21 April 2026

Berita terbaru

Berita utama

Berita terpopuler

BRI BO Bogor Dewi Sartika Meriahkan Penutupan Festival Merah Putih

TANIINDONESIA.COM//BOGOR - Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus memberikan yang terbaik untuk seluruh nasabah. Salah satu wujud nyata yaitu melalui dukungan BRI untuk UMKM.

Melalui acara Festival Merah Putih yang digelar di Bogor, BRI BO Bogor Dewi Sartika turut memeriahkan kegiatan tersebut mulai dari pembukaan hingga penutupan acara. Hal ini sebagai bentuk kepedulian BRI terhadap perkembangan dunia UMKM.

BO Head BRI Bogor Dewi Sartika, Fahmi Hidayat mengatakan, sebagai sponsor utama di kegiatan Festival Merah Putih, BRI sangat mendukung perkembangan UMKM. Tentunya dukungan ini diharapkan bisa memajukan UMKM sehingga bisa berdaya saing tinggi.

"Harapan kami tentunya UMKM di Indonesia bisa terus berkembang dan berjaya hingga kancah internasional," tegasnya.

Fahmi menambahkan, setelah digelar selama satu bulan penuh, Festival Merah Putih (FMP) 2025 resmi ditutup di Mako Brimob Resimen 1 Kedung Halang, Minggu (31/8/2025). Tak ketinggalan bersama seluruh pihak pendukung, BRI juga mengikuti doa bersama untuk Negeri Indonesia tercinta.

"Kami bersama pihak pen dukungan lainnya terus mendoakan Negeri Indonesia kita ini bisa aman, nyaman dan perekonomian tumbuh dengan baik bersama BRI," tutupnya.(***)

Ajak Petani Terapkan Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu, Kementan Tanamkan Pertanian Berkelanjutan

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG BARAT – Kementerian Pertanian (Kementan), melalui UPT Pelatihan Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, menyelenggarakan Konsultasi Agribisnis Terpadu, Andal, Luar Biasa, Inovatif, Solutif (KATALIS), Rabu (24/9/2025), di BP3K Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Tema yang diangkat adalah mengenaj pertanian organik.

Hadir pada kegiatan ini konsultan dari widyaiswara BBPP Lembang, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bandung Barat, Sekretaris Camat Saguling dan kelompok tani dari 6 desa di Kecamatan Saguling.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, mengatakan pertanian organik adalah solusi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan.

“Pertanian organik dapat menyediakan pangan sehat yang ramah lingkungan dan mampu memberikan nilai tambah ekonomi tinggi bagi petani, sekaligus menjadi jawaban atas tantangan perubahan iklim global,” tutur Mentan Amran.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan hal terpenting untuk meningkatkan pertanian adalah dengan meningkatkan kualitas SDM.

“Kementerian Pertanian melalui BPPSDMP juga terus mengupayakan peningkatan SDM di bidang pertanian,” kata Santi.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, mengatakan pihaknya membangun dan mengembangkan KATALIS sebagai salah satu standar pelayanan bagi para stakeholder dengan tujuan peningkatan kompetensi SDM pertanian.

“Salah satu pelayanan publik yang kami laksanakan mendukung kompetensi SDM pertanian melalui konsultasi agribisnis," jelasnya.

Saat konsultasi, Widyaiswara BBPP Lembang sebagai konsultan, pada awal kegiatan menjelaskan prinsip pengendalian hama dan penyakit terpadu (HPT).

Pengendalian hama dan penyakit bisa dikombinasikan antara organik dan kimiawi, asalkan pemberian pupuk atau penyemprotan untuk hama dan penyakit secara kimiawi itu harus dikurangi dan dilakukan dengan bijaksana, tepat dosis dan tepat jumlah.

Baca juga:

Dukung Penelitian, UPT Kementan Fasilitasi Mahasiswa Biologi

Salah satu pengendalian HPT memanfaatkan jamur seperti Trichoderma. Trichoderma mampu mencegah penyakit tular tanah (fusarium) dan berperan untuk menjaga daya tahan tubuh/imunitas dari tanaman selayaknya pemberian vaksinasi pada manusia.

Widyaiswara didampingi petugas juga mempraktikkan perbanyakan Trichoderma.

Dijelaskan inokulasi Trichoderma dengan peralatan sederhana yang membutuhkan diantaranya isolat Trichoderma, lampu bunsen, spirtus, jarum ose, dan jagung sebagai media perbanyakannya.

Widyaiswara lalu menjelaskan titik kritis agar proses perbanyakan Trichoderma sukses.

“Titik kritis perbanyakan Trichoderma ada di sterilisasi tempat, dan saat inokulasi minimalisir berbicara keras supaya mencegah kontaminasi.”

Selanjutnya diberikan pula cara pengaplikasian trichoderma ke tanaman, bisa melalui berbagai cara seperti ditaburkan pada lubang tanam, dicampurkan dengan pupuk atau diaplikasikan sebagai larutan. Pemberian Trichoderma sebaiknya pada sore hari agar tidak terjadi penguapan berlebih.

Diskusi berjalan diantaranya tentang proses pengendalian penyakit bulai pada tanaman jagung dan pengendalian hama patek pada tanaman cabai.

Untuk pencegahan hama dan penyakit pada tanaman, widyaiswara menegaskan pentingnya pemberian pupuk berimbang pada tanaman dan pengaturan jarak tanam.

Pertanyaan lainnya tentang waktu yang tepat pemberian Tricoderma pada saat pembuatan pupuk organik.

“Pemberian tricoderma yang tepat untuk pembuatan kom-mix hayati (kompos dicampurkan dengan agens hayati Trichoderma adalah saat dekomposisi pupuk organik sudah berjalan 1 minggu atau sampai suhu dingin sekitar 23-25 derajat celcius,” terang Widyaiswara.

Saat ini, laboratorium agens hayati BBPP Lembang memproduksi Trichoderma dalam bentuk serbuk.

Widyaiswara berbagi tips cara pembuatannya dengan mencampurkan Trichoderma dengan zat kaolin dengan komposisi tertentu. Fungsinya untuk memperpanjang masa simpan trichoderma tersebut.

Dengan melakukan inokulasi Trichoderma, petani dapat mengendalikan penyakit tanaman secara alami dan meningkatkan kualitas hasil panen secara berkelanjutan.

Salah seorang petani dari Kelompok Tani Cinta Asih I Desa Cipangeran, Aris Supardi, menyampaikan apresiasinya atas kegiatan KATALIS, kolaborasi BBPP Lembang dan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KBB.

“Adanya konsultasi agribisnis ini menambah ilmu pengetahuan bagi kami tentang agen pengendali hayati, lalu juga tentang pengendalian hama dan penyakit pada tanaman berbagai tanaman yang kerap kami alami,” ucapnya.

“Semoga program ini bisa berkontribusi dan berkelanjutan untuk pembangunan pertanian di Kecamatan Saguling,” harap Aris.(***)

BRI KC Mabes TNI Cilangkap Penetrasi EDC ke Merchant, Lakukan Kunjungan 4 in 1

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - BRI KC Mabes TNI Cilangkap lakukan penetrasi mesin EDC ke Merchant sekaligus kunjungan 4 in 1.

Kegiatan ini dilakukan oleh Relationship Manager Funding & Transaction(RM FT) bersama petugas IT ini dilakukan pada di September 2025. Adapun kegiatan ini bertujuan untuk pengenalan serta penetrasi penggunaan mesin EDC BRI oleh Merchant kepada customer /nasabah.

Sekaligus juga kunjungan untuk bagaimana memaksimalkan penggunaan Mesin EDC tersebut.

Pimpinan BRI KC Mabes TNI Cilangkap, Pranathan Triatmojo mengatakan, dengan adanya kegiatan ini diharapkan merchant bisa semakin memahami tentang penggunaan mesin EDC BRI. Dan para pengguna atau nasabah bisa menikmati kemudahan serta keuntungan dari beragam promo dari BRI.

"Dengan adanya penggunaan mesin EDC BRI ini tentunya bisa memudahkan dan menguntungkan nasabah yaitu merchant ataupun konsumen," tegasnya.

Seperti kita ketahui, BRI banyak memiliki produk dan program unggulan. Tak hanya penggunaan mesin EDC BRI, ada juga aplikasi BRImo yang tentunya sangat memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan dalam satu genggaman.

"Nasabah atau konsumen BRI bisa menikmati beragam program dan produk unggulan kami," tutupnya.(***)

Dukung Penelitian, UPT Kementan Fasilitasi Mahasiswa Biologi

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Dua mahasiswa dari Universitas Pendidikan Indonesia, program studi Biologi, menyelesaikan PKL selama tiga bulan di BBPP Lembang. PKL diakhiri dengan seminar hasil, Rabu (24/09/2025.) Keduanya fokus pada penelitian di bidang Hortikultura.

BBPP Lembang, sebagai UPT Kementerian Pertanian, berharap dapat memberikan pengalaman dan pemahaman bagi mahasiswa yang akan lulus kuliah dan melanjutkan karir maupun pendidikan di bidang pertanian nantinya.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga berharap kegiatan ini bisa turut meningkatkan produksi pangan.

“Kolaborasi yang baik diperlukan antara mahasiswa bersama petani dalam menggenjot stok pangan,” katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, sangat menekankan pertanian membutuhkan peranan generasi milenial.

Bahkan, ia mengajak generasi muda untuk menjadi kaya raya menjadi petani dengan jiwa wirausaha profesional.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, juga menyambut baik kontribusi kedua mahasiswa ini.

“Kami sangat mendukung kegiatan PKL yang berorientasi pada riset. Hasil penelitian mereka tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga berpotensi memberikan solusi praktis bagi petani,” ujarnya.

Baca juga:

Sinergi Kementan dan Perhiptani Singkawang Tingkatkan Profesionalitas Penyuluh

Dua mahasiswa UPI yang melaksanakan PKL di BBPP Lbang adalah Risma Khoerunisa yang meneliti Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Giberelin (GA3) terhadap Aklimatisasi Tanaman Anggrek Dendrobium.

Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan proses adaptasi bibit anggrek yang baru dipindahkan dari botol ke lingkungan luar.

Temuannya menunjukkan bahwa aplikasi GA3 dapat mempercepat pertumbuhan akar dan daun, meningkatkan tingkat keberhasilan aklimatisasi, dan pada akhirnya membantu petani anggrek untuk mendapatkan bibit yang lebih kuat.

Mahasiswa lainnya adalah Sulastri Putri Imani yang fokus pada penelitian Respon Pertumbuhan Scion Kaktus yang Berbeda terhadap Grafting pada Rootstock yang Sama.

Penelitian ini mengeksplorasi teknik penyambungan (grafting) pada kaktus hias.

Sulastri berhasil mengamati bagaimana perbedaan jenis scion (batang atas) memengaruhi keberhasilan dan laju pertumbuhan setelah disambungkan ke rootstock (batang bawah) yang sama.

Hasilnya memberikan panduan praktis bagi pembudidaya kaktus untuk memilih kombinasi yang paling efektif.

Risma Khoerunisa mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kesempatan berharga ini.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak dari BBPP Lembang karena telah mengizinkan kami melakukan kegiatan PKL di sini. Selama kegiatan PKL di sini, kami banyak mendapatkan ilmu baru," ujarnya.

Senada dengan Risma, Sulastri Putri Imani menyoroti lingkungan dan bimbingan yang sangat mendukung.

"Kami juga bisa merasakan mendapatkan lingkungan yang nyaman, terus Widyaiswara-nya juga sangat baik, sangat membimbing kami dan kami juga bisa mendapatkan banyak ilmu baru. Dan juga untuk prasarananya juga sangat lengkap di Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang ini," tambah Sulastri.

Melalui penelitian-penelitian dan pengalaman langsung seperti ini, Kementan dan BBPP Lembang terus berupaya menciptakan SDM pertanian yang andal, inovatif, dan berorientasi pada teknologi, sejalan dengan visi mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern. (RIS/MIR)

Sinergi Kementan dan Perhiptani Singkawang Tingkatkan Profesionalitas Penyuluh

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang mendapatkan kunjungan dari Perhimpunan Penyuluh Pertanian DPD (Perhiptani) Kota Singkawang, Rabu (24/9/2025). Turut hadir Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Kota Singkawang.

Kunjungan atau Temu Teknis ini bertujuan untuk Peningkatan Profesionalitas Penyuluhan dalam Mendukung Program Swasembada Pangan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan sektor pertanian adalah kunci perubahan besar bagi bangsa. Untuk menggapai hal tersebut, peran petani muda sangat dibutuhkan sebagai motor penggerak.

"Yang bisa mengubah Republik ini adalah sektor pertanian. Ada keunggulan komparatif disana, dan Indonesia memiliki itu," ujar Mentan Amran beberapa waktu lalu.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, mengatakan selalu mendukung penuh upaya regenerasi petani.

“Dengan transformasi pertanian tradisional ke pertanian modern, kita bisa menekan biaya produksi hingga 50 % dan meningkatkan produksi hingga 100%,” jelasnya.

Sembilan anggota Perhiptani Singkawang yang hadir di BBPP Lembang adalah Dwi Yanti (Kepala Dinas DPKPP), Joko Supriyanto (KJF Penyuluh Pertanian), Ya Subhan Jaya, (Penyuluh Pertanian), Yuliana Olipa, (Penyuluh Pertanian), Nur Fitriani, (Analis Lahan Pertanian), Sumiati, (Penyuluh Pertanian), Rusmiati, (Penyuluh Pertanian), Suzana, (Pengawas Mutu Hasil Pertanian), dan Masfiana Ayu Rosada Zulfian, (Analis Pasar Hasil Pertanian).

Baca juga:

Kolaborasi Kementan dan Dinas Provinsi Jabar, Tingkatkan Kemampuan Pengawas Benih Tanaman

Mereka memulai dengan eksplorasi Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian untuk mempelajari teknik-teknik yang dapat meningkatkan nilai jual dan memperpanjang masa simpan produk.

Setelah itu, rombongan bergerak ke Lahan Inkubator Agribisnis untuk memahami model bisnis dan praktik kewirausahaan pertanian yang berkelanjutan.

Kunjungan diakhiri dengan melihat fasilitas rumah pengepakan (packing house) dan budidaya tanaman hias, di mana mereka mendalami pentingnya standarisasi, sortasi, dan pengemasan yang profesional untuk memenuhi tuntutan pasar.

Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menyambut baik antusiasme dari Perhiptani Singkawang.

"Kunjungan ini adalah bukti nyata sinergi antara UPT Kementan dan Perhiptani dalam upaya mencetak penyuluh yang adaptif. Kami membuka diri sebagai pusat pembelajaran untuk mendukung keberhasilan program utama Kementan," ujar Ajat.

Melalui pendalaman di berbagai fasilitas ini, Perhiptani Singkawang diharapkan dapat membawa pulang pengetahuan mendalam mengenai pengolahan pasca panen dan manajemen kualitas produk.

Langkah strategis ini adalah kunci untuk mendorong peningkatan nilai tambah produk pertanian di Singkawang, sekaligus memastikan produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar yang semakin ketat. (RIS/MIR)

Kolaborasi Kementan dan Dinas Provinsi Jabar, Tingkatkan Kemampuan Pengawas Benih Tanaman

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme petugas Pengawas Benih Tanaman (PBT) di Jawa Barat, Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang melakukan kolaborasi dengan Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jawa Barat.

Kolaborasi diwujudkan dalam serangkaian pelatihan untuk membekali para PBT dengan pengetahuan dan keterampilan terkini dalam aspek pengawasan mutu benih. Pelatihan dilaksanakan 23 hingga 25 September 2025 dan diikuti 25 orang.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan selalu menekankan pentingnya benih berkualitas sebagai fondasi utama pertanian yang maju dan berkelanjutan.

"Kualitas benih adalah penentu utama keberhasilan panen. Tanpa benih yang unggul, mustahil kita mencapai swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya memiliki sumber daya manusia pertanian yang mumpuni.

Dalam berbagai kesempatan Santi menekankan bahwa sumber daya manusia pertanian yang komepten akan mendukung kemajuan pertanian Indonesia.

Sementara Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, menekankan pentingnya komoditas perkebunan dalam pertanian yang berkelanjutan.

“Sektor perkebunan merupakan penyumbang devisa yang penting bagi negara kita, sehingga memastikan benih berkualitas adalah tugas yang sangat penting,” tegasnya.

Baca juga:

Libatkan Aparatur Desa Megamendung, UPT Pelatihan Kementan Wujudkan Pertanian Modern

Pelatihan dilakukan untuk memastikan setiap PBT memiliki pemahaman mendalam tentang regulasi seputar perbenihan di Indonesia dan luar negeri, penyimpanan benih, pengambilan sampel benih, pencandraan varietas benih spesifiknya tanaman kopi, pengenalan serta pengendalian OPT, karantina benih tanaman perkebunan, dan cara mendaftarkan varietas serta pelepasan varietas tanaman perkebunan.

Pelatihan juga memberikan kesempatan bagi para peserta untuk melakukan praktik lapang. Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Tona’s Coffee menjadi fasilitator.

Kurnia, selaku ketua P4S Tona’s Coffee, memberikan materi mengenai pembibitan kopi dari sudut pandang praktik di level UMKM dan industri kopi kecil.

Pelatihan ini juga menjadi forum penting untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan PBT, serta memperbarui informasi terkini seputar regulasi dan inovasi di bidang perbenihan.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Gandjar Yudniarsa, berharap pelatihan dapat meningkatkan keterampilan PBT dalam identifikasi benih, sertifikasi benih, dan memperkuat integritas serta tanggung jawab dalam menjalankan tugasnya.

Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Perkebunan Provinsi Jawa Barat, R. Krisna Risna Gunara, menyatakan bahwa dari BBPP Lembang telah didapat pembelajaran yang efektif dan menjadi tempat diskusi serta bertukar pengalaman bagi peserta pelatihan.

Peserta pelatihan, Beny Badruzaman, mengaku senang mendapatkan pelatihan. “Semoga hasil pelatihan ini mampu membekali tugas kami di lapangan ke depannya,” katanya.

Hal senada disampaikan peserta lainnya, Rima Anggita Putri dan Lestari Indah Prasanti, yang mengatakan pelatihan berjalan dengan cukup baik. “Sangat edukatif bagi kami,” tegasnya.(***)

Progres Perbaikan Saluran Irigasi di Sleman Capai 75 Persen

TANIINDONESIA.COM//SLEMAN - Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman mendapat anggaran kurang lebih Rp 21 miliar dari APBD tahun 2024/2025 untuk kegiatan rehabilitasi dan peningkatan saluran irigasi.

Kegiatan tersebut menyasar 46 lokasi saluran irigasi yang tersebar di 16 kapanewon. Adapun usulannya diajukan oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

"Pekerjaannya ada di semua kapanewon kecuali Depok karena areal lahan persawahan di sana sudah banyak yang beralih fungsi. Luas oncoran untuk lahan persawahan sudah berkurang, jadi rehabilitasi hanya diperuntukan pada lokasi lokasi yang memiliki oncoran lahan pertanian yang luas," terang Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPKP Sleman Arif Hariyanto saat dikonfirmasi, Kamis (25/9/2025).

Lebih lanjut dia menjelaskan, kriteria saluran irigasi yang menjadi skala prioritas untuk direhabilitasi adalah yang mengalami kerusakan fisik signifikan, seperti tanggul tidak berfungsi atau rusak, potensi runtuh, banyak kebocoran, atau tidak dapat mengalirkan debit air yang dibutuhkan dengan optimal, serta tidak dapat mengairi lahan pertanian dengan baik. Penentuan skala prioritas rehabilitasi didasarkan pada kondisi jaringan irigasi hasil dari survey Bidang SDA bersama UPTD.

"Penentuan lokasinya berdasarkan usulan dari para petani dan hasil survey," imbuh Arif.

Sampai dengan saat ini telah dilaksanakan Provisional Hand Over (PHO) untuk pekerjaan rehabilitasi dan peningkatan saluran irigasi sejumlah 34 lokasi. Diharapkan, seluruh pekerjaan itu rampung di bulan Oktober sesuai kontrak. Sampai saat ini, progres kontruksi proyek tersebut sudah mencapai 75 persen.

"Pesan kami, setelah proyek selesai diserahterimakan nanti agar dirawat dengan baik," kata Arif.

Selama ini, kerusakan yang terjadi pada saluran irigasi paling banyak dikarenakan usia bangunan yang sudah tua dan faktor alam. Disamping itu juga dipengaruhi faktor manusia seperti pemeliharaan kurang dan adanya penyadapan liar.(***)

Libatkan Aparatur Desa Megamendung, UPT Pelatihan Kementan Wujudkan Pertanian Modern

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG – Sebanyak 30 aparatur Desa Megamendung, Kabupaten Bogor, berkunjung ke Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang, UPT di Kementerian Pertanian, Jumat (19/9/2025).

Kunjungan ini fokus pada keterampilan kewirausahaan pertanian yang inovatif, membekali perangkat desa dengan solusi praktis untuk penguatan ketahanan pangan dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menyampaikan jika transformasi digital di sektor pertanian harus dipercepat.

“Kita butuh petani cerdas, teknologi cerdas, dan sistem pertanian yang terintegrasi secara digital agar Indonesia mampu bersaing secara global,” tuturnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, memperkuat hal itu dengan menyampaikan jika pelatihan berbasis teknologi harus menjadi prioritas dalam mencetak SDM pertanian masa depan.

“Kami terus mendorong UPT pelatihan di bawah BPPSDMP untuk menyelenggarakan pelatihan berbasis teknologi dan kebutuhan masa depan, termasuk penerapan IoT dalam pertanian. Petani milenial harus menjadi pionir,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika. Menurutnya, pertanian harus dimulai dari desa, karena di sanalah lahan terluas berada.

"Kami mendorong agar pertanian menjadi lokomotif ekonomi yang menggerakkan sektor lain di desa. Dengan memberdayakan pemuda dan menciptakan sistem ekonomi pertanian yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, desa dapat mengelola keuntungannya secara mandiri (close loop) dan bahkan mencapai potensi ekspor," ujarnya.

Ajat menambahkan, BBPP Lembang siap menjadi rumah bersama untuk berdiskusi dan memfasilitasi peningkatan kapasitas aparatur desa demi mewujudkan hal ini.

Baca juga:

Perkuat Ketahanan Pangan di Jawa Barat, Kementan Latih Kelompok Wanita Tani Olahan Pangan Lokal

Sementara aparatur Desa Megamendung yang berkunjung ke BBPP Lembang, terlibat langsung membuat instalasi hidroponik sistem DFT, sebuah solusi cerdas untuk budidaya sayuran di lahan terbatas.

Selain itu, mereka juga mengunjungi screen house tanaman hias BBPP Lembang untuk mendapatkan ide penataan desa yang asri sekaligus mengidentifikasi potensi agrowisata baru.

Bagian paling menarik adalah praktik membuat es krim jagung. Di laboratorium pengolahan hasil pertanian, aparatur desa belajar mengubah dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal menjadi produk olahan bernilai jual tinggi.

Ahdan Akbar Pangestu, Sekretaris Desa Megamendung, mengaku menjadi lebih banyak tahu tentang pertanian dari mulai teknik pertanian hidroponik, tentang pengolahan hasil pertanian, dan tanaman hias.

"Mudah-mudahan sistem seperti ini kita bisa terapkan di desa kita, yaitu Desa Megamendung, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor,” katanya.

“Terima kasih untuk Balai Besar Pelatihan Pertanian Lembang atas waktunya, atas kerja samanya. Mudah-mudahan ilmu yang kita dapat bermanfaat bagi kita semua,” imbuh Ahdan.

Setelah kembali, aparatur Desa Megamendung berencana segera membentuk tim khusus untuk merintis projek hidroponik, unit usaha eskrim jagung, menjadikan Megamendung sebagai contoh desa yang maju, inovatif, dan berdaya saing. (RIS/MIR)

Asal Syarat Lengkap, Mengurus PBG di Sleman Kurang dari 20 Hari

TANIINDONESIA.COM//SLEMAN - Bupati Sleman Harda Kiswaya menunjukkan komitmennya dalam hal efisiensi proses perizinan. Salah satunya terkait pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Harda menjamin PBG akan terbit dalam jangka waktu kurang dari 20 hari asalkan semua persyaratan lengkap. "Kami sudah melakukan penghitungan. Sekarang ini, (pengurusan-red) PBG Insya Allah kurang dari 20 hari kalau semua syaratnya lengkap dan clear, diterima dan tidak ada biaya tinggi," kata Bupati, Selasa (23/9/2025).

Terpisah, Kepala Bidang Pendataan, Pembinaan, dan Pengawasan Bangunan Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman Doni Purbo Kuncahyo menjelaskan, ketentuan proses penerbitan PBG telah disebutkan di laman aplikasi Sistem Informasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG).

Adapun prosesnya diawali dari pendaftaran oleh pemohon yang kemudian masuk ke sistem. Setelah permohonan diterima oleh petugas akan diproses dalam jangka waktu 3-27 hari kerja dengan catatan berkas lengkap dan benar. Pemrosesan ini berupa konsultasi teknis yang didalamnya mencakup verifikasi, tinjau lokasi, dan penghitungan volume.

"Namun kondisi riilnya, berkas yang lengkap dan benar hanya bisa dihitung jari," ungkap Doni.

Sejak aturan mengenai PBG dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) diterbitkan pada tahuj 2021, setidaknya 6.000 dokumen izin tersebut telah diterbitkan oleh DPUPKP Sleman. Dalam prosesnya juga melibatkan jawatan DPMPTSP.

Sesuai mekanisme di dalam SIMBG, DPUPKP mempunyai akun sebagai pengolah teknis. Produknya berupa rekomendasi teknis yang di dalamnya termasuk surat ketentuan retribusi daerah (SKRD) kepada DPMPTSP. Pihak DPMPTSP sendiri juga punya akun untuk menerbitkan SKRD dan menagih ke pemohon. Setelah kewajiban pembayaran dipenuhi, SK PBG akan dikeluarkan oleh pemerintah.

"Kita punya SOP jangka waktu penyelesaian pengurusan PBG apabila berkas sudah lengkap. Bahkan kita diminta merevisi aturan oleh Bupati yang menghendaki ada ketentuan bangunan sederhana dan tidak sederhana," terang Doni.

Pihaknya akan terus berupaya memaksimalkan kinerja tim. Dicontohkan pada tahap verifikasi, dalam sehari bisa diselesaikan 25 - 30 berkas permohonan. Sementara untuk tahapan peninjauan lokasi, bidangnya membentuk tiga tim yang dalam satu hari dapat meninjau paling banyak 15 titik.

Terakhir yakni tahapan menghitung volume yang dilakukan setelah peninjauan lokasi dan pemohon memenuhi segala kekurangan persyaratan. "Kita sudah antisipasi dengan membentuk tim walaupun sebenarnya jumlah personelnya kurang. Kemampuan tim dalam menghitung volume ini dalam sehari bisa lebih dari 30 berkas," ujar Doni.

Tiap tahunnya, Pemkab Sleman rata-rata menerbitkan PBG sebanyak 1.500 sampai 1.600-an. Dia optimistis tahun ini jumlahnya bisa lebih dari angka itu. Per hari ini, sudah 1.200 dokumen PBG yang dikeluarkan.

"Kami targetkan dalam dua minggu ke depan, peninjauan 130 lokasi harus sudah selesai. Saya optimis bisa terpenuhi," tutup Doni.(***)

Pemkab Sleman Dorong Pengembang Patuhi Aturan Penyerahan PSU

TANIINDONESIA.COM//SLEMAN - Sektor properti di wilayah Kabupaten Sleman tumbuh sangat pesat. Berdasar data sementara pada Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman terdapat setidaknya 354 perumahan di Bumi Sembada.

Namun di sisi lain, tren pertumbuhan itu belum diimbangi dengan kesadaran pengembang untuk menyerahkan Prasana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) kepada pemerintah kabupaten. Dari 354 perumahan itu, hingga saat ini baru separonya atau sekitar 158 perumahan yang PSU-nya telah diserahkan kepada Pemkab Sleman.

"Aturannya, satu tahun setelah PSU dibangun harus diserahkan ke Pemkab tetapi kenyataannya baru sebagian," ungkap Kepala Bidang Perumahan DPUPKP Sleman Suwarsono kepada Suara Merdeka, Senin (22/9/2025)

Ketentuan penyerahan PSU diatur dalam beberapa regulasi antara lain Permendagri Nomor 9 Tahun 2009, PP 12 Tahun 2021, dan Perbup Sleman 28.8 Thun 2022. Jika pengembang melanggar bisa diberi sanksi berupa surat peringatan hingga penghapusan insentif.

"Kita terus mendorong semua pengembang untuk menjalankan kewajiban menyerahkan PSU. Tidak harus menunggu semua kavling laku terjual," terangnya.

Menurut Suwarsono, penyerahan PSU juga bisa dilakukan oleh penghuni perumahan. Sebab fakta di lapangan terkadang dijumpai persoalan pengembang yang sudah tidak beroperasi atau keberadaannya tidak lagi diketahui.

Dengan dilakukan penyerahan, maka PSU tersebut akan menjadi aset Pemkab. Pemerintah sendiri tengah menyiapkan regulasi terkait pengelolaan PSU atau lebih dikenal di kalangan awam dengan istilah fasum fasos.

"Di setiap perumahan harus tersedia PSU . Walaupun jumlah kavlingnya kurang dari lima, tetap harus ada fasilitas seperti jalan dan drainase," kata Suwarsono.

Penyediaan PSU ini bahkan menjadi salah satu persyaratan ketika mengembang mengajukan izin membangun perumahan. Setelah selesai, Pemkab akan melakukan pengecekan untuk memastikan fasilitas umum tersebut tidak menyalahi aturan. Semisal ketentuan mengenai lebar jalan minimal 4 meter.(***)