2 Mei 2026

Hari: 27 Juli 2023

Tingkatkan Produksi Pertanian, Wamentan Minta Seluruh Stakeholder Saling Sinergi dan Kolaborasi

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Sinergi dan kolaborasi antar seluruh stakeholder pertanian dan peternakan di Indonesia dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian sangat penting. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi ketika membuka Indo Livestock 2023 Expo & Forum di Grand City Convex Surabaya, Rabu 26 Juli 2023.

“Kita harus bekerja sama dan optimis di situasi yang tidak menentu ini, baik dari segi iklim dan juga traffic perdagangan yang sempat terhenti karena pandemic Covid-19,” kata Harvick.

Menurut dia, struktur yang ada di Kementerian Pertanian, termasuk peran pemerintah daerah dan peran para pelaku usaha seharusnya dapat meningkatkan sektor pertanian agar bisa jadi sandaran pangan, sandaran hidup bagi masyarakat.

“Kita harus fokus ke peningkatan produksi untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat di Indonesia, jika melimpah, maka dapat diekspor dan untuk pemasarannya bisa kita cari caranya,” kata Harvick.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pencapaian nilai ekspor subsektor peternakan tahun 2022 mencapai Rp. 17,7 T mengalami peningkatan sebesar 13,5 persen dibandingkan tahun 2021.

Baca juga: Kementan Jadikan Sembalun Sentra Penyediaan Bawang Putih Nasional

Salah satu faktor yang tidak boleh diabaikan dalam proses pembangunan kata Harvick adalah perkembangan teknologi dan inovasi untuk mencapai produktivitas dan efisiensi produksi. Oleh karena itu, Ia menilai, untuk terus meningkatkan peluang akses pasar ekspor, maka perlu adanya dukungan dari seluruh stakeholder terkait, terutama dalam penerapan standar-standar internasional mulai dari hulu ke hilir untuk peningkatan nilai tambah dan daya saing.

“Saya menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah daerah yang telah berinisiatif membuat kegiatan pameran ini,” ujar Harvick. Melalui event ini, dia berharap pelaku usaha di Indonesia dan dunia internasional dapat saling berinteraksi dan terjadi transfer teknologi yang bermanfaat bagi pengembangan peternakan di Indonesia.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Iwan, mewakili Gubernur Jawa Timur mengatakan, Jawa Timur adalah pintu gerbang perdagangan ke Indonesia Timur. “Untuk itu saya sampaikan kepada para pelaku usaha bidang pertanian maupun peternakan, bahwa berinvestasi di Jawa Timur akan sangat menguntungkan karena potensi pasar sangat luas,” kata Iwan.

Iwan mengatakan, Jawa Timur masih menghadapi berbagai tantangan dalam perdagangan. Meskipun demikian, Ia tetap optimis karena pemerintah Jawa Timur telah melakukan berbagai langkah seperti penguatan produksi, optimalisasi kelancaran distribusi didukung penguatan data dan digital, optimalisasi hulu hilir peningkatan produktifitas, dan suplay manajemen aktifasi jalur perdagangan.

Indo Livestock merupakan perhelatan internasional industri peternakan, pertanian, pakan ternak, pengolahan susu, kesehatan hewan, alat-alat kedokteran hewan, perikanan dan akuakultur. Pameran ini diikuti oleh total 370 perusahaan/peserta pameran dari 42 negara termasuk di dalamnya ada 7 paviliun negara yaitu Australia, China, Eropa, Indonesia, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand.(***)

Kementan Jadikan Sembalun Sentra Penyediaan Bawang Putih Nasional

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus mengawal ketersediaan benih bawang putih.

Tahun ini, Direktorat Perbenihan Hortikultura kembali menginisiasi kerja sama swakelola dalam penyediaan benih hortikultura, khususnya penyediaan benih bawang putih.

Direktur Perbenihan Hortikultura Inti Pertiwi Nashwari menyampaikan program swakelola benih bawang putih tahun ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan.

Swakelola ini dilakukan guna pemenuhan kebutuhan benih pada program pengembangan kampung bawang putih di 2024 mendatang.

"Kegiatan kerja sama swakelola ini menjadi langkah antisipasi agar tidak terjadi lagi kegagalan pemenuhan target kampung bawang putih, seperti pada tahun 2022," kata Inti Pertiwi dalam acara panen raya bawang putih program swakelola musim 2023 di Sembalun, Lombok Timur, Selasa (25/7).

Baca juga: Komitmen Perbaiki Kualitas Lingkungan, Kementan Gelar Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan

Panen ini bersama perwakilan dari Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Wakil Bupati Lombok Timur Rumaksi, Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kepala Dinas Pertanian Kab Lombok Timur, Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih NTB, beserta jajaran Forkopimda di lahan milik Kelompok Tani Pusuk Pujata.

Inti menjelaskan hasil panen raya bawang putih ini dipergunakan sebagai calon benih Kampung Bawang Putih.

Pasalnya, kebutuhan benih bawang putih pada 2024 sebanyak 600 ton, sehingga diharapkan kebutuhan benih dapat dipenuhi sebagian dari hasil panen program swakelola ini.

"Saya merasa bangga dan yakin terhadap hasil swakelola penyediaan benih bawang putih di Sembalun akan berhasil, melihat pertanaman, hasil panen dan komitmen dari Kelompok Tani Pusuk Pujata untuk memenuhi target swakelola," ungkapnya.

Menurut Inti Pertiwi, hasil panen bawang putih di Sembalun umbinya cukup besar.

"Hampir sama dengan bawang putih impor," jelasnya.

Karena itu, Inti Pertiwi menegaskan pihaknya siap melakukan pendampingan dalam hal teknis dan dukungan permodalan untuk pengembangan bawang putih di Sembalun.

Swakelola penyediaan benih bawang putih ini dilaksanakan di daerah Sembalun, Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, yakni wilayah yang telah dikenal sebagai sentra produksi bawang putih sejak 1980-an.

Sampai 1990-an, Sembalun mengalami masa kejayaan sebagai produsen bawang putih lokal yang memasok kebutuhan hampir seluruh Indonesia.

Namun setelah masuknya bawang putih impor, kejayaan bawang putih impor, kejayaan bawang putih dari Sembalun perlahan mulai menurun.

Wakil Bupati Lombok Timur Rumaksi menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan bawang putih di Sembalun.

Menurut Wabup Rumaksi, ini mengingat kejayaan bawang putih Sembalun di masa lampau yang memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi petani di daerah tersebut.

“Kami sangat berharap pemerintah pusat semakin memberikan perhatian dan fasilitasi khususnya dalam pemenuhan kebutuhan pupuk agar produksi dan produktifitas bawang putih di Sembalun terjaga," harap Wabup Rumaksi.

Ketua Kelompok Tani Pusuk Pujata Egi Frisma menambahkan dirinya bersama anggota Kelompok taninya berkomitmen menyediakan benih bawang putih sebanyak 72 ton setara dengan luas pertanaman 18 hektare, dengan varietas Lumbu Putih dan Sangga Sembalun.

Dia menilai swakelola ini dapat memberikan dampak yang baik bagi petani.

Di samping itu, kebutuhan pupuk saprodi melalui swakelola ini dapat dipenuhi secara optimal sehingga hasilnya juga optimal.

"Program seperti ini sangat baik dalam pengembangan bawang putih. Melihat hasil panen bawang putih hari ini telah memberikan gambaran dan bukti bahwa bawang putih lokal dapat menghasilkan umbi bawang yang besar, hampir sama dengan umbi bawang putih impor," ujar Egi Frisma.

Terpisah, Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto mengatakan panen ini menjadi awal menentukan untuk proses penyediaan benih berikutnya.

Harapannya, hasil panen ini dapat memenuhi persyaratan standar benih yang dibutuhkan.

Baca juga: Kementan Apresiasi Penerapan Smart Farming oleh Petani Milenial Pasuruan

Dia menyarankan kelompok tani Pusuk Pujata perlu terus memperhatikan penanganan pascapanen dari hasil panen benih bawang putihnya.

"Berbagai hal yang dapat menimbulkan kerusakan benih dan penyusutan selama penyimpanan di gudang perlu dikendalikan," pesannya.

Dirjen Prihasto menjelaskan muara dari arahan yang disampaikannya tiada lain adalah agar benih bawang putih yang disediakan dari program swakelola ini benar-benar memenuhi standar tinggi sebagai benih bermutu.

Sebagai informasi, bersamaan dengan acara panen tersebut juga dilaksanakan ubinan untuk mengetahui taksiran produksi bawang putih dari program swakelola ini.

Ubinan dilaksanakan oleh penyuluh pertanian di Kecamatan Sembalun.

Sesuai hasil ubinan panen dihasilkan potensi produksi bawang putih sebesar 34,5 ton (berat panen basah).

Angka ini jauh melebihi jumlah panen yang biasa diperoleh oleh petani di sembalun yang rata-rata sebanyak 24 ton basah.(***)

Komitmen Perbaiki Kualitas Lingkungan, Kementan Gelar Pelatihan Pertanian Ramah Lingkungan

TANIINDONESIA.COM//Malang – Saat ini dunia menghadapi tantangan yang luar biasa dampaknya. Seluruh masyarakat dunia baru saja bisa dikatakan lolos dari Pandemi Covid-19.

Namun dampak utamanya terkait kecukupan pangan masih harus diatasi. Dalam satu dekade terakhir ini, masalah perubahan iklim, pemanasan global dan penurunan kualitas lingkungan hidup juga menjadi isu yang sering diperbincangkan.

Penurunan kualitas lingkungan ini berpotensi mengganggu keberlangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia.

Hal ini seperti dikatakan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) saat membuka pelatihan sejuta petani dan penyuluh volume 7 dengan tema pertanian ramah lingkungan secara virtual.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian berkelanjutan yang bertujuan untuk meningkatkan dan mempertahankan produktivitas tinggi dengan memperhatikan pasokan hara dari penggunaan bahan organik, minimalisasi ketergantungan pada pupuk anorganik, perbaikan biota tanah, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) berdasarkan kondisi ekologi, dan diversifikasi tanaman,”kata Mentan.

Baca juga: Kementan Apresiasi Penerapan Smart Farming oleh Petani Milenial Pasuruan

Pemahaman tentang pertanian ramah lingkungan akan diharapkan dapat menumbuhkan “sense of crisis” yang memotivasi untuk merapatkan barisan menghadapi tantangan pertanian saat ini.

“Smart farming dan pengembangan Smart Green House (SGH) berbasis pemanfaatan Internet of Thing (IoT) adalah salah satu solusi yang berperan penting dalam membangun pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Hal ini seperti yang tengah dikembangkan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian bekerjasama dengan Pemerintah Korea Selatan,”lanjut SYL.

Menteri Pertanian, SYL, sangat mengapresiasi upaya kerjasama dari Pemerintah Korea dan BPPSDMP, yang memberikan hibah pengembangan smart farming dalam proyek “Enhanching Millenials Farmers Income by Adopting K-Smart Farm in Indonesia”.

Melalui Program tersebut pertanian tidak lagi dilakukan di lahan dengan skala kecil dan sulit dikontrol. Oleh karena itu, agenda intelektual Saudara harus meningkat dalam mengadopsi dan meniru teknologi modern tersebut sehingga akan berdampak pada meningkatnya minat petani millenial di dunia pertanian yang bermuara pada peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani,”tegas Mentan.

Sementara itu, dalam sambutan Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, mengatakan, Kelestarian sumberdaya lahan pertanian dan mutu lingkungan serta keberlanjutan sistem produksi merupakan hal yang kritikal bagi usaha pertanian di negara tropis, termasuk Indonesia.

“Pertanian ramah lingkungan merupakan sistem pertanian yang mengelola seluruh sumber daya pertanian dan input usaha tani secara bijak, berbasis inovasi teknologi untuk mencapai produktivitas berkelanjutan dan secara ekonomi menguntungkan dan berisiko rendah,”kata Dedi.

Pembangunan pertanian diarahkan   pada pencapaian ketahanan pangan sekaligus juga memperhatikan keamanan pangan. Konsep pertanian ramah  lingkungan  tersebut bermuara pada kualitas  tanah yang mempengaruhi: produktivitas tanah   untuk meningkatkan produktivitas   tanaman dan aspek hayati lainnya; memperbaiki kualitas lingkungan dalam menetralisasi kontaminan-kontaminan  dalam  tanah  dan produk pertanian dan kesehatan manusia yang  mengkonsumsi produk pertanian.

Baca juga: Kenaikan Harga Diprediksi Melambung Tinggi Akibat El Nino, Mentan Minta Pemda Perluas Lahan Komoditas Kedelai

Dedi menjelaskan, petani seringkali menggunakan pestisida maupun  pupuk kimiawi yang ugal-ugalan, sehingga berakibat buruk pada pertanian dan lingkungan. Pestisida bukan hanya mematikan hama serta penyakit tanaman, tetapi juga sekaligus mematikan mikroorganisme yang bermanfaat bagi kesuburan tanah. Dan akibat penggunaan yang diambang batas bisa menghancurkan lingkungan.

"Pengelolaan pertanian secara berlebihan dan ugal ugalan menyebabkan tanah kita hancur, udara hancur, air hancur dan lingkungan kita hancur, " tegas Dedi.

Pelatihan ini dilaksanakan secara serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di seluruh Indonesia ataupun lokasi titik kumpul lainnya selama 3 hari sejak tanggal 26 – 28 Juli 2023 secara online dan diikuti oleh 1.837.371 orang dari target 1.800.000 peserta dengan persentase mencapai 102,08% yang terdiri dari petani, penyuluh, dan insan pertanian lainnya.

Narasumber Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh berasal dari BPPSDMP, BSIP; Yayasan Inisiatif Indonesia Biru Lestari (WAIBI) didukung praktisi berkompeten dibidangnya.(***)