13 Februari 2026

#Smart Farming

Kementan Fokus Regenerasi Petani Muda untuk Terapkan Smart Farming

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Sebagai upaya mencetak generasi petani yang tangguh dan inovatif, Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu mereka. Kementan juga memperkenalkan smart farming kepada para petani muda.

Kesempatan ini dimanfaatkan lima mahasiswa dari Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, yang telah menyelesaikan Praktik Kerja Lapangan (PKL) periode 1 Juli - 25 Agustus 2025.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemuda adalah kunci masa depan pertanian.

“Generasi muda menjadi penggerak ekonomi kerakyatan di daerah. Kementan akan melakukan pendampingan bagi generasi muda secara periodik agar generasi muda bisa bergerak di semua sektor pertanian. Yang terpenting mereka diorganize dan didukung segala sesuatunya,” tutur Amran.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti. Menurutnya, regenerasi petani sangat penting.

"Petani kita semakin berumur, sementara kebutuhan pangan terus meningkat. Mendorong regenerasi petani adalah langkah esensial untuk menyokong ketahanan pangan nasional," ujarnya.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengapresiasi tinggi kerja keras para mahasiswa.

“Kami bangga dapat menjadi tempat belajar bagi mereka. Praktik kerja yang dilakukan membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat diterapkan untuk menjawab tantangan pertanian. Ini adalah wujud komitmen kami dalam mencetak sumber daya manusia yang siap berkontribusi di sektor pertanian,” jelas Ajat.

Selama PKL, Kelima mahasiswa semester VII ini menunjukkan dedikasi tinggi dengan melakukan aktivitas yang mendukung kegiatan di Inkubator Agribisnis BBPP Lembang.

Mereka juga melakukan mini riset di bidang kultur jaringan komoditas bawang merah dan jahe merah, pengamatan tentang perangkap hama yellow trap untuk tanaman cabai, budidaya jagung ketan dan pengaplikasian pupuk kompos.

Mengakhiri kegiatan PKL, dilaksanakan seminar hasil, Rabu (20/08/2025). Masing-masing mahasiswa memaparkan hasil praktik kerja di hadapan widyaiswara pembimbing dan penguji oleh BBPP Lembang dan siswa PKL dari kampus lainnya.

Christianno Joshua fokus pada Budidaya Jagung Ketan (Zea mays Ceratina), sebuah komoditas lokal yang menjanjikan. Muhammad Abiyasa Adli mengembangkan Pembuatan dan Pengaplikasian Kompos dari Limbah Ternak, yang merupakan solusi cerdas untuk manajemen limbah sekaligus penyediaan pupuk organik.

Baca juga:

UPT Pelatihan Kementan Dorong Regenerasi Petani Melalui Magang

Mahasiswa lainnya, Muhammad Dhafa Bagandiandra melakukan pengamatan tentang Penggunaan Perangkap Hama yellow trap pada Budidaya Cabai Rawit di Inkubator Agribisnis, sebagai alternatif ramah lingkungan dari pestisida.

Sementara itu, Fachmi Akmal Mustafa melakukan mini riset Inisiasi Kultur Jaringan Bawang Merah (Allium Ascalonicum L.), sebuah teknik yang dapat menghasilkan bibit tanaman secara masal dan berkualitas baik.

Terakhir, Riyandi Arif Budiman mengerjakan Sterilisasi dan Inisiasi Eksplan Jahe Merah (Zingiber Officinale var.rubrum) untuk menghasilkan bibit jahe merah yang bebas penyakit.

Para mahasiswa tidak hanya berhasil menyelesaikan kegiatan praktik kerja, tetapi juga memberikan kesan positif terhadap lingkungan belajar di BBPP Lembang.

Salah seorang mahasiswa, Christianno Joshua, mengaku mendapat pengalaman berharga selama di BBPP Lembang.

"Kami merasakan bahwa pegawai, baik widyaiswara, petugas pendamping di IA dan pegawai lainnya menyambut kami secara ramah seperti keluarga sendiri. Tidak hanya memberikan arahan teknis di lapangan, tetapi juga membagikan ilmu dan pengalaman yang berharga,”.

Hal senada juga disampaikan oleh Fachmi Akmal Mustafa, yang menyoroti fasilitas yang tersedia. Menurutnya, BBPP Lembang memiliki sarana prasarana yang sangat menunjang kegiatan PKL.

Begitupun dari Muhammad Daffa Bagandianra yang menyebut teknologi yang diterapkan di sini sangat mendukung.

"Dan didukung juga oleh fasilitas yang memadai, seperti penerapan pertanian presisi," ujarnya.

Sementara itu, Riyandi Arif Budiman menuturkan pengalamannya di laboratorium. Menurutnya, selama kegiatan di BBPP Lembang sangat menambah pengalaman dan juga wawasan.

Selain mendapatkan ilmu dan pengalaman, Muhammad Abiyasa Adli juga merasakan manfaat dari sisi jejaring profesional.

"Kami juga sangat senang karena dapat berjumpa dengan teman-teman dari berbagai sekolah dan universitas di seluruh Indonesia," tambahnya.

Keberhasilan program ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk melihat sektor pertanian sebagai bidang yang modern, penuh inovasi, dan menjanjikan.(***)

Kajiwidya Widyaiswara Kementan : Penerapan Smart Farming untuk Pengembangan Profesionalisme

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Sebagai pengembangan profesionalisme sesuai amanat PermenpanRB Nomor 42 Tahun 2021, widyaiswara BBPP Lembang akan melaksanakan kajiwidya berkaitan dengan penerapan smart farming.

Untuk mendukung hal itu, Kamis (24/7/2025), dilaksanakan seminar proposal kajiwidya, di Aula Catur Gatra BBPP Lembang.

Seminar dibuka Kepala Bagian Umum dan dihadiri tim manajemen BBPP Lembang, seluruh pejabat fungsional widyaiswara, peserta PKL, pejabat fungsional lainnya.
Sedangkan narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Politeknik Negeri Jakarta, dan Universitas Winayamukti.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman sangat mendukung penerapan smart farming di Indonesia. Ia melihat smart farming sebagai kunci untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan daya saing sektor pertanian.

Mentan Amran juga melihat smart farming sebagai solusi komprehensif untuk mengatasi berbagai tantangan disektor pertanian, meningkatkan kesejahteraan petani, dan mewujudkan pertanian Indonesia yang lebih maju dan berkelanjutan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti mendorong penerapan smart farming sebagai solusi untuk pertanian modern yang lebih produktif, efisien, dan berkelanjutan.

Baca juga:

UPT Pelatihan Kementan Kenalkan Pengolahan Hasil Pangan Lokal ke KWT Kota Batu

Dalam seminar, diketahui jika judul yang diangkat widyaiswara untuk kajiwidya adalah: 1) Persepsi Petani terhadap Inovasi Teknologi Perangkap Hama (smart trap), 2) Inventarisasi dan Identifikasi Serangga Menggunakan Smart Trap pada Tanaman Cabai Merah, dan 3) Penggunaan Alat Perangkap Hama (smart trap) sebagai Upaya Efisiensi Biaya Produksi pada Budidaya Cabai Merah.

Masing-masing perwakilan widyaiswara setiap kelompok mempresentasikan proposalnya, dilanjutkan diskusi, dan setiap narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Winayamukti, dan Politeknik Negeri Jakarta mereviu isi proposal baik secara teknis maupun administratif.

Kajiwidya yang dilaksanakan oleh widyaiswara bertujuan sebagai dasar pengembangan kurikulum pelatihan agribisnis hortikultura yang relevan dan aplikatif, sebagai sumber data ilmiah untuk memperkuat pelatihan berbasis bukti (evidence-based training), dan sebagai bahan ajar pada proses pelatihan atau referensi dalam kegiatan pelatihan yang berbasis pengalaman di lapangan.

Selain itu, hasil kajiwidya nantinya diharapkan menjadi dasar untuk merancang dan mengembangkan program pelatihan, pendampingan dan diseminasi teknologi pertanian yang tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik petani.

Salah seorang narasumber, Gontom Citoro Kifli, peneliti dari BRIN mengatakan saya sangat mengapresisasi dengan telah terlaksananya seminar proposal kajiwidya ini. Kajiwidya merupakan kegiatan kajian atau penelitian ilmiah yang mendasari suatu inovasi teknologi yang akan disebarluaskan kepada penggunanya. Kajiwidya menjadi pendukung dalam mengembangkan keilmuan dan kompetensi profesi widyaiswara dan institusi didalamnya, ujarnya.

Lebih lanjut Gontom menyampaikan bahwa kajiwidya menjadi pendukung dalam mengembangkan bahan ajar modul pelatihan, dan metode pembelajaran, yang akan sangat bermanfaat bagi sebuah institusi pelatihan.(***)

Pelajari Smart Farming Negeri Ginseng, Kementan Utus Widyaiswara

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian (Kementan) mengirim sejumlah perwakilan ke Korea Selatan untuk mempelajari smart farming yang ditetapkan di Negeri Ginseng. Ilmu dari Korea dipresentasikan di BBPP Lembang, Kamis (3/7/2025).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan jika teknologi adalah kunci untuk memajukan pertanian Indonesia.

"Teknologi mampu menjadikan pertanian Indonesia jauh lebih kuat dan tahan terhadap berbagai ancaman," tutur Amran.

Ia menambahkan bahwa teknologi yang diterapkan haruslah mampu menyederhanakan proses pertanian, menjadikannya simpel, murah, dan terjangkau. Sehingga, memberikan keuntungan lebih besar bagi para petani.

Sejalan dengan visi tersebut, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) gencar membuka berbagai program pelatihan.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menekankan bahwa instansinya mendorong seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) pelatihan di bawah naungannya untuk menyelenggarakan pelatihan berbasis teknologi dan kebutuhan masa depan.

Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Ajat Jatnika, menegaskan komitmennya untuk memanfaatkan IPTEK dan menyajikan teknologi pertanian terbaru dalam pelatihan.

Dalam hal Smart Farming, BBPP Lembang telah memiliki beberapa unit Smart Green House yang sudah diotomatisasi untuk menyesuaikan dengan cuaca," katanya.

Selain itu, ada juga perangkat Internet of Things yang berfungsi untuk mengenali cuaca, unsur hara tanah, dan kondisi lahan di Rumah Pangan Lestari BBPP Lembang.

Dan untuk mempelajari lebih jauh mengenai smart farming Kementan mengirim wakil ke Korea Selatan.

Salah satu perwakilan tersebut adalah Dewi Padmisari Suryaningrum, widyaiswara dari BBPP Lembang.

Perjalanan Dewi selama 7 hari kemudian dipresentasikan di depan widyaiswara dan mahasiswa yang tengah menjalani Praktik Kerja Lapang di BBPP Lembang.

Di samping smart farming, Dewi juga mempelajari kelembagaan petani di Korea Selatan.

"Contohnya pada Nonghyup Hanaro Market. Cara kerjanya adalah seperti federasi yang menaungi koperasi," terangnya.

Menurut Dewi, cara kerja federasi tersebut menguntungkan. Karena berani membeli produk petani yang dinaunginya dengan harga tinggi kemudian menjual ke konsumen dengan harga terjangkau.

"Hal ini memberikan keuntungan baik bagi produsen produk pertanian maupun konsumen. Namun model ini membutuhkan komitmen dari pemerintah, koperasi, konsumen, dan semua yang terlibat agar saling menguntungkan," terangnya.

Baca juga:

Wujudkan Swasembada Pangan, Akademisi Perguruan Tinggi Dukung Pertanian Modern di UPT Pelatihan Kementan

Mengenai smart farming, Dewi mempelajari mengenai teknologi dan implementasinya dalam bisnis pertanian di Korea Selatan.

Menurutnya implementasi di Korea Selatan memiliki visi jangka panjang dan diimplementasikan secara komprehensif.

"Salah satu model yang sangat relevan untuk diadopsi dan dikembangkan di Indonesia adalah konsep Smart Farming Innovation Valley (SFIV) seperti yang terlihat di Gimje, Korea Selatan," katanya.

Model ini terbukti berhasil mencetak lulusan yang siap mengimplementasikan konsep smart farming secara komprehensif.

"SFIV memiliki fasilitas yang terintegrasi, termasuk inkubator bisnis untuk petani muda (2,3 ha), pusat dukungan (0,4 ha), lahan smart farm sewaan (4,5 ha), dan kompleks demonstrasi (1,6 ha)," terangnya lagi.

Salah satu contoh sukses penerapan smart farming di Korea adalah One Acre Farm, yang mengaplikasikan indoor farming atau vertical farming.

Sistem ini memanfaatkan sinar ultraviolet dan ruang tanam bertingkat, yang mampu meningkatkan produktivitas hingga empat kali lipat dibandingkan metode konvensional.

Produk yang dihasilkan bervariasi seperti sayuran segar, herbal, dan bunga yang dapat dimakan, dengan kuantitas kecil namun beragam.

"Sistem ini lebih ramah lingkungan dibandingkan peternakan, dengan fitur otomatisasi seperti pengaturan suhu dan pencahayaan LED yang disesuaikan untuk pertumbuhan tanaman," jelasnya.

Contoh keberhasilan lainnya adalah Green Monster, alumni pelatihan yang berhasil membudidayakan mentimun dengan nilai ekonomi tinggi.

"Mereka mampu menghasilkan 30 hingga 40 buah per tanaman dalam enam bulan, dengan hanya membutuhkan empat orang untuk 10.000 tanaman mentimun," kata Dewi.

Tantangan ekstrem perubahan suhu di Korea, yang bisa mencapai -15°C di musim dingin, diatasi dengan menjaga suhu rumah kaca pada 15-16°C.

Menurutnya, keberhasilan Green Monster juga didukung oleh pinjaman lunak sebesar 30 miliar Won dengan bunga 1% per tahun dan skema pembayaran yang fleksibel selama 25 tahun, serta penerapan sistem inkubasi.

Melihat potensi besar ini, Dewi menyarankan untuk lebih lanjut mendalami smart farming sebagaimana di Korea Selatan.

"Pelatihan harus bisa mencakup materi dasar, budidaya, manajemen, dan pemasaran, didukung oleh pemanfaatan fasilitas Inkubator Agribisnis BBPP Lembang sebagai sarana praktik," katanya.

Harapannya, sambung Dewi, melalui adaptasi model dan teknologi ini, Indonesia dapat mencetak lebih banyak petani milenial yang inovatif dan berdaya saing di era pertanian modern.(***)

Kementan dan Politeknik Negeri Jakarta Implementasikan Smart Farming Berbasis IoT

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Tiga mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta melaksanakan Praktik Kerja Lapang (PKL) di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, UPT di Kementerian Pertanian, 2 September sampai 31 Desember 2024.

Kementan sendiri memiliki beberapa program yang menarik generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian, di antaranya mengasah keterampilan generasi Z melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya peran generasi muda membangun pertanian Indonesia.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan pemuda yang tidak hanya cerdas, tapi juga berkarakter kuat menghadapi tantangan dunia.

“Dengan karakter yang kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras, pemuda Indonesia bisa menjadi ujung tombak mewujudkan swasembada pangan dan mengantarkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia,” tutur Amran.

“Mari bersama kita wujudkan cita-cita besar ini. Indonesia tidak hanya swasembada, tetapi menjadi bangsa yang mampu memberi makan dunia,” imbuhnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan petani-petani yang ada saat ini sudah semakin tua.

"Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan,” kata Santi.

Baca juga:

https://taniindonesia.com/2024/12/12/penyuluh-pertanian-karawang-kompeten-siap-dampingi-petani-wujudkan-swasembada-pangan/

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menegaskan komitmennya mencetak generasi muda agar mampu menjadi wirausaha muda melalui berbagai program peningkatan kompetensi. Di antaranya pelatihan, kegiatan kunjungan singkat dan kegiatan PKL.

Sementara PKL Mahasiswa semester 5 Politeknik Negeri Jakarta dilaksanakan di greenhouse tanaman paprika untuk monitoring dan maintenance sensor NPK untuk mengoptimalkan nutrisi dan produktivitas paprika berbasis IoT, monitoring dan maintenance tanaman paprika berbasis IoT dengan sensor kelembaban dan suhu tanah pada screen house, dan monitoring suhu udara pada green house tanaman paprika menggunakan teknologi IoT.

Setelah lebih dari 3 bulan melakukan PKL, untuk mempertanggungjawabkan hasil kerja dilaksanakan seminar hasil, Jumat (27/12/2024).

Kegiatan dihadiri oleh widyaiswara BBPP Lembang sebagai pembimbing dan pembahas, serta siswa dan mahasiswa lain yang juga sedang PKL di BBPP Lembang.

Secara bergantian, mereka memaparkan hasil penelitian dan pengamatan. Diskusi berlangsung tentang hasil proses pengamatan yang dilakukan.

Salah seorang peserta PKL, Fauzy Raihan Abdullah, mengaku senang bisa memperoleh kesempatan PKL di BBPP Lembang,

“Di sini bisa dapat banyak teman dan pengalaman baru, khususnya yang tadinya saya cukup asing tentang budidaya tanaman, sekarang mulai memahami,” ujarnya.

“Saya juga tertarik untuk mengembangkan teknologi smart farming, karena menurut saya jika dikembangkan maka para petani kita bisa lebih makmur dan terbantu kegiatan budidaya pertaniannya,” katanya lagi.(***)