18 April 2026

Pompanisasi

Pompanisasi Sukses Tingkatkan Produktivitas Padi di Magelang

TANIONDONESIA.COM, Magelang – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Magelang atas keberhasilannya meningkatkan produktivitas padi melalui program pompanisasi.

“Luar biasa Bupati Magelang. Pompanisasi sudah berjalan, yang sebelumnya hanya panen sekali kini bisa menjadi tiga kali dalam setahun. Ini karena pompa air sudah terpasang,” ujar Mentan Amran saat kunjungan kerja di Desa Banyuurip, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Kamis (16/4/2026).

Ia menyoroti inisiatif pemerintah daerah dalam memanfaatkan sumber air sungai yang berada di bawah lahan sawah. Melalui pompanisasi, lahan pertanian kini dapat terairi sepanjang tahun tanpa bergantung pada hujan.

“Kalau tidak ada pompa, air hujan akan langsung mengalir ke sungai dan kembali ke laut. Seharusnya air itu kita manfaatkan untuk produksi pangan,” tegasnya.

Mentan Amran berharap program pompanisasi dapat diperluas ke berbagai daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan, sehingga frekuensi tanam bisa meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali dalam setahun.

“Kami telah menganggarkan Rp4–5 triliun untuk pompanisasi. Jika bisa menjangkau 1 juta hektare, maka potensi tambahan produksi mencapai 6 juta ton gabah,” jelasnya.

Ia optimistis strategi ini mampu meningkatkan produksi pertanian secara signifikan, sejalan dengan program cetak sawah baru dan optimalisasi lahan rawa.

“Produksi bisa naik tajam hingga 13 persen melalui peningkatan luas tambah tanam,” tambahnya.

Menurutnya, konsep luas tambah tanam berarti lahan yang sama dimanfaatkan lebih intensif.

Baca Juga: Polbangtan Kementan dan UGM Sepakati Kolaborasi Strategis 3 Tahun, Fokus SDM dan Inovasi Pertanian

“Jika luas tanam bertambah 2 juta hektare dan setiap hektare menghasilkan 6 ton, maka akan ada tambahan 12 juta ton gabah atau sekitar 6 juta ton beras,” paparnya.

Program ini juga mendapat dukungan dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP). Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menegaskan bahwa keberhasilan pompanisasi tidak lepas dari peran aktif penyuluh pertanian dalam mendampingi petani di lapangan.

“Penyuluh menjadi kunci dalam memastikan program pompanisasi berjalan optimal. Mereka tidak hanya membantu dalam aspek teknis penggunaan pompa, tetapi juga mendorong petani untuk meningkatkan indeks pertanaman dan mengelola air secara efisien,” ujarnya.

Ia menambahkan, BPPSDMP akan terus memperkuat kapasitas penyuluh agar mampu menjawab tantangan di lapangan, khususnya di wilayah tadah hujan dan daerah yang rentan terhadap perubahan iklim.

“Dengan pendampingan yang intensif dan berkelanjutan, kami optimistis program pompanisasi dapat meningkatkan produktivitas secara signifikan dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Sidodadi, Sarju, mengaku merasakan langsung manfaat program tersebut.

“Sebelumnya kami hanya mengandalkan tadah hujan dan airnya tidak mencukupi. Sekarang, sekitar 18–20 hektare dari total 24 hektare lahan sudah bisa terairi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pompanisasi turut meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) padi di wilayahnya.

“Dulu hanya bisa tanam sekali, sekarang sudah bisa sampai tiga kali dalam setahun,” katanya.(*)