21 Januari 2026

#Petani

Mentan Amran dan KSP Qodari Sidak Kios Pupuk, Petani Tersenyum Harga Pupuk Turun

TANIINDONESIA.COM//Lampung Utara – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman bersama Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Kios Pupuk Mitra Tani Sejati di Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara, Provinsi Lampung. Sidak ini dilakukan untuk memastikan langsung implementasi kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen di seluruh Indonesia.

Dalam sidak tersebut, Mentan Amran dan Kepala Staf Kepresidenan berdialog langsung dengan distributor dan petani. Saat ditanya soal harga, distributor kios memastikan bahwa harga pupuk memang telah turun signifikan.

Mentan Amran menjelaskan bahwa kebijakan penurunan harga pupuk ini merupakan wujud nyata keberpihakan Presiden Prabowo kepada petani.

“Ini perintah Bapak Presiden. Presiden sayang petani makanya harga pupuk diturunkan 20 persen dan ini terjadi pertama kali dalam sejarah pertanian Indonesia harga pupuk turun ekstrem,” kata Mentan Amran saat sidak pada Rabu (29/10/2025).

Para petani yang hadir pun menyampaikan rasa syukur mereka atas kebijakan pemerintah tersebut. “Benar, harga pupuk turun. Urea sekarang Rp90 ribu per sak, sebelumnya Rp125 ribu. Kami senang sekali. Terima kasih kepada Pak Presiden dan Pak Menteri Pertanian,” ujar Eko, salah satu petani setempat.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Staf Kepresidenan Muhammad Qodari menegaskan bahwa temuan di lapangan membuktikan efektivitas kebijakan pemerintah. Artinya, kebijakan terimplementasi secara cepat dan langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Baca juga:

Manfaatkan Peluang Pasar, Kementan Bekali Generasi Muda Cara Budidaya dan Pengolahan Kopi

”Hari ini terbukti bahwa harga pupuk turun di sini 20 persen. Ini keputusan dibuat di Jakarta, baru beberapa hari di Kotabumi Lampung tereksekusi dengan baik. Kita tanya kepada distributor dan petani, turun harga pupuknya. Jadi ini betul real di petani ya,” ungkapnya.

Seperti diketahui, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk hingga 20 persen, berlaku mulai 22 Oktober 2025. Penurunan harga ini sesuai Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025 tanggal 22 Oktober 2025 tentang Perubahan atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 800/KPTS./SR.310/M/09/2025 tentang Jenis , Harga Eceran Tertinggi dan Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2025.

Penurunan ini meliputi seluruh jenis pupuk bersubsidi yang digunakan petani, yaitu urea dari Rp2.250 per kilogram menjadi Rp1.800 per kilogram, NPK dari Rp2.300 per kilogram menjadi Rp1.840 per kilogram, NPK kakao dari Rp3.300 per kilogram menjadi Rp2.640 per kilogram, ZA khusus tebu dari Rp1.700 per kilogram menjadi Rp1.360 per kilogram, dan pupuk organik dari Rp800 per kilogram menjadi Rp640 per kilogram.

“Ini adalah terobosan Bapak Presiden, tonggak sejarah revitalisasi sektor pupuk. Bapak Presiden Prabowo memerintahkan agar pupuk harus sampai ke petani dengan harga terjangkau. Tidak boleh ada keterlambatan, tidak boleh ada kebocoran. Kami langsung menindaklanjuti dengan langkah konkret: merevitalisasi industri, memangkas rantai distribusi, dan menurunkan harga 20 persen tanpa menambah subsidi APBN,” ujar Mentan Amran di Jakarta, pada Rabu (22/10/2025) lalu.(***)

Ajak Petani Terapkan Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu, Kementan Tanamkan Pertanian Berkelanjutan

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG BARAT – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menyelenggarakan Konsultasi Agribisnis Terpadu, Andal, Luar Biasa, Inovatif, Solutif (KATALIS), Rabu (24/9/2025), di BP3K Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tema yang diangkat adalah mengenaj pertanian organik.

Hadir pada kegiatan ini konsultan dari widyaiswara BBPP Lembang, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat, Sekretaris Camat Saguling dan kelompok tani dari 6 desa di Kecamatan Saguling.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan pertanian organik adalah solusi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan.

“Pertanian organik dapat menyediakan pangan sehat yang ramah lingkungan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi tinggi bagi petani, sekaligus menjadi jawaban atas tantangan perubahan iklim global,” tutur Mentan Amran.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan hal terpenting untuk meningkatkan pertanian adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

“Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP juga terus mengupayakan peningkatan SDM di bidang pertanian,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan pihaknya membangun dan mengembangkan KATALIS sebagai salah satu standar pelayanan bagi para stakeholder dengan tujuan peningkatan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu pelayanan publik yang kami laksanakan mendukung kompetensi SDM pertanian melalui konsultasi agribisnis," jelasnya.

Saat konsultasi, Widyaiswara BBPP Lembang sebagai konsultan, pada awal kegiatan menjelaskan prinsip pengendalian hama dan penyakit terpadu (HPT).

Pengendalian hama dan penyakit bisa dikombinasikan antara organik dan kimiawi, asalkan pemberian pupuk atau penyemprotan untuk hama dan penyakit secara kimiawi itu harus dikurangi dan dilakukan dengan bijaksana, tepat dosis dan tepat jumlah.

Baca juga:

Dukung Penelitian, UPT Kementan Fasilitasi Mahasiswa Biologi

Salah satu pengendalian HPT memanfaatkan jamur seperti Trichoderma. Trichoderma mampu mencegah penyakit tular tanah (fusarium) dan berperan untuk menjaga daya tahan tubuh/imunitas dari tanaman selayaknya pemberian vaksinasi pada manusia.

Widyaiswara didampingi petugas juga mempraktikkan perbanyakan Trichoderma.

Dijelaskan inokulasi Trichoderma dengan peralatan sederhana yang membutuhkan diantaranya isolat Trichoderma, lampu bunsen, spirtus, jarum ose, dan jagung sebagai media perbanyakannya.

Widyaiswara lalu menjelaskan titik kritis agar proses perbanyakan Trichoderma sukses.

“Titik kritis perbanyakan Trichoderma ada di sterilisasi tempat, dan saat inokulasi minimalisir berbicara keras supaya mencegah kontaminasi.”

Selanjutnya diberikan pula cara pengaplikasian trichoderma ke tanaman, bisa melalui berbagai cara seperti ditaburkan pada lubang tanam, dicampurkan dengan pupuk atau diaplikasikan sebagai larutan. Pemberian Trichoderma sebaiknya pada sore hari agar tidak terjadi penguapan berlebih.

Diskusi berjalan diantaranya tentang proses pengendalian penyakit bulai pada tanaman jagung dan pengendalian hama patek pada tanaman cabai.

Untuk pencegahan hama dan penyakit pada tanaman, widyaiswara menegaskan pentingnya pemberian pupuk berimbang pada tanaman dan pengaturan jarak tanam.

Pertanyaan lainnya tentang waktu yang tepat pemberian Tricoderma pada saat pembuatan pupuk organik.

“Pemberian tricoderma yang tepat untuk pembuatan kom-mix hayati (kompos dicampurkan dengan agens hayati Trichoderma adalah saat dekomposisi pupuk organik sudah berjalan 1 minggu atau sampai suhu dingin sekitar 23-25 derajat celcius,” terang Widyaiswara.

Saat ini, laboratorium agens hayati BBPP Lembang memproduksi Trichoderma dalam bentuk serbuk.

Widyaiswara berbagi tips cara pembuatannya dengan mencampurkan Trichoderma dengan zat kaolin dengan komposisi tertentu. Fungsinya untuk memperpanjang masa simpan trichoderma tersebut.

Dengan melakukan inokulasi Trichoderma, petani dapat mengendalikan penyakit tanaman secara alami dan meningkatkan kualitas hasil panen secara berkelanjutan.

Salah seorang petani dari Kelompok Tani Cinta Asih I Desa Cipangeran, Aris Supardi, menyampaikan apresiasinya atas kegiatan KATALIS, kolaborasi BBPP Lembang dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KBB.

“Adanya konsultasi agribisnis ini menambah ilmu pengetahuan bagi kami tentang agen pengendali hayati, lalu juga tentang pengendalian hama dan penyakit pada tanaman berbagai tanaman yang kerap kami alami,” ucapnya.

“Semoga program ini bisa berkontribusi dan berkelanjutan untuk pembangunan pertanian di Kecamatan Saguling,” harap Aris.(***)

UPT Pelatihan Kementan Dorong Mahasiswa Melek Teknologi Jadi Petani

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Penerapan teknologi dalam pertanian menjadi salah satu fokus Kementerian Pertanian (Kementan). Melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Kementan berupaya melakukan regenerasi petani yang melek teknologi.

Hal ini dilakukan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang diikuti tiga mahasiswa Universitas Gunadarma selama satu bulan, 11 Agustus hingga 11 September 2025.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam banyak kesempatan menekankan peran strategis generasi muda dalam memajukan pertanian nasional. Ia meyakini,

"Dengan karakter yang kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras, pemuda Indonesia dapat menjadi garda terdepan untuk mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia," tuturnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan, regenerasi petani sangat penting untuk memenuhi permintaan pangan yang terus meningkat.

"Mengingat usia petani kita yang semakin tua, sangat penting untuk mendorong generasi petani baru demi menyokong ketahanan pangan," jelasnya.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyambut baik kontribusi para mahasiswa.

"Kami sangat mengapresiasi semangat belajar mereka. Kehadiran mahasiswa PKL seperti ini mencerminkan komitmen kami dalam melahirkan SDM pertanian yang andal dan inovatif," tutur Ajat.

Sementara tiga mahasiswa Universitas Gunadarma yang PKL di BBPP Lembang, fokus pada penerapan teknologi modern dalam budidaya tanaman.

Baca juga:

Petani Gen Z Buktikan Pertanian Organik Menguntungkan dan Ramah Lingkungan

Dalam laporan PKL yang disusun, dua mahasiswa, Sopiyul Anam dan Andreas Rizki, mendalami sistem irigasi tetes di dalam screen house.

Sopiyul menerapkannya pada budidaya tomat (Solanum Lycopersicum), sementara Andreas mengaplikasikannya pada melon.

Keduanya berhasil menunjukkan bahwa irigasi tetes dapat menghemat air dan meningkatkan efisiensi nutrisi, menjadikannya metode ideal untuk pertanian modern.

Mahasiswa lainnya, Laode Muhammad Jumaidin, meneliti pemanfaatan teknologi aeroponik untuk produksi benih kentang (Solanum Tuberosum L.).

Teknik ini memungkinkan perbanyakan bibit kentang secara vegetatif di udara, menghasilkan bibit yang lebih sehat, bebas penyakit, dan berpotensi hasil panen tinggi.

Selain pencapaian teknis, para mahasiswa juga berbagi pengalaman mereka selama PKL di BBPP Lembang.

Andreas Rizki merasa suasana PKL sangat menyenangkan.

"Selama PKL ini banyak hal seru di BBPP Lembang. Mulai dari Widyaiswara, orang-orang di lahan, sesama anak PKL, hingga pembimbing lapang, semuanya sangat suportif," ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa bimbingan dari Widyaiswara sangat membantu dalam penyusunan proposal dan pengerjaan di lapangan.

Sopiyul Anam menceritakan tantangan yang ia hadapi.

"Tantangan utama saya adalah menyelesaikan laporan proposal penelitian dan laporan kegiatan magang," ujarnya.

Ia mengatasi hal ini dengan membuat timeline prioritas agar semua tugas selesai tepat waktu.

Laode Muhammad Jumaidin merasa sangat nyaman dengan lingkungan dan kegiatan di BBPP Lembang.

"Kesan saya terhadap lingkungan BBPP sangat nyaman dan bersih, terutama untuk Bapak/Ibu Widyaiswara yang telah membimbing kami," katanya.

Ia juga menilai kegiatan yang dijalani sangat seru dan interaktif, karena teori di laporan sejalan dengan praktik di lapangan.

Penerapan teknologi canggih oleh mahasiswa ini menegaskan potensi besar generasi muda untuk membawa inovasi di sektor pertanian, sejalan dengan visi Kementan untuk menciptakan pertanian yang maju, mandiri, dan modern. (RIS/MIR)

UPT Pelatihan Kementan Praktikkan Agribisnis Kopi ke Petani Kabupaten Bandung Barat

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG BARAT – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menyelenggarakan Konsultasi Agribisnis Keliling (KAK), Rabu (3/9/2025), di BP3K Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Dalam kegiatan yang dihadiri 30 orang anggota kelompok tani dari 14 desa di wilayah Kecamatan Cipongkor, salah satu yang dijelaskan BBPP Lembang adalah seputar budidaya kopi.

Dalam kesempatan terpisah,.Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan pertanian adalah sektor yang penting. Karena, pertanian menyediakan pangan bagi manusia.

"Jika tidak ada pangan maka tidak ada kehidupan. Tanpa pangan, negara bisa bubar sehingga sangat penting kita jaga pangan," kata Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan hal terpenting untuk meningkatkan pertanian adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

“Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP juga terus mengupayakan peningkatan SDM di bidang pertanian,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan pihaknya membangun dan mengembangkan Konsultasi Agribisnis sebagai salah satu standar pelayanan di Balai Besar Pelatihan.

Ajat menjelaskan, BBPP Lembang berkomitmen kuat meningkatkan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu pelayanan publik yang kami laksanakan mendukung kompetensi SDM pertanian melalui Konsultasi Agribisnis. Ini upaya kami dalam pengembangan inkubator agribisnis sebagai pendukung penyelenggaraan pelatihan,” tutur Ajat.

Sementara kegiatan KAK kali ini dihadiri widyaiswara BBPP Lembang spesialisasi budidaya pertanian dan pascapanen pengolahan hasil pertanian. Selain itu, hadir petugas dari Inkubator Agribisnis dan pengelola perpustakaan BBPP Lembang.

Salah seorang peserta pembudidaya jagung dan rencana akan menanam kopi, menanyakan tentang budidaya kopi yang diawali dengan pemilihan dan perlakuan bibit kopi yang baik sehingga saat ditanam nantinya akan menghasilkan tanaman kopi yang berkualitas tinggi.

Baca juga:

Bertani on Cloud Kementan Berbagi Strategi Ekspor untuk Petani

Widyaiswara spesialisasi budidaya menjelaskan mulai dari pengolahan lahan, penentuan lubang tanam, penanaman, dan pemeliharaan tanaman kopi.

Peserta lainnya, yaitu penyuluh swadaya, menanyakan alternatif budidaya tanaman sayuran di lahan seluas 300m2 di lingkungan pesantren di Kecamatan Cipongkor yang dapat menjadi aktivitas menguntungkan bagi santriwan santriwatinya.

Widyaiswara menjelaskan berbagai alternatif jenis komoditas pertanian baik sayuran dan tanaman buah serta cara budidayanya baik konvensional maupun hidroponik.

Sementara itu, widyaiswara spesialisasi pascapanen dan pengolahan hasil pertanian memberikan solusi alernatif pengolahan limbah kopi. Limbah kulit kopi dapat diolah menjadi briket.

Briket kulit kopi adalah bahan bakar padat alternatif yang dibuat dari limbah kulit kopi yang telah diproses melalui karbonisasi (diarangkan) kemudian dicampur dengan perekat tepung kanji dengan perbandingan 1 kg limbah kulit kopi dicampurkan dengan 100 gram tepung kanji dan air panas.

Setelah itu dicetak dan dikeringkan dan briket siap dimanfaatkan menjadi bahan bakar seperti arang dan bisa dipasarkan ke penjual sate atau industri lainnya yang memerlukannya.

Proses pengolahan kulit kopi menjadi briket ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah organik sehingga ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi energi alternatif, dan menciptakan potensi ekonomi karena memiliki nilai jual.

Dijelaskan pula proses pengolahan biji kopi hingga menjadi bubuk kopi. Beberapa teknik menyeduh kopi juga dikenalkan berikut alat seduhnya, seperti V60, espresso, french press, vietnam drip, siphon.

Widyaiswara menjelaskan dengan cara pengolahan kopi hingga menjadi secangkir kopi, akan menghasilkan keuntungan berlipat.

Peserta pun bersama-sama mencicipi olahan kopi khas BBPP Lembang, yaitu varietas kopi arabica yang diseduh dengan metode french press kopi.

“Rasanya sempurna sekali, ada asamnya dan juga terasa pahitnya,” ucap salah seorang peserta.

Lilim, Ketua Kelompok Tani Bumi Lestari Jaya Desa Sarinagen, Kecamatan Cipongkor, menyampaikan rasa bahagianya bisa ikut kegiatan Konsultasi Agribisnis Keliling yang dilakukan oleh BBPP Lembang dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat.

“Saya baru mulai menanam kopi yang dibarengi dengan menanam jagung sehingga saat tadi menanyakan bagaimana budidaya kopi, sangat jelas disampaikan oleh widyaiswara BBPP Lembang. Penjelasannya juga ditunjang adanya buku-buku berkaitan dengan agribisnis kopi yang dibawa di mobil KAK ini," katanya.

“InsyaAllah Ilmu budidaya kopi yang disampaikan akan saya sampaikan kepada anggota kelompok tani saya sehingga insyaAllah ilmunya bermanfaat bagi kelompok tani kami dan juga secara umum bagi masyarakat di Kecamatan Cipongkor,” ucap Lilim.(***)

Bertani on Cloud Kementan Berbagi Strategi Ekspor untuk Petani

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian memberikan strategi untuk berekspor kepada petani dalam kegiatan Bertani On Cloud (BOC) volume 318, yang digelar oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang Kamis, (28/08/2025). Kegiatan diadakan di P4S Lembang Agri dengan narasumber petani millennial dan eksportir.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menekankan dalam berbagai kesempatan bahwa pertanian adalah salah satu sektor yang berkontribusi penting terhadap ekonomi Indonesia.

Dijelaskannya, fokus Kementerian Pertanian di samping mencapai swasembada pangan adalah mengambil peran lebih dalam perdagangan global.

“Target kita bukan hanya mempertahankan, tapi melipatgandakan kontribusi sektor pertanian terhadap devisa negara,” ujarnya.

Mentan menambahkan, hal tersebut dilakukan dengan berbagai upaya penguatan kelembagaan petani dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Salah satunya adalah dengan penguatan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peran P4S dalam pertanian.

“P4S menjadi contoh bagaimana pendidikan vokasi pertanian bisa berjalan efektif di masyarakat. Dengan fokus pada bidang masing-masing, mereka bukan hanya mencetak petani, tetapi juga mencetak wirausaha muda pertanian,” kata Santi.

Sementara pelaksanaan BOC Volume 319 mengangkat tajuk “Dari Desa Cikidang Menembus Ekspor Hortikultura”.

Baca juga:

Kementan Kenalkan Hilirisasi Komoditas Sayuran kepada KWT Kabupaten Bandung Barat

Hadir sebagai narasumber Dodih dari P4S Lembang Agri dan petani muda Desa Cikidang Ardiansyah sebagai mitranya.

P4S Lembang Agri dikenal sebagai salah satu kelembagaan petani yang sudah melakukan ekspor ke beberapa negara.

Komoditas yang mereka produksi adalah buncis yang pernah merambah pasar Singapura dan romaine lettuce yang dijual ke Taiwan.

P4S Lembang Agri juga menandatangani kontrak dengan beberapa perusahaan restoran untuk memenuhi stok mereka.

Lembang Agri juga mengajak petani muda untuk turun ke lahan untuk memenuhi permintaan berbagai komoditas.

“Untuk mengembangkan petani muda intinya kita harus membuat bidang pertanian menarik bagi mereka misalnya dengan menggunakan konten,” terang Dodih.

Sedangkan Ardiansyah memulai kiprahnya dalam pertanian setelah diajak Dodih untuk mengelola P4S. Lama-kelamaan bidang tersebut menjadi menarik.

“Saya juga menemukan healing melalui pertanian,” tambah Ardiansyah.

Selain menunjukkan petani milenial, BOC kali ini juga menghadirkan eksportir, PT. Global Agriculture Cooperation Indonesia (GACI), yang telah bekerjasama dengan P4S Lembang Agri untuk mengekspor berbagai komoditas ke Taiwan.

Direktur PT. GACI, Lee Pai-Po, hadir untuk berbagi dengan para petani yang hadir secara daring.

“Awal mulanya, saya melihat pertanian di Indonesia dan itu sangat luar biasa,” terang Lee mengenai awal mula terlibatnya dengan pertanian Indonesia.

“Saya melihat kesempatan di sini dan saya berinvestasi ke Indonesia,” lanjutnya.

Lee melanjutkan menjelaskan mengenai kiat-kiat ekspor untuk petani Indonesia.

“Yang terpenting adalah kepastian yang diberikan oleh petani dalam memenuhi permintaan pembeli,” tuturnya.

Di bagian akhir, Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika menyampaikan harapannya kepada para generasi muda.

“Generasi muda sudah mampu menunjukkan prestasinya hingga ke ekspor, ini merupakan penyemangat bagi generasi muda bahwa sektor pertanian sungguh prospektif di masa depan,” tuturnya.(***)

Konsultasi Gratis, UPT Pelatihan Kementan Beri Solusi Bagi Petani

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG BARAT – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, kembali menyelenggarakan Konsultasi Agribisnis Keliling (KAK), Kamis (07/08/2025).

Kali ini, konsultasi diadakan di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, dan dihadiri sekitar 30 petani.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menjelaskan pentingnya pangan bagi manusia.

"Jika tidak ada pangan maka tidak ada kehidupan. Tanpa pangan, negara bisa bubar sehingga sangat penting kita jaga pangan," kata Mentan Amran.

Mentan Amran juga mengingatkan cita-cita besar Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan Indonesia.

“Perintah Bapak Presiden Prabowo, harus swasembada dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dan ini bisa kita rebut manakala kita semua saling bergandengan tangan,” ucap Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan hal terpenting untuk meningkatkan pertanian adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

“Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP juga terus mengupayakan peningkatan SDM di bidang pertanian,” katanya.

Layanan Konsultasi Agribisnis Keliling merupakan salah satu Standar Pelayanan Publik BBPP Lembang. Sejak pertengahan tahun 2024, BBPP Lembang membangun dan mengembangkan inovasi pelayanan publik KAK.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan KAK dibangun dan dikembangkan karena komitmen kuat untuk meningkatkan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu pelayanan publik yang kami laksanakan mendukung kompetensi SDM pertanian melalui Konsultasi Agribisnis Keliling. Ini upaya kami dalam pengembangan inkubator agribisnis sebagai pendukung penyelenggaraan pelatihan,” tutur Ajat.

Konsultasi sendiri dilaksanakan secara hybrid, baik secara online (daring) berbasis website dan whatsapp center. Sementara secara offline (luring), para petani datang langsung ke kantor dan KAK datang ke lokasi petani yang membutuhkan konsultasi tentang pertanian.

Baca juga:

Gen Z Pelajari Pertanian Melalui PKL di UPT Kementan

Awal tahun 2025, BBPP Lembang bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat untuk layanan KAK, mengunjungi petani di berbagai kecamatan Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan KAK menghadirkan konsultan yaitu widyaiswara dan petugas lapangan yang kompeten memecahkan permasalahan yang dihadapi petani sesuai yang dibutuhkan.

Kunjungan ke BP3K Cipatat merupakan kunjungan ke-11 dalam rangkaian KAK. BBPP Lembang bekerja sama dengan penyuluh setempat untuk mengundang para petani dengan rasa ingin tahu besar atau mereka yang memiliki pertanyaan untuk disampaikan.

Dalam rangkaian KAK kali ini konsultasi berjalan dalam bentuk diskusi. N. Ida Farida dan Iwan Hernawan menjadi widyaiswara fasilitator. Konsultasi dimulai dengan materi ajar mengenai tanaman hia

Materi tanaman pangan diangkat untuk memberikan petani wawasan alternatif dalam bercocok tanam. Petani di daerah Cipatat mayoritas adalah petani dan menurut Ida akan membantu penghasilan mereka apabila menanam komoditas lain.

Komoditas tanaman hias seperti sukulen ideal karena dapat dibudidayakan dengan bahan yang relatif murah dan memberikan imbal hasil yang cukup baik.

“Tanaman hias dapat memberikan penghasilan jika dikembangkan untuk jual-beli, misalkan sebagai suvenir,” terang Ida.

Selain itu tanaman hias lain memiliki nilai ekonomis tinggi bergantung dengan tren dan musim. Ida memisalkan tanaman janda bolong yang kerap menjadi perhatian di kala pandemi sekitar tahun 2020 hingga 2021.

Sedangkan Iwan membuka sesi diskusi yang lebih aktif. Beberapa petani menanyakan cara untuk menghindari anjloknya harga dan menanggulangi perubahan musim. Iwan menerangkan bahwa kunci dari menanggulangi hal tersebut adalah dengan memiliki data.

“Bapak dan ibu sekalian dapat menggunakan data untuk mengenali potensi tanaman yang akan dibudidayakan, paling sederhana adalah dengan menggunakan teori supply dan demand,” terang Iwan.

Ia kemudian memisalkan harga tanaman atau buah-buahan di pasar suatu ketika dapat turun bergantung dengan ketersediaan.

Sehingga petani harus mengenal musim dan harga untuk menentukan momentum menanam tanaman dan buah yang sesuai untuk memaksimalkan keuntungan.

“Petani harus mengenal pasar agar mampu menentukan potensi tanaman yang akan dibudidayakan,” tuturnya.(***)

Tingkatkan Kapasitas Petani Kabupaten Bandung Barat, UPT Pelatihan Kementan Berikan Konsultasi Gratis

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG BARAT – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, kembali menyelenggarakan Konsultasi Agribisnis Keliling (KAK), Kamis (26/06/2025).

Kali ini, konsultasi diadakan di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, dan dihadiri sekitar 30 petani.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menjelaskan pentingnya pangan bagi manusia.

"Jika tidak ada pangan maka tidak ada kehidupan. Tanpa pangan, negara bisa bubar sehingga sangat penting kita jaga pangan," katanya.

Mentan Amran juga mengingatkan cita-cita besar Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan Indonesia.

“Perintah Bapak Presiden Prabowo, harus swasembada dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dan ini bisa kita rebut manakala kita semua saling bergandengan tangan,” ucapnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan hal terpenting untuk meningkatkan pertanian adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

“Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP juga terus mengupayakan peningkatan SDM bidang pertanian,” katanya.

Layanan konsultasi agribisnis merupakan salah satu Standar Pelayanan Publik BBPP Lembang. Sejak pertengahan tahun 2024, BBPP Lembang membangun dan mengembangkan inovasi pelayanan publik KAK.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan pihaknya membangun dan mengembangkan KAK karena berkomitmen kuat meningkatkan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu pelayanan publik yang kami laksanakan mendukung kompetensi SDM pertanian melalui Konsultasi Agribisnis Keliling. Ini upaya kami dalam pengembangan inkubator agribisnis sebagai pendukung penyelenggaraan pelatihan,” tutur Ajat.

Baca juga:

Regenerasi Petani, Kementan Tunjukkan Potensi Agribisnis Pada Gen Z

Konsultasi dilaksanakan secara hybrid, baik secara online (daring) berbasis website dan whatsapp center dan secara offline (luring) datang langsung ke kantor dan KAK datang ke lokasi petani yang membutuhkan konsultasi tentang pertanian.

Kunjungan ke BP3K Cikalong Wetan merupakan kunjungan ke-8 dalam rangkaian KAK. BBPP Lembang bekerja sama dengan penyuluh setempat untuk mengundang para petani.

Kali ini konsultasi berjalan dalam bentuk diskusi. Dewi Padmisari, Sani Hanifah, dan Elvina Hadiani menjadi widyaiswara fasilitator. Konsultasi dimulai dengan materi ajar mengenai kinerja dalam pertanian.

“Yang membedakan petani Indonesia dengan petani dari negeri lain sebenarnya adalah efisiensi,” terang Dewi.

Ia kemudian menambahkan bahwa petani Indonesia seringkali terdistraksi ketika bekerja. “Namun dengan usaha, hal ini dapat dilalui,” tambahnya.

Ia mencontohkan bahwa petani di negeri Jepang menggunakan usaha yang lebih terfokus dalam bertani.

Mereka juga ditunjang oleh prasarana yang lebih baik dan benih berkualitas. Diantara ketiga elemen tersebut dapat memberikan hasil yang lebih baik jika disesuaikan satu sama lain.

Praktik juga diberikan sebagai materi konsultasi. Para petani kemudian diberikan cara sederhana untuk mengukur unsur hara dalam tanah.

Sani Hanifah kemudian membimbing mereka cara mengukur unsur hara dengan cara mengayak tanah dan menimbangnya. Selain itu tanah yang diukur juga disulut dengan spirtus dan api.

Selanjutnya konsultasi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab berjalan aktif dengan pertanyaan demi pertanyaan dijawab.

“Kami juga menyediakan konsultasi online melalui website BBPP Lembang,” tutup para widyaiswara pada sesi konsultasi gratis kali itu.(***)

Siapkan Regenerasi Petani, Kementan Latih Gen Z Pertanian Modern

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, kembali memperkenalkan sektor pertanian kepada generasi muda siswa-siswi kelas VIII SMP Budi Cendekia Islamic School, Depok, Kamis (24/4/2025).

Buat SMP Budi Cendekia Islamic School, kunjungan kali ini adalah yang ketiga kalinya sepanjang bulan April. Kali ini 50 orang siswa-siswi didampingi 5 orang guru yang ingin mempelajari pertanian modern.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan generasi muda adalah ujung tombak kemajuan Indonesia.

“Sekarang generasi muda adalah generasi yang harus kita persiapkan untuk mengawal Indonesia menjadi negara emas. 20 tahun kemudian mereka yang akan memimpin republik ini. Kita harapkan mereka lebih baik dan lebih hebat dari kita,” ujarnya.

Karena itu, lanjutnya, Kementan akan terus berupaya meregenerasi sektor pertanian dengan memfokuskan program-program pada generasi muda.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyebut jika petani-petani yang ada saat ini sudah semakin tua.

"Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menegaskan komitmennya mencetak generasi muda agar mampu menjadi wirausaha muda melalui berbagai program peningkatan kompetensi. Di antaranya pelatihan, kegiatan kunjungan singkat dan kegiatan magang.

Seperti pada dua kunjungan sebelumnya, rombongan SMP Budi Cendekia Islamic School kali ini juga fokus di hilirisasi komoditas pertanian dan agribisnis tanaman hias.

Di laboratorium pengolahan hasil pertanian, widyaiswara spesialisasi pengolahan hasil pertanian memberi motivasi pentingnya mengupayakan sektor pertanian terus berjalan.

Baca juga:

Presiden Prabowo dan Mentan Amran Pimpin Tanam Padi Serentak di 14 Provinsi

Kebutuhan pangan terus ada sehingga pertanian dapat menjadi peluang usaha menjanjikan terutama di sektor hilirisasi yang dapat menghasilkan keuntungan berlipat.

Hilirisasi komoditas pangan melalui pengolahan hasil pertanian diungkapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk dan memperpanjang daya simpan.

Lalu, generasi z ini diajak praktik langsung membuat cemilan yang rasanya manis asam dan menyegarkan yaitu sorbet mangga.

Pertama-tama, diberikan penjelasan alat dan bahan, dilanjutkan demo membuat sorbet hingga menjadi sorbet mangga yang siap dikonsumsi.

Siswa-siswi tekun dan antusias mempraktikkan langkah demi langkah pembuatan sorbet, mulai dari pencampuran semua bahan, pemasakan, pemixeran hingga pelabelan.

“Mudah juga ya membuat sorbet ini dan rasanya juga enak,” ucap mereka.

Produk olahan lainnya seperti es krim jagung, es krim labu, sorbet pakcoy, sorbet buah naga, dan sorbet cabai, juga diserbu oleh anak-anak untuk dicicipi sampai menciptakan antrian panjang di depan freezer.

Selanjutnya, di screen tanaman hias, widyaiswara spesialisasi budidaya pertanian mengajarkan peluang bisnis tanaman hias dengan proses perbanyakan dan pemeliharaan yang sangat mudah asalkan dilakukan dengan serius dan memahami betul proses budidaya yang baik dan benar.

Karena itu, masing-masing siswa diajak mempraktikkan perbanyakan tanaman hias kaktus dan sukulen mulai dari penyiapan media tanam terdiri dari pasir, sekam bakar, dan pupuk kandang ayam dengan perbandingan 1:1:1.

Siswa-siswi mempraktikkan perbanyakan tanaman sukulen melalui stek pucuk dan stek daun. Selain itu, mereka juga praktik perbanyakan kaktus dengan cara grafting, menyambungkan understam dan anakan kaktus.(***)

Manfaatkan Alsintan, Petani Kulon Progo Panen Raya

TANIINDONESIA.COM//KULON PROGO - Kelompok Tani (Poktan) Tani Makmur Kulonprogo memanfaatkan alat mesin pertanian (alsintan) dalam budidaya padinya. Bantuan Kementerian Pertanian (Kementan) ini terbukti bisa meningkatkan produktivitas padi di Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Petani di Dukuh Karangasem, Kedungsari, Pakanewonan Pengasih Kulon Progo berhasil menikmati panen raya. Dengan lahan poktan seluas 21 ha, produktivitas petani bisa mencapai 6,88 ton/ha.

Sementara itu, di lokasi Panen Raya Nasional di Desa Randegan Wetan, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyebut keberhasilan ini adalah hasil dari kebijakan yang tepat dan keberpihakan Presiden terhadap sektor pertanian.

“Ini betul-betul revolusi sektor pertanian. Kemudian program pompanisasi telah meningkatkan produksi padi di Pulau Jawa sebesar 2,8 juta ton di saat krisis El Nino. Alhamdulillah produksi kita meningkat. Menurut data dari BPS, terjadi peningkatan produksi sebesar 52 persen pada Januari, Februari, dan Maret,” lanjutnya.

Untuk itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga negara, baik pusat maupun daerah, untuk mencapai target swasembada pangan.

"Untuk mewujudkan swasembada pangan ini tidak bisa sendirian, kita harus terus bergandengan tangan dengan semua pihak," kata Idha.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) R. Hermawan yang hadir di lokasi panen raya Kulon Progo mengatakan ini sebagai langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Hermawan menyebut alsintan menjadi salah satu kunci keberhasilan swasembada pangan.

Baca juga:

https://taniindonesia.com/2025/03/14/dorong-swasembada-pangan-kementan-laksanakan-bimtek-penyuluhan-keamanan-pangan/

Disampaikan oleh Sarino, Ketua Poktan Kedungsari alsintan sudah menjadi kebutuhan dasar petani.

“Saat ini rata – rata usia petani mencapai 50 tahun ke atas, sehingga program percepatan tanam memerlukan bantuan alsintan yang sesuai” ucapnya.

Senada, Rizal Agung Wahyudi, petani milenial sekaligus pengurus UPJA Ngestiraharjo, mengatakan alsintan berperan penting dalam mempermudah budidaya, panen, dan pasca panen di lapangan.

“Kami sudah mendapat bantuan alsintan traktor dan combine serta drier. Usaha jasa pengolahan tanah, panen juga sudah berjalan.” jelasnya.

Ia menyebut bantuan drier sangat bermanfaat bagi petani yang bergerak dalam penggilingan padi. Dengan semakin tingginya produksi padi harian, ia menyebut perlunya drier yang lebih besar.

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan optimis produktivitas padi Kulon Progo akan terus meningkat.

“Kami menyiapkan Kulon Progo untuk menjadi lumbung pangan. Kami akan melatih taruna tani, dengan 50 orang petani tiap angkatan, di lokasi tanam” jelasnya.

Menurutnya, upaya ini bisa merubah mindset petani muda dari petani kumuh menjadi petani bisa kaya.

Hadir di lokasi, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengapresiasi gerakan ini. Ia mendorong petani untuk memanfaatkan lahan dengan budidaya varietas padi unggul.

“Dengan luasan lahan yang sempit akan lebih menguntungkan jika tanam padi premium.” papar Sri Sultan usai melakukan panen raya di lokasi pada Senin (7/4/2025).(***)

Harga Gabah di Bawah HPP, Petani Garut Berharap Bulog Serap Gabah

TANIINDONESIA.COM//GARUT – Pemandangan kontras terlihat di tengah hamparan sawah yang mulai menguning di Kabupaten Garut. Di satu sisi, petani tengah bergembira menyambut panen padi, namun di sisi lain, kekhawatiran mendalam menyelimuti mereka akibat anjloknya harga gabah.

Seperti yang dirasakan oleh petani di Desa Putrajawa Kecamatan Selaawi, Asep, yang tergabung di Kelompok Tani Harapan Makmur. Asep mengelola lahan sawah seluas 10 hektar. Saat ditemui di sela-sela kegiatan panen, Senin (13/1), menyampaikan, “Hari ini kami panen sebanyak 56 ton dan produktivitasnya 5,6 ton/hektar. Hasil panen kami jual ke tengkulak dengan harga Rp 6.000 per kilogram,” tuturnya.

Kondisi ini membuat ada selisih Rp 500 per kilogram dari Penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram.

Padahal, sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto, HPP harus minimal Rp 6.500 per kilogram, yang bertujuan untuk melindungi harga dasar gabah dan beras di tingkat petani, serta mengoptimalkan penyerapan hasil panen dalam negeri.

Menurut Asep, harga HPP sebesar Rp 6.500 sangat bagus dan memberikan harapan besar bagi petani. Namun, tanpa intervensi Bulog, gabah mereka hanya diserap oleh tengkulak dengan harga jauh di bawah HPP.

Baca juga:

https://taniindonesia.com/2025/01/17/perkenalkan-pertanian-ke-pelajar-kementan-siapkan-generasi-petani-masa-depan/

“Harapan kami harga gabah bisa minimal Rp 6.500 per kilogram agar kami bisa terus melakukan budidaya padi dengan semangat dan menghasilkan padi yang berkualitas baik,” kata Asep.

Namun demikian, Asep mengapresiasi perhatian pemerintah yang telah mempermudah akses petani terhadap saprodi khususnya pupuk. “Alhamdulillah saat ini pupuk banyak dan mudah kami peroleh dan sangat membantu kegiatan budidaya padi,” ujarnya.

Harga gabah yang terus anjlok di tingkat petani menjadi persoalan mendesak yang harus segera diatasi. Intervensi Bulog diperlukan agar ketentuan HPP benar-benar terlaksana, sehingga petani dapat menikmati hasil panen dengan harga yang layak dan mengurangi potensi kerugian besar.

Pembelian gabah sesuai HPP agar petani sejahtera dan termotivasi untuk terus meningkatkan produksi padi meraih swasembada pangan secepat-cepatnya. (yoko/che)