17 April 2026

Bulan: Juli 2025

Perkuat Sinergi dan Dukung Program Branding Perkotaan, Polbangtan Kementan Gelar Audiensi dengan Walikota Yogyakarta

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) melakukan audiensi dengan Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, Selasa (8/7/2025), di Kantor Walikota, Balaikota Timoho.

Audiensi ini merupakan langkah awal strategis dalam mendukung program branding Kota Yogyakarta melalui pengembangan pertanian perkotaan yang inovatif dan berkelanjutan.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan pembangunan pertanian harus dilakukan bersama-sama. Karena, pertanian dilakukan untuk memenuhi kebutuhan semua orang.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti membangun pertanian bukan hanya tugas Kementan.

"Oleh sebab itu, dibutuhkan sinergi agar ketahanan pangan bisa diwujudkan," katanya.

Saat audiensi, Rombongan Polbangtan Yoma dipimpin oleh Wakil Direktur I, Endah Puspitojati, didampingi oleh Wakil Direktur II, Budi Purwo, serta Ketua Kelompok Akademik Administrasi dan Kemahasiswaan (AAK), Demi Widi.

Dari pihak Pemerintah Kota, Walikota Hasto didampingi oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan serta Kepala Bappeda Kota Yogyakarta.

Wakil Direktur I Polbangtan Yoma, Endah Puspitojati menegaskan, audiensi merupakan bentuk komitmen nyata dalam membangun kolaborasi antara institusi pendidikan pertanian dan pemerintah kota.

Tujuannya, untuk memperluas dampak pertanian tidak hanya di pedesaan, tetapi juga dalam konteks perkotaan.

“Kami ingin Kota Yogyakarta dikenal tidak hanya sebagai kota pelajar, tetapi juga sebagai kota yang memiliki visi pertanian urban yang kuat dan berdaya saing. Kampung tematik dan denplot ini akan menjadi contoh kolaborasi nyata antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah,” ungkap Endah.

Walikota Hasto menyambut baik inisiatif Polbangtan Yoma. Ia menyatakan dukungannya terhadap pengembangan pertanian di ruang-ruang kota yang terbatas.

Menurutnya, pertanian perkotaan merupakan solusi strategis dalam menjawab tantangan kebutuhan pangan dan keberlanjutan lingkungan.

Baca juga:

Dorong Aktivitas Bisnis, Polbangtan Kementan Tingkatkan Produktivitas BP di Kabupaten Bangka Selatan

“Kami membuka ruang selebar-lebarnya untuk kerja sama lintas sektor seperti ini. Pertanian bukan hanya milik desa, tapi juga bagian penting dari pembangunan kota modern yang sehat dan mandiri secara pangan,” ujar Hasto.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas dua agenda utama yang menjadi fokus kerja sama. Pertama, inisiasi Nota Kesepahaman (MoU) terkait pengembangan Kampung Tematik Pertanian di Kelurahan Warungboto dan Kelurahan Semaki.

Kampung tematik dirancang sebagai ikon baru dalam penguatan branding Kota Yogyakarta di bidang pertanian, dengan mengintegrasikan kegiatan pertanian bersama nilai-nilai edukatif, estetika, ekonomi lokal, dan kearifan masyarakat.

Kawasan ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelatihan dan wisata edukasi, tetapi juga ruang kolaboratif bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan mengembangkan pertanian perkotaan.

Kampung tematik juga diharapkan menjadi laboratorium lapang yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kota, mahasiswa, dan penyuluh pertanian.

Fokus utamanya meliputi pertanian organik, budidaya hidroponik, pemanfaatan lahan sempit, dan penerapan teknologi pertanian ramah lingkungan, pengelolaan sampah organi, dan budidaya magot.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan kota yang adaptif dan berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, disepakati untuk menyusun rencana aksi bersama serta penyusunan MoU resmi yang akan mengikat kerja sama jangka menengah.

Selain itu, tim teknis akan melakukan peninjauan lapangan ke lokasi-lokasi yang telah diusulkan guna menyusun desain teknis dan operasionalisasi program.

Audiensi ini menjadi tonggak awal dari kemitraan inovatif antara dunia pendidikan vokasi pertanian dan pemerintah kota dalam membangun masa depan pertanian perkotaan yang inklusif, edukatif, dan berkelanjutan di Kota Yogyakarta. (TW)

Dorong Aktivitas Bisnis, Polbangtan Kementan Tingkatkan Produktivitas BP di Kabupaten Bangka Selatan

TANIINDONESIA.COM//BANGKA SELATAN - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta - Magelang (Polbangtan Yoma) mendorong Brigade Pangan (BP) Kabupaten Bangka Selatan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, melalui aktivasi strategi bisnis.

Ini menjadi salah satu program Kementan untuk mencapai target swasembada pangan, utamanya pada komoditas padi. Sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani.

“Brigade Pangan akan menjadi garda terdepan dalam mengelola dan mengoptimalkan lahan pertanian secara modern, profesional dan terampil dengan menjalankan usaha yang berorientasi bisnis dan menghasilkan pendapatan dan keuntungan,” kata Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.

Hadir di Desa Pergam, Kecamatan Air Gegas, dan Desa Serdang, Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung pada Sabtu (5/7/2025), Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menyebut BP harus berorientasi bisnis.

"Kami tidak memperbolehkan BP mengelola lahan skala usaha kecil-kecil, skala usahanya harus besar, harus efisien, harus ekonomis karena diarahkan dalam kegiatan bisnis," terang Idha.

Ia mendorong BP untuk memanfaatkan alat mesin pertanian (alsintan) dalam mengolah lahan.

Baca juga:

Kuatkan Komitmen Swasembada Pangan, Polbangtan Kementan Gandeng Stakeholder pada Gelar Dies Natalis

”Brigade Pangan diharapkan bisa mengelola lahan minimal 150 hektare. Brigade Pangan sendiri masuk dalam organisasi bisnis yang difasilitasi dengan alsintan. Agar kedepan bisa mandiri,” lanjutnya.

Ia pun mengapresiasi manajer BP Beras Basa yang berinisiatif memodifikasi alsintan traktor roda 4 (TR4) yang sudah diterima untuk membuka lahan berat yang ada di wilayah mereka.

Beberapa BP di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga melaksanakan pembukaan lahan vegetasi sedang - berat dengan meminjam excavator dari Dinas Pertanian Provinsi maupun Kabupaten, atau dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di wilayah tersebut.

”Untuk lahan vegetasi berat, BP bisa berkoordinasi dengan dinas setempat untuk menurunkan alat berat. Yang digunakan untuk membuka lahan tersebut,” ucap Idha.

Hadir mendampingi Kepala BPPSDMP, Direktur Polbangtan Yoma sekaligus Penanggungjawab BP Kepulauan Bangka Belitung, R. Hermawan mengatakan dirinya siap melakukan pendampingan di lapangan. Hal ini dibuktikan dengan penerjunan dosen dan mahasiswa untuk mendampingi BP Kabupaten Bangka Selatan.

”Kami menerjunkan sejumlah dosen dan mahasiswa untuk mendampingi BP di lapangan. Tak hanya aspek teknis, namun juga dari segi manajemen agribisnisnya. Supaya target produksi, sekaligus kesejahteraan petani bisa dicapai secara simultan,” pungkasnya. (IMNS/os)

Wujudkan Swasembada Pangan, Kompetensi Penyuluh Ditingkatkan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian, melalui Tempat Uji Kompetensi (TUK) Mandiri Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menyelenggarakan Survailen Sertifikasi Kompetensi Bidang Penyuluhan Pertanian Level Supervisor, Jumat (4/7/2025), di Kelas Krisan 4 BBPP Lembang.

Survailen Sertifikasi Kompetensi Bidang Penyuluhan Pertanian dilakukan untuk mendukung program Kementerian Pertanian yaitu swasembada pangan.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya peran penyuluh pertanian dalam mewujudkan swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Ia menyebut penyuluh sebagai motor penggerak suksesnya pembangunan pertanian.

"Saya berharap mereka menjadi berlian dan emas dalam upaya mencapai tujuan tersebut," katanya.

Amran juga mendorong penyuluh untuk terus mendampingi petani, meningkatkan produksi dan produktivitas, serta mengawal program-program pemerintah di sektor pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan pentingnya penyuluh pertanian dalam mendukung swasembada pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Baca juga:

Pelajari Smart Farming Negeri Ginseng, Kementan Utus Widyaiswara

Saat pembukaan kegiatan survailen, Kepala Bagian Umum BBPP Lembang, Yullyndra Tisna Diputri, menjelaskan jika tujuan pelaksanaan kegiatan survailen adalah memberikan pengakuan kompetensi profesi SDM pertanian melalui sertifikasi kompetensi.

"Selain itu, kegiatan ini juga untuk mewujudkan sistem sertifikasi kompetensi sumberdaya manusia sektor pertanian yang berkualitas, dan meningkatkan kompetensi SDM Sektor Pertanian baik Penyuluh Pertanian sebagai penyuluh pendamping program pembangunan pertanian," terangnya.

Survailen Sertifikasi Kompetensi Bidang Penyuluhan Pertanian Level Supervisor diikuti 12 orang penyuluh pertanian dari 4 kabupaten yaitu Bandung, Indramayu, CIlacap, dan Bantul. Sedangkan Asesor kompetensi dari Fakultas Pertanian Universitas Majalengka bidang kompetensi Penyuluh Pertanian.

Metode yang digunakan oleh asesor untuk menguji para asesi dengan unjuk portofolio dan wawancara. Terdapat 23 unit kompetensi sesuai dengan Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (KKNI) tenaga kerja bidang penyuluhan pertanian, terdiri dari 15 unit kompetensi inti dan 8 unit kompetensi pilihan.

Pada penutupan kegiatan survailen, asesor menyampaikan bahwa seluruh asesi dinyatakan kompeten.

Salah seorang asesi, penyuluh pertanian dari Kabupaten Bantul, Dian Palupi tidak dapat menyembunyikan raut gembiranya bisa kembali memperoleh sertifikasi profesi sebagai penyuluh pertanian level supervisor.

“Alhamdulilah kami semua dinyatakan kompeten, karena memang sejatinya kami semua penyuluh pertanian berusaha terus mendampingi petani sesuai kompetensi yang distandarkan. Ini semua demi menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” jelasnya.

Dian juga menyampaikan terima kasih kepada asesor dan Tim TUK Mandiri BBPP Lembang dan berharap kesuksesan dapat terus diraih.(***)

Pelajari Smart Farming Negeri Ginseng, Kementan Utus Widyaiswara

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian (Kementan) mengirim sejumlah perwakilan ke Korea Selatan untuk mempelajari smart farming yang ditetapkan di Negeri Ginseng. Ilmu dari Korea dipresentasikan di BBPP Lembang, Kamis (3/7/2025).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan jika teknologi adalah kunci untuk memajukan pertanian Indonesia.

"Teknologi mampu menjadikan pertanian Indonesia jauh lebih kuat dan tahan terhadap berbagai ancaman," tutur Amran.

Ia menambahkan bahwa teknologi yang diterapkan haruslah mampu menyederhanakan proses pertanian, menjadikannya simpel, murah, dan terjangkau. Sehingga, memberikan keuntungan lebih besar bagi para petani.

Sejalan dengan visi tersebut, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) gencar membuka berbagai program pelatihan.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa instansinya mendorong seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelatihan di bawah naungannya untuk menyelenggarakan pelatihan berbasis teknologi dan kebutuhan masa depan.

Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Ajat Jatnika, menegaskan komitmennya untuk memanfaatkan IPTEK dan menyajikan teknologi pertanian terbaru dalam pelatihan.

Dalam hal Smart Farming, BBPP Lembang telah memiliki beberapa unit Smart Green House yang sudah diotomatisasi untuk menyesuaikan dengan cuaca," katanya.

Selain itu, ada juga perangkat Internet of Things yang berfungsi untuk mengenali cuaca, unsur hara tanah, dan kondisi lahan di Rumah Pangan Lestari BBPP Lembang.

Dan untuk mempelajari lebih jauh mengenai smart farming Kementan mengirim wakil ke Korea Selatan.

Salah satu perwakilan tersebut adalah Dewi Padmisari Suryaningrum, widyaiswara dari BBPP Lembang.

Perjalanan Dewi selama 7 hari kemudian dipresentasikan di depan widyaiswara dan mahasiswa yang tengah menjalani Praktik Kerja Lapang di BBPP Lembang.

Di samping smart farming, Dewi juga mempelajari kelembagaan petani di Korea Selatan.

"Contohnya pada Nonghyup Hanaro Market. Cara kerjanya adalah seperti federasi yang menaungi koperasi," terangnya.

Menurut Dewi, cara kerja federasi tersebut menguntungkan. Karena berani membeli produk petani yang dinaunginya dengan harga tinggi kemudian menjual ke konsumen dengan harga terjangkau.

"Hal ini memberikan keuntungan baik bagi produsen produk pertanian maupun konsumen. Namun model ini membutuhkan komitmen dari pemerintah, koperasi, konsumen, dan semua yang terlibat agar saling menguntungkan," terangnya.

Baca juga:

Wujudkan Swasembada Pangan, Akademisi Perguruan Tinggi Dukung Pertanian Modern di UPT Pelatihan Kementan

Mengenai smart farming, Dewi mempelajari mengenai teknologi dan implementasinya dalam bisnis pertanian di Korea Selatan.

Menurutnya implementasi di Korea Selatan memiliki visi jangka panjang dan diimplementasikan secara komprehensif.

"Salah satu model yang sangat relevan untuk diadopsi dan dikembangkan di Indonesia adalah konsep Smart Farming Innovation Valley (SFIV) seperti yang terlihat di Gimje, Korea Selatan," katanya.

Model ini terbukti berhasil mencetak lulusan yang siap mengimplementasikan konsep smart farming secara komprehensif.

"SFIV memiliki fasilitas yang terintegrasi, termasuk inkubator bisnis untuk petani muda (2,3 ha), pusat dukungan (0,4 ha), lahan smart farm sewaan (4,5 ha), dan kompleks demonstrasi (1,6 ha)," terangnya lagi.

Salah satu contoh sukses penerapan smart farming di Korea adalah One Acre Farm, yang mengaplikasikan indoor farming atau vertical farming.

Sistem ini memanfaatkan sinar ultraviolet dan ruang tanam bertingkat, yang mampu meningkatkan produktivitas hingga empat kali lipat dibandingkan metode konvensional.

Produk yang dihasilkan bervariasi seperti sayuran segar, herbal, dan bunga yang dapat dimakan, dengan kuantitas kecil namun beragam.

"Sistem ini lebih ramah lingkungan dibandingkan peternakan, dengan fitur otomatisasi seperti pengaturan suhu dan pencahayaan LED yang disesuaikan untuk pertumbuhan tanaman," jelasnya.

Contoh keberhasilan lainnya adalah Green Monster, alumni pelatihan yang berhasil membudidayakan mentimun dengan nilai ekonomi tinggi.

"Mereka mampu menghasilkan 30 hingga 40 buah per tanaman dalam enam bulan, dengan hanya membutuhkan empat orang untuk 10.000 tanaman mentimun," kata Dewi.

Tantangan ekstrem perubahan suhu di Korea, yang bisa mencapai -15°C di musim dingin, diatasi dengan menjaga suhu rumah kaca pada 15-16°C.

Menurutnya, keberhasilan Green Monster juga didukung oleh pinjaman lunak sebesar 30 miliar Won dengan bunga 1% per tahun dan skema pembayaran yang fleksibel selama 25 tahun, serta penerapan sistem inkubasi.

Melihat potensi besar ini, Dewi menyarankan untuk lebih lanjut mendalami smart farming sebagaimana di Korea Selatan.

"Pelatihan harus bisa mencakup materi dasar, budidaya, manajemen, dan pemasaran, didukung oleh pemanfaatan fasilitas Inkubator Agribisnis BBPP Lembang sebagai sarana praktik," katanya.

Harapannya, sambung Dewi, melalui adaptasi model dan teknologi ini, Indonesia dapat mencetak lebih banyak petani milenial yang inovatif dan berdaya saing di era pertanian modern.(***)

Wujudkan Swasembada Pangan, Akademisi Perguruan Tinggi Dukung Pertanian Modern di UPT Pelatihan Kementan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Sebanyak 10 mahasiswa pascasarjana Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon mengunjungi Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPPSDMP Kementerian Pertanian. Melalui kunjungan ini, para akademisi berharap dapat mengembangkan IPTEK di bidang pertanian.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya teknologi dalam sektor pertanian.

"Teknologi mampu menjadikan pertanian Indonesia jauh lebih kuat dan tahan terhadap berbagai ancaman," ujar Amran.

Ia menambahkan bahwa teknologi pertanian haruslah sederhana, mudah diakses, murah, dan pada akhirnya menguntungkan petani.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, juga menekankan komitmen BPPSDMP dalam mengadopsi teknologi.

"Kami terus mendorong UPT pelatihan di bawah BPPSDMP untuk menyelenggarakan pelatihan berbasis teknologi dan kebutuhan masa depan," kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, berkomitmen untuk membekali generasi muda agar menjadi wirausaha muda melalui berbagai program peningkatan kompetensi, seperti pelatihan, kunjungan singkat, dan PKL.

Rektor Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, Achmad Faqih turut serta dalam kunjungan ini, menyatakan siap mendukung program Kementan.

“Kami berusaha sebisa mungkin terus mendukung program strategis Kementerian Pertanian,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Achmad Faqih didampingi oleh Direktur Sekolah Pascasarjana Endang Sutrisno dan Ketua Program Studi Agronomi Dodi Budirokhman.

Baca juga:

Dorong Regenerasi Petani, UPT Pelatihan Kementan Gandeng Perguruan Tinggi

Kunjungan kali ini utamanya adalah untuk mempelajari kultur jaringan. Teknik kultur jaringan terhitung sulit tanpa pengetahuan yang memadai dan peralatan laboratorium yang sesuai. Selain itu beragam instalasi juga turut dikunjungi dan dipelajari.

Empat diantara mahasiswa pasca sarjana tersebut terlihat lebih antusias dari rekannya yang lain. Setelah pengenalan, mereka memang spesifik memilih kultur jaringan sebagai bahan penelitiannya.

Di lab kultur jaringan, widyaiswara yang mengampu adalah Sani Hanifah. Selain diterangkan mengenai teknik yang tepat, para akademisi ini juga mendapatkan praktik kultur jaringan terutama pada fase inisiasi.

Mereka kemudian mempraktikkan cara membersihkan bakal tanaman atau eksplan dan membersihkan bibit dari virus maupun jamur. Tanaman yang dikembangkan dengan metode kultur jaringan diharapkan memberi hasil yang lebih sehat dan produktif.

Selain mempelajari kultur jaringan, para akademisi ini juga berkesempatan mengunjungi berbagai instalasi di BBPP Lembang. Salah satunya adalah kentang aeroponik.

Kentang aeroponik di BBPP Lembang dikembangkan dari kultur jaringan kemudian ditumbuhkembangkan di dalam screen house yang steril.

Kentang yang dijual pun bukan sebagai tanamam utuh melainkan bibit unggul ke petani. Perbanyakan benih ini dapat memberikan keuntungan baik sebagai penangkar benih maupun petani.

Terakhir, para peserta kunjungan menikmati olahan es krim di Lab Pengolahan Hasil Pertanian BBPP Lembang. Mereka mencoba berbagai variasi rasa yang ada dan melihat potensi dari pengolahan hasil pertanian.

Salah seorang akademisi, Amalia Fajriana, yang tengah mendalami kultur jaringan pada tanaman pisang varietas cavendish, menyampaikan kesannya.

“Kunjungan kali ini sangat membantu karena sejalan dengan tesis saya mengenai kultur jaringan,” tutupnya.(***)