8 Oktober 2026

Efisiensi Energi Rumah Sakit: Audit Temukan Potensi Hemat dari AC, Lampu hingga Lift

0
IMG-20261008-WA0022

TANIINDONESIA.COM, JAKARTA — Rumah sakit identik dengan pelayanan yang harus berjalan tanpa henti. Lampu menyala, ruang perawatan harus nyaman, sistem pendingin bekerja sepanjang hari, sementara berbagai peralatan medis tidak boleh berhenti hanya karena ingin menghemat listrik. Namun, audit energi di dua rumah sakit Muhammadiyah menunjukkan bahwa efisiensi justru bisa dimulai dari hal-hal yang selama ini luput diperhatikan.

Hasil audit energi di Rumah Sakit Islam Jakarta Pondok Kopi dan Rumah Sakit Islam Jakarta Sukapura yang dilakukan PT Langgeng Ciptalindo menemukan sejumlah peluang penghematan energi tanpa harus mengorbankan kualitas pelayanan pasien. Hasil tersebut dipaparkan dalam kegiatan Sekretariat Inkubator Investasi Proyek Efisiensi Energi, TENAGA-i (Transforming Energy Efficiency Network and Green Acceleration through Investment), Kamis (8/10/2026), di Jakarta.

Eko Sudarmawan, Koordinator Bimbingan Teknis dan Kerja Sama, Kementerian ESDM, mengatakan konservasi energi tidak semata-mata berbicara mengenai bagaimana energi diproduksi, tetapi juga bagaimana energi digunakan secara efisien.

“Konservasi energi itu memiliki dua sisi. Satu sisi penyediaan energi dan satu sisi lagi pemanfaatannya,” kata Eko.

Menurut dia, ruang untuk mendorong efisiensi energi sangat luas, mulai dari industri besar, gedung komersial, bandara, rumah sakit, sekolah, hingga bangunan dan rumah tangga. Karena itu, kerja sama antara pemerintah, lembaga, dan pengguna energi menjadi penting agar konservasi energi tidak berhenti pada regulasi, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari AC hingga Lift, Titik Efisiensi Mulai Terlihat

Temuan audit menunjukkan, konsumsi energi rumah sakit sangat dipengaruhi aktivitas pelayanan dan jumlah pasien. Karena itu, efisiensi tidak cukup dilakukan dengan sekadar mematikan peralatan, tetapi harus berbasis pada pola penggunaan energi dan kebutuhan pelayanan.

Di RS Islam Jakarta Sukapura, misalnya, lebih dari 70 persen penggunaan energi yang dianalisis berkaitan dengan sistem pendingin. Audit menemukan sekitar 33 persen unit pendingin masih berpotensi ditingkatkan dari AC bintang dua menjadi bintang lima. Perubahan tersebut dinilai memiliki potensi penghematan yang cukup besar.

Selain AC, auditor merekomendasikan penggantian lampu dengan LED, pemasangan shading untuk mengurangi panas matahari yang masuk ke bangunan, serta optimalisasi beban transformator untuk menekan kehilangan energi.

Langkah sederhana juga dapat memberi dampak. Pada malam hari, salah satu lift dapat dialihkan ke mode parking ketika aktivitas sudah menurun. Demikian pula dua unit AC di ruang tertentu dapat diatur menggunakan timer sehingga tidak terus bekerja ketika ruangan tidak lagi digunakan.

Sementara itu, di RS Islam Jakarta Pondok Kopi, audit menemukan peluang efisiensi pada sejumlah sistem pendukung. Di laboratorium, misalnya, pemasangan air curtain dapat mengurangi masuknya udara panas dari luar akibat tingginya frekuensi pintu dibuka-tutup. Sistem pemanas air juga berpotensi ditingkatkan dengan teknologi heat pump yang bekerja lebih efisien dibandingkan pemanas listrik konvensional.

Dua Rumah Sakit Diuji, Model Efisiensi Disiapkan untuk Direplikasi

Perwakilan 1000 Cahaya Muhammadiyah, Ahmad Farid, menilai hasil audit tersebut penting bukan hanya bagi dua rumah sakit yang menjadi lokasi kajian, tetapi juga sebagai pembelajaran bagi fasilitas Muhammadiyah lainnya.

“Dari dua rumah sakit ini, praktik efisiensi dan konservasi energi akan kembali kami bawa ke rumah sakit-rumah sakit Muhammadiyah yang lain,” ujar Farid.

Menurut dia, pendekatan tersebut memungkinkan hasil audit tidak berhenti sebagai dokumen teknis, melainkan berkembang menjadi gerakan yang dapat diterapkan lebih luas. Dengan demikian, pengalaman dua rumah sakit dapat menjadi rujukan bagi fasilitas Muhammadiyah lainnya dalam membangun sistem pengelolaan energi yang lebih efisien.

Auditor PT Langgeng Ciptalindo, Rusmanto, juga melihat kedua rumah sakit tersebut sebagai ruang belajar bersama. Audit dilakukan secara berdampingan agar temuan dan praktik di masing-masing rumah sakit dapat dibandingkan.

“Dari dua rumah sakit ini kita bisa melakukan benchmarking, kemudian saling belajar. Dari situ kita bisa copy paste, multiply ke rumah sakit yang lain,” kata Rusmanto.

Namun, pekerjaan berikutnya bukan sekadar mengganti perangkat. Audit merekomendasikan penguatan sistem manajemen energi di tingkat rumah sakit. Kebijakan energi yang selama ini masih banyak digerakkan dari pusat perlu diterjemahkan menjadi sistem yang lebih terstruktur di masing-masing fasilitas.

Komunikasi antara pengelola energi, teknisi, dan pengguna juga perlu diperkuat. Begitu pula sistem informasi dan pemantauan konsumsi energi agar penghematan yang diklaim dapat terus diukur dan diverifikasi.

Yang paling penting, efisiensi energi tidak boleh diterjemahkan sebagai pengurangan pelayanan. Rumah sakit tetap harus memberikan layanan terbaik kepada pasien. Prinsipnya bukan mengurangi kenyamanan, melainkan menghilangkan energi yang terbuang.

Dari sinilah audit energi menjadi lebih dari sekadar hitungan kilowatt-jam. Ia menjadi cara baru melihat bagaimana sebuah rumah sakit dapat tetap melayani masyarakat dengan baik sekaligus menggunakan energi secara lebih bijak.

Jika model ini berhasil diterapkan secara konsisten, dua rumah sakit tersebut bukan hanya menjadi objek audit, tetapi dapat menjadi laboratorium pembelajaran bagi rumah sakit Muhammadiyah lainnya. Efisiensi pun tidak lagi menjadi proyek sesaat, melainkan bagian dari tata kelola pelayanan yang lebih hemat, tangguh, dan berkelanjutan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *