31 Januari 2026

Hari: 26 Januari 2026

Mahasiswa Desak Rektor Unsoed Dicopot, Kampus Dinilai Gagal Tangani Dugaan Kekerasan Seksual

TANIINDONESIA.COM, Purwokerto – Kritik tajam terhadap kepemimpinan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) mencuat di media sosial. Seorang mahasiswa bernama Aryanto melalui cuitan di Twitter meminta Rektor Unsoed Akhmad Sodiq dicopot, karena dinilai gagal menangani persoalan serius di kampus, terutama dugaan pembiaran kasus kekerasan seksual yang melibatkan dosen terhadap mahasiswi.

Dalam cuitannya, Aryanto menilai kampus tidak memberi hukuman tegas kepada dosen yang diduga melakukan kekerasan seksual. Ia menyebut kondisi ini menjadi hal paling merugikan bagi mahasiswa karena menciptakan ketakutan dan rasa tidak aman di lingkungan pendidikan.

“Saya mau cerita dari hal yang paling merugikan kita yaitu tidak adanya hukuman bagi dosen yang melakukan kejahatan seksual pada mahasiswi,” tulis Aryanto.

Aryanto menyebut kasus kekerasan seksual di kampus tidak boleh dibiarkan berlarut-larut hingga menimbulkan korban yang lebih berat. Ia menyinggung kasus di Universitas Negeri Manado (Unima), yang disebutnya membuat korban bernama Evia Maria Mangolo bunuh diri setelah mengalami kekerasan seksual.

“Apakah kasus pelecehan seksual yang terjadi di kampus saya, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) juga harus ada korban yang bundir?” tulisnya.

Rektor Dinilai Tidak Tegas, Demonstrasi Disebut Tak Berdampak

Dalam cuitan tersebut, Aryanto menyoroti dugaan kasus pelecehan seksual yang disebut dilakukan oleh dosen bernama Adhi Iman Sulaiman, profesor di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ia memaparkan kronologi dugaan kejadian yang terjadi saat penelitian ke luar kota dan melibatkan mahasiswi berinisial “Bunga”.

Aryanto menuliskan, setelah kasus dilaporkan, persoalan tersebut sempat menjadi perhatian publik karena mahasiswa memviralkannya. Gelombang demonstrasi oleh BEM dan mahasiswa disebut berlangsung pada Juli, Agustus hingga September, sementara dugaan kejadian disebut terjadi pada April.

Namun Aryanto menyatakan tekanan demonstrasi tersebut tidak berdampak terhadap penuntasan kasus.

“Tekanan demonstrasi yang digagas BEM dan mahasiswa tidak berdampak apa pun. Menyedihkan sekali!!” tulis Aryanto.

Dugaan Kampus Melindungi Dosen Bermasalah

Aryanto juga mempertanyakan alasan kampus mempertahankan dosen yang disebut bermasalah. Ia menilai sanksi administratif seperti skorsing mengajar selama dua semester tidak cukup dan membuka peluang dosen kembali mengajar setelah sanksi berakhir.

“Apakah mahasiswa lain kelak akan terima jika diajar dosen bermasalah? Pastinya tidak, lalu mengapa dibiarkan tetap mengajar?” tulisnya.

Ia bahkan menyebut dugaan kekerasan seksual di Unsoed tidak hanya satu kasus. Dalam cuitannya, Aryanto menyebut nama dosen Fakultas Ekonomi Muhammad Syah Fibrika Ramadhan yang dituding sebagai predator terhadap mahasiswa bimbingannya, namun menurutnya kasus tersebut ditutupi pihak kampus.

“Kami semakin bertanya-tanya, mengapa kampus lebih memilih mempertahankan dosen bejat ketimbang membela hak mahasiswa yang berani lapor,” tulis Aryanto.

Krisis Kepemimpinan Menjelang Pemilihan Rektor

Aryanto menilai krisis kepemimpinan di Unsoed semakin terlihat karena masa jabatan Rektor Akhmad Sodiq disebut akan segera berakhir dan kampus akan memasuki pemilihan rektor. Namun ia menilai pergantian kepemimpinan tidak akan membawa perubahan karena kandidat yang muncul disebut masih berada dalam lingkaran kekuasaan petahana.

Aryanto menyebut tiga nama kandidat calon rektor, yakni Ali Rohman, Adi Indrayanto, dan Khavid Faozi, yang menurutnya merupakan bagian dari cara rektor mempertahankan kekuasaan.

Soroti Nama Besar Unsoed dan Desak Kemendikti Bertindak

Dalam cuitannya, Aryanto menegaskan Unsoed adalah kampus negeri yang membawa nama besar Panglima Besar Jenderal Soedirman. Ia menilai kampus tidak boleh dibiarkan rusak oleh perilaku yang disebutnya busuk.

“Unsoed kampus tempat saya kuliah ini punya nama hebat Panglima Besar Soedirman. Jangan sampai dihinakan segelintir penjahat berprofesi dosen,” tulis Aryanto.

Ia juga menuntut Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto bersikap tegas dan membuat mekanisme jelas agar dosen predator tidak hanya mendapat sanksi administratif.(*)

Dukung Swasembada Pangan, Politeknik Enjiniring Kementan jaring SDM unggul

TANIINDONESIA.COM, Tangerang – Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia (PEPI) secara resmi akan membuka Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Tahun Akademik 2026/2027 mulai 2 Februari 2026. PMB ini menjadi kesempatan emas bagi generasi muda yang ingin berkontribusi langsung dalam pembangunan sektor pertanian modern dan berkelanjutan.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pembangunan pertanian nasional harus ditopang oleh generasi muda yang menguasai teknologi, berjiwa inovatif, serta memiliki semangat pengabdian kepada bangsa. Pendidikan vokasi pertanian menjadi kunci dalam mencetak tenaga terampil yang siap terjun langsung ke lapangan.

Senada dengan arahan Kepala badan penyuluhan dan pengembangan sumber daya manusia pertanian, Idha Widi Arsanti menekankan bahwa pembangunan pertanian nasional tidak hanya bertumpu pada sarana dan prasarana, tetapi sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, pendidikan vokasi pertanian memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muda yang terampil, berkarakter, dan mampu menguasai teknologi pertanian modern.

Idha Widi Arsanti juga menekankan bahwa penguatan SDM pertanian harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan vokasi yang menitikberatkan pada penguasaan keterampilan teknis, pemanfaatan teknologi pertanian modern, serta pembentukan karakter dan etos kerja. Lulusan pendidikan vokasi pertanian diharapkan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu berwirausaha dan menjadi penggerak pembangunan pertanian di daerah.

Baca juga: Dukung Swasembada Pangan Nasional, Politeknik Enjiniring Kementan Perkuat SDM Berinovasi

Harmanto, Direktur PEPI dalam arahannya selalu mengatakan bahwa PEPI menyelenggarakan pendidikan berbasis praktik dengan porsi pembelajaran lapangan yang dominan. Mahasiswa dibekali keterampilan teknis enjiniring pertanian, pengoperasian alat dan mesin pertanian (alsintan), serta pemahaman teknologi tepat guna yang mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha tani.

PEPI berkomitmen mencetak sumber daya manusia unggul, terampil, dan siap kerja di bidang enjiniring pertanian. Kurikulum yang diterapkan mengedepankan praktik lapangan, pemanfaatan teknologi, serta penguatan karakter dan kedisiplinan, Ujar Harmanto.

Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2026 membuka peluang bagi putra-putri terbaik Indonesia untuk bergabung dan berkontribusi dalam mendukung program strategis Kementerian Pertanian, seperti ketahanan pangan, swasembada pangan, mekanisasi pertanian, dan hilirisasi sektor pertanian.

Seluruh tahapan seleksi PMB dilaksanakan secara transparan dan akuntabel guna menjaring calon mahasiswa yang memiliki potensi, kompetensi, serta komitmen tinggi terhadap pembangunan pertanian nasional. Calon pendaftar diimbau untuk mempersiapkan diri sejak dini dan mengikuti seluruh proses pendaftaran sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

Informasi lengkap mengenai persyaratan, jalur pendaftaran, jadwal seleksi, dan tata cara pendaftaran Penerimaan Mahasiswa Baru PEPI Tahun Akademik 2026/2027 dapat diakses melalui website dan media sosial resmi Politeknik Enjiniring Pertanian Indonesia. Tambahnya.(*)