26 Mei 2024

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Bertani on Cloud atau BOC kembali menyapa SobatTani di pertengahan September. Kali ini Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang berkesempatan menjadi host penyelenggara BOC pada Kamis (14/9).

Berkolaborasi dengan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Tri Karsa Inti Rakyat, BOC volume 235 ini mengangkat tema “Eco-Enzyme Alternatif Cerdas Menekan Dampak Perubahan Iklim”.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi membuka kegiatan tersebut. Dedi mengawali dengan pentingnya mengolah limbah organik sebagai salah satu upaya mengatasi perubahan iklim yang disebabkan oleh gas metana yang timbul dari limbah sampah organik tersebut.

“Bumi kita sudah panas, semakin banyak sampah yang dihasilkan, semakin banyak pula gas metana yang dilepaskan. Itulah salah satu yang menyebabkan bumi terasa semakin panas,” kata Dedi.

Ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang mengimbau seluruh insan pertanian untuk kembali pada pertanian organik. “Pertanian organik adalah bertani dengan bahan-bahan organik. Ini jelas lebih sehat bagi tanah dan bagi kita yang mengkonsumsi produk pertaniannya,” kata Mentan.

Sesi pertama BOC dipandu oleh Fiadini Putri, Widyaiswara BBPP Lembang. Sesi ini diisi dengan pengenalan P4S Tri Karsa Inti Rakyat oleh Ketua P4S, Meliyarta. Pada kesempatannya Ia menceritakan perjalanan P4S yang telah berdiri sejak 2016 ini. Turut hadir Mamik Winiastuti, selaku penyuluh pendamping dari P4S. Ia menjelaskan pentingnya peran penyuluh dalam membina P4S di wilayah masing-masing.

Sesi kedua diisi dengan materi utama yakni praktik pembuatan eco-enzyme. Widyaiswara BBPP Lembang, Chesara Novatiano bersama Dinny Retnawati dari P4S mengajak ribuan peserta yang telah berbagung untuk membuat eco-enzyme. Alat dan bahan yang digunakan antara lain: toples atau penyimpanan dengan penutup yang lebar, limbah organik (sampah buah-buahan seperti kulit buah dan sayuran basah), air, serta molase (dapat diganti dengan gula merah).

   Baca juga: Kolaborasi BBPP Lembang dan P4S Tri Karsa Inti Rakyat Sukses Curi Minat Ribuan Peserta BOC Volume 235

Dinny menegaskan bahwa takaran yang digunakan harus sesuai. “Rumus pembuatan eco-enzyme telah melewati berbagai penelitian yang sangat panjang. Karenanya proses pembuatannya harus sesuai dengan takaran yang ditentukan agar hasilnya maksimal, yakni 3:1:10 untuk limbah buah/sayur, molase, dan air,” jelas Dinny.

Eco-enzyme kemudian disimpan selama tiga bulan di tempat yang aman dari paparan matahari dan barang-barang elektronik. “Simpan eco-enzyme dalam toples yang permukaannya lebar sehingga ruangnya cukup banyak dan tidak meledak. Jika tidak ada toples, bisa menggunakan botol, namun harus dibantu dengan pemasangan balon pada tutupnya. Kita juga biasanya menambahkan sereh agar eco-enzyme tersebut lebih beraroma,” lanjut Dinny memberikan tips.

Ia kemudian menjelaskan bahwa pengolahan limbah menjadi eco-enzyme mampu menjadi salah satu solusi menekan dampak perubahan iklim mulai dari lingkup rumah tangga.

Setelah mempraktikkan tahapan pembuatan eco-enzyme Dinny menunjukkan berbagai produk olahan eco-enzyme produksi P4S yang ternyata kaya akan manfaat. Tidak hanya sebagai pupuk organik cair, eco-enzyme juga dapat dibuat berbagai produk turunan seperti: sabun sirih, sabun cuci tangan, face mist, sabun cuci piring, pembersih lantai, dan lainnya.

Diakui Dinny, produk berbahan dasar eco-enzyme ini dapat bekerja dengan optimal seperti halnya produk kimia

Sesi terakhir diakhiri dengan diskusi. Meli dan Dinny menjawab berbagai pertanyaan dari peserta yang mengikuti via Zoom Meeting maupun live streaming Youtube. Nampak peserta sangat antusias mengajukan berbagai pertanyaan, terutama berkaitan dengan cara pembuatan eco-enzyme. Pada kesempatannya Dinny juga memberikan tips bagi peserta yang sudah pernah membuat eco-enzyme, namun belum maksimal disebabkan adanya kontaminasi.

Tercatat tidak kurang dari 500 peserta menyaksikan melalui Zoom Meeting dan 1.859 lainnya bergabung di live streaming Youtube.

Ajat Jatnika, Kepala BBPP Lembang menutup kegiatan BOC kali ini. Ajat mengapresiasi ribuan peserta yang telah bergabung. Ia juga berharap BOC volume 235 ini dapat memupuk kesadaran bagi insan pertanian untuk kembali ke pertanian organik. (DRY/YKO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *