21 April 2026

#Kementan

Edukasi Siswa Sekolah Menengah Pertama, Kementan Upayakan Regenerasi Petani

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Sebanyak 245 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Talenta Juara Bandung melaksanakan kunjungan studi lapangan inspiratif ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Selasa (16/9/2025).

Aktivitas ini merupakan bagian dari upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam mempercepat regenerasi petani, dengan fokus pada integrasi ilmu pengetahuan akademis dan praktik agribisnis modern di lapangan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, secara konsisten menegaskan peran vital generasi muda sebagai tulang punggung swasembada pangan.

"Untuk mencapai hal tersebut, peran petani muda sangat dibutuhkan sebagai motor penggerak," ujar Menteri Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, turut menyampaikan pentingnya regenerasi petani dari kalangan muda.

“Pertanian harus didukung kalangan millennial. Pemerintah berupaya melakukan regenerasi petani yang dapat berdampak bagi sosial ekonomi masyarakat,” kata Santi.

Baca juga:

Kementan Siapkan Generasi Muda untuk Masa Depan Pertanian Indonesia

Dalam kunjungan, rombongan siswa dibagi untuk mengikuti tiga sesi praktik utama. Sesi pertama mengajarkan keterampilan mengolah sumber daya lokal menjadi produk bernilai jual, yaitu melalui praktik pembuatan es krim jagung manis. Sesi kedua memperkenalkan budidaya tanaman hias, meliputi teknik perbanyakan dan perawatannya.

Sesi pamungkas membawa siswa langsung ke lahan hidroponik BBPP Lembang, di mana mereka belajar secara menyeluruh proses budidaya tanpa tanah, mulai dari penyiapan media tanam hingga manajemen nutrisi air yang efisien.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyambut baik antusiasme siswa.
"Kunjungan dari adik-adik SMP Juara Bandung ini adalah investasi jangka panjang dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian. Menarik minat generasi muda tidaklah cukup, mereka harus dibekali dengan keahlian inovatif," jelasnya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMP Juara Bandung, Nunung Nurohmah, menyoroti keterkaitan materi.
"Ini sangat relevan dengan pelajaran IPA. Pelajaran IPA, dan juga IPS, memiliki kaitan erat dengan pengenalan potensi sumber daya alam yang baru saja kami pelajari," kata Nunung. (RIS/MIR)

Kementan Siapkan Generasi Muda untuk Masa Depan Pertanian Indonesia

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menyiapkan generasi muda sebagai pilar ketahanan pangan.

Salah satunya, melalui Pelatihan Agribisnis Bawang Merah yang berlangsung 8 hingga 12 September 2025. Kegiatan ini diikuti 25 siswa-siswi yang sedang menjalani praktik kerja lapangan (PKL). Para peserta dibekali dengan keterampilan dan pengetahuan praktis.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya peran pemuda.

"Regenerasi petani sangat krusial. Indonesia butuh pemuda bersemangat tinggi, cerdas, dan berkarakter kuat untuk jadi garda terdepan ketahanan pangan nasional," ujar Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menjelaskan bahwa pelatihan ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong regenerasi petani, mengingat jumlah petani yang semakin menua.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menambahkan lembaganya berdedikasi penuh untuk melahirkan generasi muda potensial melalui beragam program.

"Kami berikan materi praktis dan teoritis agar peserta siap terjun ke dunia usaha pertanian, baik sebagai petani profesional maupun wirausaha," tegas Ajat, Jumat (12/9/2025).

Dalam pelatihan yang berlangsung selama lima hari, peserta menerima materi yang luas mulai dari budidaya, pengolahan hasil, hingga pemasaran bawang merah.

Widyaiswara memberikan materi tentang Motivasi Berprestasi dan Dinamika Kelompok untuk membangun semangat tim.

Kemudian, peserta mendalami teknik budidaya bawang merah, mulai dari persiapan benih dan lahan, hingga penanaman.

Fokus pelatihan juga mencakup Pupuk dan Pemupukan, Pemeliharaan Tanaman, dan Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu yang ramah lingkungan.

Wawasan peserta juga diperluas dengan materi Panen dan Pascapanen, Pengolahan Hasil, Analisis Usaha Tani, dan Pemasaran Hasil Bawang Merah.

Baca juga: 

UPT Pelatihan Kementan Dorong Mahasiswa Melek Teknologi Jadi Petani

Sesi Komunikasi Efektif juga diberikan untuk meningkatkan soft skill peserta dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Pelatihan ini memberikan dampak yang signifikan bagi para peserta.

Salah seorang peserta, Siti, berbagi pengalamannya,

"Saya mempelajari mengenai budidaya bawang merah. Budidaya itu meliputi sanitasi, pengolahan lahan, perawatan. Selanjutnya, untuk panen dan pascapanen itu meliputi panen, yaitu mencabut atau membawa hasil apa yang kita tanam. Pascapanen itu meliputi sortasi, grading, dan distribusi,” ujarnya.

Siti melanjutkan, untuk pemasaran, tujuan pembelajarannya untuk memahami bagaimana cara pemasaran yang baik dan mempelajari segmentasi pasar.

"Baik ke pasar, supermarket, ataupun ke hotel dan restoran. Widyaiswara juga melatih kami tentang komunikasi efektif, bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan benar untuk berbicara di depan khalayak umum,” imbuhnya.

Peserta lainnya, Sabrina juga mengungkapkan hal serupa.

"Setelah mengikuti pelatihan bawang merah ini, pengetahuan saya menjadi lebih meningkat secara signifikan," katanya.

Ia juga mengaku bisa tahu tentang bagaimana teknik budidaya bawang merah, bisa tahu juga pengelolaan bawang merah dan juga perawatannya.

"Saya juga dapat mengidentifikasi apa saja masalah yang ada pada bawang merah dan juga saya bisa mengetahui varietas yang baik dalam memilih bawang merah. Pelatihan ini sangat berguna bagi saya untuk meningkatkan kompetensi saya dan bagaimana untuk meningkatkan produksi dan produktivitas bawang merah," imbuhnya.

Pengalaman serupa juga dirasakan peserta lainnya, Ardi.

"Hal yang terasa manfaatnya dari pelatihan ini, saya bisa tahu proses dari awal budidaya sampai panen, bahkan pemasaran dan cara pemasaran yang tepat,” ujarnya.(***)

UPT Pelatihan Kementan Dorong Mahasiswa Melek Teknologi Jadi Petani

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Penerapan teknologi dalam pertanian menjadi salah satu fokus Kementerian Pertanian (Kementan). Melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Kementan berupaya melakukan regenerasi petani yang melek teknologi.

Hal ini dilakukan melalui Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang diikuti tiga mahasiswa Universitas Gunadarma selama satu bulan, 11 Agustus hingga 11 September 2025.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam banyak kesempatan menekankan peran strategis generasi muda dalam memajukan pertanian nasional. Ia meyakini,

"Dengan karakter yang kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras, pemuda Indonesia dapat menjadi garda terdepan untuk mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia," tuturnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan, regenerasi petani sangat penting untuk memenuhi permintaan pangan yang terus meningkat.

"Mengingat usia petani kita yang semakin tua, sangat penting untuk mendorong generasi petani baru demi menyokong ketahanan pangan," jelasnya.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyambut baik kontribusi para mahasiswa.

"Kami sangat mengapresiasi semangat belajar mereka. Kehadiran mahasiswa PKL seperti ini mencerminkan komitmen kami dalam melahirkan SDM pertanian yang andal dan inovatif," tutur Ajat.

Sementara tiga mahasiswa Universitas Gunadarma yang PKL di BBPP Lembang, fokus pada penerapan teknologi modern dalam budidaya tanaman.

Baca juga:

Petani Gen Z Buktikan Pertanian Organik Menguntungkan dan Ramah Lingkungan

Dalam laporan PKL yang disusun, dua mahasiswa, Sopiyul Anam dan Andreas Rizki, mendalami sistem irigasi tetes di dalam screen house.

Sopiyul menerapkannya pada budidaya tomat (Solanum Lycopersicum), sementara Andreas mengaplikasikannya pada melon.

Keduanya berhasil menunjukkan bahwa irigasi tetes dapat menghemat air dan meningkatkan efisiensi nutrisi, menjadikannya metode ideal untuk pertanian modern.

Mahasiswa lainnya, Laode Muhammad Jumaidin, meneliti pemanfaatan teknologi aeroponik untuk produksi benih kentang (Solanum Tuberosum L.).

Teknik ini memungkinkan perbanyakan bibit kentang secara vegetatif di udara, menghasilkan bibit yang lebih sehat, bebas penyakit, dan berpotensi hasil panen tinggi.

Selain pencapaian teknis, para mahasiswa juga berbagi pengalaman mereka selama PKL di BBPP Lembang.

Andreas Rizki merasa suasana PKL sangat menyenangkan.

"Selama PKL ini banyak hal seru di BBPP Lembang. Mulai dari Widyaiswara, orang-orang di lahan, sesama anak PKL, hingga pembimbing lapang, semuanya sangat suportif," ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa bimbingan dari Widyaiswara sangat membantu dalam penyusunan proposal dan pengerjaan di lapangan.

Sopiyul Anam menceritakan tantangan yang ia hadapi.

"Tantangan utama saya adalah menyelesaikan laporan proposal penelitian dan laporan kegiatan magang," ujarnya.

Ia mengatasi hal ini dengan membuat timeline prioritas agar semua tugas selesai tepat waktu.

Laode Muhammad Jumaidin merasa sangat nyaman dengan lingkungan dan kegiatan di BBPP Lembang.

"Kesan saya terhadap lingkungan BBPP sangat nyaman dan bersih, terutama untuk Bapak/Ibu Widyaiswara yang telah membimbing kami," katanya.

Ia juga menilai kegiatan yang dijalani sangat seru dan interaktif, karena teori di laporan sejalan dengan praktik di lapangan.

Penerapan teknologi canggih oleh mahasiswa ini menegaskan potensi besar generasi muda untuk membawa inovasi di sektor pertanian, sejalan dengan visi Kementan untuk menciptakan pertanian yang maju, mandiri, dan modern. (RIS/MIR)

Siapkan Regenerasi Pertanian Unggul, Polbangtan Kementan Kukuhkan Mahasiswa Baru

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) secara serius mengupayakan regenerasi pertanian melalui perguruan tinggi vokasinya. Sejalan dengan itu, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) mengukuhkan mahasiswa baru di kampus Kusumanegara, Tahunan, Umbulharjo, Yogyakarta pada Selasa (09/09/2025).

Dari 2.558 pendaftar di Tahun 2025, Polbangtan Yoma menerima 364 mahasiswa baru dari 22 provinsi di Indonesia. Mereka tersebar di 6 program studi. 66 mahasiswa di Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan, 60 di Penyuluhan Peternakan dan Kesejahteraan Hewan, 62 di Agribisnis Hortikultura, 61 di Teknologi Benih, 35 di teknologi Pakan Ternak, dan 60 di Teknologi Produksi Ternak.

Setelah melalui serangkaian seleksi, yakni Tes tertulis dengan Computer Assisted Test (CAT) bagi mahasiswa jalur umum, Tes wawancara dan diakhiri dengan pemeriksaan kesehatan psikologi dan fisik, mereka dinyatakan lulus dan menjadi mahasiswa baru Polbangtan Yoma.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatn menegaskan, regenerasi petani adalah keharusan. Oleh karena itu, Kementan menurutnya memiliki komitmen untuk terus membina dan memfasilitasi petani muda.

“Bonus demografi yang dimiliki Indonesia adalah peluang emas. Dengan dukungan inovasi dan digitalisasi pertanian, generasi muda bisa menjadi motor penggerak lahirnya pertanian maju, berkelanjutan, sekaligus bernilai ekonomi tinggi,” ujar Mentan Amran.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti. Menurutnya, regenerasi petani sangat penting.

Baca juga:

Wujudkan Kemandirian Pangan, Kementan Dorong Mahasiswa Polbangtan Menjadi Motor Transformasi Pertanian

“Petani kita semakin berumur, sementara kebutuhan pangan terus meningkat. Mendorong regenerasi petani adalah langkah esensial untuk menyokong ketahanan pangan nasional,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Direktur Polbangtan Yoma, Raden Hermawan mengatakan regenerasi petani adalah keniscayaan.

“Sebagian besar petani kita sudah usia lanjut, maka kalian harus siap untuk menggantikan. Dengan teknologi informasi yang berkembang pesat, maka kita harus bisa menyesuaikan diri dan mengaplikasikannya mulai dari hulu sampai hilir dan baik on farm maupun off farm,” jelas Hermawan.

Ia mengatakan Kementan konsisten melakukan terobosan dalam rangka kemajuan sektor pertanian. Melalui peningkatan produksi maupun penyiapan sumberdaya manusia dalam upaya meningkatkan minat generasi muda untuk terjun di sektor pertanian.

“Sektor pertanian pada khususnya membutuhkan generasi muda untuk menjadi agrosociopreneur, pencetus ide, inovator dan motor penggerak pembangunan daerah. Kita harus adaptif memasuki era 4.0. Smart farming harus bisa diaplikasikan sehingga kemudahan, efektivitas dan kelestarian lingkungan dapat terjaga,” paparnya.

Untuk itu, di hadapan wali mahasiswa yang hadir, Hermawan meminta dukungan pada upaya mahasiswa menjadi qualified job creator.

“Oleh karena itu kami mengajak Bapak/Ibu orang tua wali untuk mendukung apabila putra putrinya nanti manjadi pengusaha bidang pertanian ataupun peternakan. Hal ini akan sangat membanggakan karena putra putri Bapak/Ibu bukan sebagai pencari kerja namun dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar,” ucapnya.(***)

Wujudkan Kemandirian Pangan, Kementan Dorong Mahasiswa Polbangtan Menjadi Motor Transformasi Pertanian

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) memandang penting pada pembangunan SDM pertanian untuk segera mewujudkan swasembada pangan nasional. Pasalnya, generasi muda akan memegang kendali pengelolaan sektor pertanian melalui pendekatan teknologi dan digitalisasi.

Hal ini disampaikan oleh Desrial, Guru Besar Institut Pertanian Bogor pada Kuliah Umum yang bertajuk “Peran Generasi Muda dan Brigade Pangan dalam Mensukseskan Program Swasembada Pangan” di Gedung Serbaguna Polbangtan Yoma, Tahunan, Umbulharjo, Yogyakarta pada Kamis (4/9/2025).

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan keyakinannya bahwa sektor pertanian adalah kunci perubahan besar bagi bangsa. Untuk menggapai hal tersebut, peran petani muda sangat dibutuhkan sebagai motor penggerak.

"Yang bisa merubah Republik ini adalah sektor pertanian. Ada keunggulan komparatif di sana, dan Indonesia memiliki itu," ujar Mentan Amran.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arisanti, menjelaskan pentingnya menguatkan peran generasi muda di sektor pangan.

"Kita terus berupaya untuk meningkatkan kualitas SDM pertanian. Pertama, lebih meningkatkan peran petani milenial dalam rantai pasokan pangan nasional. Kedua, mengakselerasi transformasi pertanian konvensional menjadi pertanian modern. Ketiga, meningkatkan kapasitas SDM. Keempat, hilirisasi produk berjalan dengan baik, efektif dan efisien," paparnya.

Baca juga:

Aktif Berbagi Pengetahuan, Polbangtan Kementan Raih Anugerah Kementan Corpu

Dalam kuliahnya, Desrial menekankan bahwa isu pangan bukan hanya sekadar kebutuhan dasar, tetapi juga menyangkut hidup dan mati suatu bangsa, sebagaimana pernah ditegaskan Presiden Soekarno.

“Saat ini, dunia menghadapi ancaman krisis pangan global akibat perubahan iklim, ketidakstabilan geopolitik, hingga inflasi pangan yang tinggi. Indonesia pun tidak terlepas dari tantangan kelangkaan beras dan penurunan produktivitas pertanian,” ucapnya.

Untuk itu, Ia mengajak generasi muda untuk mempersiapkan diri, membangun sektor pertanian dengan cara yang modern.

“Generasi muda, khususnya mahasiswa pertanian, harus menjadi motor penggerak transformasi pertanian tradisional menuju pertanian modern berbasis teknologi. Penguasaan alsintan, digitalisasi, dan keberanian berinovasi adalah kunci untuk mewujudkan kemandirian pangan,” ujar Desrial.

Ia juga memperkenalkan konsep Brigade Pangan, yaitu model pengelolaan usaha tani modern yang melibatkan pemuda dalam pengelolaan lahan terstruktur dengan dukungan teknologi alsintan.

“Melalui skema ini, petani milenial dapat memperoleh pendapatan yang layak sekaligus menciptakan sistem agribisnis yang berkelanjutan,” jelasnya.

Di depan ratusan mahasiswa Semester 5, Direktur Polbangtan Yoma, Raden Hermawan berharap kuliah umum ini mampu memotivasi mahasiswa untuk menyiapkan diri menjadi petani milenial, wirausahawan muda, maupun penyuluh yang inovatif.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap terjun langsung mengembangkan sektor pertanian Indonesia,” tegasnya.(***)

Petani Gen Z Buktikan Pertanian Organik Menguntungkan dan Ramah Lingkungan

LEMBANG – Dua mahasiswa Universitas Winaya Mukti akhirnya menyelesaikan Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama satu bulan, 4 Agustus 2025 – 4 September 2025, di BBPP Lembang UPT di Kementerian Pertanian. Keduanya juga menggelar Seminar Hasil PKL yang menampilkan inovasi menjanjikan di sektor pertanian.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, berpesan bahwa generasi muda sangat dinanti perannya dalam pertanian.

“Dengan karakter yang kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras, pemuda Indonesia bisa menjadi ujung tombak mewujudkan swasembada pangan dan mengantarkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia,” kata Menteri Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyampaikan jika regenerasi petani harus dilakukan.

Sebab, petani-petani yang ada saat ini sudah semakin berumur. Menurutnya, BPPSDMP berkomitmen untuk melakukan regenerasi petani.

“Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan,” terang Santi.

Mewujudkan hal tersebut, Unit Pelaksana Teknis lingkup BPPSDMP seperti Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang membuka kesempatan lebar bagi mahasiswa atau siswa sekolah kejuruan yang ingin meningkatkan kemampuan mereka. Hal ini dapat dilakukan melalui PKL dan Magang.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan pendidikan mahasiswa PKL dilakukan sebagai komitmen UPT BPPSDMP dalam mengembangkan sumber daya manusia bidang pertanian yang siap berkontribusi dibidang pertanian.

Baca juga:

UPT Pelatihan Kementan Kuatkan Peran Brigade Pangan Kalimantan Tengah melalui Pelatihan

“Kami menerima stakeholder di bidang pertanian baik itu petani, penyuluh pertanian, petugas, siswa, mahasiswa, dan lainnya untuk belajar ilmu pertanian di sini,” terang Ajat.

Dua mahasiswa Universitas Winaya Mukti melakukan PKL di bawah bimbingan widyaiswara pendamping. Para mahasiswa diberikan kesempatan untuk menjalankan suatu proyek sesuai peminatan mereka.

Pertama, Teisya Haga Pratama mengolah pupuk organik cair (POC) berbahan dasar urine sapi yang diperkaya dengan mikroorganisme lokal (MOL) dari bonggol pisang.

Risetnya membuktikan bahwa metode ini efektif dan dapat menjadi solusi ekonomis bagi peternak dalam mengelola limbah dan petani untuk memperoleh pupuk terjangkau.

Teisya Haga Pratama mengatakan program magang sangat membantu.

"Karena kami diajarkan bagaimana menghadapi dunia kerja. Kami juga terbantu dalam membangun relasi yang penting untuk karier ke depannya, terutama dalam menambah pengalaman kerja," ujarnya.

Sementara itu, Krisna Wibawa memaparkan risetnya tentang pembuatan bokashi. Ia mendemonstrasikan bahwa isi rumen sapi, yang biasanya dibuang, dapat diolah menjadi pupuk padat berkualitas tinggi dengan memanfaatkan MOL dari rumen itu sendiri.

Metode ini tidak hanya efisien tetapi juga mendukung pengelolaan limbah peternakan secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, seminar ini menegaskan kembali dedikasi para mahasiswa Universitas Winaya Mukti dalam menciptakan solusi praktis dan ramah lingkungan untuk menjawab tantangan pertanian di masa depan.

Krisna Wibawa menambahkan bahwa telah mendapatkan relasi yang baik, baik dari instruktur, pembimbing, maupun sesama mahasiswa magang. Selain itu, kami juga menambah ilmu dan pengalaman, khususnya dalam bidang kompos.(***)

UPT Pelatihan Kementan Kuatkan Peran Brigade Pangan Kalimantan Tengah melalui Pelatihan

KAPUAS — Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menggelar Penyiapan Tenaga Kompeten Brigade Pangan (BP). Kegiatan Tahap 5 ini digelar selama bulan September 2025, dilaksanakan sebanyak 55 angkatan.

Salah satu kegiatan dilaksanakan di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Bataguh, Kecamatan Kapuas, dan diikutinsebanyak 30 orang peserta dari Brigade Pangan (BP) Tani Sejahtera dan BP Pulau Kupang. Waktu pelaksanaan 1 – 3 September 2025.

Menurut Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, untuk mencapai swasembada pangan, Kementan memastikan akan fokus dalam upaya meningkatkan produksi pangan utama, dalam hal ini beras.

Dijelaskannya, salah satu yang digalakkan Kementan adalah optimalisasi lahan pertanian melalui pembentukan Brigade Pangan (BP).

“Brigade Pangan akan menjadi garda terdepan dalam mengelola dan mengoptimalkan lahan pertanian secara modern, profesional dan terampil dengan menjalankan usaha yang berorientasi bisnis dan menghasilkan pendapatan dan keuntungan,” kata Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan Brigade Pangan adalah garda terdepan dalam meningkatkan produksi pangan.

Baca juga:

UPT Pelatihan Kementan Praktikkan Agribisnis Kopi ke Petani Kabupaten Bandung Barat

Selain itu, tugas Brigade Pangan adalah mengoptimalkan lahan tidur, dan mendukung pertanian berkelanjutan melalui pendekatan teknologi dan kelembagaan petani.

Terpisah, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang, Ajat Jatnika, menyampaikan Brigade Pangan yang sudah terbentuk penting untuk ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan-pelatihan agar dapat berperan aktif memastikan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan.

Penyiapan Tenaga Kompeten Brigade Pangan (BP) tahap 5 sebanyak 55 angkatan, diikuti peserta dari beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu Kabupaten Gunung Mas, Kapuas, Kotawaringin Timur, dan Pulang Pisau. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari untuk masing-masing angkatan.

Di BPP Bataguh Kecamatan Kapuas yaitu angkatan 34, pada materi kelompok dasar, peserta memperoleh materi tentang Peran Brigade Pangan Mendukung Pencapaian Swasembada Pangan.

Pada materi kelompok inti, peserta memperoleh materi Proposal Usahatani Berorientasi Bisnis, Analisa Kelayakan Usahatani, dan Rencana Tanam. Sedangkan di materi kelompok penunjang, yaitu Rencana Tindak Lanjut.

Peserta mempraktikkan membuat analisa usahatani padi, perbedaan analisa usahatani padi varietas unggul dan varietas lokal.

Saat penutupan pelatihan, Rabu (3/9/2025), salah seorang peserta, M. Sabran, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh panitia pelatihan baik BBPP Lembang dan Dinas Pertanian Kabupaten Kapuas.

“Ilmunya sangat bermanfaat untuk kegiatan kami di brigade pangan,” ujar Sabran singkat.(***)

UPT Pelatihan Kementan Praktikkan Agribisnis Kopi ke Petani Kabupaten Bandung Barat

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG BARAT – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menyelenggarakan Konsultasi Agribisnis Keliling (KAK), Rabu (3/9/2025), di BP3K Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Dalam kegiatan yang dihadiri 30 orang anggota kelompok tani dari 14 desa di wilayah Kecamatan Cipongkor, salah satu yang dijelaskan BBPP Lembang adalah seputar budidaya kopi.

Dalam kesempatan terpisah,.Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan pertanian adalah sektor yang penting. Karena, pertanian menyediakan pangan bagi manusia.

"Jika tidak ada pangan maka tidak ada kehidupan. Tanpa pangan, negara bisa bubar sehingga sangat penting kita jaga pangan," kata Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan hal terpenting untuk meningkatkan pertanian adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

“Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP juga terus mengupayakan peningkatan SDM di bidang pertanian,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan pihaknya membangun dan mengembangkan Konsultasi Agribisnis sebagai salah satu standar pelayanan di Balai Besar Pelatihan.

Ajat menjelaskan, BBPP Lembang berkomitmen kuat meningkatkan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu pelayanan publik yang kami laksanakan mendukung kompetensi SDM pertanian melalui Konsultasi Agribisnis. Ini upaya kami dalam pengembangan inkubator agribisnis sebagai pendukung penyelenggaraan pelatihan,” tutur Ajat.

Sementara kegiatan KAK kali ini dihadiri widyaiswara BBPP Lembang spesialisasi budidaya pertanian dan pascapanen pengolahan hasil pertanian. Selain itu, hadir petugas dari Inkubator Agribisnis dan pengelola perpustakaan BBPP Lembang.

Salah seorang peserta pembudidaya jagung dan rencana akan menanam kopi, menanyakan tentang budidaya kopi yang diawali dengan pemilihan dan perlakuan bibit kopi yang baik sehingga saat ditanam nantinya akan menghasilkan tanaman kopi yang berkualitas tinggi.

Baca juga:

Bertani on Cloud Kementan Berbagi Strategi Ekspor untuk Petani

Widyaiswara spesialisasi budidaya menjelaskan mulai dari pengolahan lahan, penentuan lubang tanam, penanaman, dan pemeliharaan tanaman kopi.

Peserta lainnya, yaitu penyuluh swadaya, menanyakan alternatif budidaya tanaman sayuran di lahan seluas 300m2 di lingkungan pesantren di Kecamatan Cipongkor yang dapat menjadi aktivitas menguntungkan bagi santriwan santriwatinya.

Widyaiswara menjelaskan berbagai alternatif jenis komoditas pertanian baik sayuran dan tanaman buah serta cara budidayanya baik konvensional maupun hidroponik.

Sementara itu, widyaiswara spesialisasi pascapanen dan pengolahan hasil pertanian memberikan solusi alernatif pengolahan limbah kopi. Limbah kulit kopi dapat diolah menjadi briket.

Briket kulit kopi adalah bahan bakar padat alternatif yang dibuat dari limbah kulit kopi yang telah diproses melalui karbonisasi (diarangkan) kemudian dicampur dengan perekat tepung kanji dengan perbandingan 1 kg limbah kulit kopi dicampurkan dengan 100 gram tepung kanji dan air panas.

Setelah itu dicetak dan dikeringkan dan briket siap dimanfaatkan menjadi bahan bakar seperti arang dan bisa dipasarkan ke penjual sate atau industri lainnya yang memerlukannya.

Proses pengolahan kulit kopi menjadi briket ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah organik sehingga ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sehingga dapat menjadi energi alternatif, dan menciptakan potensi ekonomi karena memiliki nilai jual.

Dijelaskan pula proses pengolahan biji kopi hingga menjadi bubuk kopi. Beberapa teknik menyeduh kopi juga dikenalkan berikut alat seduhnya, seperti V60, espresso, french press, vietnam drip, siphon.

Widyaiswara menjelaskan dengan cara pengolahan kopi hingga menjadi secangkir kopi, akan menghasilkan keuntungan berlipat.

Peserta pun bersama-sama mencicipi olahan kopi khas BBPP Lembang, yaitu varietas kopi arabica yang diseduh dengan metode french press kopi.

“Rasanya sempurna sekali, ada asamnya dan juga terasa pahitnya,” ucap salah seorang peserta.

Lilim, Ketua Kelompok Tani Bumi Lestari Jaya Desa Sarinagen, Kecamatan Cipongkor, menyampaikan rasa bahagianya bisa ikut kegiatan Konsultasi Agribisnis Keliling yang dilakukan oleh BBPP Lembang dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat.

“Saya baru mulai menanam kopi yang dibarengi dengan menanam jagung sehingga saat tadi menanyakan bagaimana budidaya kopi, sangat jelas disampaikan oleh widyaiswara BBPP Lembang. Penjelasannya juga ditunjang adanya buku-buku berkaitan dengan agribisnis kopi yang dibawa di mobil KAK ini," katanya.

“InsyaAllah Ilmu budidaya kopi yang disampaikan akan saya sampaikan kepada anggota kelompok tani saya sehingga insyaAllah ilmunya bermanfaat bagi kelompok tani kami dan juga secara umum bagi masyarakat di Kecamatan Cipongkor,” ucap Lilim.(***)

Aktif Berbagi Pengetahuan, Polbangtan Kementan Raih Anugerah Kementan Corpu

TANIINDONESIA.COM//BOGOR - Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) meraih Juara 3 sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pertanian (Kementan) yang berbagi aset pengetahuan terbanyak dalam kementancorpu.com.

Anugerah ini diberikan oleh Sekretaris Jenderal Kementan, Ali Jamil, dalam peluncuran Kementan _Corporate University_ (Kementan Corpu) di Aula Bina Karakter, BBPMKP Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Mewakili Menteri Pertanian, Ia menyampaikan bahwa _Corporate University_ bukan hanya sebagai wadah pengembangan kompetensi ASN, melainkan juga wujud komitmen Kementerian Pertanian untuk menjadikan ASN sebagai motor penggerak organisasi sekaligus mendukung kemajuan pertanian nasional.

“Kementan Corpu dirancang untuk menjadi mesin pengembangan kompetensi, tidak hanya bagi ASN pusat, tetapi juga bagi seluruh aktor pembangunan pertanian di Indonesia. Tujuannya bukan hanya memenuhi kebutuhan pengembangan ASN di lingkungan Kementerian Pertanian, tetapi juga mendukung pengembangan kompetensi di tingkat nasional,” ujarnya.

Baca juga:

Dukung Swasembada Pangan, Polbangtan Kementan Tingkatkan Literasi Pertanian

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti mengatakan pengembangan kompetensi melalui jalur non formal memerlukan komitmen bersama seluruh unsur organisasi.

“Kita perlu melakukan prinsip berbagi peran, secara masif, dan berkesinambungan,” katanya.

Menurutnya, tantangan yang dihadapi ASN dan instansi pemerintah dalam implementasi pengembangan
kompetensi meliputi keterbatasan akses, sumber daya, serta korelasi dengan berbagai elemen lain.

Untuk itu, Direktur Polbangtan Yoma, Raden Hermawan berkomitmen untuk membagi asset pengetahuan yang dimiliki melalui _Knowledge Management System_ (KMS), salah satu program unggulan kementancorpu.com.

“Kami mendukung upaya Kementan untuk mengembangkan kompetensi ASN, melalui berbagi pengetahuan yang kami miliki,” ucapnya.

Dalam kesempatan terdahulu, Polbangtan Yoma telah mengirimkan berbagai jurnal dan artikel garapan civitas academica Polbangtan Yoma.

Hermawan berharap upaya ini bisa memperkaya khasanah pengetahuan di sektor pendidikan, sekaligus penelitian dan pengabdian masyarakat.(***)

Bertani on Cloud Kementan Berbagi Strategi Ekspor untuk Petani

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian memberikan strategi untuk berekspor kepada petani dalam kegiatan Bertani On Cloud (BOC) volume 318, yang digelar oleh Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang Kamis, (28/08/2025). Kegiatan diadakan di P4S Lembang Agri dengan narasumber petani millennial dan eksportir.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menekankan dalam berbagai kesempatan bahwa pertanian adalah salah satu sektor yang berkontribusi penting terhadap ekonomi Indonesia.

Dijelaskannya, fokus Kementerian Pertanian di samping mencapai swasembada pangan adalah mengambil peran lebih dalam perdagangan global.

“Target kita bukan hanya mempertahankan, tapi melipatgandakan kontribusi sektor pertanian terhadap devisa negara,” ujarnya.

Mentan menambahkan, hal tersebut dilakukan dengan berbagai upaya penguatan kelembagaan petani dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Salah satunya adalah dengan penguatan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peran P4S dalam pertanian.

“P4S menjadi contoh bagaimana pendidikan vokasi pertanian bisa berjalan efektif di masyarakat. Dengan fokus pada bidang masing-masing, mereka bukan hanya mencetak petani, tetapi juga mencetak wirausaha muda pertanian,” kata Santi.

Sementara pelaksanaan BOC Volume 319 mengangkat tajuk “Dari Desa Cikidang Menembus Ekspor Hortikultura”.

Baca juga:

Kementan Kenalkan Hilirisasi Komoditas Sayuran kepada KWT Kabupaten Bandung Barat

Hadir sebagai narasumber Dodih dari P4S Lembang Agri dan petani muda Desa Cikidang Ardiansyah sebagai mitranya.

P4S Lembang Agri dikenal sebagai salah satu kelembagaan petani yang sudah melakukan ekspor ke beberapa negara.

Komoditas yang mereka produksi adalah buncis yang pernah merambah pasar Singapura dan romaine lettuce yang dijual ke Taiwan.

P4S Lembang Agri juga menandatangani kontrak dengan beberapa perusahaan restoran untuk memenuhi stok mereka.

Lembang Agri juga mengajak petani muda untuk turun ke lahan untuk memenuhi permintaan berbagai komoditas.

“Untuk mengembangkan petani muda intinya kita harus membuat bidang pertanian menarik bagi mereka misalnya dengan menggunakan konten,” terang Dodih.

Sedangkan Ardiansyah memulai kiprahnya dalam pertanian setelah diajak Dodih untuk mengelola P4S. Lama-kelamaan bidang tersebut menjadi menarik.

“Saya juga menemukan healing melalui pertanian,” tambah Ardiansyah.

Selain menunjukkan petani milenial, BOC kali ini juga menghadirkan eksportir, PT. Global Agriculture Cooperation Indonesia (GACI), yang telah bekerjasama dengan P4S Lembang Agri untuk mengekspor berbagai komoditas ke Taiwan.

Direktur PT. GACI, Lee Pai-Po, hadir untuk berbagi dengan para petani yang hadir secara daring.

“Awal mulanya, saya melihat pertanian di Indonesia dan itu sangat luar biasa,” terang Lee mengenai awal mula terlibatnya dengan pertanian Indonesia.

“Saya melihat kesempatan di sini dan saya berinvestasi ke Indonesia,” lanjutnya.

Lee melanjutkan menjelaskan mengenai kiat-kiat ekspor untuk petani Indonesia.

“Yang terpenting adalah kepastian yang diberikan oleh petani dalam memenuhi permintaan pembeli,” tuturnya.

Di bagian akhir, Kepala BBPP Lembang Ajat Jatnika menyampaikan harapannya kepada para generasi muda.

“Generasi muda sudah mampu menunjukkan prestasinya hingga ke ekspor, ini merupakan penyemangat bagi generasi muda bahwa sektor pertanian sungguh prospektif di masa depan,” tuturnya.(***)