21 April 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

Gandeng BNN, Karyawan Polbangtan Kementan Dipastikan Bebas P4GN

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Untuk memaksimalkan pencapaian target, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) Kementerian Pertanian menggelar Sosialisasi Kebijakan dan Strategi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN), Kamis (7/3/2024), di Jurusan Pertanian Yogyakarta. Kegiatan yang disertai dengan tes urine tersebut, diikuti 121 ASN dan karyawan.

Kegiatan yang digelar di ruang serbaguna Polbangtan YOMA ini bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Yogyakarta.

Hadir sebagai narasumber yaitu, Bambang Wiryanto selaku Penyuluh Ahli Madya BNNP DIY. Bambang mengapresiasi komitmen Polbangtan YOMA dalam memberantas P4GN baik bagi karyawan dan mahasiswa.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, target yang dicanangkan akan bisa diraih apabila kualitas SDM-nya mendukung.

Karena, menurutnya, target pembangunan pertanian akan bisa direalisasikan jika tersedia SDM yang unggul baik secara intelektual, jasmani, dan rohani.

Penegasan serupa disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

"SDM itu adalah faktor pengungkit paling penting dalam pertanian. Oleh sebab itu, jika ingin pertanian maju, maka majukan dulu SDM-nya," katanya.

Dedi menambahkan, peran penting dalam menyiapkan SDM berkualitas tersebut diemban sekolah vokasi, salah satunya Polbangtan.

Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto, menyatakan bahwa kegiatan Tes Urine dan Sosialisasi P4GN merupakan kegiatan rutin tahunan yang diadakan pihaknya.

“Kegiatan rutin ini kami lakukan dalam rangka mencegah peredaran dan penyalahgunaan narkotika oleh mahasiswa kami, mengingat DIY termasuk provinsi dengan prevalensi tinggi. Kita harus berhati-hati dan preventif,” ujar Bambang.

Baca juga: Jaga Pasokan Beras, Kementan dan Pemkab Bantul Lakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi

Selain itu, Bambang juga menginginkan seluruh civitas akademika Polbangtan YOMA benar-benar sehat dan bugar serta bebas dari narkotika sehingga akan menjadi SDM pertanian yang unggul.

"Kegiatan tes urine berkala merupakan upaya preventif untuk memastikan bapak ibu semua bersih dari penyalahgunaan narkotika. Karena jika sudah terkena narkotika pasti akan mengganggu kinerja individu dan berimbas pada kinerja lembaga," ujarnya.

Bambang juga mengingatkan bahaya penyalahgunaan narkoba yang dapat merusak fisik dan psikis manusia.

"Individu yang sudah terpapar narkoba pasti akan rusak secara fisik dan kognitifnya. Sehingga kinerja otak dan fisiknya tidak lagi optimal, tidak dapat berkoordinasi dengan baik. Tidak hanya itu, penyalahgunaan narkoba juga akan memicu tindakan kriminal lainnya, karena orang yang sudah terpapar narkoba, sudah tidak bisa berpikir logis," tekan Bambang.

Namun, lanjut Bambang, jika disekitar kita ditemukan pengguna narkoba, Ia menghimbau agar tidak segan untuk menghubungi BNN untuk meminta bantuan rehabilitasi.

"Salah satu fungsi BNN adalah memberikan rehabilitasi bagi para pecandu, karena tidak serta merta pengguna narkoba pasti akan dipenjara jadi jangan segan untuk menghubungi BNN," pesannya.

Jaga Pasokan Beras, Kementan dan Pemkab Bantul Lakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi

TANIINDONESIA.COM//BANTUL - Upaya menjaga ketersedian pangan bagi masyarakat terutama beras sebagai bahan pokok, terus dilakukan oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Melalui Unit Pelaksana Teknis Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA), Kementan dan Pemerintah Kabupaten Bantul melaksanakan Gerakan Percepatan Tanam Padi Tahun 2024 di Pundong, Bantul, Kamis (7/3/2024).

Hadir pada kegiatan tersebut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Pundong, Lurah Kelurahan Srihardono, Panewu Pundong dan Ketua Kelompok Tani serta Gabungan kelompok Tani Setempat.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, salah satu target yang akan dicapai Kementan adalah mencapai kembali swasembada, khususnya beras. Menurutnya, untuk mencapai hal tersebut semua pihak harus bergerak bersama.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan dalam kondisi apapun pangan tidak boleh bermasalah.

"Tugas kita adalah memastikan pangan tersedia untuk masyarakat. Oleh sebab itu, dalam kondisi apapun pangan tidak boleh bermasalah, pangan tidak boleh bersoal," ujarnya.

Direktur Polbangtan YOMA, yang diwakili Koordinator Pengabdian Masyarakat Ina Fitria Ismarlin, mengatakan Gerakan Percepatan Tanam Padi ini dilakukan dalam rangka meningkatkan produksi pangan, khususnya padi untuk menjaga kestabilan harga dan menekan impor kebutuhan pangan nasional.

“Percepatan waktu tanam dan penambahan luas tanam merupakan solusi yang dipilih Pemerintah dalam upaya menggenjot produksi setinggi-tingginya menuju swasembada,” ujar Ina.

Baca juga: Kembangkan Inovasi Olahan Aloevera, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara Kewirausahaan

Kegiatan percepatan tanam dilakukan berdasarkan arahan Menteri Pertanian untuk mendukung optimalisasi lahan pertanian melalui peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan khususnya padi selama Masa Tanam 2 (MT 2) April – September (Asep).

“Ini adalah upaya untuk memaksimalkan musim hujan mengingat beberapa bulan lalu Indonesia terdampak oleh perubahan iklim El Nino. Kabupaten Bantul pada masa tanam 1 (MT 1) Oktober - Maret lalu masih menyisakan hutang luas tanam padi sekitar 5000 ha. Hal ini disebabkan akibat kemarau panjang dan sulitnya pengairan,” terangnya.

Percepatan tanam, kata Ina, juga diharapkan akan berpengaruh terhadap peningkatan indek pertanaman atau IP.

“Dengan adanya kegiatan percepatan tanam dan penggunaan varietas padi unggul sangat genjah, petani dapat menikmati panen padi setahun 4 kali. Hal ini akan berjalan dengan baik apabila didukung dengan adanya pemanfaatan alsintan mulai dari alat mesin tanam sampai dengan pasca panen, ketersediaan saprodi pertanian dan jaringan irigasi yang baik,” imbuhnya.

Sementara, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, mengatakan pihaknya terus menerus berupaya mengoptimalkan produktivitas lahan di wilayahnya demi menunjang ketersedian pasokan beras.

“Kita ketahui bahwa konsumsi (beras) lebih tinggi dibanding luasan (produksi) sawah kita. Jadi kita harus upayakan tidak boleh ada lahan bero (menganggur). Beberapa wilayah di Bantul sudah panen pada bulan Februari lalu, dan pada Maret ini langsung kita himbau untuk tanam,” ujar Joko.

Gerakan Percepatan Tanam ini diharapkan dapat menjaga stabilitas pasokan beras di wilayah D.I. Yogyakarta. Mengingat Kabupaten Bantul merupakan salah satu penyangga pasokan beras di wilayah DIY, khususnya Kota Yogyakarta.

“Sejauh ini produksi padi di Kabupaten Bantul surplus, dan kita masih menjadi penyangga untuk kebutuhan beras di Kota Yogyakarta,”terangnya.

Pihaknya juga mendorong petani untuk mendongkrak produksi melalui IP 400, “kita upayakan setahun tanam 4 kali, panen 4 kali. Meskipun prakteknya memakan waktu 13 bulan,” imbuhnya.

Ia juga menyampaikan kepada para petani yang hadir agar tidak meragukan komitmen Pemerintah Kabupaten Bantul dalam sektor pertanian, “Sektor pertanian merupakan salah satu sektor prioritas karena menjadi salah satu penyumbang yang cukup besar untuk pendapatan daerah,” tandasnya.

Dirinci oleh Joko, bahwa komitmen tersebut ditunjukkan oleh beberapa program yang dilaksanakan antara lain yaitu upaya regenerasi SDM pertanian dengan penerapan mekanisasi pertanian, perbaikan jaringan tersier dan sekunder sepangan 1,2 juta meter, dan mengawal ketersediaan pupuk untuk tanam.

Kembangkan Inovasi Olahan Aloevera, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara Kewirausahaan

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang berhasil menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Lomba Inovasi Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (LIKMI) #3 2024 yang diselenggarakan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Januari hingga akhir Februari 2024.

Tim yang beranggotakan Tetta Praba Pengesti, Cristiani Pereira Carlos, dan Muhammad Arya Jabbar Rohman, keluar sebagai Juara III pada Kategori Usaha Kuliner Minuman (UKI) setelah melalui tahap seleksi yang panjang.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pertanian adalah sektor yang menjanjikan dan bisa dimaksimalkan oleh generasi muda. Oleh sebab itu, saya mengajak anak-anak muda untuk menekuni bidang pertanian.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan inovasi sangat dibutuhkan dalam pertanian.

"Dan inovasi tersebut menjadi tantangan yang harus dijawab sekolah vokasi seperti Polbangtan. Dan terbukti Polbangtan bisa menjawab tantangan itu," katanya.

Dedi Nursyamsi menambahkan, pertanian memiliki banyak sekali sektor yang bisa digarap, baik dari hulu maupun hingga hilir.

"Oleh karena itu, dibutuhkan peran anak-anak muda. Karena sektor-sektor itu pun butuh inovasi agar bisa lebih menghasilkan," tuturnya.

Wirausaha sendiri dipandang sebagai kemampuan untuk menentukan, mengembangkan, menciptakan, atau menggabungkan inovasi pada suatu usaha agar memiliki nilai lebih.

Kewirausahaan selalu mencari hal-hal yang baru sebagai tantangan untuk berubah, dan perubahan tersebut dimanfaatkan sebagai peluang.

Salah seorang anggota tim Polbangtan Yogyakarta Magelang, Tetta Praba Pengesti, menjelaskan tahapan seleksi panjang yang harus dilalui.

Baca juga: Kembangkan Inovasi Olahan Aloevera, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara di Ajang Lomba Kewirausahaan

“Kita melalui beberapa tahap dari bulan Januari. Mulai dari seleksi administratif, seleksi substansi, technical meeting, tahap presentasi langsung didepan juri hingga awarding pada akhir Februari lalu,” jelas Tetta.

Dimentori oleh Dosen Agribisnis dan Hortikultura Polbangtan YOMA, Fitria Naimatu Sadiyah, mereka mengangkat Inovasi Olahan Lidah Buaya “Aloe Juice with Pulpy” sebagai Minuman Fungsional yang Bermanfaat Bagi Kesehatan.

“Aloe Juice With Pulpy memiliki banyak khasiat membantu melancarnakan pencernaan, menjaga kesehatan kulit, menghalau efek radikal bebas, meningkatkan daya tahan tubuh, mencegah dehidrasi, dan mengatasi sembelit karena mengandung berbagai senyawa sekunder seperti antrakuinon, tanin, flavonoid, dan saponin,” rinci Tetta.

Selain kaya manfaat, produk aloe Juice with Pulpy ini juga sudah memiliki izin edar P-IRT sehingga lebih dapat meyakinkan konsumen. Sebagai dosen pembimbing, Fitria mengaku sangat bangga dengan capaian prestasi peserta didiknya.

“Keluar sebagai Juara pada ajang LIKMI ini sangat membanggakan tentunya, karena LIKMI sendiri merupakan ajang kewirausahaan tingkat nasional yang cukup bergengsi dengan total peserta sebanyak 483 Tim dari 140 Perguruan Tinggi dari 25 Provinsi,” ujar Fitria.

Ia juga berharap produk hasil inovasi ini tidak berhenti hanya sebagai bahan kompetisi lomba, namun juga dapat dikembangkan menjadi usaha yang kongkrit.

“Sesuai dengan mandat Polbangtan YOMA yang dituntut untuk menciptakan qualified job creator, kami berharap semoga inovasi ini dapat terus dikembangkan lagi menjadi usaha yang nyata dan untung secara ekonomi,” pungkasnya.

Kembangkan Potensi Bawang Merah, Kementan Siapkan Penyuluh Pendamping

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), melakukan pengembangan komoditas bawang merah. Untuk mendukung hal itu, Kementan menggelar Pelatihan Vokasi Budi Daya Bawang Merah di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Jawa Barat. Pelatihan yang berlangsung sepekan itu ditutup Senin (26/02/2024).

Pelatihan diikuti para penyuluh pertanian yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Banten. Peserta mendapatkan pelatihan baik secara klasikal di dalam kelas dan praktik langsung ke lapangan.

Peserta yang berjumlah 30 orang itu menjalani satu pekan penuh pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap penyuluh pendamping petani bawang merah di wilayah sentra dan pengembangan komoditas bawang merah.

Menurut Menteri Pertanian Amran Sulaiman, bawang merah adalah salah satu komoditas hortikultura strategis, memiliki nilai ekonomi tinggi. Selain itu, bawang merah juga dapat digunakan baik sebagai bahan makanan maupun obat-obatan tradisional.

Hanya saja, belum semua petani menguasai cara budi daya terbaik demi menghasilkan panen yang maksimal. Oleh sebab itu, Kementan menyiapkan penyuluh untuk mendampingi petani di area sentra dan pengembangan komoditas bawang merah.

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, menekankan bahwa pelatihan vokasi penting dalam upaya pengembangan sumber daya manusia pertanian.

“Untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, dibutuhkan SDM pertanian yang profesional, mandiri, berdaya saing dan berjiwa wirausaha. Syarat utamanya memiliki pengetahuan, jejaring, jiwa wirausaha, dan melalui pelatihan vokasi,” sebut Dedi.

Dalam Pelatihan Vokasi Budi Daya Bawang Merah, ada delapan kompetensi yang dibangun, yaitu kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir kritis dan kreatif, literasi informasi dan literasi digital, kemampuan logika, kemampuan interpersonal, kemampuan berbahasa, kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan dalam menggunakan teknologi.

Peserta disambut secara resmi oleh tim manajemen BBPP Lembang berbarengan dengan peserta Pelatihan Sertifikasi Penyuluh Pertanian Level Fasilitator dan Supervisor pada 20 hingga 22 Februari 2024.

Baca juga: Wujudkan Good Governance, BPPSDMP Gelar Rakor IKU-SPI

Materi yang disampaikan antara lain Kebijakan Pengembangan Komoditas Bawang Merah yang disampaikan M. Syaifuddin A., dari Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian. Materi lainnya antara lain Pemilihan Lokasi, Penentuan Waktu Tanam, Persiapan Benih, Persiapan Lahan Budi Daya Bawang Merah, Pemupukan, Pengairan dan Penyiraman, Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman, Penanganan Panen dan Pasca Panen.

Para peserta juga melakukan praktik lapangan di kampus BBPP Lembang. Salah satunya ke lahan di Inkubator Agribisnis BBPP Lembang, yaitu tahap penyiapan benih dan penanaman bawang. Setelah itu, mereka menanam bawang sesuai dengan kajian yang telah dilakukan di dalam kelas.

Praktik lapangan dalam bentuk kunjungan juga dilakukan oleh tim widyaiswara BBPP Lembang. Para peserta mengunjungi Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, yang terkenal dengan sentra bawang merahnya.

Di tempat itu, peserta pelatihan bertukar pengalaman dengan petani yang sudah berpengalaman dalam melakukan budi daya bawang merah dan mengambilnya sebagai pengetahuan mereka untuk dibagikan kepada rekan-rekan petani di tempat asal mereka.

Pada hari terakhir, peserta diminta untuk membuat rencana implementasi sebagai hasil dari pelatihan mereka. Rencana implementasi disusun, untuk melihat cara para peserta menggunakan ilmu dan keterampilan yang mereka dapatkan dari materi yang dipaparkan oleh widyaiswara di BBPP Lembang sekaligus merealisasikannya di lapangan terhadap para petani yang mereka damping.

Rangkaian pelatihan selesai Senin (26/2/2024), ketika para peserta dilepas dalam penutupan acara yang diadakan di Ruang Kelas Krisan V BBPP Lembang.

Muhammad Iqbal, Penyuluh Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang, mewakili rekan-rekan satu angkatannya dan memberikan kesannya di acara penutupan. Ia merasa sangat senang dan terhormat mendapatkan kesempatan sebagai peserta Pelatihan Vokasi Budi Daya Bawang Merah.

Iqbal juga mengharapkan bahwa rekan-rekan di Balai Penyuluh Pertanian di tempat lain dapat mendapatkan kesempatan yang sama. “Kesempatan seperti ini lah yang kami tunggu agar dapat melayani pertanian dengan lebih baik,” tambah Iqbal.

Saat menutup acara, Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika mengimbau para peserta memperbaiki kualitas untuk mencapai tujuan pertanian.

“Setelah kembali ke tempat, asal bapak dan ibu ada sebuah misi pribadi yang harus terus kita coba perbaiki kualitasnya untuk bisa mencapai tujuan pembangunan pertanian. Khususnya dalam mencapai swasembada bawang merah dan meningkatkan pendapatan petani bawang merah,” tegas Ajat.

Di akhir kegiatan, peserta mendapatkan Surat Tanda Tamat Pelatihan (STTP) yang diberikan secara simbolis.(***)

Wujudkan Good Governance, BPPSDMP Gelar Rakor IKU-SPI

TANIINDONESIA.COM//BOGOR - Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menggelar Koordinasi Capaian IKU dan Sistem Pengendalian Internal (SPI) di Bogor, Rabu (28/2/2024).

Kegiatan tersebut digelar untuk menetapkan indikator kinerja dan penerapan pengendalian internal di setiap unit kerja demi mewujudkan Good Governance dan Good Government di lingkup BPPSDMP.

Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern (SPI) Pemerintah dimana penyelenggaraan kepemerintahan harus transparan dan akuntabel.

Hal tersebut juga sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang mewajibkan seluruh penyelenggara kepemerintahan untuk membuat laporan kinerja yang transparan dan akuntabel.

Menurut Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, kinerja yang baik diukur tidak hanya dengan tercapainya target yang telah ditetapkan, tetapi juga memperhatikan aspek pengawasan.

Dijelaskannya, dalam aspek pengawasan tiap unit kerja pemerintah wajib menyampaikan laporan kinerja yang transparan dan akuntabel.

Dedi Nursyamsi yang hadir pada pembukaan acara, juga menyampaikan pentingnya menetapkan indikator kinerja dan pengawasan.

“Setiap organisasi, mempunyai standar pengukuran kinerja yang telah ditetapkan. Untuk mengukur keberhasilan program, pekerjaan atau kegiatan, perlu ditetapkan indikatornya dan yang kita gunakan adalah Indeks Kinerja Utama atau IKU,” kata Dedi.

Baca juga: Panen Perdana di Banjaran, Petani dan Penyuluh Sumringah Hasilkan Produktivitas Padi 6,5 ton/ha

Dedi menjelaskan lebih lanjut, prinsip-prinsip utama yang perlu diperhatikan dalam proses managemen organisasi yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengevaluasian dan pengawasan.

“Para pengelola manajemen, Saya ingatkan prinsip POEC yang merupakan rangkaian proses Planning, Organizing, Evaluating, Controlling (POEC) atau perencanaan, pengorganisasian, pengevaluasian dan pengawasan merupakan fungsi manajemen yang menjadi rangkaian proses yang perlu dilalui untuk mencapai tujuan yang diharapkan,” ujar Dedi

Pentingnya penetapan indikator pengukuran kinerja menjadi penting untuk mengukur keberhasilan suatu program.

“Untuk itulah mengapa, penetapan IKU menjadi pentin tiap unit di lingkup organisasi kita tentu satu dengan lain berbeda, Balai Besar tentu beda IKU nya dari SMKPP," lanjutnya.

"Semakin spesifik (IKU) akan semakin baik dalam upaya mencapai target yang telah ditetapkan, yang perlu diperhatikan dimulai dari proses perencanaan, pengorganisasian, evaluasi dan pengawasan. Kemudian pada akhirnya dievaluasi untuk kemudian dilaporkan sebagai laporan kinerja," imbuh Dedi lagi.

Sementara Sekretaris BPPSDMP, Siti Munifah, mengingatkan pentingnya penentuan IKU secara spesifik yang mengambarkan capain kinerja tiap unit kerja.

"Penting dilakukan, dialog kinerja ditiap bagian, fungsinya adalah sebagai proses penilaian mandiri (self evaluation), bagaimana kinerja yang telah dicapai, kalau ada hambatan, apa solusi yang dapat diambil," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut Siti Munifah mengevaluasi kinerja dari UPT lingkup BPPSDMP.

Menurutnya, kegiatan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman pengendalian internal dan pengukuran capaian IKU seharusnya sudah dimaknai tidak sekedar kewajiban (mandatory) namun kebutuhan bagi organisasi, sehingga diperlukan perbaikan dan pengembangan ke arah yang lebih baik.

Selain itu diberikan penghargaan untuk peraih IKU terbaik lingkup BPPSDMP. Peringkat diberikan kepada Sekolah Menengah Kejuruan Pembangunan Pertanian (SMKPP) Kupang, diikuti Balai Besar Pelatihan Manajemen Kepemimpinan Pertanian (BBPMKP) Ciawi, dan penghargaan ketiga diberikan untuk Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor.

Tampil sebagai narasumber dalam kegiatan ini adalah
Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian, Sekretariat Jenderal Kementerian, Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).(***)

Panen Perdana di Banjaran, Petani dan Penyuluh Sumringah Hasilkan Produktivitas Padi 6,5 ton/ha

TANIINDONESIA.COM//BANJARAN - Aktivitas agribisnis padi baik tanam dan panen di berbagai wilayah di Indonesia tampak bergeliat. Petani beserta penyuluh pertanian dengan semangat melakukan tanam dan panen secara periodik untuk menjaga produksi pangan dalam negeri. Salah satunya terlihat di Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung.

Diketahui sektor pertanian menjadi fokus utama pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam rangka peningkatan produktivitas pertanian nasional.

Geliat tanam dan panen padi di Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung, tepatnya di Kampung Ciherang Desa Kiangroke Kecamatan Banjaran. Pelaku agribisnis padi sekaligus pengelola Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Al-Mukhlis panen perdana padi. Tanaman Padi yang dibudidayakan oleh P4S ini sebanyak 40 hektar, terdiri dari padi organik seluas 5 hektar, padi semi organik 5 hektar dan padi konvensional 30 hektar.

Panen perdana padi organik dilakukan di hamparan sawah seluas 0,5 hektar pada Selasa (27/2/2024). Umur tanaman 105 hari setelah tanam ini dipanen oleh kelompok tani didampingi koordinator penyuluh Kecamatan Banjaran dan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bandung.

Baca juga: Audit ISO, Polbangtan Kementan Jaga Mutu Layanan Taraf Internasional

Varietas yang ditanam adalah sintanur dan diberi perlakuan eco-enzym untuk membantu menyehatkan tanaman padi dan dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi. P4S Al-Mukhlis merupakan pelaku pembanguan pertanian di sektor agribisnis padi, melakukan budidaya dan bergerak di sektor hilir dengan membuka rumah makan, sehingga yang dijual tidak hanya gabah dan beras, namun juga sudah berbentuk nasi dilengkapi lauk pauknya.

Sisa makanan dari rumah makan tersebut dibuat eco-enzyme yang dimanfaatkan untuk pemupukan tanaman organiknya dan hasil lainnya seperti sabun dan hand sanitizer. Sehingga boleh dikatakan P4S Al-Mukhlis sudah menerapkan pertanian zero waste yang bisa menjadi contoh bagi masyarakat sekitarnya.

“Setelah dilakukan ubinan di 2 titik yaitu 3,68 dan 4,74, setelah dikonversikan menghasilkan produktivitas 6,5 ton/hektar”, demikian keterangan BPS dari Ketua Tim Pertanian BPS Kabupaten Bandung, Dani Wildan Hakim setelah panen selesai dilakukan.

Dadang Sulaeman, pengelola P4S Al-Mukhlis mengunkapkan rasa syukurnya terkait panen yang dilakukan.

“Alhamdulillah hari ini kami melakukan panen perdana padi organik. Padi ini juga dilakukan aplikasi eco-enzyme sebagai komitmen kami menerapkan pertanian organik ramah lingkungan,” ucapnya.

Sedangkan Koordinator Penyuluh Kabupaten Banjaran, Dadang Kustiawan mengatakan hasil ini memuaskan dan optimis panen berikutnya akan menghasilkan produktivitas lebih tinggi lagi.(***)

Audit ISO, Polbangtan Kementan Jaga Mutu Layanan Taraf Internasional

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang berhasil meraih kembali Sertifikat ISO 9001:2015 dan 21001:2018 setelah beberapa waktu lalu melakukan Audit Surveillance. Seremonial penyerahan Sertifikat dilakukan di Polbangtan Yogyakarta Jurusan Pertanian, Senin (26/2/2024).

Pencapaian ini menegaskan komitmen Polbangtan yang berada di bawah naungan Kementerian Pertanian itu dalam menjaga mutu dan kualitas pendidikan yang diakui secara internasional.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, sekolah vokasi seperti Polbangtan Yogyakarta Magelang memiliki peran penting untuk memajukan pertanian.

Mentan Amran menambahkan, pertanian pun dapat digraa digarap dengan cara-cara kekinian. Namun hal tersebut harus didukung oleh SDM yang memadai. Dan Polbangtan menjadi ujung tombak dalam hal tersebut.

Penegasan tentang hal tersebut disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

"SDM memiliki peran penting dalam pertanian. Oleh karena, jika ingin produktivitas meningkat, tingkatkan dahulu kualitas SDM-nya," tegasnya.

Dedi menambahkan, tugas mencetak SDM berkualitas ada di Polbangtan dan PEPI yang menjadi pendidikan vokasi di bawah Kementerian Pertanian.

Dengan alasan tersebut, Dedi memberikan apresiasi atas capaian Polbangtan Yogyakarta Magelang.

Direktur Polbangtan Yogyakarta Magelang, diwakili Ketua Unit Penjaminan Mutu (UPM) Siti Astuti, menjelaskan Audit Surveillance telah dilakukan terhadap para pimpinan, manajemen, dan staf Polbangtan Yogyakarta Magelang sebelum pemberian sertifikasi.

Baca juga: Penyuluh Pertanian Kompeten, Bekal Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

“Ada 11 prinsip yang diaudit, yakni bagaimana Polbangtan Yogyakarta Magelang fokus kepada peserta didik dan penerima manfaat, kepemimpinan yang visioner, keterikatan sumber daya manusia (SDM), pendekatan proses, perbaikan berkelanjutan, keputusan berbasis bukti, manajemen hubungan, tanggung jawab sosial, aksesibilitas dan pemerataan, perilaku etis, serta proteksi dan keamanan data,” rinci Siti.

Sertifikasi ISO 9001:2015 adalah standar yang berlaku untuk berbagai jenis organisasi, termasuk institusi pendidikan, rumah sakit, dan bidang usaha jasa lainnya.

“Sertifikasi ISO 9001:2015 menilai apakah sebuah institusi telah memenuhi persyaratan standar dalam mengelola kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan,” lanjut Siti.

Sementara, ISO 21001:2018 adalah standar sistem manajemen yang berfokus pada kualitas dari manajemen organisasi pendidikan.

“Standar ini bertujuan untuk menilai apakah institusi pendidikan telah memberikan layanan dan memenuhi kebutuhan para peserta didik, staf, pengajar, pemilik organisasi, masyarakat umum, dan pihak-pihak terkait lainnya,” katanya.

Dengan diraihnya dua Sertifikasi ISO tersebut, Polbangtan Yogyakarta Magelang telah membuktikan komitmen untuk mengimplementasikan visi misi yang dimiliki. Ia berharap, kedua sertifikat tersebut dapat menjadi modal bagi Polbangtan Yogyakarta Magelang untuk pengembangan serta mencapai visi dan misi.

“Melalui pendidikan yang bermutu unggul, holistis, dan transformasional, Polbangtan Yogyakarta Magelang berkomitmen untuk melahirkan generasi muda pertanian yang kompeten, dan professional baik sebagai job seeker maupun job creator,” tandasnya.(***)

Penyuluh Pertanian Kompeten, Bekal Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang melalui Tempat Uji Kompetensi (TUK) Mandiri mengadakan Sertifikasi Kompetensi bagi Penyuluh Pertanian Level Supervisor dan Fasilitator pada 19-22 Februari 2024. Ini menjadi kegiatan sertifikasi pertama yang diselenggarakan BBPP Lembang pada tahun 2024.

Sebanyak 30 peserta dari tiga provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, turut serta dalam kegiatan ini.  Adapun 21 orang peserta termasuk dalam level supervisor dan 9 peserta lainnya merupakan level fasilitator.

Tahapan sertifikasi dimulai dari pra asesmen. Pada tahapan ini peserta mengisi form APL-1 dan APL-2 yang kemudian divalidasi oleh asesor. Dilanjutkan dengan ujian tertulis dan observasi.

Sebagai informasi, berdasarkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) nomor 043 Tahun 2013 kemampuan yang diharapkan dari penyuluh pertanian level fasilitator adalah menyusun programa penyuluhan pertanian, menyiapkan materi penyuluhan pertanian, menerapkan media penyuluhan pertanian, menerapkan metode penyuluhan pertanian, dan mengevaluasi pelaksanaan penyuluhan pertanian.

Sementara kompetensi yang diharapkan di level supervisor adalah kemampuan yang sama dengan di level fasilitator ditambahkan dengan melaksanakan pengkajian penyuluhan pertanian. Sebagai ujung tombak pembangunan pertanian, penyuluh diharapkan dapat menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dalam mendampingi petani sebagai mitra kerja.

Tahapan demi tahapan dilalui oleh peserta. Suasana tegang dan keseriusan tampak di wajah para peserta. Pada tahap unjuk kerja, peserta melakukan praktik penyuluhan yang dinilai oleh tim asesor. Masing-masing peserta menyampaikan materi yang relevan dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Rangkaian terakhir adalah ujian tertulis. Asesor dan tim TUK Mandiri kemudian melakukan rekapitulasi penilaian peserta.

Giat sertifikasi berakhir pada Kamis (23/2). Koordinator Asesor, Joni Jafri, menyampaikan bahwa seluruh peserta telah dinyatakan kompeten dalam sertifikasi ini. Kini, peserta nampak bahagia dan lega atas hasil yang didapat. Prosesi penutupan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan berkas oleh Kepala BBPP Lembang kepada tim Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan koordinator assessor, serta dari Ketua TUK Mandiri kepada tim asesor.

Baca juga: Sambangi P4S Al-Mukhlis, Kepala BPPSDMP Apresiasi Inovasi Teknologi Eco-enzyme untuk Tingkatkan Produksi Padi

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika menutup kegiatan. Ajat Jatnika kembali menegaskan pentingnya peran penyuluh dalam kesuksesan sektor pertanian. Menurutnya, sebagai garda terdepan, penyuluh memiliki kewajiban untuk terus meningkatkan wawasan dan kemampuan teknis, salah satunya melalui sertifikasi kompetensi ini.

Salah satu peserta asal Dinas Pangan dan Pertanian Kota Cimahi, Jawa Barat, menyampaikan kebahagiaan dan kepuasannya setelah melewati proses sertifikasi ini. Baginya, selain menantang, sertifikasi juga menjadi momen berharga untuk bertemu dengan rekan penyuluh dari berbagai instansi dan daerah, yang memungkinkan mereka saling berbagi ilmu dan pengalaman.

Peningkatan kompetensi penyuluh pertanian menjadi salah satu urgensi dalam menggerakkan sektor pertanian. Penyuluh pertanian berperan sebagai jembatan vital antara petani dengan informasi teknis, inovasi, dan praktik pertanian terbaru yang dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Mereka juga berperan dalam memfasilitasi adopsi teknologi pertanian yang berkelanjutan.

BBPP Lembang berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kompetensi penyuluh pertanian  demi kemajuan sektor pertanian di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yang menyatakan bahwa menjelaskan bahwa Kementan memberikan perhatian besar kepada seluruh penyuluh pertanian. "Penyuluh pertanian adalah ujung tombak pembangunan pertanian di lapangan yang memiliki peran strategis dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani."

Lebih lanjut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menjelaskan bahwa “sertifikasi sebaik mungkin agar hasilnya positif. Sebab, sertifikasi juga menjadi bukti kompetensi dan kualitas SDM pertanian untuk menjawab tantangan ke depan. (YKO/DRY)

Sambangi P4S Al-Mukhlis, Kepala BPPSDMP Apresiasi Inovasi Teknologi Eco-enzyme untuk Tingkatkan Produksi Padi

TANIINDONESIA.COM//BANJARAN - Sektor pertanian menjadi fokus utama pemerintah untuk menjaga ketahanan pangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Tercatat pada triwulan ketiga tahun 2023, sektor pertanian mencatat pertumbuhan sebesar 1,46% dan memberikan kontribusi sebesar 13,57% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran seluruh insan pertanian yang bekerja keras untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan dalam satu tahun ini pihaknya fokus menggerakkan SDM pertanian untuk mendongkrak produktivitas dan menjaga ketersediaan pangan di Indonesia. “Kita fokus meningkatkan produksi dan produktivitas pangan Indonesia. Kita tidak sendiri ada Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk mendampingi para petani di lapangan," kata Amran.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menambahkan bahwa peningkatan produksi komoditas pangan utamanya padi dan jagung menjadi tanggung jawab dan tugas seluruh insan pertanian. “Penting juga untuk menerapkan inovasi dan teknologi dalam mendongrak produktivitas pertanian,” ujar Dedi.

Berkaitan dengan hal tersebut, saat menyambangi salah satu pelaku utama pembangunan pertanian yaitu Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Al-Mukhlis, apresiasi disampaikan oleh Kepala BPPSDMP saat melihat langsung kegiatan P4S. P4S Al-Mukhlis yang konsisten bergerak di agribisnis padi organik tidak hanya di sektor hulu, namun juga hilir. Tahun 2021, saat berkunjung ke P4S Al-Mukhlis pada kegiatan Kunjungan Pers lingkup BPPSDMP, Kepala Badan mengapresiasi P4S Al-Mukhlis yang tidak hanya menjual padi dalam bentuk gabah, namun bisa dalam bentuk beras bahkan bisa membuat restoran bernama Rumah Makan Riung Panyaungan di wilayah persawahannya yang terpantau ramai didatangi pengunjung. Tentunya ini sangat menguntungkan.

Saat ini, inovasi teknologi juga telah dilakukan oleh P4S Al-Mukhlis. Rabu (22/2/2024), Kepala BPPSDMP mengunjungi P4S Al-Mukhlis didampingi Kepala Balai, Kepala Bagian Umum dan Ketua Kelompok Program dan Evaluasi BBPP Lembang. Kepala Badan sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh P4S Al-Mukhlis berkaitan peningkatan produksi padi khususnya padi organik.

Kegiatan dihadiri oleh 6 orang penyuluh pertanian Kecamatan Banjaran. Diskusi santai antara pengelola P4S dan para penyuluh dengan Kepala Badan dan jajarannya di dalam saung di tengah hamparan sawah padi organik yang sedang menguning. Produk hilirisasi yang ditampilkan oleh P4S Al-Muklis yang diketuai H. Nono ini berupa eco-enzyme. Eco-enzyme dibuat dengan memanfaatkan limbah kulit buah dan sisa potongan sayuran dari rumah makan sehingga bisa disebut P4S Al-Mukhlis telah menerapkan pertanian ramah lingkungan zero waste. Eco-enzyme nantinya dijadikan tambahan nutrisi tanaman padi organik sehingga dihasilkan tanaman padi yang sehat dan produktivitasnya meningkat.

[caption id="attachment_1509" align="alignnone" width="300"]Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi Bersama Para Penyuluh Pertanian Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi Bersama Para Penyuluh Pertanian[/caption]

Baca juga: Kementan Gelar Training of Trainer Pupuk Subsidi, 50,987 SDM Pertanian Siap Tingkatkan Produktivitas Pertanian

Di penghujung kegiatan, Kepala Badan menyampaikan, “Hari ini, saya mengunjungi P4S Al-Mukhlis, ternyata produknya luar biasa dan implementasinya di lapangan juga keren!!. Pertanian organik yang diterapkan dengan memanfaatkan kotoran hewan jadi pupuk kompos, pestisida nabati, pembenah tanah dan produktivitasnya 6-7 hektar, luar biasa” ucap Dedi.

“Ternyata di sini ada yang sudah sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia hanya dengan menambahkan kohe, pupuk kompos dan ternyata mampu meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman padinya karena dipadupadankan antara pupuk organik dan eco-enzyme sebagai katalisator pertumbuhan tanaman dan hasilnya 12 ton/hektar,” tutur Dedi.

“Implementasi pertanian organik betul betul dilaksanakan di lapangan maka produktivitasnya akan melejit. Penyuluh dan petani jika mengimplementasikan eco-enzyme dipadukan dengan pertanian organik maka tanaman sehat, keuntungan berlipat,” jelas Dedi.

“Terima kasih kepada penyuluh pertanian dan P4S yang menggagas pertanian organik khususnya di Kecamatan Banjaran ini. Tetap semangatt!!,” ucap Dedi mengakhiri kunjungannya.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menambahkan agar pengelola P4S Al-Mukhlis bisa menguji eco-enzyme tentang kandungan nutrisi yang ada di dalamnya agar lebih menguatkan untuk pemanfaatannya bagi petani sekitar.

Dadang Kustiawan, salah seorang penyuluh yang hadir menyampaikan rasa terima kasih atas kunjungan Kepala BPPSDMP. “Ini menjadi motivasi kami penyuluh dan petani untuk terus mengembangkan pertanian yang berbasis organik dengan ditunjang teknologi dari eco-enzyme yg dikembangkan oleh P4S. Kami menjadi lebih semangat bekerja untuk meningkatkan produktivitas dengan pertanian yang berkelanjutan dan terintegrasi.”

Senada dengan yang disampaikan pengelola P4S Al-Mukhlis, Dadang Sulaeman. “Motivasi dari Kepala BPPSDMP akan kami tindaklanjuti dengan terus menerapkan pertanian organik, mengkombinasikan pupuk kompos, kohe dan eco-enzyme,” ucapnya. (Yoko/Che)

Kementan Gelar Training of Trainer Pupuk Subsidi, 50,987 SDM Pertanian Siap Tingkatkan Produktivitas Pertanian

TANIINDONESIA.COM//CIAWI – Sektor pertanian menjadi fokus utama Pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Tercatat pada triwulan ketiga tahun 2023, sektor pertanian mencatat pertumbuhan sebesar 1,46% dan memberikan kontribusi sebesar 13,57% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Keberhasilan ini tidak terlepas dari peran seluruh insan pertanian yang bekerja keras untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Dalam rangka meningkatkan produktivitas petani, Pemerintah telah meluncurkan berbagai upaya dukungan pada awal tahun 2024. Salah satunya adalah kemudahan dalam penebusan pupuk bersubsidi dengan menggunakan KTP. Selain itu, Pemerintah terus memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi dan menjaga keterjangkauan harga pupuk nonsubsidi.

Untuk mendukung percepatan tanam di masa tanam Oktober 2023-Maret 2024, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan untuk menambah alokasi pupuk subsidi sebanyak 14 trilyun dengan volume 7,2 juta ton.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran memastikan ketersediaan pupuk di Musim Tanam 1 ini cukup. “Pemerintah memastikan ketersediaan pupuk aman, maka petani fokus bertanam tanpa khawatir tidak ini mendapatkan pupuk bersubsidi. Kami (Kementan) dengan PIHC akan mengawal distribusi pupuk subsidi di musim tanam ini”, tegas Mentan.

Pada berbagai kesempatan, Mentan menegaskan bahwa pupuk adalah salah satu faktor penting dalam usaha tani. Maka dalam rangka peningkatan produktivitas pertanian nasional, khususnya untuk komoditas padi dan jagung. Pemerintah tetap berkomitmen untuk memberikan subsidi terhadap pupuk.

Untuk mendukung keberhasilan tersebut, maka diperlukan dukungan seluruh insan pertanian, tidak terkecuali untuk Penyuluh Pertanian, Dosen, Widyaiswara dan Guru.

Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSMP) melalui Pusat Pelatihan Pertanian (Puslatan) menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) “Pupuk Subsidi dan Peningkatan Produksi Padi dan Jagung Nasional” pada tanggal 20-22 Februri 2024.

Baca juga: Tingkatkan Produktivitas, Kementan Beberkan 5 Kunci Pemupukan

Kepala Puslatan, Muhammad Amin saat pembukaan Training of Trainer (TOT) Pupuk Subsidi dan Peningkatan Produksi Padi dan Jagung Nasional yang dilaksanakan di BBPMKP Ciawi melaporkan bahwa sebanyak 48.111 orang, terdiri dari 189 Widyaiswara, 253 Dosen, 63 Guru, dan 47.606, penyuluh pertanian (PNS, PPPK, THL Pusat, THL Daerah, THL Pendamping, dan Mantri Tani) di seluruh Indonesia akan mengikuti kegiatan TOT yang dilaksanakan secara hybrid ini (20/02/2024).

“Realisasi registrasi online peserta TOT saat ini mencapai 50.987 orang peserta dengan persentase mencapai 105,98 % dari target sasaran peserta sebesar 48.111 orang. Melalui TOT ini diharapkan peran SDM Pertanian seperti Widyaiswara, Dosen, Penyuluh Pertanian dan Guru untuk mendampingi petani dalam pengelolaan pupuk subsidi dan peningkatan produksi padi dan jagung Nasional berjalan sesuai dengan tujuan”, ungkap Amin.

Mewakili Mentan, Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi pada saat membuka Training of Trainer (TOT) Pupuk Subsidi dan Peningkatan Produksi Padi dan Jagung Nasional mengatakan sebagai insan pertanian, tugas kita bersama untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.

“Saudara-saudaraku Widyaiswara, Dosen, Penyuluh Pertanian dan Guru serta insan pertanian lainnya telah menjadi tanggung jawab dan tugas kita untuk meningkatkan produksi dan produktivitas produk pertanian khususnya padi dan jagung. Kita pastikan sarana dan prasarana seperti benih, bibit, pupuk, alsintan ada saat petani akan melakukan tanam. Kita harus hadir memberikan solusi atas permasalahan yang terjadi di lapangan”, pesan Dedi.

Dedi juga menekankan pentingnya inovasi dan teknologi dalam mendongrak produktivitas pertanian. Widyaiswara, Dosen, Penyuluh Pertanian dan Guru dan insan pertanian lainya merupakan pendamping petani, maka kita pastikan petani benar dan tepat dalam memilih benih dan bibit, penanganan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman, pemanfaatan IoT hingga proses panen dan pasca panen.

“Keberhasilan kebijakan Kementan memerlukan sinergi antara seluruh insan pertanian. Untuk itu diperlukan langkah awal dalam rangka peningkatan wawasan dan pemahaman serta penyamaan persepsi khususnya dalam tata kelola pupuk bersubsidi, efisiensi penggunaan serta penerapan inovasi pertanian lainnya sebagai alternatif pengganti pupuk kimia, khususnya dalam rangka mencapai swasembada padi dan jagung”, kata Dedi.

Narita salah seorang penyuluh pertanian dari kabupaten Bogor mengapresiasi penyelenggaraan TOT ini. “Ini merupakan sarana kami para penyuluh untuk meningkatkan pengetahuan terkait sektor pertanian khususnya terkait pupuk subsidi. Bersama dengan petani dilapangan kami akan menerapkan apa yang telah kami dapatkan selama pelatihan ini”, ungkapnya.(***)