MAF Politeknik Enjiniring Kementan, Dorong Generasi Muda Kawal Hilirisasi Padi dari Hulu hingga Hilir

TANIINDONESIA.COM, TANGERANG — Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) kembali menggelar Millenial Agriculture Forum (MAF) PEPI Vol. 7 Edisi 40 dengan tema “Dari Produktivitas ke Nilai Tambah: Hilirisasi Padi Pasca penerapan PM-AAS”, Sabtu (2/10/2026).
Forum ini membahas pentingnya mengintegrasikan peningkatan produktivitas dengan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing pertanian nasional.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, yang terus mendorong modernisasi pertanian melalui peningkatan produktivitas dan hilirisasi.
“Peningkatan produksi harus memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan petani. Karena itu, peningkatan produktivitas harus diikuti dengan hilirisasi agar hasil pertanian memiliki nilai tambah yang lebih tinggi,” tegas Mentan Amran.
Penerapan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) menjadi salah satu upaya dalam mendorong modernisasi budidaya padi. Peningkatan produktivitas tersebut perlu dilanjutkan dengan penguatan pascapanen, pengolahan, pengembangan produk turunan, dan akses pasar.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peningkatan kapasitas generasi muda pertanian agar mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan sektor pertanian.
“Generasi muda pertanian harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pembangunan pertanian. Mereka harus mampu melihat peluang inovasi dan hilirisasi sebagai bagian dari masa depan pertanian Indonesia,” ujar Idha.
Hal tersebut menjadi bagian penting dalam pendidikan vokasi pertanian yang tidak hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berinovasi dan menciptakan nilai tambah.
Hal yang sama juga di sampaikan Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Mohammad Amin, menegaskan bahwa pendidikan vokasi pertanian harus mampu menyiapkan generasi muda yang tidak hanya menguasai aspek teknis produksi, tetapi juga memahami perkembangan teknologi, hilirisasi, kewirausahaan, dan kebutuhan dunia kerja.
“Mahasiswa pertanian harus mampu melihat pertanian secara utuh, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga bagaimana teknologi dapat meningkatkan efisiensi, menciptakan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan menjawab kebutuhan industri serta masyarakat,” ujar Mohammad Amin.
Baca Juga: Judi Online Jadi Sorotan, Politeknik Enjiniring Kementan Perkuat Pembinaan Pegawai
Direktur PEPI, Harmanto mengatakan peningkatan produktivitas merupakan langkah awal yang harus dilanjutkan dengan kemampuan mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Peningkatan produktivitas merupakan langkah awal. Selanjutnya, bagaimana hasil produksi tersebut dapat memberikan nilai tambah bagi petani dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pembangunan pertanian,” ujar Harmanto.
Menurutnya, mahasiswa sebagai calon generasi penerus pembangunan pertanian perlu memahami rantai nilai pertanian secara utuh, mulai dari produksi, teknologi pascapanen, pengolahan, hingga pemasaran.
MAF PEPI Vol. 7 Edisi 40 menghadirkan Ridwan Rachmat, Dosen dan Peneliti Ahli Utama BRIN, serta Lizar Sutanto, Manajer BP Danau Naukau, Belitung Timur, sebagai narasumber.
Ridwan membahas pemanfaatan teknologi dalam meningkatkan kualitas dan efisiensi pascapanen serta peluang pengembangan produk turunan padi. Sementara Lizar memberikan perspektif lapangan mengenai penerapan dan pengembangan pertanian di daerah.
Diskusi yang dipandu Devi Amelia Putri, mahasiswa PEPI, berlangsung interaktif dengan membahas produktivitas, teknologi pascapanen, hilirisasi, serta peluang pengembangan usaha berbasis komoditas padi.
Melalui MAF, PEPI terus memperkuat keterhubungan antara pendidikan, teknologi, dunia usaha, dan praktik pertanian. Hilirisasi menjadi langkah penting agar peningkatan produktivitas tidak berhenti pada bertambahnya produksi, tetapi mampu menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.
Dengan dukungan teknologi dan sumber daya manusia yang kompeten, PEPI mendorong lahirnya generasi muda pertanian yang mampu mengembangkan pertanian dari hulu hingga hilir, sekaligus berkontribusi terhadap terwujudnya pertanian Indonesia yang modern, produktif, inovatif, bernilai tambah, dan berdaya saing.(*)
