29 Mei 2026

Hari: 27 Mei 2026

Brigade Pangan Aceh Besar Gelar Gerakan Tanam Serempak untuk Perkuat Produksi Padi Nasional

TANIINDONESIA.COM, Aceh Besar — Dalam upaya menjaga stabilitas produksi padi nasional dan memperkuat ketahanan pangan, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) melaksanakan Gerakan Tanam Serempak di Desa Barueh, Kecamatan Kota Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, Jumat (22/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung di lahan optimalisasi lahan (oplah) ini melibatkan Brigade Pangan Sabee Seujahtera dengan pelaksanaan tanam serempak pada lahan seluas 2 hektare. Sebelumnya, brigade pangan tersebut telah melakukan penanaman seluas 30 hektare dari total target lahan 45 hektare.

Gerakan tanam di Aceh Besar menjadi salah satu titik pelaksanaan Gerakan Tanam Serempak nasional yang digelar Kementerian Pertanian sebagai langkah strategis memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produksi padi nasional.

Secara nasional, Gerakan Tanam Serempak dipusatkan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa keberhasilan gerakan tanam sangat ditentukan oleh pengawalan di lapangan, terutama oleh penyuluh pertanian bersama petani.

“Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan yang kuat di lapangan. Penyuluh bersama petani menjadi kunci untuk memastikan lahan yang sudah siap dapat segera ditanami dan memberikan hasil optimal,” ujarnya.

Menurut Idha, gerakan tanam serempak yang kembali dilaksanakan untuk keenam kalinya ini merupakan bagian dari upaya percepatan peningkatan indeks pertanaman di berbagai wilayah Indonesia.

Ia menjelaskan, target gerakan tanam kali ini mencapai sekitar 50 ribu hektare, meliputi lokasi optimalisasi lahan (oplah) 2024 seluas 21.093 hektare, oplah 2025 seluas 27.472 hektare, serta lahan cetak sawah rakyat (CSR) 2025 seluas 1.700 hektare.

“Alhamdulillah, lebih dari 50 ribu hektare lahan telah kembali tertanami,” katanya.

Idha menambahkan, gerakan ini menjadi akselerator bagi petani untuk terus melakukan percepatan tanam pascapanen sehingga produktivitas dan indeks pertanaman meningkat, dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali tanam dalam setahun.

“Percepatan tanam perlu dilakukan dengan memanfaatkan sisa air pada penghujung musim hujan agar tanaman dapat tumbuh optimal sebelum memasuki periode kering,” tuturnya.

Baca Juga: Siap Go Nasional! Polbangtan Kementan Lindungi Inovasi Pertanian Lewat Kerja Sama dengan Kemenkum

Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut percepatan tanam serentak sebagai langkah strategis untuk menjaga momentum produksi pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan ancaman kekeringan.

Di Aceh Besar, Gerakan Tanam Serempak turut dihadiri Direktur Polbangtan Yogyakarta Magelang bersama Tenaga Ahli Menteri Bidang Mekanisasi Alat dan Mesin Pertanian, Penanggung Jawab Swasembada Pangan Provinsi Aceh, serta Wakil Bupati Aceh Besar.

Tenaga Ahli Menteri Bidang Mekanisasi Alat dan Mesin Pertanian, Astu Unadi, mengatakan gerakan ini tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga berpotensi menekan ketergantungan impor sekaligus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.

“Tanam serentak bertujuan untuk mendorong ketahanan pangan. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai strategi, salah satunya optimalisasi lahan (oplah) melalui Brigade Pangan,” ujarnya.

Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan, menegaskan komitmen institusinya dalam mendukung percepatan tanam sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

“Kami mendukung penuh kegiatan gerakan tanam ini sebagai bentuk komitmen bersama dalam meningkatkan produktivitas pertanian guna mendukung swasembada pangan berkelanjutan,” tuturnya.

Melalui sinergi pemerintah, petani, penyuluh pertanian, dan masyarakat, Gerakan Tanam Serempak diharapkan menjadi penggerak penting dalam memperkuat sektor pertanian dan mewujudkan swasembada pangan nasional.(*)

Wamentan Sudaryono: Ketersediaan Hewan Kurban Nasional Surplus, Pasokan Aman

TANIINDONESIA.COM, Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut ketersediaan hewan kurban nasional tahun ini berada dalam kondisi aman bahkan surplus. Berdasarkan laporan yang disampaikan, jumlah hewan kurban secara nasional mencapai sekitar 3,2 juta ekor, sementara kebutuhan diperkirakan berada pada kisaran 2,4 juta ekor, sehingga terdapat surplus sekitar 800 ribu ekor.

Menurut Wamentan Sudaryono, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasokan ternak nasional dalam kondisi baik sekaligus menjadi gambaran daya tahan masyarakat di tengah berbagai tantangan global.

“Ini artinya alhamdulillah Allah telah memberikan rahmat-Nya, telah memberikan rezekinya kepada bangsa kita, negara kita. Hari ini di saat kesulitan perang di mana-mana kita dalam keadaan yang baik, itu perlu tentu kita syukuri bersama,” ujar Wamentan Sudaryono pada Kegiatan penyembelihan hewan kurban di Masjid Nurul Iman, Kantor Pusat, Kementerian Pertanian, Rabu (27/5/2026)

Data nasional menunjukkan tren peningkatan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kurban. Berdasarkan data iSIKHNAS, jumlah pemotongan hewan kurban secara nasional pada 2025 lalu tercatat mencapai 2.268.764 ekor atau meningkat 11,5 persen dibandingkan tahun 2024 yang sebanyak 2.033.995 ekor.

Optimisme tersebut juga tercermin dari pelaksanaan kurban di lingkungan Kementerian Pertanian yang mencatat rekor tertinggi sepanjang penyelenggaraan. Tahun 2026 ini, sebanyak 49 ekor hewan kurban, terdiri atas 41 ekor sapi dan 8 ekor kambing, terkumpul di Masjid Nurul Iman Kantor Pusat Kementerian Pertanian.

Jumlah tersebut meningkat signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada 2024 tercatat sebanyak 2 ekor sapi dan 15 kambing, meningkat menjadi 9 ekor sapi dan 10 kambing pada 2025, lalu melonjak menjadi 41 ekor sapi dan 8 kambing pada tahun 2026 ini.

“Insyaallah negara kita baik, pertumbuhannya baik dan kita bisa lihat partisipasi dari jumlah kurban di masjid ini saja,” ujar Wamentan Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu.

Hewan kurban berasal dari berbagai pihak, mulai dari Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Wamentan Sudaryono, pejabat di lingkungan Kementerian Pertanian, mitra kerja, BUMN, hingga HKTI yang menyalurkan 15 ekor sapi kurban. Untuk memastikan penyembelihan berjalan sesuai syariat dan standar kesehatan, panitia melibatkan 41 Juru Sembelih Halal (Juleha) binaan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH).

“Tolong juga seluruh penyembelihan hewan ini dilaksanakan dengan higienis, dengan baik, bersih, sehingga tidak menimbulkan satu hal yang tidak kita inginkan,” kata Wamentan Sudaryono.

Baca Juga: Gerakan ASRI Perkuat Lingkungan Kerja dan Dukung Swasembada Pangan Berkelanjutan

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian Agung Suganda turut melaporkan bahwa ketersediaan hewan kurban nasional dalam kondisi aman dan terkendali. Berdasarkan proyeksi Ditjen PKH, total ketersediaan hewan kurban mencapai sekitar 3,2 juta ekor, terdiri dari 860 ribu ekor sapi, 34 ribu ekor kerbau, 1,4 juta ekor kambing, dan 935 ribu ekor domba.

“Kami melaporkan bahwa ketersediaan hewan kurban secara nasional cukup aman dan terkendali. Total proyeksi ketersediaan sebanyak 3,2 juta ekor, sementara proyeksi kebutuhan nasional kita untuk pengadaan hewan kurban ini sebanyak 2,4 juta ekor sehingga masih ada surplus sekitar 800 ribu ekor,” ujar Agung Suganda.

Agung juga menyampaikan bahwa tahun ini pemerintah menyalurkan lebih dari 1.000 ekor sapi bantuan kemasyarakatan Presiden yang didistribusikan ke provinsi, kabupaten/kota, Ibu Kota Nusantara (IKN), serta berbagai lembaga masyarakat.

“Totalnya itu ada 1.000 lebih sapi kurban bantuan kemasyarakatan dari Bapak Presiden dan alhamdulillah setiap tahun ini naik terus. Tahun kemarin 981, sekarang 1.000 lebih karena ini bentuk kepedulian dari Presiden kepada kita semua, khususnya para peternak,” kata Agung.

Selain itu, pelaksanaan dam haji di dalam negeri juga mengalami peningkatan. Jika tahun lalu sekitar 10 ribu ekor kambing disembelih melalui skema dam haji, tahun ini jumlahnya meningkat menjadi 32.690 ekor.

Menurut Agung, peningkatan tersebut berpotensi memberikan dampak positif bagi peternak nasional.

“Kalau 200 ribu jemaah haji saja ditambah dengan kebutuhan kurban tadi, maka setiap tahun paling tidak lebih dari 2 juta ekor harus disiapkan dan ini menambah keberkahan bagi teman-teman peternak kita,” ujarnya.(*)