21 April 2026

Hari: 5 Agustus 2025

Tingkatkan Kompetensi Brigade Pangan, Polbangtan Kementan Berikan ToT bagi Penyuluh dan Babinsa Provinsi Bangka Belitung

TANIINDONESIA.COM//BANGKA - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong peran aktif Brigade Pangan (BP) dalam meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya komoditas padi. Untuk mendorong kemandirian BP, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta – Magelang (Polbangtan Yoma) membekali penyuluh pertanian dan Babinsa di Provinsi Bangka Belitung dengan Training of Trainer (ToT).

Selama 3 hari dari Rabu (30/7) hingga Jumat (1/8), sebanyak 28 penyuluh pertanian dan 12 Babinsa mendapatkan materi mengenai literasi keuangan dan manajemen alsintan.

Hal ini dinilai strategis, karena penyuluh pertanian dan Babinsa merupakan pendamping utama BP di lapangan. Setelah mengikuti ToT ini, mereka akan memberikan bimbingan teknis kepada manajer dan anggota BP di wilayahnya masing – masing.

Membangun kemandirian BP menjadi hal yang penting. Dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman mengatakan BP menjadi garda terdepan dalam mengelola dan mengoptimalkan lahan pertanian secara modern, profesional dan terampil. Agar usahanya berorientasi bisnis dan menghasilkan keuntungan.

"Program Brigade Pangan tidak hanya meningkatkan produksi pangan nasional tetapi juga menciptakan ekosistem agribisnis modern yang memberdayakan generasi muda," ujarnya.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengambangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti menegaskan pentingnya komitmen dan daya juang dalam mendampingi BP di lapangan.

“BP adalah program yang harus berkelanjutan. Kita harus memaksimalkan segala bantuan dan fasilitas yang diberikan pemerintah. Sebagai contoh untuk alsintan, rekan-rekan pendamping harus bisa mengarahkan BP agar dapat mengoperasikan dan merawat semua alat yang telah diberikan, supaya manfaatnya berkelanjutan,” tegas Idha.

Baca juga:

Cokelat Rosella, Inovasi Mahasiswa Polbangtan Kementan Tingkatkan Nilai Ekonomi Komoditas Pertanian

Idha juga menekankan bahwa keberadaan BP bukan hanya untuk memenuhi target jangka pendek, tetapi menjadi model transformasi pertanian di Indonesia.

“BP harus mandiri dan menjadi agen-agen perubahan di bidang pertanian. Ini adalah kesempatan emas bagi transformasi pertanian kita. Mereka bisa menjadi contoh nyata bagi petani konvensional untuk beralih ke sistem pertanian modern yang lebih terorganisir dan produktif,” tambahnya.

Hadir dalam pembukaan ToT, Direktur Polbangtan Yoma sekaligus Penanggung jawab BP Provinsi Babel, R. Hermawan menyampaikan pentingnya giat ini untuk mensinergikan langkah – langkah pendampingan di lapangan.

"Giat ini sebagai menjadi kesempatan baik untuk koordinasi dan konsolidasi antar pihak untuk pengembangan dan kemandirian 48 BP di 6 Kabupaten yang berada di wilayah Provinsi Bangka belitung," ujar Hermawan.

Dalam waktu dekat, lanjut Hermawan, pendamping BP akan melakukan bimtek dengan sistem kelas.

“Kelas I untuk BP yang mendapat alsintan dan semangat. Kelas II untuk BP yang mendapatkan alsintan namum belum semangat. Kelas III untuk BP yang belum mendapatkan alsintan dan belum semangat,” paparnya.

Ia menyebut ada berapa tantangan yang perlu dibahas. Antara lain MoU, permodalan, pembukaan rekening penyusutan dan lain sebagainya yang bersangkutan dengan BP.

Materi ini menurutnya strategis untuk menjawab tantangan nyata di lapangan.(***)

Cokelat Rosella, Inovasi Mahasiswa Polbangtan Kementan Tingkatkan Nilai Ekonomi Komoditas Pertanian

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Mahasiswa Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta - Magelang (Polbangtan Yoma) Kementerian Pertanian (Kementan) merilis Cokelat Rosella untuk meningkatkan nilai ekonomi pada komoditas pertanian.

Mereka adalah Nania Dwi Rahayu, Nashwa Aydin Shahira Fella, dan Nikita Rahmawati dari program studi Agribisnis Hortikultura Tingkat 2. Baru-baru ini mereka berhasil menyabet juara harapan II pada ajang Lomba Inovasi Nasional yang digelar oleh Polbangtan Gowa.

Ini sejalan dengan program Kementan untuk mendorong generasi muda berinovasi menciptakan diversifikasi produk pertanian.

Dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyebut kemajuan pertanian berada di tangan generasi muda, yang mau berinovasi dan turun langsung sebagai pelopor.

“Pertanian itu tentang teknologi, riset dan inovasi. Mahasiswa harus menjadi lokomotif perubahan. Kalau kita ingin berdaulat pangan, maka kampus dan anak muda harus turun langsung. Jadilah pelopor, bukan penonton,” tegas Amran.

Dukungan penuh untuk generasi muda yang memiliki potensi besar untuk memajukan sektor pertanian melalui inovasi dan kewirausahaan juga digaungkan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti.

Upaya ini dilakukan untuk mendukung tumbuhnya entrepreneur muda di sektor pertanian.

Baca juga:

Penguatan Petani Milenial Dukung Swasembada Pangan, Polbangtan Kementan Kerjasama Pelatihan Digital Marketing di Kulon Progo

Seperti halnya cokelat rosella. Melalui proses riset produk dari kemasan, inovasi ini mampu bersaing dan menarik publik.

Nikita, salah satu penemu mengatakan Cokelat Rosella jika dikembangkan dengan serius akan menghasilkan keuntungan.

“Dari hasil perhitungan diperoleh nilai rasio ERSE (margin laba kotor) sebesar 35,28%, yang menunjukkan bahwa 35,28% dari setiap pendapatan penjualan merupakan keuntungan kotor setelah dikurangi biaya pokok,” paparnya.

Selain mengenalkan produk olahan dari bunga rosella yang dikenal kaya akan antioksidan, mereka juga secara tidak langsung memberdayakan petani rosella. Pasalnya mereka menggunakan bahan baku dari petani.

”Dengan penghargaan ini kami merasa sangat bersemangat untuk terus berinovasi di bidang pertanian, apalagi jika inovasi yang dihasilkan memberikan dampak positif,” tambah Nikita.

Disampaikan dalam wawancara (31/7/2025), dosen Polbangtan Yoma, Novia Aristi mengaku bangga atas capaian mahasiswanya.

“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya dedikasi dan kerja keras para mahasiswa yang telah berani tampil, membawa ide, dan mempersembahkan hasil karya terbaiknya. Semoga inovasi ini bisa menjadi salah satu referensi petani untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas hortikultura,” tuturnya.(***)