17 Mei 2026

Hari: 7 Juli 2023

Kementan Gerak Cepat Tangani Penyakit Antraks di Gunungkidul Yogyakarta

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) gerak cepat langsung melakukan penanganan penyakit zoonosis antraks yang ditemukan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Diantaranya dengan upaya mitigasi dan isolasi wilayah, serta menurunkan Tim kesehatan hewan ke lokasi untuk investigasi. Selain itu juga telah mendistribusikan logistik Obat-obatan antibiotik, vitamin, serta cairan disinfektan sebagai perangkat utama dinas setempat dalam penanganan kasus.

Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nuryani Zaenudin mengatakan bahwa pihaknya juga langsung melakukan investigasi kasus dengan pengambilan dan pemeriksaan sempel untuk diagnosis serta komunikasi dan advice strategis.

"Termasuk menghentikan lalu lintas keluar dan masuk di lokasi tertular. Sampai saat ini kasus pada ternak dan manusia terlokalisir di satu padukuhan yaitu Dukuh Jati, Desa Candirejo, Kecamatan Semanu," ujar Nuryani, Kamis, 6 Juli 2023.

Nuryani mengatakan, penyuntikan antibiotik sudah dilakukan pada semua hewan yang rentan tertular pada daerah terancam. Kemudian melakukan dekontaminasi dengan disinfektan pada lokasi penyembelihan dan penguburan ternak. Adapun vaksin yang telah disuntikan di Gunungkidul mencapai 78 ekor sapi dan 286 ekor kambing.

"Jadi sejak kami terima laporannya pada 15 Juni 2023 lalu, kami langsung melakukan sosialisasi dan komunikasi informasi edukasi bersama Dinas Gunungkidul," katanya.

Ditambahkan Nuryani, sejauh ini vaksin operasional yang telah didistribusikan ke Gunungkidul mencapai 96.000 dosis, kemudian melakukan pengambilan sempel sebanyak 5.707 dan stok vaksin yang tersedia saat ini mencapai 110.000 dosis.

Baca juga: Terindikasi Antraks, Kementan Larang Masyarakat Bedah Tubuh Hewan Ternak

"Kami berharap kepedulian masyarakat terhadap antraks dapat terus meningkat dengan memperkuat surveilans pada area endemik dan terancam. Jadi jika ada kematian mendadak pada hewan masyarakat bisa melakukan pelaporan ke petugas terdekat untuk dilakukan penelusuran," katanya.

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Syamsul Ma'arif mengatakan bahwa penyakit antraks merupakan penyakit zoonosis yang mampu bertahan hingga puluhan tahun apabila hewan ternak yang terpapar tidak dilakukan penanganan yang tepat.

"Sifat bakteri antraks itu dangat berbahaya. Karena itu hewan yang terpapar tidak boleh dibuka. Kalau dibuka bakterinya bisa jadi spora dan bertahan bertahun tahun. Jadi direbus saja tidak aman karena spora bisa bertahan hingga bertahun tahun," katanya.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi mengatakan bahwa dampak penyakit antraks apabila dikonsumsi manusia dapat menyebabkan kematian. Mulanya, penyakit tersebut menyerang paru-paru lalu setelahnya akan melepuh dan berujung pada kematian.

"Dampak ke manusia bila daging antraks tetap dimakan maka akan merusak paru paru lalu melepuh. Jadi saya menghimbau kepada semua puskesmas di gunung kidul untuk lebih waspada mengingat spora antraks bisa hinggap dimana-mana. Dan sejauh ini kita sudah melakukan penyidikan terpadu melalui satgas. Kemudian survei terhadap yang berisiko dan pengobatan kepada yang terpapar," jelasnya.(***)

Terindikasi Antraks, Kementan Larang Masyarakat Bedah Tubuh Hewan Ternak

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) melarang masyarakat untuk membedah tubuh hewan ternak yang terindikasi mengalami infeksi bakteri Bacillus Anthracis penyebab penyakit antraks.

"Sapi yang mati dengan indikasi antraks tidak boleh dibedah atau dibuka, harus dibakar atau dikubur untuk mencegah penularan," kata Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Nuryani Zainudin dalam konferensi pers Update Situasi Antraks di Indonesia yang digelar secara daring di Jakarta, Kamis.

Ia menjelaskan bakteri antraks termasuk ke dalam jenis zoonosis yang dapat menular dari hewan herbivora seperti sapi, kambing, domba, dan burung unta ke manusia.

Antraks yang juga dikenal sebagai penyakit tanah yang mampu bertahan hidup selama puluhan tahun berkat perlindungan spora selama berada di tubuh hewan dan di dalam tanah.

Ia mengatakan gejala klinis pada hewan ditandai demam tinggi di awal infeksi, lalu gelisah, kejang, dan mati. Tidak jarang, hewan ternak mati mendadak tanpa gejala klinis.

Gejala klinis yang mudah diamati, kata dia, berupa pendarahan dari lubang kumlah, seperti telinga, hidung, dan mulut.

Baca juga: Kementan Gerak Cepat Tangani Penyakit Antraks di Gunungkidul Yogyakarta

"Jika hewan mati ini dibedah, maka spora akan keluar dan masuk ke dalam tanah, lalu melindungi dirinya selama puluhan tahun," kata Nuryani Zainudin.

Pada acara yang sama, Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan, Syamsul Ma'arif mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak mengonsumsi daging hewan ternak yang terindikasi terinfeksi antraks.

Sebab, kata dia, proses pemasakan dengan cara direbus selama berjam-jam pun tidak akan mematikan bakteri yang sudah terlanjur menginfeksi daging.

"Jangankan direbus, dibuka saja tidak boleh. Begitu spora dihirup, biasanya orang dalam 24 jam bisa menyebabkan kematian," katanya.

Ia mengatakan 94 persen kasus antraks pada manusia disebabkan kontak fisik dengan hewan ternak terinfeksi antraks. Spora kemudian menyebar hingga ke otak dan berisiko memicu kematian.

"Kasus ini harus cepat ditangani dan didukung peralatan khusus dalam menangani kejadian meningitis akibat antraks," demikian Syamsul Ma'arif.(***)