdagangan ke Indonesia Timur. “Untuk itu saya sampaikan kepada para pelaku usaha bidang pertanian maupun peternakan, bahwa berinvestasi di Jawa Timur akan sangat menguntungkan karena potensi pasar sangat luas,” kata Iwan.

Iwan mengatakan, Jawa Timur masih menghadapi berbagai tantangan dalam perdagangan. Meskipun demikian, Ia tetap optimis karena pemerintah Jawa Timur telah melakukan berbagai langkah seperti penguatan produksi, optimalisasi kelancaran distribusi didukung penguatan data dan digital, optimalisasi hulu hilir peningkatan produktifitas, dan suplay manajemen aktifasi jalur perdagangan.

Indo Livestock merupakan perhelatan internasional industri peternakan, pertanian, pakan ternak, pengolahan susu, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan dan akuakultur. Pameran ini diikuti oleh total 370 perusahaan/peserta pameran dari 42 negara termasuk di dalamnya ada 7 paviliun negara yaitu Australia, China, Eropa, Indonesia, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand.(***)