17 Mei 2026

KEMENTERIAN PERTANIAN

Pelatihan Petani ke 13 juta, Mentan SYL Minta Semua Bersiap Hadapi El Nino

TANIINDONESIA.COM//BANDUNG - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) membuka pelatihan petani dan PPL di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP Lembang). Sampai hari ini, sudah 13 juta penyuluh dan petani mengikuti pelatihan sebagai upaya pemerintah dalam memastikan ketersedian pangan utamanya menghadapi cuaca ekstrem el nino yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus 2023 mendatang.

Diketahui, pelatihan ini merupakan pelatihan yang sudah dilakukan sejak empat tahun lalu melalui program sejuta petani milenial BPPSDMP Kementan. Dalam arahannya, SYL meminta pelatihan tersebut dapat dilakukan serentak di seluruh Indonesia serta membentuk gugus tugas el nino dan melakukan mitigasi adaptasi.

"Pelatihan-pelatihan petani dan PPL ini harus terorganisir dengan baik sehingga seluruh insan pertanian memiliki kemampuan mengantisipasi berbagai tantangan yang muncul akibat el nino," ujar SYL, Selasa, 23 Mei 2023.

Kementan Siapkan Langkah Mitigasi dan Adaptasi El Nino di Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Volume 6

SYL mengatakan, pelatihan adalah langkah yang tepat dalam memberikan pemahaman el nino secara konkrit dan menyeluruh. Dengan begitu, petani dan penyuluh dapat menumbuhkan kepekaan serta sense of crisis dalam menghadapi semua persoalan.

"Saya juga minta agar jajaran SDM (BPPSDMP) mampu memanfaatkan jaringan Kostratani di berbagai level untuk mengaktualisasikan penerapan hasil pelatihan ini," katanya.

Sebagai informasi, cuaca ekstrem yang melanda dunia saat ini terbagi menjadi dua bagian. Pertama adalah el nino atau fase hangat dan kedua el nina atau fase dingin. Saat ini, sekitar 10 persen dari wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau yang berlangsung di sejumlah sentra pertanian.

"Fenomena el nino merupakan ancaman serius terhadap produksi pangan, baik di subsektor tanaman pangan, peternakan dan perkebunan. Oleh karena itu, sekali lagi diperlukan langkah antisipasi dan adaptasi dengan pelatihan petani dan penyuluh," katanya.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa pelatihan ini secara khusus mengundang para mentor yang konsen di bidang perubahan cuaca seperti BMKG dan juga lembaga lainya. Dia berharap, pelatihan ini dapat membawa dampak baik terhadap kemajuan sektor pertanian Indonesia melalui pelatihan mitigasi dan adaptasi.

"Yang pertama saya menyampaikan terimakasih karena saat ini sudah mencapai 13 juta peserta. Kedua pelatihan kali ini dibuat khusus untuk menghadapi el nino. Kami undang juga BMKG dalam memastikan prediksi dan kondisi yang ada saat ini," jelasnya.

Kementan Siapkan Langkah Mitigasi dan Adaptasi El Nino di Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh Volume 6

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menggelar pelatihan sejuta penyuluh dan petani sebagai langkah mitigasi ancaman El Nino yang akan terjadi di Indonesia.

Pelatihan itu akan diselenggarakan di BPPP Lembang pada tangga 23-25 Mei 2013. Pelatihan ini penting agar sektor pertanian tak terpengaruh meski El Nino mulai melanda Indonesia akhir Mei ini hingga puncaknya pada September-Agustus mendatang. Demikian yang disampaikan dalam konferensi pers yang dilakukan secara daring, Jumat (19/5/2023).

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengaku telah menginstruksikan kepada jajarannya untuk mempersiapkan mitigasi menghadapi musim kemarau ekstrem atau El Nino yang diperkirakan akan mencapai puncaknya Agustus mendatang.

"Saya meminta kepada jajaran untuk menyiapkan langkah mitigasinya. Dan saya kira, langkah-langkah tersebut telah disiapkan dengan baik. Kita berharap dampak yang ditimbulkannya tidak akan mengganggu ketahanan pangan nasional," kata Mentan Syahrul.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menjelaskan, masa musim kemarau ekstrem mulai melanda Indonesia pada akhir Mei hingga awal Juni. Hanya saja, skalanya masih rendah.

"Fenomena ini akan semakin menguat, hingga puncaknya terjadi pada Agustus-September. Oleh karenanya, seluruh stakeholder pertanian harus mengerti dan paham apa itu El Nino," terang Dedi.

Melalui pelatihan sejuta petani dan penyuluh ini Dedi berharap langkah mitigasi dan adaptasi yang telah disiapkan Kementan dapat diimplementasikan dengan baik di lapangan. Sebab, air merupakan faktor produksi penting dalam pertanian.

"40 persen faktor peningkatan produktivitas pertanian itu berasal dari pengairan atau irigasi. Maka keberadaannya sangat vital. Oleh karenanya El Nino ini harus diantisipasi dengan baik, karena sebagian besar sistem pengairan pertanian kita mengandalkan curah hujan," terang Dedi.

Jika air hujan berkurang, maka pertanian akan mengalami penurunan yang signifikan. Secara otomatis, produktivitas pertanian akan terancam.

Launching PT. Petani Milenial Sleman, Kementan Jadikan Bisnis Pertanian Ladang Cuan

Itu sebabnya, Dedi berharap melalui pelatihan ini petani, penyuluh dan insan pertanian paham dalam mengantisipasi serta melakukan tindakan mitigasi dan adaptasi terhadap El Nino, sehingga kita dapat meminimalisir dampaknya.

"Kalau kita paham mengantisipasinya, maka penurunan produktivitas tidak akan terjadi. Tapi kalau kita tidak paham, maka produktivitas pertanian kita akan turun signifikan," tutur Dedi.

Dikatakannya, El Nino membuat curah hujan berkurang signifikan. Maka salah satu upayanya adalah mencari sumber pengairan alternatif, di antaranya adalah pemanfaatan ground water atau air tanah dan air permukaan seperti danau, kolam, sungai dan lain sebagainya.

"Yang harus diingat juga, pemanfaatan air itu harus efisien dan hemat. Sawah itu tak harus tergenang terus. Berarti penggunaan air di lahan pertanian kita harus efisien. Kadang digenangi, kadang dikeringkan. Oksidatif dan reduktif harus seimbang," terang Dedi.

Di sisi lain, tanah yang berada di dekat akar harus relatif dalam kondisi lembab. Tujuannya agar pertanaman kita tetap segar. Oleh karenanya, harus dilakukan konservasi di wilayah tersebut.

"Bagaimana cara konservasinya? Bisa dengan menambahkan arang. 1 ton per hektare dia bisa memegang air 6 kubik. Di saat musim hujan dia dapat memegang air. Di saat musim kemarau air dilepaskan sedikit demi sedikit," tutur Dedi.

Selanjutnya, untuk wilayah kering Dedi menyarankan agar menggunakan irigasi tetes. Sedangkan untuk sayur-mayur menggunakan irigasi springkle. Sedangkan untuk bibit, Dedi mengajak petani untuk menggunakan varietas unggul yang tahan terhadap kondisi kekeringan.

"Maka penting bagi penyuluh agar pahan efisiensi penggunaan air dan ini harus disampaikan kepada petani. Inilah strategisnya pelatihan sejuta petani dan penyuluh ini. Agar kita semua waspada. Jangan sampai kita kekurangan pangan. Kita harus siap dengan tindakan mitigasi dan adaptasi," tandas Dedi.(*)

Launching PT. Petani Milenial Sleman, Kementan Jadikan Bisnis Pertanian Ladang Cuan

[caption id="attachment_410" align="alignnone" width="300"]Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi[/caption]

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Jaringan Petani Milenial Sleman gelar launching Badan Usaha dengan branding PT Petani Milenial di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman.

Launching dihadiri langsung Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi.

Pembentukan Badan Usaha ini merupakan salah satu upaya untuk menjaga konsistensi usaha petani milenial di wilayah Sleman. Pasalnya hingga saat ini jumlah petani milenial di Sleman sudah mencapai 800 orang lebih dan memerlukan wadah kolaborasi yang mumpuni.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyadari peran generasi muda dalam pembangunan pertanian sangatlah penting, untuk meningkatkan pertanian di Indonesia. Oleh karena itu, Kementan terus mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

“Pemuda sebagai generasi milenial harus memiliki motivasi dalam bidang pertanian untuk menggerakkan pertanian di Indonesia. Hadirnya petani serta wirausahawan pertanian milenial berperan penting dalam mendorong pengembangan jejaring usaha di wilayahnya. ujar Syahrul.

Menteri Pertanian menambahkan, transformasi mau tidak mau akan mengubah cara kita menjalani manajemen usaha pertanian, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. "Saya yakin di tangan generasi milenial pembangunan pertanian akan lebih mudah dicapai,” tutur Syahrul.

Pembentukan Badan Usaha ini selaras dengan arahan Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi. Dedi mengatakan setidaknya ada 3 amunisi utama untuk mewujudkan pertanian yang maju, mandiri, dan modern.

Pacu Semangat Usaha, Kementan Tinjau Young Ambassador Agriculture DIY

"Kita semua harus berupaya menjadikan pertanian itu menguntungkan, menghasilkan duit yang banyak. Setidaknya ada tiga amunisinya. Pertama yaitu petani milenial harus terapkan smart farming, karena dengan smart farming produktivitas akan meningkat, kualitas produk juga meningkat dan ongkos produksi bisa ditekan," jelas Dedi.

Amuni kedua, lanjut Dedi, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diibaratkannya sebagai bensin, "KUR itu bahan bakar usaha, kerjasama permodalan dapat memperbesar skala usaha."

Amunisi yang ketiga, yaitu kolaborasi. Dedi berharap jumlah petani milenial yang semakin bertambah dapat diimbangi dengan semangat kolaborasi yang tinggi.

"Saling belajar, yang sudah sukses diternak silahkan berbagi ilmu ke teman yang sedang merintis usaha ternak. Yang masih kesulitan dibudidaya sayur, belajar dengan yang sudah mahir. Kolaborasi, seperti yang saat ini kalian lakukan dengan membentuk badan usaha ini," ujarnya.

Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo yang berkesempatan hadir langsung juga berkomitmen mendukung pengembangan petani milenial di wilayahnya.

"Melalui wadah Badan Usaha ini tentu menjadi modal atau pegangan bagi anak-anakku petani milenial, untuk mengembangkan usahanya, berjejaring, dan mengakses permodalan", jelasnya.

Kustini juga mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Pertanian yang senantiasa aktif mendampingi kegiatan pembangunan di wilayah Sleman melalui Unit Kerja di Wilayah DIY, salah satunya melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA), "Kami harap kerjasama ini terus berlanjut dan berjalan apik", harap Kustini.

Pada kesempatan yang sama Taufik Mawadani, selaku Ketua Jaringan Petani Milenial Sleman turut mengatakan bahwa pembentukan PT Petani Milenial Sleman ini juga merupakan salah satu cara menjaga marwah dan amanah yang sudah diberikan untuk memastikan eksistensi petani milenial Sleman.

PT Petani Milenial Sleman yang terbentuk sejak Februari 2023 ini memiliki misi utama untuk memberi ruang bagi petani milenial dalam mengembangkan jejaring usaha.

"Fokus kami di pemasaran dan pelatihan. Kami berusaha menyambungkan petani milenial dengan off taker dan dipayungi secara legal oleh PT Petani Milenial. Kami juga konsen meningkatkan kemampuan anggota dengan mengadakan pelatihan, baik pelatihan teknis maupun manajerial," tandas Dani.

Kedepan Ia juga berharap PT. Petani Milenial Sleman terus berkembang pesat namun tidak meninggalkan cita-cita utamanya sebagai agrosociopreneur, "Tidak melulu berorientasi bisnis, tapi diimbangi dengan sosial." tandas Dani.

Pacu Semangat Usaha, Kementan Tinjau Young Ambassador Agriculture DIY

TANIINDONESIA.COM//YOGYAKARTA - Kementerian Pertanian mendorong tumbuhnya generasi muda yang terjun kedunia pertanian karena sudah saatnya petani muda mengambil peran sebagai generasi penerus pembangunan pertanian.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengapresiasi langkah anak-anak muda yang mau bergerak di sektor pertanian. Menurutnya, sudah selayaknya generasi muda mengambil peranan dalam pembangunan pertanian nasional.

"Masa depan pertanian Indonesia ada di tangan generasi muda. Terbukti, banyak generasi muda saat ini yang menjadi pelopor dalam usaha pertanian. Ini adalah contoh nyata bahwa pertanian tidak identik dengan kotor dan kemiskinan," jelas Mentan Syahrul.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian meninjau langsung usaha milik Young Ambassador Agriculture (YAA) 2023 Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (13/5). Kunjungan ini dalam rangka memacu para Ambassador untuk lebih mengembangkan usahanya.

Dalam kunjungannya, Dedi menyempatkan meninjau dua lokasi usaha milik Young Ambassador Agriculture (YAA) 2023, yaitu Jamal Farming dan Ardhana Garden. Jamal Farming merupakan usaha milik Jamaludin Nur Ridho, YAA 2023 sekaligus mahasiswa aktif Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA).

Kementan Ajak Penyuluh dan Petani Atasi El Nino 2023

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi mendorong para petani milenial untuk menerapkan smart farming dan teknologi tepat guna lainnya dalam mengembangkan usahanya.

"Untuk usaha Jamal Farming, perlu pengembangan smart farming, khususnya teknologi smart irrigation yang dapat dikendalikan secara jarak jauh, sehingga kelembaban di kumbung jamur senantiasa terjaga dan produktivitasnya terjamin. Untuk usaha kaktus Isnaini, kendalanya akan kita cari, bagaimana cara yang efektif, bisa dengan kultur jaringan," ungkap Dedi.

Jamal Farming bergerak di bidang usaha budidaya jamur kuping dan jamur lingzhi untuk tujuan konsumsi dan obat-obatan. Usaha Jamal Farming ini juga sudah mendapat pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam pengembangan usahanya.

Sementara Ardhana Garden merupakan usaha milik Isnaini Baroroh yang bergerak pada bidang florikultur budidaya kaktus. Berbagai macam kaktus mulai dari sukulen hingga yang bernilai ekonomi tinggi dibudidayakan oleh Isnaini.

Dalam kunjungan tersebut, Kepala BPPSDMP Kementan didampingi oleh jajaran Pusat Pendidikan Pertanian (Pusdiktan) jajaran Polbangtan YOMA, dan Dinas Pertanian Kabupaten Sleman.

Kementan Ajak Penyuluh dan Petani Atasi El Nino 2023

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Kementerian Pertanian (Kementan) meminta kepada seluruh jajarannya untuk melakukan berbagai antisipasi menghadapi El Nino 2023. Puncak El Nino diperkirakan terjadi pada Agustus 2023.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mendorong para petani membuat Indonesia menjadi negara paling kuat dalam menghadapi ancaman El Nino maupun krisis global dunia.

Mentan Syahrul juga meminta kepada jajarannya yang berada di lapangan untuk membantu para petani yang kesulitan dan meminta persiapan dari semua daerah di seluruh Indonesia untuk menghadapi El Nino.

“Semua pihak harus bergerak melakukan kolaborasi, adaptasi dan antisipasi terhadap berbagai tantangan yang ada. Termasuk dalam menghadapi cuaca ekstrim El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Agustus mendatang”, tegas Mentan Syahrul.

Pada acara Bincang Seputar Pertanian (Bistan) Volume 21 Special Talkshow, Sabtu (13/05/2023), Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menjelaskan bahwa El Nino adalah salah satu fenomena sebagai dampak dari climate change, selain itu ada juga La Nina dan serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang luar biasa. El Nino merupakan fenomena kering dimana curah hujannya itu lebih kering dari biasanya. Yang disebut dari biasanya itu rata-rata curah hujan selama 25 tahun, kalo El Nino itu lebih kering dibandingkan dengan rata-rata selama 25 tahun itu.

Karena namanya kering pasti tergantung dari air dan salah satu kebutuhan air berasal dari curah hujan. Curah hujan yang biasanya relatif basah sekarang kering dan kering menunjukan bahwa udara yang ada di sekitar kita kadar uap airnya relatif rendah sehingga tidak ada peluang uap air melakukan kondensasi, maka terjadinya hujan, ujar Kabadan Dedi.

Kementan Ajak Penyuluh dan Petani Atasi El Nino 2023

Dedi juga menjelaskan bahwa El Nino adalah fenomena alam akibat climate change yang eratnya kaitannya dengan peningkatan konsentrasi kenaikan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Hal inilah yang menyebabkan suhu dipermukaan bumi hangat bahkan semakin panas. Para ahli klimatologi melihat ada Samudra Pasifik yang sangat luas melebihi sepertiga dari permukaan bumi. Karena saking luasnya Samudra Pasifik itu, maka indikator akan terjadi El Nino, La Nina atau normal tergantung dari informasi Samudra Pasifik itu.

“Karena di Samudra Pasifik suhu atmosfirnya cenderung hangat, jadi angin yang melewati Indonesia cenderung relatif sedikit makanya terjadi kekeringan, fenomena inilah yang dilihat para ahli sehingga menduga atau memprediksi di Indonesia akan terjadi kekeringan”, jelas Dedi lagi. Sat ini El Nino yang terjadi ke arah positif.

Pertanian terkait dengan makhluk hidup dan terkait juga dengan hayati, ujarnya. Yang artinya kebutuhan makhluk hidup yang pertama perlu oksigen, kedua air karena hampir 90 persen makhluk hidup memerlukan air, ketiga nutrisi, keempat tempat tinggal dan seterusnya.

Pertanian itu perlu air dan salah satu faktor produksi yang sangat penting. Saat terjadi El Nino akan menjadi masalah yang sangat besar, begitu air terganggu maka produktivitas terganggu artinya produksi menurun secara drastis. Ini harus diantisipasi oleh kita semua dan petani harus paham El Nino itu apa dan dampaknya bagaimana dan apa yang harus dilakukan.

“Puncak El Nino terjadi pada Agustus 2023 dan petani harus mencari sumber air alternatif selain air hujan”, tegas Dedi.

Hal yang harus dilakukan oleh petani diantaranya mencari alternatif, diantaranya mencari air di dalam tanah, tinggal angkat pompa dari bawah ke atas. Atau bisa juga dengan memanfaatkan air yang ada di permukaan, diantaranya dengan melakukan penyodetan pada sungai-sungai besar yang debit airnya tinggi, sehingga lahan pertanian mendapatkan air dari permukaan air, jelas Dedi lagi.

Penyuluh Pertanian Sebagai Pejuang dan Garda Terdepan Menghadapi El Nino 2023

Selain itu, petani juga harus menanggulangi kekeringan dengan cara lain, diantaranya menggunakan arang atau biochar di lahan pertaniannya, karena biochar dapat menyimpan atau memegang air sebanyak 3-6 kali lipat dibandingkan dirinya sendiri. Lalu lakukan fertigasi atau pemberian pupuk dan air secara bersamaan untuk memenuhi kebutuhan air juga memenuhi kebutuhan pupuk.

Langkah lainnya adalah petani bisa menggunakan pupuk organik atau kompos karena dapat memegang air. Pupuk organik mengandung 16 macam unsur hara dan unsur organik sehingga disebut juga dengan pupuk komplit. Namun, kelemahannya adalah kadarnya relatif rendah.

Sedangkan langkah-langkah yang dihadapi oleh Kementan menghadapi El Nino adalah antisipasi kalau El Nino nya belum kejadian, mitigasi dan adaptasi kalau sudah kejadian. Mitigasi adalah pencegahan dan adaptasi adalah menyesuaikan diri dengan kondisi El Nino.

Kita lakukan mitigasi kalau inline dengan adaptasi. Karena El Nino sudah jelas masalahnya di air, maka kita harus menyesuaikan dengan keadaan tersebut. Adapun langkah-langkah yang harus disiapkan diantaranya adalah dengan menggunakan varietas yang toleran atau tahan terhadap kekeringan. Misalnya penggunaan padi varietas inpago, inpari dan padi gogo.

Selanjutnya lakukan juga efisiensi penggunaan air, misalnya di lahan sawah dengan melakukan pengairan basah - kering atau dikenal dengan alternate wetting and drying. Mencari sumber air alternatif dan bagaimana mendistribusikannya dengan lebih efisien, misalnya dengan irigasi tetes.
Dedi berharap petani dan penyuluh harus saling bahu membahu mencari dan mendistribusikan sumber air.

Dedi memberikan saran kepada petani, menghadapi El Nino yang paling penting adalah antisipasi, adaptasi serta mitigasi. Karena saat ini sudah memasuki El Nino yg paling penting adalah bagaimana melakukan adaptasi dan mitigasi.

El Nino itu bisa musibah dan anugerah tergantung dari bagaimana kita bisa menyikapinya. Dikatakan anugerah, dimana lahan rawa yang tadinya tergenang terus dapat melakukan panen raya, tetapi disaat yang sama juga harus menyiapkan varietas yang toleran atau tahan El Nino. Selanjutnya gunakan pengairan alternatif dan lebih efisien, serta jangan lupa lakukan konservasi air pada tanah-tanah pertanian. Meskipun air dari atas berkurang tapi air dapat bertahan lama didalam tanah sehingga akar tanamannya bagus dan produksi meningkat, tutup Kabadan Dedi. (NF)

Kementan Siapkan Strategi Antisipasi El Nino

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Perubahan iklim dunia saat ini sangat meresahkan, diprediksi dalam waktu dekat puncaknya di bulan Agustus akan musim kemarau.

Tak dapat dipungkiri sub sektor pertanian termasuk komoditas perkebunan pun turut terkena dampaknya, khususnya ketersediaan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia dan bahan baku perkebunan.

Pemerintah terus berupaya mencari solusi tepat guna demi menghadapi tantangan ini, dan mengantisipasi berbagai dampak akibat perubahan iklim yang tak menentu dan jelang musim kemarau.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) menugaskan jajarannya untuk mempersiapkan musim kemarau ekstrim atau el nino.

"Menghadapi musim kering ekstrim atau elnino saya minta jajaran Kementan berada di lapangan membantu para petani yang kesulitan. Kemudian saya juga meminta persiapan dari semua daerah di seluruh Indonesia," ujar Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL), Menteri Pertanian.

Penyuluh Pertanian Sebagai Pejuang dan Garda Terdepan Menghadapi El Nino 2023

Direktorat Jenderal Perkebunan sigap menjalankan arahan Mentan SYL, segera berupaya mengantisipasi musim kemarau. Andi Nur Alam Syah Direktur Jenderal Perkebunan mengatakan, salah satunya dalam bentuk paket teknologi berupa kegiatan mitigasi maupun adaptasi untuk menekan efek negatif dari perubahan iklim terhadap komoditas perkebunan.

Selain itu, Ditjen Perkebunan juga terus mensosialisasikan dan menghimbau para petani agar segera melakukan pengendalian opt secara terpadu, pembangunan embung, demplot pembukaan lahan tanpa bakar, serta memberikan bantuan sarpras untuk kekeringan dan kebakaran lahan seperti pompa air, pompa jinjing, dan selang.

"Pekebun terus berjuang memasok kebutuhan pertanian termasuk kebutuhan komoditas perkebunan Indonesia. Antisipasi ini perlu segera dilakukan dan menjadi perhatian penting bagi seluruh pelaku usaha perkebunan demi menjaga keberlangsungan tanaman perkebunan," ujar Andi Nur.(***)

Regenerasi Petani, Kementan Bangkitkan Minat dan Perkuat Kompetensi Gen-Z

TANIINDONESIA.COM//LEMBANG - Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang sebagai salah satu penyelenggara pelatihan dan pendidikan pertanian terus berusaha meningkatkan kapasitas SDM pertanian, baik aparatur maupun non aparatur. Tidak terkecuali 36 siswa SMK dan mahasiswa yang tengah menjalani masa Praktik Kerja Lapang (PKL) di BBPP Lembang.

Hal ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang menyatakan bahwa pembangunan pertanian akan diteruskan oleh generasi muda yang memiliki kompetensi jauh lebih baik. Karenanya, generasi penerus pertanian ini harus memiliki keterampilan dan teknologi yang andal di bidang pertanian.

“Pembangunan pertanian Indonesia akan dilanjutkan oleh generasi selanjutnya, generasi yang saat ini masih muda, bahkan anak-anak. Kita harus tumbuhkan minat mereka dari sejak dini. Salah satu cara melalui agro-eduwisata, agar kelak mereka mau terjun menjadi pelaku dan mampu memajukan pertanian Indonesia,” tegas Mentan.

Selaras dengan pernyataan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menyatakan pentingnya pertanian sebagai sektor prioritas dengan jumlah pintu pasar paling banyak di dunia. Karenanya, pertanian harus mampu menarik minat generasi muda untuk turut andil berkontribusi.

"Pertanian dan generasi muda tak boleh dipisahkan. Anak-anak muda adalah generasi penerus pertanian di masa mendatang," kata Dedi.

BBPP Lembang membekali generasi Z, yakni peserta PKL, untuk memiliki minat berkecimpung di bidang pertanian.

Kementan Kibarkan Genta Organik di Bumi Cendrawasih

Disampaikan Kepala BBPP Lembang, Ajat Jatnika, "menjadi salah satu tugas BBPP Lembang untuk menjadi sarana belajar para peserta PKL". Ia juga berharap setelah kegiatan PKL peserta mampu berinovasi hingga berbisnis di bidang pertanian.

Upaya tersebut dilakukan dengan memberikan pengetahuan dasar dengan praktik langsung di area Inkubator Agribisnis (IA) maupun pembelajaran di kelas. Sistem pembelajaran di kelas salah satunya melalui Pelatihan Agribisnis Sayuran yang diselenggarakan pada 10-14 April 2023.

Fasilitator merupakan Widyaiswara BBPP Lembang. Adapun materi yang disampaikan mulai dari persiapan benih, persiapan lahan, pupuk dan pemupukan, pemeliharaan, pengendalian hama dan penyakit terpadu, panen dan pascapanen sayuran, pengolahan hasil sayuran, analisa usaha tani, pemasaran, dan kelembagaan petani. Materi yang disampaikan bertujuan untuk mengasah kembali pemahaman siswa di samping praktik lapang yang dilakukan setiap hari selama masa PKL.

Seperti pada materi persiapan lahan, peserta mendapatkan penjelasan kriteria lahan yang baik untuk dijadikan sebagai lahan budidaya. Diakui Abdul Azis peserta asal SMK Negeri 2 Subang, adanya materi ini menambah pengetahuannya. “Saya mendapat penjelasan secara teoritis setelah sebelumnya learning by doing di lahan bersama instruktur,” ungkapnya.

Sementara pada materi pengolahan hasil pertanian Widyaiswara mengajak peserta untuk mampu berinovasi memberikan nilai tambah pada produk pertanian.

Fadli, peserta asal Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, menyatakan kesannya setelah berlatih. Menurutnya pelatihan ini sangat menambah wawasan. Materi juga disampaikan dengan cara yang asyik sehingga tidak membosankan.

“Setelah mendapat pelatihan ini saya belajar pertanian dengan lebih mendetail. Seperti teknik pemotongan daun lembaga yang ternyata memiliki dampak yang cukup berpengaruh terhadap produktivitas tanaman,” ungkapnya. (DRY/YKO)

Kementan Bekali Penyuluh Cara Mengendalikan Hama

INFO BISNIS - Kementerian Pertanian (Kementan) memberikan tambahan pengetahuan untuk mengendalikan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan bahan ramah lingkungan agar tercapai pengendalian hama terpadu (PHT).

Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan penyuluh pertanian pendamping program READSI agar mampu melakukan pengendalian hama secara terpadu untuk komoditas padi, komoditas tanaman lain bernilai ekonomi tinggi, komoditas perkebunan, sayur/buah dan tanaman pekarangan.

Hal ini sesuai arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bahwa produk pertanian Indonesia harus berkualitas, baik dari segi tampilan maupun kandungan gizinya. "Untuk itu, salah satu poin penting dari produk pertanian yang berkualitas adalah penerapan pertanian ramah lingkungan, termasuk dalam pengendalian OPT," katanya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan hal serupa. "Untuk bisa menggenjot produktivitas, berarti tanaman harus dijaga. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian membekali penyuluh dengan pengetahuan cara mengendalikan hama," ujar Dedi.

Pelatihan ini diselenggarkan oleh Dinas Tanaman Pangan dan Perternakan Provinsi Sulawesi menyelenggarakan Pelatihan Teknis Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu bagi penyuluh pendamping program Rural Empowerment and Agricultural Development Scalling Up Initiative (READSI). Kegiatan ini terdiri dari tiga angkatan dan dilakukan secara luring di UPTD BPSDM Pertanian Kota Kendari, 26-31 Juli 2022.

Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sulawesi Tenggara, Muhamad Djudul, sektor pertanian membutuhkan keahlian penyuluh yang menguasai ilmu agar dapat membina petani. "Sering disampaikan Pak Menteri, sebuah kemustahilan kalau tidak maju mandiri dan modern, tidak akan mungkin pertanian bisa memberikan kesejahteraan petani kalau tidak kuasai ketiga hal itu,” ujarnya, Senin, 25 Juli.

Manager program READSI, I Made Widanta, SP, MP menyampaikan bahwa pelatihan tersebut menggunakan metode teori dan praktek. Peserta berasal dari Konawe 18 orang, Kolaka 18 orang dan Kolaka utara 18 orang total peserta menjadi 54 peserta penyuluh dampingan READSI di provinsi Sulawesi Tenggara.

Adapun READSI merupakan salah satu bagian dari program Kementrian Pertanian yang mendukung terwujudnya visi pembangunan pertanian yaitu tercapainya kedaulatan pangan dan meningkatnya kesejahteraan petani serta mendukung suksesnya program regenerasi petani.

Salah satu komponen yang ikut terlibat menyukseskan program READSI adalah penyuluh pertanian yang salah satu tugas pokoknya mendampingi dan memberikan penyuluhan kepada petani untuk mengubah perilaku (pengetahuan, sikap dan keterampilan) petani yang ada di wilayah binaannya.

Tujuan jangka pendek READSI adalah memberdayakan rumah tangga di pedesaan di Sulawesi, Kalimantan dan NTT dengan keterampilan, memiliki kepercayaan diri untuk meningkatkan pendapatan dari sektor pertanian dan non–pertanian. (*)

Fokus Kementerian Pertanian untuk Pemenuhan Pangan Secara Merata

INFO NASIONAL -- Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, tahun ini, inovasi dan teknologi menjadi kunci pembangunan pertanian di Indonesia. Menurutnya, sistem dan alat pertanian modern berbasis teknologi menjadi salah satu penentu tercapainya target produksi pangan masa mendatang.

Karena itu, kedepannya kerja-kerja kementan harus fokus pada pemenuhan pangan secara merata. Diantaranya dengan meningkatkan produksi melalui penyediaan benih unggul, penggunaan teknologi dan penguatan sumber daya manusia.

"Saya ingin mengajak untuk menyelamatkan Indonesia agar tidak terjadi gejolak pangan. Kita harus menyelamatkan pangan kita agar tidak terjadi krisis seperti yang dikatakan badan pangan dunia," kata Syahrul.

Adapun, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan pertanian tidak lagi berfokus untuk menjadi produsen pangan. Namun, juga dapat menjadi sumber mata pencaharian yang menguntungkan bagi tenaga kerja sektor pertanian.

“Pertanian harus menjadi bisnis. Pertanian itu harus sustainable dan menarik. Pertanian tidak hanya memenuhi kebutuhan sendiri tetapi harus bisa menghasilkan uang,” ujar Dedi.

Karena pentingnya hal tersebut, salah satu UPT BPPSDMP Kementerian Pertanian, BBPKH Cinagara, menyelenggarakan Bertani on Cloud (BOC) volume 191, pada Kamis, 21 Juli 2022 dengan tema Sumber Bahan Pangan Lokal Berbasis Ubi Kayu.

BOC dilaksanakan di P4S Putri 21 Dusun Sumberjo RT 26 RW 04, Desa Ngawu, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul DIY. Acara di buka secara online oleh Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi, dan dihadiri secara offline oleh Kepala BBPKH Cinagara Wasis Sarjono, Kepala Dinas Pertanian dan pangan Kabupaten Gunungkidul Rismiadi, Kepala Dinas Peternakan dan kesehatan hewan Kabupaten Gunungkidul Wibawanti Wulandari.

Bertani on Cloud (BOC ) volume 191 kali ini berbeda dengan BOC sebelumnya. Karena BBPKH juga mengundang seniman sitter, Ari Tejo, yang dalam kegiatan ini sebagai pengiring lagu tradisional jawa saat pelaksanaan BOC berlangsung.

Tentunya dengan pola pelaksanaan BOC seperti ini menambah suasana lain dan juga melestarikan budaya lokal khususnya untuk seniman sitter. Dari ketekunannya dalam usaha yang digelutinya, sekolompok ibu-ibu di P4S Putri 21 yang berjumlah 21 orang dan mempunyai kegiatan yang sejenis. Kemudian, disitulah ia berhak mendapatkan Surat Tanda Pendaftaran Industri Kecil dari Departemen Perindustrian Republik Indonesia dengan nama Usaha "Putri 21" yang bernomor 20/DIY/04/IZ.00.01/IX/V/2006.

Salah satu pembicara pada kegiatan BOC volume 191, Ketua P4S Suti Rahayu, menjelaskan, tepung mocaf berasal dari ubi kayu.

"Ubi kayu kelemahannya yaitu ubi kayu yang masih muda banyak susutnya karena masih kadar airnya tinggi, ubi kayu yang lebih12 bulan banyak seratnya dan bisa merubah warna, musim panen harga ubi kayu merosot atau jatuh," ujarnya.

Keunggulan ubi kayu yang baik berusia 9 bulan, karena paling bagus untuk diproses, semua jenis ubi kayu dapat diproses untuk pembuatan tepung mocaf, tepung mokaf dapat digunakan untuk berbagai macam kue, untuk gorengan juga baik dan masih banyak yang lain.

Pembicara yang lain yaitu, Wiwid Dwirahayu, menjelaskan mengenai beras mocaf terbuat dari bahan baku tepung mokaf yang diproses dengan teknologi tepat guna. "Beras mocaf merupakan inovasi terbaru dari P4S putri 21, yang rasanya sangat enak. Beras mocaf tidak mengadung pewarna maupun memakai bahan pengawet," kata dia.

Beberapa varian Beras yang bahan bakunya dari mocaf yakni beras mocaf, beras sukun, beras jagung, beras ubi ungu, beras pisang.

P4S putri 21 ini bisa menjadi contoh untuk P4S lain yang bergerak dalam bidang olahan dan diversifikasi pangan lokal sehingga memperkuat ketahanan pangan Indonesia. (*)

Hadapi Era 4.0, Penyuluh Pertanian Wajib Lakukan Transformasi

MENGHADAPI era industri 4.0 seluruh insan pertanian tak terkecuali penyuluh pertanian harus dapat ikut mempermudah dan menyinergikan  interaksi hulu dan hilir dalam sistem agribisnis/agroindustri. Hal ini sejalan dengan upaya pembenahan sektor pertanian yang harus dilakukan pemerintah dan stakeholder terkait. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengutarakan, pertanian harus terus bersinergi dengan kemajuan teknologi. Menurutnya, di era 4.0, semua sektor telah menerapkan teknologi, termasuk juga pertanian. "Kita tidak mungkin menghindar, justru harus beradaptasi. Utamanya, informasi dengan memanfaatkan komunikasi digital yaitu dengan mengemas pesan materi penyuluhan. Karena itu, penyuluh harus menguasai akses komunikasi digital dan mengembangkannya kepada petani secara verbal serta visual," pesan Mentan. Saat mengisi program  Ngobras edisi khusus Penyuluhan, dengan tema 'Transformasi Sistem Penyuluhan Pertanian Era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)', Rabu (26/1), Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengungkapkan, 10 tahun lalu kita tidak bisa membayangkan seminar, rapat, pelatihan, dan penyuluhan, dapat dilakukan secara virtual dan bisa diakses dari mana saja asalkan ada internet. "Dalam 10 tahun terakhir, perkembangan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) sangat luar biasa. Terutama dalam hal TIK, perkembangannya begitu pesat. Kemampuan iptek untuk mendukung menggenjot produktivitas pertanian juga luar biasa, ada bioscience bioteknologi, varietas tinggi, dan lainnya," ungkap Dedi. Baca juga: Festival PeSoNa Kopi Agroforestry 2022 Dapat Animo Besar Dia pun menyampaikan bahwa dulu penyuluh hanya bicara masalah on farm atau budi daya. Namun kini penyuluhan juga harus ada di off farm, di hulu dan upstream. Ada juga downstream, atau menjadikan produk-produk turunan, termasuk juga packaging atau kemasan dan lainnya. "Yang tidak kalah penting adalah membangun subsistem institusi pendukung untuk mendukung subsistem yang lainnya. Sehingga, dapat tercipta sebuah agribisnis yang bernilai tinggi," katanya. Untuk beradaptasi dengan kemajuan iptek dalam mendukung pertanian, Dedi meminta penyuluh menguasai smart farming. "Pertanian sekarang harus memanfaatkan teknologi, termasuk internet of thing (IoT). Saya yakin paradigma penyuluhan harus berubah, kita harus lakukan transformasi. Namun, penyuluh tetap harus menguasai prinsip-prinsip dasar peyuluhan," katanya. Dalam kesempatan itu, hadir pula penulis buku Transformasi Sistem Penyuluhan Pertanian Era TIK yang juga Dosen Polbangtan Bogor, Momon Rusmono. Memiliki pengalaman serta kedekatan dengan dunia penyuluhan, Momon menyampaikan lima poin utama terkait penyuluh pertanian. "Pertama, penyuluhan merupakan hal yang sangat penting dalam menyejahterakan petani, akses modal dan koperasi belum optimal bisa diselesaikan oleh para penyuluh. Kedua, penyuluhan bisa menyasar segala macam aspek," katanya. Poin selanjutnya ialah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, di dalam UU tersebut tidak menyebutkan penyuluhan perkembangan iptek, penyuluh harus adaptif, dan kemajuan iptek luar biasa, penyuluh harus dekat dengan iptek. "Itu semua yang memotivasi saya untuk menulis transformasi, bagaimana upaya-upaya perubahan mendudukkan, memerankan, dan memfungsikan kembali peran penyuluhan sehingga terwujud satu kesatuan arah dan kebijakan," kata Momon.