24 Mei 2024

Terapkan Teknologi, Kementan Komitmen Tingkatkan Kapasitas SDM Pertanian

0

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) c.q Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, terus-menerus berupaya meningkatkan kapasitas SDM pertanian. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, di setiap kesempatan menyampaikan pentingnya peran SDM pertanian menggerakkan pembangunan pertanian di Indonesia.

Terpisah Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi meminta seluruh insan pertanian baik petani, petani milenial, kelompok tani, kelompok wanita tani, gapoktan, penyuluh, Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya, bergerak aktif berkontribusi dan berkolaborasi untuk meningkatkan kemajuan pertanian di Indonesia yang berkelanjutan.

Lima puluh orang anggota Gapoktan Rezky Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang mengunjungi BBPP Lembang, Kamis (3/5/2024).

Rombongan diterima secara resmi oleh Tim Manajemen dan Widyaiswara BBPP Lembang.
Widyaiswara BBPP Lembang, Hendra Gunawan, yang memberikan materi pembibitan kentang G0 secara hidroponik sistem aeroponik.

Hendra yang juga pelaku pembibitan kentang sistem aeroponik, membagikan pengalamannya bertani kentang selama ini.

Baca juga: Peran Penting P4S, Dorong Peningkatan Kompetensi SDM Pertanian di Perdesaan

“Saya melakukan pembibitan kentang di atas lahan seluas 400m2. Ribuan tanaman kentang bisa ditanam dan menghasilkan produksi yang baik karena umbi kentang bisa dijual dengan harga Rp1.500 – Rp2.000 per knol dan ini sangat menguntungkan,” ujarnya.

Dirinya menjelaskan budidaya kentang dengan sistem aeroponik, diharapkan dapat meningkatkan produksi tanaman kentang di Indonesia.

Hendra menjelaskan perbedaan pembibitan kentang secara konvensional dan aeroponik, salah satunya dengan aeroponik umbi siap panen pada usia 96 hari, berbeda dengan metode konvensional yang membutuhkan waktu lebih lama 120 hari baru bisa dipanen.

Peserta bergerak menuju screen house aeroponik kentang di Inkubator Agribisnis BBPP Lembang. Hendra menjelaskan proses pembibitan kentang, diawali dari planlet kentang hasil teknologi kultur jaringan di Laboratorium Kultur Jaringan BBPP Lembang.

“Kunci budidaya secara hidroponik harus memperhatikan kualitas air, tidak boleh mengandung unsur logam dan pH harus normal nilainya 5,6 – 6 serta melakukan pengecekan nutrisi secara rutin. Karena itu untuk pembudidaya hidroponik wajib memiliki peralatan pH dan TDS meter,” katanya.

Perwakilan peserta, Siyono, mengatakan “Kami bersyukur sekali telah memperoleh ilmu tentang budidaya tanaman kentang secara aeroponik. Ini belum pernah kami peroleh sebelumnya dan sangat menarik bagi kami belajar tentang aeroponik dan bisa dipahami dengan baik. Akan kami coba terapkan di gapoktan kami nantinya.(***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *