21 April 2026

Hari: 23 Agustus 2024

Antisipasi Krisis Pangan, Kementan Perkuat Peran Penyuluh Pertanian Aceh

TANIINDONESIA.COM//ACEH – Kementerian Pertanian (Kementan) tidak main-main menanggapi ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim dan cuaca. Langkah antisipasi yang dilakukan diantaranya dengan penguatan peran para penyuluh pertanian serta program Perluasan Area Tanam (PAT). Hal ini juga yang dilakukan Kementan di Provinsi Aceh.

Melalui Sekretaris Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Siti Munifah, Kementan melakukan safari kerja di Provinsi Aceh, Senin-Kamis (19-22/8/2024). Agenda utama kunjungan ini adalah melakukan pembinaan kepada penyuluh di Aceh sekaligus monitoring Program PAT.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan solusi cepat peningkatan produksi pertanian yang ditawarkan saat ini adalah PAT. Menteri Amran meyakini apabila program ini dijalankan maka Indonesia dapat mewujudkan swasembada dan juga lumbung pangan dunia.

“Saat ini ada banyak negara yang mengalami penurunan produksi dan ada banyak penduduk dunia yang menderita kelaparan. Karena itu harus kita mitigasi dengan solusi cepat,” sebut Menteri Amran.

Terpisah, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menegaskan jika program PAT dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang kedepannya akan semakin meningkat.

Menurutnya, program PAT dapat difokuskan karena kebutuhan kedepan akan sangat kurang dan untuk memenuhi kebutuhan pangan yang tersedia.

Santi menambahkan jika peran penyuluh dalam pengawalan program PAT juga sangat krusial untuk memastikan bahwa teknik dan metode yang digunakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.

"Para penyuluh pertanian diharapkan dapat memberikan bimbingan dan dukungan teknis yang diperlukan bagi petani di setiap kabupaten," tegas Santi.

Aceh sendiri adalah provinsi yang menjadi tanggung jawab Sekretaris BPPSDMP, Siti Munifah. Guna memastikan performa dari Tim di lapangan dan untuk memotivasi para penyuluh, Siti Munifah bersama tim melakukan rangkaian kunjungan kerja ke beberapa wilayah PAT di provinsi Aceh.

Dalam safari kerja kali ini, Siti Munifah melakukan pembinaan penyuluh di sejumlah lokasi. Pada 19 Agustus, Pembinaan Penyuluh dilakukan di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Langsa, kemudian pada 20 Agustus 2024 pembinaan penyuluh di Kabupaten Aceh Utara, serta 21 Agustus 2024 dilakukan pembinaan penyuluh Banda Aceh.

Baca juga: 

Wujudkan Swasembada, Kementan Gencarkan Program PAT Provinsi Aceh

Saat melakukan pembinaan di Langsa, Siti Munifah menjelaskan jika selama ini Provinsi Aceh masih berada di zona merah dalam peringkat nasional dalam program PAT.

“Saya hadir untuk menemukan kendala berdiskusi bersama para penyuluh, TNI di lapangan untuk menemukan solusi agar performa program PAT di Provinsi Aceh dapat meningkat dan peringkat di level nasional juga naik,” terangnya.

Sekretaris Badan menambahkan, kendala yang dihadapi selama ini adalah penyuluh tidak dilibatkan secara aktif dalam mengawal program Kementan. Hal ini berdampak pada laporan realisasi kegiatan yang tidak optimal.

Siti Munifah juga menjelaskan jika kondisi darurat pangan akibat El Nino berdampak pada penurunan luas tanam padi sejak tahun 2022 – 2023 4,2 juta Ha.

“Untuk mengejar ketertinggalan pertanaman, Mentan membuat program strategis dengan bantuan pompanisasi untuk mempercepat pertanaman, meningkatkan IP dan PAT serta optimasi lahan (oplah) lahan rawa. Suksesnya kegiatan strategis ini harus didukung dengan kolaborasi antara Pemda (Penyuluh) dan TNI (Babinsa),” terangnya.

Ia menambahkan, untuk menunjukan bahwa daerah sudah mengakselerasi PAT, Penyuluh wajib melaporkan data ke Kabupaten yang selanjutnya di input PJ Kabupaten ke aplikasi Pelaporan Utama.

Untuk itu, Sekretaris BPPSDMP meminta kepada penyuluh untuk fokus menjalankan program PAT melalui pompanisasi, sekaligus menginformasikan rencana Kementan untuk menarik penyuluh daerah menjadi pegawai pusat.

“Mentan mengambil kebijakan kegiatan Program Pompanisasi, Oplah, dan Lahan Kering. Maka dari itu dibutuhkan sinergi penyuluh dan babinsa demi menyukseskan Program Menteri Pertanian. Penyuluh harus pro-aktif berkomunikasi dan kolaborasi dengan PJ kabupaten/kota, Kabid kabupaten/kota, dan operator data dalam memberikan laporan realisasi untuk di input ke aplikasi laporan utama,” katanya.

Saat melakukan Pembinaan Penyuluh Pertanian Kabupaten Aceh Utara, Siti Munifah hadir bersama Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Kabid Penyuluhan Distanbun Provinsi Aceh, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Aceh utara, Kepala Dinas Kelautan Perikanan, Pertanian dan Pangan Kota Lhokseumawe.

Sekretaris BPPSDMP selaku PJ Antisipasi Darurat Pangan Provinsi Aceh, meminta komitmen penuh penyuluh dan bekerja keras meningkatkan performa di lapangan.

“Penyuluh Pertanian dituntut komitmen untuk meningkatkan peringkat Aceh masuk ke zona hijau dengan cara mengubah kebiasaan diri sendiri dengan kerja keras agar menjadi contoh bagi generasi muda dan generasi penerus,” kata Siti Munifah.

Terkait sulitnya menanam Padi Gogo pada lokasi perkebunan sawit, Ia menambahkan, Menteri Pertanian telah mengambil kebijakan terkait pertanaman Padi Gogo dapat ditanam pada lahan kering lainnya, ladang, kebun praktek BPP, pematang sawah dan lahan lainya yang biasa ditanami oleh petani.

Tidak hanya itu, Siti Munifah juga mengatakan bantuan Pompa ABT yang telah diterima sebanyak 670 unit di Provinsi Aceh harus segera di distribusikan kepada Poktan. Para Penyuluh harus berkoordinasi dengan Kabid PSP masing-masing daerah untuk mempercepat distribusi dan pemasangan Pompa.

“Bagi Kabupaten/Kota yang masih mengusulkan pompa dengan jumlah yang sedikit segera buat surat permohonan susulan untuk penambahan bantuan pompa,” jelasnya.

Siti Munifah juga berkesempatan memberikan arahan dan motivasi kepada Mahasiswa Polbangtan Medan yang sedang melakukan MBKM di Kab. Aceh Utara, harapan nya mahasiswa mampu beradaptasi dan dapat membantu Penyuluh dan petani, mampu menerapkan ilmu yg selama ini sudah di pelajari di perkuliahan.

Tidak hanya bertemu dengan penyuluh Sekretaris Badan Siti Munifah juga melakukan Koordinasi dan Pembinaan TIM LO BSIP Provinsi Aceh, pada momen tersebut Ia menyampaikan jika berdasarkan penugasan Mentan terkait antisipasi darurat pangan, harus segera lakukan dialog kinerja antara Kepala BPSIP dengan seluruh pegawainya untuk mensukseskan kegiatan strategis Kementan.

“Tim LO BPSIP segera lakukan Komunikasi dengan Kepala Dinas Kab/kota untuk melakukan distribusi Pompa ke Poktan. Selain itu harus intens menjalin komunikasi dengan Konsulidasi dengan seluruh Koordinator BPP untuk mempermudah dan mempercepat jalur laporan data. ang harus diperhatikan dalam bekerja adalah focus pada permasalahan tugas yang dibebankan dan focus kepada mencari solusi,” jelasnya.

Berlanjut saat melakukan Pembinaan Penyuluh Pertanian Kota Banda Aceh, Siti Munifah yang didampingi Direktur Perbenihan Ditjen TP Kementan, Kepala BPSIP Aceh dan Kodam IM, serta Kadis Pertanian dan Pangan Kota Sabang, Kadis Pertanian Kab. Aceh Besar, Kadis PPKP Kota Banda Aceh dan Kadis Pertanian dan Pangan Kab. Pidie, menegaskan jika Kota Banda Aceh dan Sabang di SK Mentan No. 972 terbaru masuk kedalam kontribusi sebagai darurat pangan untuk kepentingan nasional.

Ia juga menyampaikan jika Distan Aceh Besar siap membagikan pompa pada hari Sabtu tgl 24 Agustus 2024 sejumlah 45 Unit Pompa kepada Kelompok Tani. Dan Padi Gogo yang awalnya 25.498 Ha sebagian besar sudah dipindahkan ke PAT Pompanisasi untuk mengejar ketertinggalan realisasi PAT Aceh.(*)

Wujudkan Swasembada, Kementan Gencarkan Program PAT Provinsi Aceh

TANIINDONESIA.COM//ACEH – Dalam safari kerja yang dilakukan di Provinsi Aceh, Senin-Kamis (19-22/8/2024), Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), turut meninjau pertanian Aceh untuk mengantisipasi krisis pangan. Di antaranya memonitoring program Perluasan Areal Tanam (PAT) program pompanisasi.

Menurut Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, PAT merupakan aksi nyata untuk mengantisipasi darurat pangan. Dijelaskannya, komitmen akan kegiatan tersebut adalah pencapaian realisasi sesuai target dari masing-masing wilayah di tiap provinsi.

Meski demikian, Mentan menegaskan jika dibutuhkan peran penyuluh untuk mendukung hal tersebut. Ia menambahkan, penyuluh adalah garda terdepan dalam pembangunan pertanian, memiliki fungsi vital dalam mensukseskan program utama kementan.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Ida Widhi Arsanti, mengatakan salah satu fokus PAT adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan yang diyakini akan semakin meningkat.

Senada dengan Mentan, Santi pun menilai peran penting dipegang penyuluh, khususnya dalam pengawalan program PAT. Dijelaskannya, penyuluh harus melakukan pendampingan untuk memastikan bahwa teknik dan metode yang digunakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Sehingga hasil yang dicapai dapat maksimal.

"Para penyuluh pertanian diharapkan dapat memberikan bimbingan dan dukungan teknis yang diperlukan bagi petani di setiap kabupaten," tegas Santi.

Baca juga: 

Menginspirasi Dunia, Indonesia Hadirkan Genta Organik dan Inovasi Biotron di Konferensi Biochar 2024 Malaysia

Sekretaris BPPSDMP, Siti Munifah, mengatakan air merupakan kebutuhan utama para petani. Dengan adanya pompa air diharapkan membantu petani meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

"Adanya pompa air ini diharapkan bisa membantu petani, terutama petani sawah tadah hujan mendapat pasokan air. Sehingga hasil panen bisa meningkat dari satu kali setahun menjadi dua kali," kata dia.

Ia juga mengatakan, pemberian bantuan dalam rangka percepatan penanaman. Pasalnya saat ini Indonesia sedang memasuki kemarau panjang akibat Elnino.

"Semoga dengan adanya mesin ini bisa mempermudah petani dari sebelumnya setahun sekali bertanam bisa menjadi dua atau tiga kali lebih dari setahun," harapnya.

Siti mengatakan program ini juga baru digulirkan tahun ini oleh Kementan. Tujuannya agar sawah-sawah yang membutuhkan pasokan air di tengah kemarau bisa terairi.

"Program ini berlaku baru tahun ini. Dan berlaku untuk semua daerah di Indonesia sebagai upaya mempermudah petani mendapat pasokan air, semoga dengan adanya pompa air ini dapat meningkatkan hasil panen yang memuaskan," tuturnya.

Dalam safari kerjanya di Aceh, Siti Munifah melakukan Tinjauan Lapangan Irigasi Perpompaan (IRPOM) di Aceh Tamiang. Ia mengunjungi Kelompok Tani Gajah Batee Kureng - Desa Krueng Sikajang, Kecamatan Manyak Payed, Kabupaten Aceh Tamiang

Pembangunan Irpom selesai Bulan Mei 2024, sumber berasal air dari bendungan PUPR yang di alirkan bak tampung untuk di aliri ke 45 Ha sawah dengan jarak pipa sepanjang 300 M.

Bersama TV Tani, Siti Munifah, juga meninjau Lapangan Kab Aceh Besar. Kegiatan pemanfaatan bantuan pompa ABT diliput secara langsung oleh TV Tani dengan lokasi di Desa Blang Preh, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Aceh Besar oleh Siti Munifah hadir bersama Tenaga Ahli Menteri, Kepala BPSIP Aceh dan Kodam IM, serta Kadis Pertanian dan Pangan Kota Sabang, Kadis Pertanian Kab. Aceh Besar, Kadis PPKP Kota Banda Aceh dan Kadis Pertanian dan Pangan Kab. Pidie.

Disebutkan jika Kota Banda Aceh dan Sabang di SK Mentan No. 972 terbaru masuk kedalam kontribusi sebagai darurat pangan untuk kepentingan nasional.

Distan Aceh Besar juga siap membagikan pompa pada hari Sabtu tgl 24 Agustus 2024 sejumlah 45 Unit Pompa kepada Kelompok Tani.

Sementara Padi Gogo yang awalnya 25.498 Ha sebagian besar sudah dipindahkan ke PAT Pompanisasi untuk mengejar ketertinggalan Realisasi PAT Aceh.(*)

Lulus Yudisium, Mahasiswa Polbangtan Kementan Siap Dukung Pertanian Indonesia

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) Jurusan Pertanian mengumumkan kelulusan 95 mahasiswa dari empat program studi, Rabu (21/8/2024), di Gedung Seminar.

Yudisium yang berlangsung hari ini meluluskan mahasiswa dari program studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (PPB) RPL, Teknologi Benih (TB), Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (PPB) Reguler, dan Agribisnis Hortikultura.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan para lulusan Polbangtan ini harus siap menerapkan ilmu mereka dapat selama masa kuliah di masyarakat. Mentan Amran berharap para mahasiswa juga memberikan inovasi baru sehingga pertanian Indonesia dapat semakin maju.

Hal senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti.

Baca juga: 

Dosen Polbangtan Kementan Sabet Penghargaan Dosen Berprestasi

Dijelaskannya, para lulusan Polbangtan kini dihadapkan pada dunia pertanian sesungguhnya. Menurutnya, mereka bukan hanya dituntut adaptif terhadap kondisi sesungguhnya di lapangan, tetapi yang tidak kalah penting adalah inovatif.

Ia berharap para lulusan ini bisa memaksimalkan seluruh potensi yang ada untuk mengembangkan pertanian di daerah masing-masing sehingga ketahanan pangan dapat terus terjaga.

Endah Puspitojati, Ketua Jurusan Pertanian, mengatakan bahwa masing-masing program studi mencatatkan prestasi yang membanggakan dengan tingkat kelulusan yang tinggi.

“Hingga Yudisium ke 3 ini tingkat kelulusan masing-masing program studi cukup tinggi, Prodi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (PPB) RPL dan Reguler menunjukkan tingkat kelulusan yang sangat baik, masing-masing sebesar 87,3% dan 93,3%, Prodi Teknologi Benih (TB) mencatatkan persentase kelulusan mencapai 96,96%, dan prodi Agribisnis Hortikultura meraih hasil sempurna dengan seluruh mahasiswanya berhasil lulus 100%,” rinci Endah.

Sementara Endra Prasetyanta, Ketua Kelompok Substansi Administrasi Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni (AAKA), dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas pencapaian para lulusan.

“Kami berharap para lulusan dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh selama kuliah untuk memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pertanian di Indonesia. Menjadi petani milenial yang inovatif, tangguh, dan berdaya saing adalah tantangan yang harus dihadapi," ujarnya.

Para lulusan ini diharapkan mampu menjadi agen perubahan di sektor pertanian, membawa inovasi dan solusi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing pertanian Indonesia.(*)