22 Januari 2026

Konsultasi

Konsultasi Gratis, UPT Pelatihan Kementan Beri Solusi Bagi Petani

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG BARAT – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, kembali menyelenggarakan Konsultasi Agribisnis Keliling (KAK), Kamis (07/08/2025).

Kali ini, konsultasi diadakan di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, dan dihadiri sekitar 30 petani.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menjelaskan pentingnya pangan bagi manusia.

"Jika tidak ada pangan maka tidak ada kehidupan. Tanpa pangan, negara bisa bubar sehingga sangat penting kita jaga pangan," kata Mentan Amran.

Mentan Amran juga mengingatkan cita-cita besar Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan Indonesia.

“Perintah Bapak Presiden Prabowo, harus swasembada dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dan ini bisa kita rebut manakala kita semua saling bergandengan tangan,” ucap Mentan Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan hal terpenting untuk meningkatkan pertanian adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

“Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP juga terus mengupayakan peningkatan SDM di bidang pertanian,” katanya.

Layanan Konsultasi Agribisnis Keliling merupakan salah satu Standar Pelayanan Publik BBPP Lembang. Sejak pertengahan tahun 2024, BBPP Lembang membangun dan mengembangkan inovasi pelayanan publik KAK.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan KAK dibangun dan dikembangkan karena komitmen kuat untuk meningkatkan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu pelayanan publik yang kami laksanakan mendukung kompetensi SDM pertanian melalui Konsultasi Agribisnis Keliling. Ini upaya kami dalam pengembangan inkubator agribisnis sebagai pendukung penyelenggaraan pelatihan,” tutur Ajat.

Konsultasi sendiri dilaksanakan secara hybrid, baik secara online (daring) berbasis website dan whatsapp center. Sementara secara offline (luring), para petani datang langsung ke kantor dan KAK datang ke lokasi petani yang membutuhkan konsultasi tentang pertanian.

Baca juga:

Gen Z Pelajari Pertanian Melalui PKL di UPT Kementan

Awal tahun 2025, BBPP Lembang bekerjasama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat untuk layanan KAK, mengunjungi petani di berbagai kecamatan Kabupaten Bandung Barat.

Kegiatan KAK menghadirkan konsultan yaitu widyaiswara dan petugas lapangan yang kompeten memecahkan permasalahan yang dihadapi petani sesuai yang dibutuhkan.

Kunjungan ke BP3K Cipatat merupakan kunjungan ke-11 dalam rangkaian KAK. BBPP Lembang bekerja sama dengan penyuluh setempat untuk mengundang para petani dengan rasa ingin tahu besar atau mereka yang memiliki pertanyaan untuk disampaikan.

Dalam rangkaian KAK kali ini konsultasi berjalan dalam bentuk diskusi. N. Ida Farida dan Iwan Hernawan menjadi widyaiswara fasilitator. Konsultasi dimulai dengan materi ajar mengenai tanaman hia

Materi tanaman pangan diangkat untuk memberikan petani wawasan alternatif dalam bercocok tanam. Petani di daerah Cipatat mayoritas adalah petani dan menurut Ida akan membantu penghasilan mereka apabila menanam komoditas lain.

Komoditas tanaman hias seperti sukulen ideal karena dapat dibudidayakan dengan bahan yang relatif murah dan memberikan imbal hasil yang cukup baik.

“Tanaman hias dapat memberikan penghasilan jika dikembangkan untuk jual-beli, misalkan sebagai suvenir,” terang Ida.

Selain itu tanaman hias lain memiliki nilai ekonomis tinggi bergantung dengan tren dan musim. Ida memisalkan tanaman janda bolong yang kerap menjadi perhatian di kala pandemi sekitar tahun 2020 hingga 2021.

Sedangkan Iwan membuka sesi diskusi yang lebih aktif. Beberapa petani menanyakan cara untuk menghindari anjloknya harga dan menanggulangi perubahan musim. Iwan menerangkan bahwa kunci dari menanggulangi hal tersebut adalah dengan memiliki data.

“Bapak dan ibu sekalian dapat menggunakan data untuk mengenali potensi tanaman yang akan dibudidayakan, paling sederhana adalah dengan menggunakan teori supply dan demand,” terang Iwan.

Ia kemudian memisalkan harga tanaman atau buah-buahan di pasar suatu ketika dapat turun bergantung dengan ketersediaan.

Sehingga petani harus mengenal musim dan harga untuk menentukan momentum menanam tanaman dan buah yang sesuai untuk memaksimalkan keuntungan.

“Petani harus mengenal pasar agar mampu menentukan potensi tanaman yang akan dibudidayakan,” tuturnya.(***)