15 April 2026

Hari: 25 November 2025

Kembangkan Biofarmaka Unggulan, Politeknik Kementan Jalin Kemitraan dengan BPP Patuk

TANIINDONESIA.COM, GUNUNG KIDUL - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) mengembangan biofarmaka di wilayah kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Wilayah ini dipilih Polbangtan Yoma sebagai Laboratorium Lapangan bagi mahasiswanya. Tujuannya agar mahasiswa bisa meningkatkan keterampilan melalui praktik langsung di lapangan.

Hal ini sesuai dengan arahan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman yang menyebut peran generasi muda sebagai penentu masa depan pertanian.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Semua yang kita lakukan ini ujungnya untuk petani dan rakyat,” ujarnya.

Mentan Amran pun mengajak mahasiswa melanjutkan perjuangan melalui riset, inovasi, dan aksi nyata.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti mengatakan output dan tujuan pendidikan vokasi Kementan adalah menciptakan sumber daya manusia pertanian yang unggul.

“Pertanian ke depan harus maju, mandiri dan modern. Kuncinya pada kemampuan SDM pertanian. Pertanian bukan hanya tentang makan. Pertanian itu lapangan kerja. Pertanian itu bisnis besar,” jelas Idha.

Hadir di lokasi, Sabtu (22/11/2025), Direktur Polbangtan Yoma, R. Hermawan, yang menyampaikan bahwa BPP Patuk ini merupakan BPP yang ditunjuk Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunung Kidul untuk dijadikan BPP Model.

"Semua program studi yang ada di Polbangtan Yoma diarahkan untuk berkegiatan di BPP Patuk. Salah satu contohnya adalah pengembangan biofarmaka” ucapnya.

Baca juga:

Dukung Swasembada Pangan, Polbangtan Kementan Tampilkan Karya di Public Expose

Hermawan mengatakan pengembangan komoditas biofarmaka sudah berjalan di Desa Semoyo. Ia menyebut mahasiswa Polbangtan Yoma terlibat secara aktif dalam upaya itu.

Menurutnya, pembentukan BPP Model dan Pengembangan Laboratorium Lapangan di BPP Patuk, merupakan salah satu bentuk implementasi perjanjian kerjasama antara Polbangtan Yoma dengan Bupati Gunungkidul.

Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Wagino menyambut gembira dan memberikan dukungan penuh untuk mengembangkan BPP Patuk sebagai BPP Model apalagi dengan menghadirkan Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan) langsung di lapangan.

Hadir mewakili Kepala Pusluhtan, Septalina Pradini menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai upaya telah dilakukan oleh BPP Patuk bersama bersama Polbangtan Yoma untuk membentuk BPP Patuk sebagai BPP Model. Ia menyebut perlunya keterlibatan seluruh pihak. "BPP model tidak bisa berjalan sendiri – sendiri. Perlu kolaborasi yang baik antara dinas pertanian, Polbangtan Yoma, Pusluhtan, TNI, maupun Kepolisian." ucapnya.

Septalina mengapreasiasi upaya Koordinator BPP Patuk, Mei Rini yang telah menginisiasi pembuatan website sendiri dan sudah berjalan dengan baik.

Septalina berharap, ke depan website BPP Patuk ini bisa dihubungkan dengan Kementan, Pusluhtan, Pusdiktan, dan Polbangtan Yoma. Sehingga, lanjutnya, bisa menjadi pusat penyebaran informasi pertanian(*)

BRI KC Pasar Minggu Salurkan KUR Mikro, Usaha Anggrek Berkembang Pesat

TANIINDONESIA.COM, JAKARTA - Salah satu pengusaha anggrek bulan yang ada di kompleks dekat Ragunan, Rangga Ferdiansyah memiliki toko yang terletak di kavling paling depan area taman. Tokonya sering menjadi pemberhentian pertama para pemburu anggrek yang baru datang ke Taman Anggrek Ragunan.

Ketika memulai usaha ini pada pertengahan pandemi di 2021, Rangga mengaku cukup hoki karena bisa menyewa petak terdepan di taman tersebut. Dia pun harus merogoh kocek Rp 35 juta untuk bisa memulai toko anggrek bulannya. Selain untuk sewa lahan setahun, biaya itu sudah mencakup pemasangan atap, rak, hingga instalasi listrik dan sirkulasi udara.
Ide usaha anggreknya ini berangkat dari pengalaman kerjanya di kebun anggrek.

Sebelumnya, Rangga ikut orang sejak 2015. Bosnya adalah seorang distributor anggrek yang melayani pedagang-pedagang di beberapa lokasi, terutama Dharmawangsa dan Rawa Belong.

"Dulu pekerjaannya di bidang anggrek juga. Berjalannya waktu, saya bisa nyetir dan disuruh bantu ambil anggrek ke kebun. Jadi tahu kebun A, kebun B, kebun C," terang Rangga.

Kemudian pada Agustus 2020, dia mulai terpikir untuk membuka usaha sendiri. Bahkan kemudian bosnya di tempat anggrek lama yang menawarkan supaya Rangga membuka toko sendiri dan menjalin kerja sama dengannya.

"Kebetulan ada tabungan dan kebetulan mengerti anggrek, terus lihat di sini ada lahan yang disewain, langsung coba sewa. Sama bos lama dibolehin. Bahkan saya dapat pinjaman anggrek dari bos lama. Kalau untuk anggrek, memang di Ragunan ini yang besar," tutur Rangga.

Buka saat pandemi tidak membuat Rangga gentar. Sebab, usaha anggrek bulan justru sedang mekar. Banyak orang mencari anggrek untuk hobinya selama di rumah. Sejak berkecimpung di dunia anggrek, Rangga juga sudah mengeker potensi bisnis tumbuhan epifit ini.

"Alhamdulillah anggrek dari zaman pandemi pun stabil, padahal yang lain terhantam ekonominya," terangnya.

Awal-awal, Rangga masih mengandalkan tabungan sendiri dan omzet yang didapat untuk operasional bisnisnya. Meski merasa cukup, Rangga merasa jalannya masih lambat. Dia pun mulai melirik-lirik pinjaman bank.

"Dulu belum pernah nyoba pinjaman bank, pure saya punya duit, borong ini, borong itu. Kalau kayak gitu maju sih maju, cuma lambat. Karena ini semua (pedagang anggrek di Ragunan) sudah senior main anggrek. Kalau saya mau ngadepin raksasa, butuh duitnya lumayan," paparnya.

Semula Rangga sudah punya rekening pribadi di BRI. Dia juga banyak mendengar info sekilas soal pinjaman di BRI yang 'ramah UMKM'. Namun, Rangga belum mengajukan pinjaman sampai ada seorang pelanggan, yang ternyata orang BRI Cilandak, mendorongnya mengajukan pinjaman.

"Kalau di kalangan UMKM itu yang paling enak ngajuin pinjaman di BRI, karena bunganya sangat rendah. Orang sebulan cuma 0,3%. Marketingnya juga bagus, nyari-nyari juga. 'Lagi nyari pinjaman, Bang? Kenapa nggak coba BRI aja?'" ujar Rangga, mengutip secuil obrolannya dengan si pelanggan kala itu.

Dari situ, Rangga mengajukan pinjaman awal Rp100 juta pada Agustus 2024. Kebetulan saat itu Rangga sedang menyiapkan peningkatan target penjualan. Dari yang biasanya hanya berkisar 10-20 paket sehari, jadi minimal 40-50 paket. Satu paket minimal berisi 2 tangkai.

"Kita juga butuh pinjaman buat kunci barang di kebun. Dengan adanya pinjaman itu, kita bisa taruh duit dulu di kebun buat booking anggrek," jelas Rangga.

Dengan adanya pinjaman KUR Mikro, Rangga kini bisa lebih mudah mendapatkan anggrek bulan dalam jumlah banyak setiap bulannya. Bahkan dalam seminggu, dia bisa mengambil barang ke kebun hingga dua kali, masing-masing 500 tangkai.

Info tentang pinjaman KUR ini tak cuma disampaikan ke Rangga. Pedagang lain pun kecipratan. Salah satunya Brian Sinaga yang menempati kavling 45. Walau lokasinya cukup di belakang, bisnis anggrek Brian pun tak kalah banjir pesanan. Terutama pesan antar atau via online.

Brian memulai bisnisnya pada 2022. Sama seperti Rangga, Brian juga merasakan lambatnya perkembangan bisnis dengan modal sendiri.

Sebelumnya Brian bekerja di kebun anggrek di Ciater dan mengantar-antarkan pesanan ke pedagang-pedagang di Jakarta. Ketika memulai bisnis anggreknya sendiri, Brian diberi 'pinjaman' dari kenalan-kenalannya di kebun.

"Modal dari kebun-kebun, dikasih barang dulu, terus kebijakan bayar ditempo, bisa dua minggu atau sebulan," cerita Brian.

Cara itu membantunya memulai langkah pertama bisnis anggrek. Namun, karena ibaratnya berutang, biasanya Brian hanya mendapat barang anggrek ala kadarnya. Dia tidak bisa memilih warna atau minta jumlah tertentu.

"Setelah itu ada omzet dari kita jalan, baru kita belanja sendiri. Tapi kalau ngandalin omzet doang, lama putarannya sampai titik yang kita mau. Makanya kita butuh pinjaman buat ngejar putaran," katanya.

Informasi tentang pinjaman itu Brian dapatkan dari sharing sesama pedagang anggrek di Ragunan. Kebetulan saat itu mendekati high season Natal dan Tahun Baru. Pesanan anggrek biasanya sedang tinggi. Brian tak ingin ketinggalan kereta.

"Biasanya kita persiapan belanja barang, kita beli yang belum mekar. Kita harus colongstartbiar kebagian barang. Gimana ya dapat pinjaman yang bunganya masih bersahabat? Teman-teman nyaranin ke BRI," lanjut pria asal Medan tersebut.

Menurut Brian, proses pengajuan pinjaman KUR Mikro di BRI cukup cepat. Dia menghubungi marketing lapangan atau mantri BRI melalui WhatsApp, kemudian bertemu untuk diskusi terkait plafon dan tenor.

"Nggak sampai seminggu kita siapin persyaratannya. Kalau udah ada, dua hari langsung cair," katanya.

Pinjaman Brian baru berjalan sekitar 6 bulan. Namun, berkat pinjaman itu, Brian bahkan sudah bisa menyewa kebun sendiri di Ciater untuk menyokong bisnisnya, meski kapasitas kebunnya masih kecil. Dalam sebulan, dia bisa menjual sampai 5.000 tangkai anggrek

Sementara itu, Kepala BRI Unit Cilandak, Dadang Suhanda menambahkan, prosesnya bertemu dengan para pedagang anggrek di Ragunan. Salah satu marketingnya kenal secara pribadi dengan Rangga. Dari situlah komunikasi awal mereka terjalin pada 2023.

"Tadinya kita tidak langsung berbicara mengenai produk-produk kami, hanya ngumpul saja. Kami kebanyakan menyimak obrolan mereka apa sih, apa yang dikeluhkan selama ini. Nah, kebetulan juga pada saat itu ada orang dari RO (BRI Regional Office) Jakarta 2 sering belanja di sini, beli anggrek. (Pesannya) 'Tolong diedukasi, barangkali bisa'," jelas Dadang.

Setelah berhasil mendapatkan satu nasabah KUR, Dadang pun membidik pedagang-pedagang lain agar memanfaatkan KUR BRI juga.Dadang mengakui pendekatannya saat itu cukup sulit karena banyak pedagang yang belum pernah meminjam ke bank untuk usahanya.

"Coba lagi, tapi kalau bisa jangan didatangi per kavling. Coba kalau mereka lagi ngumpul, saya minta bantuan ke pedagang-pedagang, kita ngumpul di sini," lanjutnya.

Pada pertemuan itu, pihak BRI Unit Cilandak menjawab berbagai pertanyaan pedagang tentang persyaratan pinjaman KUR Mikro. Selama pedagang memiliki riwayat keuangan yang tertib, Dadang memastikan prosesnya tak bakal makan waktu lama.

"Kalau syarat lengkap, survei hari ini, siang pun insyaallah bisa (cair)," pungkasnya.(*)

BRI BO Tambun Salurkan TJSL Berupa 5.000 Paket Sembako

TANIINDONESIA.COM, BEKASI - Bank Rakyat Indonesia (BRI) Branch Office (BO) Tambun kembali menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat melalui Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL). Kali ini kegiatan sosial digelar dengan membagikan 5.000 paket sembako kepada warga Kabupaten Bekasi.

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (18/10/2025) ini melibatkan jajaran pekerja BRI BO Tambun, termasuk Pemimpin Cabang, Supervisor Penunjang Operasional (SPO), Petugas Penunjang Operasional (PPO), serta Tim Mikro BRI. Pembagian dilakukan di wilayah Kabupaten Bekasi dengan sasaran masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Pemimpin Cabang BRI BO Tambun, Levo Dharata Pratama menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial BRI terhadap kondisi ekonomi masyarakat di sekitar wilayah kerja mereka.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Bekasi dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka,” ungkapnya.

Melalui kegiatan Program TJSL ini, BRI BO Tambun berupaya memperkuat perannya sebagai lembaga keuangan yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.

BRI BO Tambun berkomitmen untuk terus melanjutkan program TJSL serupa kedepannya sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bekasi.

"BRI BO Tambun akan selalu memenuhi kebutuhan nasabah serta masyarakat sekitar yang membutuhkan," tutupnya.(*)