Olah Salak dan Singkong, Mahasiswa Polbangtan Kementan Ciptakan Olahan Pangan Bernilai Jual Tinggi

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta – Sebagai perguruan tinggi vokasi, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) terus mendorong mahasiswanya untuk mengembangkan inovasi di bidang pertanian. Salah satunya dengan penumbuhan inovasi pangan berbahan dasar pangan lokal.
Melaui kreatifitas tiga mahasiswa Polbangtan Yoma, Siti Mufidah, Bagus Tyo Prasetia, dan Desti Amelia Nur Rochmah, salak dan tepung singkong diubah menjadi kudapan kekinian yang diberi merek Mocaf Salak Krezz.
Mereka mampu menambah nilai jual dari potensi lokal. Dengan memadukan tepung singkong yang dimodifikasi sebagai alternatif pengganti tepung terigu dengan salak, komoditas lokal yang kaya akan antioksidan. Perpaduan keduanya menghasilkan camilan yang lebih sehat, memiliki nilai tambah, sekaligus berpotensi menjangkau pasar makanan bebas gluten.
Karena kreaktifitasnya, inovasi ini pun berhasil meraih Juara II pada gelaran Agri Food Innovation Competition 2026 yang diselenggarakan oleh Polbangtan Malang.
Melalui pemanfaatan teknologi dan pengolahan komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah, mahasiswa didorong untuk menghasilkan inovasi yang mampu mendukung proses hilirisasi pertanian sekaligus meningkatkan daya siang hasil pertanian Indonesia.
Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang terus mendorong lahirnya generasi petani muda melalui penerapan teknologi.
“Kita ingin semakin banyak anak muda masuk ke sektor pertanian karena melihat peluang bisnis yang besar. Pertanian modern adalah masa depan,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang inovatif, adaptif, dan mampu menjadi garda terdepan pembangunan pertanian.

Baca Juga: Kuatkan Penyuluhan Digital, Aplikasi Juru Tani Polbangtan Kementan Dorong Swasembada Pangan
Ditemui pada Kamis (30/7/2026), Bagus Tyo Prasetia menjelaskan bahwa pemilihan salak dan mocaf didasarkan pada ketersediaan bahan baku yang melimpah serta keinginan mereka untuk menghasilkan produk yang dapat menambah nilai jual.
“Melalui pengolahan menjadi produk camilan ini, komoditas lokal dapat diangkat menjadi inovasi pangan yang bernilai jual tinggi sekaligus menjadi pilihan bagi masyarakat, khususnya penggemar makanan bebas gluten,” jelasnya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa Polbangtan Yoma tidak hanya mampu berinovasi, tetapi juga menghadirkan solusi berbasis potensi lokal yang memiliki prospek bisnis.
Nur Rohmah Lufti A’yuni, Sekretaris Jurusan Pertanian Polbangtan Yoma mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan inovasi ini sebagai bentuk diversifikasi pangan berbasis potensi lokal.
“Hal ini menunjukkan kepedulian mahasiswa untuk memanfaatkan potensi pangan lokal menjadi produk bernilai tambah. Harapannya produk ini dapat dikembangkan supaya bisa lebih maju dan menghasilkan keuntungan serta membuka lapangan pekerjaan.” ucap Rohmah.
Polbangtan Yoma meyakini upaya penumbuhkembangan inovasi menjadi bagian penting dalam mendukung pertanian modern, mulai dari sektor hulu hingga hilir.(*)
