21 April 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

Tingkatkan Kapasitas SDM Pertanian, Kementan Bekerjasama dengan Kemenaker dan APO Jepang Selenggarakan Pelatihan di Yogyakarta

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) dan Asian Productivity Organization (APO) Jepang menyelenggarakan kegiatan pelatihan bertajuk “Training Course on Building Community-driven Farm Schools” pada tanggal 10-14 Juni 2024 di Hotel Melia Purosani, Yogyakarta.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan bahwa pertanian merupakan salah satu sektor yang akan selalu menjadi andalan bagi perekonomian Indonesia dengan petani muda yang kompeten akan menjadi tulang punggungnya. "Di dalam sektor pertanian, perlu diisi oleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas," kata Amran.

Terkait dengan hal itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa sektor pertanian adalah sektor yang menjanjikan sehingga akan membutuhkan banyak SDM. "Melalui kerja sama bidang pertanian akan terus meningkatkan kualitas dan kapasitas sumber daya manusianya guna mendukung pertanian yang maju, mandiri, dan modern," ujarnya.

Sekretaris BPPSDMP, Siti Munifah, membuka kegiatan Training Course on Building Community-Driven Farm Schools (CDFS) pada hari Senin(10/06) di Yogyakarta bersama dengan Decky Haedar Ulum. Head of National Productivity Organization (NPO) Indonesia dan Tadahisa Manabe, Head of Multicountry Program Division 1 Asia Productivity Organization (APO). Munifah membuka dengan menyampaikan bahwa Indonesia saat ini menduduki peringkat ke 4 negara dengan jumlah penduduk terbesar, di bawah India, China, dan Amerika Serikat.

Baca juga: Kementan Uji Kompetensi Penyuluh Pertanian

Selanjutnya, beliau mengingatkan kepada seluruh peserta terkait isu kerawanan pangan yang terjadi di 59 negara dunia. Mengantisipasi hal tersebut, “Kementan telah menyusun serangkaian program strategis, antara lain optimasi lahan rawa, pompanisasi, dan tumpang sisip lahan perkebunan. Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan indeks pertanaman mulai dari 0 menjadi IP100, IP100 menjadi IP200 dan seterusnya”, Ujar Siti Munifah.

Pelatihan ini akan diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari 17 negara, yaitu Bangladesh, Kamboja, Fiji, India, Indonesia, Korea Selatan, Laos, Malaysia, Mongolia, Nepal, Pakistan, Filipina, Srilanka, Taiwan, Thailand, Turki, dan Vietnam. Para peserta akan mendapatkan kesempatan berbagi pengalaman dan belajar dari satu sama lain dalam suasana yang mendukung untuk pengembangan pertanian komunitas di berbagai negara.

Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep Community-driven Farm Schools atau sekolah pertanian berbasis komunitas. Melalui pelatihan ini, para peserta akan mendapatkan pengalaman langsung dan pengetahuan mengenai model serta praktik terbaik Community-driven Farm Schools yang dapat diterapkan di berbagai negara. Selain sesi pelatihan, kegiatan ini juga mencakup kunjungan ke tiga lokasi pertanian komunitas di Yogyakarta, yaitu: Kampung Mina Padi Samberembe, Pawon Gendhis, Joglo Tani.

Melalui kunjungan ini, peserta akan melihat langsung implementasi konsep Training Course on Building Community-driven Farm Schools dan mendapatkan inspirasi untuk mengembangkan inisiatif serupa di negara masing-masing. Selain itu Kementan terutama BPPSDMP berharap dengan adanya pelatihan ini dapat menyebarluaskan pengetahuan tentang sekolah pertanian berbasis komunitas dan mendorong peningkatan produktivitas serta keberlanjutan pertanian di kawasan Asia dan sekitarnya.(***)

Kementan Uji Kompetensi Penyuluh Pertanian

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Upaya meningkatkan kinerja penyuluh terus dilakukan Kementerian Pertanian. Salah satunya melalui Uji Kompetensi bagi Penyuluh Pertanian Level Supervisor dan Level Fasilitator.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya SDM pertanian dalam mencapai swasembada pangan.

“Penyuluh pertanian adalah garda terdepan Kementerian Pertanian dalam menyukseskan peningkatan produksi padi dan jagung,” kata Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMDP) Dedi Nursyamsi, juga menjelaskan pentingnya peran penyuluh pertanian.

“Penyuluh pertanian merupakan pendamping petani, sehingga harus dapat berkolaborasi di lapangan untuk menggenjot produksi dan produktivitas pertanian khususnya padi dan jagung,” tambah Dedi.

Uji Kompetensi bagi Penyuluh Pertanian periode 28 dilaksanakan Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Mandiri pada 28 hingga 31 Mei 2024 lalu. Kegiatan ini diikuti 26 penyuluh pertanian.

Para peserta Uji Kompetensi berasal dari Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Baca juga: Bantu Pembangunan Pertanian, Kementan Serahkan Bantuan untuk P4S

Dari sertifikasi kali ini terdapat 19 penyuluh pertanian dari level supervisor dan 7 di level fasilitator. Masing-masing level akan diuji berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Menurut SKKNI nomor 043 Tahun 2013, penyuluh pertanian di level fasilitator diharapkan menguasai penyusunan programa penyuluhan pertanian, menyiapkan materi penyuluhan pertanian, menerapkan media penyuluhan pertanian, menerapkan metode penyuluh pertanian, dan melakukan evaluasi pelaksanaan penyuluhan pertanian.

Di level supervisor, kemampuan yang sama diharapkan dimiliki juga namun ditambahkan dengan kemampuan melaksanakan pengkajian penyuluhan pertanian. Selain materi-materi tersebut, penyuluh pertanian yang diuji kompetensi juga diharapkan dapat mengemban tugas dengan penuh tanggung jawab terutama dalam mendampingi petani sebagai mitra kerja.

Setelah melalui tiga hari pengujian yang terdiri dari asesmen portofolio, wawancara, dan unjuk kerja, seluruh peserta dinyatakan layak mendapat gelar kompeten dan memperoleh sertifikat sebagai penyuluh pertanian.

Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika menyampaikan pesan-pesannya.

“Penyuluh sebagai mitra kerja petani harus dekat dengan petani. Bukan hanya secara jarak, namun juga secara manusiawi,” kata Ajat.

“Meski dimudahkan oleh teknologi, jangan sampai melupakan sisi manusiawi tersebut,” pesannya kepada para peserta.(***)

Bantu Pembangunan Pertanian, Kementan Serahkan Bantuan untuk P4S

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian akan memaksimalkan peran Pusat Pelatihan Pertanian Swadaya (P4S) untuk meningkatkan produktivitas. P4S merupakan lembaga pertanian di desa yang menjadi partner Kementerian Pertanian dalam membangun Indonesia.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, fokus Kementan diantaranya adalah menggerakkan SDM pertanian untuk mendongkrak produktivitas dan menjaga ketersediaan pangan di Indonesia. Salah satunya, melalui menggerakkan SDM yang tergabung dalam P4S.

Dijelaskannya, sebagai partner kerja Kementan, P4S memiliki peran strategis dalam mewujudkan hal tersebut.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menilai menumbuhkembangkan P4S dapat membantu proses pembangunan pertanian dan pedesaan.

“P4S merupakan pusat pembelajaran dari petani untuk petani, memegang peranan penting dalam pembangunan pertanian.” ujar Dedi.

Salah satu bentuk pembinaan yang diberikan Kementan kepada P4S adalah melalui penyerahan bantuan. Tahun 2024 ini, sejumlah 17 P4S di Provinsi Jawa Barat menerima bantuan dari Kementan yang disalurkan melalui BBPP Lembang.

Baca juga: Tingkatkan Produktivitas, Kementan Maksimalkan Peran Pendampingan Penyuluh

Penyerahan bantuan secara simbolis diadakan di Aula Catur Gatra BBPP Lembang, Rabu (29/05) lalu, berupa Sarana Pembelajaran sebelumnya diajukan oleh P4S kepada Kementerian Pertanian.

Bantuan yang diberikan adalah perangkat komputer untuk pelaksanaan administrasi di P4S dan peralatan yang mendukung akomodasi peserta pelatihan di masing-masing lokasi.

Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika menyatakan dukungannya kepada P4S dalam menjalankan tugasnya.

“Tugas dan fungsi P4S harus ditunjukkan kepada sesama petani karena memiliki keunggulan dibandingkan dengan petani di sekitarnya sehingga dapat mendorong pembangunan pertanian di desa. Semoga dengan fasilitasi ini kinerja P4S dapat meningkat,” tuturnya.

Ketua P4S Cijulang Asri Kabupaten Bogor, Basir Baesuni, mengatakan bahwa fasilitasi ini akan sangat bermanfaat bagi P4S.

“Terutama bagi kami, ini akan sangat membantu kinerja SDM yang dimiliki dalam menjamin kelancaran pelatihan,” kata Basir.(***)

Tingkatkan Produktivitas, Kementan Maksimalkan Peran Pendampingan Penyuluh

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, kembali menggelar Pelatihan Dasar Fungsional Penyuluh Pertanian Ahli. Kegiatan yang dilaksanakan 20 Mei – 10 Juni 2024, diikuti peserta dari 4 provinsi yang menjadi binaan BBPP Lembang yaitu Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah dan Maluku.

Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan penghargaan bagi penyuluh pertanian agar mampu meningkatkan pendampingan bagi petani di wilayah binaan masing-masing. Harapannya, agar petani dapat meningkatkan produksi dan produktivitas komoditas pertanian utamanya padi dan jagung.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan penyuluh pertanian adalah pahlawan pangan dan garda terdepan swasembada pangan.

“Penyuluh jangan pernah mengeluh dan harus merubah mindset serta keluar dari zona nyaman kalau ingin berhasil,” katanya.

Mentan Amran menyebutkan peran penyuluh pertanian penting untuk meningkatkan produktivitas pangan dan menekan impor, terlebih menghadapi ancaman dampak El Nino yang begitu kuat saat ini yang berdampak langsung pada penurunan produksi.

Pernyataan senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSMDP) Kementan, Dedi Nursyamsi.

Baca juga: Wujudkan Tri Darma Perguruan Tinggi, Polbangtan Kementan Jalin Kerjasama Dengan Pemkab Sleman

“SDM pertanian memegang peran penting untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan nasional. Karena itu saya minta seluruh insan pertanian untuk saling bersinergi mewujudkan cita-cita bersama swasembada pangan,” tutur Dedi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, saat membuka pelatihan menekankan pentingnya untuk terus belajar.

“Terus bekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan, kuasai informasi teknologi agar penyuluh pertanian mampun damping petani sampai petani berhasil meningkatkan produksi dan kesejahteraannya,” kata Ajat.

Dalam pelatihan, Widyaiswara BBPP Lembang memberikan materi sebanyak 168 JP dengan metode ceramah, diskusi, tanya jawab, penugasan, demonstrasi, studi kasus, dan simulasi. Ini membuat suasana pembelajaran serius namun terlihat mampu dicerna dengan baik oleh peserta. Sesuai dengan pendekatan orang dewasa yang mengundang parisipasi peserta agar aktif selama proses pembelajaran.

Salah seorang peserta, Deuis Nurpadilah, penyuluh pertanian ahli dari Kecamatan Ibin Kabupaten Serang, menyampaikan kesannya.

“Selama pelatihan kami memperoleh materi baik materi dasar, inti dan penunjang. Ini menjadi pondasi dan membuka wawasan menjadi penyuluh pertanian yang profesional dan bisa terus mengasah skill kami untuk diterapkan di wilayah binaan,” kata Deuis.

Menurutnya, materi yang disampaikan mulai dari identifikasi potensi wilayah untuk mengidentifikasi potensi di wilayah binaan, menyusun programa, Rencana Kerja Tahunan Penyuluhan (RKTP), sampai evaluasi pelaksanaan penyuluhan dan evaluasi dampak.

“Saya jadi memahami bahwa penyuluhan itu tidak sekedar kunjungan, penyuluhan, pertemuan kelompok namun harus bisa merencanakan, menyusun, melaksanakan dan mengevaluasi penyuluhan. elakukan perbaikan untuk catatan perbaikan penyuluhan selanjutnya,” ucapnya.

“Terima kasih kepada seluruh panitia, widyaiswara menyampaikan materi yang mudah tercerna. Memberi motivasi kepada kami agar bisa menjadi penyuluh pertanian yang dapat terus mengasah kemampuan diri kami agar pelaku utama dan pelaku usaha memperoleh manfaat dari keberadaan kami di lapangan,” tutup Deuis.

Wujudkan Tri Darma Perguruan Tinggi, Polbangtan Kementan Jalin Kerjasama Dengan Pemkab Sleman

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang, menjalin Kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, DI Yogyakarta, sekaligus mengoptimalkan fungsinya dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan wujud komitmen dalam upaya peningkatan SDM Pertanian.

Penandatanganan Kerjasama dilaksanakan Rabu (5/6) siang, di Rumah Dinas Bupati, dan dihadiri Wakil Direktur I Polbangtan Yogyakarta Magelang, Bupati Sleman, dan Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman.

Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, mengatakan pertanian memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan. Dijelaskannya, pertanian akan semakin maju jika semua pihak sama-sama bergerak dan memaksimalkan peran masing-masing.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, menjelaskan jika tugas Polbangtan adalah mencetak SDM-SDM berkualitas yang dapat mendukung pengembangan pertanian.

"Untuk mencetak SDM-SDM berkualitas tersebut, Polbangtan juga harus berkolaborasi dengan banyak pihak. Karena pertanian itu bukan hanya tanam panen jual. Tetapi ada hal lain yang bisa membuat kualitas pertanian menjadi lebih baik sehingga nilai jualnya juga menjadi lebih tinggi," katanya.

Direktur Polbangtan Yogyakarta Magelang, yang diwakili oleh Wakil Direktur I Sujono, mengatakan Perjanjian Kerjasama tersebut berfokus pada penyelenggaran Tri Dharma Perguruan Tinggi yang outputnya diharapkan mampu memberi kebermanfaatan bagi kedua belah pihak.

"Salah satu yang terbaru yaitu Kerjasama di bidang Pendidikan dengan menerima anak petani berprestasi di wilayah Kabupaten Sleman untuk kuliah di Polbangtan Yogyakarta Magelang. kedua belah pihak sama-sama mendapat manfaat, Polbangtan mendapat input SDM (mahasiswa) pilihan yang terjamin kualitasnya, dan di lain sisi Pemkab Sleman juga mendapat output SDM yang telah meningkat kompetensinya selama menempuh pendidikan di Polbangtan.," ujar Sujono.

Baca juga: Antisipasi Darurat Pangan, Kementan Latih Jutaan Petani Penyuluh dan Babinsa

Sujono juga menambahkan bahwa jalinan Kerjasama antara kedua belah pihak sudah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga sekarang.

"Penandatanganan PKS ini sifatnya adalah perpanjangan, karena kami sudah bekerjasama sejak lama, sejak zaman APP (Akademi Penyuluhan Pertanian) mulai dari kegiatan pelatihan, pendampingan, hingga penelitian," terangnya.

Dari Kerjasama ini, Sujono meyakinkan bahwa kedua belah pihak mendapatkan kebermanfaatan yang setara.

"Banyak Mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) baik perusahaan maupun instansi di Sleman yang menjadi tujuan mahasiswa kami untuk melaksanakan kegiatan praktikum, magang, PKL (Praktek Kerja Lapangan), hingga MBKM. Banyak juga kegiatan penelitian dan pengabdian dari Dosen yang diselenggarakan dan melibatkan masyarakat di Sleman," imbuh Sujono.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, mengatakan kerjasama ini merupakan bentuk komitmen dari Pemkab untuk memberikan edukasi dan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di sektor pertanian.

“Salah satu upayanya dengan memberikan kesempatan bagi anak petani yang berprestasi di Sleman agar bisa berkuliah di Polbangtan,” kata Kustini.

Diharapkan dengan berkuliah di bidang pertanian ini, maka bisa mencetak dan mengembangkan petani milenial di Bumi Sembada. “Putra-putri petani Sleman dapat menggali potensi, menguasai kondisi dan mengembangkan pertanian di Sleman sehingga dapat ikut berperan dalam pembangunan sesuai dengan keahlian yang dimiliki,” ungkapnya.(***)

Antisipasi Darurat Pangan, Kementan Latih Jutaan Petani Penyuluh dan Babinsa

TANIINDONESIA.COM//KETINDAN - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) melatih jutaan petani dan penyuluh untuk mengantisipasi darurat pangan nasional.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, prioritas pemerintah saat ini adalah menggenjot produksi padi dan jagung untuk mencegah krisis pangan di Indonesia.

“Kalau krisis energi mungkin kita masih bisa bergerak, tapi kalau krisis pangan, seluruh aktivitas terhenti, bahkan negara pun tidak ada tanpa pangan. Sehingga, ini menjadi prioritas pemerintah saat ini,” kata Mentan Amran.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, Sejak tahun lalu dampak covid 19, geopolitical tension khususnya perang rusia-ukraina, dan climate change (perubahan iklim) sangat terasa khususnya dalam hal pangan. Situasi dunia dalam kondisi tidak menentu dengan sekitar 60 negara mengalami krisis pangan dan 900 juta penduduk dunia terdampak krisis pangan.

“Dari berbagai masalah ini berdampak produksi pangan global terganggu. Di Indonesia, sejak Februari tahun lalu hingga Maret tahun kita mengalami fenomena alam yang disebut El Nino, kemarau yang berkepanjangan. Solusi mengatasi krisis pangan kita harus Swasembada," ujar Dedi saat membuka Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh (PSPP) Volume 10 Tahun 2024, di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang, Rabu (5/6/24).

Dedi mengatakan, beras adalah kebutuhan pokok Indonesia. Per bulannya, kebutuhan beras dalam negeri tidak kurang dari 2,6 juta ton atau setara 1 juta hektare luas panen dengan produktivitas 5,2 ton per hektare.

Dedi menjelaskan, konsumsi beras dalam negeri setiap bulannya tidak kurang dari 2,6 juta ton atau setara 1 juta hektare luas panen dengan produktivitas 5,2 ton per hektare. Sementara Indonesia hanya mampu menghasilkan beras 30,2 juta ton per tahun.

"Artinya kita masih defisit 1 juta beras. Belum lagi cadangan beras pemerintah (CBP) 2,5 juta ton, berarti dijumlah kurang lebih 3,5 juta ton beras setiap tahun. Itu setara dengan 7 juta ton gabah kering giling (GKG)," jelas Dedi.

Baca juga: Keren! Polbangtan Kementan Boyong 15 Medali di Kejuaran Palagan Open Taekwondo Championship

Berdasarkan data yang ada, pada Maret 2024, petani baru bisa menanam seluas 800.000 hektare atau dengan kata lain terjadi kekurangan tanam seluas 300.000 hektare, yang akibatnya akan defisit beras.

"Oleh karena itu, kita harus melakukan perluasan tanam dan meningkatkan indeks pertanaman (IP) kita di lahan rawa dan lahan tadah hujan agar produksi beras kembali melimpah,” ujar Dedi.

Kementan saat ini tengah fokus menggenjot produksi dua komoditas pokok, yaitu padi dan jagung nasional melalui optimalisasi lahan rawa, pompanisasi, dan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan.

Dedi mengatakan, optimalisasi rawa sedang dilakukan di 11 provinsi dengan target meningkatkan IP 100 menjadi 200 untuk daerah yang sudah dilakukan survei investigasi dan desain (SID).

"Lahan rawa kita umumnya cuman tanam satu kali dalam satu tahun. Lahan Rawa kalau kita tingkatkan IP dari satu kali menjadi dua dalam satu tahun berarti kita harus optimasi lahannya. Kita harus perbaiki salurannya dan sebagainya," sambung dia.

Kementan juga menggalakkan program bantuan pompanisasi, khususnya di lahan persawahan tadah hujan ber-IP satu yang dekat dengan sumber air. Program ini akan dilakukan 500 hektare di Pulau Jawa dan 500 hektar di luar Pulau Jawa.

"Kita punya lahan tadah hujan 3-4 juta hektare, yang baru tanam satu kali dalam satu tahun karena apa irigasinya hanya mengandalkan hujan. Kalau ini kita tingkatkan IP-nya jadi dua kali, produksi kita juga akan meningkat," ujar dia.

Selanjutnya, kata Dedi, Kementan juga menggalakkan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan sawit dan kelapa yang sedang mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

"Kita ada lahan sawit dan kakao sekitar 500.000 hektare untuk program tumpang sisip padi gogo. Sehingga yang tadinya tidak bisa tanam menjadi tanam,” kata Dedi.

Dengan latar belakang ini maka BPPSDMP akan menyelenggarakan PSPP Volume 10 Tahun 2024 bagi Petani, Penyuluh Pertanian, dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dengan tema "Gerakan Antisipasi Darurat Pangan Nasional".

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam peningkatan produksi padi melalui optimalisasi lahan rawa dan pompanisasi di lahan sawah tadah hujan serta pemanfaatan lahan perkebunan untuk padi.

PSPP ini dilaksanakan selama tiga hari, tanggal 5 - 7 Juni 2024 secara luring di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan dan daring serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan Kantor Koramil di seluruh Indonesia.

Peserta pelatihan yang mengikuti sebanyak 1.902.354 dari target sebanyak 1.800.000 orang yang terdiri dari Petani sejumlah 1.823.948 orang, Penyuluh PNS sejumlah 12.008 orang, Penyuluh PPPK sejumlah 7.690 orang, Penyuluh THL Pusat sejumlah 474 orang, Penyuluh THL Daerah sejumlah 3.184 orang, BABINSA sejumlah 48.347 orang dan Insan Pertanian lainnya sejumlah 6.703 orang.(***)

Kementan Kenalkan Ketahanan Pangan Keluarga kepada Pengurus PKK dan Posyandu

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian terus menggaungkan pentingnya ketahanan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Melalui salah satu UPT pelatihan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Kementan memberikan pembelajaran tentang pertanian hidroponik dan pengolahan hasil pertanian.

Kegiatan dilaksanakan Senin (3/6/2024), diikuti 190 orang Ibu-ibu PKK dan Penggerak Posyandu se-Kecamatan Sukakarya Kabupaten Bekasi.

Menurut Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, pangan merupakan bagian penting karena merupakan faktor penentu keberlangsungan sebuah negara.

"Saya ingatkan ketahanan pangan itu merupakan ketahanan negara dan penting untuk terus berkolaborasi untuk menjaga dan meningkatkan produksi pangan,”ujarnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi berharap seluruh insan pertanian diharapkan bergerak aktif menjaga ketahanan pangan. Menurutnya ketahanan pangan bisa dimulai dari keluarga.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, kerap mengatakan bahwa pembangunan pertanian diawali dari desa. “Ketahanan pangan berawal dari desa, dan ibu-ibu penggerak PKK dan posyandu bisa menjadi pendukung pembangunan pertanian di desa.”

Pembelajaran pertanian hidroponik dan pengolahan hasil pertanian ini sendiri diikuti oleh ombongan Pengurus PKK dan Posyandu dari 7 desa yaitu Desa Sukamurni, Sukakarya Sukamakmur, Sukakarsa, Sukaindah, Sukalaksana dan Sukajadi, diterima secara resmi oleh Tim Manajemen BBPP Lembang.

Baca juga: Antisipasi Darurat Pangan, Kementan Latih Jutaan Petani Penyuluh dan Babinsa

Para peserta mendapatkan materi dari widyaiswara BBPP Lembang yang menyampaikan tentang Budidaya Sayuran Sistem Hidroponik. Dikenalkan juga berbagai sistem dalam teknologi hidroponik seperti wick system, irigasi tetes, nutrient film technique (NFT), deep flow technique (DFT), dan aeroponik.

Widyaiswara BBPP Lembang juga menyampaikan juga tentang komoditas sayuran yang memiliki nilai jual tinggi dan bisa dibudidayakan secara hidroponik.

Peserta lalu diajak praktik penanaman secara hidroponik di Inkubator Agribisnis. Petugas lahan praktik mensimulasikan pembuatan instalasi hidroponik sistem DFT, menjelaskan penggunaan nutrisi hidroponik, proses persemaian hidroponik, penanaman secara hidroponik, dan pengendalian hama dan penyakit.

Sementara itu, di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, widyaiswara mengenalkan pengolahan jagung manis menjadi es krim yang juga bisa menjadi peluang bisnis bagi para pengurus PKK dan Posyandu.

Hanya dengan 5 bahan yaitu jagung manis, telur, susu cair, susu kental manis dan TBM dan peralatan pembuatan es krim yang sederhana bisa menghasilkan cemilan sehat bagi anak-anak dan masyarakat secara umum.

Camat Sukakarya, Hanief Zulkifli memberikan apresiasinya atas kegiatan kunjungan ini.

“Terima kasih kami sampaikan kepada BBPP Lembang yang telah memfasilitasi para pengurus PKK dan Posyandu Kecamatan Sukakarya Kabupaten Bekasi mengenal pertanian dan ketahanan pangan. “Semoga setelah belajar di sini, bisa diaplikasikan di tempat masing-masing karena di Kecamatan Sukakarya potensial untuk mengembangkan sektor pertanian dari mulai hulu hingga hilir,” ucapnya.(***)

Keren! Polbangtan Kementan Boyong 15 Medali di Kejuaran Palagan Open Taekwondo Championship

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kontingen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang berhasil memboyong 15 medali di ajang Kejuaran Palagan Open Taekwondo Championship. Kejuaraan yang berlangsung 31 Mei – 1 Juni 2024, di Tennis Indoor GOR Pandanaran Wujil, Kabupaten Semarang, diikuti oleh peserta dari berbagai daerah.

Dalam ajang itu, Kontingen Polbangtan yang berada di bawah naungan Kementerian Pertanian (Kementan) itu menurunkan 15 mahasiswa, terdiri dari 7 Mahasiswa Jurusan Pertanian dan 8 mahasiswa jurusan Peternakan. Yang membuat bangga, semuanya berhasil memboyong medali.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengapresiasi prestasi yang diraih para mahasiswa Polbangtan Yogyakarta Magelang tersebut. Menurutnya, hal ini membuktikan jika Polbangtan juga turut memperhatikan bakat-bakat para mahasiswa.

Pernyataan senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi.

Baca juga: Kementan Siap Latih Jutaan Petani dan Penyuluh Antisipasi Darurat Pangan

“Dalam Polbangtan, para mahasiswa tidak hanya dibekali dengan pengetahuan serta ilmu-ilmu seputar pertanian yang akan menjadi bekal mereka saat terjun ke Masyarakat. Lebih dari itu, bakat serta hobi yang mereka miliki pun tetap bisa tersalurkan, seperti kejuaraan taekwondo ini. Dan ini yang membuat Polbangtan menyenangkan,” katanya.

Sementara Ketua Jurusan Pertanian Polbangtan Yogyakarta Magelang, Endah Puspitojati, menjelaskan jika para mahasiswanya mampu meraih 5 medali emas.

“Total ada 5 medali emas yang berhasil diboyong pulang, 3 diraih dari cabang kyourgi dan 2 dari cabang poomsae. Sementara 10 medali perak dengan rincian 9 medali dari cabang kyourugi dan 1 medali dari poomsae,” rinci Endah, di sela-sela apel pagi.

Endah turut mengapresiasi dan bangga terhadap capaian tersebut, menurutnya dengan sering mengikuti ajang-ajang seperti ini, mahasiswa akan terasah karakternya.

“Dari sini muncul karakter pejuang, nilai-nilai kerjasama tim, dan kebersamaan serta persaudaraan untuk bahu membahu mengharumkan nama lembaga,” sambungnya.

Salah seorang peraih medali emas, Novi Larasati Ramadhani, mengaku bangga dapat mempersembahkan prestasi untuk Polbangtan Yogyakarta Magelang.

“Sangat bangga karena kami ber 15 mampu bersama-sama memboyong medali untuk Kampus tercinta. Terimakasih atas dukungan dan kesempatan yang telah diberikan kepada kami, semoga kami dapat terus mengukir prestasi di ajang-ajang kejuaran mendatang,” kata Novi.

Kementan Siap Latih Jutaan Petani dan Penyuluh Antisipasi Darurat Pangan

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) melatih jutaan petani dan penyuluh untuk mengantisipasi darurat pangan nasional.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, prioritas pemerintah saat ini adalah menggenjot produksi padi dan jagung untuk mencegah krisis pangan di Indonesia.

“Kalau krisis energi mungkin kita masih bisa bergerak, tapi kalau krisis pangan, seluruh aktivitas terhenti, bahkan negara pun tidak ada tanpa pangan. Sehingga, ini menjadi prioritas pemerintah saat ini,” kata Mentan Amran.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, situasi dunia dalam kondisi tidak menentu dengan sekira 60 negara mengalami krisis pangan dan 900 juta penduduk dunia terdampak krisis pangan.

Krisis pangan, kata Dedi, disebabkan oleh pandemi COVID-19, climate change (perubahan iklim), dan geopolitical tension, terutama perang Rusia dan Ukraina, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda usai.

"Di Indonesia, sejak Februari tahun lalu hingga Maret tahun kita mengalami fenomena alam yang disebut El Nino, kemarau yang berkepanjangan," ujar Dedi saat Konferensi Pers menjelang Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh (PSPP) Volume 10 Tahun 2024, Jakarta, Kamis (30/5).

Dedi mengatakan, beras adalah kebutuhan pokok Indonesia. Per bulannya, kebutuhan beras dalam negeri tidak kurang dari 2,6 juta ton atau setara 1 juta hektare luas panen dengan produktivitas 5,2 ton per hektare.

Dedi menjelaskan, komsusmsi beras dalam negeri setiap bulannya tidak kurang dari 2,6 juta ton atau setara 1 juta hektare luas panen dengan produktivitas 5,2 ton per hektare. Sementara Indonesia hanya mampu menghasilkan beras 30,2 juta ton per tahun.

"Artinya kita masih defisit 1 juta beras. Belum lagi cadangan beras pemerintah (CBP) 2,5 juta ton, berarti dijumlah kurang lebih 3,5 juta ton beras setiap tahun. Itu setara dengan 7 juta ton gabah kering giling (GKG)," jelas Dedi.

Berdasarkan data yang ada, pada Maret 2024, petani baru bisa menanam seluas 800.000 hektare atau dengan kata lain terjadi kekurangan tanam seluas 300.000 hektare, yang akibatnya akan defisit beras.

"Oleh karena itu, kita harus melakukan perluasan tanam dan meningkatkan indeks pertanaman (IP) kita di lahan rawa dan lahan tadah hujan agar produksi beras kembali melimpah,” ujar Dedi.

Baca juga: Gelar Bimtek Kompetensi, Kementan Beberkan Peran Penting Penyuluhan Pertanian

Kementan saat ini tengah fokus menggenjot produksi dua komoditas pokok, yaitu padi dan jagung nasional melalui optimalisasi lahan rawa, pompanisasi, dan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan.

Dedi mengatakan, optimalisasi rawa sedang dilakukan di 11 provinsi dengan target meningkatkan IP 100 menjadi 200 untuk daerah yang sudah dilakukan survei investigasi dan desain (SID).

"Lahan rawa kita umumnya cuman tanam satu kali dalam satu tahun. Lahan Rawa kalau kita tingkatkan IP dari satu kali menjadi dua dalam satu tahun berarti kita harus optimasi lahannya. Kita harus perbaiki salurannya dan sebagainya," sambung dia.

Kementan juga menggalakkan program bantuan pompanisasi, khususnya di lahan persawahan tadah hujan ber-IP satu yang dekat dengan sumber air. Program ini akan dilakukan 500 hektare di Pulau Jawa dan 500 hektae di luar Pulau Jawa.

"Kita punya lahan tadah hujan 3-4 juta hektare, yang baru tanam satu kali dalam satu tahun karena apa irigasinya hanya mengandalkan hujan. Kalau ini kita tingkatkan IP-nya jadi dua kali, produksi kita juga akan meningkat," ujar dia.

Selanjutnya, kata Dedi, Kementan juga menggalakkan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan sawit dan kelapa yang sedang mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

"Kita ada lahan sawit dan kakao sekitar 500.000 hektare untuk program tumpang sisip padi gogo,” kata Dedi.

Dengan latar belakang ini maka BPPSDMP akan menyelenggarakan PSPP Volume 10 Tahun 2024 bagi Petani, Penyuluh Pertanian, dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dengan tema "Gerakan Antisipasi Darurat Pangan Nasional".

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam peningkatan produksi padi melalui optimalisasi lahan rawa dan pompanisasi di lahan sawah tadah hujan serta pemanfaatan lahan perkebunan untuk padi.

PSPP ini akan dilaksanakan selama tiga hari, tanggal 5 - 7 Juni 2024 secara luring di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan dan daring serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan Kantor Koramil di seluruh Indonesia.

Peserta pelatihan ditargetkan sebanyak 1.800.000 orang yang terdiri dari 24.607 penyuluh pertanian PNS, 12.480 penyuluh pertanian PPPK, 1.385 penyuluh pertanian THL Pusat, 8.775 penyuluh pertanian THL Daerah, 72.875 Babinsa, dan 1.679.878 petani.

Gelar Bimtek Kompetensi, Kementan Beberkan Peran Penting Penyuluhan Pertanian

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Sektor pertanian menjadi fokus utama pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.Tercatat pada triwulan ketiga tahun 2023, sektor pertanian mencatat pertumbuhan sebesar 1,46 persen dan memberikan kontribusi sebesar 13,57 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran seluruh insan pertanian yang bekerja keras untuk mendukung ketahanan pangan nasional, tak tekecuali penyuluh pertanian. Peran penyuluh sangat penting untuk pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Memiliki pengalaman sebagai penyuluh pertanian, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan perhatian besar kepada seluruh penyuluh pertanian. "Penyuluh pertanian adalah ujung tombak pembangunan pertanian di lapangan yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Mengingat betapa pentingnya penyuluh pertanian, Kementan tak henti-hentinya melakukan peningkatan kompetensi penyuluh pertanian. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan penyuluh pertanian berperan sebagai jembatan vital antara petani dengan informasi teknis, inovasi, dan praktik pertanian terbaru yang dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Mereka juga berperan dalam memfasilitasi adopsi teknologi pertanian yang berkelanjutan.

Baca juga: Tingkatkan Indeks Pertanaman di Kabupaten Bandung, Kementan Optimalkan Pompanisasi

“Penyuluh pertanian memiliki tugas dan fungsi penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Seorang penyuluh harus bisa menjadi motivator, inovator, fasilitator serta motor penggerak agribisnis pertanian”, tegas Dedi dihadapan lebih dari seribu (1000) orang penyuluh pertanian yang mengikuti kegiatan pembukaan Bimbingan Teknis Kompetensi Penyuluhan Pertanian yang dilakukan secara online (27/05/24).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Muhammad Amin menjelaskan Bimtek Kompetensi Penyuluhan Pertanian akan dilaksanakan selama 7 hari, mulai dari tanggal 27 Mei hingga 2 Juni 2024 yang dilaksanakan secara daring (online) serentak di UPT Pelatihan Pertanian ataupun lokasi lainnya. Tercatat 10.160 orang peserta yang terdiri dari 1.385 orang Penyuluh Pertanian Tenaga Harian Lepas (THL) Pusat dan 8.775 orang Penyuluh Pertanian THL Daerah.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi penyuluh pertanian dengan memberikan pembekalan kemampuan standar kompetensi yang harus dimiliki oleh penyuluh pertanian melalui bimtek serta memperluas jangkauan dan efisiensi pelaksanaan bimtek dan sertifikasi kompetensi jarak jauh”, papar Amin.

Amin menjelaskan bimtek ini merupakan pelatihan dasar fungsional bagi penyuluh yang akan dilanjutkan dengan sertifikasi kompetensi.
“Mengingat masih rendahnya tingkat sertifikasi tenaga kerja di Indonesia, maka pelatihan ini dilaksanakan dengan mengarah pada pemenuhan standar kompetensi yang pada akhirnya mencetak tenaga kerja yang lulus uji kompetensi dan layak mendapat sertifikasi”, tambah Amin.

Miftakul Aziz, Anggota BNSP selaku narasumber menjelaskan bahwa Sertifikat Kompetensi BNSP adalah pengakuan resmi atas keahlian seseorang di bidang tertentu, dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) di Indonesia. Keahlian tersebut salah satunya adalah penyuluh pertanian, sertifikat ini menunjukkan bahwa pemegangnya telah memenuhi standar kompetensi nasional yang ditetapkan oleh BNSP untuk bidang pekerjaan atau industri tertentu.

“Proses penerbitan sertifikat melibatkan penilaian terhadap pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan praktis individu. Dengan memiliki sertifikat kompetensi BNSP, kredibilitas dan peluang karir penyuluh pertanian dapat meningkat. Selain itu dapat memperkuat pengakuan profesional, serta memberikan kepercayaan kepada pemangku kepentingan terkait”, tutup Miftakul Aziz.