15 Oktober 2026

Perkuat Regenerasi Petani, 6.000 Pemuda Pekalongan Disiapkan Jadi Petani Muda

0
IMG-20261014-WA0023

TANIINDONESIA.COM, PEKALONGAN – Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan strategis dalam pembangunan pertanian nasional. Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten Pekalongan bersama Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta-Magelang (Polbangtan Yoma) memperkuat upaya peningkatan kapasitas generasi muda melalui proyek pengembangan kewirausahaan dan ketenagakerjaan di sektor pertanian, dengan target menjangkau 6.000 pemuda di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.

Komitmen kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Bupati Pekalongan Sukirman dan Direktur Polbangtan Yoma R. Hermawan di Kantor Bupati Pekalongan, Senin (12/10/2026).

Melalui kerja sama ini, kedua pihak akan memperkuat pengembangan kapasitas generasi muda, mulai dari pendataan calon peserta, pelatihan, pendampingan, hingga pengembangan kewirausahaan di sektor pertanian. Program ini diharapkan membuka peluang bagi lebih banyak pemuda untuk menjadikan pertanian sebagai bidang usaha yang produktif dan menjanjikan.

Sasaran program mencakup pemuda berusia 17–39 tahun, termasuk penganggur, penyandang disabilitas, anak panti, pemuda putus sekolah, serta masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil. Pelibatan kelompok tersebut diharapkan memperluas akses terhadap pelatihan, pendampingan, dan peluang pengembangan usaha pertanian.

Pendataan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) direncanakan dimulai pada 2026, sedangkan pelatihan dan pendampingan secara penuh dijadwalkan mulai Januari 2027. Kerja sama yang direncanakan berlangsung hingga 2029 ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat regenerasi petani sekaligus mendorong tumbuhnya wirausaha muda di sektor pertanian.

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen Kementerian Pertanian (Kementan) dalam memperkuat keterlibatan generasi muda pada pembangunan pertanian. Regenerasi petani tidak hanya diperlukan untuk menjaga keberlanjutan usaha tani, tetapi juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan produktivitas dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam mentransformasi sektor pertanian menjadi usaha yang modern dan berorientasi bisnis.

“Bangunkan lahan tidur, hidupkan pemuda, hidupkan desa. Jadilah teladan. Kalau pertanian dikelola secara modern dan profesional, saya yakin akan lahir semakin banyak pengusaha besar dari sektor pertanian Indonesia,” ujar Mentan Amran.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia merupakan fondasi penting bagi transformasi pertanian.

“Regenerasi petani tidak cukup hanya dengan mendorong anak muda masuk ke sektor pertanian, tetapi juga harus memastikan mereka memiliki kompetensi, akses terhadap pendampingan, dan kemampuan mengembangkan usaha. Melalui program ini, kita berharap semakin banyak petani muda yang adaptif, profesional, mandiri, dan mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas serta nilai tambah usaha pertanian,” paparnya.

Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan, mengatakan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Pekalongan merupakan bagian dari upaya memperluas kontribusi pendidikan vokasi pertanian dalam menyiapkan generasi muda yang kompeten dan berjiwa wirausaha.

“Melalui program ini, kami ingin mendorong semakin banyak generasi muda yang melihat pertanian sebagai peluang usaha yang menjanjikan,” tegasnya.

Ia menambahkan, Polbangtan Yoma siap memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui peningkatan kapasitas, pendampingan lapangan, pengembangan kewirausahaan, serta pemanfaatan inovasi dan teknologi pertanian.

Dengan dukungan tersebut, petani muda diharapkan tidak hanya mampu menjalankan usaha tani, tetapi juga mengembangkan bisnis pertanian yang berdaya saing dan berkelanjutan.

“Sinergi dengan pemerintah kabupaten diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara pendidikan, pelatihan, pendampingan lapangan, dan kebutuhan nyata pelaku usaha pertanian,” ujarnya.

Sementara itu, Plt. Bupati Pekalongan Sukirman menyatakan bahwa kerja sama ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mendukung program pemerintah pusat, khususnya pengembangan generasi muda di sektor pertanian.

“Tentu ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pembangunan pertanian di Kabupaten Pekalongan. Kita menjadi satu supporting system bersama untuk mendukung perhatian pemerintah pusat. Masalah ketahanan pangan menjadi konsentrasi penuh Bapak Presiden dan ditindaklanjuti oleh Menteri Pertanian melalui program ini,” ujar Sukirman.

Ia menjelaskan, pada 2025 luas panen padi di Kabupaten Pekalongan mencapai 40.923 hektare dengan produksi sekitar 213.561 ton. Sementara itu, luas Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) yang telah ditetapkan mencapai 17.261,97 hektare.

Menurut Sukirman, potensi pertanian tersebut perlu diimbangi dengan upaya regenerasi petani. Saat ini, sebagian besar petani berusia lanjut, sedangkan minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian masih perlu ditingkatkan.

“Lahan yang dilindungi terancam tidak tergarap jika tidak ada proses regenerasi. Melalui program ini, kita harapkan pemuda desa usia 17–39 tahun, termasuk yang putus sekolah, penyandang disabilitas, dan di wilayah terpencil, tertarik mengembangkan usaha tani,” tegasnya.

Untuk memastikan pelaksanaan program berjalan optimal, Sukirman juga meminta pembentukan tim koordinasi tingkat kabupaten serta forum multipihak yang melibatkan perbankan, dunia usaha, penyuluh, dan lembaga pendidikan. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap pelatihan, akses pembiayaan, pendampingan, dan pengembangan usaha petani muda.

Melalui kerja sama ini, upaya regenerasi petani di Kabupaten Pekalongan diharapkan semakin terarah dan berkelanjutan. Dengan kompetensi, pendampingan, serta dukungan ekosistem usaha yang memadai, generasi muda diharapkan mampu menjadi petani sekaligus wirausaha pertanian yang mandiri, inovatif, dan berdaya saing, sehingga berkontribusi dalam mewujudkan pertanian Indonesia yang maju, mandiri, modern, dan berkelanjutan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *