17 April 2026

Hari: 2 Februari 2024

Inspiratif, P4S Sarongge Olah Sampah Jadi Berkah

TANIINDONESIA.COM//CIREBON - Pertanian memiliki banyak sektor yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan uang. Hal ini dibuktikan P4S Sarongge yang berada Desa Ciawigajah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cirebon.

Lembaga yang meraih Sertifikasi Klasifikasi P4S sebagai P4S Kelas Pratama ini sukses mengolah sampah menjadi berkah.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, pertanian adalah sektor yang sangat menjanjikan jika ditekuni dengan serius.

Mentan Amran menambahkan, baik dari hulu sampai hilir, pertanian menyajikan banyak peluang yang bisa dimanfaatkan. Oleh sebab itu, ia berharap anak-anak juga terjun memanfaatkan peluang tersebut.

P4S merupakan salah satu lembaga masyarakat yang dimiliki dan dikelola petani langsung baik secara perorangan maupun kelompok dalam meningkatkan peran aktif pembangunan pertanian melalui pengembangan sumber daya manusia pertanian seperti pelatihan, penyuluhan, dan pendidikan.

Keberadaan P4S dalam suatu wilayah pertanian sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia petani ke depannya. Sehingga peran serta kelembagaan pertanian ini sangat dirasa positif oleh masyarakat khususnya petani.

Peran P4S sangat strategis dalam upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia petani dalam mewujudkan kader-kader petani yang dapat bersaing di masa depan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menyebut P4S Sarongge sebagai contoh pengolahan sampah rumah tangga, secara profesional sehingga menghasilkan.

Baca juga: Bangun Ekosistem Kewirausahaan Pertanian, Kementan Ajak Petani Muda dan Pemda Belajar ke Pacitan

Dalam satu bulan, dari satu desa ciawigajah limbah sampah yang dihasilkan 400 ton, dari sampah tersebut komposisi nya 40% dan 60% organik.

"Saya melihat proses mesinnya yang semua produksi dalam negeri, yang sampah organik setelah dikeringkan dan diproses fermentasi kemudian dicampur dengan pupuk kandang menghasilkan pupuk kompos/organik. Pupuk yang dihasilkan dapat meningkatkan produksi mulai dari 40-90%," kata Dedi.

40% sampah non organik 5% sampah kaleng, 15% botol minuman mineral dan 20% plastik diproses, dengan mesin pencacah.

"Ada yang dipadatkan dan menjadi sumber energi ada juga yang didaur ulang sehingga dapat dimanfaatkan. Apa yang dilakukan P4S ini sangat bermanfaat karena selain menghasilkan juga ramah lingkungan," ujar Dedi lagi.

"Saya berharap apa yang dilakukan P4S Sarongge ini dapat menjadi contoh dan ditiru oleh P4S lain dan proses pemanfaatan sampah terus berjalan," imbuhnya.

P4S Sarongge sendiri bergerak dalam ketahanan pangan khususnya dalam produksi pupuk organik yang berasal dari limbah/sampah rumah tangga warga desa sekitar.

Selain pengolahan sampah, P4S Sarongge mengelola lokasi Agrowisata seluas 5 HA dengan komoditas tanaman pangan, hortikultura dan peternakan.

Hal ini dijelaskan Nunung Nurhadi, Pembina P4S Sarongge, Desa Ciawigajah, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cirebon.

"Lembaga kami bergerak dalam ketahanan pangan khususnya dalam produksi pupuk organik yang berasal dari limbah/sampah rumah tangga warga desa sekitar. Istilahnya kami mengolah sampah, menjadi berkah karena menghasilkan," katanya.

Ia menambahkan, di sini sudah ada mesin pengolahan sampah, yang proses awal mulai dari memisahkan sampah organik dan non organik.

"Dimana untuk non organik seperti botol air kemasan dan kaleng, dimasukan mesin pencacah dan hasilnya sudah ada yang menampung dari pihak ketiga. Untuk sampah organik, diolah menjadi pupuk kompos/organik," jelasnya.(***)

Bangun Ekosistem Kewirausahaan Pertanian, Kementan Ajak Petani Muda dan Pemda Belajar ke Pacitan

TANIINDONESIA.COM//PACITAN - Kementerian Pertanian terus berupaya meningkatkan produktifitas usaha tani, salah satu program kementan adalah mencetak banyak petani muda. Kementan berkeyakinan masih banyak anak muda yang mau terjun dibidang pertanian agar mempunyai kehidupan dan ekonomi yang lebih baik.

Untuk itu Kementan menerjunkan program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) dan dirancang untuk menghasilkan wirausahawan muda pedesaan serta menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dibidang pertanian

Dalam rangka membuka wawasan dan mengembangkan program Youth Enterpreneur and Employment Services (YESS) , Kementerian Pertanian mengajak puluhan Petani Muda dan Pemerintah Daerah dari berbagai wilayah untuk melakukan studi banding pelaksanaan program YESS ke Pacitan.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, kemajuan pertanian disuatu daerah sangat ditentukan oleh kebijakan pemerintah daerah.

Oleh sebab itu, Mentan berharap pemerintah daerah memiliki komitmen yang sama untuk memajukan pertanian di wilayah masing-masing.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, menegaskan jika masa depan pertanian berada di pundak generasi muda saat ini.

"Kementerian Pertanian selalu mengimbau para SDM pertanian, khususnya petani muda, untuk terus menambah pengetahuan dan kemampuan. Salah satunya melalui program YESS," tutur Dedi.

Sementara Project Manager National Program Management Unit (NPMU) YESS program, Inneke Kusumawati, menjelaskan, Pacitan dipilih sebagai wilayah studi banding karena dinilai menjadi salah satu wilayah pelaksana program YESS yang berhasil

"Pacitan merupakan salah satu wilayah existing program YESS yang saat evaluasi dinilai menjadi wilayah yang berhasil, karena mampu menumbuh kembangkan koperasi petani milenial," ujarnya.

Dalam pelaksanaan programnya, Inneke juga memuji bagaimana sinergi multistakeholder yang terbentuk di dalamnya. Sehingga memberikan kepercayaan kepada para anak muda untuk mereka berkelompok dan melembaga hingga terbentuk iklim kewirausahaan.

Baca juga: Lakukan Audiensi dengan Bupati Sleman, Kementan dan IFAD Masifkan Regenerasi Petani

"Kita bisa melihat bagaimana kerjasama apik yang terbangun antara Kementerian Pertanian, dan jajaran Pemerintah daerah Kabupaten Pacitan seperti Bappeda, Dinas terkait, hingga para petani milenial. Ini yang kami harapkan dapat diadopsi oleh wilayah YESS dan calon wilayah YESS-Scalling Up Intervention (SI) lainnya," tegasnya.

Ia menambahkan, sinergi multistakeholder ini penting dibangun, karena setelah intervensi program YESS ini selesai diharapkan dampaknya masih terus dapat dirasakan dan bahkan berkembang menjadi lebih baik.

"Di penghujung Juni 2025, kita akan closing Program, dan kami tidak ingin ini (Program YESS) menjadi proyek mangkrak, sehingga komitmen pemerintah daerah memang sangat diperlukan untuk mendorong tumbuhnya lembaga yang menaungi para penerima manfaat agar tidak tercerai berai dan dikuatkan dengan legalitas seperti Peraturan Gubernur atau SK Gubernur," kata Inneke.

Sekretaris Daerah Kabupaten Pacitan, Heru Wiwoho, yang mewakili Bupati untuk menerima kunjungan studi banding, mengakui jika Program YESS merupakan program strategis yang dapat menekan angka pengangguran dan kemiskinan.

"Tercatat sebanyak 34% penduduk Pacitan terdiri dari pemuda yang berusia 17-39 tahun, sehingga di level ini sangat strategis untuk dilakukan intervensi program dengan harapan di masa depan pemuda Pacitan akan menjadi wirausahawan yang mampu menjadi pelopor perubahan dan tentunya dapat bersama-sama untuk menurunkan angka kemiskinan dan tentunya meningkatkan perekonomian," jabarnya.

Selama pelaksanaan program YESS, diakui juga oleh Heru terjadi penurunan angka kemiskinan.

"Program YESS turut berkontribusi menurunkan angka kemiskinan sebesar 1.46% yaitu dari 15.11% di tahun 2021di menjadi 13.65% di tahun 2023 dan tentunya juga berkontribusi menurunkan tingkat pengangguran di Pacitan," rinci Heru.

Heru berharap capaian tersebut dapat direplikasi oleh wilayah program YESS lainnya. Kegiatan dilanjutkan dengan sesi pemaparan keberhasilan Program YESS Wilayah Pacitan oleh perwakilan Bappeda, Dinas pertanian, dan Pengurus Koperasi Petani Milenial, serta diskusi dengan peserta.

Hermawan, Kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Polbangtan Yogyakarta Magelang sekaligus koordinator rombongan peserta, mengatakan peserta yang turut dalam kegiatan ini sebanyak 100 orang yang terdiri dari para Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan), Manajer dan Calon Manajer PPIU (Provincial Project Implementation Unit), Koordinator dan Calon Koordinator DIT (Distric Implementation Team), serta Young Ambassador penerima dan calon Penerima Program YESS.

"Hadir juga Kepala Dinas Pertanian Gunung Kidul, Kabid Penyuluhan Distan Kabupaten Banyumas, Kabid Penyuluhan Distan Kabupaten Sleman, Kabid Penyuluhan Distan Kota Semarang, dan beberapa Petani Milenial Jawa Tengah dan DIY yang nantinya diproyeksikan menjadi wilayah YESS-SI di bawah koordinasi Polbangtan Yogyakarta Magelang dan juga calon wilayah YESS-SI lainnya," imbuhnya.(***)