Kunjungi Adarasa di Salatiga, UMKM Belajar Kembangkan Produk Kelapa hingga Pasar Ekspor

TANIINDONESIA.COM, SALATIGA — Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapat kesempatan mempelajari secara langsung proses pengembangan produk berbasis kelapa hingga strategi menembus pasar ekspor melalui kunjungan ke PT Adarasa Putra Jaya, Salatiga, Jawa Tengah.
Kunjungan tersebut dilakukan Tim Majalah Hortus bersama sejumlah pelaku UMKM dan perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), sebagai bagian dari rangkaian Workshop Hilirisasi Komoditas Perkebunan sebagai Inkubasi Bisnis UKMK yang didukung BPDP dan Sinarmas.
Dalam kunjungan yang berlangsung Selasa (22/9), peserta melihat langsung proses pengolahan produk berbasis kelapa sekaligus mendapatkan gambaran mengenai peluang pengembangan komoditas perkebunan menjadi produk bernilai tambah.
Pimpinan Redaksi Majalah Hortus, Suharno, mengatakan kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk melihat secara langsung bagaimana komoditas kelapa dapat dikembangkan menjadi produk hilir dengan pasar yang lebih luas.
Menurutnya, PT Adarasa Putra Jaya memiliki produk yang spesifik berbasis kelapa sehingga pengalaman perusahaan tersebut dapat menjadi referensi bagi pelaku UMKM dalam mengembangkan usaha.
“Kita berharap dari sini ada gambaran di awal yang bisa memotivasi teman-teman UMKM,” kata Suharno.
Ia berharap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dalam kunjungan tersebut tidak berhenti pada peserta kegiatan. Hasil pembelajaran, kata dia, dapat dibagikan kembali kepada komunitas UMKM di Salatiga sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Suharno juga menjelaskan bahwa BPDP memiliki mandat dalam pengelolaan dana perkebunan untuk mendukung pengembangan sejumlah komoditas, antara lain sawit, kelapa, dan kakao.
Program yang dijalankan mencakup berbagai bentuk dukungan, termasuk peremajaan tanaman sawit serta program pendidikan dan beasiswa bagi keluarga petani sawit.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Operasional PT Adarasa Putra Jaya, Anastasia Stephanie Angelica, membagikan pengalaman perusahaan dalam mengembangkan produk berbasis hasil pertanian hingga menembus pasar ekspor.
Anastasia menceritakan, peluang mengembangkan produk gula kelapa mulai dilihat Adarasa pada 2007 setelah perusahaan mendapatkan permintaan dari pembeli asal Belanda.
Peluang tersebut kemudian dikembangkan dengan membangun jaringan pemasok gula kelapa di sejumlah daerah. Namun, perjalanan menuju pasar ekspor bukan tanpa tantangan.
Salah satu tantangan utama adalah memastikan kualitas, keamanan, dan konsistensi bahan baku. Anastasia mengatakan, perusahaan pernah menemukan gula kelapa yang dicampur dengan bahan lain yang tidak semestinya.
“Challenge utama kami dalam ekspor itu traceability, kualitas, dan konsistensi,” ujarnya.

Untuk menjaga standar tersebut, Adarasa membangun kerja sama dengan pemasok yang mampu memenuhi persyaratan kualitas bahan baku. Perusahaan juga melakukan penelusuran ketika menerima keluhan dari pembeli.
Jika ditemukan pemasok yang tidak mampu memenuhi standar, Adarasa tidak segan menghentikan kerja sama.
Menurut Anastasia, pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam mempertahankan pasar ekspor. Mendapatkan pembeli, kata dia, bukan satu-satunya tantangan dalam bisnis. Yang tidak kalah penting adalah menjaga kepercayaan agar hubungan usaha dapat berlangsung dalam jangka panjang.
“Kuncinya benar-benar adalah trust dan konsistensi,” katanya.
Selain berbagi pengalaman mengenai ekspor, Anastasia mengingatkan pelaku UMKM agar tidak berhenti pada tahap mengolah komoditas menjadi sebuah produk.
Menurutnya, pengembangan produk harus diikuti dengan inovasi, penguatan merek, positioning, dan strategi pemasaran. Hal tersebut penting agar komoditas Indonesia tidak hanya dijual sebagai bahan baku, tetapi dapat memiliki nilai tambah melalui produk akhir.
“Jangan lupakan branding, jangan lupakan positioning dan marketing,” ujarnya.
Anastasia mencontohkan JamuLab yang dikembangkan dengan menggabungkan inovasi produk dan penguatan branding. Salah satunya melalui pemanfaatan olahan kelapa sebagai pemanis alami dalam minuman rempah seperti Ginger Matcha dan Turmeric Piñacolada.
“Produk kami kuat di inovasi produk dan branding,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam pengembangan ekosistem produk tersebut, Adarasa berperan pada sisi manufaktur sekaligus menjadi penghubung antara petani dengan produk jadi.
Sementara melalui JamuLab, bahan-bahan alam Indonesia dikembangkan menjadi produk dengan pendekatan inovasi, penguatan merek, dan strategi pemasaran.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi komoditas perkebunan tidak berhenti pada proses pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi. Pengembangan produk, konsistensi kualitas, kemampuan menelusuri bahan baku, branding, hingga strategi pemasaran menjadi bagian penting agar produk UMKM memiliki daya saing dan berpeluang masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.(*)
