17 Mei 2026

Hari: 13 Juni 2024

Mahasiswa Polbangtan Kementan Siap Antisipasi Darurat Pangan

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta melepas mahasiswa tingkat 3, Senin (10/6), untuk melaksanakan Pendampingan Perluasan Areal Tanam (PAT) dan Upaya Khusus (Upsus) dalam rangka mengatasi darurat pangan. Pelepasan dilakukan langsung Menteri Pertanian (Mentan), Amran Sulaiman, di Bogor dan diikuti oleh seluruh Polbangtan, PEPI, dan SMK PP se Indonesia.

Kegiatan ini merupakan program nasional yang dicanangkan Mentan sebagai upaya menjaga stabilitas pangan nasional.

Dalam arahannya Mentan Amran menyampaikan bahwa program ini merupakan salah satu bentuk respon cepat Kementerian Pertanian dalam menghadapi krisis lingkungan yang juga berdampak pada produktivitas pangan nasional.

"Kita harus bergerak cepat, bekerja keras demi tercapai ketahanan pangan nasional. Penting untuk terus mengawal Perluasan Areal Tanam (PAT) karena berhubungan erat dengan produktivitas pertanian. Sekaligus ini kesempatan bagi anak muda untuk belajar di lapangan sekaligus memberikan manfaat nyata," kata Amran.

Amran juga memberikan motivasi yang membakar semangat para anak muda ini.

"lakukan yang terbaik di lapangan, kami akan menilai kinerja kalian semua dalam melakukan tuas ini. Bobot yang tertinggi yaitu pengawasan PAT di daerah upland yang juga ada program pompanisasi, akan ada penghargaan tersendiri bagi mahasiswa yang dapat merampungkan tugas ini dengan baik," ujarnya.

Baca juga: Kenalkan Smart Farming, Kementan Ajak Generasi Muda Terjun ke Industri Pertanian

Pembangunan Klaster Kawasan Pertanian Modern juga diungkapkan Amran menjadi target pembangunan pertanian selanjutnya.

"luasan satu Cluster antara 5000 sampai 1000 hektar, menggunakan teknologi dan full mekanisasi. Ini dibangun dan diprioritaskan untuk kalian semua (alumni Polbangtan), karena alumni Polbangtan harus yang terdepan dalam pertanian, bukan lagi jadi job seaker tetapi harus menjadi job creator," imbuhnya.

Namun, Amran melanjutkan, bahwa untuk sukses, yang pertama harus dilakukan adalah melawan diri sendiri, "Taklukan rasa malasmu, harus kerja keras, dan jujur untuk raih mimpimu. Coba kalahkan seluruh setan yang mendatangimu, jadilah pemenang untuk dirimu sendiri," pesan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, yang turut hadir dalam kegiatan menjelaskan, sebanyak 1029 mahasiswa sudah siap diberangkatkan untuk menjalankan program tersebut.

"Total ada 1029 Mahasiswa Polbangtan, PEPI dan Kampus lainnya. Kita juga bekerjasama dengan Menristekdikti, ada 150 Mahasiswa yang berasal dari Kampus di luar Kementerian Pertanian (Kementan). Sebagian sudah di lapangan, sisanya akan diberangkatkan hari ini dan pada awal Agustus untuk gelombang 2," rinci Dedi.

Sementara, Direktur Polbangtan Yogyakarta Magelang yang diwakili Wakil Direktur I, Sujono, mengatakan pihaknya akan menerjunkan mahasiswa di 4 Kabupaten.

"Ada empat kabupaten yang akan dituju yaitu Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, dan Klaten," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga akan diintegrasikan dengan kegiatan Praktek kerja Lapangan (PKL), sehingga mahasiswa harus focus dalam menjalankannya.

"Tugas ini beriringan dengan kegiatan PKL, maka saudara harus betul-betul focus dalam pelaksanaannya, mengutamakan mengerjakan tupoksinya. saudara harus betul-betul bekerja di lapangan bukan hanya mengurusi administrasi," pesan Sujono.(***)

Kenalkan Smart Farming, Kementan Ajak Generasi Muda Terjun ke Industri Pertanian

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian, melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), mengajak generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian.

Ajakan itu disampaikan kepada 73 siswa-siswi, kepala sekolah dan guru jurusan Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura SMK Negeri 13 Pandeglang, yang melakukan kunjungan ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Rabu (5/6/2024).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai ujung tombak masa depan bangsa.

“Bagi yang berkecimpung di sektor pertanian, harus bekerja keras mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. Ini bisa dicapai dengan kolaborasi berbagai pihak swasta maupun pemerintah,” tutur Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa cara menarik minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian dengan mengenalkan teknologi pertanian dan pengaplikasian smart farming.

“Pendampingan bagi generasi muda Indonesia untuk pengaplikasian teknologi, inovasi dan budidaya berorientasi agribisnis yang bisa menghasilkan keuntungan berlipat, akan menarik minat mereka terjun ke industri pertanian,” kata Dedi.

Kepala Sekolah SMK Negeri 13 Pandeglang, Hananah, mengatakan kedatangannya bersama siswa-siswi kelas XII agar mereka mengenal industri pertanian dan menambah wawasan tentang pertanian.

“Kami mengunjungi BBPP Lembang membawa rasa ingin tahu yang banyak tentang teknologi pertanian yang diterapkan di BBPP Lembang ,” katanya.

Baca juga: Pelajari Pertanian Berbasis Komunitas, Peserta Pelatihan APO Kunjungi Joglo Tani Yogyakarta

Dalam kunjungan itu, rombongan siswa-siswi mengelilingi Inkubator Agribisnis BBPP Lembang. Di zona lahan terbuka yang sedang ditanami brokoli dan bawang merah, petugas lahan praktik menjelaskan kegiatan budidaya yang dilakukan mulai dari persemaian bibit, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan hingga waktu panen.

Dijelaskan pula penerapan smart farming berbasis internet of things yang bisa dikendalikan dari smartphone untuk proses penyiraman tanaman.

Di zona budidaya tanaman secara hidroponik, petugas memberi penjelasan tentang budidaya sayuran daun seperti pakcoy, seledri, selada dengan sistem deep flow technique dan nutrient film technique, dan wick system, mulai dari persemaian, pemberian nutrisi AB mix, pemeliharaan dan waktu panen.

Beranjak menuju screen house hidroponik system irigasi tetes, buah tomat beef yang sudah menguning tanda siap panen menarik minat guru dan murid untuk diskusi tentang proses budidayanya, pemeliharaannya seperti proses penurunan batang (lay down) dan pengendalian hama dan penyakit pada tanaman.

Sementara itu, di screen house aeroponik yang sedang proses pengeringan benih kentang G0, petugas memberi penjelasan kegiatan pembenihan kentang G0 yang bisa memberi keuntungan banyak karena penjualan dihargai per butir bibit kentang yang dihasilkan.

Di penghujung kegiatan, Hananah, mengaku senang bisa melakukan kunjungan tersebut.

“Alhamdulillah kami bisa mengenal pertanian baik konvensional dan modern di BBPP Lembang. Ini menjadi pengalaman berharga bagi kami dan anak-anak saat mereka nanti terjun ke industri pertanian,” ucapnya.(***)

Pelajari Pertanian Berbasis Komunitas, Peserta Pelatihan APO Kunjungi Joglo Tani Yogyakarta

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Sebanyak 30 peserta “Training Course on Building Community-driven Farm Schools” yang berasal dari 17 negara, melakukan kunjungan ke Joglo Tani, Yogyakarta, Rabu (12/6/2024). Mereka diajak belajar best practice mengenai pengembangan pertanian berbasis komunitas.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari pelatihan yang diselenggarakan 10-14 Juni 2024 oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan dan Asian Productivity Organization (APO) Jepang.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan pelatihan ini juga menjadi ajang yang baik bagi para peserta untuk bertukar informasi.

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, menerangkan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

"Dalam pelatihan ini, peserta mancanegara diperkenalkan dengan pertanian berbasis komunitas. Namun, momen ini juga bisa menjadi ajang bertukar informasi seputar pertanian," katanya.

"Dan tentu hal ini akan saling mendukung pengembangan pertanian di negara masing-masing. Ilmu yang didapat bisa mereka terapkan saat mereka kembali, namun tentu disesuaikan dengan kondisi negara masing-masing," imbuhnya.

Dalam kunjungan itu, peserta disambut langsung oleh pemilik Joglo Tani, TO Suprapto, didampingi oleh Zaim Nur Hidayat selaku pembicara dalam kegiatan tersebut.

Zaim menjelaskan, Joglo Tani merupakan pusat edukasi pertanian yang memberikan layanan pendidikan kepada masyarakat luas. Hal tersebut meneladani nilai-nilai "Joglo" itu sendiri.

"Sejak Zaman Mataram, Joglo yang merupakan salah satu bagian bangunan rumah jawa yang kental akan nilai-nilai luhur, lazim dimanfaatkan sebagai sarana diskusi atau open space. Nilai itu yang menjadi dasar Joglo Tani," ujarnya.

Baca juga: Tingkatkan Kapasitas SDM Pertanian, Kementan Bekerjasama dengan Kemenaker dan APO Jepang Selenggarakan Pelatihan di Yogyakarta

Lebih lanjut, Zaim menjelaskan, bahwa dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat edukasi pertanian, Joglo Tani menganut filosi Kerajaan Mataram yaitu "Memayu Hayuning Bawono" yang menggambarkan bagaimana relasi antara manusia dengan lingkungan harus berjalan dengan harmonis.

"Implementasi nilai tersebut dalam pertanian mencakup bagaimana mengelola pertanian secara berkelanjutan dan menjaga keseimbangan dengan lingkungan," katanya.

"Penerapannya antara lain yaitu dengan tidak menggunakan bahan kimia berlebihan, menggunakan air secara bijak, mempertahankan varietas lokal, bertanam sesuai musim, dan menjaga manusia tidak terlalu mengeksploitasi lingkungan," kata Zaim lagi.

Joglo Tani, lanjut Zaim, merupakan gambaran mini filosofi pertanian Mataram untuk menjaga ketahanan pangan.

"Tempat ini mengimplementasikan model pertanian terpadu yang mencakup berbagai aspek seperti pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan dalam satu lahan yang kemudian berfungsi menjadi lumbungan pangan masyarakat,"katanya.

Sistem pertanian terpadu di Joglo Tani meniru pola siklus hidup alam dan memanfaatkan sumber daya lokal secara maksimal, sehingga setiap produk utama dan limbah dapat dimanfaatkan sepenuhnya.

Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi para peserta untuk melihat langsung dan belajar dari model pertanian terpadu yang diterapkan di Joglo Tani. Mereka dapat mengeksplorasi berbagai teknik budidaya tanaman, pemeliharaan hewan ternak, serta pengelolaan perikanan yang efisien.

Salah seorang peserta asal Thailand, Sayumporn Thinmathurot, mengaku sangat terkesan dengan pelatihan ini.

"Dari hati pertama hingga hari kedua ini saya banyak memperoleh pengalaman baru. Mulai dari diskusi di kelas hingga kunjungan ke Joglo Tani ini. Melihat langsung praktek pertanian berbasis komunitas yang berlandaskan nilai-nilai budaya," ungkapnya.

Sebagaimana disampaikan oleh Sekretaris BPPSDMP, Siti Munifah, kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep Community-driven Farm Schools atau sekolah pertanian berbasis komunitas .

Dari kegiatan ini, peserta memperoleh pengetahuan dan praktik terbaik yang dapat diterapkan di negara masing-masing.

"Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat mengimplementasikan konsep dan pengetahuan yang diperoleh di komunitas mereka, sehingga dapat berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan dan kesejahteraan petani di berbagai negara," ujarnya.(***)