17 Mei 2026

BALAI BESAR PELATIHAN PERTANIAN

Tempo Langgar Kode Etik Jurnalistik, Fitnah Mentan Amran Poles-poles Beras Busuk

TANIINDONESIA.COM//Jakarta — Dewan Pers secara resmi memutuskan bahwa media daring Tempo.co telah melanggar Kode Etik Jurnalistik dalam unggahan poster dan motion graphic berjudul “Poles poles Beras Busuk” yang dipublikasikan melalui media sosial resmi Tempo pada 16 Mei 2025.

Dalam dokumen Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi (PPR) Nomor 3/PPR-DP/VI/2025, Dewan Pers menilai konten visual tersebut tidak akurat, berlebihan, serta mencampurkan opini yang menghakimi sehingga menimbulkan persepsi menyesatkan di tengah masyarakat.

Atas putusan ini, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Pertanian, Moch. Arief Cahyono, menyampaikan apresiasi terhadap langkah Dewan Pers yang dinilainya berpihak pada prinsip keadilan dan profesionalisme pers.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Dewan Pers atas rekomendasinya yang sangat memperhatikan rasa keadilan dan profesionalisme pers ini. Selain dapat menjaga marwah pers, PPR ini juga merupakan angin segar bagi para pejuang pertanian yang bekerja maksimal di tengah isu pangan global dan mencukupi pangan 280 juta rakyat Indonesia,” ujar Arief di Jakarta, Selasa (17/6).

Arief mengatakan pemberitaan dan konten media sosial Tempo sangat melukai perasaan para pejuang pangan, khusus Mentan Amran yang difitnah dengan ilustrasi dan judul yang menyudutkan seolah melakukan pembohongan publik dengan memoles beras busuk. Arief juga mengingatkan ini bukan kali pertama Tempo membuat berita negatif tidak akurat terhadap Mentan Amran Sulaiman dan program pertanian yang dilakukan.

“Pada tahun 2019 lalu, melalui PPR Dewan Pers nomor 45/PPR-DP/X/2019, Tempo diputuskan telah melanggar pasal 3 Kode Etik Jurnalistik karena telah tidak akurat dalam penulisan artikel “Gula-gula Dua Saudara”, ujarnya.

Pada kurun waktu tertentu Kementan mengamati pemberitaan Tempo terhadap Kementan, pemberitaan negatifnya bisa mencapai 79 persen.

Arif menilai tindakan Tempo bukan sekadar pelanggaran etik, tetapi merupakan upaya pencemaran nama baik Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

“Sangat disayangkan, media sekelas Tempo justru melakukan pembusukan karakter terhadap sosok Mentan Amran yang selama ini dikenal bersih dan berani melawan mafia pangan"

Arif mengingatkan, saat ini mafia pangan akan melakukan semua cara untuk memperlemah perjuangan Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Termasuk mendiskredirkan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah melalui Kementan. Namun Kementerian Pertanian tak akan mundur dan akan terus bekerja keras mewujudkan visi Presiden Prabowo Subianto mewujudkan kedaulatan pangan.

Menurut Arief, Kementan menghargai dan membutuhkan kontrol dari pers sepanjang dilakukan secara profesional sesuai kaidah dan Kode Etik Jurnalistik. Pemberitaan yang tidak profesional dapat merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah, khususnya di sektor pertanian yang saat ini sedang bekerja keras memastikan ketersediaan pangan nasional.

Sejak menjabat kembali sebagai Mentan pada Oktober 2023 lalu, Amran Sulaiman terus bergerak cepat melakukan bersih-bersih jajaran Kementan yang terlibat dalam korupsi. Mentan Amran terkenal sebagai pejabat yang paling keras melawan praktik mafia pangan yang sebelumnya menggerogoti sistem distribusi dan keuangan negara di sektor pertanian.

Sebagai bagian dari pembenahan birokrasi, Mentan Amran berhasil mengungkap skandal mafia pupuk yang merugikan petani hingga Rp3,2 triliun. Skandal ini melibatkan oknum Kementan yang bekerja sama dengan 5 perusahaan pembuat pupuk palsu dan 22 perusahaan yang memproduksi pupuk di bawah standar. Sebanyak 11 pegawai dinonaktifkan, dan beberapa di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka.

Selain itu, baru-baru ini Mentan Amran memecat dua pejabat di lingkungan Kementan karena terbukti melakukan pungutan liar dan menyalahgunakan wewenang. Kedua oknum itu meminta bayaran hingga Rp27 miliar dari pihak eksternal sebagai syarat mendapatkan proyek.

Mentan Amran juga telah secara konsisten memberantas praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkungan Kementan sejak menjabat sebagai Mentan pada 2014 silam.

Selama masa kepemimpinannya tersebut, Mentan telah melakukan mutasi-demosi pegawai sebanyak 1.479 pegawai, diberikan sanksi 844 pegawai dan bahkan ada yang dipecat karena melakukan penyelewengan atau korupsi.

Bahkan, pernah dalam satu hari, Mentan Amran mencopot beberapa pejabat lingkup Kementan, mulai dari dirjen hingga direktur, yang dilakukan sebelum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan mereka sebagai tersangka kasus korupsi.

“Mentan Amran menyebutkan bahwa tidak ada ruang bagi siapa pun melanggar peraturan untuk memperoleh keuntungan pribadi dengan cara merugikan petani, masyarakat, dan negara. Sikap Mentan Amran sangat tegas menentang semua praktik korupsi, Mentan Amran sangat siap melawan semua mafia pangan,” tegas Arief.

Dewan Pers sendiri dalam keputusannya mewajibkan Tempo untuk mengubah judul visual menjadi lebih sesuai, menambahkan penjelasan serta permintaan maaf, dan memoderasi komentar bernada negatif terhadap pihak yang dirugikan. Tempo juga diwajibkan melaporkan bukti tindak lanjut dalam waktu 3 x 24 jam.

“Putusan Dewan Pers sangat jelas: Tempo telah melanggar kode etik jurnalistik. Ini bukan sekadar koreksi, ini bentuk pengakuan bahwa fitnah telah terjadi. Sekarang publik bisa menilai siapa yang sungguh-sungguh membela pangan Indonesia dan siapa yang hanya ingin membuat gaduh dengan opini tendensius,” tutup Arief.(***)

Perkuat Komitmen Swasembada Pangan, UPT Pelatihan Kementan Evaluasi LTT Provinsi Jawa Barat

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG - Kementerian Pertanian terus berusaha mencapai swasembada pangan untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Hal tersebut dilakukan melalui berbagai strategi. Salah satunya adalah melalui Luas Tambah Tanam (LTT) yang dilakukan di berbagai provinsi.

Luas Tambah Tanam turut dibahas dalam Rapat Evaluasi Capaian Target Tanam Bulan Mei 2025 dan Penyusunan Kesanggupan Tanam Padi, Jagung, dan Kedelai Bulan Juni 2025, di Aula Catur Gatra BBPP Lembang, Jum’at (13/6/2025).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan bahwa LTT yang tengah dilakukan adalah salah satu langkah strategi dalam mewujudkan swasembada pangan.

“Pemantauan terhadap LTT harus dilakukan secara harian untuk menjamin tercapainya swasembada,” terang Mentan Amran.

Dijelaskannya, jumlah hasil produksi sangat ditentukan oleh luas panen yang keberhasilannya ditentukan oleh proses pembibitan dan pembenihan, ketersediaan pupuk, dan sarana irigasi yang dapat diakses oleh petani.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widhi Arsanti, mengimbau penggunaan lahan sebaiknya dioptimalkan termasuk di daerah yang memiliki potensi pertanian tinggi.

Sementara dalam rapat, hadir perwakilan dari 27 Kabupaten dan Kota di Jawa Barat serta perwakilan dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat.

Saat membuka acara, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Ajat Jatnika, menjelaskan untuk mewujudkan swasembada pangan tahun 2025 diperlukan berbagai langkah strategis salah satunya adalah peningkatan LTT padi.

Baca juga:

Tingkatkan Kapasitas Diri, Petani Cabai Kabupaten Mandailing Natal Sambangi UPT Pelatihan Kementan

Ia menambahkan, Jawa Barat dituntut untuk memainkan peran penting dalam meningkatkan luas tambah tanam LTT guna mencapai swasembada pangan.

"Jabar, sebagai salah satu lumbung padi nasional, memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan kontribusinya dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional," terang Ajat.

Selain LTT, BP di provinsi Jawa Barat pun disoroti dalam rapat kali ini.

“Kami sedang menyiapkan brigade-brigade pangan di Jawa Barat yang saat ini masih dalam tahap perencanaan,” kata Ajat.

Per April 2025, Jawa Barat telah merealisasikan 864.377 ha lahan LTT sejak Desember 2024. Capaian tersebut dengan catatan kurang memuaskan di April 2025.

Namun catatan tersebut berhasil diperbaiki pada penghujung bulan April dan begitu pula pada bulan Mei.

Di awal bulan Juni, tercatat Jawa Barat belum mencapai target yang ditetapkan Kementan terutama untuk komoditas padi.

Salah satu faktor yang berpengaruh adalah cuaca musim hujan yang diharapkan akan selesai pada pertengahan Mei.(***)

Tingkatkan Kapasitas Diri, Petani Cabai Kabupaten Mandailing Natal Sambangi UPT Pelatihan Kementan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia pertanian. Hal ini menarik minat petani cabai dari Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Bahkan, dua petani asal Mandailing Natal, Hery Purwanto dan Arpan Matondang, mengunjungi BBPP Lembang, Rabu (11/6/2025), untuk meningkatkan kapasitas.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menjelaskan jika pertanian menjadi aspek paling strategis dalam pembangunan perekonomian negara.

Amran menambahkan, Kementerian Pertanian telah menetapkan arah kebijakan pembangunan pertanian dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, baik sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM), serta memanfaatkan teknologi mutakhir, mekanisasi dan korporasi dari hulu hingga hilir.

Hal ini mencakup komoditas-komoditas strategis seperti cabai. BBPP Lembang sebagai Unit Pelaksana Teknis pelatihan membuka kesempatan bagi petani untuk mempelajarinya secara mendalam dengan metode permagangan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, juga mengajak seluruh insan pertanian untuk meningkatkan produksi pertanian baik dari tanaman pangan maupun tanaman komoditas strategis lainnya seperti cabai..

“Mari kita bergerak bersama meningkatkan produksi dan produktivitas pangan,” ajaknya.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, dalam setiap kesempatan menyatakan komitmen seluruh jajarannya mendukung program Kementerian Pertanian, mencetak SDM pertanian yang inklusif, profesional, dan modern.

Baca juga:

Pelatihan Alsintan Kuatkan Peran Aktif Brigade Pangan Guna Wujudkan Swasembada Pangan

Sementara dua petani Mandailing Natal, Hery Purwanto dan Arpan Matondang, memilih mengunjungi BBPP Lembang untuk mempelajari budidaya cabai dari widyaiswara yang sudah mahir dalam hal tersebut.

“Kebetulan kami mendapat lahan kosong di tempat asal kami dan berencana untuk menanam cabai,” terang Hery.

Mereka lantas mempelajari mulai dari pengolahan lahan, pemilihan bibit, dan penanaman dari Cece Mulyana sebagai widyaiswara yang memiliki spesialisasi dalam budidaya tanaman cabai.

Cece didampingi oleh Jajang kemudian menerangkan dan mengajarkan teknik dan trik yang dapat dilakukan petani dalam budidaya cabai.

Metode pengajaran yang dilakukan terdiri dari teori dan praktik. Cece menerangkan tahap per tahap hingga detail dalam mengolah lahan, memilih bibit yang baik, membuat mulsa, dan karakteristik tanaman cabai yang baik dan akan bernilai tinggi.

Keduanya juga diajarkan cara untuk mencari pasar baik itu pasar tradisional maupun pasar modern.

“Dalam tiga hari ini banyak sekali ilmu yang dipelajari dari Pak Cece untuk mematangkan pengetahuan kami mengenai budidaya cabai,” tutup Arpan.(***)

Pelatihan Alsintan Kuatkan Peran Aktif Brigade Pangan Guna Wujudkan Swasembada Pangan

TANIINDONESIA.COM//KALIMANTAN TENGAH — Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menggelar Penyiapan Tenaga Kompeten Brigade Pangan (BP). Tahap 2 yang digelar selama bulan Mei dan Juni 2025, dilaksanakan sebanyak 60 angkatan.

Menurut Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, untuk mencapai swasembada pangan, Kementan memastikan akan fokus dalam upaya meningkatkan produksi pangan utama, dalam hal ini beras.

Dan salah satu yang digalakkan Kementan adalah optimalisasi lahan pertanian melalui pembentukan Brigade Pangan (BP).

“Brigade Pangan akan menjadi garda terdepan dalam mengelola dan mengoptimalkan lahan pertanian secara modern, profesional dan terampil dengan menjalankan usaha yang berorientasi bisnis dan menghasilkan pendapatan dan keuntungan,” kata Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan Brigade Pangan adalah garda terdepan dalam meningkatkan produksi pangan.

Selain itu, tugas Brigade Pangan adalah mengoptimalkan lahan tidur, dan mendukung pertanian berkelanjutan melalui pendekatan teknologi dan kelembagaan petani.

Baca juga:

UPT Pelatihan Kementan Dorong Sekolah Agribisnis Fokus pada Pengolahan Hasil Pertanian

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang, Ajat Jatnika, menyampaikan Brigade Pangan yang sudah terbentuk penting untuk ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan-pelatihan agar dapat berperan aktif memastikan ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan.

Penyiapan Tenaga Kompeten Brigade Pangan (BP) tahap 2 sebanyak 60 angkatan, diikuti peserta dari beberapa kabupaten di Provinsi Kalimantan Tengah, yaitu Kabupaten Barito Selatan, Barito Timur, Barito Utara, Kapuas, Katingan, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, dan Seruyan. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari untuk masing-masing angkatan.

Selama 3 hari pelatihan, peserta memperoleh materi inti tentang pengolahan lahan menggunakan traktor roda 2, pengolahan lahan menggunakan traktor roda 4, pengenalan, pengoperasian, perawatan, dan pemeliharaan mesin panen kombinasi (combine harvester), dan laporan usahatani.

Salah seorang peserta, Burhanudin, dari BP Makmur Tani Kecamatan Bataguh Kabupaten Kapuas, Rabu (4/6/2025) mengatakan pelatihan sangat bermanfaat.

“Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami dan menambah wawasan untuk pengolahan lahan padi. Ini menjadi bekal kami untuk mendukung program swasembada pangan,” tuturnya.(***)

Dorong Regenerasi Petani, UPT Pelatihan Kementan Gandeng Perguruan Tinggi

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Untuk mendorong regenerasi petani dan mencapai swasembada pangan, Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT BBPP Lembang, secara aktif memperkenalkan potensi agribisnis kepada Generasi Z. Di antaranya melalui kunjungan edukatif seperti yang dilakukan Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon, Selasa (1/7/2025).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, yakin generasi muda dengan karakter kuat, jujur, disiplin, dan pekerja keras akan menjadi kunci untuk mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyoroti pentingnya peran generasi muda.

Ia menekankan bahwa kebutuhan pangan akan selalu ada, sementara generasi petani saat ini semakin menua. Oleh karena itu, dibutuhkan regenerasi petani untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, membuka peluang bagi mahasiswa dan pelajar untuk mendalami pertanian.

Kesempatan ini dimanfaatkan 40 mahasiswa Dan tiga Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon yang melakukan kunjungan edukatif untuk mendalami praktik agribisnis.

Salah seorang dosen pembimbing, Dina Dwirayani, menjelaskan tujuan kedatangan mereka ke BBPP Lembang. "Tujuan kunjungan kami kali utamanya adalah mencari ilmu," terangnya.

Universitas Swadaya Gunung Jati Cirebon sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman dengan BBPP Lembang.

Kerja sama ini dalam kaitan menumbuhkan calon petani muda melalui permagangan dan kunjungan studi. Ini merupakan tahun ke dua kerja sama berjalan.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia menjelaskan bahwa fungsi utama UPT pelatihan adalah mengembangkan SDM pertanian agar mampu berkontribusi pada industri ini.

Ajat juga menambahkan bahwa sektor pertanian kini menjadi sorotan, terutama setelah Kementan berhasil mencetak rekor cadangan beras terbesar mencapai 4,1 ton, yang membuka banyak peluang.

Baca juga:

Penyuluh Pertanian Garda Terdepan Transformasi Pertanian Indonesia

”Banyak peluang yang dapat diraih dalam pertanian, misalkan saja dari padi, pelayanan alsintan, dan sebagainya,” terangnya.

Dalam kunjungan kali ini para mahasiswa mendapatkan materi pembelajaran mengenai analisis usaha tani.

Meski telah belajar mengenai hal ini di kampusnya, kelas yang diampu oleh Widyaiswara, Rosros Rosdiantini, lebih lanjut memperdalam pemahaman para mahasiswa.

Materi yang diajarkan mengulas mengenai permodalan usaha tani, menghitung return of investment, dan berbagai hal lain yang diperlukan ketika menjalankan usaha tani.

“Intinya kita harus rajin mencatat pengeluaran dan pemasukan dalam menjalankan usaha tani kita agar rinci ketika menggunakan modal dan mengatur strategi,” terang Rosros.

Para mahasiswa tidak berhenti di kelas saja. 9,6 hektar lahan BBPP Lembang mereka kunjungi juga.

Diantara fasilitas yang dikunjungi adalah screen house tanaman hias, Rumah Pangan Lestari (RPL), dan terakhir lab pengolahan hasil pertanian. Area-area tersebut terletak di inkubator agribisnis BBPP Lembang.

Di screen house tanaman hias para mahasiswa antusias bertanya mengenai potensi agribisnis tanaman hias dan cara budidayanya.

Selanjutnya di RPL mereka melihat berbagai tanaman yang ditumbuhkembangkan di ruang terbuka. Selain itu mereka juga melihat berbagai instalasi hidroponik yang digunakan di BBPP Lembang.

Terakhir, mereka menikmati es krim berbagai rasa di Lab Pengolahan Hasil Pertanian. Yang menjadi hal menarik adalah es krim sayuran seperti cabai dan kangkung.

Delissa Roudlatus Habillah, mahasiswa jurusan Agribisnis angkatan 2023 menyampaikan kesannya.

“DI sini kami diberi materi mengenai analisis keuangan tani dan berkeliling BBPP Lembang. Es krimnya juga enak banget. Terima kasih BBPP Lembang,” kata Delissa.(***)

UPT Pelatihan Kementan Kenalkan Dunia Usaha Dunia Industri ke Gen Z melalui Agroeduwisata

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT pelatihannya yaitu Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, memperkenalkan sektor pertanian kepada 41 siswi Madrasah Aliyah (MA) Sabilunnajah, Pesantren Sabilunnajah Ranacekek Kabupaten Bandung.

Para Generasi Z tersebut mengunjungi BBPP Lembang selama 2 hari, 20 – 21 Mei 2025. Rombongan MA Sabilunnajah diterima oleh Tim Manajemen.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan generasi muda adalah ujung tombak kemajuan Indonesia.

“Sekarang generasi muda adalah generasi yang harus kita persiapkan untuk mengawal Indonesia menjadi negara emas. Dua puluh tahun kemudian mereka yang akan memimpin republik ini. Kita harapkan mereka lebih baik dan lebih hebat dari kita,” ujarnya.

Karena itu, lanjut Mentan, Kementan akan terus berupaya meregenerasi sektor pertanian dengan memfokuskan program-program pada generasi muda.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyebut petani-petani yang ada saat ini sudah semakin tua.

"Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan,” kata Santi.

Sementara Kepala Sekolah Madrasah Aliyah Sabilunnajah, Jajat Kurniawan, menjelaskan tujuan rombongan mendatangi BBPP Lembang, Selasa (20/5/2025).

“Tujuan kami mengajak siswi-siswi sebagai salah satu program pembelajaran dalam rangka mengenalkan siswi terhadap dunia kuliah dan dunia usaha dunia industri. Kami ingin mempelajari tentang teknik budidaya tanaman, teknik pengolahan hasil pertanian, dan manajemen pemasaran hasil pertanian,” katanya.

Dalam kesempatan itu, widyaiswara BBPP Lembang memberikan materi klasikal untuk mengenalkan siswi-siswi kelas XI sebagai job creator nantinya, yaitu tentang kewirausahaan dan urban farming.

Untuk meningkatkan aspek psikomotorik peserta kunjungan, peserta melakukan praktik-praktik pertanian di Inkubator Agribisnis.

Di screen house tanaman hias, widyaiswara mengajak generasi Z ini untuk bisa menangkap peluang berbisnis di bidang tanaman hias yang menjanjikan penghasilan besar. Kaktus dan sukulen koleksi tanaman hias di BBPP Lembang juga bisa menjadi peluang bisnis pertanian.

Baca juga:

UPT Pelatihan Kementan Tingkatkan Kompetensi Penyuluh Jawa Barat untuk Komoditas Perkebunan

Karena itu, mereka diajarkan teknik perbanyakan tanaman hias, mulai dari penyiapan media tanam terdiri dari pasir, sekam bakar, dan pupuk kandang ayam.

Kemudian, memotong bagian tanaman sukulen, memperbanyak tanaman sukulen melalui stek pucuk untuk tanaman sukulen.

Selain itu, mereka juga praktik menyambungkan understam dan anakan kaktus melalui teknik grafting pada tanaman kaktus.

Bergerak menuju zona budidaya tanaman sayuran dengan sistem hidroponik, petugas mengenalkan cara pembuatan instalasi hidroponik sistem DFT.

Setelah itu budidaya tanaman sayuran daun seperti pakcoy dan seledri, mulai dari persemaian, nutrisi yang digunakan untuk pupuk tanaman, dan cara menanamnya.

Kunjungan diakhiri di laboratorium pengolahan hasil pertanian.

Petugas laboratorium memberikan penjelasan sederhana tentang konsep pengolahan hasil pertanian yang bertujuan meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian dan memperpanjang masa simpan produk.

Siswa dikenalkan produk olahan jagung untuk peningkatan nilai tambahnya menjadi cemilan menyegarkan, yaitu es krim jagung.

Pertama, diberikan penjelasan alat dan bahan, dilanjutkan praktik membuat es krim mulai dari pencampuran semua bahan, pemasakan, menghancurkan adonan es krim menggunakan mixer, dan mengemas es krim ke dalam wadah-wadah es krim yang dijual seharga Rp5.000.

Salah seorang siswi, Lensheolla Livina Mulyadi, dengan riang menceritakan pengalamannya belajar pertanian selama 2 hari di BBPP Lembang.

“Belajar pertanian di BBPP Lembang mengasyikkan! Suasananya sejuk, pembimbingnya ramah, dan kami memperoleh ilmu baru di sini serta bisa praktik langsung. Olahan es krim dan sorbet juga unik ya belum ada dijual di luar sana,” ucapnya.

“Ilmu yang kami dapatkan bermanfaat sekali, masyaAllah semoga menjadi amal jariyah bagi BBPP Lembang,” ungkap gadis yang akrab disapa Lenshe.(***)

UPT Pelatihan Kementan Tingkatkan Kompetensi Penyuluh Jawa Barat untuk Komoditas Perkebunan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, bekerja sama dengan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, melakukan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Penyuluh Komoditas Kopi dan Teh.

Pelatihan yang dilaksanakan selama 5 hari, 19 – 23 Mei 2025, diikuti 20 penyuluh pertanian dari 11 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Terutama yang memiliki potensi komoditas kopi dan teh di wilayah binaannya.

Pengembangan SDM di sektor pertanian dilakukan untuk mendorong pertanian yang produktif dan berkelanjutan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan SDM harus terus digenjot kompetensinya. Karena perannya penting untuk membangun pertanian Indonesia adalah penyuluh pertanian.

“Penyuluh pertanian (PPL) berperan penting dalam mewujudkan ketahanan dan swasembada pangan nasional,” kata Amran yang menyebut PPL sebagai pilar utama dan ujung tombak pertanian Indonesia.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peningkatan kualitas SDM di bidang pertanian, termasuk penyuluh.

“Penyuluh pertanian perlu terus mengikuti berbagai pelatihan dan program pengembangan,” tuturnya.

Menurutnya, penyuluh perlu terus belajar dan menguasai informasi teknologi terbaru agar dapat mendampingi petani dengan lebih efektif.

Pelatihan Peningkatan Kompetensi Penyuluh Komoditas Kopi dan Teh dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Gandjar Yudniarsa.

“Komoditas perkebunan terutama kopi dan teh menjadi primadona di provinsi Jawa Barat, sehingga perlu terus dikembangkan khususnya untuk orientasi ekspor sehingga dapat menambah devisa negara,” tuturnya.

Selama 5 hari, peserta memperoleh materi baik secara klasikal maupun praktik langsung. Materinya adalah Kebijakan Pembangunan Perkebunan di Jawa Barat, Motivasi Berprestasi dan Cara Budidaya yang Baik pada Tanaman Kopi dan Teh.

Baca juga:

Perkuat Ketahanan Pangan, UPT Pelatihan Kementan Gelar Konsultasi Gratis di Kabupaten Bandung Barat

Selanjutnya, widyaiswara sharing tentang Pencegahan dan Pengendalian Hama dan Penyakit Kopi dan Teh.

Pada materi ini, peserta diajak mengidentifikasi hama dan penyakit yang ada di tanaman kopi varietas Arabika yang dibudidayakan di Inkubator Agribisnis BBPP Lembang.

Pada materi Penanganan Panen, Pascapanen dan Pengolahan Kopi dan Teh, peserta kembali diajak ke kebun kopi yang dikelola BBPP Lembang.

Di sana, peserta praktik panen kopi dan menuju ruang pascapanen kopi untuk praktik sortasi buah kopi, pencucian, pengelupasan (pulping), hingga pengenalan alat-alat untuk peracikan kopi diantaranya V60, vietnam drip, dan espresso.

Selanjutnya, diberikan materi Teknik Komunikasi, Teknik Pendampingan, Strategi Pengembangan Inovasi, Pemasaran Digital dan Akses Pasar.

Pada materi pemasaran digital, peserta praktik branding produk teh dan kopi melalui pembuatan desain logo menggunakan aplikasi canva.

Selanjutnya peserta diberi materi Analisa Usahatani Kopi dan Teh dan Kelembagaan Ekonomi Petani dan Kopi.

Pelatihan ditutup, Jumat (23/5/2025). Hasil evaluasi penyelenggaraan pelatihan, peserta menilai bahwa materi yang disampaikan relevan dan aplikatif serta dapat diimplementasikan di lapangan dan disebarluaskan kepada petani.

Pelatihan ini juga meningkatkan kompetensi peserta yang dilihat dari hasil evaluasi pemahaman materi, dari nilai rata-rata 47,56 menjadi 86,33 atau sebesar 84,51%.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, yang memberi sambutan sebelum menutup pelatihan, mengingatkan peserta bahwa yang terpenting dalam suatu pelatihan adalah implementasi setelah peserta kembali ke wilayah kerja masing-masing.

“Saat ini yang terpenting saat ini tidak hanya output, namun sudah tahap outcome bahwa pelatihan dapat mendukung peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian,” katanya.

Salah seorang peserta, Diat Sujatman, penyuluh pertanian dari Kabupaten Sukabumi, menyampaikan apresiasi atas terselengaranya pelatihan ini.

“Pelatihan ini penting untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan kopi dan teh karena menjadi komoditas strategis baik secara ekonomi dan sosial budaya," ujarnya.

"Mengikuti pelatihan ini menyegarkan pemahaman kami dan memotivasi kami untuk terus beradaptasi dengan teknologi yang terus berkembang karena penyuluh pertanian adalah agen perubahan,” kata Diat lagi.(*)

Perkuat Ketahanan Pangan, UPT Pelatihan Kementan Gelar Konsultasi Gratis di Kabupaten Bandung Barat

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG BARAT – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menyelenggarakan Konsultasi Agribisnis Keliling (KAK), Kamis (22/05/2025).

Konsultasi gratis ini diadakan di Kelembagaan Ekonomi Petani Istiqomah (KEP) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, dan dihadiri 25 petani.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menjelaskan pentingnya pangan bagi manusia.

"Jika tidak ada pangan maka tidak ada kehidupan. Tanpa pangan, negara bisa bubar sehingga sangat penting kita jaga pangan," katanya.

Mentan Amran juga mengingatkan cita-cita besar Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan Indonesia.

“Perintah Bapak Presiden Prabowo, harus swasembada dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dan ini bisa kita rebut manakala kita semua saling bergandengan tangan,” ucapnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan hal terpenting untuk meningkatkan pertanian adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

“Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP juga terus mengupayakan peningkatan SDM di bidang pertanian,” katanya.

Layanan konsultasi agribisnis merupakan salah satu Standar Pelayanan Publik BBPP Lembang. Sejak pertengahan tahun 2024, BBPP Lembang membangun dan mengembangkan inovasi pelayanan publik KAK.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan KAK dibangun dan dikembangkan karena komitmen kuat untuk meningkatkan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu pelayanan publik yang kami laksanakan mendukung kompetensi SDM pertanian melalui Konsultasi Agribisnis Keliling. Ini upaya kami dalam pengembangan inkubator agribisnis sebagai pendukung penyelenggaraan pelatihan,” tutur Ajat.

Konsultasi dilaksanakan secara hybrid, baik secara online (daring) berbasis website dan whatsapp center dan secara offline (luring) datang langsung ke kantor. Tim KAK juga datang ke lokasi petani yang membutuhkan konsultasi tentang pertanian.

Baca juga:

UPT Kementan Perkenalkan Tahapan Pertanian ke Siswa Papua

Awal tahun 2025, BBPP Lembang bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat untuk layanan KAK, mengunjungi BPP di wilayah Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan KAK menghadirkan konsultan yaitu widyaiswara dan petugas lapangan yang kompeten untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi petani.

Kunjungan ke KEP Istiqomah merupakan kunjungan ke-6 dalam rangkaian KAK.

Dalam rangkaian KAK kali ini konsultasi berjalan dalam bentuk diskusi. Yeyep Dintan dan Riyadi Pratiwa menjadi widyaiswara fasilitator.

Pertanyaan yang dilayangkan oleh petani sekitar adalah mengenai budidaya padi dan pengolahan sisa hasil dari pengolahan padi.

“Dalam budidaya padi, saudara sekalian dapat menjual selain padi yang dihasilkan dalam proses budi daya,” terang Yeyep.

Ia kemudian menambahkan bahwa jerami dan dedak yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Kemudian ia mencontohkan bahwa jerami dan dedak dapat digunakan sebagai pakan ternak.

Selain itu, dedak dengan kualitas bagus dapat digunakan juga sebagai media tanam budidaya jamur tiram seperti yang dulu pernah dikembangkan di BBPP Lembang.

Para petani yang berkumpul menunjukkan antusiasme tinggi.

Sementara Riyadi menerangkan dalam mengelola agribisnis padi, para petani yang telah memiliki alat mesin pertanian dapat mengembangkan jasa penyewaan alsintan.

“Jasa ini disebut Usaha Pelayanan Jasa Alat dan Mesin Pertanian, saudara-saudara dapat menghasilkan keuntungan yang lumayan dari menyediakan jasa sedemikian kepada petani setempat,” terangnya.

Wildan, salah satu peserta konsultasi, mengutarakan harapannya pada KAK yang dilakukan BBPP Lembang.

“Kami rasa konsultasi agribisnis keliling ini adalah hal yang baik bagi kami petani karena memberikan kesempatan untuk menambah wawasan dan pengetahuan”, kata Wildan.(***)

UPT Kementan Perkenalkan Tahapan Pertanian ke Siswa Papua

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Kementerian Pertanian, melalui Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, memperkenalkan tahapan dalam pertanian ke sejumlah siswa Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Jayawijaya, Papua. Para siswa mempelajari tahap-tahap dalam pertanian dari menanam hingga menjadi produk jadi.

Kunjungan para siswa asal Papua ini dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok terakhir datang Kamis (15/05/2025). Mereka diajak melakukan praktik menanam jagung kemudian membuat olahan jagung dalam bentuk es krim.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun pertanian Indonesia.

Ia mengajak anak muda untuk terlibat dalam sektor pertanian sebagai pilar keberlanjutan pangan nasional.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyebut jika petani-petani yang ada saat ini sudah semakin tua.

"Sedangkan kebutuhan pangan tidak semakin sedikit. Itulah pentingnya mendorong regenerasi petani, yang tentunya akan menyokong ketahanan pangan,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, di berbagai kesempatan menyatakan komitmennya BBPP Lembang dalam regenerasi petani.

“Salah satu upaya mencapai swasembada pangan, maka Kementan melalui BBPP Lembang sebagai UPT pelatihan berkomitmen meningkatkan kompetensi SDM pertanian sebagai penggerak utama," ujar Ajat.

"Selain itu, perlu menyiapkan generasi muda sebagai penerus penggerak pembangunan pertanian melalui regenerasi petani muda, salah satunya melalui kegiatan kunjungan atau agroeduwisata,” tambahnya.

Baca juga:

Kembangkan Iptek Pertanian, Mahasiswa Unesa PKL di UPT Kementan

Dalam kunjungannya, rombongan Sekolah Dasar Yayasan Pendidikan Jayawijaya diajak ke lahan terbuka di Inkubator Agribisnis.

Widyaiswara mengenalkan budidaya tanaman jagung manis mulai dari pengolahan lahan, penanaman dan pemeliharaan.

Mereka lalu diajak ke Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian. Petugas laboratorium mengenalkan konsep pengolahan hasil pertanian sayuran, yaitu es krim jagung.

Tahapan yang diterangkan kepada para pengunjung dimulai dari menyiapkan bahan, mengolah bahan, hingga pengemasan.

Para siswa kemudian secara bergiliran mengikuti praktik yang telah disediakan oleh widyaiswara dan juga petugas laboratorium.

Selain itu sesi tanya jawab berjalan aktif. Memenuhi rasa ingin tahu mereka, para murid SD Yapen Jayawijaya melayangkan berbagai pertanyaan sampai puas.

Menutup, widyaiswara BBPP Lembang Saptoningsih menekankan konsep hilirisasi pertanian.

“Dari bahan yang ada kita bisa mengolahnya kemudian menjualnya dan mendapatkan nilai ekonomi yang lebih baik,” terangnya.(***)

Kembangkan Iptek Pertanian, Mahasiswa Unesa PKL di UPT Kementan

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Dua mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menyelesaikan praktik kerja lapangan (PKL) di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, UPT di Kementerian Pertanian.

Kedua mahasiswa tersebut adalah Nadira Nazelina dan Rihan Ali Abdillah yang mengembangkan Iptek pertanian. Mereka pun harus menjabarkan hasil temuan mereka selama melaksanakan PKL

Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan teknologi dalam pertanian adalah hal yang penting.

"Teknologi mampu menjadikan pertanian Indonesia jauh lebih kuat dan tahan terhadap berbagai ancaman," tutur Amran.

Menambahkan, menurut Mentan Amran teknologi yang ada harus menyederhanakan pertanian dan membuat petani menjadi lebih untung.

"Pertanian itu semua harus dibuat sederhana, simpel, murah dan terjangkau,” tambahnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan komitmen BPPSDMP dalam penggunaan teknologi.

“Kami terus mendorong UPT pelatihan di bawah BPPSDMP untuk menyelenggarakan pelatihan berbasis teknologi dan kebutuhan masa depan,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menegaskan komitmennya mencetak generasi muda agar mampu menjadi wirausaha muda melalui berbagai program peningkatan kompetensi. Di antaranya pelatihan, kegiatan kunjungan singkat dan kegiatan praktik kerja lapangan.

Baca juga:

Milenial Papua Antusias Praktikkan Agribisnis Tanaman Jagung

Sementara Nadira Nazelina dan Rihan Ali Abdillah melaksanakan PKL di inkubator agribisnis BBPP Lembang.

Nadira menyoroti Perbanyakan Pseudomonas Fluorescens, suatu bakteri yang dapat menguntungkan bagi petani.

Dalam laporan praktiknya Nadira menjabarkan peran bakteri tersebut sebagai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR).

PGPR dapat menguntungkan bagi petani karena dapat meningkatkan penyerapan nutrisi pada tanaman, meningkatkan ketahanan tumbuhan, serta menunjang pertumbuhan tanaman.

Sedangkan Rihan menyoroti perbanyakan trichoderma spp., sejenis bakteri yang dapat membantu tanaman, pada berbagai tanaman yang ada di BBPP Lembang.

Menurutnya trichoderma terbilang menarik sebagai agen pengendali hayati yang dapat menjaga kesehatan tanaman.

trichoderma ini juga dapat dikembangbiakkan di berbagai tanaman dan Rihan telah mencobanya sendiri di tanaman kopi.

Selesai melaksanakan seminar hasil, keduanya memberikan kesan selama praktik kerja di BBPP Lembang.

“Di BBPP Lembang kami dibimbing dengan baik oleh widyaiswara dan pembimbing lapangan, sehingga lebih memahami tentang budidaya tanaman dan hal-hal yang dapat menyokongnya” ucap keduanya kompak.(***)