8 Mei 2026

Hari: 19 April 2025

Capai Swasembada Pangan, Mahasiswa Polbangtan Kementan Jalani MBKM

TANIINDONESIA.COM//WONOSOBO - Sebanyak 21 mahasiswa semester 6 Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) melaksanakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.

Penyerahan ke-21 mahasiswa tersebut dilakukan di BPP Wonosobo, Rabu (16/4/2025), yang diikuti juga oleh 6 PPL, Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kab Wonosobo Ka. UPTD Penyuluhan Kab Wonosobo, serta Polbangtan YoMa yang diwakili oleh Wakil Direktur I.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan generasi muda memiliki peran penting dalam pembangunan sektor pertanian.

"Masa depan pertanian ada di tangan anak-anak muda. Mereka akan turut menentukan arah pembangunan pertanian. Oleh sebab itu, kita berharap para generasi muda bisa memperkaya diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang pertanian," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan regenerasi petani menjadi hal yang harus dipersiapkan jauh-jauh hari.

"Petani-petani kita yang ada saat ini sudah tua-tua. Oleh karena itu regenerasi petani menjadi sangat penting. Kita harus persiapkan generasi muda saat ini untuk menjadi petani handal," ujarnya.

Sementara Direktur Polbangtan YoMa yang diwakili oleh Wakil Direktur I, Endah Puspitojati, menjelaskan lebih rinci mengenai kegiatan penyerahan mahasiswa yang melaksanakan MBKM di Wonosobo.

"Mahasiswa yang melaksanakan MBKM kali ini adalah semester 6 terdapat 21 mahasiswa yang akan ditugaskan dan melaksanakan di kabupaten Wonosobo yang terbagi dalam 5 kecamatan berdasarkan hasil diskusi yaitu kecamatan yaitu Watumalang, Wadaslintang, Kaliwiro, Mojotengah, dan kretek," tuturnya.

Ia menambahkan, para mahasiswa semester 6 ini sebelumnya telah melaksanakan PKL dan MBKM 1, serta telah melaksanakan pendampingan PAT dari program kementrian pertanian.
"Sehingga telah berpengalaman di lapangan, yang akan memudahkan untuk penugasan di lapangan. Semester 6 MBKM ini bertujuan untuk memperdalam ilmu di bidang pertanian, mahasiswa siap mensukseskan swasembada pangan melalui program MBKM," urainya.

Menurut Endah, pencapaian dari MBKM ini adalah melakukan analisis potensi wilayah berbasis PRA, melaksanakan penyuluhan, dan merancang program berdasarkan konsep pertanian berkelanjutan, selain belajar dapat transfer atau berbagi ilmu yang akan membantu petani di lapangan
"Harapan kita mahasiswa mudah beradaptasi, memberikan inovasi dan menjadi contoh mahasiswa yang dedikasi,” ujarnya.

Baca juga: 

https://taniindonesia.com/2025/04/19/tingkatkan-hasil-panen-penyuluh-kulon-progo-terapkan-metode-alternatif-pruning/

Sedangkan Kepala UPTD BAPELUH Wonosobo, Khairul SP, mengatakan MBKM membantu untuk mengembangkan pengetahuan para petani.

"Pesan kami, lakukan kegiatan ini dengan ikhlas jangan terpaksa jalanin di desa dan petani di kecamatan masing-masing. Dan yang paling penting adalah niatan dari teman-teman mahasiswa yang berniat untuk belajar, agar memudahkan dikemudian hari. Belajar di lapangan raih sebanyak-banyaknya ilmu yang ada di lapangan," katanya.

Dijelaskannya, di Wonosobo dengan geografis yang ada terdapat perbedaan di antara kecamatan. Oleh karena itu, ditanami menyesuaikan geografis tersebut.

Sedangkan jumlah padi di Wonosobo sekitar 11.000 ha dan terdapat lahan kering dengan ketinggian 700 mdpl dan lahan sawah.

"Harapan kami semoga mahasiswa yang ditugaskan di Wonosobo ini dapat berbagi ilmu kepada masyarakat atau petani yang diperoleh dari kampus dan dapat meraih ilmu dari lapangan," katanya.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kab Wonosobo, Dwiyana Satyani Budyayu, berharap kegiatan ini bisa menggerakkan petani untuk menghidupkan serta mengelola green house.

"Mahasiswa kita minta menjadi mentor Kabupaten Wonosobo dalam kegiatan belajar di kebun tani Wonosobo yang akan mengarahkan petani, TK, SD, dan SMK yang berkunjung di kebun tani. Sehingga dari mahasiswa ini mereka dapat belajar menjadi influncer atau mentor," ujarnya.

Ia juga berharap mahasiswa dapat mengembangkan potensi kecamatan yang ditempatkan oleh mahasiswa masing-masing.

"Dengan harapan dapat memberdayakan masyarakat dan petani dengan mengembangkan potensi yang ada di kecamatan masing-masing mahasiswa yang ditugaskan," katanya.(***)

Tingkatkan Hasil Panen, Penyuluh Kulon Progo Terapkan Metode Alternatif Pruning

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA -Pruning atau pemangkasan pada tanaman padi terbukti meningkatkan produktivitas tanaman padi di Bantar Kulon, Banguncipto, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Di lahan yang dikelola oleh BPP Sentolo ini, penyuluh dan sejumlah pihak terkait melakukan panen dari hasil ujicoba pruning pada Rabu (16/4/2025).

Penyuluh bergembira dengan hasil yang diperoleh. Dengan perlakuan pruning, terlihat peningkatan produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 1,12 ton/ha dibandingkan dengan budidaya padi tanpa pruning.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya inovasi sebagai solusi penting dalam memastikan ketahanan pangan Indonesia.

"Inovasi ini sangat penting dalam menghadapi tantangan global, terutama dalam menjaga ketahanan pangan di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan beras nasional," kata Mentan .

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti, mengatakan, Kementerian Pertanian (Kementan) sangat berbangga bahwa ternyata banyak inovasi yang terus dikembangkan.

“Kementan mendorong intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi melalui peningkatan produktivitas, penggunaan benih unggul, teknologi lainnya dan inovasi,” papar Idha.

Penerapan pruning ini menjadi salah satu inovasi untuk mensiasati lahan sempit di wilayah DI. Yogyakarta.

Baca juga:

https://taniindonesia.com/2025/04/18/kementan-perkuat-ketahanan-pangan-nasional-lewat-brigade-pangan/

Menurut Hendro Santoso, Koordinator BPP Sentolo, pruning cocok untuk dikembangkan di wilayahnya.

“Di lahan praktik ini, kami menanam 2 varietas padi, yakni Ciherang dan Mapan P05. Dengan perlakuan pruning, varietas Mapan P05 bisa menghasilkan 14,08 ton/ha. Sedangkan tanpa pruning, hanya menghasilkan 12,16 ton/ha,” papar Hendro.

Sedangkan pada varietas Ciherang, Hendro mengatakan dengan perlakuan pruning bisa menghasilkan 7,04 ton/ha. Tanpa pruning, hanya menghasilkan 6,08 ton/ha.

“Kami menyimpulkan pruning tanaman padi bisa meningkatkan produktivitas, namun masih ada potensi mendongkrak lebih dengan pertimbangan varietas dan kecukupan nutrisi tanaman,” ucap Hendro.

Hal ini mendapat dukungan dari Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, Drajat Purbadi.

“Bupati menegaskan Kulon Progo akan menjadi lumbung pangan. Untuk itu, kita harus punya banyak kreatifitas,” kata Drajat.

Ia menyebut Kulon Progo tahun ini hanya bisa cetak sawah 10 ha, karena sulitnya penambahan luas lahan.

“Kita harus meningkatkan produktivitas, melalui pertanian presisi. Dengan pemberian pupuk secara tepat bisa menjadi percontohan di tingkat nasional,” ujarnya.

Direktur Polilteknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA). R. Hermawan yang hadir pada kesempatan ini menyambut baik inovasi pruning yang diinisiasi oleh Hendro, salah satu alumninya.

“Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan berkolaborasi dengan BPP Sentolo. Untuk terus meningkatkan produktivitas padi. Utamanya untuk mencapai swasembada pangan nasional, pungkasnya. (os)