17 Mei 2026

admin

Kementan Jadikan Sembalun Sentra Penyediaan Bawang Putih Nasional

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus mengawal ketersediaan benih bawang putih.

Tahun ini, Direktorat Perbenihan Hortikultura kembali menginisiasi kerja sama swakelola dalam penyediaan benih hortikultura, khususnya penyediaan benih bawang putih.

Direktur Perbenihan Hortikultura Inti Pertiwi Nashwari menyampaikan program swakelola benih bawang putih tahun ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan.

Swakelola ini dilakukan guna pemenuhan kebutuhan benih pada program pengembangan kampung bawang putih di 2024 mendatang.

"Kegiatan kerja sama swakelola ini menjadi langkah antisipasi agar tidak terjadi lagi kegagalan pemenuhan target kampung bawang putih, seperti pada tahun 2022," kata Inti Pertiwi dalam acara panen raya bawang putih program swakelola musim 2023 di Sembalun, Lombok Timur, Selasa (25/7).

Baca juga: Komitmen Perbaiki Kualitas Lingkungan, Kementan Gelar Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan

Panen ini bersama perwakilan dari Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Wakil Bupati Lombok Timur Rumaksi, Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Dinas Pertanian Kab Lombok Timur, Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih NTB, beserta jajaran Forkopimda di lahan milik Kelompok Tani Pusuk Pujata.

Inti menjelaskan hasil panen raya bawang putih ini dipergunakan sebagai calon benih Kampung Bawang Putih.

Pasalnya, kebutuhan benih bawang putih pada 2024 sebanyak 600 ton, sehingga diharapkan kebutuhan benih dapat dipenuhi sebagian dari hasil panen program swakelola ini.

"Saya merasa bangga dan yakin terhadap hasil swakelola penyediaan benih bawang putih di Sembalun akan berhasil, melihat pertanaman, hasil panen dan komitmen dari Kelompok Tani Pusuk Pujata untuk memenuhi target swakelola," ungkapnya.

Menurut Inti Pertiwi, hasil panen bawang putih di Sembalun umbinya cukup besar.

"Hampir sama dengan bawang putih impor," jelasnya.

Karena itu, Inti Pertiwi menegaskan pihaknya siap melakukan pendampingan dalam hal teknis dan dukungan permodalan untuk pengembangan bawang putih di Sembalun.

Swakelola penyediaan benih bawang putih ini dilaksanakan di daerah Sembalun, Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, yakni wilayah yang telah dikenal sebagai sentra produksi bawang putih sejak 1980-an.

Sampai 1990-an, Sembalun mengalami masa kejayaan sebagai produsen bawang putih lokal yang memasok kebutuhan hampir seluruh Indonesia.

Namun setelah masuknya bawang putih impor, kejayaan bawang putih impor, kejayaan bawang putih dari Sembalun perlahan mulai menurun.

Wakil Bupati Lombok Timur Rumaksi menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan bawang putih di Sembalun.

Menurut Wabup Rumaksi, ini mengingat kejayaan bawang putih Sembalun di masa lampau yang memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi petani di daerah tersebut.

“Kami sangat berharap pemerintah pusat semakin memberikan perhatian dan fasilitasi khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pupuk agar produksi dan produktifitas bawang putih di Sembalun terjaga," harap Wabup Rumaksi.

Ketua Kelompok Tani Pusuk Pujata Egi Frisma menambahkan dirinya bersama anggota Kelompok taninya berkomitmen menyediakan benih bawang putih sebanyak 72 ton setara dengan luas pertanaman 18 hektare, dengan varietas Lumbu Putih dan Sangga Sembalun.

Dia menilai swakelola ini dapat memberikan dampak yang baik bagi petani.

Di samping itu, kebutuhan pupuk saprodi melalui swakelola ini dapat dipenuhi secara optimal sehingga hasilnya juga optimal.

"Program seperti ini sangat baik dalam pengembangan bawang putih. Melihat hasil panen bawang putih hari ini telah memberikan gambaran dan bukti bahwa bawang putih lokal dapat menghasilkan umbi bawang yang besar, hampir sama dengan umbi bawang putih impor," ujar Egi Frisma.

Terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan panen ini menjadi awal menentukan untuk proses penyediaan benih berikutnya.

Harapannya, hasil panen ini dapat memenuhi persyaratan standar benih yang dibutuhkan.

Baca juga: Kementan Apresiasi Penerapan Smart Farming oleh Petani Milenial Pasuruan

Dia menyarankan kelompok tani Pusuk Pujata perlu terus memperhatikan penanganan pascapanen dari hasil panen benih bawang putihnya.

"Berbagai hal yang dapat menimbulkan kerusakan benih dan penyusutan selama penyimpanan di gudang perlu dikendalikan," pesannya.

Dirjen Prihasto menjelaskan muara dari arahan yang disampaikannya tiada lain adalah agar benih bawang putih yang disediakan dari program swakelola ini benar-benar memenuhi standar tinggi sebagai benih bermutu.

Sebagai informasi, bersamaan dengan acara panen tersebut juga dilaksanakan ubinan untuk mengetahui taksiran produksi bawang putih dari program swakelola ini.

Ubinan dilaksanakan oleh penyuluh pertanian di Kecamatan Sembalun.

Sesuai hasil ubinan panen dihasilkan potensi produksi bawang putih sebesar 34,5 ton (berat panen basah).

Angka ini jauh melebihi jumlah panen yang biasa diperoleh oleh petani di sembalun yang rata-rata sebanyak 24 ton basah.(***)

Komitmen Perbaiki Kualitas Lingkungan, Kementan Gelar Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan

TANIINDONESIA.COM//Malang – Saat ini dunia menghadapi tantangan yang luar biasa dampaknya. Seluruh masyarakat dunia baru saja bisa dikatakan lolos dari Pandemi Covid-19.

Namun dampak utamanya terkait kecukupan pangan masih harus diatasi. Dalam satu dekade terakhir ini, masalah perubahan iklim, pemanasan global dan penurunan kualitas lingkungan hidup juga menjadi isu yang sering diperbincangkan.

Penurunan kualitas lingkungan ini berpotensi mengganggu keberlangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Hal ini seperti dikatakan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat membuka pelatihan sejuta petani dan penyuluh volume 7 dengan tema pertanian ramah lingkungan secara virtual.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan produktivitas tinggi dengan memperhatikan pasokan hara dari penggunaan bahan organik, minimalisasi ketergantungan pada pupuk anorganik, perbaikan biota tanah, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) berdasarkan kondisi ekologi, dan diversifikasi tanaman,”kata Mentan.

Baca juga: Kementan Apresiasi Penerapan Smart Farming oleh Petani Milenial Pasuruan

Pemahaman tentang pertanian ramah lingkungan akan diharapkan dapat menumbuhkan “sense of crisis” yang memotivasi untuk merapatkan barisan menghadapi tantangan pertanian saat ini.

“Smart farming dan pengembangan Smart Green House (SGH) berbasis pemanfaatan Internet of Thing (IoT) adalah salah satu solusi yang berperan penting dalam membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Hal ini seperti yang tengah dikembangkan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian bekerjasama dengan Pemerintah Korea Selatan,”lanjut SYL.

Menteri Pertanian, SYL, sangat mengapresiasi upaya kerjasama dari Pemerintah Korea dan BPPSDMP, yang memberikan hibah pengembangan smart farming dalam proyek “Enhanching Millenials Farmers Income by Adopting K-Smart Farm in Indonesia”.

Melalui Program tersebut pertanian tidak lagi dilakukan di lahan dengan skala kecil dan sulit dikontrol. Oleh karena itu, agenda intelektual Saudara harus meningkat dalam mengadopsi dan meniru teknologi modern tersebut sehingga akan berdampak pada meningkatnya minat petani millenial di dunia pertanian yang bermuara pada peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani,”tegas Mentan.

Sementara itu, dalam sambutan Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, mengatakan, Kelestarian sumberdaya lahan pertanian dan mutu lingkungan serta keberlanjutan sistem produksi merupakan hal yang kritikal bagi usaha pertanian di negara tropis, termasuk Indonesia.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian yang mengelola seluruh sumber daya pertanian dan input usaha tani secara bijak, berbasis inovasi teknologi untuk mencapai produktivitas berkelanjutan dan secara ekonomi menguntungkan dan berisiko rendah,”kata Dedi.

Pembangunan pertanian diarahkan   pada pencapaian ketahanan pangan sekaligus juga memperhatikan keamanan pangan. Konsep pertanian ramah  lingkungan  tersebut bermuara pada kualitas  tanah yang mempengaruhi: produktivitas tanah   untuk meningkatkan produktivitas   tanaman dan aspek hayati lainnya; memperbaiki kualitas lingkungan dalam menetralisasi kontaminan-kontaminan  dalam  tanah  dan produk pertanian dan kesehatan manusia yang  mengkonsumsi produk pertanian.

Baca juga: Kenaikan Harga Diprediksi Melambung Tinggi Akibat El Nino, Mentan Minta Pemda Perluas Lahan Komoditas Kedelai

Dedi menjelaskan, petani seringkali menggunakan pestisida maupun  pupuk kimiawi yang ugal-ugalan, sehingga berakibat buruk pada pertanian dan lingkungan. Pestisida bukan hanya mematikan hama serta penyakit tanaman, tetapi juga sekaligus mematikan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Dan akibat penggunaan yang diambang batas bisa menghancurkan lingkungan.

"Pengelolaan pertanian secara berlebihan dan ugal ugalan menyebabkan tanah kita hancur, udara hancur, air hancur dan lingkungan kita hancur, " tegas Dedi.

Pelatihan ini dilaksanakan secara serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di seluruh Indonesia ataupun lokasi titik kumpul lainnya selama 3 hari sejak tanggal 26 – 28 Juli 2023 secara online dan diikuti oleh 1.837.371 orang dari target 1.800.000 peserta dengan persentase mencapai 102,08% yang terdiri dari petani, penyuluh, dan insan pertanian lainnya.

Narasumber Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh berasal dari BPPSDMP, BSIP; Yayasan Inisiatif Indonesia Biru Lestari (WAIBI) didukung praktisi berkompeten dibidangnya.(***)

Kementan Apresiasi Penerapan Smart Farming oleh Petani Milenial Pasuruan

TANIINDONESIA.COM//PASURUAN - Upaya Kementerian Pertanian (Kementan) menggerakkan regenerasi petani mulai terlihat hasilnya. Sebab, banyak generasi milenial yang berkecimpung di sektor pertanian mulai dari sisi hulu hingga hilir.

Salah satu petani milenial yang sukses menggeluti sektor pertanian adalah Mashuda petani milenial yang menjadi Duta Petani Andalan (DPA) Kementan.

Mashuda adalah petani komoditas cabai binaan Kementan yang didukung Program Youth Enterpreneurship and Employment Support Services Programme (YESS).

Pada Maslahat Award Inovasi dan Teknologi yang digelar oleh Kabupaten Pasuruan, Mashuda meraih juara ketiga lewat inovasi Budi Cakep (Budi Daya Cabai Petani Kabupaten Pasuruan).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, generasi milenial dapat segera mengambil peranan dalam pembangunan pertanian. Terbukti dengan banyaknya pemuda dan pemudi yang menjadi pelopor dalam usaha pertanian.

Baca juga: Kenaikan Harga Diprediksi Melambung Tinggi Akibat El Nino, Mentan Minta Pemda Perluas Lahan Komoditas Kedelai

“Itu adalah contoh nyata bahwa pertanian tidak identik dengan kotor dan kemiskinan, setelah ditunjang mekanisasi dan inovasi pertanian yang menjadikan pertanian menjadi lebih modern dan menjanjikan,” ujar Mentan Syahrul.

Menteri meyakini generasi milenial yang inovatif dan memiliki gagasan kreatif mampu mengawal pembangunan pertanian maju, mandiri, serta modern.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementan (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi,
mengunjungi langsung Kebun Cabai Wonosari Farm, yang dikelola Mashuda, petani milenial DPA Kementan di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Rabu (26/7).

"Saya hari ini mengunjungi Mashuda, Petani Milenial dengan komoditas cabai dan sudah menerapkan smart farming dengan rumah kaca yang sederhana, beratap plastik dan bertiang bambu, betul betul sederhana tapi memiliki manfaat maksimal," katanya.

Untuk 1 rumah kaca luas 1000m persegi dengan 3000 populasi tanaman, satu pohon dalam satu tahun dapat menghasilkan 5,23 Kg atau total estimasi produksi 15 Ton, dengan harga cabai yang bervariasi misal 25.000 perkilo didapat hampir 400 juta rupiah omset satu unit rumah kaca ini. Kalau satu hektare ya dikali 10 yaitu kurang lebih 4 M pertahun.

"Yang saya perhatikan, pertama varietas yang dipilih memang varietas yang tinggi nilai jualnya, dan yang tahan terhadap penyakit, kedua untuk nutrisi dengan menggunakan irigasi tetes (drip irrigation), dan menggunakan tanah yang sebelumnya disuburkan dahulu dengan pupuk kandang, dengan tambahan dolomit. Dengan nutrisi yang optimal maka hasil yang didapat akan maksimal," katanya.

Dedi menambahkan, yang perlu dibangun adalah pertama rumah kaca.
"Kenapa? Karena dengan rumah kaca micro climate (suhu, cahaya, kelembaban) dapat dikendalikan, kedua pengendalian hama penyakit, dengan menggunakan rumah kaca hama penyakit tidak dapat masuk," ujarnya.

Baca juga: Di Malam Puncak Sarasehan Petani Milenial, Mentan: Kolaborasi Jadi Kunci Bisnis Pertanian

Dedi menambahkan, Mashuda sudah memberikan inspirasi yang luar biasa, dengan membangun smart farming, melalui rumah kaca sederhana, dikombinasikan dengan pemilihan varietas yang tepat, pengendalian hama yang bagus, hasil nya Luar Biasa.

"Intinya Smart farming adalah pertanian cerdas, dilakukan oleh orang yang cerdas, cara yang cerdas dengan mengadopsi teknologi. Dan yang paling penting Petani harus menguasai pasar," ujarnya.

Sementara Mashuda sangat berterimakasih atas kunjungan Kepala BPPSDMP. Ia pun menjelaskan kesehariannya sebagai petani.

"Seperti yang dapat dilihat inilah keseharian kami sebagai petani, yang penting kami dapat rutin kirim tiap minggu sesuai target yang diberikan pada kami. Perkara harga yang fluktuatif kami sudah mengalaminya, yang penting kami melihat hasil dari satu tahun," ujarnya.

"Alhamdulilah kami sudah berdiri 12 tahun, dengan dana yang seadanya, untuk modal membuat rumah kaca satu unit menghabiskan Rp150 juta/1000 meter dengan masa pakai 5 tahun, biaya operasional untuk nutrisi sekitar 70.000 perhari," sambungnya.

Mashuda menambahkan berapapun harga dipasaran, ia tidak rugi. "Dan untuk pasar berapapun yang kami produksi akan diserap oleh Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas)," tandasnya.

Kenaikan Harga Diprediksi Melambung Tinggi Akibat El Nino, Mentan Minta Pemda Perluas Lahan Komoditas Kedelai

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menilai cuaca ekstrem kemarau panjang atau El Nino dapat berdampak pada kenaikan harga kedelai di pasar global yang mencapai tiga kali lipat.

Maklum, El-Nino bisa menyebabkan dunia terancam kekeringan dan produksi kedelai global pun berpotensi menurun.

Oleh karena itu, dia meminta pemerintah daerah menambah luasan lahan untuk komoditas kedelai.

"Harga kedelai global bisa naik hingga tiga kali lipat. Kalau kita tidak menanam kedelai, mau makan apa kita besok?" ungkap Syahrul.

Baca juga: Di Malam Puncak Sarasehan Petani Milenial, Mentan: Kolaborasi Jadi Kunci Bisnis Pertanian

Syahrul menyebutkan, produksi kedelai nasional perlu semakin ditingkatkan. Hal itu mengingat kebutuhan kedelai masyarakat Indonesia cukup besar, sementara pemenuhannya masih dicukupi oleh impor.

"Dengan produksi kedelai global yang berpotensi menurun karena El Nino, pasokan kedelai (impor) ke Indonesia pun bisa berkurang," jelas dia.

Kementerian Pertanian juga meminta pemerintah daerah mempersiapkan program yang matang, mulai dari kelembagaan,sumber daya manusia, hingga pembiayaan.(***)

Di Malam Puncak Sarasehan Petani Milenial, Mentan: Kolaborasi Jadi Kunci Bisnis Pertanian

TANIINDONESIA.COM//MAKASSAR - Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan pertanian sudah tidak lagi bicara masalah wilayah, tetapi sudah bersifat global. Oleh karena itu, kolaborasi menjadi kata kunci model bisnis pertanian.

Hal tersebut disampaikan Mentan pada malam puncak Sarasehan Petani Milenial “Local Champion” 2023 di Hotel Claro Makassar, Sulawesi Selatan, 20 – 22 Juli 2023. Pelaksanaan sarasehan ini adalah kali kedua setelah sebelumnya digelar tahun 2022.

Dalam kegiatan itu, disalurkan KUR kepada 225 orang Petani Milenial binaan eselon satu lingkup Kementan penerima manfaat dengan total Rp10.471.000.000.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, Kementerian Pertanian telah menetapkan arah kebijakan pembangunan pertanian, yaitu Pertanian Maju, Mandiri, dan Modern.

Baca juga: Cetak Pebisnis Pertanian, Kementan Luncurkan BUPK

"Arah kebijakan ini menjadi pedoman untuk bertindak cerdas, cermat dan akurat bagi jajaran Kementerian Pertanian dalam mencapai kinerja yang lebih baik, mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, memanfaatkan teknologi mutakhir, dan korporasi petani sesuai arahan Bapak Presiden," katanya.

Untuk itu, Mentan berharap kegiatan ini mampu menghasilkan strategi penumbuhan usaha, jejaring pasar, pertukaran teknologi dan inovasi, serta mitigasi perubahan iklim global.

"Kolaborasi menjadi kata kunci model bisnis pertanian. Kita sudah tidak bicara wilayah, seperti Jawa, Sulawesi atau Kalimantan, tapi global. Jadi sangat penting konektivitas antar kalian (peserta sarasehan) untuk membangun ekosistem," tuturnya.

Mentan pun berharap setelah sarasehan para peserta dapat berkolaborasi antar peserta maupun dunia usaha.

Mentan menambahkan, mengurus pertanian mungkin tidak akan membeli kemewahan, tapi mendapatkan ketenangan.

"Kalian akan tenang, tetap bisa makan dan hidup berkecukupan. Kalian di sini sudah di tempat yang benar untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Pertanian itu menguntungkan, pertanian itu tidak kotor itu citra dahulu, kalian yang bikin pertanian itu keren dan menguntungkan," katanya.

Menurutnya, ciri petani milenial adalah militan, punya rasa ingin tahu yang tinggi dan menguasai teknologi dan mempunyai jejaring yang luas.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan kegiatan ini akan mengusung seluruh program unggulan
Kementerian Pertanian.

"Terutama program-program yang inovatif dan kolaboratif dalam menumbuhkan wirausaha muda pertanian," ujarnya.

Salah satunya Program TANI AKUR (Petani Milenial Akses KUR) . Dedi menjelaskan, TANI AKUR merupakan kolaborasi yang hadir untuk mempermudah akses pembiayaan dengan bunga yang terjangkau.

"Dengan pembiayaan yang mudah diharapkan akan mampu mendorong peningkatan skala usaha petani milenial," katanya.

Selain itu, program utama Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo dalam regenerasi petani adalah Petani Milenial. Dalam kegiatan ini, 500 orang Petani Milenial hadir bersama Mahasiswa Polbangtan dan tamu undangan sehingga total ada 700 orang.

Melalui acara ini dipertemukan petani milenial dengan pihak perbankan dan dunia usaha dengan harapan setelah pulang dari sarasehan ini, mereka menjadi local champion di daerahnya masing masing

Dedi berharap kegiatan ini dapat melahirkan local champion petani milenial yang merupakan kolaborasi seluruh Eselon 1 lingkup Kementerian Pertanian untuk mempercepat peran aktif petani milenial dalam pembangunan pertanian Indonesia.

Agenda pada Sarasehan Petani Milenial Tahun 2023 sendiri diisi dengan berbagai kegiatan, seperti Pameran Produk Unggulan Pertanian, Team Building dan Pembentukan Kelompok, Motivator “Membangun Bisnis Kreatif bagi Petani Milenial”.

Selain itu, ada kegiatan Launching Aplikasi Learning Management System (LMS), YESS Award, Penghargaan Local Champion 2023 (Petani Milenial Akses KUR).

Baca juga: Lewat Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Vol.7, Kementan Wujudkan Pertanian Ramah Lingkungan

Hadir pada acara pembukaan Wakil Bupati Bulukumba, Kepala Dinas Pertanian Bantaeng, Kepala Dinas Pertanian Bulukumba, Pimpinan Eselon I Lingkup Kementerian Pertanian, Pimpinan Eselon II Lingkup Kementerian Pertanian, Pimpinan Perbankan Penyalur KUR (Kredit Usaha Rakyat) dan Perwakilan Dunia Usaha dan Dunia Industri.

Sejumlah petani milenial yang dihadirkan secara online memberikan motivasi pada rekan sesama milenial yang hadir.

Di antaranya Ade, petani tanaman hias dan eksportir, ia membagikan motivasi dalam berbisnis pertanian, yang ia dapat langsung dari Mentan Syahrul.

“Start from the end, mulailah dari mencari pasar baru memutuskan menanam komoditas apa?" ujarnya.

Tanaman hias milik Ade sendiri memiliki pasar ekspor hingga ke Eropa, Amerika, Korea, Jepang, dan Singapura.

Selain itu ada Agung Wedha, Eksportir Buah, Distributor Sayur dan. Petani Hortikultura dengan komunitas Petani Muda Keren, petani asal Bali ini mengatakan untuk menjadi petani yang sukses harus punya modal 6 M.

"3M yang pertama adalah Melihat,
Mendengar dan Melakukan. Melihat dari contoh petani yang sukses, datangi mereka kemudian mendengar dalam arti belajar setelah itu melakukan," katanya.

"Setelah itu kalian akan butuh 3 M kedua yaitu Mindset, Modal, dan Management. Untuk sukses harus punya mindset yang baik, Modal dibutuhkan untuk akselarasi pertumbuhan usaha, disitu kita di-support melalui KUR dan yang terakhir management yang profesional dalam pengelolaan bisnis akan mengantarkan kita pada kesuksesan," tandasnya.

Cetak Pebisnis Pertanian, Kementan Luncurkan BUPK

TANIINDONESIA.COM//MAKASSAR - Untuk mencetak banyak petani muda dan pebisnis pertanian, Kementerian Pertanian meluncurkan Badan Usaha Pertanian Kampus (BUPK), Jumat (21/7/2023) di UNHAS Convention Center Makassar.

Kerjasama pembentukan BUPK ditanda tangani antara Universitas Hassanudin Makassar dengan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan Kementerian Pertanian telah menetapkan arah kebijakan pembangunan pertanian, yaitu Pertanian Maju, Mandiri, dan Modern.

"Arah kebijakan ini menjadi pedoman untuk bertindak cerdas, cermat dan akurat bagi jajaran Kementerian Pertanian dalam mencapai kinerja yang lebih baik, mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, memanfaatkan teknologi mutakhir, dan korporasi petani sesuai arahan Bapak Presiden," katanya.

Mentan menambahkan jika pendidikan vokasi memiliki posisi penting dalam pengembangan SDM.

"Di saat puncak bonus demografi, dimana usia kerja mendominasi proporsi penduduk indonesia, artinya kita harus sediakan peluang kerja sebanyak-banyaknya kita harus siapkan kapasitas mahasiswa dan alumni kita agar produktif dan kompetitif,” tuturnya.

Menurutnya,salah satu upaya untuk menumbuhkan wirausaha muda pertanian melalui pendidikan adalah dengan pembentukan BUPK dan pengelolaan secara bersama antara Polbangtan/PEPI Lingkup Kementerian Pertanian dengan Perguruan Tinggi Mitra.

Baca juga: Lewat Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Vol.7, Kementan Wujudkan Pertanian Ramah Lingkungan

"BUPK adalah wadah bagi mahasiswa, alumni perguruan tinggi dan pemuda tani yang akan menjadi entrepreneur atau pengusaha pertanian, sekaligus menjadi penggerak dan pencipta lapangan kerja di sektor pertanian serta mengembangkan usahanya," katanya.

Dalam upaya menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian, Mentan mengajak semua pihak untuk mengubah paradigma.

"Sektor pertanian merupakan sektor yang menarik dan menjanjikan apabila dikelola dengan tekun dan sungguh-sungguh, menanamkan kesadaran akan kebutuhan pangan nasional," katanya.

BUPK sendiri merupakan gagasan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam menjawab tantangan dunia pertanian di masa depan sekaligus regenerasi petani.

"Badan Usaha Pertanian Kampus sebenarnya yang diinginkan kita (pemerintah dan kampus) untuk bersinergi untuk meningkatkan swasembada pangan," katanya.

Ia menambahkan, BUPK melakukan proses bisnis pertanian, produksi, pasca panen, pemasaran, benar benar bisnis, bukan hanya teori. Dengan pengelolaan profesional sebagai unit bisnis.

Sebagai motivasi untuk para mahasiswa yang hadir, Mentan pun sempat berdialog dengan petani milenial secara online.

Sementara Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan dengan adanya badan usaha tersebut, para mahasiswa Polbangtan diharapkan menjadi lulusan siap kerja bahkan sebagai pencetak lapangan kerja.

"Kita sudah bangun badan usaha pertanian kampus, insya Allah akan segera diluncurkan," kata Dedi.

Ia menjelaskan, badan usaha itu akan menjadi organisasi sekaligus unit kerja di kampus yang ditujukan agar para alumni siap berbisnis sendiri.

Mereka akan diasah untuk menekuni bidang agribisnis dengan berbagai fasilitas seperti smart green house yang saat ini terus didorong Kementan.

"Ini semua akan mengarah ke sana sehingga kita memperkuat pendidikan vokasi," kata Dedi.

Sedangkan Polbangtan Gowa sudah memiliki sebuah BUPK yang diberinama Go-AGRise.

Go-AGRise diambil dari akronim Polbangtan Gowa Agribusiness Venture. Nama ini juga menunjukkan visi menjadi bisnis yang maju dan terus bertumbuh dan berkembang.

Go-AGRise adalah Badan Usaha Pertanian Kampus Polbangtan Gowa, yaitu badan usaha mandiri yang merupakan unit usaha Koperasi Kesuma Polbangtan Gowa, berbadan hukum koperasi

Go-AGRise memiliki beberapa unit bisnis, yaitu unit bisnis peternakan unggas, unit bisnis pupuk kompos, unit bisnis hortikultura, dan unit bisnis pengolahan kakao.

Baca juga: Kementan Jamin Ketersediaan Ayam Ras Dalam Negeri Mencukupi

Sedangkan Lingkup Kerjasama pengelolaan BUPK Polbangtan Gowa dan Universitas Hasanuddin (UNHAS) antara lain BUPK UNHAS menjadi Pembina BUPK Polbangtan Gowa.

Kemudian BUPK UNHAS menjadi mitra offtaker dari produk yang dihasilkan BUPK Polbangtan Gowa, atau sebaliknya.

Kemudian BUPK Polbangtan Gowa bermitra dengan BUPK UNHAS dalam hal penyediaan bahan baku, market place, dan proses bisnis lainnya.

BUPK Polbangtan Gowa dan BUPK UNHAS juga berkerjasama menghasilkan “Produk Bersama” yang disepakati oleh kedua belah pihak.

Mewakili Rektor, Sekretaris Universitas Hasanuddin, Sumbangan Baja menyambut baik peluncuran BUPK Polbangtan Gowa kerjasama dengan Universitas Hasanuddin.

"Proses pembahasan BUPK memang sudah cukup lama, dan hari ini kita luncurkan. Sebelumnya kerjasama dengan Kementan sudah lama terjalin, dan masalah ada di pemasaran, semoga BUPK hadir sebagai solusi," ujarnya.

Ia mengatakan Universitas Hasanuddin melakukan penyesuaian kurikulum dari Merdeka Belajar, dengan mengarahkan mahasiswa kepada Agribisnis.

"Harapannya dengan kerjasama ini akan lahir lebih banyak pengusaha petani milenial dan unit bisnis agribisnis," ujarnya.

Sejumlah petani milenial yang dihadirkan secara online dalam kegiatan ini. Di antaranya Ais, petani asal Bogor yang mengembangkan komoditas cabe Katokkon asal Tana Toraja.

Keunikan cabai Katokkon ini pun menjadi daya tarik tersendiri karena dikenal sebagai cabai terpedas di Indonesia.

Ais memperoleh omset total Rp1,5 M per hektare, dengan biaya tanam Rp250 juta-Rp300 Juta dengan siklus dua kali tanam.

Ada juga Indah, petani milenial asal Bali, dengan usaha Agrowisata Strawberry dengan sistem irigasi tetes.

Dengan lahan seluas 7 Ha, ia mampu meraup omset satu bulan 300 juta.

Ade, Petani Tanaman hias dengan pasar Ekspor dengan total kontrak ekspor periode 2021- Maret 2023 Rp2,1 T.

Lewat Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Vol.7, Kementan Wujudkan Pertanian Ramah Lingkungan

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong terwujudnya pertanian berkelanjutan melalui pola sistem pertanian yang ramah lingkungan.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kunci untuk meningkatkan mutu dan produktivitas pertanian terletak pada sumber daya manusia pertanian, yaitu petani dan penyuluh.

"Apabila maju SDM kita, maka maju pula sektor pertanian kita. Kalau SDM pertanian memiliki kemampuan yang mumpuni maka pertanian maju, mandiri dan modern juga dapat dicapai," kata Mentan Syahrul.

Menyikapi perubahan iklim tak menentu, kata Mentan Syahrul, pelaku pertanian dituntut membuat pertanian agar lebih ramah lingkungan sekaligus beradaptasi dengan fenomena alam lainnya, sehingga produktivitas dan keragaman komoditi pertanian bisa dicapai.

Baca juga: Kementan Jamin Ketersediaan Ayam Ras Dalam Negeri Mencukupi

Mentan Syahrul mengatakan, peningkatan produksi pertanian harus berbasis keberlanjutan dengan menjaga ekosistem agar tetap sehat dan menghindari eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.

Pertanian ramah lingkungan juga sejalan dengan pertanian berkelanjutan yang merupakan implementasi dari RPJMN Prioritas Nasional (PN) 6 tentang membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim, serta pembangunan rendah karbon.

"Bentuk-bentuk penerapan pertanian ramah lingkungan antara lain pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture/CSA), pertanian terintegrasi (integrated farming), serta pertanian organik," imbuh dia.

Sementara itu, Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan, pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian yang mengelola seluruh sumber daya pertanian dan input usaha tani secara bijak, berbasis inovasi teknologi untuk mencapai produktivitas berkelanjutan dan secara ekonomi menguntungkan dan berisiko rendah.

Selain itu pertanian ramah lingkungan merupakan teknik pertanian yang dalam pelaksanaannya menggunakan mikroorganisme menguntungkan serta bahan organik sehingga agroekosistem menjadi seimbang baik di bawah tanah maupun di atas tanah.

Dedi menjelaskan, petani seringkali menggunakan pestisida maupun pupuk kimiawi yang berlebihan dan berakhir pada hancurnya lingkungan yang kembali lagi berakibat pada pertanian.

"Pengelolaan pertanian secara berlebihan dan ugal ugalan menyebabkan tanah kita hancur, udara hancur, air hancur dan lingkungan kita hancur, " tegas Dedi saat memberikan keterangan pada Konferensi Pers menjelang pelaksanaan Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Vol. 7 Tahun 2023, Jakarta, Jumat (21/7).

Bahkan residu pestisida dan residu pupuk kimia yang berlebihan akan semakin berbahaya, jika tertinggal atau terdapat pada produk pertanian yang berakibat munculnya penyakit degeneratif dan kanker.

Untuk kembali menyadarkan dan mengubah mindset petani akan pertanian ramah lingkungan, maka perlu didukung dengan peningkatan kompetensi dan kapasitas para petani dan penyuluh melalui pelatihan, salah satunya Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh.

Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh saat ini merupakan agenda intelektual yang secara konsisten diselenggarakan oleh Badan PPSDM Pertanian, dan saat ini telah mencapai Volume ke-7.

Baca juga: Kementan Siapkan 9 Strategi Hadapi Prediksi Puncak El Nino Bulan Agustus – September 2023

Pelatihan ini akan dilaksanakan selama 3 hari, tanggal 26 – 28 Juli 2023 secara online serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di seluruh Indonesia ataupun lokasi titik kumpul lainnya; Kurikulum Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh meliputi kebijakan pengembangan pertanian ramah lingkungan, landscaping lahan pertanian, teknologi konservasi tanah dan air, penerapan Integrated Farming sistem skala kecil dan industri, pemprosesan pestisida organik, pengenalan perencanaan usahatani berbasis ekonomi sirkular.

Narasumber Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh berasal dari Badan PPSDMP, dan narasumber lainnya berasal dari BSIP; Yayasan Inisiatif Indonesia Biru Lestari (WAIBI), Praktisi, serta Widyaiswara BBPP Ketindan.

"Kita ciptakan kemandirian petani untuk menciptakan pestisida nabati dan pupuk organik sendiri. Teknologi sendiri sebenarnya sudah ada dan dikuasai petani bahkan penyuluh. Tinggal bagaimana menggerakkan untuk kembali ke pertanian ramah lingkungan, " ajaknya.

Mengenai keberlanjutan perilaku petani untuk kembali ke pertanian ramah lingkungan, Dedi menjelaskan dengan peranan penyuluhan yang harus dilakukan kesinambungan bisa untuk mengubah mindset petani, dari mengerti dan memahami, mau berubah kemudian mampu implementasikan pertanian ramah lingkungan. Tentunya dengan didukung oleh semua pihak stakeholder pertanian.

"Stop mengelola pertanian dengan ugal-ugalan. Kalau kita pelihara bumi, bumi akan pelihara kita," pesannya.

Kementan Jamin Ketersediaan Ayam Ras Dalam Negeri Mencukupi

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Ketersediaan ayam ras di dalam negeri aman dan sangatlah mencukupi. Hal tersebut diungkapkan oleh Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.

"Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nasrullah mengatakan, berdasarkan perhitungan prognosa Juni 2023 untuk produksi daging ayam ras hingga akhir desember diperkirakan mencapai 3.730.640 ton.

Di sisi lain, jumlah kebutuhan dalam negeri sebesar 3.505.998 ton. Sehingga terdapat potensi surplus sebesar 375.131 ton atau sekitar 10,70% dari total potensi produksi Nasional.

“Surplus tersebut tentunya harus terserap dengan baik, salah satunya melalui ekspor ke negara lainnya, dengan tujuan untuk menjaga kestabilan suplly-demand perunggasan nasional dan memperoleh devisa untuk negara,” kata Nasrullah.

Baca juga: Kementan Siapkan 9 Strategi Hadapi Prediksi Puncak El Nino Bulan Agustus – September 2023

Oleh karena itu, Nasrullah berpendapat, ekspor ayam ke Singapura seharusnya tidak berpengaruh pada kenaikan harga ayam di dalam negeri.

Lebih lanjut Nasrullah menjelaskan, ekspor unggas Indonesia saat ini dikirim ke berbagai negara diantaranya, yaitu Singapura, Jepang, PNG, Timor Leste, Myanmar, Bangladesh dan Philipina.
Ia pun menjelaskan, bahwa realisasi nilai ekspor unggas dan produk turunan unggas Indonesia terus meningkat sejak 2021.

Realisasi volume ekspor unggas dari bulan Januari sampai dengan Mei 2023 tercatat sebesar 255,68 ton jumlah ini hanya sekitar 0,068 persen dari total potensi surplus produksi ayam ras pedaging secara nasional.

“Masih kecilnya jumlah ekspor produksi unggas ini kami yakini tidak akan berpengaruh terhadap pemenuhan produksi di dalam negeri, sepanjang pengaturan tata niaga dan manajemen surplus produksi dilakukan secara bersinergi,” kata Nasrullah.(***)

Kementan Siapkan 9 Strategi Hadapi Prediksi Puncak El Nino Bulan Agustus – September 2023

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sembilan strategi dalam menghadapi fenomena El Nino. Adapun puncak cuaca ekstrem tersebut diperkirakan terjadi pada Agustus sampai September 2023 mendatang.

"Kita tidak boleh terlalu percaya diri karena ancaman El Nino atau kekeringan itu terjadi secara global," ujar Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo melalui keterangannya pada Rabu, 19 Juli 2023.

Strategi Kementan dalam rangka menghadapi El Nino, yaitu mengidentifikasi dan memetakan lokasi terdampak kekeringan, melakukan percepatan tanam untuk mengejar sisa hujan, peningkatan ketersediaan alsintan untuk percepatan tanam, peningkatan ketersediaan air dengan membangun atau memperbaiki embung, dam parit, sumur dalam, sumur resapan, rehabilitasi jaringan irigasi tersier serta pompanisasi.

Selanjutnya, Kementan juga melakukan penyediaan benih tahan kekeringan dan organisme pengganggu tanaman (OPT), melakukan Program 1.000 hektare adaptasi dan mitigasi dampak El Nino, mengembangkan pupuk organik terpusat dan mandiri, serta mendukung pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan asuransi pertanian serta penyiapan lumbung pangan.

Baca juga: Perkuat Organisasi, BPPSDMP Kementan Lantik Pejabat Fungsional

Sementara itu, Kementan mengaku telah melakukan rapat koordinasi bersama jajaran pemerintah Provinsi Banten untuk membahas antisipasi dampak fenomena El Nino. Menurut Syahrul, Banten merupakan salah satu wilayah penyangga produk pertanian untuk kebutuhan Jakarta. Karena itu, sektor pertanian harus dipastikan aman dan terus berproduksi terlebih dibawah ancaman perubahan iklim ekstrim El Nino.

Pj Gubernur Banten Al Muktabar mengungkapkan pemerintah provinsi berkomitmen mengembangkan sektor pertanian sebagai sektor unggulan. Terlebih, kata dia, infrastruktur berupa jalan tol baru, Tol Serang-Panimbang kini sudah berfungsi.

"Sektor agro di Banten ke depan akan terus dikembangkan apalagi sekarang akses jalur selatan Banten semakin mudah dengan adanya pembangunan infrastruktur jalan tol, Serang-Panimbang," kata Al Muktabar.

Dia menuturkan Pemprov Banten sedang mengupayakan lahan-lahan yang terlantar atau yang hak guna usahanya (HGU) sudah habis untuk dikembalikan ke negara. Jika memungkinkan lahan tersebut akan dioptimalkan bagi masyarakat untuk mendukung sektor pertanian.

Selain itu, ia mengaku sudah menetapkan sawah-sawah yang dilindungi. Dia mengklaim tata ruang yang berpihak pada sektor agro juga sudah diterapkan untuk 2023 sampai 2043.(***)

Perkuat Organisasi, BPPSDMP Kementan Lantik Pejabat Fungsional

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA – Sebagai bagian dari upaya meningkatkan kinerja dalam menghadapi tantangan di masa depan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian melakukan penyegaran kelembagaan. Hal itu juga dilakukan dalam rangka dinamisasi dan pengembangan karir pegawai, agar organisasi dapat bekerja secara optimal.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pengembangan SDM pertanian mutlak dilakukan seiring dengan makin kompleksnya tantangan yang dihadapi dalam penyediaan pangan dan mengantisipasi perubahan iklim yang terjadi.

"Bicara pertanian adalah bicara SDM yang harus diperhatikan. Apalagi, tantangan ke depan tidaklah gampang. Setelah covid, ada El Nino, perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global. Jadi, pelaku pertanian harus tangguh dalam menjawab semua tantangan tersebut, dalam tugas kita sebagai penyedia pangan," ujar Menteri Syahrul.

Baca juga: Genjot Produksi Pangan, Mentan Sebut 6 Provinsi Ini Juru Selamat Hadapi El Nino

Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) melakukan pelantikan untuk Jabatan Fungsional lingkup BPPSDMP, Rabu (18/07/2023).

Bertempat di Ruang Catur Gatra BPPSDMP, Lantai 6 kantor Pusat Kementan, pelantikan dilaksanakan secara daring dan luring dan diikuti 25 orang pejabat yang dilantik, meliputi Fungsional Widyaiswara, Fungsional Dosen, Fungsional Guru dan Pustakawan.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi dalam arahannya mengucapkan selamat kepada para pejabat yang baru dilantik. Ia berpesan agar dapat bersemangat dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.

“Selamat untuk saudara-saudara yang baru dilantik untuk bekerja dengan bersemangat dan bertanggungjawab kepada unit kerjanya masing masing," kata Dedi.

Dedi berharap tugas dan fungsi sebagai Pejabat Fungsional di lingkungan BPPSDMP dapat terlaksana sesuai dengan peraturan yang berlaku.

"Dan untuk pejabat yang dilantik hari ini, saya minta melaksanakan tugasnya sesuai peraturan dan keahliannya. Pengumpulan angka kredit adalah bagian penting dalam jenjang karir fungsional. Namun demikian, saya berpesan untuk senantiasa memberi makna dan ketulusan dalam setiap karya dan pekerjaan yang saudara lakukan," pesan Dedi.

Dalam kesempatan itu, Dedi menjelaskan jika saat ini pendidikan vokasi menjadi tulang punggung dalam menciptakan SDM pertanian yang tangguh. Oleh karenanya, menjadi tugas kita bersama, utamanya dosen, guru dan widyaiswara dalam mendorong dan menciptakan qualified job seeker dan job creator.

"Peran bapak/ibu sangat penting dalam menciptakan petani milenial yang andal. Untuk itu, manfaatkan sumber daya yang ada, kapasitas dan pengalaman yang ada untuk mengemban tugas tersebut," tutur Dedi.

Baca juga: Kementan Luncurkan Taxi Alsintan Bun Sawit Genjot Produksi dan Produktivitas di Sumsel

Salah satu tolok ukur keberhasilan kinerja dosen, guru dan widyaiswara menurut Dedi dilihat dari seberapa banyak alumni yang berjiwa wirausaha yang dilahirkan.

"Untuk itu, yang harus dilakukan adalah tingkatkan kapasitas dan manfaatkan teknologi sebaik mungkin untuk menunaikan tanggung jawab kita bersama," tutur Dedi.

Hadir pada pelantikan tersebut Sekretaris BPPSDMP, Kementan Siti Munifah dan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian BPPSDMP Kementan, Idha Widi Arsanti.

Adapun para Pejabat Fungsional yang dilantik di lingkungan BPPSDMP Kementan berasal dari Polbangtan Bogor, Polbangtan YOMA, Polbangtan Malang, Polbangtan Medan, Polbangtan Gowa dan Polbangtan Manokwari. Selain itu ada dari BBPMKP Ciawi, BBPKH Cinagara, BBPP Batangkaluku, BBPP Batu, BBPP Binuang, Bapeltan Lampung, Bapeltan Jambi dan SMKPP Kupang.(*)