21 April 2026

Hari: 15 September 2023

Eco-Enzyme, Mudah Dibuat Sejuta Manfaat

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Bertani on Cloud atau BOC kembali menyapa SobatTani di pertengahan September. Kali ini Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang berkesempatan menjadi host penyelenggara BOC pada Kamis (14/9).

Berkolaborasi dengan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Tri Karsa Inti Rakyat, BOC volume 235 ini mengangkat tema “Eco-Enzyme Alternatif Cerdas Menekan Dampak Perubahan Iklim”.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi membuka kegiatan tersebut. Dedi mengawali dengan pentingnya mengolah limbah organik sebagai salah satu upaya mengatasi perubahan iklim yang disebabkan oleh gas metana yang timbul dari limbah sampah organik tersebut.

“Bumi kita sudah panas, semakin banyak sampah yang dihasilkan, semakin banyak pula gas metana yang dilepaskan. Itulah salah satu yang menyebabkan bumi terasa semakin panas,” kata Dedi.

Ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang mengimbau seluruh insan pertanian untuk kembali pada pertanian organik. “Pertanian organik adalah bertani dengan bahan-bahan organik. Ini jelas lebih sehat bagi tanah dan bagi kita yang mengkonsumsi produk pertaniannya,” kata Mentan.

Sesi pertama BOC dipandu oleh Fiadini Putri, Widyaiswara BBPP Lembang. Sesi ini diisi dengan pengenalan P4S Tri Karsa Inti Rakyat oleh Ketua P4S, Meliyarta. Pada kesempatannya Ia menceritakan perjalanan P4S yang telah berdiri sejak 2016 ini. Turut hadir Mamik Winiastuti, selaku penyuluh pendamping dari P4S. Ia menjelaskan pentingnya peran penyuluh dalam membina P4S di wilayah masing-masing.

Sesi kedua diisi dengan materi utama yakni praktik pembuatan eco-enzyme. Widyaiswara BBPP Lembang, Chesara Novatiano bersama Dinny Retnawati dari P4S mengajak ribuan peserta yang telah berbagung untuk membuat eco-enzyme. Alat dan bahan yang digunakan antara lain: toples atau penyimpanan dengan penutup yang lebar, limbah organik (sampah buah-buahan seperti kulit buah dan sayuran basah), air, serta molase (dapat diganti dengan gula merah).

   Baca juga: Kolaborasi BBPP Lembang dan P4S Tri Karsa Inti Rakyat Sukses Curi Minat Ribuan Peserta BOC Volume 235

Dinny menegaskan bahwa takaran yang digunakan harus sesuai. “Rumus pembuatan eco-enzyme telah melewati berbagai penelitian yang sangat panjang. Karenanya proses pembuatannya harus sesuai dengan takaran yang ditentukan agar hasilnya maksimal, yakni 3:1:10 untuk limbah buah/sayur, molase, dan air,” jelas Dinny.

Eco-enzyme kemudian disimpan selama tiga bulan di tempat yang aman dari paparan matahari dan barang-barang elektronik. “Simpan eco-enzyme dalam toples yang permukaannya lebar sehingga ruangnya cukup banyak dan tidak meledak. Jika tidak ada toples, bisa menggunakan botol, namun harus dibantu dengan pemasangan balon pada tutupnya. Kita juga biasanya menambahkan sereh agar eco-enzyme tersebut lebih beraroma,” lanjut Dinny memberikan tips.

Ia kemudian menjelaskan bahwa pengolahan limbah menjadi eco-enzyme mampu menjadi salah satu solusi menekan dampak perubahan iklim mulai dari lingkup rumah tangga.

Setelah mempraktikkan tahapan pembuatan eco-enzyme Dinny menunjukkan berbagai produk olahan eco-enzyme produksi P4S yang ternyata kaya akan manfaat. Tidak hanya sebagai pupuk organik cair, eco-enzyme juga dapat dibuat berbagai produk turunan seperti: sabun sirih, sabun cuci tangan, face mist, sabun cuci piring, pembersih lantai, dan lainnya.

Diakui Dinny, produk berbahan dasar eco-enzyme ini dapat bekerja dengan optimal seperti halnya produk kimia

Sesi terakhir diakhiri dengan diskusi. Meli dan Dinny menjawab berbagai pertanyaan dari peserta yang mengikuti via Zoom Meeting maupun live streaming Youtube. Nampak peserta sangat antusias mengajukan berbagai pertanyaan, terutama berkaitan dengan cara pembuatan eco-enzyme. Pada kesempatannya Dinny juga memberikan tips bagi peserta yang sudah pernah membuat eco-enzyme, namun belum maksimal disebabkan adanya kontaminasi.

Tercatat tidak kurang dari 500 peserta menyaksikan melalui Zoom Meeting dan 1.859 lainnya bergabung di live streaming Youtube.

Ajat Jatnika, Kepala BBPP Lembang menutup kegiatan BOC kali ini. Ajat mengapresiasi ribuan peserta yang telah bergabung. Ia juga berharap BOC volume 235 ini dapat memupuk kesadaran bagi insan pertanian untuk kembali ke pertanian organik. (DRY/YKO)

Kolaborasi BBPP Kementan dan P4S Tri Karsa Inti Rakyat Sukses Curi Minat Ribuan Peserta BOC Volume 235

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Perubahan iklim menjadi salah satu isu global terlebih bagi negara beriklim tropis seperti Indonesia. Salah satu dampak yang tengah dirasakan adalah El Nino atau fenomena naiknya suhu bumi. Karenanya Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah komando Menteri Syahrul Yasin Limpo mengimbau seluruh jajaran untuk bersiap mengantisipasi dampak el nino tersebut.

Menurut Syahrul, Kementan akan menyediakan pasokan pangan (beras) sebanyak 382 ton jika El Nino melanda dalam keadaan yang relatif rendah. "Kalau El Nino dalam tingkat yang rendah, dari analisis kami di antara kelembapan 42 sampai 50 akan shorted kira-kira 382 ribu ton (beras). Kalau pendekatan ekstrem (kelembapan) di atas 800, kita siapkan di atas 1 juta ton," paparnya pada rapat koordinasi dan gerakan nasional penanganan dampak El Nino.

Kendati demikian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) turut melakukan berbagai langkah antisipasi dan memepersiapkan SDM pertanian dalam menghadapi ancaman El Nino. Salah satunya melalui kegiatan Bertani On Cloud (BOC) Volume 235 yang diselenggarakan oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang pada Kamis (14/9).

Mengangkat tema “Eco-Enzyme Alternatif Cerdas Menekan Dampak Perubahan Iklim”, BOC kali ini menggandeng Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Tri Karsa Inti Rakyat, Kota Depok, Jawa Barat.

P4S yang telah berdiri sejak 2016 ini, kini berfokus pada pengembangan eco-enzyme dan berbagai produk turunannya. Tidak hanya lingkup rumah tangga, berbagai pelatihan telah diselenggarakan bagi siswa, mahasiswa, masyarakat umum, maupun di lingkup perkantoran.

   Baca juga: Tingkatkan Nilai Tambah Produk Pertanian, Kementan Latih Jutaan Petani dan Penyuluh

Disiarkan secara langsung dari BBPP Lembang, tidak kurang dari 500 peserta bergabung melalui Zoom Meeting dan 1.859 peserta lainnya menyaksikan via Live Streaming Youtube.

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, membuka BOC kali ini. Disampaikan Dedi Fenomena El Nino merupakan salah satu dampak perubahan iklim. Karenanya yang harus dilakukan adalah mengurangi penggunaan produk-produk kimiawi dan kembali ke pertanian organik.

“Esesnsi dari eco-enzyme adalah back to nature. Kita harus bangun pertanian organik. Pertanian organik sudah terbukti sehat dan menyehatkan bagi tanah dan juga produk yang dihasilkan,” kata Dedi.

BOC dilanjutkan dengan sesi pertama yakni pengenalan P4S Tri Karsa Inti Rakyat bersama Meliyarta, Ketua P4S. Dipandu Widyaiswara BBPP Lembang, Fiadini Putri, wanita yang akrab disapa Meli ini menceritakan perjalanan P4S yang dipimpinnya.

“P4S kami telah berdiri sejak 2016 dengan komoditas hortikultura. Namun kami sempat vakum, dan kembali aktif pada 2019 dengan menggandeng UMKM mencetak berbagai produk olahan seperti bir pletok, sirup blimbing wuluh, dan tahu bakso. Setelahnya kami juga membuat berbagai produk olahan eco-enzyme, seperti berbagai jenis sabun yang ada di sini,” jelas Meli sambil menjelaskan contoh produk yang dibawanya.

Turut hadir Mamik Winiastuti, penyuluh pendamping P4S. Mamik menceritakan peran penyuluh dalam mendukung kegiatan P4S. “Penyuluh harus turut aktif. Kami harus selalu memotivasi dan mengedukasi P4S dan memikirkan kebutuhan di P4S yang harus dipenuhi. Peran penyuluh harus maksimal dengan berbagai kolaborasi dan komunikasi yang berkelanjutan,” ungkap Mamik.

Selanjutnya, Widyaiswara BBPP Lembang, Chesara Novatiano mengajak peserta praktik membuat eco-enzyme.

Dinny Retnawati menjadi narasumber pada sesi ini. Ia menjelaskan pembuatan eco-enzyme telah memiliki standar yang baku dan harus sesuai takaran.  “Bahan utama yang digunakan yakni sisa buah-buahan seperti kulit buah ataupun sayur-sayuran yang masih basah. Kita juga menggunakan molase atau gula merah sebagai penggantinya, dan terakhir adalah air. Perbandingan yang digunakan adalah 3:1:10 yang terdiri dari limbah sayur dan buah, molase, dan air,” paparnya.

Ia juga menyarankan penambahan sereh untuk membuat eco-enzyme yang lebih wangi.

Sesi terakhir merupakan sesi diskusi. Nampak peserta tertarik dengan materi yang disampaikan para narasumber. Berbagai pertanyaan melalui zoom, chat room, dan youtube dijawab oleh narasumber.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menutup kegiatan BOC kali ini. Ajat mengapresiasi antusiasme peserta yang telah bergabung.

“Topik eco-enyzme yang disampaikan dalam BOC volume 235 ini diharapkan dapat memupuk kesadaran bagi kita untuk turut menjaga lingkungan dan tetap dalam koridor back to nature, terlebih dalam kondisi El Nino yang saat ini kita hadapi,” pungkasnya.

Lebih lanjut Ajat berpesan agar setelah menyaksikan BOC kali ini peserta mampu memulai pertanian organik dari lingkup rumah tangga, salah satunya dengan eco-enzyme yang mampu membawa sejuta manfaat. (DRY/YKO)