21 April 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

Generasi Alpha Purwakarta Dalami Pertanian di BBPP Lembang

TANIINDONESIA.COM//Lembang – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) terus berkomitmen dalam mencetak generasi penerus pertanian. Melalui Pelatihan dan Pendidikan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dinaunginya, semua kalangan dapat mempelajari ilmu-ilmu pertanian dan mendalaminya. Salah satu UPT tersebut adalah Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang yang terletak di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Para peserta didik dari SMKN 1 Bojong, Purwakarta, mengunjungi BBPP Lembang dalam rangka study tour. Sejumlah 70 orang peserta didik dan guru pendamping berkumpul di Aula Catur Gatra dan disambut oleh Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika sebelum dilepas untuk berkeliling dan belajar pertanian di Inkubator Agribisnis.

Para peserta didik tergabung di bawah jurusan Usaha Pertanian Terpadu sehingga kunjungan bersifat kunjungan industri untuk melihat cara BBPP Lembang mengelola screen house dan lahan terbuka serta pembuatan pupuk kompos di Rumah Kompos.

Peserta didik SMKN 1 Bojong Purwakarta selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok dan mulai berkeliling. Para murid menjelajahi fasilitas pelatihan di BBPP Lembang diantaranya pada screen house tanaman hias. Tanaman hias yang dapat dipelajari di dalam screen house ini diantaranya adalah kaktus dan sukulen. Para murid kemudian mulai bertanya mengenai proses perbanyakan kaktus melalui metode okulasi atau penyambungan kaktus. Didampingi petugas lapang, para murid terlihat antusias bertanya mengenai kaktus mulai dari pembudidayaan hingga bisnis tanaman hias yang kian menguntungkan.

   Baca juga: Olah Sampah Jadi Bisnis, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara Kompetisi Kewirausahaan

Sementara grup pertama mendatangi screen house tanaman hias dan Rumah Pangan Lestari, grup kedua mendapatkan materi mengenai pembuatan pupuk kompos di Rumah Kompos. Rumah Kompos BBPP Lembang memiliki beberapa ekor sapi yang dipelihara dengan baik untuk diambil kotorannya. Selanjutnya kotoran sapi tersebut diolah menjadi berbagai jenis pupuk kompos termasuk Kommix Hayati. Selain menjadi pupuk kompos, gas metana yang dihasilkan oleh kotoran sapi juga ditampung di dalam reaktor gas metana yang dapat menjadi sumber energi.

Fasilitas terakhir yang dipelajari oleh para peserta didik adalah instalasi aeroponik kentang. Kentang aeroponik ditanam di dalam kotak fiber dengan pengairan dari embun air. Hasil yang diberikan oleh metode ini adalah kentang generasi nol yang kemudian dibibitkan lagi. Untuk membudidayakan kentang dengan metode ini dibutuhkan planlet yang dihasilkan dengan metode kultur jaringan. Para murid terlihat antusias juga di sini karena kesempatan dalam pasar kentang generasi nol masih terbuka.

Mengakhiri kunjungan, Angga Maulana selaku Kepala Prodi Usaha Pertanian Terpadu SMKN 1 Bojong Purwakarta menghaturkan terima kasihnya. Angga yang pernah menjalani pelatihan di BBPP Lembang juga meninggalkan kesan-kesannya. “Semoga para murid dapat menerapkan ilmu yang dipelajari di BBPP Lembang di kemudian hari,” paparnya ketika dimintai keterangan.

Kementerian Pertanian berkomitmen untuk mencetak generasi petani selanjutnya. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan bahwa pengembangan teknologi pertanian dapat menarik minat generasi muda.

Pernyataan ini didukung oleh Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi. “yang menjamin pembangunan Indonesia kedepan adalah petani muda, para pelaku agribisnis yang digabungkan menjadi petani milenial yang beragribisnis. Salah satu caranya adalah dengan pemanfaatan smart farming yang mempermudah dalam Bertani,” tegas Dedi.

Sementara itu, Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika menaruh harapan besar bagi generasi petani selanjutnya. Dalam sambutannya Ajat menekankan bahwa pembangunan pertanian harus diisi oleh aktor-aktor atau pelaku utama yang berkualitas unggul. “Insan pertanian generasi muda harus lebih baik daripada generasi pendahulunya,” Ajat menekankan. (YKO/AFR)

Olah Sampah Jadi Bisnis, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara Kompetisi Kewirausahaan

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang yang tergabung dalam Tim Great and Green berhasil menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Student Enterpreneurship (SEC) 2024 Rumah BUMN Gunung Kidul dan Ozorta Campaign yang diselenggarakan oleh Sayur Sleman.

Tim yang terdiri dari enam mahasiswa, yaitu Dicky Mustofa, Ahmad Ma’ruf, Adiyansa Nur Fadhilah, Agus Wiji Prasojo, Ahmad Fahrizki Gustaman, dan Putra Arafah Subani, berhasil menyabet Juara 2 SEC 2024 dan Peserta Terbaik Ozorta Campaign.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan ilmu pengetahuan dan inovasi dibutuhkan dalam mendukung bidang pertanian.

"Ilmu pengetahuan terus berkembang, termasuk juga pada sektor pertanian. Jika tidak ingin tertinggal, kita harus menemukan inovasi-inovasi baru yang dapat mendukung peningkatan produksi pertanian," tuturnya.

Oleh sebab itu, Dedi mengajak para insan pertanian untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kemampuan.

SEC sendiri merupakan kompetisi kewirausahaan yang ditujukkan untuk membangun rasa percaya diri bagi para pengusaha dan calon pengusaha untuk menciptakan suatu produk yang kreatif dan inovatif yang diiringi dengan kecanggihan teknologi di era serba digital ini.

Baca juga: Perluas Wawasan, Petani Muda Belajar Konsep Low Cost Smart Farming di Polbangtan Kementan

Tema utama SEC tahun 2024 ini adalah mengenai sustainability. Lomba berfokus pada ide bisnis yang berkontribusi pada keberlanjutan (sustainability) dalam aspek lingkungan.

Sehingga, seluruh ide bisnis dan video yang dikumpulkan harus menekankan bagaimana produk atau jasa akan memiliki efek pada kelestarian lingkungan di sekitar mereka dan kompetisi ini terbuka untuk mahasiswa aktif yang berada di jenjang Diploma-Sarjana dan siswa SMA /SMK sederajat se-DI Yogyakarta.

Untuk mencapai prestasi ini, Tim Great and Green harus melalui beberapa tahapan seleksi.

“Ajang SEC dimulai dari pengiriman proposal ide, kemudian pengumpulan video ide bisnis dan inkubasi. Selanjutnya bagi peserta terpilih, diseleksi lagi dengan presentasi final yang kemudian dipilih menjadi juara," terang Dicky Mustofa.

"Sedangkan pada even Instagram reel competition yang diselenggarakan Sayur Sleman, yang dinilaikan adalah unggahan reels instagram,” sambungnya.

Mengangkat tema aksi pengolahan sampah organik rumah tangga, Great and Green bersama dengan warga sekitar Ruang Terbuka Hijau Publik (RTPH) Warungboto memiliki program unggulan yaitu pemanfaatan limbah rumah tangga organik untuk pupuk dan budidaya maggot.

“Kami memiliki dua program unggulan yaitu Pengelolaan sampah organik melalui pemanfaatan limbah rumahtangga dan Budidaya maggot bersama dengan warga sekitar RTPH. Jika dikelola dengan baik, sebenarnya sampah rumahtangga memiliki potensi ekonomi yang tinggi,” ujar Dicky Mustofa.

Siti Nurlaela, selaku Dosen Pembimbing, berharap ajang ini menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa untuk berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Capaian ini tentunya sangat membanggakan sekaligus sebagai pemantik untuk mereka agar lebih semangat mengembangkan komunitas bisnis bersama masyarakat,” harap Laela.(***)

Perluas Wawasan, Petani Muda Belajar Konsep Low Cost Smart Farming di Polbangtan Kementan

PETANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Sektor pertanian akan menjadi masa depan dunia, yang sudah seharusnya menjadi peluang bisnis generasi muda. Kementerian Pertanian konsisten mendukung dan menfasilitasi para agropreneur muda untuk bergerak diberbagai bidang pertanian dari hulu hingga ke hilir.

Kementerian Pertanian mengajak puluhan Petani Muda dan Pemerintah Daerah penerima dan calon penerima Program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) dari seluruh Indonesia untuk mempelajari konsep Low Cost Smart Farming di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan studi banding dalam rangka membuka wawasan dan mengembangkan Program YESS yang dilaksanakan 31 Januari hingga 3 Februari 2024.

Peserta yang terdiri dari 100 orang tersebut diperkenalkan dengan konsep smart farming yang diterapkan di Polbangtan Yogyakarta Magelang.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman berharap konsep Low Cost Smart Farming bisa dipahami dengan baik oleh seluruh peserta. Serta, bisa diterapkan dalam lahan masing-masing.

Pernyataan tidak jauh berbeda disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

"Masa depan pertanian tanah air berada di tangan BBM petani muda. Oleh sebab itu, kita mengajak para petani untuk terus menambah pengetahuan dan kemampuan serta memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka," tuturnya.

Kepala Teaching Factory (TEFA) Polbangtan Yogyakarta Magelang, Geraldo A. Rimartin, yang menyambut peserta studi banding, menjelaskan bahwa konsep Low Cost Smart Farming yang diterapkan di Polbangtan Yogyakarta Magelang khususnya fokus pada smart irrigation.

Baca juga: Inspiratif, P4S Sarongge Olah Sampah Jadi Berkah

“TEFA kami tersebar di beberapa wilayah, salah satunya di Celeban ini. Karena letak Celeban yang di tengah kota, salah satu masalah yang kami hadapi adalah masalah irigasi. Ini yang melatarbelakangi kami menerapkan smart irrigation untuk efisiensi penggunaan air,” terangnya.

Menurutnya, cara kerja Smart Irrigation ini memanfaatkan Internet of Things untuk menjalankannya. Hal ini berdampak efisiensi sumber daya seperti penghematan tenaga kerja, air, dan pupuk.

“Smart irrigation cukup dikendalikan dengan menggunakan handphone dan bisa diatur dari mana saja yang terpenting aplikasi terkoneksi dengan internet. Selain hemat tenaga kerja, penggunaan smart irrigation ini juga menjadikan penggunaan air dan pupuk lebih efisien karena benar-benar terukur dan terporgram langsung ke sasaran,” jelas Geraldo.

Para peserta studi banding turut diperlihatkan panel smart irrigation dan mencoba menjalankan aplikasinya langsung bersama dengan petugas TEFA yang mendampingi.

“Selain mengontrol volume air dan pupuk, serta waktu penyiraman, melalui aplikasi juga dapat dilihat suhu udara, suhu tanah, kelembaban udara, dan kelembaban tanah,” lanjut Geraldo.

Investasi perangkat smart irrigation ini diakui Geraldo juga cukup terjangkau. Untuk green house ukuran 8 kali 16 meter dengan populasi 99 tanaman membutuhkan investasi awal sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta.

“Yang diperlukan yaitu panel atau mesin smart farming, selang PE, mesin pompa atau tandon, valve, dan instalasi tambahan lainnya,” jelasnya.

Ucu, salah satu petani muda asal Sukabumi yang mengikuti studi banding, mengaku terkesan dan mendapat wawasan baru dari kunjungannya kali ini.

“Ternyata penerapan smart farming ini bisa juga dilakukan dengan harga terjangkau dan sederhana. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar dan menerapkannya,” ujar Ucu.

Panitia kegiatan berharap, sepulangnya peserta dari kegiatan studi banding ini dapat membawa ilmu baru dan menerapkannya di daerahnya masing-masing.(***)

Inspiratif, P4S Sarongge Olah Sampah Jadi Berkah

TANIINDONESIA.COM//CIREBON - Pertanian memiliki banyak sektor yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang. Hal ini dibuktikan P4S Sarongge yang berada Desa Ciawigajah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cirebon.

Lembaga yang meraih Sertifikasi Klasifikasi P4S sebagai P4S Kelas Pratama ini sukses mengolah sampah menjadi berkah.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pertanian adalah sektor yang sangat menjanjikan jika ditekuni dengan serius.

Mentan Amran menambahkan, baik dari hulu sampai hilir, pertanian menyajikan banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Oleh sebab itu, ia berharap anak-anak juga terjun memanfaatkan peluang tersebut.

P4S merupakan salah satu lembaga masyarakat yang dimiliki dan dikelola petani langsung baik secara perorangan maupun kelompok dalam meningkatkan peran aktif pembangunan pertanian melalui pengembangan sumber daya manusia pertanian seperti pelatihan, penyuluhan, dan pendidikan.

Keberadaan P4S dalam suatu wilayah pertanian sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia petani ke depannya. Sehingga peran serta kelembagaan pertanian ini sangat dirasa positif oleh masyarakat khususnya petani.

Peran P4S sangat strategis dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia petani dalam mewujudkan kader-kader petani yang dapat bersaing di masa depan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyebut P4S Sarongge sebagai contoh pengolahan sampah rumah tangga, secara profesional sehingga menghasilkan.

Baca juga: Bangun Ekosistem Kewirausahaan Pertanian, Kementan Ajak Petani Muda dan Pemda Belajar ke Pacitan

Dalam satu bulan, dari satu desa ciawigajah limbah sampah yang dihasilkan 400 ton, dari sampah tersebut komposisi nya 40% dan 60% organik.

"Saya melihat proses mesinnya yang semua produksi dalam negeri, yang sampah organik setelah dikeringkan dan diproses fermentasi kemudian dicampur dengan pupuk kandang menghasilkan pupuk kompos/organik. Pupuk yang dihasilkan dapat meningkatkan produksi mulai dari 40-90%," kata Dedi.

40% sampah non organik 5% sampah kaleng, 15% botol minuman mineral dan 20% plastik diproses, dengan mesin pencacah.

"Ada yang dipadatkan dan menjadi sumber energi ada juga yang didaur ulang sehingga dapat dimanfaatkan. Apa yang dilakukan P4S ini sangat bermanfaat karena selain menghasilkan juga ramah lingkungan," ujar Dedi lagi.

"Saya berharap apa yang dilakukan P4S Sarongge ini dapat menjadi contoh dan ditiru oleh P4S lain dan proses pemanfaatan sampah terus berjalan," imbuhnya.

P4S Sarongge sendiri bergerak dalam ketahanan pangan khususnya dalam produksi pupuk organik yang berasal dari limbah/sampah rumah tangga warga desa sekitar.

Selain pengolahan sampah, P4S Sarongge mengelola lokasi Agrowisata seluas 5 HA dengan komoditas tanaman pangan, hortikultura dan peternakan.

Hal ini dijelaskan Nunung Nurhadi, Pembina P4S Sarongge, Desa Ciawigajah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cirebon.

"Lembaga kami bergerak dalam ketahanan pangan khususnya dalam produksi pupuk organik yang berasal dari limbah/sampah rumah tangga warga desa sekitar. Istilahnya kami mengolah sampah, menjadi berkah karena menghasilkan," katanya.

Ia menambahkan, di sini sudah ada mesin pengolahan sampah, yang proses awal mulai dari memisahkan sampah organik dan non organik.

"Dimana untuk non organik seperti botol air kemasan dan kaleng, dimasukan mesin pencacah dan hasilnya sudah ada yang menampung dari pihak ketiga. Untuk sampah organik, diolah menjadi pupuk kompos/organik," jelasnya.(***)

Bangun Ekosistem Kewirausahaan Pertanian, Kementan Ajak Petani Muda dan Pemda Belajar ke Pacitan

TANIINDONESIA.COM//PACITAN - Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produktifitas usaha tani, salah satu program kementan adalah mencetak banyak petani muda. Kementan berkeyakinan masih banyak anak muda yang mau terjun dibidang pertanian agar mempunyai kehidupan dan ekonomi yang lebih baik.

Untuk itu Kementan menerjunkan program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) dan dirancang untuk menghasilkan wirausahawan muda pedesaan serta menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dibidang pertanian

Dalam rangka membuka wawasan dan mengembangkan program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) , Kementerian Pertanian mengajak puluhan Petani Muda dan Pemerintah Daerah dari berbagai wilayah untuk melakukan studi banding pelaksanaan program YESS ke Pacitan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, kemajuan pertanian disuatu daerah sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah daerah.

Oleh sebab itu, Mentan berharap pemerintah daerah memiliki komitmen yang sama untuk memajukan pertanian di wilayah masing-masing.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menegaskan jika masa depan pertanian berada di pundak generasi muda saat ini.

"Kementerian Pertanian selalu mengimbau para SDM pertanian, khususnya petani muda, untuk terus menambah pengetahuan dan kemampuan. Salah satunya melalui program YESS," tutur Dedi.

Sementara Project Manager National Program Management Unit (NPMU) YESS program, Inneke Kusumawati, menjelaskan, Pacitan dipilih sebagai wilayah studi banding karena dinilai menjadi salah satu wilayah pelaksana program YESS yang berhasil

"Pacitan merupakan salah satu wilayah existing program YESS yang saat evaluasi dinilai menjadi wilayah yang berhasil, karena mampu menumbuh kembangkan koperasi petani milenial," ujarnya.

Dalam pelaksanaan programnya, Inneke juga memuji bagaimana sinergi multistakeholder yang terbentuk di dalamnya. Sehingga memberikan kepercayaan kepada para anak muda untuk mereka berkelompok dan melembaga hingga terbentuk iklim kewirausahaan.

Baca juga: Lakukan Audiensi dengan Bupati Sleman, Kementan dan IFAD Masifkan Regenerasi Petani

"Kita bisa melihat bagaimana kerjasama apik yang terbangun antara Kementerian Pertanian, dan jajaran Pemerintah daerah Kabupaten Pacitan seperti Bappeda, Dinas terkait, hingga para petani milenial. Ini yang kami harapkan dapat diadopsi oleh wilayah YESS dan calon wilayah YESS-Scalling Up Intervention (SI) lainnya," tegasnya.

Ia menambahkan, sinergi multistakeholder ini penting dibangun, karena setelah intervensi program YESS ini selesai diharapkan dampaknya masih terus dapat dirasakan dan bahkan berkembang menjadi lebih baik.

"Di penghujung Juni 2025, kita akan closing Program, dan kami tidak ingin ini (Program YESS) menjadi proyek mangkrak, sehingga komitmen pemerintah daerah memang sangat diperlukan untuk mendorong tumbuhnya lembaga yang menaungi para penerima manfaat agar tidak tercerai berai dan dikuatkan dengan legalitas seperti Peraturan Gubernur atau SK Gubernur," kata Inneke.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan, Heru Wiwoho, yang mewakili Bupati untuk menerima kunjungan studi banding, mengakui jika Program YESS merupakan program strategis yang dapat menekan angka pengangguran dan kemiskinan.

"Tercatat sebanyak 34% penduduk Pacitan terdiri dari pemuda yang berusia 17-39 tahun, sehingga di level ini sangat strategis untuk dilakukan intervensi program dengan harapan di masa depan pemuda Pacitan akan menjadi wirausahawan yang mampu menjadi pelopor perubahan dan tentunya dapat bersama-sama untuk menurunkan angka kemiskinan dan tentunya meningkatkan perekonomian," jabarnya.

Selama pelaksanaan program YESS, diakui juga oleh Heru terjadi penurunan angka kemiskinan.

"Program YESS turut berkontribusi menurunkan angka kemiskinan sebesar 1.46% yaitu dari 15.11% di tahun 2021di menjadi 13.65% di tahun 2023 dan tentunya juga berkontribusi menurunkan tingkat pengangguran di Pacitan," rinci Heru.

Heru berharap capaian tersebut dapat direplikasi oleh wilayah program YESS lainnya. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan keberhasilan Program YESS Wilayah Pacitan oleh perwakilan Bappeda, Dinas pertanian, dan Pengurus Koperasi Petani Milenial, serta diskusi dengan peserta.

Hermawan, Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Polbangtan Yogyakarta Magelang sekaligus koordinator rombongan peserta, mengatakan peserta yang turut dalam kegiatan ini sebanyak 100 orang yang terdiri dari para Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), Manajer dan Calon Manajer PPIU (Provincial Project Implementation Unit), Koordinator dan Calon Koordinator DIT (Distric Implementation Team), serta Young Ambassador penerima dan calon Penerima Program YESS.

"Hadir juga Kepala Dinas Pertanian Gunung Kidul, Kabid Penyuluhan Distan Kabupaten Banyumas, Kabid Penyuluhan Distan Kabupaten Sleman, Kabid Penyuluhan Distan Kota Semarang, dan beberapa Petani Milenial Jawa Tengah dan DIY yang nantinya diproyeksikan menjadi wilayah YESS-SI di bawah koordinasi Polbangtan Yogyakarta Magelang dan juga calon wilayah YESS-SI lainnya," imbuhnya.(***)

Lakukan Audiensi dengan Bupati Sleman, Kementan dan IFAD Masifkan Regenerasi Petani

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Dalam rangka perluasan Youth Entrepreneur and Employment Support Services Scaling Up Intervetion (YESSI), Kementerian Pertanian (Kementan) dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) melakukan audiensi dengan Bupati Kabupaten Sleman (22/1/2024).

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pentingnya peran kepala daerah dalam mendukung kemajuan sektor pertanian. “Dukungan dari kepala daerah sangat dibutuhkan karena hal tersebut berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah”, tutur Amran.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menambahkan jika kolaborasi sangat dibutuhkan dalam pertanian.

"Kolaborasi itu bisa dilakukan berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah. Kenapa hal ini penting, karena hal ini terkait kebijakan sebuah daerah untuk memajukan pertanian. Kita membutuhkan komitmen bersama," terangnya.

Saat berdialog dengan Bupati Sleman, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan) Idha Widi Arsanti mengatakan pentingnya dukungan Kepala Daerah untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program YESS di wilayahnya.

"Komitmen Kepala Daerah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program YESS, karena nanti dalam proses pelaksanaannya akan melibatkan peran UPTD di wilayahnya, dan setelah program pendamlingan selesai maka sepenuhnya menjadi hak pemerintah daerah untuk mengambil alih keberlanjutannya," ujar Idha.

Baca juga: Upgrade Jiwa Kewirausahaan, Polbangtan Kementan Gelar Kuliah Umum

Terkait komitmen tersebut langsung dijawab oleh Kustini, bahwa pihaknya akan berkomitmen penuh dalam mendukung pelaksanaan program tersebut.

"Kami sangat konsen terhadap pengembangan pertanian dan utamanya regenerasi petani muda. Sleman sendiri sangat aktif menjaring dan mengukuhkan petani milenial di setiap wilayah BP4. Sehingga jika program YESS ini dilaksanakan di wilayah kami merupakan suatu pilihan yang sangat tepat," ujarnya.

Kustini menambahkan, bahwa Sleman merupakan salah satu lumbung pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta, sehingga pembangunan pertanian tentu akan selalu menjadi prioritas utama.

"Potensi pertanian di Sleman sangat besar, baik dari sumberdaya alamnya dan didukung dengan kapasitas SDM. Namun menghadapi tantangan era sekarang tentunya upskilling atau peningkatan kualitas SDM harus terus diupayakan melalui program pendampingan, fasilitasi, dan permodalan," paparnya.

Diketahui bahwa Kabupaten Sleman merupakan kabupaten dengan jumlah petani milenial terbanyak di DIY yaitu mencapai 1000 petani milenial yang aktif dikukuhkan oleh bupati.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (YoMa) beserta perwakilan tim IFAD dan manajement progam YESS.

Shazreh Hussain, selaku Targetin gender and youth Consultant IFAD mengapresiasi komitmen dan upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sleman.

Shazreh sendiri sudah berkesempatan berkeliling ke beberapa titik petani milenial yang cukup sukses di Kabupaten Sleman seperti Ardana Garden, Merapi Farm, dan Gubug Milenial Margorejo.

"Sangat menginspirasi apa yang sudah dilakukan Kabupaten Sleman, kami juga sudah melihat langsung bagaimana kesuksesan petani milenial di wilayah Kabupaten Sleman. Kami berharap melalui program YESS ini akan lebih berkembang lagi dan tentunya mengedepankan program yang responsif gender," ujarnya.(***)

Upgrade Jiwa Kewirausahaan, Polbangtan Kementan Gelar Kuliah Umum

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Guna membuka wawasan kewirausahaan bagi mahasiswa, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang menggelar Kuliah Umum, Jumat (19/01/2024).

Kuliah umum yang bertema Kemitraan Agribisnis ini diikuti oleh mahasiswa tingkat 2 Polbangtan YOMA secara langsung di gedung serbaguna Jurusan Pertanian.

Hadir sebagai narasumber Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Idha Widi Arsanti.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan sangat penting bagi generasi muda pertanian untuk memperluas pengetahuan.

Sebab, menurut Mentan, ilmu dan pengetahuan seputar pertanian terus berkembang.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

"Dunia pertanian terus mengalami perkembangan. Sektor pertanian mempunyai banyak hal yang bisa dikembangkan generasi muda dan sangat menjanjikan," katanya.

Dedi menegaskan jika pertanian bisa digarap dari hulu sampai hilir.

"Banyak peluang untuk digarap, makanya kita mengajak anak-anak muda untuk terjun ke dunia pertanian," tegasnya.

Sementara Kapusdiktan, Idha Widi Arsanti, membuka kuliah umum dengan memaparkan tantangan pertanian Indonesia saat ini yang perlu diantisipasi oleh seluruh masyarakat pertanian.

"Tantangan yang saat ini kita hadapi antara lain yaitu kondisi alam pertanian yang sudah mulai mengalami degradasi, perubahan iklim, dan regenerasi petani," rincinya.

Menurutnya, Pusdiktan sebagai salah satu bagian dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), salah satu tugas dan fungsi utamanya yaitu memastikan keberlanjutan kuantitas dan kualitas SDM Pertanian Indonesia.

Baca juga: Terima Kunjungan BPSIP Pati, Polbangtan Kementan Berbagi Kiat Sukses Pelayanan Informasi Publik

"Saat ini kita ada pada era bonus demografi. Hampir 50% komposisi penduduk Indonesia didominasi gen Z dan gen Y yang saat ini ada pada usia kuliah seperti adik-adik sekalian. Inilah yang kami sasar nantinya sebagai generasi penerus pertanian Indonesia," ujar Santi.

Menjadi tugas Kementerian Pertanian untuk mengubah mindset generasi uda bahwa Pertanian itu hal yang menjanjikan dan up to date. Salah satunya dengan melakukan link and match dengan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA).

"Salah satu upaya agar lulusan Polbangtan ini nantinya dapat mudah diserap oleh industri yaitu dengan melakukan kerjasama dan penyesuaian kurikulum sesuai kebutuhan DUDIKA," ujarnya.

Selain menyiapkan Alumni Polbangtan untuk menjadi qualified job seeker, Santi juga mendorong lulusan untuk menjadi qualified job creator.

"Saudara sekalian juga kami siapkan untuk menjadi qulified job creator, sebagai wirausaha pertanian dengan berbagai program seperti PWMP (Penumbuhan Wirausahawan Muda Pertanian) dan YESS (Youth Enterpreneurship And Employment Support Services). Program ini kami tujukan sebagai inkubator bisnis bagi saudara yang ingin mengembangkan usaha di bidang pertanian," katanya.

Santi juga memberikan kiat-kiat membangun ekosistem kewirausahaan dengan melakukan hilirisasi kluster pertanian.

"Yang utama yaitu memetakan pasar agar produk yang dihasilkan dapat terjual. Kemudian lakukan identifikasi produk yang diminati oleh pasar, dan terpenting yaitu bangun kelembagaan. Jangan membangun usaha secara mandiri namun usahakan berjejaring dan dilegalkan secara hukum agar mudah menjangkau pasar korporasi," tandasnya.

Mewakili Direktur, Wakil Direktur I Sujono berharap mahasiswa dapat menyerap pengetahuan yang disampaikan oleh Kapusdiktan.

"Materi yang dipaparkan sangat menarik dan sesuai dengan kondisi yang kita hadapi saat ini. Oleh karena itu, saya harap mahasiswa menyimak dengan baik dan yang terpenting juga mengaplikasikannya," pesan Sujono.(***)

Terima Kunjungan BPSIP Pati, Polbangtan Kementan Berbagi Kiat Sukses Pelayanan Informasi Publik

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) menerima kunjungan dari Tim PPID Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian (BPSIP) Pati yang melakukan Studi Tiru terkait Pelayanan Informasi Publik, Jumat (19/1/2024).

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan berbagi informasi merupakan hal penting untuk yang dapat meningkatkan produksi pertanian.

Mentan Amran menambahkan, hal ini juga sejalan dengan semangat Kementerian Pertanian yang bertekad untuk kembali mewujudkan swasembada.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, sependapat dengan hal tersebut.

Ia menjelaskan, studi tiru adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian.

"Dan kualitas SDM yang meningkat tentunya akan berdampak sangat positif untuk peningkatan produksi pertanian. Apalagi SDM adalah faktor pengungkit utama dalam peningkatan produksi pertanian," tuturnya.

Sementara Tim BPSIP Pati yang dipimpin langsung Kepala Balai, Wahidah Annisa Yusuf, berkunjung untuk menggali informasi mengenai kiat sukses Polbangtan Yogyakarta Magelang yang berhasil meraih Peringkat I Kategori Eselon II Kementerian Pertanian Predikat Informatif Tahun 2023.

“Maksud kedatangan kami ke Polbangtan Yoma yaitu ingin belajar bagaimana pengelolaan PPID yang dilakukan oleh Polbangtan Yoma hingga dapat meraih peringkat I kategori Eselon II,” jelas Wahidah.

Baca juga: Jaga Mutu Pendidikan, Polbangtan Kementan Gelar Sertifikasi ISO

Disebutkannya, PPID BPSIP Pati pada tahun 2023 masih ada pada kelompok predikat cukup informatif.

“Target kami tidak muluk-muluk, setidaknya pada pemeringkatan PPID tahun 2024 ini kami bisa meraih predikat Informatif. Oleh karena itu dari kunjungan ini kami berharap ada masukan-masukan perbaikan yang dapat kami aplikasikan di BPSIP Pati," jelasnya.

Bambang Sudarmanto, Direktur Polbangtan Yoma, didampingi oleh Tim PPID menyambut kedatangan rombongan BPSIP dengan hangat. Disampaikan oleh Bambang bahwa kunci kesuksesan Pengelolaan PPID salah satunya adalah kekompakan Tim.

“Kami menyadari bahwa pengelolaan PPID ini sebenarnya adalah tugas tambahan bagi seluruh personil, namun yang kami tanamkan adalah bagaimana kita semaksimal mungkin memberikan pelayanan prima kepada pengguna layanan dan menanamkan bahwa jika lembaga kita berprestasi maka kita juga yang bangga,” ujar Bambang.

Selain itu keunggulan PPID Polbangtan Yoma lainnya yaitu intergrasi seluruh layanan menggunakan layanan elektronik dan layanan ramah disabilitas.

“Untuk memudahkan pengguna layanan kami dorong setiap bagian untuk mengembangkan layanan berbasis elektronik seperti aplikasi SIATO untuk mahasiswa, aplikasi konsultasi on line pertanian untuk petani dan penyuluh melalui Si Juru Tani, e- library, e-jurnal, dan tracer study. Selain itu kami juga sangat memperhatikan kebutuhan disabilitas dalam mengakses informasi seperti penyediaan buku braile, fasilitas kursi roda, web ramah disabilitas, penyematan subtitle pada video informasi dan sebagainya,” rincinya.

Bambang menambahkan pengembangan layanan berbasis elektronik ini tidak lain adalah untuk mempermudah Polbangtan Yoma dalam menjangkau seluruh pengguna layanannya tanpa batas ruang dan waktu.(***)

Jaga Mutu Pendidikan, Polbangtan Kementan Gelar Sertifikasi ISO

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang terus berupaya menjaga mutu pendidikan, salah satunya melalui sertifikasi ISO. Terbaru, Polbangtan Yogyakarta Magelang melaksanakan Audit Surveillance ISO Integrasi 9001:2015 tentang Sistem Penjaminan Mutu dan 21001:2018 tentang Sistem Manajemen Organisasi Pendidikan.

Kick Off meeting dilakukan pada Rabu (17/1) di ruang Sidang Polbangtan YOMA Jurusan Pertanian, sementara audit dilaksanakan selama dua hari baik di Jurusan Pertanian dan Jurusan Peternakan (17-18/1/2024).

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan menjaga bahkan meningkatkan kualitas harus terus dilakukan satuan pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Pertanian.

Menurutnya, hal itu akan membuat pertanian Indonesia terus bersaing, dan bisa berdampak pada peningkatan produksi.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

"Dengan menjaga kualitas, berarti Polbangtan telah mendukung terciptanya SDM-SDM pertanian yang berkualitas dan berdaya saing," katanya.

Dedi menegaskan, SDM adalah faktor pengungkit terpenting dalam pertanian.

"Kalau ingin meningkatkan produksi pertanian, tingkatkan dulu kualitas SDM-nya. Karena SDM adalah faktor utama untuk mengungkit produktivitas pertanian," tegasnya.

Kepala Unit Penjaminan Mutu, Siti Astuti, menjelaskan audit surveillance ISO ini adalah kegiatan rutin tahunan yang digelar untuk menjamin mutu penyelenggaraan pendidikan di Polbangtan YOMA.

Baca juga: Kolaborasi Kementan dan YDBA Kembangkan Pertanian Kawasan Yogyakarta

“Dengan rutin melakukan audit surveillance ini, diharapkan ada peningkatan kualitas pelayanan pendidikan setiap tahunnya,” ujarnya.

Sementara Wakil Direktur I Bidang Akademik, Sujono, saat membuka acara menyatakan bahwa Audit Surveillance ISO ini adalah salah satu bentuk penjaminan mutu eksternal.

“Mengemban amanat sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pendidikan di Kementerian Pertanian, Polbangtan Yogyakarta Magelang terus berupaya memperbarui dan mewujudkan komitmennya guna menjaga integritas institusi dan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, khususnya pada bidang penyelenggaraan pendidikan melalui audit ISO,” ungkap Sujono.

Sujono juga berharap Polbangtan YOMA melakukan continuous improvement dalam tugasnya sebagai penyelenggara pendidikan.

“Apabila ada permintaan dokumen dan ditemukan ketidaksesuaian pada audit surveillance ini, pelaksana kegiatan dapat mempersiapkan dokumen dan melakukan tindak lanjut dengan segera. Itu salah satu wujud komitmen kita untuk terus melakukan peningkatan dan pengembangan,” pesannya.

Kegiatan Audit Surveillace ISO ini bekerjasama dengan Mitra Sejati Fazahara (MSF) dan SIS Certification Indonesia dengan melibatkan 2 auditor yaitu Ivar Kusradi dan Lya Caturianty.

Meskipun ada catatan perbaikan dari hasil audit yang dilakukan, namun secara garis besar dikatakan oleh Ivar bahwa penyelenggaraan pendidikan di Polbangtan YOMA masih sesuai dengan standar ISO.

“Ada beberapa catatan-catatan perbaikan yang sifatnya minor dan dapat diselesaikan segera,” kata Ivar.(***)

Kolaborasi Kementan dan YDBA Kembangkan Pertanian Kawasan Yogyakarta

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang, yang merupakan UPT Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) berkolaborasi dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) untuk mengembangkan pertanian di Kawasan Yogyakarta.

Salah satu wilayah yang disasar adalah Kalurahan Mulyodadi Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul.

Kolaborasi yang melibatkan tiga pihak tersebut, merumuskan kesepakatan untuk mengembangkan kawasan Mulyodadi menjadi pengembangan agroeduwisata.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pengembangan pertanian tidak semata menjadi tanggung jawab Kementan.

Menurutnya, pertanian adalah sektor penting karena menjadi yang terdepan dalam penyediaan pangan. Oleh sebab itu, pengembangan pertanian membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Hal tersebut diperkuat dengan pernyataan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi.

"Tanggung jawab pertanian adalah menyediakan pangan buat masyarakat. Oleh sebab itu, dalam kondisi apa pun pertanian tidak boleh terkendala, pertanian tidak boleh bermasalah," tuturnya.

Dedi juga mengimbau para SDM pertanian, utamanya penyuluh dan petani, untuk terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuan.

"Kita tidak boleh tertinggal, karena ilmu dan informasi terus berkembang. Begitu juga terhadap pertanian. Kita sudah tidak bisa menggunakan cara-cara lama. Pertanian sudah harus digarap secara modern untuk mencapai hasil maksimal," katanya.

Sementara Kepala Desa Mulyodadi, Ari Sapto Nugroho, menjelaskan jika kampung di sekitar Mulyodadi sebenarnya sudah memiliki potensi khas masing-masing.

“Ada Kampung TOGA di Kepuh, Kampung Lidah Buaya di Gambuhan, Kampung Kates di Bogem, Kampung Jeruk Nipis di Bregan, Kampung Singkong di Mejing, Kampung Mentimun di Wonodoro, Kampung Alpukat di Destan, dan Kampung Pisang di Carikan,” rinci Ari.

Baca juga: Pacu Ekspor Pertanian, Mahasiswa Polbangtan Dibekali Pengetahuan Perdagangan Internasional

Hermawan, Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian masyarakat Polbangtan Yogyakarta Magelang, mengatakan mendukung pengembangan Agroeduwisata, terutama dari segi teknis dan pemasaran.

“Polbangtan YOMA beberapa tahun belakangan ini sudah aktif mendampingi Kalurahan Mulyodadi untuk program AKU HATINYA PKK. Pendampingan dari segi teknis pertanian dan dukungan pemasaran produk akan menjadi salah satu konsentrasi kami. Apalagi kali ini dengan tambahan semangat baru dari YDBA, tentunya akan lebih signifikan dampak yang dihasilkan,” ujarnya.

Koordinator YDBA Yogyakarta, Fransiska Wisni Kristanti, menjelaskan jika melalui program Corporate Social Responsibilty (CSR), PT Astra Internasional berkomitmen untuk berperan secara aktif dalam pembangunan nasional, salah satunya di bidang pertanian.

“Pada tahun ini CSR kami sudah mulai merambah di bidang pertanian. Salah satu faktor pendorong terjun di bidang ini bermulai dari pandemi yang memperlihatkan bidang pertanian yang merupakan salah satu bidang yang stabil,” ungkapnya.

Duta Petani Milenial Kota Yogyakarta, Anjar Wahyu Nugroho, yang selama ini berkecimpung pada usaha olahan Buah Markisa, turut berbagi kiat membangun pasar bagi produk olahan pangan.

“Sebelum membuat produk, yang utama disiapkan adalah pasarnya. Kita harus jeli melihat komoditas mana yang kompetitornya masih sedikit, namun demand-nya tinggi. Seperti markisa, kebutuhan pasar sangat tinggi namun pemasok masih kurang. Ini bisa jadi peluang,” ujarnya.

Kolaborasi ini membuktikan bahwa sinergi antara lembaga pendidikan, korporasi, dan masyarakat petani dapat menciptakan dampak positif yang besar dalam sektor pertanian.(***)