17 Mei 2026

Hari: 5 Juni 2024

Antisipasi Darurat Pangan, Kementan Latih Jutaan Petani Penyuluh dan Babinsa

TANIINDONESIA.COM//KETINDAN - Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan) melatih jutaan petani dan penyuluh untuk mengantisipasi darurat pangan nasional.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan, prioritas pemerintah saat ini adalah menggenjot produksi padi dan jagung untuk mencegah krisis pangan di Indonesia.

“Kalau krisis energi mungkin kita masih bisa bergerak, tapi kalau krisis pangan, seluruh aktivitas terhenti, bahkan negara pun tidak ada tanpa pangan. Sehingga, ini menjadi prioritas pemerintah saat ini,” kata Mentan Amran.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan, Sejak tahun lalu dampak covid 19, geopolitical tension khususnya perang rusia-ukraina, dan climate change (perubahan iklim) sangat terasa khususnya dalam hal pangan. Situasi dunia dalam kondisi tidak menentu dengan sekitar 60 negara mengalami krisis pangan dan 900 juta penduduk dunia terdampak krisis pangan.

“Dari berbagai masalah ini berdampak produksi pangan global terganggu. Di Indonesia, sejak Februari tahun lalu hingga Maret tahun kita mengalami fenomena alam yang disebut El Nino, kemarau yang berkepanjangan. Solusi mengatasi krisis pangan kita harus Swasembada," ujar Dedi saat membuka Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh (PSPP) Volume 10 Tahun 2024, di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang, Rabu (5/6/24).

Dedi mengatakan, beras adalah kebutuhan pokok Indonesia. Per bulannya, kebutuhan beras dalam negeri tidak kurang dari 2,6 juta ton atau setara 1 juta hektare luas panen dengan produktivitas 5,2 ton per hektare.

Dedi menjelaskan, konsumsi beras dalam negeri setiap bulannya tidak kurang dari 2,6 juta ton atau setara 1 juta hektare luas panen dengan produktivitas 5,2 ton per hektare. Sementara Indonesia hanya mampu menghasilkan beras 30,2 juta ton per tahun.

"Artinya kita masih defisit 1 juta beras. Belum lagi cadangan beras pemerintah (CBP) 2,5 juta ton, berarti dijumlah kurang lebih 3,5 juta ton beras setiap tahun. Itu setara dengan 7 juta ton gabah kering giling (GKG)," jelas Dedi.

Baca juga: Keren! Polbangtan Kementan Boyong 15 Medali di Kejuaran Palagan Open Taekwondo Championship

Berdasarkan data yang ada, pada Maret 2024, petani baru bisa menanam seluas 800.000 hektare atau dengan kata lain terjadi kekurangan tanam seluas 300.000 hektare, yang akibatnya akan defisit beras.

"Oleh karena itu, kita harus melakukan perluasan tanam dan meningkatkan indeks pertanaman (IP) kita di lahan rawa dan lahan tadah hujan agar produksi beras kembali melimpah,” ujar Dedi.

Kementan saat ini tengah fokus menggenjot produksi dua komoditas pokok, yaitu padi dan jagung nasional melalui optimalisasi lahan rawa, pompanisasi, dan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan.

Dedi mengatakan, optimalisasi rawa sedang dilakukan di 11 provinsi dengan target meningkatkan IP 100 menjadi 200 untuk daerah yang sudah dilakukan survei investigasi dan desain (SID).

"Lahan rawa kita umumnya cuman tanam satu kali dalam satu tahun. Lahan Rawa kalau kita tingkatkan IP dari satu kali menjadi dua dalam satu tahun berarti kita harus optimasi lahannya. Kita harus perbaiki salurannya dan sebagainya," sambung dia.

Kementan juga menggalakkan program bantuan pompanisasi, khususnya di lahan persawahan tadah hujan ber-IP satu yang dekat dengan sumber air. Program ini akan dilakukan 500 hektare di Pulau Jawa dan 500 hektar di luar Pulau Jawa.

"Kita punya lahan tadah hujan 3-4 juta hektare, yang baru tanam satu kali dalam satu tahun karena apa irigasinya hanya mengandalkan hujan. Kalau ini kita tingkatkan IP-nya jadi dua kali, produksi kita juga akan meningkat," ujar dia.

Selanjutnya, kata Dedi, Kementan juga menggalakkan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan sawit dan kelapa yang sedang mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

"Kita ada lahan sawit dan kakao sekitar 500.000 hektare untuk program tumpang sisip padi gogo. Sehingga yang tadinya tidak bisa tanam menjadi tanam,” kata Dedi.

Dengan latar belakang ini maka BPPSDMP akan menyelenggarakan PSPP Volume 10 Tahun 2024 bagi Petani, Penyuluh Pertanian, dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dengan tema "Gerakan Antisipasi Darurat Pangan Nasional".

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam peningkatan produksi padi melalui optimalisasi lahan rawa dan pompanisasi di lahan sawah tadah hujan serta pemanfaatan lahan perkebunan untuk padi.

PSPP ini dilaksanakan selama tiga hari, tanggal 5 - 7 Juni 2024 secara luring di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan dan daring serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan Kantor Koramil di seluruh Indonesia.

Peserta pelatihan yang mengikuti sebanyak 1.902.354 dari target sebanyak 1.800.000 orang yang terdiri dari Petani sejumlah 1.823.948 orang, Penyuluh PNS sejumlah 12.008 orang, Penyuluh PPPK sejumlah 7.690 orang, Penyuluh THL Pusat sejumlah 474 orang, Penyuluh THL Daerah sejumlah 3.184 orang, BABINSA sejumlah 48.347 orang dan Insan Pertanian lainnya sejumlah 6.703 orang.(***)

Kementan Kenalkan Ketahanan Pangan Keluarga kepada Pengurus PKK dan Posyandu

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian terus menggaungkan pentingnya ketahanan pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Melalui salah satu UPT pelatihan, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, Kementan memberikan pembelajaran tentang pertanian hidroponik dan pengolahan hasil pertanian.

Kegiatan dilaksanakan Senin (3/6/2024), diikuti 190 orang Ibu-ibu PKK dan Penggerak Posyandu se-Kecamatan Sukakarya Kabupaten Bekasi.

Menurut Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, pangan merupakan bagian penting karena merupakan faktor penentu keberlangsungan sebuah negara.

"Saya ingatkan ketahanan pangan itu merupakan ketahanan negara dan penting untuk terus berkolaborasi untuk menjaga dan meningkatkan produksi pangan,”ujarnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi berharap seluruh insan pertanian diharapkan bergerak aktif menjaga ketahanan pangan. Menurutnya ketahanan pangan bisa dimulai dari keluarga.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, kerap mengatakan bahwa pembangunan pertanian diawali dari desa. “Ketahanan pangan berawal dari desa, dan ibu-ibu penggerak PKK dan posyandu bisa menjadi pendukung pembangunan pertanian di desa.”

Pembelajaran pertanian hidroponik dan pengolahan hasil pertanian ini sendiri diikuti oleh ombongan Pengurus PKK dan Posyandu dari 7 desa yaitu Desa Sukamurni, Sukakarya Sukamakmur, Sukakarsa, Sukaindah, Sukalaksana dan Sukajadi, diterima secara resmi oleh Tim Manajemen BBPP Lembang.

Baca juga: Antisipasi Darurat Pangan, Kementan Latih Jutaan Petani Penyuluh dan Babinsa

Para peserta mendapatkan materi dari widyaiswara BBPP Lembang yang menyampaikan tentang Budidaya Sayuran Sistem Hidroponik. Dikenalkan juga berbagai sistem dalam teknologi hidroponik seperti wick system, irigasi tetes, nutrient film technique (NFT), deep flow technique (DFT), dan aeroponik.

Widyaiswara BBPP Lembang juga menyampaikan juga tentang komoditas sayuran yang memiliki nilai jual tinggi dan bisa dibudidayakan secara hidroponik.

Peserta lalu diajak praktik penanaman secara hidroponik di Inkubator Agribisnis. Petugas lahan praktik mensimulasikan pembuatan instalasi hidroponik sistem DFT, menjelaskan penggunaan nutrisi hidroponik, proses persemaian hidroponik, penanaman secara hidroponik, dan pengendalian hama dan penyakit.

Sementara itu, di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian, widyaiswara mengenalkan pengolahan jagung manis menjadi es krim yang juga bisa menjadi peluang bisnis bagi para pengurus PKK dan Posyandu.

Hanya dengan 5 bahan yaitu jagung manis, telur, susu cair, susu kental manis dan TBM dan peralatan pembuatan es krim yang sederhana bisa menghasilkan cemilan sehat bagi anak-anak dan masyarakat secara umum.

Camat Sukakarya, Hanief Zulkifli memberikan apresiasinya atas kegiatan kunjungan ini.

“Terima kasih kami sampaikan kepada BBPP Lembang yang telah memfasilitasi para pengurus PKK dan Posyandu Kecamatan Sukakarya Kabupaten Bekasi mengenal pertanian dan ketahanan pangan. “Semoga setelah belajar di sini, bisa diaplikasikan di tempat masing-masing karena di Kecamatan Sukakarya potensial untuk mengembangkan sektor pertanian dari mulai hulu hingga hilir,” ucapnya.(***)

Keren! Polbangtan Kementan Boyong 15 Medali di Kejuaran Palagan Open Taekwondo Championship

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kontingen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang berhasil memboyong 15 medali di ajang Kejuaran Palagan Open Taekwondo Championship. Kejuaraan yang berlangsung 31 Mei – 1 Juni 2024, di Tennis Indoor GOR Pandanaran Wujil, Kabupaten Semarang, diikuti oleh peserta dari berbagai daerah.

Dalam ajang itu, Kontingen Polbangtan yang berada di bawah naungan Kementerian Pertanian (Kementan) itu menurunkan 15 mahasiswa, terdiri dari 7 Mahasiswa Jurusan Pertanian dan 8 mahasiswa jurusan Peternakan. Yang membuat bangga, semuanya berhasil memboyong medali.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengapresiasi prestasi yang diraih para mahasiswa Polbangtan Yogyakarta Magelang tersebut. Menurutnya, hal ini membuktikan jika Polbangtan juga turut memperhatikan bakat-bakat para mahasiswa.

Pernyataan senada disampaikan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi.

Baca juga: Kementan Siap Latih Jutaan Petani dan Penyuluh Antisipasi Darurat Pangan

“Dalam Polbangtan, para mahasiswa tidak hanya dibekali dengan pengetahuan serta ilmu-ilmu seputar pertanian yang akan menjadi bekal mereka saat terjun ke Masyarakat. Lebih dari itu, bakat serta hobi yang mereka miliki pun tetap bisa tersalurkan, seperti kejuaraan taekwondo ini. Dan ini yang membuat Polbangtan menyenangkan,” katanya.

Sementara Ketua Jurusan Pertanian Polbangtan Yogyakarta Magelang, Endah Puspitojati, menjelaskan jika para mahasiswanya mampu meraih 5 medali emas.

“Total ada 5 medali emas yang berhasil diboyong pulang, 3 diraih dari cabang kyourgi dan 2 dari cabang poomsae. Sementara 10 medali perak dengan rincian 9 medali dari cabang kyourugi dan 1 medali dari poomsae,” rinci Endah, di sela-sela apel pagi.

Endah turut mengapresiasi dan bangga terhadap capaian tersebut, menurutnya dengan sering mengikuti ajang-ajang seperti ini, mahasiswa akan terasah karakternya.

“Dari sini muncul karakter pejuang, nilai-nilai kerjasama tim, dan kebersamaan serta persaudaraan untuk bahu membahu mengharumkan nama lembaga,” sambungnya.

Salah seorang peraih medali emas, Novi Larasati Ramadhani, mengaku bangga dapat mempersembahkan prestasi untuk Polbangtan Yogyakarta Magelang.

“Sangat bangga karena kami ber 15 mampu bersama-sama memboyong medali untuk Kampus tercinta. Terimakasih atas dukungan dan kesempatan yang telah diberikan kepada kami, semoga kami dapat terus mengukir prestasi di ajang-ajang kejuaran mendatang,” kata Novi.