1 Mei 2026

Hari: 14 Juni 2023

Tangguh Hadapi El Nino, Pertanian Cerdas Iklim Kementan Beri Nilai Tambah untuk Petani Subang

TANIINDONESIA.COM//SUBANG - Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim yang diinisiasi oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan) melalui program Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP), rupanya menjadi andalan bagi petani di Kabupaten Subang dalam mengantisipasi perubahan iklim, dalam hal ini ancaman El Nino yang sudah di depan mata.

Hal itu terungkap dalam pertemuan 'Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan SIMURP Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2023' yang diselenggarakan Pusat Penyuluhan Pertanian BPPSDMP Kementan di BPP Pagaden, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Selasa (13/6/2023).

Selain tangguh dalam menghadapi El Nino, pertanian cerdas iklim rupanya juga membawa dampak positif bagi petani di Kabupaten Subang. Berkat pertanian cerdas iklim, petani di Subang mendapatkan nilai tambah dari produk olahan pertanian yang mereka garap.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menegaskan, selain masa depan Indonesia, pertanian juga harus diupayakan sedapat mungkin agar memberikan nilai tambah untuk petani. Sebab, segala upaya yang dilakukan pemerintah dalam kerangka pembangunan pertanian nasional, orientasi utamanya adalah kesejahteraan petani.

"Kementan terus berupaya agar pembangunan pertanian nasional memberikan nilai tambah produk pertanian, sekaligus meningkatkan efisiensi sehingga perbaikan ekonomi dan peningkatan produksi dan produktivitas pertanian bisa diwujudkan," kata Mentan SYL.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi menambahkan, Kementerian Pertanian telah menyiapkan langkah mitigasi dan adaptasi perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global. Salah satu langkah strategis yang disiapkan yakni program pertanian cerdas iklim.

"Pertanian cerdas iklim ini mengombinasikan rencana, ilmu pengetahuan, keterampilan dan aksi nyata, baik oleh petani maupun penyuluh, bagaimana mereka membaca situasi iklim yang tengah terjadi agar tak berdampak pada pertanian mereka," terang Dedi.

Dikatakan Dedi, pertanian cerdas iklim diharapkan menjadi konsep baru bagi petani dalam menunjang program ketahanan pangan nasional. "Dengan pertanian cerdas iklim kita berharap produktivitas pertanian dapat terus ditingkatkan, tak terpengaruh oleh situasi iklim yang tengah terjadi, karena kita tahu dan telah memiliki rencana apa yang akan dilakukan," ujar Dedi.

Petani penerima manfaat pun terbantu dengan program SIMURP yang diinisiasi BPPSDMP Kementan. Maryuni dari KWT Karya Mandiri Kecamatan Pagaden Barat merasakan betul manfaat program. Penjualan produk kelompoknya berupa aneka macam kue, kripik singkong, rengginang, opak dan lainnya telah berkembang pesat. "Bahkan pemesanan hingga ke luar negeri, tepatnya Taiwan. Kami bersyukur sekali mendapat program SIMURP ini," kata Maryuni.

Pun halnya dengan Hasan Basri dari Kelompok Tani Cinta Tani Jaya di Kecamatan Binong. Produksi olahan beras ketannya terus meningkat semenjak tersentuh program ini. "Produksi kami sudah mencapai 100 kilogram per bulan. Kalau ada pesanan, kami genjot lagi produksinya. Kami juga difasilitasi perizinan. Sekarang kita tinggal menunggu perizinan keluar saja," ujar Hasan Basri.

Dalam 'Rapat Koordinasi Percepatan Kegiatan SIMURP Kabupaten Subang Tahun Anggaran 2023', ada beberapa langkah dukungan penerapan teknologi CSA. Di antaranya adalah demplot CSA di Kelompok Tani (Poktan), Penerapan teknologi CSA Scalling Up, rembug tani, pengawalan dan pendampingan kegiatan SIMURP, Uji emisi GPK, penguatan BPP dan penumbuhkembangan produk dan jejaring pasar (market linked) KEP.

Adapun materi CSA demplot atau genta organik meliputi teknologi irigasi intermitten/AWD/macak-macak, enggunaan varietas unggul, penentuan waktu tanam (KATAM), teknologi jajar legowo, pembuatan dan penggunaan pupuk organik, penggunaan pupuk berimbang dan pengendalian OPT.

Adapun pada tahun ini, anggaran SIMURP untuk Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 3,125 miliar. Jumlah itu bertambah sebesar Rp13,258 miliar setelah dilakukan top up.

Secara keseluruhan, ada 10 provinsi yang mendapatkan program SIMURP. Untuk di Jawa Barat diimplementasikan di Kabupaten Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. Program SIMURP sendiri diimplementasikan di 24 kabupaten, 22 daerah irigasi, 121 dari 117 BPP dan 117 desa dengan melibatkan sebanyak 4.623 kelompok tani.(*)

Lawan Perubahan Iklim dan Krisis Pangan Global, Kementan Dorong Pertanian Cerdas Iklim

TANIINDONESIA.COM//JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) terus berupaya meningkatkan produktivitas pertanian nasional. Hal itu dilakukan dalam rangka menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis pangan global. Salah satu upaya yang dilakukan Kementan yang diinisiasi oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) adalah dengan menerapkan program Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim. Sebagaimana diketahui, pertanian cerdas iklim merupakan salah satu tujuan dari program Stategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP).

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) meminta kepada jajarannya untuk terus meningkatkan kerja sama dan kolaborasi untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Apalagi, di tengah situasi ancaman perubahan iklim dan krisis pangan global, program penyediaan pangan untuk seluruh rakyat tak boleh terganggu.

"Harus kita ingat bahwa tujuan pembangunan pertanian kita di antaranya peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas, meningkatkan Intensitas Pertanaman (IP), serta budidaya ramah lingkungan dengan tujuan akhir menyejahterakan petani dan meningkatkan pendapatannya", papar Mentan Syahrul.

Menurut Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi program SIMURP memberikan banyak manfaat untuk petani dan penyuluh. "SIMURP mengajarkan banyak hal kepada petani, khususnya bagaimana melakukan pertanian cerdas dalam menghadapi perubahan iklim. Termasuk bagaimana cara mengantisipasi dan menangani penyakit tanaman.

Dikatakan Dedi, kunci keberhasilan SIMURP adalah kerja sama dan sinergitas dari seluruh pemangku kepentingan dan insan pertanian. Dedi berharap program SIMURP tetap fokus pada kegiatan pertanian ramah lingkungan dengan memaksimalkan kegiatan penyuluhan pertanian.

"Petani dan penyuluh harus menjadi pemenang di daerahnya masing-masing. Petani dan penyuluh harus menjadi agen perubahan guna peningkatan produktivitas, membangun kelembagaan ekonomi, memanfaatkan fasilitas, memaksimalkan jaringan irigasi untuk pertanian yang semuanya bertujuan meningkatkan produktivitas pertanian", ulas Dedi.

Menurutnya, krisis pangan global menuntut perubahan model pertanian yang berkelanjutan. Kendati begitu, tak ditampiknya ada beberapa problematika dalam menghadapi krisis pangan global. "Perubahan iklim, isu ekonomi global dan mata rantai pasokan itu beberapa di antara kendala yang dihadapi.

Salah satu penerima manfaat SIMURP adalah petani dan penyuluh di Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, beberapa waktu yang lalu menerima kunjungan dari Tim World Bank yang diwakili oleh Konsultan Konsultan Program Pertanian dan Pangan World Bank (WB), Heru Prama Yuda, perwakilan FAO, Kundan Singh dan Tim NPIU BPPSDMP, yang diwakili oleh Penyuluh Pertanian Pusat Penyuluhan Pertanian (Pusluhtan).

Kundan Singh menjelaskan, kedatangan Tim WB untuk melihat lebih dekat implementasi program SIMURP di lapangan.

Selain itu juga, pihaknya ingin tahu tantangan apa saja yang dihadapi dalam pelaksanaan, baik untuk mitra di daerah, BPP, penyuluh, petani, Poktan, Gapoktan dan lain sebagainya. Juga, apa saja kendalanya dan apa aspek yang perlu kita tingkatkan ke depannya.

Heru tak menampik jika pola tanam dan produktivitas akan terkena imbas perubahan iklim yang terjadi saat ini. Oleh karenanya, pertanian cerdas iklim merupakan solusi untuk menghadapi hal tersebut.

Menurutnya, pertanian cerdas iklim tidak akan sukses jika petaninya tidak cerdas iklim. Maka, kuncinya ada di petani. Maksudnya adalah bagaimana petani bisa mengelola, memitigasi dan mengurangi dampak negatif perubahan iklim.

Pun halnya dengan ketahanan pangan nasional yang menjadi program Kementan, menurut Heru hal tersebut bergantung sepenuhnya kepada petani. Lumbung pangan tergantung kepada petani memutuskan apa yang akan dilakukan di lahan pertaniannya. Keputusan petani akan berdampak kepada level makro. Maka, upaya kolektif untuk meningkatkan produktivitas pertanian kita penting untuk dilakukan.

Kuncinya adalah meningkatkan produktivitas dan menjaga lingkungan. Oleh karenanya, petani harus tangguh, cerdas iklim dan ramah lingkungan. Beruntung, Kementan memiliki jaringan yang solid di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Subang, terkhusus di Kecamatan Pamanukan. Sehingga program yang dijalankan dapat terserap dengan baik hingga tingkat lapisan paling bawah.

Menurut Tim NPIU SIMURP BPPSDMP yang diwakili oleh Penyuluh Pertanian Pusat Siti Nurjanah mengatakan, ada beberapa yang perlu menjadi fokus bersama agar ketahanan pangan nasional dapat terjaga dengan baik. Kita berharap ada luas baku lahan abadi. Ke depan juga perlu dimanage bagaimana menghadapi peningkatan serangan hama. Perbaikan jaringan irigasi rusak dan terbatas, kesuburan tanah akibat ketergantungan penggunaan pupuk kimia menyebabkan lahan kita sakit dan sejumlah hal lainnya.

Harus ada pendekatan komprehensif untuk menjawab tantangan terhadap pangan. Salah satu kuncinya adalah meningkatkan produksi dan produktivitas, baik padi maupun non padi, melalui intensitas pertanaman. Kita harus mampu mengatur pola tanam atau pertanian cerdas iklim. Kita juga harus mampu meningkatkan pendapatan petani menuju ketahanan pangan berkelanjutan, tuturnya.