17 Maret 2026

#Kementan

Mentan Amran Rapat Hari Minggu Antisipasi Kekeringan dan Ketegangan Geopolitik

TANIINDONESIA.COM, Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menggelar rapat pada hari Minggu untuk memastikan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan serta dinamika ketegangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi sektor pangan. Dalam rapat tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa pemerintah terus memantau kondisi produksi dan stok pangan nasional secara intensif agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Berdasarkan data terbaru per Maret 2026, kondisi pangan nasional khususnya beras berada dalam keadaan aman. Produksi beras nasional tercatat berkisar antara 2,6 hingga 5,7 juta ton per bulan, lebih tinggi dari rata-rata konsumsi nasional sekitar 2,59 juta ton per bulan. Total ketersediaan beras nasional saat ini mencapai 27,99 juta ton, yang terdiri dari stok Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, stok masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi siap panen sebesar 11,73 juta ton.

“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Produksi kita tetap terjaga, bahkan dalam beberapa bulan bisa mencapai 5,7 juta ton, sehingga pasokan domestik sangat kuat,” ujar Mentan Amran di Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jakarta.

Baca Juga: Wamentan Apresiasi Kinerja Penyuluh Sukseskan Swasembada Pangan

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan. Salah satunya melalui program pompanisasi yang telah menjangkau 1,2 juta hektare lahan pada tahun sebelumnya dan akan ditambah 1 juta hektare lagi pada tahun ini. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tambahan irigasi perpompaan (irpom) untuk 1 juta hektare lahan guna memastikan ketersediaan air bagi tanaman padi saat musim kering.

“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga. Kita juga tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi geopolitik global maupun potensi El Niño. Produksi kita kuat, stok kita aman,” tegasnya.

Menurut Mentan Amran, stok beras pemerintah juga terus meningkat dan diperkirakan dalam dua bulan ke depan dapat mencapai 5 juta ton seiring masuknya hasil panen raya di berbagai daerah. Selain itu, komoditas pangan lain seperti ayam dan telur juga berada dalam kondisi surplus, sementara ketersediaan pupuk dipastikan aman dengan harga yang bahkan turun sekitar 20 persen.

“Pupuk cukup dan bahkan harganya turun sekitar 20 persen. Ini menjadi motivasi besar bagi petani untuk terus menanam. Insya Allah pangan kita aman. Produksi kuat, stok cukup, dan berbagai langkah antisipasi sudah kita lakukan,” pungkas Mentan Amran.(*)

Dukung Swasembada Pangan, Politeknik Enjiniring Kementan Jadi Motor Percepatan LTT di Bangka Belitung

TANIINDONESIA.COM, Bangka Selatan – Dalam rangka percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi guna mendukung program swasembada pangan berkelanjutan, Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) turut berpartisipasi dalam kegiatan Gerakan Tanam Bersama yang dilaksanakan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (4/3/2026) mulai pukul 13.30 WIB hingga selesai di sawah Poktan Setia Kawan I, Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya percepatan realisasi target tanam padi di wilayah tersebut sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, penyuluh pertanian, dan para petani.

Partisipasi PEPI dalam kegiatan ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap program strategis Kementerian Pertanian dalam meningkatkan produksi padi nasional. Melalui kegiatan ini, civitas akademika juga berkesempatan melihat langsung praktik budidaya di lapangan serta mendukung penerapan teknologi pertanian modern kepada petani.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, seluruh jajaran pertanian terus didorong untuk mempercepat realisasi Luas Tambah Tanam (LTT) di berbagai daerah. Mentan menekankan pentingnya optimalisasi lahan, peningkatan indeks pertanaman, serta pemanfaatan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani. Selain itu, Mentan juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, lembaga pendidikan, dan petani guna mempercepat pencapaian target swasembada pangan nasional.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti yang turut mengikuti kegiatan tanam serentak tersebut menyampaikan bahwa peran lembaga pendidikan vokasi pertanian sangat penting dalam mendukung pembangunan pertanian. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi vokasi seperti Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia menjadi bagian penting dalam menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang unggul dan adaptif terhadap perkembangan teknologi pertanian.

Baca Juga: Kebersamaan DWP Politeknik Enjiniring Kementan Memeriahkan Semarak Ramadhan

Senada dengan itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian Mohammad Amin menegaskan agar seluruh satuan pendidikan vokasi pertanian tetap aktif mendukung program pembangunan pertanian nasional, termasuk melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan lapangan seperti gerakan tanam bersama. Ia menekankan pentingnya peningkatan kompetensi mahasiswa dan civitas akademika, khususnya dalam penerapan teknologi pertanian, mekanisasi, dan inovasi sektor pertanian, agar lahir generasi muda yang siap mendukung terwujudnya ketahanan dan swasembada pangan di Indonesia.

Gerakan tanam bersama ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan luas tanam padi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus memperkuat komitmen seluruh pihak dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dengan keterlibatan aktif berbagai pihak, termasuk Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia, upaya mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan diharapkan dapat tercapai secara optimal.

Direktur Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia, Harmanto menegaskan komitmen PEPI untuk terus mendukung program percepatan LTT dan penguatan ketahanan pangan nasional. Ia menyampaikan bahwa keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam kegiatan seperti gerakan tanam bersama menjadi bagian penting dari proses pembelajaran berbasis praktik di lapangan.
Menurutnya, melalui kegiatan tersebut mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman langsung dalam budidaya tanaman pangan, tetapi juga memahami tantangan dan kebutuhan petani di lapangan, sehingga ke depan dapat menghadirkan inovasi teknologi yang lebih tepat guna bagi sektor pertanian.

Gerakan tanam bersama ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan luas tanam padi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus memperkuat komitmen seluruh pihak dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dengan keterlibatan aktif berbagai pihak, termasuk Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia, upaya mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan diharapkan dapat tercapai secara optimal.(*)

Wamentan Apresiasi Kinerja Penyuluh Sukseskan Swasembada Pangan

TANIINDONESIA.COM, Grobogan - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut penyuluh berperan secara signifikan dalam capaian swasembada pangan Indonesia.

Hal ini disampaikan pada Pembinaan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) dan Brigade Pangan di Kantor Camat Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah pada Selasa (3/3/2026).

Di depan 750 peserta yang hadir, Ia mengatakan Indonesia telah mencapai swasembada beras pada akhir 2025.

“Berkat kerjasama semua pihak, Indonesia telah swasembada pangan dan tidak lagi impor beras!” sebutnya.

Karena inilah, Ia menyebut harga beras dunia turun hingga setengahnya. Pasalnya, sebelumnya Indonesia menjadi pelanggan beras terbesar dunia. Dan, kini tidak lagi mengimpor beras.

“Penyuluh berpengaruh besar dalam membawa kesejahteraan petani Indonesia. Sekaligus mempunyai andil dalam memotong harga beras dunia.” jelas Wamentan Sudaryono.

Untuk itu, Ia mengajak penyuluh untuk terus meningkatkan kinerjanya. Karena keberhasilan pangan Indonesia bergantung pada performa penyuluh di lapangan.

Seperti diketahui, sejak 1 Januari 2026, Penyuluh Pertanian telah ditarik dari pemerintah daerah ke Kementerian Pertanian, sesuai dengan Inpres No 3 Tahun 2025.

Dijelaskan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, upaya ini untuk mempercepat swasembada pangan.

“Jumlah penyuluh yang dipindahkan ke Kementerian Pertanian sejumlah 38.318 orang. Penyuluh di Jawa Tengah mencapai 3.302 orang di 35 kabupaten/kota.” ucapnya.

Ia menyebut Penyuluh Pertanian harus menjadi agen perubahan dan percepatan program-program utama Kementerian Pertanian.

Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Pembelajaran , Polbangtan Kementan Gelar Penyiapan Pembelajaran TA 2025/2026

“Penyuluh pertanian menjadi ujung tombak pelaksanaan luas tambah tanam, optimasi lahan rawa dan non rawa, padi lahan kering, akses petani ke Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta pendampingan dalam penggunaan benih unggul, maupun pupuk yang efisien serta penumbuhan brigade pangan dalam regenerasi pertanian yang adaptif terhadap teknologi.” papar Idha.

Hadir dalam acara, Wakil Bupati Grobogan, Sugeng Prasetyo mengatakan dengan PPL dalam satu komando Kementerian Pertanian dapat mendukung percepatan adopsi teknologi pertanian di tingkat petani, sehingga hal ini menjadi lebih efektif.

“Kami berharap PPL memiliki arah kerja yang lebih jelas, terfokus, dan selaras dengan kebijakan nasional seperti swasembada pangan, modernisasi pertanian, serta ketahanan pangan dan kemandirian pangan.”ucapnya.

Sehingga, Ia melanjutkan, pembinaan karier, pelatihan, dan pengembangan kompetensi dapat dilakukan secara terstruktur dan seragam secara nasional.

“Dengan hal ini akan dapat meningkatkan kualitas PPL sebagai tenaga profesional di bidang penyuluhan.” pungkasnya.

Pj. Brigade Pangan Kabupaten Grobogan, Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma), R. Hermawan menyebut acara ini ditujukan untuk memberikan pembinaan kepada PPL agar memahami tugasnya di lapangan dalam mensukseskan program-program strategis Kementerian pertanian, khususnya program Brigade Pangan.(*)

Buka Penerimaan Mahasiswa Baru, Politeknik Enjinering Pertanian Siap Cetak SDM Kompeten Berdaya Saing

TANIINDONESIA.COM, Tangerang – Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) menggelar Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027 secara virtual pada Kamis (26/02/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk menarik minat anak petani serta siswa berprestasi agar dapat melanjutkan studi di bidang pertanian.

Dalam sosialisasi ini, peserta mendapatkan informasi lengkap mengenai program studi yang ditawarkan, tata cara pendaftaran, serta peluang dan manfaat menempuh pendidikan di PEPI. Dengan demikian, calon mahasiswa dapat memahami berbagai keuntungan yang diperoleh dari pendidikan pertanian yang berkualitas.

Menteri Pertanian,Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan untuk menjadikan sekolah pertanian bertaraf internasional, dengan harapan pertanian Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara tetangga bahkan di tingkat global. Menurutnya, penguatan kelembagaan pendidikan vokasi pertanian menjadi langkah strategis dalam mencetak generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan tantangan perubahan iklim. Ia menegaskan bahwa modernisasi pertanian tidak dapat dilepaskan dari peran pendidikan tinggi yang mampu menghasilkan lulusan kompeten, inovatif, dan siap terjun langsung ke lapangan.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa sumber daya manusia yang berkualitas merupakan kunci utama dalam mempercepat pembangunan sektor pertanian di Indonesia. Ia menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas petani dan penyuluh harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan vokasi.

Baca Juga: Alumni Politeknik Enjiniring Kementan Lulus Bakomsus Pertanian dan Aktif Kembangkan Pertanian Modern

Investasi di bidang pendidikan pertanian bukan hanya berdampak pada peningkatan kompetensi individu, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu, sinergi antara lembaga pendidikan, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya perlu terus diperkuat guna menciptakan ekosistem pertanian yang berdaya saing dan berkelanjutan.Ujar Arsanti

Untuk memperluas jangkauan informasi, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten/Kota serta para guru sekolah dari berbagai daerah. Kehadiran unsur pemerintah daerah dan tenaga pendidik tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung efektivitas sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB).

Kolaborasi ini diharapkan dapat membantu menyebarluaskan informasi kepada lebih banyak calon mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga petani dan penyuluh pertanian. Melalui peran aktif guru sekolah, informasi mengenai peluang melanjutkan pendidikan di bidang pertanian dapat disampaikan secara langsung kepada siswa, terutama yang memiliki latar belakang keluarga petani.

Harmanto, Direktur PEPI menyatakan bahwa tahun ini lebih banyak kuota mahasiswa berasal dari anak petani/penyuluh dan jalur prestasi. Sehingga dibutuhkan sosialisasi kepada semua Dinas Pertanian kabuapaten/kota agar ikut berpartisipasi dalam merekomendasikan anak petani dan penyuluh yang berada di wilayahnya untuk melanjutkan studi di PEPI

melalui sosialisasi ini, PEPI berkomitmen untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul di bidang pertanian guna mendukung ketahanan pangan nasional. Diharapkan semakin banyak generasi muda yang tertarik dan berkontribusi dalam pengembangan sektor pertanian di Indonesia.(*)

Alumni Politeknik Enjiniring Kementan Lulus Bakomsus Pertanian dan Aktif Kembangkan Pertanian Modern

TANIINDONESIA.COM, Tangerang – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh alumni Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI). Sidik, salah satu lulusan PEPI, berhasil lulus seleksi Bintara Kompetensi Khusus (Bakomsus) bidang pertanian, yaitu jalur rekrutmen yang menitikberatkan pada kompetensi profesional dan keahlian teknis dalam mendukung pembangunan nasional, khususnya di sektor pertanian.

Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa lulusan pendidikan vokasi pertanian memiliki kapasitas, daya saing, serta kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pembangunan saat ini. Ilmu terapan, keterampilan teknis, dan pengalaman praktik yang diperoleh selama menempuh pendidikan di PEPI menjadi bekal kuat dalam menghadapi seleksi yang kompetitif.

Saat ini, Sidik bertugas di satuan kerja Binmas sebagai Bhabinkamtibmas Kelurahan Batu Kuning. Dalam perannya tersebut, ia melaksanakan pembinaan keamanan dan ketertiban masyarakat, melakukan deteksi dini terhadap potensi gangguan kamtibmas, serta menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat melalui pendekatan problem solving yang humanis.

Tidak hanya menjalankan tugas pembinaan keamanan, Sidik juga aktif mengimplementasikan ilmu pertanian yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di kampus. Di wilayah Kelurahan Batu Kuning, ia turut memberikan penyuluhan pertanian serta membina para petani untuk mendorong penerapan pertanian modern berbasis teknologi dan efisiensi. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional yang menjadi prioritas Presiden Republik Indonesia.

Pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menekankan pada peningkatan kesadaran petani terhadap pentingnya transformasi menuju sistem pertanian yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan.
Langkah tersebut sejalan dengan arahan Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian Republik Indonesia, yang menekankan pentingnya percepatan modernisasi pertanian melalui peningkatan produktivitas, pemanfaatan teknologi, serta penguatan sumber daya manusia pertanian. Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian menyampaikan bahwa generasi muda pertanian dan lulusan pendidikan vokasi harus menjadi motor penggerak transformasi pertanian nasional guna mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan.

Baca Juga: Lewat MAF, Politeknik Enjiniring Kementan Gaungkan Strategi Adaptasi Iklim untuk Swasembada Pangan

Sejalan dengan hal tersebut, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) di bawah kepemimpinan Idha Widi Arsanti terus mendorong penguatan kompetensi penyuluh dan praktisi pertanian agar mampu mengawal penerapan inovasi di tingkat lapangan. Peran alumni seperti Sidik dinilai strategis dalam menjembatani kebijakan pemerintah dengan implementasi nyata di masyarakat.

Sebagai alumni PEPI, Sidik membuktikan bahwa ilmu yang diperoleh di bangku kuliah tidak berhenti pada tataran teori, melainkan diwujudkan dalam aksi nyata melalui pendampingan masyarakat binaan. Ia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengembangan pertanian modern sebagai bagian dari upaya bersama membangun pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan berdaya saing.

Direktur PEPI, Harmanto, menegaskan bahwa pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia pertanian yang siap kerja, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menjawab tantangan pembangunan nasional.

“Lulusan PEPI harus menjadi agen perubahan di sektor pertanian. Kami mendorong seluruh alumni untuk terus mengimplementasikan ilmu dan keterampilan yang diperoleh di kampus dalam bentuk aksi nyata di lapangan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan alumni yang berkontribusi di berbagai sektor, termasuk melalui jalur Bakomsus, menjadi motivasi bagi civitas akademika PEPI untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, serta mendukung percepatan transformasi pertanian menuju sistem yang modern, mandiri, dan berdaya saing.(*)

Tingkatkan Mutu Pendidikan Vokasi, Polbangtan Kementan Lakukan Reakreditasi

TANIINDONESIA.COM, Yogyakarta - Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta – Magelang sebagai salah satu perguruan tinggi vokasi Kementerian Pertanian (Kementan) melaksanakan Sosialisasi Penyusunan Dokumen Re-Akreditasi Perguruan Tinggi, Jumat (13/2/2026).

Tahapan ini dilakukan untuk memastikan dokumen persyaratan akreditasi dapat dipenuhi oleh Polbangtan Yoma. Dokumen inilah yang nantinya akan diunggah dalam aplikasi SAPTO 2.0 Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Sedangkan akreditasi sendiri memiliki fungsi esensial dalam menjamin dan meningkatkan mutu Polbangtan Yoma secara berkelanjutan. Selaras dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, dan kebijakan nasional.

Hal ini sesuai komitmen Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk meningkatkan pendidikan berkualitas dengan fokus pada keahlian praktis, karakter, dan teknologi.

Ia mendorong pendirian sekolah unggulan, peningkatan kompetensi mahasiswa melalui magang luar negeri, dan integrasi teknologi di pendidikan pertanian, terutama untuk mencetak generasi muda yang mandiri di sektor pertanian.

Baca Juga: Bukti Sukses Bisnis Pertanian, Petani Sukoharjo Berhasil Raup Untung

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa sektor pendidikan memiliki peran besar dalam meningkatkan kapasitas generasi muda pertanian.

“SDM memegang peranan penting dalam sektor pertanian karena menjadi faktor utama dalam peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan di Indonesia,” katanya.

Senada, Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan menekankan pentingnya penjaminan mutu dalam suatu lembaga.

"Salah satu indikator mutu lembaga dapat dilihat melalui akreditasi institusi tersebut. Maka benar – benar harus dikawal dalam proses penyiapan dan unggah dokumen melalui sistem aplikasi akreditasi SAPTO 2.0 sehingga dapat dicapai mutu yang sesuai standar yang berlaku." katanya.

Untuk itu, Ia berkomitmen memenuhi standar untuk memastikan kualitas terbaik Polbangtan Yoma.

Lebih lanjut, Kepala Unit Penjaminan Mutu Polbangtan Yoma, Bambang Sudarmanto, mengajak seluruh tim reakreditasi untuk menyiapkan dokumen – dokumen sesuai Permendiktisaintek Nomor 39 Tahun 2025.(*)

Optimalisasi Rawa, Politeknik Enjiniring Kementan Gelar Kuliah Umum dukung program swasembada Pangan

TANIINDONESIA.COM, Tangerang— Generasi muda merupakan penerus pembangunan pertanian. Karena itu, Kementerian Pertanian mengajak generasi muda untuk melakukan transformasi pertanian dari yang dulu tradisional menjadi modern. Kementerian Pertanian terus mendorong kesiapan generasi muda mewujudkan swasembada pangan. Salah satunya dilakukan politeknik enjiniring pertanian indonesia dengan menggelar Kuliah Umum dengan tema optimalisasi rawa dan alsintan bertempat di auditorium pada kamis (12/02/2026)

Kuliah umum tersebut diikuti oleh mahasiswa, dosen, serta civitas akademika PEPI yang antusias menyimak pemaparan materi dari narasumber yang ahli di bidang pengelolaan lahan rawa dan alat mesin pertanian (alsintan).

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan selalu mengatakan terkait pengembangan lahan rawa dan penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) dan menegaskan bahwa lahan rawa memiliki potensi besar dalam meningkatkan produksi pangan nasional bila dikembangkan secara konsisten dan terencana.

Selain itu, Amran mengingatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dalam mendorong inovasi pertanian yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa penggunaan mekanisasi pertanian tidak hanya mempercepat proses produksi, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan kesejahteraan petani.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti dalam arahannya menekankan bahwa keberhasilan optimalisasi lahan rawa dan pemanfaatan alsintan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia pertanian. Ia menyampaikan bahwa perguruan tinggi vokasi seperti Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda pertanian yang adaptif, inovatif, dan mampu mengoperasikan serta mengembangkan teknologi mekanisasi pertanian.

Baca juga: Siapkan Lulusan Vokasi Unggul, Politeknik Enjiniring Kementan Gelar Perencanaan Pembelajaran

Lebih lanjut, ia mengajak mahasiswa untuk menjadi agen perubahan di sektor pertanian dengan mengedepankan pendekatan berbasis teknologi, kewirausahaan, dan keberlanjutan lingkungan. Penguatan kompetensi teknis, manajerial, serta kemampuan pendampingan kepada petani menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi pertanian menuju sistem yang modern dan berdaya saing.
Direktur PEPI, Harmanto juga menyampaikan bahwa lahan rawa memiliki potensi strategis untuk meningkatkan produksi pangan apabila dikelola secara tepat dan berkelanjutan. Pengelolaan tata air yang baik, perbaikan kualitas tanah, serta penerapan teknologi budidaya yang sesuai dengan karakteristik lahan rawa menjadi kunci keberhasilan optimalisasi lahan tersebut.

Menurut Harmanto, pemanfaatan lahan rawa dengan dukungan teknologi, perbaikan tata air, serta mekanisasi pertanian agar produktivitas dapat meningkat secara signifikan. Ia juga menekankan bahwa upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintahan untuk mewujudkan ketahanan pangan melalui optimalisasi sumber daya domestik dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pertanian.

Trip Alihamsyah sebagai narasumber dalam materinya menyampaikan pemanfaatan alsintan modern dinilai sangat penting dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian. Penggunaan alat mesin pertanian mampu mempercepat proses olah tanah, penanaman, hingga panen, serta menekan biaya produksi dan meminimalkan kehilangan hasil. Integrasi antara pengelolaan lahan rawa dan mekanisasi pertanian diharapkan dapat menjadi solusi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan keterbatasan tenaga kerja di sektor pertanian.

Harsono sebagai Narasumber kedua mengawali kegiatan kuliah umum ini juga diwarnai dengan sesi diskusi interaktif yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menggali lebih dalam terkait implementasi teknologi di lapangan serta peluang pengembangan lahan rawa sebagai sentra produksi pangan baru.

Melalui penyelenggaraan kuliah umum ini, Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia berharap dapat mendorong lahirnya inovasi dan sumber daya manusia yang kompeten di bidang enjiniring pertanian, guna mewujudkan sistem produksi pangan yang tangguh dan berkelanjutan.(*)

Siapkan Lulusan Vokasi Unggul, Politeknik Enjiniring Kementan Gelar Perencanaan Pembelajaran

TANIINDONESIA.COM, Tangerang – Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) menyelenggarakan Kegiatan Perencanaan Pembelajaran Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada hari pertama, Senin, 3 Februari 2026, bertempat di Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Perkebunan (BRMP Perkebunan).

Kegiatan ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut atas arahan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, yang menekankan pentingnya penguatan pendidikan vokasi pertanian dalam mencetak sumber daya manusia pertanian yang unggul, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu menjawab tantangan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

Pelaksanaan kegiatan ini juga senada dengan arahan Idha Widi Arsanti, yang menegaskan perlunya perencanaan pembelajaran yang terintegrasi, aplikatif, dan berbasis pada kebutuhan nyata sektor pertanian. Perencanaan pembelajaran diharapkan mampu menjawab tantangan pertanian modern melalui penguatan kompetensi teknis, pemanfaatan teknologi pertanian, serta pendekatan pembelajaran berbasis praktik dan lapangan.

Direktur PEPI, Harmanto mengatakan pada semester ganjil sebelumnya, PEPI telah melakukan standardisasi capaian pembelajaran lulusan dan capaian pembelajaran mata kuliah dengan instrumen yang lebih operasional sebagai upaya peningkatan kualitas lulusan. Saat ini, dokumen akreditasi dua program studi juga telah disiapkan untuk pengajuan pada bulan Mei, dengan target memperoleh peringkat unggul.

Baca juga: Teknologi Cerdas untuk Pertanian Berkelanjutan: Politeknik Enjiniring Kementan Gelar Pameran Inovasi

Kegiatan perencanaan pembelajaran semester genap ini merupakan bagian dari agenda akademik PEPI dalam rangka mempersiapkan dan menyusun perencanaan pembelajaran secara komprehensif, sistematis, dan selaras dengan capaian pembelajaran lulusan. Perencanaan tersebut mencakup penyusunan perangkat pembelajaran, metode pengajaran, serta strategi evaluasi yang akan diterapkan pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Wakil Direktur I, Andi Saryoko dalam kesempatan tersebut menegaskan komitmen untuk terus menjaga dan meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan vokasi pertanian. Menurutnya, perencanaan pembelajaran yang matang merupakan fondasi utama dalam memastikan proses pembelajaran berjalan secara efektif, terukur, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta perkembangan teknologi pertanian.

Lebih lanjut, Evaluasi keberhasilan pembelajaran mencakup indikator pada tingkat institusi dan program studi. Pada tingkat institusi, indikator meliputi jumlah lulusan, tingkat serapan kerja minimal delapan puluh persen dalam waktu enam bulan, serta kontribusi lulusan. Sementara pada tingkat program studi, evaluasi difokuskan pada relevansi kompetensi dan kontribusi lulusan di sektor kerja.

Melalui kegiatan ini PEPI berupaya memperkuat sinergi antara dunia pendidikan vokasi dan sektor pertanian, sehingga lulusan yang dihasilkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan praktis dan kesiapan kerja yang tinggi. Diharapkan, hasil dari kegiatan Perencanaan Pembelajaran Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 ini dapat menjadi landasan yang kuat dalam pelaksanaan kegiatan akademik ke depan, serta mendukung terwujudnya lulusan vokasi pertanian yang kompeten, profesional, dan berdaya saing dalam mendukung pembangunan pertanian nasional.(*)

Teknologi Cerdas untuk Pertanian Berkelanjutan: Politeknik Enjiniring Kementan Gelar Pameran Inovasi

TANIINDONESIA.COM, Tangerang - Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) melalui Program Studi Teknologi Alat dan Mesin Pertanian (TAP) selenggarakan Pameran Inovasi Pertanian Prodi TAP Batch V sebagai wadah diseminasi hasil karya dan inovasi mahasiswa dalam mendukung transformasi pertanian modern. Pameran yang mengusung tema “Transformasi Pertanian melalui IoT dan Energi Terbarukan” ini akan dilaksanakan pada Jumat, 30 Januari 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di Depan Rektorat PEPI.

Kegiatan ini menampilkan berbagai inovasi teknologi pertanian yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, serta keberlanjutan sektor pertanian. Sejumlah karya unggulan mahasiswa yang dipamerkan antara lain irigasi tetes otomatis berbasis IoT, sistem shading net otomatis pada mini greenhouse, pompa dan instalasi hidroponik tenaga surya, hingga Agrospray IoT, yaitu alat penyemprot tanaman yang dapat dikendalikan melalui smartphone.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Mentan Amran) menegaskan, regenerasi petani merupakan sebuah keharusan. Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk terus membina, memfasilitasi, sekaligus membuka ruang inovasi bagi petani muda. Menurutnya, saat ini sudah ada sekitar 300 ribu petani muda di Indonesia yang mulai menunjukkan peran signifikan.

“Petani milenial, pemuda-pemuda, ini membanggakan. Sekarang jumlahnya sudah ada 300 ribu. Yang menarik, ada omzet yang sampai Rp10 miliar per tahun. Ada juga yang Rp5 miliar per tahun. Ini harus kita kawal, kita bina, karena mereka inilah yang menggerakkan ekonomi kerakyatan di daerah,” tegas Mentan Amran.

Senada dengan arahan Kepala BPPSDMP, idha widi Arsanti yang selalu mengarahkan agar lembaga pendidikan vokasi pertanian, terus mendorong pembelajaran berbasis praktik, inovasi, dan kebutuhan lapangan, sehingga lulusan tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi pertanian terkini.

Pemanfaatan teknologi digital, mekanisasi pertanian, serta energi terbarukan dipandang sebagai instrumen penting dalam meningkatkan efisiensi usaha tani dan menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

Baca juga: Atasi Banjir, Politeknik Enjiniring Kementan tampilkan Inovasi Pompa Aksial

Lebih lanjut, Harmnato, Direktur PEPI juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan yang mampu mentransformasikan hasil pembelajaran dan inovasi menjadi solusi nyata bagi petani dan pelaku usaha pertanian, sekaligus mendukung program pembangunan pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional.

Ia menambahkan, bonus demografi yang dimiliki Indonesia adalah peluang emas untuk mempercepat transformasi pertanian. Dengan inovasi dan digitalisasi, generasi muda dapat menjadi motor penggerak lahirnya pertanian maju, berkelanjutan, sekaligus bernilai ekonomi tinggi.

Selain itu, pengunjung juga dapat melihat secara langsung inovasi lain seperti hidroponik rakit apung, pintu air otomatis, aeroponik pengembunan (misting) berbasis timer, perancangan ombrometer otomatis, serta pengembangan apparatus pengujian pompa pendorong (booster pump) dengan rangkaian seri dan paralel. Tak kalah menarik, turut dipamerkan pompa aksial berbasis tenaga surya, simulasi penyiraman otomatis, dan perancangan hidroponik vertikal.

Melalui pameran ini, Ketua Program Studi, Anasiru juga menyampaikan besar harapannya PEPI dapat memperkenalkan solusi pertanian yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan, sekaligus menunjukkan peran mahasiswa sebagai agen inovasi dalam menjawab tantangan pertanian masa depan melalui pemanfaatan teknologi terkini.

Kegiatan ini terbuka bagi sivitas akademika, mitra, serta masyarakat umum yang ingin mengenal lebih dekat perkembangan teknologi dan inovasi di bidang pertanian.(*)

Atasi Banjir, Politeknik Enjiniring Kementan tampilkan Inovasi Pompa Aksial

TANIINDONESIA.COM, Tangerang - Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) menjalin kerja sama dengan Bumi Serpong Damai (BSD) dalam kegiatan normalisasi drainase sebagai upaya mendukung pengendalian banjir dan pengelolaan lingkungan kawasan. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Kamis–Jumat (29-30 Januari 2026) ini menempatkan peran mahasiswa PEPI sebagai sorotan utama melalui pengenalan berbagai inovasi antisipasi banjir yang berkelanjutan.

Kegiatan ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman yang menekankan pentingnya peran aktif institusi pendidikan dan mahasiswa dalam menghadirkan solusi nyata atas persoalan di lapangan melalui inovasi yang aplikatif, cepat, dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa menjadi garda terdepan dengan mengenalkan berbagai inovasi antisipasi banjir. Mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan pemotongan dan penataan pohon yang menghambat aliran air pada saluran drainase, sekaligus melakukan pengamatan dan evaluasi kondisi tata air kawasan.

Selain itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti kembali menegaskan bahwa mahasiswa vokasi pertanian harus didorong untuk terlibat langsung di lapangan, mengasah kompetensi melalui praktik nyata, serta menghadirkan inovasi yang menjawab kebutuhan dan permasalahan riil di masyarakat.

Mahasiswa tidak hanya terlibat dalam kegiatan teknis di lapangan, seperti pemotongan dan penataan pohon yang menghambat aliran air pada saluran drainase, tetapi juga memperkenalkan inovasi berbasis keilmuan yang telah mereka kembangkan di lingkungan kampus. Inovasi tersebut difokuskan pada peningkatan fungsi drainase, efisiensi aliran air, serta upaya pencegahan genangan di kawasan rawan banjir.

Baca juga: Dukung Swasembada Pangan, Politeknik Enjiniring Kementan jaring SDM unggul

Direktur PEPI, Harmanto juga mengatakan bahwa beberapa inovasi yang diperkenalkan mahasiswa antara lain konsep normalisasi drainase ramah lingkungan, penerapan sistem pengendalian aliran air sederhana, serta pendekatan integrasi tata air dengan pengelolaan lahan dan vegetasi. Inovasi ini dirancang agar mudah diterapkan, adaptif terhadap kondisi lapangan, dan mendukung keberlanjutan lingkungan.

Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini menjadi bentuk pembelajaran langsung yang menghubungkan teori dan praktik. Melalui kolaborasi dengan BSD, mahasiswa PEPI mendapatkan kesempatan untuk menguji gagasan dan inovasi mereka secara nyata, sekaligus memberikan solusi konkret terhadap permasalahan lingkungan yang dihadapi Kawasan, tambah Harmanto.

Harmanto juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen institusi dalam mendorong mahasiswa agar aktif berinovasi dan berkontribusi bagi masyarakat. “Mahasiswa tidak hanya belajar, tetapi juga hadir membawa solusi. Inovasi yang diperkenalkan menjadi bukti peran PEPI dalam mencetak sumber daya manusia yang adaptif dan solutif terhadap tantangan lingkungan.

Melalui kerja sama ini, PEPI berharap inovasi mahasiswa dapat terus dikembangkan dan diimplementasikan secara lebih luas, sekaligus memperkuat peran pendidikan vokasi dalam mendukung mitigasi banjir dan pembangunan berkelanjutan.(*)