17 Mei 2026

Hari: 17 Maret 2024

Kabupaten Cianjur Optimalkan Perluasan Areal Tanam untuk Peningkatan Produksi Padi

TANIINDONESIA.COM//CIANJUR - Instruksi Menteri Pertanian kepada seluruh jajarannya untuk mengantisipasi darurat pangan dengan melakukan monitoring kegiatan optimalisasi lahan, pompanisasi dan Perluasan Areal Tanam (PAT), direspon Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang.

BBPP Lembang yang merupakan salah satu UPT Kementan, diberikan amanat untuk melakukan monitoring kegiatan tersebut dalam rangka peningkatan produksi padi di wilayah Kabupaten Cianjur. Kegiatan dilaksanakan pada 15-16 Maret 2024.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengajak pemerintah daerah untuk menjaga bahkan memperluas lahan-lahan pertanian.

"Peningkatan produksi padi akan lebih maksimal jika didukung dengan perluasan areal tanam. Untuk itu, pemerintah daerah pun harus memastikan areal tanam yang ada tidak terganggu, bahkan harus bisa ditingkatkan," tuturnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengimbau penyuluh untuk memastikan produksi pertanian tidak menemui kendala.

"Penyuluh harus masif turun ke lapangan untuk mendampingi petani sekaligus memastikan pertanian tidak menemui kendala," katanya.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan pihak-pihak terkait harus memastikan ketersediaan air untuk mendukung peningkatan produksi.

"Peningkatan produksi akan susah dilakukan tanpa ketersediaan air. Untuk itu, keberadaan embung, irigasi dan lainnya harus bisa dimaksimalkan," tukasnya.

Demi mewujudkan hal tersebut, Jumat (15/3/2024), Ketua Kelompok Substansi Penyelenggaraan Pelatihan dan Katimker Rumah Tangga dan BMN BBPP Lembang melakukan koordinasi dan Identifikasi CPCL ke Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Cianjur.

Baca juga: Pacu Produktivitas Padi Nasional, Kementan Gencarkan Pompanisasi untuk Perluasan Areal Tanam

Tim diterima Kepala Bidang Sarana Prasarana dan Penyuluhan dan Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Cianjur, Dandan Hendayana.

Dari koordinasi itu diketahui jika data Luas Baku Sawah (LBS) dari 65.850 Ha menjadi 66,934 Ha, terdapat sawah bera (kurang produktif) sebesar 20.825 Ha.

“Ini merupakan lahan IP 1 yang sudah panen pada bulan Februari, meliputi wilayah kecamatan Agrabinta, Cibeber, Cibinong, Cidaun, Cikadu, Leles, Naringgul, Sindangbarang, dan Sukaresmi,” ucap Dandan.

Menurutnya, Dinas TPHPKP Kabupaten Cianjur juga telah melakukan identifikasi CPCL yang membutuhkan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan optimalisasi lahan, pompanisasi dan PAT dan dikirim ke Dirjen Prasarana dan Sarana Kementan.

“Untuk pesawahan di sekitar DAS sudah dioptimalkan sehingga rencana lokasi PAT akan diarahkan ke wilayah Cianjur Selatan berupa sawah tadah hujan dan akan dipetakan di wilayah Kecamatan Agrabinta seluas 500 Ha,” kata Dandan lagi.

Tim BBPP Lembang dan Dinas TPHPKP Cianjur juga melakukan peninjauan ke lokasi calon penerima Program optimalisasi lahan, pompanisasi dan Perluasan Areal Tanam (PAT) Padi Kementerian Pertanian, yaitu Desa Babakansari dan Desa Selajambe di Kecamatan Saluyu, dan beberapa lokasi pesawahan di sekitar Kecamatan Karangtengah. (Yoko/Che)

Pacu Produktivitas Padi Nasional, Kementan Gencarkan Pompanisasi untuk Perluasan Areal Tanam

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG - Kementerian Pertanian siap mendukung perluasan areal tanam untuk memacu produktivitas padi nasional. Untuk itu, program pompanisasi gencar dilakukan.

Dalam rapat koordinasi Penambahan Luas Tanam Padi tahun 2023-2024 antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat , disepakati pemanfaatan potensi penambahan luas tanam sumber airnya berasal dari jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) dan embung, irigasi waduk dan irigasi non waduk yang selesai direhabilitasi pada tahun 2023.

Untuk memenuhi target tambahan luas tanam dari lahan tadah hujan sebesar 1.000.000 (satu juta) hektare, kolaborasi akan dilakukan dengan terjun langsung ke berbagai wilayah di Indonesia.

Selain itu, dilakukan juga survey bersama untuk penentuan titik lokasi pengambilan air serta verifikasi ketersediaan air. Berdasarkan hasil survey tersebut, akan ditentukan titik lokasi pompa, spesifikasi dan jenis pompa, serta kebutuhan saluran pembawa (pipa dan perlengkapan lain) sesuai kondisi lapangan.

Untuk itu, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mendorong kabupaten dan kota di seluruh Indonesia memanfaatkan sumber air terdekat baik yang berasal dari sungai maupun bendungan.

“Langkah ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi cuaca ekstrem El Nino yang berlangsung panjang sejak tahun 2023 lalu,” kata Amran.

“Pompanisasi merupakan solusi cepat dalam menghadapi el nino di sejumlah daerah. Nantinya, sistem pompa ini akan terintegrasi dengan paket layanan solar alsintan dan juga benih gratis bagi para petani yang mau mempercepat tanam di MT II Maret 2024,” sambungnya.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi.

“Salah satu strategi peningkatan produksi pertanian adalah gerakan pompanisasi yakni penggunaan pompa air untuk mengoptimalkan irigasi dan pengairan lahan pertanian, sehingga menghasilkan panen dan produktivitas yang tinggi," tukasnya.

Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, sebagai salah satu unit pelaksana teknis Kementan, turut berperan aktif menjalankan program Perluasan Areal Tanam (PAT) dengan wilayah kerja di Kabupaten Bandung, Kota Bandung dan Kabupaten Cianjur.

Baca juga: Tingkatkan Produksi Pangan Nasional, Kementan Tingkatkan Kapasitas Penyuluh

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, didampingi Kepala Bagian Umum, melakukan identifikasi Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) Perluasan Areal Tanam Pompanisasi dan peninjauan lapang mobilisasi pompa eksisting. Kegiatan dilaksanakan 2 hari, 15-16 Maret 2024 di Kabupaten Bandung dan Kota Bandung.

Di Kota Bandung, Kepala Balai Ajat Jatnika melakukan koordinasi ke Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) dan diterima oleh Kepala Dinas, Gin gin Ginanjar.

“Seperti diketahui bersama dampak El Nino menurunkan area tanam padi yang berdampak kekurangan stok beras. Karena itu kami berharap di Kota Bandung juga bisa menghasilkan PAT,” jelas Ajat.

Luas Baku Sawah Kota Bandung terkoreksi sejumlah 702 Ha dari data yang tersaji 998 Ha, sedangkan jumlah sawah tadah hujan terkoreksi adalah 315 Ha dari data yang tersaji 1.417 Ha serta jumlah pompa air eksisting terkoreksi adalah 40 dari data yang tersaji 5.

Kepala DKPP Kota Bandung, Gin gin, menjelaskan, mayoritas lahan sawah di Kota Bandung adalah tadah hujan.

"Luasnya 54 Ha, terdiri dari 23 Ha lahan sawah abadi dan 50 Ha lahan dari masyarakat yang berlokasi di daerah Cinambo dan Rancasari. Kota Bandung sangat berpotensi untuk melakukan PAT mengingat IP Kota Bandung 100 > 200,” jelas Gin gin.

BBPP juga melakukan peninjauan ke 3 titik persawahan di Kota Bandung. Yaitu lokasi sawah abadi 1 (Sein Farm) Kecamatan Ujung Berung, lokasi sawah abadi 2 yang juga berad di Kecamatan Ujung Berung, dan di Kecamatan Gedebage.

Tim BBPP Lembang lalu bergerak menuju Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, berkoordinasi langsung dengan Kepala Dinas, Ningning Hendasah.

Tim juga meninjau lokasi calon Program PAT Tahun 2024 yaitu lokasi padi gogo di Kecamatan Pangalengan.

“Luas lahan sawah di Kecamatan Pangalengan sebanyak 124 Ha dengan provitas 3 – 3,9 ton / Ha (satu tahun satu kali), dengan pengairan dari sumber air sungai Cisangkuy. Kondisi eksisting terdapat 12 Pompa air ukuran 14”. Namun kami memerlukan tambahan unit dengan perbaikan untuk pembuatan embung dan perpipaan,” kata Ningning. (Yoko/Che)

Tingkatkan Produksi Pangan Nasional, Kementan Tingkatkan Kapasitas Penyuluh

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG.- Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan upaya peningkatan produktivitas diberbagai sektor usaha pertanian. Peningkatan produksi perlu ditunjang dengan sumber daya manusia yang berkualitas, handal, berkemampuan manajerial, kewirausahaan, dan organisasi bisnis.

Penyuluh pertanian sebagai salah satu pelaku pembangunan pertanian, pendamping petani di lapangan, perlu diberikan motivasi dan penghargaan agar mampu meningkatkan kompetensi dan kinerjanya, salah satunya melalui pelatihan.

Saat ini pemerintah melalui Kementerian Pertanian sedang menggenjot produksi pangan nasional utamanya padi dan jagung untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, meraih swasembada beras bahkan diharapkan hingga ekspor. Ini membutuhkan peran penyuluh pertanian.

Guna meningkatkan kompetensi penyuluh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang menyelenggarakan Pelatihan Dasar Fungsional Penyuluh Pertanian Terampil. Pelatihan dilaksanakan selama 21 hari, mulai 13 Maret - 3 April 2024.

Tiga puluh orang penyuluh pertanian PNS dari 5 provinsi wilayah kerja BBPP Lembang yaitu Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Maluku diundang menjadi peserta pelatihan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, mengingatkan peran penyuluh pertanian dalam pendampingan petani di lapangan

“Peran penyuluh pada petani penting sebagai upaya mencapai peningkatan produktivitas dan produksi pangan nasional utamanya padi dan jagung”. sebut Dedi.

Selama pelatihan, peserta akan memperoleh materi yang terbagi ke dalam 3 kelompok, yaitu materi kelompok dasar, inti, dan penunjang semuanya bertujuan agar dapat meningkatkan kualitas kinerja penyuluh pertanian yang profesional, amanah, kreatif, proaktif serta responsif dalam pelaksanaan tugas.

Baca juga: Persiapkan Musim Tanam Padi, Kementan Maksimalkan Pompanisasi di Wilayah Yogyakarta

Tidak hanya didasarkan atas prosedur dan teknik kerja semata, akan tetapi diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelaksanaan tugas di lapangan melalui implementasi disiplin ilmu pengetahuan, metodologi dan teknik analisis yang tepat sesuai potensi di wilayah kerjanya bagi pemecahan permasalahan usaha tani.

SDM pertanian menjadi agenda penting untuk ditingkatkan kualitasnya dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan nasional.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Balai, Ajat Jatnika saat membuka pelatihan, Kamis (14/3/2024). “Fokus Kementerian Pertanian saat ini meningkatkan produksi 12 komoditas pangan strategis, khususnya padi.

Upaya kolaborasi dan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengoptimalisasikan lahan baik sawah irigasi, lahan rawa, dll, lalu dilakukan perbaikan saluran irigasi, pompanisasi dalam rangka peningkatan indeks pertanaman padi sehingga produksi padi bisa naik, targetnya diupayakan bisa mencapai 6,5 ton/hektar.”

Ajat berpesan kepada peserta, sepulang dari mengikuti pelatihan di BBPP Lembang, agar semuanya terjun langsung untuk lebih gencar lagi menggenjot produksi padi dengan cara memaksimalkan pendampingan kepada petani.

“Saya harap penyuluh pertanian dapat mendiseminasikan dan menerapkan hasil pelatihan selama di sini. Kompetensi yang kita miliki harus bisa menunjang tugas yang kita emban sehingga dapat mendukung program pemerintah,” tandas Ajat.