9 Mei 2026

#BPPSDMP

Pelatihan Alsintan Kuatkan Peran Aktif Brigade Pangan Guna Wujudkan Swasembada Pangan

TANIINDONESIA.COM//KALIMANTAN TENGAH — Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menggelar Penyiapan Tenaga Kompeten Brigade Pangan (BP). Tahap 2 yang digelar selama bulan Mei dan Juni 2025, dilaksanakan sebanyak 60 angkatan.

Menurut Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, untuk mencapai swasembada pangan, Kementan memastikan akan fokus dalam upaya meningkatkan produksi pangan utama, dalam hal ini beras.

Dan salah satu yang digalakkan Kementan adalah optimalisasi lahan pertanian melalui pembentukan Brigade Pangan (BP).

“Brigade Pangan akan menjadi garda terdepan dalam mengelola dan mengoptimalkan lahan pertanian secara modern, profesional dan terampil dengan menjalankan usaha yang berorientasi bisnis dan menghasilkan pendapatan dan keuntungan,” kata Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan Brigade Pangan adalah garda terdepan dalam meningkatkan produksi pangan.

Selain itu, tugas Brigade Pangan adalah mengoptimalkan lahan tidur, dan mendukung pertanian berkelanjutan melalui pendekatan teknologi dan kelembagaan petani.

Baca juga:

UPT Pelatihan Kementan Dorong Sekolah Agribisnis Fokus pada Pengolahan Hasil Pertanian

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang, Ajat Jatnika, menyampaikan Brigade Pangan yang sudah terbentuk penting untuk ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan-pelatihan agar dapat berperan aktif memastikan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan.

Penyiapan Tenaga Kompeten Brigade Pangan (BP) tahap 2 sebanyak 60 angkatan, diikuti peserta dari beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu Kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Kapuas, Katingan, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, dan Seruyan. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari untuk masing-masing angkatan.

Selama 3 hari pelatihan, peserta memperoleh materi inti tentang pengolahan lahan menggunakan traktor roda 2, pengolahan lahan menggunakan traktor roda 4, pengenalan, pengoperasian, perawatan, dan pemeliharaan mesin panen kombinasi (combine harvester), dan laporan usahatani.

Salah seorang peserta, Burhanudin, dari BP Makmur Tani Kecamatan Bataguh Kabupaten Kapuas, Rabu (4/6/2025) mengatakan pelatihan sangat bermanfaat.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami dan menambah wawasan untuk pengolahan lahan padi. Ini menjadi bekal kami untuk mendukung program swasembada pangan,” tuturnya.(***)

Milenial Papua Antusias Praktikkan Agribisnis Tanaman Jagung

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian, melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, memperkenalkan sektor pertanian kepada 25 siswa kelas V Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Jayawijaya, Papua, yang datang berkunjung, Rabu (14/5/2025). Pada kunjungan yang ketiga ini, para siswa diajak mempelajari agribisnis tanaman jagung.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun pertanian Indonesia.

Ia mengajak anak muda untuk terlibat dalam sektor pertanian sebagai pilar keberlanjutan pangan nasional.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyebut jika petani-petani yang ada saat ini sudah semakin tua. Oleh sebab itu, ia menegaskan jika regenerasi petani sangat dibutuhkan.

"Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, diberbagai kesempatan mengatakan komitmennya meningkatkan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu upaya mencapai swasembada pangan, maka Kementan melalui BBPP Lembang sebagai UPT pelatihan berkomitmen meningkatkan kompetensi SDM pertanian sebagai penggerak utama," ujar Ajat.

"Selain itu, perlu menyiapkan generasi muda sebagai penerus penggerak pembangunan pertanian melalui regenerasi petani muda, salah satunya melalui kegiatan kunjungan atau agroeduwisata,” jelasnya lagi.

Baca juga:

Masifkan Regenerasi, Kementan Fasilitasi Praktik Kerja Mahasiswa Bengkulu

Dalam kunjungannya, rombongan Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Jayawijaya diajak ke lahan terbuka di Inkubator Agribisnis.

Widyaiswara mengenalkan budidaya tanaman jagung manis mulai dari pengolahan lahan, penanaman dan pemeliharaan.

Anak-anak juga antusias menanam benih jagung ke dalam lubang-lubang tanam yang telah disiapkan petugas dan memberikan pupuk dasar agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Selanjutnya, di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, petugas laboratorium mengenalkan konsep pengolahan hasil pertanian sayuran, yaitu es krim jagung.

Pertama-tama, dikenalkan bahan pembuatannya yaitu jagung manis, susu cair, kental manis, telur, air, dan bahan pengembang SP. Lalu, dikenalkan peralatan yang digunakan untuk membuat dan langkah pembuatannya.

Secara bergantian, gen Z dari ujung timur Indonesia ini membuat es krim jagung, mulai dari mencampurkan semua bahan, menghaluskan menggunakan blender, memasak, memixer adonan beku sebelum dikemas ke dalam kemasan cantik yang bila dijual seharga Rp 5.000,00.

Menerapkan pertanian di sektor hilirisasi diyakini dapat menghasilkan keuntungan berlipat karena bertujuan meningkatkan nilai tambah produk dan memperpanjang masa simpan produk pertanian. (yoko/che)

Jadikan Nilai Tambah Perekonomian, Mahasiswa Polbangtan Kementan Kelola Sampah Dapur

TANIINDONESIA.COM//JEPARA - Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan gerakan mengompos. Upaya ini dilakukan untuk mengedukasi ibu-ibu rumah tangga di Desa Bakalan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupatan Jepara, Jawa Tengah untuk mengolah sampah rumah tangga.

Pengelolaan sampah organik organik menjadi kompos diharapkan bisa dikembangkan masyarakat. Supaya memiliki nilai tambah dalam perekonomian, melalui pengolahan dengan skala yang lebih besar dan bisa dikomersialkan.

Hal ini sesuai ajakan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman agar mahasiswa Polbangtan/PEPI untuk menjadi penggerak utama inovasi dan pencipta lapangan kerja di sektor pertanian modern.

“Mahasiswa berperan penting sebagai ujung tombak masa depan bangsa, dengan kemampuan menciptakan teknologi baru yang dapat menjadi acuan bagi pertanian global,” ucap Mentan Amran.

Ia mendorong mahasiswa untuk menghasilkan inovasi yang tidak hanya mendukung swasembada pangan nasional tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya kesiapan SDM dalam menggerakkan sistem pertanian modern.

“SDM pertanian adalah kunci. Kami terus mendorong pelatihan teknologi tepat guna, pelibatan petani milenial, dan penguatan kelembagaan”, ujarnya.

Oleh Ilham Catur Darmawan, mahasiswa Semester 8 Program Studi Agribisnis Hortikultura Polbangtan YOMA, sampah dapur berhasil diolah menjadi pupuk bernilai ekonomi yang cukup tinggi.

Catur mempunyai ketertarikan kuat pada budidaya pekarangan rumah. Dari sana, Ia mulai mempelajari pemanfaatan limbah menjadi pupuk kompos/pupuk cair.

“Dari situ muncul keinginan untuk lebih lanjut lebih peduli pada lingkungan, mulai dari menyisihkan sampah organik sampai membuat lingkungan yang tidak hanya bersih tapi juga enak dilihat (estetik),” tuturnya.

Baca juga:

Kenalkan Industri Pertanian, Polbangtan Kementan Jajaki Kerjasama dengan SMK Bansari Temanggung

Ia pun mengajak ibu-ibu rumah tangga yang bergabung di KWT Den Ayu Putri Desa Bakalan untuk mengolah sampah dapur.

“Gerakan pengolahan limbah organik menjadi kompos ini bertujuan untuk mengelola sampah organik yang sebelumnya hanya sekedar tertimbun di suatu lokasi. Yang bisa berpotensi membahayakan lingkungan sekitar,” papar Catur yang juga merupakan anggota Jepara Green Generation.

Ia pun menggandeng Yayasan Penguatan Partisipasi, Inisiatif, dan Kemitraan Masyarakat Indonesia (YAPPIKA) untuk mendanai gerakan mengompos ini.

“Saya menggunakan metode pengolahan anaerob. Untuk medianya saya coba bergantian. Pernah menggunakan bak dari harbel, ember tumpuk, compostbag, raised bed, biopori di planterbag, atau sekedar ditimbun di suatu tempat”, ungkapnya.

Ia menilai kebutuhan pupuk kompos memiliki permintaan pasar yang cukup besar.

Dewi Triana Novarani, Penyuluh Pertanian BPP Kalinyamatan merespon baik gerakan ini.

“Permasalahan sampah ini sebenarnya bisa diminimalisir dari rumah masing-masing, terutama ibu-ibu yang suka memasak tentunya limbahnya itu bisa dikelola dengan baik,” papar Dewi.

Ia menyebut pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos ini merupakan salah satu upaya untuk menghemat pengeluaran dalam budidaya tanaman.

“Terlebih lagi ibu-ibu KWT pada suka menanam tanaman di pekarangan, tentunya membutuhkan pupuk untuk tanamannya.” tuturnya.(***)

Tingkatkan Hasil Panen, Penyuluh Kulon Progo Terapkan Metode Alternatif Pruning

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA -Pruning atau pemangkasan pada tanaman padi terbukti meningkatkan produktivitas tanaman padi di Bantar Kulon, Banguncipto, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di lahan yang dikelola oleh BPP Sentolo ini, penyuluh dan sejumlah pihak terkait melakukan panen dari hasil ujicoba pruning pada Rabu (16/4/2025).

Penyuluh bergembira dengan hasil yang diperoleh. Dengan perlakuan pruning, terlihat peningkatan produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 1,12 ton/ha dibandingkan dengan budidaya padi tanpa pruning.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya inovasi sebagai solusi penting dalam memastikan ketahanan pangan Indonesia.

"Inovasi ini sangat penting dalam menghadapi tantangan global, terutama dalam menjaga ketahanan pangan di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan beras nasional," kata Mentan .

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) sangat berbangga bahwa ternyata banyak inovasi yang terus dikembangkan.

“Kementan mendorong intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi melalui peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul, teknologi lainnya dan inovasi,” papar Idha.

Penerapan pruning ini menjadi salah satu inovasi untuk mensiasati lahan sempit di wilayah DI. Yogyakarta.

Baca juga:

https://taniindonesia.com/2025/04/18/kementan-perkuat-ketahanan-pangan-nasional-lewat-brigade-pangan/

Menurut Hendro Santoso, Koordinator BPP Sentolo, pruning cocok untuk dikembangkan di wilayahnya.

“Di lahan praktik ini, kami menanam 2 varietas padi, yakni Ciherang dan Mapan P05. Dengan perlakuan pruning, varietas Mapan P05 bisa menghasilkan 14,08 ton/ha. Sedangkan tanpa pruning, hanya menghasilkan 12,16 ton/ha,” papar Hendro.

Sedangkan pada varietas Ciherang, Hendro mengatakan dengan perlakuan pruning bisa menghasilkan 7,04 ton/ha. Tanpa pruning, hanya menghasilkan 6,08 ton/ha.

“Kami menyimpulkan pruning tanaman padi bisa meningkatkan produktivitas, namun masih ada potensi mendongkrak lebih dengan pertimbangan varietas dan kecukupan nutrisi tanaman,” ucap Hendro.

Hal ini mendapat dukungan dari Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, Drajat Purbadi.

“Bupati menegaskan Kulon Progo akan menjadi lumbung pangan. Untuk itu, kita harus punya banyak kreatifitas,” kata Drajat.

Ia menyebut Kulon Progo tahun ini hanya bisa cetak sawah 10 ha, karena sulitnya penambahan luas lahan.

“Kita harus meningkatkan produktivitas, melalui pertanian presisi. Dengan pemberian pupuk secara tepat bisa menjadi percontohan di tingkat nasional,” ujarnya.

Direktur Polilteknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA). R. Hermawan yang hadir pada kesempatan ini menyambut baik inovasi pruning yang diinisiasi oleh Hendro, salah satu alumninya.

“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan berkolaborasi dengan BPP Sentolo. Untuk terus meningkatkan produktivitas padi. Utamanya untuk mencapai swasembada pangan nasional, pungkasnya. (os)

Regenerasi Petani, Kementan Dukung Peningkatan Kapasitas Generasi Z

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Sembilan siswa kelas XII dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri I Losarang, Kabupaten Indramayu, melaksanakan praktik kerja di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang selama 3 bulan, 16 Desember 2024 sampai 20 Maret 2025.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mendukung kegiatan tersebut. Menurutnya, peran generasi muda dalam membangun pertanian Indonesia sangat penting.

Mentan Amran menambahkan, Indonesia membutuhkan pemuda yang tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter kuat menghadapi tantangan dunia.

“Dengan karakter yang kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras, pemuda Indonesia bisa menjadi ujung tombak mewujudkan swasembada pangan dan mengantarkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia,” tutur Amran.

“Mari bersama kita wujudkan cita-cita besar ini. Indonesia tidak hanya swasembada, tetapi menjadi bangsa yang mampu memberi makan dunia,” imbuhnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan petani-petani yang ada saat ini sudah semakin tua.

"Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan,” kata Santi.

Sementara Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, disetiap kesempatan mengingatkan bahwa salah satu upaya mencapai swasembada pangan, dengan meningkatkan kompetensi SDM pertanian sebagai penggerak utama.

“Perlu menyiapkan generasi muda sebagai penerus penggerak pembangunan pertanian melalui regenerasi petani muda, salah kegiatan praktik kerja lapangan,” jelasnya lagi.

Baca juga:

https://taniindonesia.com/2025/03/13/antusiasnya-warga-lembang-terhadap-gerai-pasar-pangan-murah-kementan/

Ajat meyakini dengan pendidikan formal yang dijalani para generasi muda di sekolah menengah kejuruan pertanian, akan menjadi kelebihan saat nanti menekuni dunia pertanian baik di dunia usaha dan dunia industri.

“Pertanian itu keren, apalagi dengan memanfaatkan teknologi karena generasi muda saat ini adaptif dengan teknologi. Ayo tekuni dunia pertanian karena pertanian tidak boleh berhenti dan menjadi tanggung jawab bersama untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh masyarakat Indonesia,” tuturnya.

Siswa-siswi SMK Negeri 1 Losarang, Kabupaten Indramayu, melaksanakan praktik kerja di beberapa zona praktik di Inkubator Agribisnis BBPP Lembang.

Zona praktik meliputi, sayuran lapang tanaman brokoli, pakcoy, selada keriting, budidaya pakcoy secara hidroponik sistem DFT, budidaya tomat beef secara hidroponik sistem irigasi tetes, budidaya anggur, dan pascapanen pengolahan kopi.

Setelah 3 bulan melakukan praktik kerja, dilaksanakan seminar hasil.
Kegiatan dihadiri oleh widyaiswara BBPP Lembang, Manajer Inkubator Agribisnis, petugas pendamping di lapangan, serta siswa dan mahasiswa lain yang juga sedang praktik di BBPP Lembang.

Secara bergantian, mereka memaparkan hasil praktik kerja.
Pelepasan kegiatan praktik kerja dilakukan Kamis (20/3/2025) oleh tim manajemen BBPP Lembang.

“PKL di BBPP Lembang membuat kami jadi banyak mengenal aneka tanaman yang dibudidayakan dengan berbagai metode baik konvensional dan teknologi hidroponik,” kata Rendi Sepino, salah seorang peserta, saat ditemui setelah pelepasan.

Hal senada disampaikan siswa lainnya, Urip Ramadhan. Ia mengatakan selama PKL jadi mengenal banyak teman dari berbagai sekolah dan kampus.

“Seruuuu praktik kerja di sini, kami diterima dengan baik dan semua pembimbing mendampingi kami dengan sabar,” ujar Urip.(***)

Kejar Swasembada Pangan, UPT Pelatihan Kementan Latih Brigade Pangan Provinsi Kalimantan Tengah

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian, melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menyelenggarakan Training of Trainers Mendukung Brigade Pangan Angkatan 1 dan 2, yang dilaksanakan secara hybrid.

Sesi daring (online) mulai tanggal 11 – 13 Maret 2025 dan sesi luring (offline) tanggal 18 – 21 Maret 2025 bertempat di Asrama Haji Kota Palangkaraya Kalimantan Tengah.

Kegiatan dibuka resmi oleh Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Kementerian Pertanian secara daring, Selasa (11/3/2025). Hadir pada pembukaan, Kepala Balai didampingi tim manajemen dan widyaiswara BBPP Lembang serta seluruh peserta pelatihan.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan Brigade Pangan adalah langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional.

Program ini juga diharapkan dapat mewujudkan swasembada pangan Indonesia.

“Pendampingan yang efektif penting untuk memastikan keberhasilan program ini. Kementan melibatkan penyuluh pertanian untuk mendampingi brigade pangan,” ujar Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan brigade pangan sudah terbentuk dibeberapa wilayah di Indonesia yang diharapkan dapat meningkatkan indeks pertanaman.

“Kami mengharapkan dukungan para penyuluh pertanian, sebagai ujung tombak untuk membantu mendorong dan mendesiminasikan inovasi kepada patani agar kesejahteraan yang menjadi target utama dapat terwujud,” ungkapnya.

Baca juga:

https://taniindonesia.com/2025/03/08/temukan-3-perusahaan-minyakita-sunat-volume-mentan-amran-minta-tutup-dan-segel-perusahaannya/

Kepala Pusat Pelatihan, Inneke Kusumawaty, saat membuka pelatihan menyampaikan bahwa dari berbagai materi yang akan diberikan selama pelaksanaan TOT.

Pada materi pencatatan dan analisa usahatani, para brigade pangan diharapkan mampu mengakses pembiayaan KUR sebagai upaya peningkatan produksi dan produktivitas pangan.

“Saya juga berharap pendamping brigade pangan bersama dengan para petani melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak agar saat mengelola lahan 200 hektar, bisa bekerja sama dengan poktan lain untuk operasional alsintan karena tujuan pembentukan brigade pangan untuk meningkatkan indeks pertanaman," katanya.

“Brigade Pangan dibentuk, didampingi, diberikan bantuan alsintan. Bergerak di budidaya, pascapanen bahkan diharapkan hingga hilirisasi agar memiliki pendapatan yang layak, mampu mandiri dan memiliki daya saing sehingga swasembada pangan terwujud,” tutur Inneke lagi.

Training of Trainers diikuti 60 orang yang terbagi menjadi 2 angkatan. Peserta berasal dari 10 kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, sebagai salah satu dari 14 provinsi wilayah program brigade pangan Kementerian Pertanian.

Selama berlatih, peserta akan menerima materi yang terbagi menjadi 3 kelompok materi, yaitu materi kelompok dasar, kelompok inti, dan kelompok penunjang.

Untuk kelompok inti, ada 7 materi yaitu pemeliharaan padi lahan rawa, penanganan pascapanen, pengoperasian TR 2, pengoperasian drone, pengoperasian combine harvester, pengelolaan usaha jasa alsintan, dan proposal agribisnis berorientasi bisnis.

Fasilitator pelatihan berasal dari widyaiswara BBPP Lembang, BSIP Lahan Rawa Kalimantan Selatan, PEPI Serpong, Dinas Pertanian Kabupaten Pulang Pisau, dan PT. Maxxi Kalimantan Tengah.

Dukung Swasembada Pangan, Kementan Asah Kompetensi Gen Z

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian, melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menggelar Pelatihan Agribisnis Jagung bagi Non Aparatur, 9 – 14 Desember 2024. Kegiatan diikuti 30 siswa-siswi yang sedang Praktik Kerja Lapangan di BBPP Lembang.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya peran generasi muda membangun pertanian Indonesia.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan pemuda yang tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter kuat menghadapi tantangan dunia.

“Dengan karakter yang kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras, pemuda Indonesia bisa menjadi ujung tombak mewujudkan swasembada pangan dan mengantarkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia,” tutur Amran.

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti. Menurutnya, petani-petani yang ada saat ini sudah semakin tua.

Baca juga:

https://taniindonesia.com/2024/12/16/kementan-perkuat-kompetensi-penyuluh-pertanian-indramayu/

"Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menegaskan jika pihaknya berkomitmen mencetak generasi muda agar mampu menjadi wirausaha muda melalui berbagai program peningkatan kompetensi SDM pertanian.

Selama pelatihan, widyaiswara BBPP Lembang sebagai fasilitator pelatihan memberikan rangkaian materi budidaya tanaman jagung, mulai dari Persiapan Benih, Persiapan Lahan, Penanaman dan Pemupukan.

Materi lainnya adalah Pemeliharaan, Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu, Panen dan Pascapanen Jagung, Pengolahan Hasil Jagung, Analisa Usahatani, Pemasaran/Peluang Bisnis Komoditas Jagung, dan Media Pembelajaran.

Peserta dari SMKN I Terisi Kabupaten Indramayu, Lufiatun Jaenah, mengaku beruntung bisa memperoleh pelatihan gratis.

“Mengikuti pelatihan ini saya jadi bisa mengetahui tentang agribisnis jagung. Bapak dan ibu widyaiswara juga menyampaikan materi yang mudah dipahami sehingga suasana pembelajaran juga mengasyikkan,” ujarnya, saat penutupan pelatihan, Kamis (14/12/2024).(***)

Kementan Kibarkan Genta Organik di Bumi Cendrawasih

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian meluncurkan Gerakan Tani Pro Organik (Genta Organik) sebagai solusi untuk petani Indonesia atas mahalnya harga pupuk. Genta Organik meliputi penggunaan pupuk organik, penggunaan pupuk hayati, penggunaan pembenah tanah, dan pemupukan berimbang.

Tak hanya sebagai solusi atas mahalnya pupuk, program Genta Organik juga dirancang sebagai upaya untuk rehabilitasi tanah. Sebab, eksploitasi lahan pertanian secara intensif yang berlangsung secara terus-menerus selama bertahun-tahun telah mengakibatkan penurunan kesuburan dan sifat fisik maupun kimia tanah.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, dalam pertanian, menjadi kewajiban petani untuk memelihara tingkat kesuburan tanah. "Kalau kesuburan turun, mikroba turun, produksi juga akan turun. Kita berharap produksi terus meningkat. Caranya, perbaiki pupuk kita jangan pupuk kimia saja. Kita dahului beri makan dan nutrisi tanah dengan pupuk organik, hayati dan pembenahan tanah," jelasnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan, Genta Organik merupakan gerakan yang mendorong petani untuk memproduksi pupuk organik, pupuk hayati, dan pembenah tanah secara mandiri.

"Genta organik tidak berarti mengharamkan penggunaan pupuk anorganik. Boleh menggunakan pupuk kimia, tapi dengan ketentuan tidak berlebihan atau mengikuti konsep pemupukan berimbang," tutur Dedi.

Dikatakannya, salah satu upaya Kementan untuk mendukung petani dalam menyediakan pupuk organik secara mandiri, salah satunya dengan memfasilitasi kegiatan Pelatihan Manajemen Pengembangan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO).

Regenerasi Petani, Kementan Bangkitkan Minat dan Perkuat Kompetensi Gen-Z

Sebagaimana diketahui, pemberian pupuk kimia (anorganik) secara terus-menerus untuk mengejar tingkat produktivitas, tanpa diimbangi dengan upaya-upaya memperbaiki kondisi fisik tanah melalui penambahan bahan organik menyebabkan kandungan bahan organik tanah menurun, kerusakan struktur tanah dan aerasi tanah berkurang.

Hal ini mengakibatkan penurunan kemampuan tanah dalam menyimpan dan melepaskan hara dan air bagi tanaman, sehingga mengurangi efisiensi penggunaan pupuk dan air irigasi, kondisi ini dikenal sebagai tanah sakit (soil sickness).

Menyikapi terjadinya degradasi mutu lahan pertanian tersebut, salah satu upaya yang dilakukan yaitu dengan meningkatkan penggunaan pupuk organik. Pupuk organik berperan penting dalam perbaikan sifat kimia, fisika dan biologi tanah serta sebagai sumber nutrisi tanaman.

Pupuk organik yang telah dikomposkan dapat menyediakan hara dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan dalam bentuk segar, karena selama proses pengomposan telah terjadi proses dekomposisi yang dilakukan oleh beberapa macam mikroba. Sumber bahan kompos antara lain berasal dari limbah organik seperti sisa-sisa tanaman (jerami, batang dan dahan), sampah rumah tangga serta kotoran ternak (sapi, kerbau, kambing, ayam).

Dalam kerangka itu pula, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang bekerjasama dengan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Peternakan dan Perikanan (Dinas TPHPP) Kabupaten Boven Digoel Provinsi Papua menyelenggarakan pelatihan ini yang dilaksanakan selama lima hari efektif mulai 11-15 April 2023. Ada lima orang peserta yang merupakan petani pengelola UPPO.

Kegiatan Pelatihan Manajemen Unit Pengelolaan Pupuk Organik (UPPO) dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan peserta pelatihan dalam meningkatkan produktivitas dan produksi usaha taninya. Serta meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani dan mendukung program pemerintah di bidang pertanian, yaitu Genta Organik (Gerakan Tani Pro Organik).

Acara sendiri dibuka oleh Kepala Balai, Ajat Jatnika didampingi Sub Koordinator dan Widyaiswara BBPP Lembang. Dikatakan Ajat, pihaknya terus berupaya agar kompetensi SDM meningkat, di mana tujuan akhirnya adalah meningkatkan produktivitas pertanian.

“Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelatihan, BBPP Lembang diharapkan dapat memberi dampak kepada stakeholder dalam hal peningkatan kompetensi SDM serta produksi dan produktivitas pertanian,” kata Ajat saat membuka pelatihan secara resmi.

Selama berlatih, peserta memperoleh materi secara klasikal dan praktik dari fasilitator Widyaiswara BBPP Lembang dan Ketua P4S terpadu Ikamaja, tentang pertanian organik, mulai dari pembuatan aktivator, mikroorganisme lokal dan eco-enzime, pembuatan pupuk organik dan pembuatan kompos mix hayati (kom-mix hayati) dan pemasaran pupuk organik, serta materi manajemen Unit Pengelolaan Pupuk Organik ( UPPO).

Untuk diketahui, poin penting dalam pengelolaan UPPO adalah manajemen SDM, manajemen ternak, manajemen limbah ternak dan manajamen pemasaran. Peserta praktik membuat activator, mikro organisme lokal (MOL), dan eco-enzyme dari kulit buah-buahan.
Untuk benchmarking pengelolaan Unit Pengelola Pupuk Organik (UPPO) yang sudah berjalan dengan baik, dilaksanakan kunjungan lapang di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Terpadu Ikamaja Kabupaten Garut.

Kepala Bidang TPHPP, Afredy Boyke menyampaikan, pelatihan ini sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman kepada petani cara membuat pupuk organik yang baik dan berkualitas, efisien dan memiliki nilai jual. "Peserta sangat antusias dan semangat mengikutinya karena ini memberikan pemahaman baru untuk petani di Kabupaten Boven Digoel,” ungkapnya. Fredy juga menyampaikan harapannya, sepulang dari belajar di BBPP Lembang petani dapat menerapkan materi pelatihan di UPPO masing-masing. (Yoko/Che)