21 April 2026

Bulan: Februari 2024

Ketahanan Pangan, Kementan Bagi Puluhan Ribu Bibit Cabai untuk Masyarakat DIY

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kementerian Pertanian, melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang, menargetkan pembagian bibit komoditas pertanian strategis, utamanya cabai sebanyak 75 ribu. Pembagian bibit ini merupakan bagian dari upaya untuk menjaga ketahanan pangan

Pembagian bibit cabai tersebut dilakukan Polbangtan Yogyakarta Magelang, Kamis (15/2/2024), di Teaching Factory Celeban. Polbangtan Kementan ini melaksanakan pembagian bibit tahap dua yaitu sebanyak 10 ribu bibit cabai untuk masyarakat wilayah provinsi DI Yogyakarta.

Satu pekan sebelumnya, Polbangtan Yogyakarta Magelang juga telah membagikan bibit cabai di wilayah Kabupaten dan Kota Magelang sebanyak 15 ribu.

Kegiatan turut dihadiri oleh Walikota Kota Yogyakarta, ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Yogyakarta, Staf Ahli Bupati Bantul, Ketua TP PKK Bantul, Kepala Dinas Pertanian setempat, Kodim, dan juga para perwakilan kelompok penerima manfaat.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini. Ia berharap pembagian bibit ini bisa berdampak positif terhadap stok serta pemenuhan kebutuhan masyarakat di pasaran, khususnya untuk komoditas cabai.

Harapan serupa disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

"Pembagian bibit ini adalah bagian dari upaya untuk menjaga ketahanan pangan. Namun, saya juga berharap bibit yang dibagikan benar-benar berkualitas sehingga bisa memiliki manfaat lebih bagi petani," katanya.

Dedi juga berharap masyarakat petani yang mendapatkan bibit ini diberi pemahaman mengenai cara bercocok tanam yang baik untuk mendapatkan hasil maksimal.

Sementara Direktur Polbangtan Yogyakarta Magelang, Bambang Sudarmanto, menjelaskan bahwa pembagian bibit ini ditujukkan kepada masyarakat melalui kelompok tani, PKK, maupun kelompok wanita tani.

“Kami targetkan sekitar 75 ribu bibit cabai tersalurkan untuk masyarakat khususnya wilayah DI Yogyakarta dan Jawa Tengah. Ini akan kami salurkan bertahap, sementara untuk DI Yogyakarta ada 10 ribu yang kami salurkan kepada 39 kelompok yang tersebar di Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, Kabupaten Gunungkidul, dan Kabupaten Sleman hari ini,” papar Bambang saat memberikan sambutan.

Tujuan pembagian bibit cabai kata Bambang yaitu utamanya untuk membantu menjaga ketahanan pangan keluarga dan jika dikembangkan dengan baik dapat membantu perekonomian keluarga.

Baca juga: Kementan Pacu Regenerasi Petani melalui Kegiatan Magang

“Cukup 2 atau 3 polybag saja sudah mencukupi untuk kebutuhan keluarga. Jenis cabai rawit ini juga umurnya relatif panjang, mampu berproduksi kurang lebih selama 7 bulan, bahkan di kebun kami ini mencapai 8 bulan dan sudah sekitar 50 kali panen. Tergantung perawatannya,” tutur Bambang

Bambang juga menegaskan bahwa pembagian bibit ini juga nantinya akan ditindaklanjuti dengan pendampingan agar dampaknya benar-benar optimal.

“Bukan hanya sekedar bagi-bagi bibit, namun jika diminta untuk melakukan kami siap. Ada 600 mahasiswa kami yang siap untuk diterjunkan jika bapak ibu sekalian perlu pendampingan. Kami berharap upaya ini benar-benar berdampak positif,” tegasnya.

Ia juga berharap Pemerintah Daerah dapat turut mendampingi sehingga ibarat gayung bersambut,

“Kami mohon bantuan dari Pak Walikota dan Bupati Bantul serta Ibu-Ibu TP PKK untuk turut mengawal dan mendampingi,” pesannya.

Walikota Yogyakarta, Singgih Raharjo, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya langkah yang dilakukan Polbangtan YOMA ini sangat tepat. Sebab, cabai merupakan komoditas yang sangat strategis dan sering kali menjadi penyebab inflasi.

“Cabai merupakan komoditas yang sangat strategis dan harganya fluktuatif sehingga rawan menjadi penyebab inflasi. Dengan pembagian bibit ini saya berpesan kepada warga Kota Yogyakarta khususnya agar dapat memanfaatkan dengan baik,” ujar Singgih.

Singgih yang berkesempatan melihat instalasi smart farming milik Polbangtan Yogyakarta Magelang juga berharap warganya dapat didampingi untuk menerapkan inovasi teknologi tersebut.

“Tanam cabai tidak harus di lahan luas. Polbangtan Yogyakarta Magelang ini punya teknologinya, punya inovasinya. Bisa ditanam di polybag, juga bisa dioptimalkan dengan pemanfaatan teknologi. Hebat sekali saya lihat, dapat dikendalikan dari jarak jauh menggunakan handphone. Kita juga punya program Lorong Sayur, jadi tidak ada alasan bapak ibu tidak bisa bertani,” ucap Singgih.

Ketua TP PKK Kabupaten Bantul yang juga merupakan Istri Bupati Bantul, Emi Masruroh, juga berkomitmen memanfaatkan bantuan bibit ini dengan baik.

“Kami merasa sangat bersyukur dengan bantuan ini dan kami akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin, sebagai sarana edukasi juga bagi ibu-ibu PKK di wilayah kami. Kami juga senang jika nantinya akan ada pendampingan dari Polbangtan,” kata Emi.(***)

Kementan Pacu Regenerasi Petani melalui Kegiatan Magang

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Salah satu Standar Pelayanan Publik (SPP) Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang yang menjadi daya tarik pengguna layanan adalah kegiatan kerjasama PKL/magang. Berbagai sekolah dan kampus di seluruh Indonesia, silih berganti setiap tahunnya mengirimkan siswa dan mahasiswa nya untuk datang, belajar dan praktik langsung tentang agribisnis di BBPP Lembang. Salah satunya adalah Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Keberhasilan pembangunan pertanian harus didukung oleh SDM pertanian yang profesional. Kementerian Pertanian berupaya melakukan percepatan penumbuhan dan peningkatan SDM pertanian. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan jajarannya terus berupaya meningkatkan produksi pangan strategis. Hal ini tentunya perlu dukungan dari SDM pertanian yang memiliki potensi besar yang berasal dari usia produktif.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, “Dunia pertanian terus mengalami perkembangan. Sektor pertanian mempunyai banyak hal yang bisa dikembangkan generasi muda dan sangat menjanjikan. Banyak peluang untuk digarap, makanya kita mengajak anak-anak muda untuk terjun ke dunia pertanian," kata Dedi.

Salah satu program regenerasi petani yang dilaksanakan oleh BBPP Lembang adalah kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL)/magang bagi siswa dan mahasiswa. BBPP Lembang sudah bekerjasama dengan berbagai sekolah dan universitas, bahkan ada beberapa sekolah dan universitas yang setiap tahun rutin mengirimkan siswa dan mahasiswa nya untuk belajar sekaligus praktik langsung, menyiapkan mereka untuk siap nantinya terjun ke Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI).

Kepala Balai, Ajat Jatnika menyampaikan, “BBPP Lembang siap mencetak generasi muda agar mau tekuni pertanian melalui kegiatan PKL/magang. Sarana pembelajaran kami terus kami kembangkan untuk mengakomodir kebutuhan generasi muda kita untuk praktik langsung tentang pertanian, baik budidaya secara konvensional maupun memanfaatkan teknologi, agribisnis dari hulu hingga hilir, dan pertanian ramah lingkungan,” tuturnya.

Baca juga: Pertanian Modern untuk Tingkatkan Produktivitas Pangan

Enam orang mahasiswa-i Agroteknologi semester 6 angkatan 2021 Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas Muhammadiyah Purwokerto melaksanakan kegiatan magang/PKL di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang. Periode magang selama 3 minggu mulai dari tanggal 22 Januari – 16 Februari 2024. Selama magang, keenamnya ditempatkan di berbagai instalasi di lahan praktik Inkubator Agribisnis BBPP Lembang untuk belajar dan praktik budidaya tanaman.
Didampingi petugas lapangan, mahasiswa semester 7 ini melakukan budidaya tanaman seledri dengan hidroponik sistem deep flow technique (DFT), budidaya tanaman kaktus dengan teknik grafting, pemeliharaan tanaman melon di dalam screen house secara hidroponik sistem irigasi tetes, sub kultur teknologi kultur jaringan komoditas anggrek bulan, pemeliharaan tanaman kentang dengan hidroponik system aeroponik, dan perbanyakan Trichoderma sp menggunakan media singkong dan limbah makanan. Masing-masing mahasiswa juga memperoleh bimbingan dari widyaiswara BBPP Lembang dalam hal penyelesaian laporan akhir magang.

Senin (12/2/2024), setelah menjalani 3 minggu magang, belajar dan praktik budidaya aneka komoditas, dilaksanakan seminar hasil. Seminar dihadiri oleh widyaiswara pembimbing dan pembahas serta mahasiswa lainnya yang juga sedang melaksanakan magang di BBPP Lembang.

Satu persatu mempresentasikan hasil magang, dilanjutkan sesi diskusi tanya jawab. Tanya jawab bertujuan untuk melakukan konfirmasi atas apa yang sudah dipelajari dan memberikan catatan terhadap beberapa hal yang masih belum tepat, sebagai bahan untuk penyempurnaan isi laporan.
Kegiatan magang diakhiri dengan pelepasan secara resmi oleh Tim Manajemen BBPP Lembang, diwakili Ketua Kelompok Substansi Program dan Evaluasi, Aris Hanafiah, dan Ketua Tim Kerja Program dan Kerja sama, Yanissa Nuraeni Kuswandi.

Arbi Abdillah, salah satu perwakilan mahasiswa, memberikan kesan positif selama menjalani proses magang. “Kami merasa senang, fasilitas untuk kegiatan belajar baik dari fasilitas literatur dan fasilitas alat kerja praktik sangat lengkap. Di sini kami juga dibimbing bapak/ibu widyaiswara dalam penyusunan laporan dan bahan presentasi, hal ini sangat meringankan kami saat kembali ke kampus dan menyerahkan hasil laporan,” ujarnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, “Setiap kegiatan yang kami lakukan juga didampingi oleh pembimbing lapangan yang sangat kompeten sehingga kami mendapat ilmu baru dari praktik lapangan. Selain itu, kami mendapatkan banyak teman-teman baru dari universitas lain sehingga kami dapat bertukar pikiran mendapat ilmu baru.” (Yoko/Che)

Pertanian Modern untuk Tingkatkan Produktivitas Pangan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Dalam rangka pengembangan inovasi dan teknologi pertanian modern, khususnya pengembangan screen house, Dinas Pertanian Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara lakukan studi tiru ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang.

Kementerian Pertanian berkolaborasi dengan berbagai pihak, fokus pada peningkatan produksi pangan untuk peningkatan produksi pangan padi dan jagung tahun 2023-2024. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menilai sektor pertanian akan lebih optimal dikembangkan dengan sentuhan teknologi dan inovasi. Dengan adanya sentuhan teknologi dan inovasi, pertanian di Indonesia akan mampu bersaing dengan negara lainnya.

“Kehadiran transformasi pertanian menjadi pertanian modern itu telah memberikan dampak yang positif dalam beberapa hal. Diantaranya terkait efisiensi tenaga kerja dan penurunan biaya tanam”. Kementerian  yang dipimpinnya pun memberikan berbagai dukungan untuk peningkatan produksi pangan diantaranya berupa kesiapan benih unggul, hingga pupuk bersubisidi.

Sejalan dengan pernyataan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, bahwa tranformasi pertanian dari tradisional ke modern menjadi suatu keharusan untuk peningkatan produksi pertanian. Pertanian modern ditandai dengan penggunaan bibit varietas unggul, pemanfaatan alsintan dan teknologi informasi.

Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Ajat Jatnika, menyatakan kesiapan BBPP Lembang sebagai tempat pembelajaran pertanian baik dari sisi SDM dan sarana prasarana yang terus dikembangkan memanfaatkan berbagai teknologi pertanian modern untuk mendukung program nasional percepatan peningkatan produksi pangan dan peningkatan kualitas SDM pertanian.

Salah satu wilayah di Indonesia yang sedang mengembangkan pertanian modern adalah Kabupaten MInahasa Utara. Potensi pertanian yang tinggi mengharuskan pengelolaannya yang modern agar tercapai produktivitas pertanian secara optimal. Untuk mempelajari pertanian modern, sejumlah pejabat, petugas, dan penyuluh pertanian dari Dinas Pertanian Minahasa Utara lakukan studi tiru ke BBPP Lembang, Rabu (7/2/2024). Rombongan diterima secara resmi oleh Tim Manajemen yaitu Kepala Bagian Umum, Ketua Tim Kerja Program dan Kerja sama, widyaiswara BBPP Lembang dan Manajer Inkubator Agribisnis (IA).

Kepala Bagian Umum, Yullyndra Tisna Diputri, saat menerima secara resmi tamu kunjungan, menyampaikan tugas pokok dan fungsi BBPP Lembang, beserta dukungan sarana dan prasarana penunjang proses pelatihan. Diantaranya bangunan screen house baik yang konvensional maupun yang sudah modern/otomatis karena dilengkapi berbagai sensor penerapan smart farming.

Baca juga: Kementan Ajak Petani Muda Berpartisipasi di YAA Lahan Rawa 2024

Widyaiswara, Dewi P.S, menyampaikan materi tentang Pengembangan Inovasi dan Teknologi Modern (Screen/Greenhouse). Tujuannya agar rombongan studi tiru mengetahui dan terbuka wawasannya tentang pengembangan screen/greenhouse (GH) sehingga indikator keberhasilannya diharapkan  mampu mengembangkan teknologi GH di daerahnya masing-masing. Dijelaskan bahwa  di dalam teknologi pertanian modern, tujuan pembangunan GH sebagai struktur bangunan yang dirancang untuk melindungi tanaman dari gangguan lingkungan (hama, penyakit, dan cuaca ekstrem). Dewi juga menjelaskan tentang keberadaan GH di skala petani wilayah Lembang dan juga di BBPP Lembang dan komoditas pertanian yang bisa dibudidayakan di dalam GH.

Tidak berlama, peserta langsung diajak mengelilingi Inkubator Agribisnis yang menjadi lahan praktik peserta pelatihan khususnya 15 buah GH koleksi BBPP Lembang. Pertama, peserta menuju GH untuk budidaya melon menggunakan teknologi hidroponik sistem irigasi tetes. Manajer IA, Risa Nurul Falah didampingi petugas, menjelaskan tentang teknik budidaya melon, proses pembibitan, pemberian nutrisi dan pemeliharaannya. Selanjutnya, di GH aeroponik kentang yang sedang dilakukan pengeringan bibit kentang, rombongan memperoleh informasi tentang pembibitan kentang yang dilakukan sebagai salah satu komoditas yang memiliki nilai jual tinggi.

Kunjungan diakhiri di 2 GH otomatis yang dikelola BBPP Lembang, yaitu GH persemaian aneka sayuran dan GH yang digunakan untuk budidaya tanaman tomat beef. Di GH ini, diskusi panjang tentang sensor yang membuat GH bersifat otomatis, saat suhu di dalam GH terlalu panas maka shade luar screen menutup, jika masih panas juga maka shade dalam juga akan menutup. Jika turun hujan maka plastik pinggiran dan atap GH akan menutup.

Setelah berkeliling lahan praktik Inkubator Agribisnis, Kepala Dinas Pertanian Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara, Wangke Sem Karundeng, menyampaikan apresiasinya, khususnya setelah melihat beberapa bangunan screen house BBPP Lembang. “Kehadiran kami di sini ingin melihat pengelolaan screen house. Luar biasa, teknologinya sudah canggih. Ini yang akan kami bawa ke daerah kami untuk pengembangan screen house yang modern di Kabupaten Minahasa Utara,” ungkapnya. Dirinya juga mengharapkan kerja sama berlanjut karena berkeinginan untuk mengundang narasumber dan tenaga ahli dari BBPP Lembang dalam pengelolaan screen house dan budidaya tanaman menggunakan teknologi hidroponik. (Yoko/Che)

Kementan Ajak Petani Muda Berpartisipasi di YAA Lahan Rawa 2024

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA – Kementerian Pertanian, melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) dan Program Youth Entrepreneur and Employment Support Services (YESS), akan menyelenggarakan Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA) Tahun 2024 dan YAA Lahan Rawa Tahun 2024, untuk memilih 50 duta petani muda Program YESS. Hal ini disampaikan dalam konferensi pers yang dilangsungkan, Senin (12/2/2024), di Jakarta.

Menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, salah satu fokus Kementerian Pertanian adalah pemenuhan kebutuhan pangan dan mencapai kembali swasembada pangan yang pernah diraih pada 2017, 2019 dan 2020.

“Salah satu program untuk mencapai hal tersebut melalui optimalisasi pemanfaatan lahan rawa dalam peningkatan produksi pangan. Program tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, penyuluh dan petani khususnya petani muda,” tuturnya.

Sementara Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, menyatakan mensupport penuh upaya peningkatan produksi pangan melalui optimalisasi lahan rawa.

“Young Ambassador Agriculture merupakan kegiatan pemilihan dan pelatihan petani atau pengusaha muda sektor pertanian dari seluruh Indonesia, untuk dapat menjadi duta Program YESS. Tujuannya mempromosikan dan mengajak kaum muda di wilayah Program YESS untuk terlibat secara aktif di sektor pertanian,” tutur Dedi.

Ia juga menjelaskan jika Youth Entrepreneur and Employment Support Services (YESS) adalah program kerjasama antara Kementerian Pertanian (Kementan) dengan International Fund For Agricultural Development (IFAD).

“Partisipasi aktif sasaran program yaitu petani muda terus didorong dalam rangka mencapai target tersebut,” lanjutnya.

Sementara Kepala Pusat Pendidikan Pertanian dan Direktur Program YESS, Idha Widi Arsanti menjelaskan secara detail tema dan mekanisme pemilihan.

Baca juga: Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta Tekuni Kultur Jaringan dan Budidaya Kopi di BBPP Kementan

Dijelaskannya, Young Ambassador Agriculture merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) dari Pusdiktan, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian.

“Kegiatan pemilihan YAA YESS rutin dilakukan sebagai upaya menggaungkan peran generasi muda, dalam pembangunan pertanian. Sekaligus upaya mempromosikan modernisasi dan peran generasi muda di sektor pertanian,” terang Santi.

Menurutnya, tema Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA) Lahan Rawa tahun ini adalah Masa Depan Pertanian yang Berkelanjutan.

“Kegiatan ini akan memberikan kesempatan bagi petani muda yang memiliki visi dan komitmen untuk mengubah lanskap pertanian, terutama di daerah rawa, untuk mendaftar dan mempresentasikan ide-ide mereka. Para peserta akan dinilai berdasarkan kriteria-kriteria seperti inovasi, keberlanjutan, dampak sosial, dan keberlanjutan lingkungan,” katanya.

Santi menambahkan, tujuan penyelenggaraan pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA) Tahun 2024 untuk petani muda lahan rawa untuk menyoroti peran penting para petani muda dalam mengembangkan pertanian berkelanjutan di masa depan.

Ia menjelaskan, petani muda memiliki peran krusial dalam menjaga ketahanan pangan global, khususnya di tengah tantangan perubahan iklim dan penurunan produktivitas lahan pertanian.

“Melalui pemilihan ini, kami berharap untuk mengidentifikasi, menghargai, dan mendukung para petani muda yang berdedikasi dalam mengelola lahan rawa dengan cara yang inovatif dan berkelanjutan,” kata Santi lagi.

“Kami mengundang seluruh petani muda yang bersemangat dan memiliki bakat dalam mengelola lahan rawa untuk berpartisipasi dalam pemilihan ini. Bersama-sama, mari kita bangun masa depan pertanian yang lebih baik dan lebih berkelanjutan,” imbuhnya.

Selain untuk merubah persepsi kaum muda atas sektor pertanian menjadi lebih baik, menurut Santi, kegiatan ini juga memberikan motivasi bagi mereka untuk terjun ke sektor pertanian dan maju di usia muda.

“Calon Young Ambassador Agriculture (YAA) akan mengikuti pembekalan (bootcamp) selama 5 (lima) hari yang dilaksanakan oleh Tim Instruktur. Materi pembekalan meliputi: Wawasan Bisnis, Kemampuan Berkomunikasi di depan Publik, Pemahaman Media dan Kepemimpinan,” katanya.

50 Young Ambassador Agriculture (YAA) akan terpilih setelah melalui beberapa tahapan seperti seleksi administrasi, seleksi potensi, bootcamp, dan tahap penjurian.

Pemilihan Young Ambassador Agriculture (YAA) Tahun 2024 ini diharapkan dapat menularkan dan meresonansi semangat berwirausaha di bidang pertanian bagi generasi muda lainnya.(***)

Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta Tekuni Kultur Jaringan dan Budidaya Kopi di BBPP Kementan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Tiga mahasiswa asal Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta berhasil menyelesaikan masa Pengalaman Kerja Lapangan (PKL) mereka di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang. PKL ditutup dengan seminar hasil yang diselenggarakan pada Selasa (6/2/24). Bertempat di ruang kelas krisan V BBPP Lembang, ketiga mahasiswa mempresentasikan hasil belajar mereka selama satu bulan belajar di Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelatihan ini, khususnya di Inkubator Agribisnis (IA).

Sesi presentasi dibuka oleh Qinthara Alyana Hikkari dengan judul "Kultur Jaringan Kentang Varietas Granola dan Atlantik di BBPP Lembang". Selama PKL, Qinthara Alyana Hikkari, yang ditempatkan di laboratorium kultur jaringan. Ia berhasil melakukan perbanyakan kentang varietas Granola dan Atlantik dengan kultur jaringan. Menurut hasil pengamatannya, persentase hidup varietas Granola mencapai 57,14%, sementara varietas Atlantik mencapai 100%. Qinthara kemudian menjelaskan perbedaan persentase ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti kontaminasi bakteri atau kesalahan teknis saat melakukan tahapan perbanyakan kultur jaringan.

Rifka Putri Afrika melanjutkan dengan presentasinya yang berjudul "Teknik Pemangkasan Kopi Arabika di BBPP Lembang". Melalui pengamatannya, Rifka melakukan uji t terhadap 15 sampel tanaman kopi Arabika di lahan IA BBPP Lembang. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman kopi Arabika dengan pemangkasan lebih baik daripada tanpa pemangkasan. Hal ini disebabkan oleh jumlah cabang tidak produktif yang lebih sedikit pada tanaman yang mendapat perlakuan pemangkasan.

Terakhir, Riska Ariyani menyampaikan hasil PKLnya dengan judul "Agribisnis Kopi di BBPP Lembang". Ia melakukan pengamatan budidaya kopi dari hulu hingga hilir, dengan menekankan tahapan full wash sebagai salah satu faktor penentu kualitas kopi.

   Baca juga: Antusiasme Ratusan Siswa MTs Sirojul Athfal Praktik Pengolahan Hasil Pertanian di BBPP Kementan

Sesi seminar dilanjutkan dengan tanya jawab antara peserta seminar, widyaiswara, dan mahasiswa. Widyaiswara pembimbing memberikan pertanyaan dan saran kepada masing-masing presenter, sementara widyaiswara pembimbing memberikan apresiasi dan masukan bagi masing-masing mahasiswa bimbingannya.

Ditemui setelah seminar, Qinthara mengemukakan kesannya. Menurutnya, PKL di BBPP Lembang menjadi kesempatan bagi ia dan kedua rekannya untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Rifka dan Riska juga mengungkapkan rasa terima kasihnya terhadap widyaiswara dan seluruh petugas lapang yang telah mendampingi selama masa PKL.

Meskipun masa PKL bagi ketiga mahasiswa ini telah berakhir, diharapkan kontribusi mereka dapat memberikan nilai tambah bagi pengembangan pertanian di Indonesia.

Seperti yang disampaikan Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, bahwa program PKL menjadi salah satu bentuk komitmen BBPP Lembang dalam mempersiapkan regenerasi petani.

Ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang menyatakan bahwa “peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam sektor pertanian masa kini”. Ditambahkan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, bahwa “misi penumbuhan petani milenial harus didukung dengan teknologi yang semakin mumpuni, seperti penerapan smart farming dengan memanfaatkan internet of things (IoT)”. (DRY/YKO)

Antusiasme Ratusan Siswa MTs Sirojul Athfal Praktik Pengolahan Hasil Pertanian di BBPP Kementan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Sebanyak 159 siswa kelas VIII MTs Sirojul Athfal memperkaya pengetahuan mereka melalui kunjungan ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang. Rombongan siswa disambut hangat oleh Ketua Kelompok Kerja Penyelenggaraan Pelatihan, Ridwan Wardiana, dan Ketua Tim Program dan Kerja Sama, Yanissa Nuraeni Kuswandi, di Aula Catur Gatra.

Muhammad Yusuf, Kepala Madrasah, menjelaskan bahwa kunjungan ini telah menjadi agenda rutin, mengakui bahwa pembelajaran langsung di BBPP Lembang melalui kunjungan lapangan dan praktik pengolahan hasil mampu menarik minat serta memudahkan pemahaman para siswa.

Ridwan Wardiana kemudian menegaskan bahwa BBPP Lembang senantiasa antusias menyambut para siswa yang ingin memperdalam pengetahuan di bidang pertanian.

Ini sejalan dengan misi Kementerian Pertanian dalam mencetak generasi penerus di sektor pertanian.

“Kami ingin memunculkan cara bertani modern, smart farming, kepada anak muda pelaku pertanian dan pemahaman pertanian yang semakin luas bagi anak muda," kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, berharap program tersebut bisa menghapus citra petani yang dianggap tidak keren di kalangan anak muda.

   Baca juga: Generasi Alpha Purwakarta Dalami Pertanian di BBPP Lembang

Karenanya, Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyatakan komitmennya dalam mendorong percepatan regenerasi petani melalui berbagai pelatihan di BBPP Lembang.

Peserta kemudian dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mendapat materi pengolahan hasil dari Widyaiswara, Estu Hariyani. Kelompok kedua memperkaya pengetahuan mereka dengan mengamati koleksi kaktus dan sukulen di screen house tanaman hias. Sementara itu, kelompok ketiga praktik langsung membuat es krim jagung.

Tak hanya itu, kedua kelompok lainnya juga berkesempatan praktik membuat selai wortel nanas dan sistik kentang. Produk-produk ini merupakan inovasi BBPP Lembang dalam memanfaatkan komoditas lokal serta meningkatkan nilai jual.

Kunjungan ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang berharga dalam bidang pertanian, memperluas wawasan mereka dalam rangka mengembangkan potensi di masa depan.

Seperti yang dikemukakan Reni, salah satu peserta kunjungan. Menurutnya, rangkaian kegiatan kunjungan ke BBPP Lembang kali ini memberikan banyak ilmu dan pengalaman berharga. “Tadi saya mencoba praktik membuat sistik sayuran. Cara membuatnya mudah dan menjadi ilmu yang baru bagi saya”, ungkapnya. (DRY/YKO)

Generasi Alpha Purwakarta Dalami Pertanian di BBPP Lembang

TANIINDONESIA.COM//Lembang – Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) terus berkomitmen dalam mencetak generasi penerus pertanian. Melalui Pelatihan dan Pendidikan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang dinaunginya, semua kalangan dapat mempelajari ilmu-ilmu pertanian dan mendalaminya. Salah satu UPT tersebut adalah Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang yang terletak di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Para peserta didik dari SMKN 1 Bojong, Purwakarta, mengunjungi BBPP Lembang dalam rangka study tour. Sejumlah 70 orang peserta didik dan guru pendamping berkumpul di Aula Catur Gatra dan disambut oleh Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika sebelum dilepas untuk berkeliling dan belajar pertanian di Inkubator Agribisnis.

Para peserta didik tergabung di bawah jurusan Usaha Pertanian Terpadu sehingga kunjungan bersifat kunjungan industri untuk melihat cara BBPP Lembang mengelola screen house dan lahan terbuka serta pembuatan pupuk kompos di Rumah Kompos.

Peserta didik SMKN 1 Bojong Purwakarta selanjutnya dibagi menjadi dua kelompok dan mulai berkeliling. Para murid menjelajahi fasilitas pelatihan di BBPP Lembang diantaranya pada screen house tanaman hias. Tanaman hias yang dapat dipelajari di dalam screen house ini diantaranya adalah kaktus dan sukulen. Para murid kemudian mulai bertanya mengenai proses perbanyakan kaktus melalui metode okulasi atau penyambungan kaktus. Didampingi petugas lapang, para murid terlihat antusias bertanya mengenai kaktus mulai dari pembudidayaan hingga bisnis tanaman hias yang kian menguntungkan.

   Baca juga: Olah Sampah Jadi Bisnis, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara Kompetisi Kewirausahaan

Sementara grup pertama mendatangi screen house tanaman hias dan Rumah Pangan Lestari, grup kedua mendapatkan materi mengenai pembuatan pupuk kompos di Rumah Kompos. Rumah Kompos BBPP Lembang memiliki beberapa ekor sapi yang dipelihara dengan baik untuk diambil kotorannya. Selanjutnya kotoran sapi tersebut diolah menjadi berbagai jenis pupuk kompos termasuk Kommix Hayati. Selain menjadi pupuk kompos, gas metana yang dihasilkan oleh kotoran sapi juga ditampung di dalam reaktor gas metana yang dapat menjadi sumber energi.

Fasilitas terakhir yang dipelajari oleh para peserta didik adalah instalasi aeroponik kentang. Kentang aeroponik ditanam di dalam kotak fiber dengan pengairan dari embun air. Hasil yang diberikan oleh metode ini adalah kentang generasi nol yang kemudian dibibitkan lagi. Untuk membudidayakan kentang dengan metode ini dibutuhkan planlet yang dihasilkan dengan metode kultur jaringan. Para murid terlihat antusias juga di sini karena kesempatan dalam pasar kentang generasi nol masih terbuka.

Mengakhiri kunjungan, Angga Maulana selaku Kepala Prodi Usaha Pertanian Terpadu SMKN 1 Bojong Purwakarta menghaturkan terima kasihnya. Angga yang pernah menjalani pelatihan di BBPP Lembang juga meninggalkan kesan-kesannya. “Semoga para murid dapat menerapkan ilmu yang dipelajari di BBPP Lembang di kemudian hari,” paparnya ketika dimintai keterangan.

Kementerian Pertanian berkomitmen untuk mencetak generasi petani selanjutnya. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menuturkan bahwa pengembangan teknologi pertanian dapat menarik minat generasi muda.

Pernyataan ini didukung oleh Kepala BPPSDMP Dedi Nursyamsi. “yang menjamin pembangunan Indonesia kedepan adalah petani muda, para pelaku agribisnis yang digabungkan menjadi petani milenial yang beragribisnis. Salah satu caranya adalah dengan pemanfaatan smart farming yang mempermudah dalam Bertani,” tegas Dedi.

Sementara itu, Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika menaruh harapan besar bagi generasi petani selanjutnya. Dalam sambutannya Ajat menekankan bahwa pembangunan pertanian harus diisi oleh aktor-aktor atau pelaku utama yang berkualitas unggul. “Insan pertanian generasi muda harus lebih baik daripada generasi pendahulunya,” Ajat menekankan. (YKO/AFR)

Olah Sampah Jadi Bisnis, Mahasiswa Polbangtan Kementan Raih Juara Kompetisi Kewirausahaan

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang yang tergabung dalam Tim Great and Green berhasil menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Student Enterpreneurship (SEC) 2024 Rumah BUMN Gunung Kidul dan Ozorta Campaign yang diselenggarakan oleh Sayur Sleman.

Tim yang terdiri dari enam mahasiswa, yaitu Dicky Mustofa, Ahmad Ma’ruf, Adiyansa Nur Fadhilah, Agus Wiji Prasojo, Ahmad Fahrizki Gustaman, dan Putra Arafah Subani, berhasil menyabet Juara 2 SEC 2024 dan Peserta Terbaik Ozorta Campaign.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi mengatakan ilmu pengetahuan dan inovasi dibutuhkan dalam mendukung bidang pertanian.

"Ilmu pengetahuan terus berkembang, termasuk juga pada sektor pertanian. Jika tidak ingin tertinggal, kita harus menemukan inovasi-inovasi baru yang dapat mendukung peningkatan produksi pertanian," tuturnya.

Oleh sebab itu, Dedi mengajak para insan pertanian untuk terus memperbarui pengetahuan dan meningkatkan kemampuan.

SEC sendiri merupakan kompetisi kewirausahaan yang ditujukkan untuk membangun rasa percaya diri bagi para pengusaha dan calon pengusaha untuk menciptakan suatu produk yang kreatif dan inovatif yang diiringi dengan kecanggihan teknologi di era serba digital ini.

Baca juga: Perluas Wawasan, Petani Muda Belajar Konsep Low Cost Smart Farming di Polbangtan Kementan

Tema utama SEC tahun 2024 ini adalah mengenai sustainability. Lomba berfokus pada ide bisnis yang berkontribusi pada keberlanjutan (sustainability) dalam aspek lingkungan.

Sehingga, seluruh ide bisnis dan video yang dikumpulkan harus menekankan bagaimana produk atau jasa akan memiliki efek pada kelestarian lingkungan di sekitar mereka dan kompetisi ini terbuka untuk mahasiswa aktif yang berada di jenjang Diploma-Sarjana dan siswa SMA /SMK sederajat se-DI Yogyakarta.

Untuk mencapai prestasi ini, Tim Great and Green harus melalui beberapa tahapan seleksi.

“Ajang SEC dimulai dari pengiriman proposal ide, kemudian pengumpulan video ide bisnis dan inkubasi. Selanjutnya bagi peserta terpilih, diseleksi lagi dengan presentasi final yang kemudian dipilih menjadi juara," terang Dicky Mustofa.

"Sedangkan pada even Instagram reel competition yang diselenggarakan Sayur Sleman, yang dinilaikan adalah unggahan reels instagram,” sambungnya.

Mengangkat tema aksi pengolahan sampah organik rumah tangga, Great and Green bersama dengan warga sekitar Ruang Terbuka Hijau Publik (RTPH) Warungboto memiliki program unggulan yaitu pemanfaatan limbah rumah tangga organik untuk pupuk dan budidaya maggot.

“Kami memiliki dua program unggulan yaitu Pengelolaan sampah organik melalui pemanfaatan limbah rumahtangga dan Budidaya maggot bersama dengan warga sekitar RTPH. Jika dikelola dengan baik, sebenarnya sampah rumahtangga memiliki potensi ekonomi yang tinggi,” ujar Dicky Mustofa.

Siti Nurlaela, selaku Dosen Pembimbing, berharap ajang ini menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa untuk berkarya dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Capaian ini tentunya sangat membanggakan sekaligus sebagai pemantik untuk mereka agar lebih semangat mengembangkan komunitas bisnis bersama masyarakat,” harap Laela.(***)

Perluas Wawasan, Petani Muda Belajar Konsep Low Cost Smart Farming di Polbangtan Kementan

PETANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Sektor pertanian akan menjadi masa depan dunia, yang sudah seharusnya menjadi peluang bisnis generasi muda. Kementerian Pertanian konsisten mendukung dan menfasilitasi para agropreneur muda untuk bergerak diberbagai bidang pertanian dari hulu hingga ke hilir.

Kementerian Pertanian mengajak puluhan Petani Muda dan Pemerintah Daerah penerima dan calon penerima Program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) dari seluruh Indonesia untuk mempelajari konsep Low Cost Smart Farming di Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan studi banding dalam rangka membuka wawasan dan mengembangkan Program YESS yang dilaksanakan 31 Januari hingga 3 Februari 2024.

Peserta yang terdiri dari 100 orang tersebut diperkenalkan dengan konsep smart farming yang diterapkan di Polbangtan Yogyakarta Magelang.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman berharap konsep Low Cost Smart Farming bisa dipahami dengan baik oleh seluruh peserta. Serta, bisa diterapkan dalam lahan masing-masing.

Pernyataan tidak jauh berbeda disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

"Masa depan pertanian tanah air berada di tangan BBM petani muda. Oleh sebab itu, kita mengajak para petani untuk terus menambah pengetahuan dan kemampuan serta memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka," tuturnya.

Kepala Teaching Factory (TEFA) Polbangtan Yogyakarta Magelang, Geraldo A. Rimartin, yang menyambut peserta studi banding, menjelaskan bahwa konsep Low Cost Smart Farming yang diterapkan di Polbangtan Yogyakarta Magelang khususnya fokus pada smart irrigation.

Baca juga: Inspiratif, P4S Sarongge Olah Sampah Jadi Berkah

“TEFA kami tersebar di beberapa wilayah, salah satunya di Celeban ini. Karena letak Celeban yang di tengah kota, salah satu masalah yang kami hadapi adalah masalah irigasi. Ini yang melatarbelakangi kami menerapkan smart irrigation untuk efisiensi penggunaan air,” terangnya.

Menurutnya, cara kerja Smart Irrigation ini memanfaatkan Internet of Things untuk menjalankannya. Hal ini berdampak efisiensi sumber daya seperti penghematan tenaga kerja, air, dan pupuk.

“Smart irrigation cukup dikendalikan dengan menggunakan handphone dan bisa diatur dari mana saja yang terpenting aplikasi terkoneksi dengan internet. Selain hemat tenaga kerja, penggunaan smart irrigation ini juga menjadikan penggunaan air dan pupuk lebih efisien karena benar-benar terukur dan terporgram langsung ke sasaran,” jelas Geraldo.

Para peserta studi banding turut diperlihatkan panel smart irrigation dan mencoba menjalankan aplikasinya langsung bersama dengan petugas TEFA yang mendampingi.

“Selain mengontrol volume air dan pupuk, serta waktu penyiraman, melalui aplikasi juga dapat dilihat suhu udara, suhu tanah, kelembaban udara, dan kelembaban tanah,” lanjut Geraldo.

Investasi perangkat smart irrigation ini diakui Geraldo juga cukup terjangkau. Untuk green house ukuran 8 kali 16 meter dengan populasi 99 tanaman membutuhkan investasi awal sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta.

“Yang diperlukan yaitu panel atau mesin smart farming, selang PE, mesin pompa atau tandon, valve, dan instalasi tambahan lainnya,” jelasnya.

Ucu, salah satu petani muda asal Sukabumi yang mengikuti studi banding, mengaku terkesan dan mendapat wawasan baru dari kunjungannya kali ini.

“Ternyata penerapan smart farming ini bisa juga dilakukan dengan harga terjangkau dan sederhana. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar dan menerapkannya,” ujar Ucu.

Panitia kegiatan berharap, sepulangnya peserta dari kegiatan studi banding ini dapat membawa ilmu baru dan menerapkannya di daerahnya masing-masing.(***)

Inspiratif, P4S Sarongge Olah Sampah Jadi Berkah

TANIINDONESIA.COM//CIREBON - Pertanian memiliki banyak sektor yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang. Hal ini dibuktikan P4S Sarongge yang berada Desa Ciawigajah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cirebon.

Lembaga yang meraih Sertifikasi Klasifikasi P4S sebagai P4S Kelas Pratama ini sukses mengolah sampah menjadi berkah.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pertanian adalah sektor yang sangat menjanjikan jika ditekuni dengan serius.

Mentan Amran menambahkan, baik dari hulu sampai hilir, pertanian menyajikan banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Oleh sebab itu, ia berharap anak-anak juga terjun memanfaatkan peluang tersebut.

P4S merupakan salah satu lembaga masyarakat yang dimiliki dan dikelola petani langsung baik secara perorangan maupun kelompok dalam meningkatkan peran aktif pembangunan pertanian melalui pengembangan sumber daya manusia pertanian seperti pelatihan, penyuluhan, dan pendidikan.

Keberadaan P4S dalam suatu wilayah pertanian sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia petani ke depannya. Sehingga peran serta kelembagaan pertanian ini sangat dirasa positif oleh masyarakat khususnya petani.

Peran P4S sangat strategis dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia petani dalam mewujudkan kader-kader petani yang dapat bersaing di masa depan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyebut P4S Sarongge sebagai contoh pengolahan sampah rumah tangga, secara profesional sehingga menghasilkan.

Baca juga: Bangun Ekosistem Kewirausahaan Pertanian, Kementan Ajak Petani Muda dan Pemda Belajar ke Pacitan

Dalam satu bulan, dari satu desa ciawigajah limbah sampah yang dihasilkan 400 ton, dari sampah tersebut komposisi nya 40% dan 60% organik.

"Saya melihat proses mesinnya yang semua produksi dalam negeri, yang sampah organik setelah dikeringkan dan diproses fermentasi kemudian dicampur dengan pupuk kandang menghasilkan pupuk kompos/organik. Pupuk yang dihasilkan dapat meningkatkan produksi mulai dari 40-90%," kata Dedi.

40% sampah non organik 5% sampah kaleng, 15% botol minuman mineral dan 20% plastik diproses, dengan mesin pencacah.

"Ada yang dipadatkan dan menjadi sumber energi ada juga yang didaur ulang sehingga dapat dimanfaatkan. Apa yang dilakukan P4S ini sangat bermanfaat karena selain menghasilkan juga ramah lingkungan," ujar Dedi lagi.

"Saya berharap apa yang dilakukan P4S Sarongge ini dapat menjadi contoh dan ditiru oleh P4S lain dan proses pemanfaatan sampah terus berjalan," imbuhnya.

P4S Sarongge sendiri bergerak dalam ketahanan pangan khususnya dalam produksi pupuk organik yang berasal dari limbah/sampah rumah tangga warga desa sekitar.

Selain pengolahan sampah, P4S Sarongge mengelola lokasi Agrowisata seluas 5 HA dengan komoditas tanaman pangan, hortikultura dan peternakan.

Hal ini dijelaskan Nunung Nurhadi, Pembina P4S Sarongge, Desa Ciawigajah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cirebon.

"Lembaga kami bergerak dalam ketahanan pangan khususnya dalam produksi pupuk organik yang berasal dari limbah/sampah rumah tangga warga desa sekitar. Istilahnya kami mengolah sampah, menjadi berkah karena menghasilkan," katanya.

Ia menambahkan, di sini sudah ada mesin pengolahan sampah, yang proses awal mulai dari memisahkan sampah organik dan non organik.

"Dimana untuk non organik seperti botol air kemasan dan kaleng, dimasukan mesin pencacah dan hasilnya sudah ada yang menampung dari pihak ketiga. Untuk sampah organik, diolah menjadi pupuk kompos/organik," jelasnya.(***)